apakah kamu adalah seorang ‘pendengar yang baik’?

siang ini di kampus, saya mendapatkan dua kuliah mengenai cara ‘konseling’ yang baik terhadap pasien, dan cara komunkasi dokter-pasien yang baik. dalam dua kuliah itu ada satu point yang sangat di tekankan, yaitu kemampun untuk menjadi ‘PENDENGAR YANG BAIK’. kedua dokter yang memberikan kuliah tadi mengatakan hal yang hampir sama, bahwa “menjadi pendengar yang baik itu tidak mudah. sulit sekali. kadang kita terbiasa untuk asyik sendiri saat orang lain berbicara dan tidak memperhatikan apa yang mereka ungkapkan pada kita.” ya, apa yang di sampaikan dosen-dosen saya siang ini benar sekali. memang susah untuk bisa menjadi seorang pendengar yang baik bagi orang lain….

untuk menjadi pendengar yang baik kita harus mempersiapkan waktu kita untuk mendengarkan segala macam keluh kesah orang yang bercerita pada kita, kita tak boleh sedikitpun terlihat bosan diajak berbicara atau mendengarkan cerita mereka yang mungkin butuh waktu sampai berjam-jam lamanya, tak boleh melakukan hal-hal lain saat ada orang yang sedang berbicara pada kita (seperti mengetik sms, menerima telpon, dan lain-lain), dan syarat penting lainnya adalah tatap muka. mendengarkan tanpa ada tatap muka adalah sama saja dengan kita tidak berminat mendengar pembicaraan orang tersebut, dan orang itu pun bisa saja merasa sungkan untuk melanjutkan ceritanya karena sikap kita yang seakan tak lagi tertarik mendengarkan ceritanya. selain mendengarkan cerita dengan penuh keikhlasan, sebagai pendengar yang baik kita juga harus memiliki kemampuan untuk menangkap permasalahan inti yang disampaikan dalam cerita seseorang, dan kemudian mampu menyimpulkannya. setelah itu, dengan sudut pandang yang kita miliki, selayaknya kita memberikan timbal balik pada orang yang bercerita berupa saran ataupun kritik yang tentunya harus berbobot, membangun, dan tidak terkesan menjatuhkan orang tersebut. see? menjadi pendengar yang baik itu sungguh tidak mudah kan?

sebagai seorang dokter, kami di tuntut untuk memiliki kompetensi seperti itu. mungkin bagi beberapa orang, hal ini benar-benar bisa jadi sebuah tuntutan yang berat karena tak sedikit orang yang malas mendengarkan cerita dan rengekan orang lain. mereka lebih memilih untuk asyik dengan pikiran mereka sendiri ketimbang memperhatikan kata demi kata yang disampaikan lawan bicaranya. ada lagi jenis orang yang selalu mau menang sendiri. orang yang ingin bercerita pada dirinya merasa tidak nyaman untuk melanjutkan ceritanya karena si pendengar lebih banyak ngoceh tentang pendapatnya sendiri ketimbang mendengarkan cerita orang lain dengan sabar. mau tidak mau kemampuan seperti ini harus kita latih, terutama untuk orang yang bercita-cita ingin menjadi dokter. coba saja kita lihat, mana ada pasien yang menyukai dokter yang ketika berhadapan dengan pasiennya hanya bisa menjelaskan sambil menunduk dan sibuk menulis tanpa memandang ke arah pasiennya? mana ada pasien yang menyukai dokter yang tak sedikit pun mau bicara ketika berhadapan dengan pasien, hanya mendengarkan sedikit keluhan pasien dan kemudian langsung menulis resep tanpa bertanya lebih dalam mengenai apa yang dikeluhkan pasiennya? mana ada pasien yang menyukai dokter yang wajah dan ekspresinya tidak welcome dan acuh tak acuh saat mendengarkan keluhan pasien? mana ada pasien yang menyukai dokter yang sok pintar dan terlalu banyak omong (padahal apa yang dibicarakan tidak sesuai dengan apa yang diinginkan pasien)?

tidak hanya profesi dokter yang membutuhkan kemampuan untuk mendengarkan dengan baik, orang lain pun butuh untuk belajar mengenai hal ini. tak ada salahnya kan mencoba untuk mendengarkan cerita dan pengalaman orang lain? sungguh, jika kita ingin belajar banyak mengenai kehidupan, maka ‘dengarlah dan gunakalah telingamu untuk mendengarkan dengan seksama’, maka kau akan tahu pesan-pesan yang disampaikan Tuhan melalui kisah orang-orang…

 

apa kau tahu mengapa Tuhan menciptakan manusia dengan dua buah telinga dan hanya sebuah mulut? jawabannya adalah, agar kita bisa lebih banyak mendengarkan dibandingkan berbicara…

dan apa kau tahu?  semua orang itu mampu berbicara dengan baik, tapi tak semua orang mampu mendengarkan dengan baik….

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s