Salahkah Cinta?

Orang-orang yang tersakiti karena cinta
Orang-orang yang menangis karena cinta
Orang-orang yang memilih sendiri karena cinta
Orang-orang yang bersembunyi karena cinta
Orang-orang yang putus asa karena cinta
Orang-orang yang berubah skeptis karena cinta
Orang-orang yang mati rasa karena cinta
Dan orang-orang yang lelah karena cinta
Telah menumpahkan segala tuduhan, kekesalan dan amarahnya hanya pada cinta
pada sebuah substansi yang sesungguhnya tak bisa dipersalahkan
Sebuah substansi yang tak berwujud, tak bernyawa, murni, dan tak memiliki kekuatan untuk menyakiti siapa-siapa
Kita, aku, kamu dan mereka, yang (merasa) menjadi korban penindasan oleh cinta, telah melupakan satu hal yang paling penting
Bahwa sesungguhnya bukan cinta lah yang bersalah, bukan cinta yang menyakiti, bukan cinta yang menghancurkan
Tapi kita sendiri yang melakukan
Kita, aku, kamu dan mereka
Yang menjadikan cinta sebagai kambing hitam
Padahal sebenarnya kita yang menyakiti diri sendiri, kita yang menghancurkan hidup kita sendiri, kita yang tak berbaik-baik pada diri sendiri
Kita lupa bahwa cinta itu pemberian Tuhan
Dan pemberian itu bisa berwujud dua hal
Sebagai karunia, atau sebagai ujian
Dua-duanya sama saja pentingnya
Jika sebagai karunia, jelas kita harus mensyukurinya
Tapi kita sering salah kaprah jika ia diberikan sebagai ujian
Kita lantas marah pada apa saja, mempersalahkan cinta itu sendiri, bahkan sampai mencaci Tuhan. Padahal Tuhan tidak pernah satu kali pun tidak baik pada kita
Padahal Tuhan hadirkan ujian berupa cinta agar kita memetik banyak-banyak pelajaran penting darinya
Dan agar kita menyadari bahwa Tuhan tak pernah suka jika kita meletakkan cinta yang berlebih pada apa-apa yang ada di dunia…

– mindeulle

Monolog, yang kesekian kalinya…

Sepertinya aku harus belajar meyakini kata-kata yang diucapkan umi
Bahwa tidak susah bagiku menemukan pasangan yang terbaik di antara sekian banyak orang baik yang pernah dan akan muncul dalam kehidupanku
Tak perlu terburu-buru
Tak perlu risau
Yang perlu kulakukan saat ini hanyalah memikirkan kemana arah hidupku selanjutnya, dan mempersiapkan diri untuk melanjutkan studi di negeri seberang yang sudah jadi mimpiku sejak dulu
Yang paling penting dan harus terus dilakukan, adalah memperbanyak waktu-waktu berduaan dengan Allah
Aku harus memaksakan diriku menghapus wajah-wajah di masa lalu
Karena mengingat mereka hanya akan menghambat langkah kakiku
Karena mengingat mereka membuatku tak bisa lagi menyisakan ruang bagi jawaban Allah untuk masa depanku

Sudah kuduga

Sudah kuduga akan begini jadinya
Aku mulai berharap dan bermimpi
Tapi kemudian takdir berkehendak lain

Sudah kuduga akan begini jadinya
Karena aku dan kamu terlampau berbeda
Dan semuanya tak bisa dengan mudahnya disatukan meski sekeras apapun kita mencoba

Susah kuduga akan begini jadinya
Aku harus kembali merelakan
Melepaskan
Menunggu
Menyendiri
Menghindar
Mengamati
Menangis

Sudah kuduga akan begini jadinya
Itulah mengapa ketakutanku begitu besar sebelum memulai

karena aku, sudah menduga akan begini jadinya