Prioritas?!

“Prioritas dan urusan yang penting menurut kita bisa jadi tidak penting dan bukan suatu prioritas menurut orang lain. The point is, aku, kamu, dia, mereka, kita semua punya kehidupan yg berbeda. Kita tak pernah bisa menyama-nyamakan kehidupan kita dengan orang lain.”

Baru-baru ini berhasil memunculkan sebuah quote secara spontan. Inspiration comes from no where, huh? . Inspiration comes from no where, huh?

ini nyentuh banget, sungguh….

 

Setiap hariku mohon agar Kau senantiasa
Memberiku ketenangan dalam hati kekuatan
Menempuhi segala dugaan yang mencoba ini
Pasti punya artinya
Kau beriku harapan
Menjawab segala persoalan
Hadapi semua dalam tenang
Hingga merasa kesungguhan
Ku doa Kau selalu mengawasi segala
Gerak-geriku berkatilah
Ku perlu rahmat dari-Mu
Oh Tuhan terangkan hati dalam sanubariku
Untuk menempuhi segala hidup penuh
Jabaran ini
Oh Tuhan ku berserah segalanya kepada-Mu
Agar jiwaku tenang dalam bimbingan-Mu selalu
Ada kala ku merasa hidup ini seperti kaca
Jikalau tidak bersabar hancur berlerailah akhirnya
Tabahkanlah hatiku melewati semua itu
Kuatkanlah jagakanlah diriku

image

Jangan pernah mencoba menyakiti perasaan seorang penulis. Kalau berani melakukannya maka bersiap-siaplah menjadi bulan2an dalam tiap karya nya. Haha, that’s why i don’t blame taylor swift for making songs about her past boyfriends L.O.L

kita sering di ajarkan untuk ber’empati’ terhadap orang lain…
sungguh, sebenarnya kemampuan untuk bisa memahami kondisi seseorang, dan memahami kesulitan yang dihadapi orang lain itu tidak mudah. hanya 1 diantara beribu orang yang bisa berusaha memahami dan mengerti kondisi orang lain, dan lebih sedikit lagi yang bisa ber’empati’ dengan benar….
kita lebih mudah untuk menjudge, menyakiti, menghakimi, mengambil kesimpulan dengan serampangan, dan mencocok-cocokkan kondisi orang lain dengan apa yang kita alami, padahal belum tentu ketika kita ditempatkan dalam kondisi yang sama lantas kita bisa ‘bertahan’, lantas kita bisa leluasa menentukan opsi dan mengambil keputusan…
karena hidup satu orang dengan orang lain itu tak sama….

monolog…lagi….

apa yang kau rasakan ketika seseorang yang begitu kau percayai

atau seseorang yang begitu kau cintai

atau yang sangat kau harapkan

malah menjadi yang pertama dan terdepan untuk menyakitimu?

dengan sengaja ataupun tidak sengaja?

dengan sadar atau pun tidak sadar?

apa yang kau rasakan?

saya bukan tipe orang yang bisa marah pada seseorang hingga lebih dari sehari, apalagi sampai bertahun-tahun, berabad-abad

saya bukan tipe orang yang ‘kekeh‘ mempertahankan ego dan merasa diri harus dihormati

saya lebih senang menjadi ‘tukang ngalah’

selalu mengalah, selalu, meskipun rasa sakit nya tak tertahankan, meski harus pura-pura tersenyum

meski dibelakang, air mata tak akan bisa saya tahan-tahan

bila dalam perdebatan panjang pun, saya lebih memilih untuk mengalah dan pergi, karena tak sanggup merasakan ketegangan dalam sebuah adu pendapat, adu ego, dan adu emosi yang berkepanjangan

dan jika hal seperti di atas terjadi pada orang dengan tipe seperti saya

jika ada yang menyakiti dengan kata-kata atau sikap nya

saya, dan orang-orang yang setipe dengan saya, akan memaafkan, sungguh, akan sangat cepat untuk memaafkan

tapi….

kami akan selalu menyimpan kenangan itu di sini, di sudut terdalam hati kami

dan semua itu tak kan pernah bisa dilupakan hingga kapanpun

dan dalam sekejap, orang-orang seperti kami akan merubah penilaian terhadap orang yang sudah melukai perasaan kami

menganggap orang itu tak bisa lagi di percaya, tak bisa lagi diberikan amanah, tapi bisa lagi diharapkan, tak bisa lagi dicintai, tak bisa lagi dijadikan tempat untuk menceritakan segala rahasia

karena sekali saja ia bisa melakukan itu, maka esok lusa akan sangat mudah baginya untuk mengulanginya

karena sekali saja seorang laki-laki melukai perasaan wanita yang menjadi isterinya pun belum,┬ámeskipun ia meminta maaf dengan sangat atas kesalahannya dan menyesali semua perbuatannya, namun jika ia diberikan kesempatan kedua, diberikan kesempatan untuk menikahi wanita itu, bisa saja ia lupa dengan kata-katanya, lupa akan penyesalannya, karena menganggap wanita itu sudah sepenuhnya menjadi miliknya dan tak akan lagi bisa meninggalkannya meski dilukai separah apapun…

seseorang yang melukai perasaan sahabatnya sendiri, dengan mengatakan ia juga menyukai dan mengagumi laki-laki yang disukai sahabatnya, meskipun ia tahu si sahabat belum bisa melupakan laki-laki itu sepenuhnya, belum bisa memperbaiki puing-puing hatinya yang masih berceceran dan porak-poranda, belum bisa berhenti menangis dalam sujudnya ketika mengingat laki-laki itu, belum bisa berhenti berharap, maka bagaimana mungkin si sahabat mampu untuk mempercayainya kembali? mampu menceritakan semua rahasia dan cerita tentang orang yang ia sukai pada orang yang sama, pada orang yang juga menyukai laki-laki itu, pada orang yang menyakiti perasaannya? bagaimana bisa?

apalagi jika ia tak menganggap dirinya melakukan suatu kesalahan, sungguh, itu lebih mengerikan

dan lebih menyakitkan untuk diterima, meskipun tetap harus diterima

karena itu adalah bagian dari sifat asli nya, dan sifat asli itu tak akan pernah bisa diubah sampai kapanpun

apakah hanya saya yang merasa begitu?

saya rasa ada begitu banyak orang di luar sana yang merasakan hal yang sama, berpikir dengan cara yang sama, dan mengambil keputusan dengan cara yang sama

itulah yang membuat saya mengambil kesimpulan akhir, bahwa kau tak pernah benar-benar memiliki sahabat di dunia ini, selain Allah

kau tak seharusnya berharap pada manusia, selain hanya pada Allah semata

kau tak seharusnya menceritakan segala rahasia dan masalahmu pada siapapun di dunia ini, selain kepada Allah saja

karena manusia hanya akan menyakiti, karena manusia tak sempurna,

karena kesempurnaan hanya milik Allah

maka semua harapanmu, semua rahasiamu, semua cinta dan tangismu, akan disimpan, didengarkan, dan dikabulkan dengan sempurnah oleh Allah, hanya Allah….

itulah mengapa Allah dan Rasulullah mengajarkan kita untuk berhati-hati dengan lisan, dengan lidah, bahkan di era teknologi seperti ini, berhati-hatilah dengan ‘jarimu’ dan apa yang bisa dia ‘post’

karena sekali saja kita melakukan kesalahan, sekali saja kita menyakiti hati seseorang, maka selamanya akan membekas, tak kan pernah bisa dilupakan, meski sudah termaafkan….