Someone like you…

Rasanya sudah lama sekali nggak pernah nulis.
Sebulan? Mungkin lebih
Mungkin kemampuan saya sudah mulai berkurang. Jadi mari kita coba-coba berhadiah untuk mencoba menulis lagi. Berhasil atau tidak tergantung respon pembaca :D

Karena belum ada ide untuk bikin tulisan yg panjang2, jadi iseng bikin puisi aja kali dulu yak :D

Di musim ini, setahun yang lalu
Aku mengenalmu
Ternyata memang waktu berjalan begitu cepat
Rasanya baru sebulan yang lalu
Banyak yang bilang perasaan akan hilang di makan waktu
Bukan aku tidak percaya
Aku tahu waktu bisa membiasakan segalanya
Tapi entah mengapa
Bagiku untuk bisa melupakanmu tak cukup waktu setahun
Mungkin karena kau terlalu indah
Mungkin karena kau sangat tak tergapai
Mungkin karena belum ada yang bisa menyaingimu
Mungkin hingga saat ini kau masih yang terbaik dalam pandanganku
Mungkin, karena alasan lain yang tak bisa kureka
Bagaimana hidupmu di sana?
Bahagiakah? Nyamankah?
Sudahkah kau temukan tambatan hatimu?
Jika disebut namaku, apakah kau ingat bahwa kau pernah mengenalku meski hanya beberapa saat?
Jika disebut namaku, adakah senyum menghiasi bibirmu, sebagaimana aku saat mendengar namamu?
Jika disebut namaku, akankah kau tahu bahwa gadis ini salah satu dari sekian banyak pengagum rahasiamu?
Mungkin bagimu, aku hanyalah sebait kalimat dalam ribuan lembar kisah hidupmu
Tapi bagiku, mungkin kau menempati hampir setengah dari buku itu, kau menutupi lembar-lembar kisah lainnya
Kau membuat kisah lain tak lagi bermakna
“Never mind, I’ll find someone like you”
Nampaknya lirik lagu adele ini jadi begitu menyentuh setiap kali kudengar
Dan memang, aku akan mencari seseorang sepertimu, atau jika bisa, yang jauh lebih baik darimu
Agar aku tak perlu lagi merindukanmu
Tak perlu lagi menangis jika mendengar namamu
Tak perlu lagi berharap melihat wajahmu ditengah lautan manusia

image

Untung aja si raisa nggak ngerilis lagu ini setahun yg lalu ya…
Kalau iya pasti udah jadi theme song saya setiap hari…
Sekarang sih ceritanya udah move on yak (maunya sih gitu, tapi…kok sulit ya =P :D )

minta tulung yak temen2 yg baik… :)

assalamu’alaykum kawan2 pengunjung dan follower blog ini. saya kemarinan daftar buat ikutan lomba nulis lagi. iseng, hehe. nah, masa voting utk lomba #BeraniNulis  yg sy ikutin udah mulai dr tgl 12-25 jan. sy bkin 3 tulisan ecek2 banget. tapi siapatau dgn bantuan kalian utk ngvote tulisan ecek2 ini bisa dilirik juri. hehe. mnta tlg dibuka link2nya trus klik di tanda ‘hati’ yg ada di atas atau dibawahnya ya. jazakumullah khairan katsir…makasi banyak…

http://campaign.grazera.com/beraninulis/read/75/the.fault.in.our.stars

http://campaign.grazera.com/beraninulis/read/144/buk.tati.pedagang.kue.paling.baik.sedunia

http://campaign.grazera.com/beraninulis/read/374/tahun.2015.tahun.untuk.jadi.penulis

N.B. kayaknya sebelum ngevote situsnya minta registrasi dulu. klo berkenan+ada waktu luang minta tlg registrasi lanjut di vote ya ^_^

Bersyukur?

jika melihat kejadian-kejadian mengerikan yang terjadi pada umat muslim di seluruh dunia akhir-akhir ini, terutama yang paling baru yakni merebak kembalinya islamophobia di Eropa akibat makar di Charlie Hebdo, beberapa umat muslim di Indonesia pasti akan berujar “untung saya hidup di Indonesia, hidup aman damai, tenteram”.

perlu dipertanyakan kembali maksud kalimat tersebut

apakah dia bersyukur karena Allah masih mengizinkan dirinya hidup aman damai santai kayak di pantai dan tidak perlu hidup dalam kesulitan sebagai muslim minoritas di Eropa yang saat ini berada dalam bayang-bayang masyarakat Eropa yang mulai meningkatkan islamophobia?

apakah dia bersyukur hanya karena dia masih bisa makan enak sampai kekenyangan saat muslim di Rohingnya harus hidup dalam ketakutan, kelaparan dan penderitaan selama hampir 10 tahun karena usaha pembersihan etnis muslim oleh pemerintahnya sendiri?

atau dia bersyukur karena masih bisa tidur pulas sedangkan muslim di Gaza, suriah, iraq tak pernah lagi kenal tidur nyenyak akibat suara ledakan bom dan tembakan senapan?

apa ini yang ia syukuri?

lantas jika ia bersyukur, apakah dengan mudahnya ia tinggalkan agamanya, untuk hidup foya-foya dan mementingkan dunia?

apakah dengan mudahnya ia tepis kebenaran dan keabsahan ajaran Allah dalam Al Qur’an dan As sunnah, jika ia memang benar-benar orang yang bersyukur?

jika memang ia bersyukur atas segala nikmat dan keamanan yang diberikan Allah padanya, apakah ia masih tega untuk melalaikan semua perintah Allah?

jika memang dia begitu mensyukuri setiap nafas yang diberikan Allah, tanyakan padanya, “Lantas mengapa kau berani mencaci aturan Allah, mencaci syariat islam, mengatakan hukum Allah tidak atau belum pantas diterapkan di Indonesia atau di seluruh dunia saat ini, mencela orang-orang yang istiqomah memperjuangkan kebangkitan islam dengan membawa ide khilafah yang memang sudah jelas dijanjikan Allah dan RasulNya, dan yang paling parah, berani mengatakan bahwa Al Qur’an perlu direvisi dan semua itu kau lakukan atas dasar ‘kebebasan berbicara’?!”

coba tanyakan pada orang-orang itu, dan lihat bagaimana respon mereka. apakah mereka masih benar-benar berani menyucapkan “syukur” nya pada Allah…???

Tidak pernah orang yang banyak bicara itu disebut pintar, pun juga bijak. Juga tidak pernah orang yang selalu bicara setiap hal disebut jenius, pun juga cendekia.

Melainkan orang-orang yang tahu persis kapan harus bicara, kapan harus diam. Melainkan orang-orang yang tahu persis dia paham masalahnya maka dia angkat bicara, jika tidak, dia memilih diam.

–Tere Liye

Manakah yang akan selamat dan sampai ke daratan, orang yang membiarkan tubuhnya mengalir mengikuti arus, atau orang yang berusaha melawan arus?
jawabannya adalah yang berusaha melawan arus. meskipun rasanya berat, melelahkan, dan rasa ingin menyerah bisa datang setiap saat, tapi karena usaha yang keras dan keinginan yang kuat untuk sampai ke daratan, maka ia akan mampu meraih cita-citanya.
sedangkan yang mengalir mengikuti arus, ia tak tahu dirinya akan di bawa ke mana, padahal aliran air itu tak pernah putus, tak pernah ada cerita aliran air itu mampir sebentar untuk melihat daratan. maka Ia pun akan terus terbawa oleh arus tersebut, dibawa ke air terjun yang tinggi, terpelanting di antara bebatuan besar, dan berakhir di samudera luas, bahkan jika terbawa arus laut yang kuat bisa berakhir sampai ke palung laut yang paling dalam dan gelap, tak ada jalan keluar lagi dari sana.

*analagi ini bisa disesauikan dengan berbagai macam kondisi, termasuk dalam perjuangan umat muslim di akhir zaman ini