akhirnya….. :)

Semua hal yang terjadi dalam rentang waktu beberapa tahun terakhir ini memang menjadi bukti bahwa Allah itu luar biasa.

Ia tak pernah sekalipun meninggalkan hambanya sendirian, pun Ia tak pernah membiarkan hamba yang dicintainya menjalani kehidupan di dunia hingga keluar batas kewajaran

Ada banyak ujian yang lebih berat yang saya alami, tapi tak akan saya bahas dalam tulisan ini

Yang akan saya bahas hanya masalah ‘cinta’

Haha, masalah ini bisa mendatangi siapa saja, semua manusia, di belahan dunia mana pun, tak terkecuali saya

Cinta itu bisa berarti apa saja, bisa muncul dalam wujud apa saja, tergantung bagaimana kita mengartikannya dan menjalaninya

dan cinta yang akan saya bahas di sini, hanyalah bentuk cinta yang biasa, bentuk cinta paling klise, cinta pada manusia (yang bukan merupakan anggota keluarga) –> you know what i mean -..-

siapa sih di dunia ini yang tidak pernah jatuh cinta? atau paling tidak menyukai seseorang? atau mungkin hanya sekedar kagum?

naif sekali kalau sampai ada yang menjawab “tidak pernah”, perlu dipertanyakan ‘kemanusiaan’ nya kalau begitu -..-”

kisah cinta yang dialami masing-masing orang berbeda-beda

kisah cinta paling indah sepanjang masa mungkin hanyalah kisah antara Rasulullah dan khadijah, atau kisah cinta ali dan fatimah, kisah cinta seperti itu menggambarkan arti sesungguhnya dari ‘kesucian cinta’

tak peduli lah bagaimana lelahnya para sastrawan membuat kisah cinta versi non-islami agar nampak indah, tetap saja bumbu ke’dunia’annya terlalu keras, dan lebih banyak dipenuhi ‘nafsu syahwat’. Yang tidak setuju ya silahkan, ini hanya menurut pandangan saya, terima saja :D

tapi untuk bisa memunculkan kisah cinta yang sesuci itu dalam kehidupan manusia akhir zaman seperti kita saat ini, aduh biung susahnyoo…

maklum lah, pergaulan masyarakat saat ini bebas, bahkan terlalu bebas

tak ada batasan antara laki-laki dan perempuan

kita (wanita) bercampur baur dengan mereka (pria) di mana saja, di semua tempat

jadilah sering muncul interaksi tak perlu antara kedua jenis manusia ini, jadilah sangat mudah bagi pria dan wanita untuk saling mengenal, jadilah sangat mudah untuk kita ‘jatuh cinta’, menyukai lawan jenis, dan lain sebagainya, jadilah mudah pula bagi kita untuk jatuh dalam kondisi ‘menggalau’, karena posisi galau ini berada di bawah posisi cinta, jadi menurut hukum gravitasi, setelah jatuh ke posisi ‘cinta’, maka kita akan tertarik ke posisi ‘galau’ *ini hanya teori asal-asalan saya, terima aja deh, saya lagi males mikir ribet untuk bikin analogi :D

dan saya hanyalah satu dari miliyaran anak manusia yang mengalami hal tersebut di atas, maksudnya jatuh cinta dan jatuh galau!

sebenarnya saya minder menceritakan masalah seperti ini ke orang banyak, tapi tak apalah, toh harapan saya tulisan ini bisa dijadikan bahan pembelajaran untuk yang membaca, agar tidak melakukan kebodohan macam yang saya lakukan :D

ceritanya, saya sudah beberapa kali menyukai seseorang, atau mungkin lebih tepatnya ‘jatuh cinta’ pada seseorang

saya ini tipe orang yang kalau sudah suka, lalu berlanjut jadi cinta, susah sekali untuk move on, susah sekali untuk ‘lupa’, bahkan saya ini tipe orang yang bisa menyukai seseorang diam-diam sampai bertahun-tahun, tanpa pernah sekalipun orang itu tahu, hahaha, na’as, sepertinya itu kata yang paling tepat untuk disematkan di kerah baju saya -..-”

saya ingat betul, pertama kali jatuh cinta pada seseorang itu waktu masih duduk di bangku SMA, cinta yang bertahan 3 tahun! tapi sayangnya itu hanya ‘cinta dalam hati’, persis judul lagunya band ‘ungu’ yang juga dirilis pada tahun-tahun saat saya masih bersekolah SMA

hebat betul saya bisa mencintai seseorang sepanjang rentang waktu itu, tanpa pernah dia tahu sedikit pun tentang perasaan saya. jadilah saya bahagia bahagia sendiri, nangis nangis sendiri, galau-galau sendiri, selama 3 tahun, ya, TIGA TAHUN. Masa SMA saya yang indah itu saya habiskan hanya untuk menyimpan perasaan yang ternyata pada akhirnya hanya ditanggapi sekenanya oleh si pria. really? yup. ceritanya nih, saat di akhir-akhir masa sekolah (saat masih alay dan labil), saya malah memberanikan diri mengungkapkan perasaan yang selama ini terpendam (caeddaaah) pada si pria, dan bagaimana responnya? hahahahhahahahahha. luar biasa. kalau ingat-ingat ini saya rasanya malu sendiri. Dia hanya bilang “makasi sudah suka sama saya”. what???!!! oh, dear nanda, poor you…. :D rasanya perasaan yang saya simpan dalam-dalam selama 3 tahun itu sia-sia, tak berarti apa-apa lagi setelah melihat responnya. tapi pada akhirnya saya bersyukur dia memberikan respon begitu, andaikan respon yang diberikan berkebalikan? dan dia malah menerima cinta saya dan mengajak pacaran? maka bertambahlah tabungan dosa yang harus saya emban. syukurlah Allah membuntukan perasaan si pria dan membuat saya tak lebih dari sekedar butiran debu dihadapannya. syukur yang tiada terkira untuk itu. :)

kisah selanjutnya adalah saat memasuki masa kuliah. bayangkanlah saya, seorang gadis muda (hahaha), mahasiswa baru yang masih fresh banget, melihat seorang ketua BEM yang (nampak) karismatik. nah, ini benar-benar tak ada bedanya dengan cerita sinetron yang bertemakan “si cewek gendut yang culun (dulu saya benar-benar gendut :D ) kepincut sang ketua BEM”. tapi bagaimana akhir kisah ini? ternyata oh, ternyata pemirsa, dia hanya memberikan saya sebuah tali yang rapuh untuk bergantung, rapuh sekali, hingga jika tali itu putus maka jatuh lah saya ke dalam palung yang sangat dalam dan gelap. di satu sisi dia sedang menyukai seseorang, namun di sisi lain dia menanggapi semua telepon dan sms dari cewek gendut culun macam saya. teman-teman saya sampai berusaha sekuat tenaga untuk membuat saya sadar, bahwa saya hanya dipermainkan dan dijadikan cadangan nomor kesekian yang mungkin tak akan pernah dianggap. dan terimakasih banyak atas usaha teman-teman saya itu, mereka berhasil menyadakan saya pada akhirnya, dan saya bisa keluar dari kondisi menyebalkan yang bernama ‘galau’. maka pelajaaran hidup yang saya dapatkan dari kisah ini adalah “don’t judge a person by it’s ‘position’ :D

masih terus berlanjut, tak lama berselang, saya mengenal seseorang yang berasal dari daerah lain, dari cirebon. entah bagaiman secara tidak sengaja kami berdua bisa saling kenal lewat facebook (maklum dulu facebook lagi booming-boomingnya, belum banyak saingan seperti sekarang, jadi para penggunanya pun bersemangat sekali mencari kenalan lewat facebook, atau mungkin cuma saya saja ya, hahaha, terserahlah). awalnya kita hanya ngobrol-ngobrol biasa lewat chatting, kebetulan kami sama-sama berteman dekat dengan seseorang yang kuliah di tempat yang sama dengan si pria dari cirebon ini, mereka kuliah di ITB. semakin sering chatting, semakin dekat pula kita (inilah bahayanya diskusi dan bicara tak perlu antar lawan jenis, yang mulanya tak ada perasaan apa-apa jadi lama-lama ada, memang manusia suka cari gara-gara dan bermain-main dengan hal yang dilarang atau seharusnya dihindari). dia banyak bercerita tentang kehidupannya, keluarganya, visi misinya, dan saya pun demikian. seperti nya muncul semacam ‘chemistry’ dalam tiap diskusi yang kita lakukan. sampai pada suatu saat dia tiba-tiba menghilang. benar-benar menghilang. saya yang sedang (kembali) jatuh ke posisi ‘cinta’ merasa kebingungan diperlakukan seperti itu. dan setelah saya bertanya pada teman dekat kami yang berkuliah di ITB ternyata kesimpulan yang saya dapat adalah, dia takut perasaan kita jadi semakin berkembang, dia takut memberi terlalu banyak harapan, dia takut menyakiti saya, karena letak kami terlalu berjauhan, dia tak pernah bertemu dengan saya, menelpon pun hanya sekali karena ingin tahu bagaiman suara saya, dia tak ingin kondisi yang tidak memungkinkan ini malah membuat saya sakit pada akhirnya. dan dia memilih untuk mundur. pada awalnya saya sempat tidak terima. saya berpikir kenapa dia harus pergi dengan cara seperti itu ketika saya mulai menyukai dia. tapi lama-lama saya sadar bahwa mungkin ini lah yang terbaik untuk kita berdua. dia saat itu masih berkutat dengan kuliah teknik nya yang berat, belum pula memikirkan tugas akhir dan skripsi, dan saya baru saja menginjakkan kaki di bangku kuliah, masih anak manja, masih anak ingusan, belum mengerti banyak hal tentang kerasnya hidup, terbutakan oleh cinta ‘monyet’. kami berdua benar-benar tidak berada dalam kondisi yang baik untuk melanjutkan hubungan ke tahapan yang lebih jauh, apalagi sampai memikirkan untuk menikah, mungkin saya akan kaget kalau sampai dia sebut-sebut soal pernikahan. maka sekali lagi, saya bersyukur pada Allah. Ia telah mengenalkan saya dengan orang seperti itu, orang yang begitu sederhana dan sangat mencintai keluarganya, orang yang berani mengambil keputusan dengan menggunakan akal pikirannya dan tidak mengedepankan nafsu sesaat. sungguh saya sangat amat berterimakasih atas apa yang telah dia lakukan, meskipun semua hikmah ini baru saya sadari sekarang. dulu saya sempat membenci dia, karena sudah menyakiti dan meninggalkan saya begitu saja. dan parahnya, saya malah mencari pelarian untuk melupakan dia. inilah awal mula kisah selanjutnya….

dia, muncul saat saya sedang down karena ditinggalkan si pria dari cirebon. dia yang lucu, yang kata orang baik hati, dan penyabar, bisa membuat saya lupa akan segala sakit yang saya rasakan waktu itu. dan dengan pikiran sempit pun saya memutuskan mengambil jalan yang tak pernah saya pikiran sama sekali sebelumnya, jalan yang begitu baru dan nampak berkilau indah pada saat itu, jalan yang ternyata merupakan jalan yang paling dibenci ALLAH karena bisa menjadi gerbang kemaksiyatan paling besar bernama zina, jalan ‘pacaran’. si pria cirebon pun ketika mendengar kabar bahwa saya berpacaran pun ternyata sangat terkejut. mungkin dia sangat menyayangkan tindakan bodoh yang saya lakukan saat itu. dan memang benar adanya bahwa itu adalah tindakan paling bodoh yang pernah saya lakukan dalam hidup saya, tindakan yang memberikan penyesalan mendalam. bahagia? silahkan tanya semua orang yang saat ini berpacaran, seberapa bahagia sih mereka dengan hubungan yang ‘rapuh’ dan ‘sementara’ seperti itu? tidak pernah ada yang namanya kebahagiaan hakiki. kebahagiaan yang saya rasakan hanyalah kebahagiaan semu karena bisa mengungkapkan segala perasaan yang ada dalam hati pada orang yang dicintai, tanpa peduli bahwa itu adalah dosa, tanpa peduli bahwa semua yang saya lakukan hanyalah bentuk nafsu yang tak terkontrol oleh benteng iman dan takwa.  saya benar-benar jatuh saat itu. bukan hanya jatuh cinta, tapi lebih parah lagi, jatuh ke dalam jurang paling dalam dari kehidupan, jurang yang begitu gelap. mungkin saya nampak mendramatisir keadaan dalam tulisan ini. tapi itulah yang saya rasakan. empat tahun masa pacaran saya itu adalah tahun-tahun yang paling tak ingin saya ingat, tak ingin saya ulangi, dan kalau bisa rasanya ingin saya hapuskan dari memori otak saya. tak pernah ada bahagia di sana. mungkin hanya ada kesenangan sesaat. dan kesenangan sesaat itu pun hanya saya rasa beberapa bulan saja, ya, hanya di bulan-bulan awal masa pacaran. selanjutnya yang tersisa hanya luka, sakit, perih, tangis, lara, tak berdaya, sia-sia, ah kata apa lagi yang bisa saya gunakan untuk melukiskan masa-masa kelam itu. dan pria yang menjadi bagian dari cerita itu pun adalah pria yang paling tak ingin saya ingat, yang paling tak ingin saya temui. meskipun dia datang dengan berlari atau merangkak, meksipun dia melakukan cara apapun untuk mendekati lagi, sungguh saya akan dengan tegas menolak! saya tak ingin pengalaman traumatis yang saya alami selama empat tahun itu harus terulang lagi. hasil akhir dari kisah empat tahun ini, telah tercipta seorang nanda yang skeptis, sangat skeptis. saya tak bisa lagi mempercayai kebaikan orang lain dengan mudah, karena saya pernah mengenal orang yang nampak begitu baik diluar namun ternyata berlaku sebaliknya. tapi, lagi-lagi ada hikmah yang begitu besar yang ingin disampaikan Allah pada saya lewat kisah kelam ini. bahwa jalan yang saya pilih itu jelas adalah jalan yang salah, maka dari itu saya mendapatkan luka yang tak terperi, karena meninggalkan Allah demi mengambil langkah yang tak sedikitpun memberi manfaat untuk kehidupan di dunia dan akhirat. dan saya jadi lebih mengetahui laki-laki yang akan saya pilih dan tidak akan saya pilih untuk dijadikan calon imam kelak. sungguh pengalaman ini begitu mendewasakan saya. membuat saya jadi lebih kuat daripada sebelumnya. jauh lebih kuat. segala puji hanya bagi Allah untuk apa yang telah saya alami ini….

dan kisah terakhir, adalah kisah klimaks dari semua kisah yang pernah saya alami. saat ini saya tahu dan sudah mempelajari bagaimana seharusnya laki-laki dan wanita yang bukan mahrom berinteraksi, saya juga sudah bisa membedakan mana laki-laki yang baik agamanya dan mana yang masih ‘kurang baik’. jadi berubahlah pandangan saya dalam menilai laki-laki. dan di saat penilaian saya sudah berubah itu, muncullah dia, seorag pria asing yang tak pernah saya kenal sebelumnya, bahkan tak pernah saya tahu namanya. dia muncul dengan segala kriteria yang ‘tepat’ untuk dijadikan ‘calon imam dunia akhirat’. wanita mana yang tak menginginkan laki-laki seperti ini. jadilah saya kembali jatuh cinta, dan, hahahaha, kembali jatuh galau. kami tak pernah berkomunikasi yang tak perlu, kami sama-sama menjaga interaksi antara ikhwan dan akhwat, tapi syaitan memang lihai sekali dalam membuat tipu daya dan menggoda iman anak manusia macam saya yang kekuatan imannya masih di bawah garis aman. dibuatlah saya berada dalam kondisi ‘cinta bertepuk sebelah tangan’ dan ‘cinta yang hanya bisa disimpan dalam diam hingga menyakiti diri sendiri’. si pria sedikitpun tak pernah ada sinyal memiliki perasaan yang sama dengan saya, tapi saya lah yang bodoh dan terus mengharapkan dia merasakan hal yang sama, berharap dalam tiap doa dan sujud saya, berharap dalam tiap tangisan pada Allah, ah malang nian nasibmu nak. saya sampai mencari-cari informasi ke sana ke mari tentang dia, tentang rencana-rencana masa depannya, tentang sudah atau belum dia punya calon. tapi sudahlah. sekarang saya sedang dalam tahap ingin mengikhlaskan dia pergi, jadi saya malas membahas tentang kisah akhir ini terlalu rinci. yang jelas pada akhir nya saya benar-benar bisa sadar bahwa dia tidak ingin menikah dalam waktu dekat dan dia hanya akan menikah dengan orang yang berasal dari daerah yang sama dengannya. intinya saya tak punya celah sama sekali untuk merangsek masuk, celah saja tak ada, apalagi jalan. dia juga tak pernah ‘menganggap’ keberadaan saya. klimaksnya adalah saat kami bertemu di sebuah toko buku dan dia…………, dia hanya melirik saya dan kemudian berlalu, seakan saya ini orang asing yang tak dia kenal, seakan saya ini bukan siapa-siapa, seakan saya ini hanya butiran debu yang tak kasat mata. dia tak peduli tatapan kaget saya ketika melihatnya ada di sana. dia lupa dulu pernah mengajak saya bicara, dia lupa pernah satu tempat kerja dengan saya, dia lupa semuanya, atau mungkin pura-pura lupa. saya tak ingin mengambil kesimpulan yang tidak-tidak tentang sikap nya itu, meskipun rasanya menyakitkan sekali. tapi tak apa. mungkin dengan cara inilah Allah lagi-lagi, tak bosan-bosannya, menegur saya, mengingatkan saya, bahwa ketika jatuh cinta, jangan letakkan cinta itu hanya dalam hati, melainkan serahkan ia pada Allah, dan biarkan Allah yang tentukan jalanya. jangan biarkan cinta menjatuhkanmu. jangan pernah berharap pada selain Allah.

semua kisah ini, semua pengalaman pahit mengenai cinta ini, memang nampak begitu menyedihkan. rasanya seperti tak satupun cinta saya pernah terbalas dengan ‘baik dan benar’. tapi memang seharusnya begitu, memang seharusnya cinta itu tidak terbalas saat ini, karena memang Allah tahu saya belum siap untuk mengemban tanggung jawab yang muncul bersamaan dengan cinta itu. saya belum siap menikah, menjadi seorang isteri yang baik dan sholehah, dan ibu yang baik untuk anak-anak saya kelak. saya belum siap sama sekali. dan masih ada prioritas lain, yang lebih penting, dan lebih mendesak yang harus saya selesaikan. Allah memang paling mengerti hambaNya… ^_^

 

 

Setiap hariku mohon agar Kau senantiasa
Memberiku ketenangan dalam hati kekuatan
Menempuhi segala dugaan yang mencoba ini
Pasti punya artinya
Kau beriku harapan
Menjawab segala persoalan
Hadapi semua dalam tenang
Hingga merasa kesungguhan
Ku doa Kau selalu mengawasi segala
Gerak-geriku berkatilah
Ku perlu rahmat dari-Mu
Oh Tuhan terangkan hati dalam sanubariku
Untuk menempuhi segala hidup penuh
Jabaran ini
Oh Tuhan ku berserah segalanya kepada-Mu
Agar jiwaku tenang dalam bimbingan-Mu selalu
Ada kala ku merasa hidup ini seperti kaca
Jikalau tidak bersabar hancur berlerailah akhirnya
Tabahkanlah hatiku melewati semua itu
Kuatkanlah jagakanlah diriku

image

Jangan pernah mencoba menyakiti perasaan seorang penulis. Kalau berani melakukannya maka bersiap-siaplah menjadi bulan2an dalam tiap karya nya. Haha, that’s why i don’t blame taylor swift for making songs about her past boyfriends L.O.L

kita sering di ajarkan untuk ber’empati’ terhadap orang lain…
sungguh, sebenarnya kemampuan untuk bisa memahami kondisi seseorang, dan memahami kesulitan yang dihadapi orang lain itu tidak mudah. hanya 1 diantara beribu orang yang bisa berusaha memahami dan mengerti kondisi orang lain, dan lebih sedikit lagi yang bisa ber’empati’ dengan benar….
kita lebih mudah untuk menjudge, menyakiti, menghakimi, mengambil kesimpulan dengan serampangan, dan mencocok-cocokkan kondisi orang lain dengan apa yang kita alami, padahal belum tentu ketika kita ditempatkan dalam kondisi yang sama lantas kita bisa ‘bertahan’, lantas kita bisa leluasa menentukan opsi dan mengambil keputusan…
karena hidup satu orang dengan orang lain itu tak sama….