coba telaah kembali perbedaan pendapat yang sangat mencolok ini

“karyawan muslim di hypermart Bali ingin menggunakan hijab untuk menjalankan kewajiban agamanya –> tidak boleh, karena akan menghambat pekerjaan. atribut agama islam tidak boleh digunakan di tempat kerja”

“karyawan Muslim memakai atribut Natal –> boleh, selama tidak mengubah keimanan pemakainya dan karena sudah menjadi tradisi dalam bisnis”

mengapa ISLAM menjadi asing di negeri yang isinya sebagian besar umat islam? mengapa tak pernah ada toleransi untuk umat islam sedangkan selalu ada toleransi dan berjuta alasan untuk umat agama lain?

inikah yang namanya kebebasan beragama? inikah gambaran negara yang berlandaskan pancasila, yang berlandaskan ketuhanan yang maha esa, yang menjunjung tinggi agama hingga dijadikan sila pertama? inikah potret kesuksesan DEMOKRASI? inikah yang kalian inginkan? inikah yang umat islam inginkan???

Benarkah Indonesia Sudah Merdeka???

dalam pembahasan mengenai perjuangan para pahlawan Indonesia guna meraih kemerdekaan yang dituliskan pada buku2 sejarah, kita pasti sering membaca kalimat-kalimat seperti ini,

“setiap bangsa berhak menentukan nasibnya sendiri, mendeklarasikan kemerdekaannya dan lepas dari penjajahan.”

namun faktanya, ternyata ‘merdeka’-nya suatu bangsa barulah merdeka secara fisik. negara-negara imperialis tidak pernah mau melepaskan negara kolonialnya. karena mereka adalah aset sumber daya yang men-support negara induknya. mereka hanya mengubah strategi penjajahannya: penjajahan langsung menjadi penjajahan tidak langsung melalui antek-anteknya. penjajahan militer menjadi penjajahan ekonomi dan politik. maka dari itu, kemerdekaan negara-negara berdasarkan sistem kebangsaan hakikatnya adalah semu, bukan kemerdekaan yang hakiki. (H. Budi Mulyana,S.IP, M.Si — LKI DPP HTI, dosen ilmu hubungan internasional UNIKOM Bandung, mahasiswa program doktor Hubungan Internasional UNPAD)

kemerdekaan semu ini justru lebih menghancurkan tatananan masyarakat dan negara. mengapa? jika penjajahan terjadi secara fisik maka rakyat tak akan tinggal diam. mereka akan mengerahkan seluruh tenaga, daya dan upaya, harta dan segala yang dimilikinya untuk mengusir para penjajah. namun penjajahan ekonomi dan politik yang dibungkus dengan sampul ‘negara merdeka’ malah membuat rakyat merasa tak ada yang perlu diperjuangkan lagi karena mereka sudah ‘merdeka’. mereka menyerahkan semua tugas pengaturan negara pada tokoh-tokoh yang mereka pilih melalui PEMILU, tokoh2 yang ternyata merupakan perpanjangan tangan dari penjajah. kekuasaan yang mereka dapatkan sebagai imbalan menjadi ‘wakil rakyat’ digunakan dengan sebaik-baiknya, bukan untuk mensejahterakan rakyat, tapi untuk mensejahterakan Sang Penguasa sesungguhnya. dan inilah yang terjadi pada negeri kaya raya bernama INDONESIA, negeri merdeka yang tak pernah sungguh-sungguh merdeka.

Topi Ulang Tahun & Tahun Baruan (Topi Sanbenito) –> Lambang Murtadnya Orang Muslim

1395316_1509408156011743_1266358898403464933_n

pernah kepikiran nggak kenapa topi orang kristen yang natalan, topi tahun barunya mereka, dan topi perayaan ulang tahun itu bentuknya kerucut??? apa itu semua hanya sebuah kebetulan??? Tidak, semuanya bukan kebetulan. semuanya ada maksudnya, dan topi itu sudah ada bahkan sejak zaman anda2 semua belum lahir. topi itu dinamakan TOPI SANBENITO, atau topi simbol murtadnya orang muslim

Begini ceritanya…
Topi Tahun Baru yg berbentuk kerucut ternyata adalah topi dengan bentuk yang di sebut SANBENITO, yakni topi yg digunakan Muslim Andalusia untuk menandai bahwa mereka sudah murtad dibawah penindasan Gereja Katholik Roma yang menerapkan INKUISISI SPANYOL.

Ketika kaum Frank yang beragama Kristen Trinitarian menyerang Negeri Muslim Andalusia. Mereka menangkapi, menyiksa, membunuh dengan sadis kaum Muslim yang tidak mau tunduk kepada mereka. Mereka kaum Kristen Trinitarian membentuk lembaga yang bernama Inkuisisi. Sebuah lembaga dalam Gereja Katholik Roma yang bertugas melawan ajaran sesat, atau pengadilan atas seseorang yang didakwa bidat. Dan dalam hal ini yang dimaksud sesat/bidat adalah MUSLIM!

Adalah sebuah pakaian yang diberi nama SANBENITO, pakaian dan topi khas yang dipakaikan kepada tawanan muslim yang telah menyerah dan mau conferso (confert/murtad). Pakaian ini untuk membedakan mereka (para converso) dengan orang-orang lain ketika berjalan di tempat-tempat umum di Andalusia yang saat itu telah takluk di tangan Ratu Isabella dan Raja Ferdinand.

SANBENITO adalah sebuah pakaian yang menandakan bahwa seorang muslim di Andalusia saat itu telah MURTAD.

SANGAT IRONIS!

Kini, 6 abad setelah peristiwa yang sangat sadis tersebut berlalu, para remaja muslim, anak-anak muslim justru memakai pakaian SANBENITO untuk merayakan TAHUN BARU MASEHI dan merayakan ULANG TAHUN.

Meniup trompet-terompet ala topi SANBENITO di saat pergantian tahun. Perayaan-perayaan yang sama sekali tidak pernah dicontohkan oleh Rasulullah yang justru nyata-nyata berasal dari kaum Kafir. Kaum yang telah merampas kejayaan Muslim Andalusia, dan menghancurkan sebuah peradaban maju Islam, Andalusia.
Astaghfirullah…astaghfirullah…

Setelah kita tahu sejarah ini, apakah kita masih tega memakai SANBENITO? atau membiarkan anak -anak, adik-adik, sahabat-sahabat kita memakainya? padahal 6 abad yang lalu, SANBENITO adalah pakaian tanda seorang MUSLIM TELAH MURTAD.

jangan sampai kita hanya ikut2an tanpa tahu maksud dan tujuan suatu simbol digunakan. orang yang tak peduli pada hal seperti ini pasti akan mengatakan “ah cuma sekedar topi ini, yang penting kan hatinya muslim” ini bukan masalah sekedar topi, tapi cerita dibalik topi tersebut dan cerita kenapa topi tersebut masih ‘dilestarikan’ sampai saat ini. sebarkan info ini agar semakin banyak umat muslim yang tahu mengenai bahayanya mengikuti gaya umat agama lain.

sumber:
fanpage ICMS 2014, tulisan disadur dari Buku MENYINGKAP FITNAH & TEROR – Hj.Irena Handono

terkadang dalam menilai baik atau buruknya, benar atau tidaknya sesuatu, manusia lebih cenderung menggunakan akal dan nafsu, melihat berlandaskan kemanfaatan dan kesesuaian bagi dirinya sendiri. padahal Allah telah menyuruh kita utk mengembalikan semuanya pada Al Qur’an dan assunnah. nafsu memang harus kita tundukkan dengan akal, namun akal kita ini juga sangat terbatas, oleh karena itulah Allah mengarahkan cara berpikir kita dengan buku panduanNya dan melalui perantara lisan Rasulullah. tak ada aturan hidup dan cara pandang yg lebih baik selain yg diberikan dan ditawarkan Allah

Pandangan Islam Terhadap Vaksinasi – Dr. Piprim Basarah Yanuarso, Sp.A

akhir2 ini medsos memang sering dijadikan media utk menyebarkan hoax, gosip dan fitnah, salah satunya berasal dari kalangan antivaksin.

mereka menggembar-gemborkan pembirataan yg tak punya dasar scientific sama sekali mengenai vaksin yg menurut mereka membahayakan anak, haram karena berasal dari babi, dan yg lebih aneh lagi ada yg mengatakan vaksin merupalan salah satu bentuk toeri konspirasi utk menghancurkan generasi muslim. padahal tidak ada satupun dari para penyebar hoax itu adalah dokter atau vaksinolog, dan tdk ada satupun info yg mereka sebarkan memiliki sumber yg jelas dari jurnal2 ilmiah. jadi bagaimana bisa pendapat seperti itu dipercaya?

lantas menurut mereka kenapa bisa anak2 zaman modern jika terkena cacar kemudian diberi obat seminggu saja bisa langsung sembuh, kalau bukan karena ‘bantuan’ vaksin? coba saja kalau mereka hidup di zaman dulu saat vaksin belum dikembangkan, sekali saja seseorang terkena cacar air resiko kematiannya bisa sangat tinggi akibat tingkat keparahan penyakit yg juga memang masih tinggi. vaksin lah yg membantu menurunkan morbiditas dan mortalitas dari penyakit mengerikan tersebut.

semoga sebelum menerima dan menyebarkan informasi kita bisa jadi orang yg lebih kritis, agar terhindar dari hal2 yg justru akan merugikan diri kita sendiri.

utk review lengkap mengei vaksin menurut pandangan islam bisa dibaca di artikel ini.

sumber: http://www.islamedia.co/2014/12/pandangan-islam-terhadap-vaksinasi.html

penulis: dr. Piprim Basarah Yanuarso, Sp.A

Beberapa waktu belakangan ini marak seruan antivaksinasi bermotifkan isu agama. Isu yang dihembuskan adalah menyangkut kehalalan dan keamanan vaksin. Apalagi kelompok antivaksinasi ini sangat giat menyebarkan pemahamannya baik di ranah media sosial seperti twitter dan facebook maupun di pelosok-pelosok melalui berbagai forum, seperti majelis taklim di masjid-masjid kampung. 
Masyarakat awam pun mudah mengikuti seruan ini karena sensitifnya isu halal dan haram vaksin. Selain itu isu bahwa vaksin mengandung zat kimia beracun pun dihembuskan kencang. Hal ini diakhiri dengan himbauan agar masyarakat kembali menggunakan pengobatan ala nabi (tibbun-nabawy) dan melarang penggunaan obat kimia dan vaksin yang merupakan buatan manusia. Umat dihimbau agar menggunakan zat alamiah seperti herbal dan tidak lagi memakai obat-obatan modern. Alasannya karena herbal itu buatan dan racikan Allah SWT sendiri sedangkan obat modern dan vaksin itu murni buatan manusia.

Terjadi dikotomi antara herbal dengan obat modern, tibbun-nabawy dengan vaksinasi, yang satu diposisikan sebagai berasal dari Allah dan yang lain berasal dari manusia, yang satu benar mutlak yang lain salah total.

Mereka menuduh ada bisnis besar di balik penjualan obat modern dan vaksin yang menggunakan dokter dan tenaga kesehatan lain sebagai agen-agennya. Ditambah dengan bumbu teori konspirasi, bahwa vaksin adalah senjata Yahudi untuk melumpuhkan generasi muslim, maka lengkaplah sudah kegalauan masyarakat terhadap vaksinasi ini.

Tulisan ini akan membahas secara ringkas tentang pandangan agama dalam hal ini Islam terhadap vaksinasi dan imunisasi. Semoga tulisan ini dapat membantu menjernihkan persoalan seputar isu agama dan vaksinasi yang beredar di masyarakat.

Pandangan Islam terhadap ilmu pengetahuan Al Qur’an banyak menyebutkan keharusan seorang muslim mengeksplorasi alam semesta.

Dalam surat Ali Imran 190-191 misalnya disebutkan kriteria ulil albab (cendekiawan), “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi dan pergiliran malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi ulil albab. Yaitu orang-orang yang berdzikir kepada Allah sambil berdiri, duduk, dan berbaring dan senantiasa bertafakkur (berpikir mendalam) tentang penciptaan langit dan bumi seraya berkata ya Tuhan kami tidaklah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, peliharalah kami dari siksa neraka.”

Dalam ayat tersebut di atas dan ayat-ayat sejenis yang banyak dijumpai dalam Al Qur’an tampaklah bahwa seorang cendekiawan atau ulil albab itu adalah orang yang mampu melakukan harmonisasi kegiatan dzikir dan fikir.

Di dalam Islam tidak terdapat pemisahan antara aktifitas berdzikir dan bertafakkur atau berfikir secara mendalam (deep thinking). Aktifitas berfikir mendalam tentang penciptaan Allah di langit dan bumi akan meningkatkan keimanan seseorang dan menguatkan kegiatan dzikirnya kepada Allah SWT. Jadi ringkasnya Islam sangat menganjurkan ummatnya untuk mengeksplorasi alam semesta ini, baik alam makrokosmos dan mikrokosmosnya. Hasil eksplorasi alam semesta itu ditujukan untuk kebaikan manusia itu sendiri di dunia dan sekaligus untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Dalam sudut pandang lain kita bisa melihat dari perspektif diturunkannya ilmu Allah kepada manusia. Secara garis besar ilmu Allah ini diturunkan kepada manusia melalui dua jalur. Pertama jalur resmi (formal) yaitu ilmu yang diturunkan melalui para Nabi dan Rasul berupa wahyu/firman Allah dan petunjuk nabi. Ilmu tersebut dikenal dengan ilmu qauliyah. Yang kedua adalah jalur tidak resmi (non-formal) berupa ilham yang diberikan langsung kepada manusia (apa pun agama dan rasnya) yang mengeksplorasi alam semesta ini sesuai anjuran pada ayat Al Qur’an di atas. Ilmu tersebut dikenal dengan ilmu kauniyah.

Ilmu qauliyah kebenarannya mutlak, bersifat umum, berfungsi sebagai way of life bagi manusia. Sedangkan ilmu kauniyah kebenarannya relatif, bersifat spesifik, dan untuk melengkapi sarana kehidupan manusia. Kedua macam ilmu tersebut saling terkait dan tidak dapat dipisahkan agar kehidupan manusia harmonis dan seimbang. Gagal memahami persoalan di atas atau menolak salah satunya akan membuat seorang muslim bersikap ekstrim bahkan terjebak ke dalam dikotomi ilmu islam non-islam, ilmu Allah dan ilmu manusia, dan seterusnya.

Vaksinasi sebagai salah satu ilmu kauniyah terbesar abad ini, diawali dengan tradisi masyarakat muslim Turki pada awal abad-18 yang memiliki kebiasaan menggunakan nanah dari sapi yang menderita penyakit cacar sapi (cowpox) untuk melindungi manusia dari penyakit cacar (smallpox, variola) kemudian tradisi ini dibawa ke Inggris dan diteliti serta dipublikasikan oleh Edward Jenner tahun 1798.

Sejak saat itu konsep vaksinasi terus berkembang demikian pesat. Beragam jenis vaksin telah ditemukan selama dua abad. Dan masih akan banyak lagi jenis vaksin yang ditemukan. Penelitian untuk membuat vaksin merupakan penelitian yang panjang, sangat memperhatikan aspek keamanan dan keakuratan data. Satu jenis vaksin bisa memerlukan belasan tahun untuk membuatnya.

Diawali dengan uji laboratorium, kemudian uji pada hewan coba, relawan, orang dewasa, baru kemudian diterapkan pada bayi dan anak setelah terbukti produk vaksin tersebut aman dipakai. Bila terbukti sebuah vaksin menimbulkan efek simpang atau kejadian ikutan pasca imunisasi (KIPI) yang berat dan fatal maka vaksin akan segera ditarik dari peredaran untuk diteliti ulang.

Berbagai prestasi vaksinasi pun telah dapat kita lihat dalam catatan sejarah kemanusiaan. Di antara prestasi terbesar vaksinasi adalah lenyapnya penyakit cacar pada tahun 1979. Inilah salah satu bukti manfaat ilmu kauniyah yang dipelajari manusia (apa pun agama dan rasnya).

Hasil dari eksplorasi alam semesta di antaranya ilmu tentang vaksin (vaksinologi) telah menghasilkan manfaat yang luar biasa dalam bidang pencegahan penyakit pada manusia (dan juga hewan). Adalah amat keliru bila hasil penelitian selama dua abad itu kemudian ditolak dengan alasan amat sederhana: itu produk buatan manusia.

Pendikotomian buatan Allah dan buatan manusia seperti pemahaman sebagian kelompok muslim yang antivaksinasi pada hakikatnya adalah pemahaman yang amat sekuler. Pemahaman yang jauh menyimpang dari intisari ajaran Islam yang sebenarnya.

Bila kita memahami dengan baik posisi ilmu kauniyah maupun ilmu qauliyah adalah bersumber dari Allah SWT yang Maha Berilmu, maka tidak perlu lagi terjadi hal seperti di atas.

Pandangan Islam terhadap aspek pencegahan penyakit Islam mengutamakan aspek pencegahan dalam berbagai bidang kehidupan. Sebagai contoh dalam menghadapi kemungkinan timbulnya penyakit menular seksual, Islam dengan tegas melarang ummatnya untuk mendekati zina. Dalam surat al Isra 32 : “Janganlah kamu mendekati zina. Sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan keji dan jalan yang buruk”. Coba perhatikan, bukan larangan berzina tapi larangan untuk mendekati zina. Suatu aspek preventif yang luar biasa karena jauh lebih mudah menghindari mendekati zina daripada menghindari berzina. Bandingkan dengan program kondomisasi yang akhir-akhir ini ramai dibicarakan masyarakat karena justru memfasilitasi zina secara tidak langsung.

Panduan terhadap pencegahan penyakit dalam al Qur’an maupun al Hadits (petunjuk Nabi saw) dapat dilihat pada beberapa ayat dan hadits berikut:

Jagalah lima keadaan sebelum datang lima keadaan, di antaranya: jagalah kesehatanmu sebelum datang masa sakitmu. (Al Hadits).

Bila terjadi wabah di suatu tempat, maka penduduk setempat dilarang meninggalkan daerahnya dan orang luar dilarang berkunjung sampai wabah berlalu (Al Hadits). Inilah konsep isolasi daerah wabah yang sudah diajarkan oleh Nabi SAW sejak dahulu.

Mukmin yang kuat lebih disukai Allah SWT daripada mukmin yang lemah ( Al Hadits). Dan persiapkanlah kekuatan semaksimal mungkin dalam menghadapi musuh-musuhmu… (QS 8:60)

Barangsiapa makan tujuh butir kurma Madinah maka ia tidak akan terkena pengaruh sihir atau racun (Al Hadits).
Dari beberapa hadits dan ayat Qur’an tersebut di atas kita dapat melihat bahwa Islam sangat menganjurkan aspek pencegahan terhadap penyakit. Karena biaya yang dikeluarkan untuk aspek pencegahan akan jauh lebih murah dibandingkan dengan pengobatan penyakit. Hal ini telah dibuktikan kebenarannya oleh ilmu kedokteran modern.

Islam memberi kebebasan dalam hal teknik pencegahan sesuai dengan perkembangan teknologi yang ada saat itu. Islam tidak pernah membatasi kemajuan teknologi, namun hanya memberi batasan atau rambu-rambu yang tidak boleh dilanggar. Ini terbukti dengan pernyataan Nabi SAW ketika ada yang bertanya kepada beliau mengenai perkawinan pohon kurma. Saat itu beliau memberi nasehat dan ternyata kurma menjadi tidak berbuah saat dilaksanakan nasehat tersebut. Akhirnya beliau SAW bersabda: Antum a’lamu bi umuri addunyakum artinya kamu lebih mengetahui tentang urusan duniamu.

Islam hanya mengajarkan rambu-rambu yang bersifat umum dan baku, seperti larangan berobat dengan yang haram, larangan berobat ke dukun atau ahli sihir namun mengenai hal-hal yang bersifat teknis sepenuhnya diserahkan kepada perkembangan ilmu sains sesuai perkembangan zamannya. Dengan prinsip ini tidak heran bahwa para ilmuwan muslim pernah mencapai puncak kejayaannya dalam hal sains tidak berapa lama setelah Nabi SAW wafat.

Bila ditanyakan adakah dalil dari Al Qur’an atau Hadits Nabi yang spesifik menyebutkan perlunya vaksinasi? Jawabannya tentu tidak ada.

Namun tidak adanya dalil qauliyah bukan berarti vaksinasi bertentangan dengan ajaran Nabi SAW. Hal ini adalah karena vaksinasi termasuk ranah kauniyah. Ranah ilmu pengetahuan modern yang diperoleh berdasarkan pencarian oleh manusia. Berdasarkan penelitian yang tekun dan seksama, sebagaimana sudah disebutkan di atas. Oleh karena itu pakar mengenai vaksinasi tentu saja adalah para dokter dan peneliti di bidang vaksinologi, bukan wartawan, sarjana hukum, ahli statistik, atau yang lainnya.

Kita perlu tahu bahwa vaksinasi bukan hanya dilaksanakan di Indonesia namun juga dilaksanakan di lebih dari 190 negara di seluruh dunia, termasuk negara-negara muslim. Sampai saat ini tidak pernah terdengar seorang pun dari ulama-ulama di negara-negara muslim itu yang melarang diberikannya vaksinasi kepada bayi dan anak di negaranya.

Sebagai contoh Syaikh Abdullah Bin Bazz seorang mufti dari Saudi Arabia membolehkan vaksinasi. DR Yusuf Al Qaradhawy seorang ulama mujtahid yang berdomisili di Qatar pun membolehkan imunisasi. Bahkan beliau banyak menyerahkan masalah ini kepada para dokter yang menguasai ilmu vaksinologi secara mendalam dan kemudian beliau berikan fatwa terhadap apa yang diungkapkan para dokter.

Kalau para ulama di tingkat internasional saja membolehkan vaksinasi lalu mengapa ada orang yang bukan ulama malah mempermasalahkan bolehnya vaksinasi dalam Islam.

Adapun pendapat sebagian kelompok Islam yang mengatakan vaksinasi dilarang dalam Islam karena menggunakan kuman yang disuntikkan ke dalam tubuh sehingga berpotensi membahayakan tubuh, adalah pendapat yang tidak berlandaskan ilmu. Hanya berdasarkan zhan atau prasangka belaka. Padahal Islam melarang umatnya untuk berprasangka, karena sebagian prasangka adalah dosa.

Saat ini ada sebagian orang yang bukan ahlinya namun seringkali berkomentar mengenai sesuatu yang tidak difahaminya secara mendalam. Hanya berdasarkan bacaan dari internet, bersumber dari tokoh-tokoh fiktif yang tidak pernah ada atau berdasarkan teori konspirasi. Hal ini amat disayangkan karena bertentangan dengan anjuran dan tradisi Islam yang sangat menekankan aspek kejujuran dan obyektifitas ilmiah.

Salah satu contoh tradisi ilmiah dalam Islam yang tidak ada bandingannya adalah pada proses penyeleksian ketat terhadap hadits hadits nabi. Mungkin orang-orang yang hobi menyadur rumor, berita fiktif, hoax, gosip, khususnya tentang kampanye negatif terhadap vaksinasi perlu meniru tradisi Islam dalam menyeleksi hadits shahih.

Masalah enzym babi dalam proses pembuatan vaksin Salah satu persoalan yang sering dipermasalahkan mengenai kehalalan vaksin adalah digunakannya enzym tripsin dari babi selama pembuatan beberapa jenis vaksin tertentu.

Seringkali masalahnya ada pada perbedaan persepsi. Sebagian besar orang mengira bahwa proses pembuatan vaksin itu seperti orang membuat puyer. Bahan-bahan yang ada semua dicampur jadi satu, termasuk yang mengandung babi, dan kemudian digerus menjadi vaksin. Hal semacam ini adalah persepsi keliru mengenai proses pembuatan vaksin di era modern ini. Bila prosesnya demikian sudah tentu hukum vaksin menjadi haram. Namun sebenarnya proses pembuatan vaksin di era modern ini amatlah kompleks. Ada beberapa tahapan, dan tidak ada proses seperti menggerus puyer tadi.
Enzym tripsin babi digunakan sebagai katalisator untuk memecah protein menjadi peptida dan asam amino yang menjadi bahan makanan kuman. Kuman tersebut setelah dibiakkan kemudian dilakukan fermentasi dan diambil polisakarida sebagai antigen bahan pembentuk vaksin. Selanjutnya dilakukan proses purifikasi, yang mencapai pengenceran 1/67,5 milyar kali sampai akhirnya terbentuk produk vaksin. Pada hasil akhir proses sama sekali tidak terdapat bahan-bahan yang mengandung babi. Bahkan antigen vaksin ini sama sekali tidak bersinggungan dengan babi baik secara langsung maupun tidak.
Dengan demikian isu bahwa vaksin mengandung babi menjadi sangat tidak relevan dan isu semacam itu timbul karena persepsi yang keliru pada tahapan proses pembuatan vaksin. Majelis Ulama Indonesia sudah mengeluarkan fatwa halal terhadap vaksin meningitis yang pada proses pembuatannya menggunakan katalisator dari enzym tripsin babi. Hal serupa terjadi pula pada proses pembuatan beberapa vaksin lain yang juga menggunakan tripsin babi sebagai katalisator proses. 
Sebagai para dokter kita perlu memahami konteks ini agar dapat berdiskusi dengan pasien yang mempunyai kesalah-pahaman terhadap vaksinasi dengan informasi keliru khususnya yang berkaitan dengan ajaran agama (Islam). 
Diharapkan dengan diskusi intensif dengan pasien yang masih ragu kita bisa meyakinkan bahwa vaksinasi itu halal dan aman dan tidak ada seorang pun ulama di negara-negara muslim melarang program vaksinasi ini.
Semoga kegalauan masyarakat karena isu tidak bertanggungjawab dari para pegiat antivaksinasi bisa terlokalisir bila para dokter juga mampu berdiskusi dengan lebih baik.  
Daftar Kepustakaan

Al Qur’an dan terjemahannya. Departemen Agama Republik Indonesia, 1971. Ranuh IGNG, Suyitno H, Hadinegoro SRS, Kartasasmita CB, Ismoedijanto, Soedjatmiko.

Buku Pedoman Imunisasi di Indonesia, edisi ke-4.

Satgas Imunisasi Ikatan Dokter Anak Indonesia, Jakarta 2011.

Al Qaradhawy Y. Halal dan haram dalam Islam. Jakarta, PT Bina Ilmu 1993.

Center for Disease Control http://www.cdc.gov http://www.binbaz.org.sa/mat/238 diunduh 1 Juli 2012.

Fatwa MUI, 4 Sya’ban 1431 H/16 Juli 2010 M. Fatwa no. 06 tahun 2010 tentang penggunaan vaksin meningitis bagi jemaah haji atau umrah. Jenie UA. Obat sebagai produk rekayasa biokimiawi dan rekayasa genetika serta kaitannya dengan masalah kehalalannya. Disampaikan pada Lokakarya dampak RUU Jaminan Produk Halal terhadap obat dan vaksin bagi kesehatan masyarakat. Jakarta, Bidakara, 04 Juni 2012.

Antivaksin = Irrasional = Buktir kemunduran taraf berpikir umat islam

Antivaksin merupakan bukti kemunduran taraf berpikir umat islam yg terjadi sejak 12 H akibat ditutupnya pintu ijtihad. Sehingga pada saat science dan teknologi eropa berkembang karena meng’copy’ kesuksesan umat islam, sebaliknya umat islam malah mengalami kemerosotan yg begitu jauh, meninggalkam peradabannya yg dulu sangat maju dan hebat. Bahkan hal ini terus menerus terjadi sampai sekarang. Benar-benar miris melihat kondisi umat islam yg seperti ini.

A. Pendahuluan

Pada pertengahan abad 12H/18M pemahaman Islam dalam diri umat Islam mengalami kemerosotan. Negara dibangun di atas pemikiran yang justru menggoyahkan Islam. Negara tidak menggerakkan pemikiran Islam dan menyelenggarakan ijtihad. Di sisi lain, pada abad 13H/19M terjadi gerakan revolusi pemikiran di Eropa. Gerakan ini dipelopori oleh para filsuf, pujangga dan pemikir. Revolusi ini mampu mengubah secara menyeluruh pemikiran Eropa. Kemudian munculah gerakan-gerakan yang memiliki pengaruh kuat dalam menghasilkan berbagai pemikiran baru tentang pandangan hidup. Pada abad ini pula di Eropa terjadi revolusi industri yang membawa pengaruh sangat kuat.

Mundurnya taraf berfikir membuat Khilafah Utsmani dan kebanyakan umat Islam hanya bisa berdiri tercengang dan bingung menyaksikan revolusi pemikiran dan industri di Eropa. Mereka tidak menentukan sikap untuk mengambil ataupun menolak. Mereka tidak mampu memilah mana yang dianjurkan oleh Islam untuk diambil dan yang dilarang oleh Islam untuk diambil. Umat Islam di bawah kendali Negara Utsmani mengalami stagnasi, beku, kebingungan dan goncang ketika menghadapi gerakan revolusioner yang terjadi di Eropa. Bahkan ketika mesin cetak sudah menjadi fenomena baru kemudian Khilafah Utsmani hendak mencetak al-Quran, para ulama fiqih malah mengharamkan.

Ketika ijtihad dan dinamika pemikiran terhenti, maka pemahaman keislaman di kalangan umat Islam pun melemah. Pengetahuan Islam dan buku intelektual dibiarkan membeku tersimpan di rak-rak perpusatakaan. Semangat pengkajian terhadap Islam sangat sedikit. Ilmu-ilmu berubah menjadi sekedar ilmu yang tidak dituntut untuk diamalkan dalam tatanan pemerintahan maupun kehidupan. Kelemahan ini pada akhirnya menimbulkan keberanian para misionaris untuk melancarkan perang terhadap Islam atas nama sains.

B. Pengetahuan dan Sains
Pengetahuan (tsaqafah) diperoleh melalui pengamatan dan penggalian semata, tanpa eksperimen seperti percobaan yang dilakukan seseorang di laboratorium saat dia mencoba sesuatu atau menerapkan suatu perlakuan kepadanya. Pengetahuan (tsaqafah) penerapannya pada manusia tidak bisa dikategorikan percobaan, melainkan dengan cara pengkajian yang berulang-ulang terhadap sejumlah orang yang berbeda-beda dalam siatuasi dan kondisi yang berbeda-beda pula. Hasil pengetahuan bersifat dugaan yang berpotensi ke arah benar dan salah. Pengetahuan ini mencakup psikologi, sastra, filsafat, dan lain sebagainya. Hal inilah menjadikan adanya pembedaan yang tegas antara pengetahuan (tsaqafah) barat yang sekuler, dan pengetahuan (tsaqafah) Islam yang bersifat ketauhidan.

Berbeda halnya dengan pengetahuan, sains bersifat universal. Sains tidak dikhususkan bagi umat tertentu. Begitu pula dengan industri, bersifat universal. Sains maupun industri tidak dipengaruhi pandangan hidup tertentu sehingga bersifat universal.

C. Vaksin dan Isu Konspirasi
Vaksin dibuat bukan dengan cara pengamatan. Vaksin dibuat dengan percobaan di laboratorium, sehingga faktanya vaksin merupakan produk sains, bukan produk pengetahuan (tsaqafah). Vaksin tidak dipengaruhi pandangan hidup tertentu.

Ketika sebagian kecil umat Islam saat ini anti kedokteran modern hanya karena berkembang pesat di Barat, mereka menolak mentah-mentah semua yang berasal dari Barat. Mereka lantas menuding semua yang berasal dari Barat merupakan upaya untuk melemahkan umat Islam meskipun tidak dapat mendatangkan sebuah bukti.

Selain menolak kedokteran modern dengan alasan yang dibuat-buat, mereka menggunakan prinsip kembali ke alam dan dengan gegabah berani mengobati orang sakit tanpa dosis dan tanpa melalui eksperimen di laboratorium. Mereka pun berani mencoba-coba yang dokter pun tidak berani melakukan sebelum dilakukan penelitian yang mencukupi. Mereka menggunakan testimoni sebagai hipotesis atas apa yang mereka lakukan. Telah dijelaskan sebelumnya bahwa penarikan kesimpulan dengan metode yang dilakukan kaum antivaks hanya bersifat dugaan.

Fakta ini memberikan gambaran kepada kita bahwa taraf berfikir umat masih sama dengan taraf berfikir umat Islam di Negara Utsmaniyah menjelang kehancurannya. Mereka tidak bisa memilah-milah antara pengetahuan dan sains, antara yang dipengaruhi pandangan hidup dengan yang bersifat universal, antara hadharah dan madaniyah. Padahal seperti yang telah diketengahkan sebelumnya bahwa ilmu kedokteran termasuk kelompok sains dan bersifat universal. Kedokteran modern bukanlah kedokteran kufur, kedokteran juga bukanlah hadharah.

Munculnya gerakan antivaksin di sejumlah negara termasuk di Indonesia menjadi indikator bahwa taraf berfikir umat masih merosot tajam. Munculnya seseorang yang tidak dikenal dalam bidang vasin memberikan pernyataan-pernyataan kontroversial terkait konspirasi vaksin yang tidak dapat dibuktikan kebenarannya. Berita spektakuler yang dibungkus dengan kemasan agama membuat umat yang belum mengetahui tentang manfaat dan kerugian vaksin menelan mentah-mentah kampanye hitam yang dikampanyekan oleh mereka, sehingga umat pun berhasil dijauhkan dari vaksin. Akibat dari kampanye hitam ini, maka wabah difteri kembali terjadi di Jawa Timur (Tempo, 22 Oktober 2014), terjadinya wabah polio pertama di Suriah dalam 14 tahun terakhir (BBC Indonesia, 21 Oktober 2013),, dan kejadian-kejadian lainnya. Lalu siapa yang sebenarnya ingin membunuh umat? Para petugas kesehatan atau justru mereka para aktifis antivaks?

Sesungguhnya “ilmuwan” yang mereka jadikan panutan bukanlah ahli vaksin. Contoh : Dr Bernard Greenberg (Biostatistika tahun 1950), DR. Bernard Rimland (Psikolog), Dr. William Hay (kolumnis), Dr. Richard Moskowitz (homeopatik), dr. Harris Coulter, PhD (penulis buku homeopatik, kanker), Neil Z. Miller, (psikolog, jurnalis), WB Clark (awal tahun 1950), Bernice Eddy (Bakteriologis tahun 1954), Robert F. Kenedy Jr (sarjana hukum) Dr. WB Clarke (ahli kanker, 1950an), Dr. Bernard Greenberg (1957-1959). Sedangkan di Indonesia dikenal seorang yang bernama Dewi Hestyawati, SH (Ummu Salamah) pendidikan FH Universitas Tarumanegara. Padahal Rasulullah SAW bersabda, “Apabila sesuatu urusan diserahkan kepada bukan ahlinya, maka tunggu saat kehancurannya” (HR. Bukhari).

Imam Syafi’i mengakui berkembangnya ilmu kedokteran di Barat, namun beliau tidak pernah untuk melarang umat Islam untuk mempelajari dan mengamalkannya. Imam Asy-Syafi’i rahimahullah berkata, “Saya tidak mengetahui sebuah ilmu -setelah ilmu halal dan haram- yang lebih berharga selain ilmu kedokteran, akan tetapi ahli kitab telah mengalahkan kita” (Siyar A’lam An-Nubala 8/528, Darul Hadits, Kairo, 1427 H, Syamilah)

D. Hukum Syara’ Vaksinasi
Menurut Syaikh ‘Atha’ bin Khalil Abu ar-Rasytah, vaksinasi hukumnya mandub. Sebab vaksinasi adalah obat dan berobat adalah mandub. Namun jika terbukti jenis tertentu dari vaksinasi itu membahayakan, seperti bahannya rusak atau membahayakan karena suatu sebab tertentu maka vaksinasi dalam kondisi seperti ini menjadi haram, sesuai kaedah dharar yang diambil dari hadits Rasulullah SAW yang telah dikeluarkan oleh imam Ahmad dalam Musnad-nya dari Ibn Abbas, ia berkata: Rasulullah SAW bersabda: “Tidak boleh membahayakan orang lain dan diri sendiri”

Adapun dalam Daulah al-Khilafah, maka akan ada vaksinasi untuk berbagai penyakit yang mengharuskan hal itu, seperti penyakit menular dan sejenisnya. Obat yang digunkan adalah yang bersih dari segala kotoran.

Sudah makruf secara syar’i bahwa pemeliharaan kesehatan adalah bagian dari kewajiban khalifah termasuk ri’ayah asy-syu’un. Ini adalah nas yang bersifat umum tentang tanggungjawab negara atas kesehatan dan pengobatan, karena merupakan bagian dari pemeliharaan yang wajib bagi negara.

E. Aktifitas Partai Politik
Sebagai partai yang bergerak dalam fikrah dan politik, masalah vaksin menjadi masalah yang pelik. Aktivitas politik untuk membangun mafahim, maqayis dan qana’at harus benar-benar menggunakan fikrah yang bersih dan lurus. Demikian juga dalam menyikapi sebuah fakta, maka sudah menjadi kewajiban bagi seorang aktifis partai politik untuk menyajikan informasi yang akurat dan benar demi kepercayaan umat kepada partai. Informasi yang tidak jelas kebenarannya justru akan membuat ketidakpercayaan umat kepada aktifitas partai.

Seorang aktifis partai politik harus berfikir cemerlang (fikrul mustanir) dalam berpolitik. Kejujuran, kebenaran dan kelurusan dalam menyikapi suatu fakta tertentu harus menjadi prioritas dalam setiap aktifitasnya. Mendistorsikan fakta bukan uslub yang dibenarkan oleh syara’. Ketika hukum syara dilanggar, maka kegagalan partai untuk menghimpun umat guna membangkitkan kembali tatanan kehidupan baru tinggal menunggu waktu. (www.syariahpublications.com)

Wallahu a’lam
Bandung, 6 Desember 2014
dr. Yanuar Ariefudin

Referensi : 
1. Atha’ bin Khalil. Fatwa-fatwa Amir HT. PTI. Bogor.
2. Hafidz Abdurrahman. Mafahim Islamiyah. Al Azhar Press. Bogor
3. Muhammad Ismail. Fikrul Islam. Al Azhar Press. Bogor
4. Taqiyuddin An Nabhani. Peraturan Hidup Dalam Islam. HTI Press. Jakarta
5. Taqiyuddin An Nabhani. Daulah Islam. HTI Press. Jakarta