How to Master Your Habits – resensi buku

Foto3575

kenapa buku itu jadi ‘opening’ untuk tulisan saya hari ini? jawabannya cuma satu, “karena buku itu sudah membuka pikiran saya”. Selama ini kita (termasuk saya sendiri) mungkin banyak mengalami kejadian yang namanya GALAU, tidak bersemangat hidup, tidak ada motivasi untuk melakukan apapun, tidak semangat belajar, dan lain lain. Bahkan mungkin sampai ada yang berpikir “apa sih gunanya hidup saya? saya ini nggak ada gunanya buat orang lain, mendingan mati aja.” #nah!

Sampai beberapa hari sebelum ini pun saya masih mengalami perasaan-perasaan ‘aneh’ itu. Tapi alhamdulillah buku ini sudah membantu saya. membantu untuk menemukan kembali semangat yang sudah lama hilang dari dalam diri saya. semangat untuk perubahan ke arah yang lebih baik. semangat untuk terus mendekatkan diri pada Allah. kenapa bisa buku ini sampai ‘segitunya’ membuka pikiran saya? mungkin saya bukan orang yang jago dalam hal meresensikan buku. tapi saya hanya akan mencoba mengetik kembali cuplikan-cuplikan menarik dan penting dari dalam buku ini untuk bisa dibaca oleh kalian semua.

cuplikan #1

pemikiran adalah pangkal dari kepribadian, karena pemikiran lah yang akan menentukan keyakinan, kecenderungan, tujuan hidup, cara hidup, pandangan hidup, sampai aktivitas manusia. Pemikiran mendasar pada seseorang akan menghasilkan cara pandang yang khas ini, dalam terminologi islam disebut aqidah.

saat pemikiran dasar satu orang dengan orang lain berbeda, maka berbeda pula tujuan yang mereka tetapkan. seorang muslim akan selalu menjadikan akhirat sebagai tujuannya karena cara pandang (aqidah) yang ia miliki meyakini bahwa dunia bukanlah akhir kehidupan melainkan hanya tempat sementara.

dan dia pun meyakini bahwa setiap perbuatannya di dunia sementara ini akan jadi penentu tempatnya di akhirat. oleh karena itu, sekuat mungkin dia berusaha menyesuaikan dirinya dengan aturan Allah, Tuhan semesta alam.

maka habits yang dibentuk seorang muslim pastilah habits yang diperintahkan Allah dan tidak berhubungan dengan larangan-larangan yang diberikan kepadanya.

berbeda dengan seorang non-muslim, bisa jadi dia meyakini akhirat namun tidak meyakini bahwa seluruh perbuatannya harus disesuaikan dengan kehendak tuhannya. dan menganggap dunia adalah satu-satunya kesenangan, lalu membentuk segala macam habits yang dapat membuatnya nyaman di dunia.

jadi seharusnya ada perbedaan antara akitivitas seorang muslim dengan aktivitas non muslim. bila ternyata aktivitasnya sama saja, jangan-jangan cara berpikirnya juga sama, atau malah aqidahnya sama. nah!

habits yang dimaksud dalam cuplikan tersebut adalah sebuah tindakan, perilaku, kebiasaan, sikap, seseorang yang sudah terbentuk akibat proses yang terjadi selama bertahun-tahun, dan membentuk karakter orang tersebut. nah jadi, pilihan kita, mau memiliki habits seperti seharusnya habits seorang muslim, atau mau memiliki habits non muslim? the choice is yours, and your choice will lead you to only 2 option of future, SURGA atau NERAKA. :)

taukah kamu kenapa kita sering merasa bahwa ada seseorang diantara teman-teman kita yang lebih menonjol dari yang lain? entah itu karena kecerdasannya, karena ibadahnya, karena hafalan Al Qur’annya, karena kemampuan berbicaranya yang fasih dan luwes. menurut sebagian orang, atau mungkin menurut kita sendiri, orang-orang itu adalah orang yang dikaruniai kelebihan oleh Allah. dan kita sering melemparkan pendapat “mereka emang sudah dari sononya pinter!” atau yang kita lemparkan hanyalah sebuah wujud kekaguman seperti “waah, luar biasa bisa hafal Qur’an padahal masih muda. bisa rajin bangun tahajjud. saya ndak mungkin deh bisa gitu!” itu kan yang sering terjadi pada kita? padahal kita sama-sama manusia, sama-sama diberikan jumlah sel saraf yang sama dalam otak kita. harusnya kita bisa seperti mereka! harusnya kita bisa secerdas mereka, bisa menghafal Qur’an seperti mereka, bisa rajin bangun sholat tahajjud seperti mereka, bisa rajin sholat jama’ah di masjid seperti mereka, bisa rajin sholat dan puasa sunnah sperti mereka. lalu apa yang membuat kita tidak bisa? karena HABITS kita yang belum terbentuk. dan karena kita yang tidak mau membentuk habits itu dan membiasakan diri dengan habits yang kita miliki saat ini. padahal sebenarnya, tidak harus ada motivasi untuk menumbuhkan habits, bahkan meskipun awalnya dilakukan dengan paksaan pun, lama-lama kita bisa menumbuhkannya. nggak percaya? hehe…kalau begitu mari kita simak cuplikan lain dari buku ini…

cuplikan #2

sebagian ilmuwan dan peneliti berpendapat bahwa manusia memerlukan waktu 21 hari untuk melatih suatu habits yang baru, sebagian lagi berpendapat 28-30 hari, bahkan ada yang berpendapat 40 hari.

terlepas dari perdebatan itu, saya ingin mengambil satu contoh yang insya Allah sama-sama kita lakukan dan alami. kaum muslim berpuasa 29 hari atau maksimal 30 hari. sebetulnya puasa dalam pembentukan habits baru bagi kaum muslimin. terbiasa membaca Al Qur’an, sholat malam, sedekah, dan yang paling terlihat adalah perubahan pola makan.

sederhananya, untuk membentuk habits baru maka kita harus melakukan practice dan repetition selama 30 hari berturut-turut secara konsisten, tanpa ketinggalan satu hari pun. karena habits berarti pembiasaan dan pembiasaan memerlukan konsistensi.

see? habits itu bisa muncul kalau kita membiasakannya. seperti berpuasa. mungkin untuk kita yang imannya masih setengah-setengah, berpuasa itu dilakukan hanya untuk melakukan kewajiban saja, dan hanya diartikan sebagai menahan lapar dan haus saja. jadi mau tidak mau, meskipun terpaksa, dilakukan juga aktivitas untuk menahan lapar dan haus itu selama 30 hari. dan liatlah apa yang terjadi, meski dengan paksaan, meski tanpa motivasi, ujung-ujungnya perut kita pun bisa terbiasa kan untuk tahan tidak makan dari terbit fajar sampai terbenam matarahi?

apalagi kalau kita mengartikan bulan ramadhan itu lebih dari sekedar latihan menahan haus dan lapar. jika kita benar-benar menjadikan bulan ramadhan sebagai 30 hari waktu untuk membentuk habits baru seperti, bersabar, menghindari riya’ dan sombong, membaca buku-buku bermanfaat, sholat di awal waktu, sholat berjama’ah di masjid untuk yang ikhwan, sholat sunnah rawatib, sholat dhuha, sholat tahajjud, tilawah, menghafal Al Qur’an, berdzikir pagi sampai malam. bisa dibayangkan habits yang terbentuk setelah 30 hari jadi seperti apa? subhanallaaah, apalagi kalau kita mau melatihnya terus lebih dari 30 hari saja. insya Allah kita akan jadi manusia yang bahagia dunia akhirat kalau sampai bisa kesampean semuanya :)

cuplikan #3

banyak orang yang merasa sulit untuk berubah karena mereka kekurangan motivasi, tidak memiki daya tarik dan daya dorong yang cukup. itupun menjadi alasan yang jamak untuk berhenti dari pembiasaan 30 hari.

kabar baiknya adalah, untuk membentuk suatu habits, kita tidak perlu merasa ‘perlu berubah’ ataupun memiliki motivasi karena dalam banyak kasus habits bisa terbentuk walaupun seserorang tidak memiliki motivasi sama sekali.

habits bisa terbentuk baik ketika kita rela dengan repetisi aktivitas itu ataukah kita terpaksa melakukannya. rela ataupun terpaksa habits akan tetap terbentuk walaupun habits yang dibentuk atas dasar kerelaan tetap akan lebih berkualitas dibandingkan habits yang dibentuk karena paksaan.

namun itu bukan poin yang kita bahas. pembahasan kita adalah bagaimana membentuk habits. maka selama kita menyatukan ayah dan ibunya (practice dan repetition, latihan dan pengulangan) maka terpaksa atau sukarela habits akan segera lahir. sekali lagi, terpaksa atau sukarela.

tidak perlu mempertimbangkan logika atau pikiran dalam membentuk habits, karena manusia tidak selamanya logis.

saya ambil contoh, kita memahami bahwa membaca Al Qur’an adalah kebaikan yang diganjar dengan pahal yang berlipat-lipat oleh Allah, namun tetap saja kita menjadikannya pajangan. kita paham bahwa bermain game adalahh pekerjaan tidak bermanfaat, yang tidak akan memberikan kontribusi bagi kebangkita ummat, bahkan tidak bermanfaat bagi kehidupan pribadi, toh tetap saja kita tidak beranjak darinya. kita juga tahu keutamaan sholat tepat pada waktunya, namun berapa banyak diantara kita yang melangkahkan kaki untuk sholat tatkala waktunya tiba?

kita manusia tidak selama bertindak berdasarkan rasio akal, namun kebanyakan karena pengkondisian dan pembiasaan. habits.

pada kasus di atas, rasio kita dikalahkan oleh habits tidak membaca Al Qur’an, habits bermain game dan habits menunda sholat tepat waktu. betul atau benar?

pernah suatu hari saya ditanya “ustadz, bagaimana supaya kita rajin tahajjud?” jawab saya singkat “ya, tahajjud aja!” penanya bingung lalu bertanya kembali “justru itu yang saya tanyakan ustadz, bagaimana caranya?” dan saya jawab kembali “dan tetap itu jawaban saya!”

beberapa diantara kita menyangka bahwa tahajjud adalah masalah motivasi atau rasio, padahal lebih banyak kepada masalah habits. repetisi, sekali lagi kuncinya. nah, untuk mencapai repitis dalam 30 hari itu, terserah cara apa yang mau digunakan, asal sesuai syariat dan tidak membahayakan jiwa kita maupun orang lain.

sekali lagi, rela atau terpaksa, asalkan ada latihan dan pengulangan.

seringkali kita harus dipaksa melakukan aktivitas tertentu pada awalanya sebelum kita menikmatinya. oleh karenanya, kitapun harus mendesain kondisi agar kita harus dipaksa melakukan aktivitas yang ingin kita jadikan habits. apabaila terbentuk, kita akan menikmatinya.

dulu sebelum menjadi pengemban dakwah saya bisa menghabiskan 7 jam sehari untuk main game. saat memutuskan jadi pengemban dakwah, percayalah, sangat-sangat sulit sekali untuk saya meninggalkan habits itu. sekarang habits itu sudah di over-write dengan habits yang baru, membaca dan menulis.

cuplikan #4

bila sholat telah terbiasa, insya Allah akan ada ‘alarm’ otomatis yang akan mengingatkan

lalu bagaimana cara kita bisa memulai memunculkan habits itu? begini caranya…

cuplikan #5

Foto3566-horz

cuplikan #6

kita mengingat juga bahwa orang yang ‘tidak cerdas’ tidak akan mau menghabiskan uang membaca buku, karena makanan lebih baik bagi mereka, mereka anggap makanan lebih memberikan efek nyata. karena tidak membeli dan membaca buku, maka pengetahuannya pun sempit, dan menjadi makin tak cerdas. semakin ‘tidak cerdas’ seseorang, makin malas pula dia untuk membeli dan membaca buku. demikian seterusnya dan demikian pula sebaliknya.

cuplikan #7

terkadang walaupun kita pandai menyusun rencana, namun kita lebih pandai lagi untuk menundanya. inilah habits buruk sebagian besar orang. menunda. padahal yang penting dalam membentuk habits adalah action, amal nyata.

sulitnya seringkali kita justru tidak sadar, bahwa kita telah membentuk kebiasaan menunda-nunda amal. pernahkan anda mendengar orang lain berkata pada anda, “baiklah, saya akan berhenti menunda, mulai besok!”. atau justru anda mendengarnya dari diri anda sendiri?

cuplikan #8

kebanyakan dari kita memutuskan kita telah gagal tanpa sekalipun mencoba, sepertinya ketakutan telah membunuh rasa penasaran dan bahkan mematikan harapan. ketakutan-ketakutan tak beralasan yang seolah di back up dengan logika, benar-benar telah membuat kita merasa “lebih baik kalah daripada mengambil kemungkinan untuk menang”

begitulah kira-kira resensi seadanya dari saya. semoga bermanfaat ^_^