Jangan Menyerah

Ada kalanya kita merasa bahwa kehidupan ini begitu sulit, menghimpit, menyesakkan, memuakkan, dan menyakitkan untuk dijalani.

Ada kalanya kita ingin sekali menyerah, tak sanggup lagi menjalani derita hidup yang seakan tak pernah ada akhirnya. Ingin menghilang, menjauh dari semuanya.

Ada kalanya kita merasa begitu kesepian, sendiri dan tak punya siapa-siapa untuk tempat berbagi kesedihan dan penderitaan.

Beberapa akan menemui saat-saat seperti itu sesekali dalam hidupnya, ada juga yang mengalaminya hampir setiap hari, sepanjang waktu, seakan tak ada waktu untuk beristirahat dan merebahkan tubuhnya yang lelah, seakan tak ada waktu untuk sekedar menghela nafas panjang.

Bagi siapapun, di luar sana, yg pernah atau sedang mengalaminya, bertahanlah, kuatkanlah dirimu. Ingatlah bahwa dunia ini, kehidupan yg kini kau jalani, hanyalah sebuah hal yg fana, yang tak ada apa-apanya dibandingkan kebahagiaan yang akan kau temukan di akhirat kelak.

Ingatlah bahwa semua ini pasti akan berlalu, cepat atau lambat pasti akan berlalu, bahwa Allah akan menghadiahkanmu kebahagiaan di depan sana, bahwa semuanya kelak akan baik-baik saja.

Jika sampai akhir hidupmu pun tak kau temukan bahagia itu, bersabarlah, karena bahagia itu telah disimpan Allah untukmu di alam keabadian, ketenangan itu telah menantimu di sana. Semuanya akan kau raih, hanya jika kau mau berusaha untuk bersabar, bersyukur, dan ikhlas menghadapi segalanya.

Percayalah, Allah tak akan pernah menyia-nyiakan hambanya. percayalah, Allah tak pernah meninggalkanmu sendiri, Ia selalu ada untukmu, menantimu panggilanmu, menanti curahan hatimu, Ia yang tak kenal lelah mendengarkan semua kisahmu, tak pernah mengkhiatimu, tak akan mengacuhkanmu….tak kan pernah….

Kalau kalian mau kebal dari patah hati dan penyakit perasaan lain, berikut resepnya:

1. Jangan terlalu mudah jatuh cinta
2. Jangan terlalu mudah memaafkan–hanya untuk kemudian disakiti lagi
3. Jangan terlalu peduli–hanya untuk kemudian kecewa

*Tere Liye

Kenapa kadangkala masalah hidup itu datang bertubi-tubi? Bahkan sama, itu-itu saja masalahnya? Jatuh lagi di lubang yang sama.

Mungkin jawabannya: agar kita paham. Karena mata pelajaran paling susah di sekolah saja, harus diajarkan berkali-kali.

*Tere Liye

……………………….

Sudah berusaha kutahan untuk tidak menulis hal ini, menjabarkan kisah ini
Sudah berusaha kutahan rasa sesakku, rasa sakitku, air mataku
Sudah kucoba untuk menerima semuanya
Tapi kenapa masih saja sama?
Andai itu bukan kau, aku mungkin tak kan begini
Andai itu bukan kau, aku mungkin bisa berjalan pergi
Andai itu bukan kau,
“Kenapa dunia ini tidak adil bagiku?
Kenapa semua tak adil bagiku?
Kenapa Allah timpakan semuanya hanya padaku?
Apa yang kurang dari sikapku selama ini hingga kau tega melakukannya padaku?”
Semua pertanyaan itu muncul terus menerus, berkali-kali, dalam benakku
Meski kutepis sekeras apapun, mereka akan terus bermunculan, terus mempertanyakan situasi ini pada hatiku
Dan hatiku tak mampu memberikan jawaban apapun
Dan bibirku tak mampu memberikan pembelaan sedikitpun
Dan hanya tetesan air mata lah yang mampu kuberikan sebagai jawabnya
Apa kau bahagia dengan ini?
Apa jika tidak kukatakan apa yang kurasakan kau akan bisa bahagia di atas segalanya? Bahagia dengan pilihanmu dan dia yang memilihmu?
Apa kau sungguh akan benar-benar bahagia?
Kutanyakan pada semua, salahkan aku? Mereka katakan aku yang salah, karena utamakan perasaanku di atas hukum syara’
Mereka katakan perasaanku tak boleh menyaingi hukum syara’
Mereka katakan hukum syara’ tak bertentangan dengan apa yang terjadi pada kalian
Mereka katakan aku yang harus mengalahkan perasaanku, karena kalian tidak salah, kalian sama sekali tidak salah
Mulai sejak ini, kuputuskan tak akan lagi bertanya, pada siapapun
Kuputuskan tak akan lagi bercerita pada manusia manapun
Kuputuskan tak akan mudah percaya pada siapapun, berubah menjadi orang yang lebih skeptis dari yang dulu
Kuputuskan tak akan lagi berusaha membela diri
Kuputuskan, hanya pada Allah aku akan bercerita, dan hanya dialah yang mendengar semuanya
Mungkin itu lebih baik bagiku, bagimu, bagi dirinya, bagi semua orang
Apa aku masih bisa kembali seperti dulu lagi?
Jawaban untuk pertanyaan itu, sungguh, belum kutemukan sampai saat ini
Mungkin waktu yang akan menjawabnya
Tak kutahu dimana tapal batas waktu kan melabuhkan rasa sakit ini
Aku sungguh merasa seperti sedang dikhianati
Apa ada yang lebih sakit daripada rasa ini?
Dan melihatmu masih bisa melanjutkan hidup dengan bahagia, ah rasanya sungguh membuatku tercabik
Tak pernah kubayangkan akan begini jadinya
Tak pernah kubayangkan kau tega melakukannya
Tak pernah kubayangkan semua akan berakhir seperti ini
Sungguh tak pernah bisa kubayangkan apa yang sedang kualami saat ini
Tak pernah kubayangkan kau lebih memilihnya di atas apa yang telah kita bangun selama ini
Jika memang toh semua orang menganggap aku yang salah, aku akan tutup rapat mulutku, tak akan kubiarkan satu kata pun keluar, tak kan kubiarkan nama indahmu tercoreng sedikit pun
Biar saja aku yang jadi tamengmu, mungkin Tuhan tempatkan aku di sini karena aku cukup kuat untuk menjadi tamengmu, dan tameng semua orang yang rahasianya selalu kujaga selama ini
Kini doaku hanya satu, aku bisa melepaskan semua ini, mengikhlaskan semuanya, sabar dan kuat menghadapi segalanya, untuk melanjutkan kembali hidupku, mengejar cita-citaku yang masih tertunda, dan mempersiapkan diri menghadap Rabb yang bisa saja memanggilku esok atau lusa…

Sajak Perasaan

Wahai perasaan
Kau buat pagiku jadi mendung, soreku jadi kelam
Kau buat siangku jadi gelap, dan malam semakin gulita
Kau buat beberapa menit lalu aku gembira,
untuk kemudian bersedih hati

Wahai perasaan
Kau buat aku berlari di tempat
Semakin berusaha berlari, kaki tetap tak melangkah
Kau buat aku berteriak dalam senyap
Kau buat aku menangis tanpa suara
Kau buat aku tergugu entah mau apalagi

Wahai perasaan
Kau buat aku seperti orang gila
Mengunjungi sesuatu setiap saat, untuk memastikan sesuatu
Padahal buat apa?
Ingin tahu ini, itu, untuk kemudian kembali sedih
Padahal sungguh buat apa?

Wahai perasaan
Kau buat aku seperti orang bingung
Semua serba salah
Kau buat aku tidak selera makan, malas melakukan apapun
Memutar lagu itu2 saja,
Mencoret2 buku tanpa tujuan
Mudah lupa dan ceroboh sekali

Wahai perasaan
Cukup sudah
Kita selesaikan sekarang juga
Karena,
Jalanku masih panjang
Aku berhak atas petualangan yang lebih seru
Selamat tinggal
Jalanku sungguh masih panjang….

– Tere Liye