Aku dan Kata-kata(ku)…

image

Aku jatuh cinta pada kata-kata. Karena aku penikmat kata-kata, dan seorang penyaji kata-kata…

Maka kuharap kau juga jatuh cinta padaku karena kata-kata, karena semua pemikiran yang kualirkan melalui tiap-tiap untaiannya. Bukan karena parasku, bukan karena atribut dunia yang menempel padaku, tapi karena kata-kataku. Karena di dalamnya, kau telah temukan bagaimana aku…

– mindeulle

Tak lagi menunggu

image

Jika dulu menanti, menduga, dan berharap, menjadi bagian yang selalu menemaniku tiap detiknya, kini kuputuskan untuk merubah semuanya.
Aku tak ingin lagi menanti, tak ingin lagi menduga-duga, tak pula mengharap apa-apa, pada siapa-siapa. Kuputuskan untuk merubah prioritasku. Merombak seluruh ruang dalam hatiku.
Bukan aku putus asa. Bukan pula karena ingin menyerah. Tapi aku tahu, semua yang kulakukan dulu itu, hanya dan akan terus menyakiti diriku sendiri, mengikis habis perasaanku, membuatku terus menerus gelisah, menangis tanpa sebab yang jelas, dan tak bersyukur atas apa sudah kumiliki saat ini.
Tenagaku, pikiranku, ilmu-ilmu yang sudah kupelajari bertahun-tahun, tak akan berguna jika yang kulakukan setiap harinya hanya menanti dan berharap akan sesuatu yang tak pasti, atau seseorang yang bisa jadi tak sedikitpun mengharapkanku, bahkan mungkin tak ingat pernah mengenalku.
Di luar sana masih banyak yang membutuhkan keikhlasan dariku. Keikhlasan untuk meluangkan waktu, perhatian, tenaga, pikiran, ilmu serta dedikasiku. Di luar sana masih banyak sekali sumber kebahagiaan lain, yang bisa membuatku lebih mensyukuri hidup, lebih menunduk malu pada Tuhan yang telah baik sekali memberiku izin untuk hidup hingga detik ini, meski Ia tahu tak banyak hal berguna yang aku lakukan hingga saat ini untuk memperjuangkan agamaNya.
Dan tak perlu jauh-jauh menengok keluar. Di dalam rumah pun bahagia itu ada, selalu ada. Tak pernah kurang kadarnya. Hanya mungkin, aku yang terlambat menyadari. Aku yang menutup mata. Aku yang mengejar-ngejar fatamorgana, menyangka itu air yang melimpah, padahal mata air yang menyejukkan dan tak pernah berhenti mengalir itu ada disekelilingku, dekat sekali.
Maka, untuk apa lagi menanti yang tak pasti? Jika memang dia ingin datang, pasti kelak Tuhan lah yang akan menggerakkan hatinya. Mungkin saat ini, bagi dirinya yang entah siapa dan entah berasal dari mana, mencariku bukanlah prioritasnya. Jadi, aku pun harus begitu. Tak lagi menjadikannya prioritasku. Impas, kan?

– mindeulle

Sepertinya aku harus kembali belajar mengikhlaskan
Berhenti menerka-nerka
Berhenti berandai tiada makna
Berhenti menunggu
Berhenti mencari tahu
Berhenti ingin tahu
Berhenti melakukan semua hal aneh untuk mendapatkan perhatian yang pada akhirnya satu kali pun tak kudapatkan
Sudahlah
Sendiri memang lebih baik, sepertinya…

Siapalah aku
Berani-beraninya berharap dan bermimpi mendapatkan pasangan seperti dirimu
Aku yang tak punya apa-apa
Tak berprestasi macam dirimu
Tak pernah menginjakkan kaki ke luar negeri, apalagi bersekolah di sana
Ilmu agama juga tak seberapa, hanya seujung kuku saja
Siapalah aku
Berani-beraninya berharap dan bermimpi memiliki pasangan sesempurna dirimu
😥

Rasa ingin tahu

Bolehlah kutahu kabarmu?
Tapi aku malu untuk bertanya lebih dulu
Karena aku wanita dan aku tak mungkin menjadi pembuka
Mengapa kau sepi saja?
Mengapa tak muncul lagi di dunia yang mempertemukan kita?
Apa yang saat ini melintasi pikiranmu?
Apa yang menyita perhatian dan kesibukanmu?
Rasanya aku ingin tahu segalanya
Tapi aku malu untuk bertanya lebih dulu
Karena aku wanita dan aku tak mungkin menjadi pembuka
Jika kau sempat membaca tulisan ini
Itu artinya kau juga mencari-cari, bukan?
Berarti, yang punya rasa ingin tahu bukan hanya aku sendiri. Benar begitu, bukan?

Yang manakah dirimu?

Dari sekian ribu wajah yang kusaksikan dalam sehari, yang manakah dirimu?
Aku ingin sekali tahu, bagaimana senyummu, bagaimana caramu tertawa, bagaimana kau bicara, bagaimana wajahmu saat diam?
Pernahkah kita bertemu sebelumnya?
Pernah kita berpapasan di suatu tempat?
Atau kau berasal dari tempat yang jauh dan kita tak pernah sekalipun bertemu?
Pertanyaan ini terus berputar dalam pikiranku, setiap hari
Ingin rasanya sehari saja tak kupikirkan tentang dirimu, tentang kapan kau akan hadir dan menemani hari-hariku
Tapi melihat umi yang juga turut mengkhawatirkanku yang masih saja sendiri membuatku mau tak mau ikut mengkhawatirkan diriku yang begini
Masih lamakah aku harus menunggumu datang?
Seberapa lama?
Setahun? 2 tahun? 5 tahun?
Apa yang membuatmu begitu lama melangkahkan kakimu menujuku?
Padahal, sungguh, aku tak meminta banyak darimu
Aku hanya meminta kita sama-sama menguatkan dalam agama ini
sama-sama mengingatkan akan kekhilafan yang kapanpun bisa terjadi, dengan cara yang ma’ruf
Sama-sama berusaha menjadi hamba Allah yang lebih baik dihadapanNya
Itu saja….
Sulitkah permintaaku itu?