How to Master Your Habits – resensi buku

Foto3575

kenapa buku itu jadi ‘opening’ untuk tulisan saya hari ini? jawabannya cuma satu, “karena buku itu sudah membuka pikiran saya”. Selama ini kita (termasuk saya sendiri) mungkin banyak mengalami kejadian yang namanya GALAU, tidak bersemangat hidup, tidak ada motivasi untuk melakukan apapun, tidak semangat belajar, dan lain lain. Bahkan mungkin sampai ada yang berpikir “apa sih gunanya hidup saya? saya ini nggak ada gunanya buat orang lain, mendingan mati aja.” #nah!

Sampai beberapa hari sebelum ini pun saya masih mengalami perasaan-perasaan ‘aneh’ itu. Tapi alhamdulillah buku ini sudah membantu saya. membantu untuk menemukan kembali semangat yang sudah lama hilang dari dalam diri saya. semangat untuk perubahan ke arah yang lebih baik. semangat untuk terus mendekatkan diri pada Allah. kenapa bisa buku ini sampai ‘segitunya’ membuka pikiran saya? mungkin saya bukan orang yang jago dalam hal meresensikan buku. tapi saya hanya akan mencoba mengetik kembali cuplikan-cuplikan menarik dan penting dari dalam buku ini untuk bisa dibaca oleh kalian semua.

cuplikan #1

pemikiran adalah pangkal dari kepribadian, karena pemikiran lah yang akan menentukan keyakinan, kecenderungan, tujuan hidup, cara hidup, pandangan hidup, sampai aktivitas manusia. Pemikiran mendasar pada seseorang akan menghasilkan cara pandang yang khas ini, dalam terminologi islam disebut aqidah.

saat pemikiran dasar satu orang dengan orang lain berbeda, maka berbeda pula tujuan yang mereka tetapkan. seorang muslim akan selalu menjadikan akhirat sebagai tujuannya karena cara pandang (aqidah) yang ia miliki meyakini bahwa dunia bukanlah akhir kehidupan melainkan hanya tempat sementara.

dan dia pun meyakini bahwa setiap perbuatannya di dunia sementara ini akan jadi penentu tempatnya di akhirat. oleh karena itu, sekuat mungkin dia berusaha menyesuaikan dirinya dengan aturan Allah, Tuhan semesta alam.

maka habits yang dibentuk seorang muslim pastilah habits yang diperintahkan Allah dan tidak berhubungan dengan larangan-larangan yang diberikan kepadanya.

berbeda dengan seorang non-muslim, bisa jadi dia meyakini akhirat namun tidak meyakini bahwa seluruh perbuatannya harus disesuaikan dengan kehendak tuhannya. dan menganggap dunia adalah satu-satunya kesenangan, lalu membentuk segala macam habits yang dapat membuatnya nyaman di dunia.

jadi seharusnya ada perbedaan antara akitivitas seorang muslim dengan aktivitas non muslim. bila ternyata aktivitasnya sama saja, jangan-jangan cara berpikirnya juga sama, atau malah aqidahnya sama. nah!

habits yang dimaksud dalam cuplikan tersebut adalah sebuah tindakan, perilaku, kebiasaan, sikap, seseorang yang sudah terbentuk akibat proses yang terjadi selama bertahun-tahun, dan membentuk karakter orang tersebut. nah jadi, pilihan kita, mau memiliki habits seperti seharusnya habits seorang muslim, atau mau memiliki habits non muslim? the choice is yours, and your choice will lead you to only 2 option of future, SURGA atau NERAKA. 🙂

taukah kamu kenapa kita sering merasa bahwa ada seseorang diantara teman-teman kita yang lebih menonjol dari yang lain? entah itu karena kecerdasannya, karena ibadahnya, karena hafalan Al Qur’annya, karena kemampuan berbicaranya yang fasih dan luwes. menurut sebagian orang, atau mungkin menurut kita sendiri, orang-orang itu adalah orang yang dikaruniai kelebihan oleh Allah. dan kita sering melemparkan pendapat “mereka emang sudah dari sononya pinter!” atau yang kita lemparkan hanyalah sebuah wujud kekaguman seperti “waah, luar biasa bisa hafal Qur’an padahal masih muda. bisa rajin bangun tahajjud. saya ndak mungkin deh bisa gitu!” itu kan yang sering terjadi pada kita? padahal kita sama-sama manusia, sama-sama diberikan jumlah sel saraf yang sama dalam otak kita. harusnya kita bisa seperti mereka! harusnya kita bisa secerdas mereka, bisa menghafal Qur’an seperti mereka, bisa rajin bangun sholat tahajjud seperti mereka, bisa rajin sholat jama’ah di masjid seperti mereka, bisa rajin sholat dan puasa sunnah sperti mereka. lalu apa yang membuat kita tidak bisa? karena HABITS kita yang belum terbentuk. dan karena kita yang tidak mau membentuk habits itu dan membiasakan diri dengan habits yang kita miliki saat ini. padahal sebenarnya, tidak harus ada motivasi untuk menumbuhkan habits, bahkan meskipun awalnya dilakukan dengan paksaan pun, lama-lama kita bisa menumbuhkannya. nggak percaya? hehe…kalau begitu mari kita simak cuplikan lain dari buku ini…

cuplikan #2

sebagian ilmuwan dan peneliti berpendapat bahwa manusia memerlukan waktu 21 hari untuk melatih suatu habits yang baru, sebagian lagi berpendapat 28-30 hari, bahkan ada yang berpendapat 40 hari.

terlepas dari perdebatan itu, saya ingin mengambil satu contoh yang insya Allah sama-sama kita lakukan dan alami. kaum muslim berpuasa 29 hari atau maksimal 30 hari. sebetulnya puasa dalam pembentukan habits baru bagi kaum muslimin. terbiasa membaca Al Qur’an, sholat malam, sedekah, dan yang paling terlihat adalah perubahan pola makan.

sederhananya, untuk membentuk habits baru maka kita harus melakukan practice dan repetition selama 30 hari berturut-turut secara konsisten, tanpa ketinggalan satu hari pun. karena habits berarti pembiasaan dan pembiasaan memerlukan konsistensi.

see? habits itu bisa muncul kalau kita membiasakannya. seperti berpuasa. mungkin untuk kita yang imannya masih setengah-setengah, berpuasa itu dilakukan hanya untuk melakukan kewajiban saja, dan hanya diartikan sebagai menahan lapar dan haus saja. jadi mau tidak mau, meskipun terpaksa, dilakukan juga aktivitas untuk menahan lapar dan haus itu selama 30 hari. dan liatlah apa yang terjadi, meski dengan paksaan, meski tanpa motivasi, ujung-ujungnya perut kita pun bisa terbiasa kan untuk tahan tidak makan dari terbit fajar sampai terbenam matarahi?

apalagi kalau kita mengartikan bulan ramadhan itu lebih dari sekedar latihan menahan haus dan lapar. jika kita benar-benar menjadikan bulan ramadhan sebagai 30 hari waktu untuk membentuk habits baru seperti, bersabar, menghindari riya’ dan sombong, membaca buku-buku bermanfaat, sholat di awal waktu, sholat berjama’ah di masjid untuk yang ikhwan, sholat sunnah rawatib, sholat dhuha, sholat tahajjud, tilawah, menghafal Al Qur’an, berdzikir pagi sampai malam. bisa dibayangkan habits yang terbentuk setelah 30 hari jadi seperti apa? subhanallaaah, apalagi kalau kita mau melatihnya terus lebih dari 30 hari saja. insya Allah kita akan jadi manusia yang bahagia dunia akhirat kalau sampai bisa kesampean semuanya 🙂

cuplikan #3

banyak orang yang merasa sulit untuk berubah karena mereka kekurangan motivasi, tidak memiki daya tarik dan daya dorong yang cukup. itupun menjadi alasan yang jamak untuk berhenti dari pembiasaan 30 hari.

kabar baiknya adalah, untuk membentuk suatu habits, kita tidak perlu merasa ‘perlu berubah’ ataupun memiliki motivasi karena dalam banyak kasus habits bisa terbentuk walaupun seserorang tidak memiliki motivasi sama sekali.

habits bisa terbentuk baik ketika kita rela dengan repetisi aktivitas itu ataukah kita terpaksa melakukannya. rela ataupun terpaksa habits akan tetap terbentuk walaupun habits yang dibentuk atas dasar kerelaan tetap akan lebih berkualitas dibandingkan habits yang dibentuk karena paksaan.

namun itu bukan poin yang kita bahas. pembahasan kita adalah bagaimana membentuk habits. maka selama kita menyatukan ayah dan ibunya (practice dan repetition, latihan dan pengulangan) maka terpaksa atau sukarela habits akan segera lahir. sekali lagi, terpaksa atau sukarela.

tidak perlu mempertimbangkan logika atau pikiran dalam membentuk habits, karena manusia tidak selamanya logis.

saya ambil contoh, kita memahami bahwa membaca Al Qur’an adalah kebaikan yang diganjar dengan pahal yang berlipat-lipat oleh Allah, namun tetap saja kita menjadikannya pajangan. kita paham bahwa bermain game adalahh pekerjaan tidak bermanfaat, yang tidak akan memberikan kontribusi bagi kebangkita ummat, bahkan tidak bermanfaat bagi kehidupan pribadi, toh tetap saja kita tidak beranjak darinya. kita juga tahu keutamaan sholat tepat pada waktunya, namun berapa banyak diantara kita yang melangkahkan kaki untuk sholat tatkala waktunya tiba?

kita manusia tidak selama bertindak berdasarkan rasio akal, namun kebanyakan karena pengkondisian dan pembiasaan. habits.

pada kasus di atas, rasio kita dikalahkan oleh habits tidak membaca Al Qur’an, habits bermain game dan habits menunda sholat tepat waktu. betul atau benar?

pernah suatu hari saya ditanya “ustadz, bagaimana supaya kita rajin tahajjud?” jawab saya singkat “ya, tahajjud aja!” penanya bingung lalu bertanya kembali “justru itu yang saya tanyakan ustadz, bagaimana caranya?” dan saya jawab kembali “dan tetap itu jawaban saya!”

beberapa diantara kita menyangka bahwa tahajjud adalah masalah motivasi atau rasio, padahal lebih banyak kepada masalah habits. repetisi, sekali lagi kuncinya. nah, untuk mencapai repitis dalam 30 hari itu, terserah cara apa yang mau digunakan, asal sesuai syariat dan tidak membahayakan jiwa kita maupun orang lain.

sekali lagi, rela atau terpaksa, asalkan ada latihan dan pengulangan.

seringkali kita harus dipaksa melakukan aktivitas tertentu pada awalanya sebelum kita menikmatinya. oleh karenanya, kitapun harus mendesain kondisi agar kita harus dipaksa melakukan aktivitas yang ingin kita jadikan habits. apabaila terbentuk, kita akan menikmatinya.

dulu sebelum menjadi pengemban dakwah saya bisa menghabiskan 7 jam sehari untuk main game. saat memutuskan jadi pengemban dakwah, percayalah, sangat-sangat sulit sekali untuk saya meninggalkan habits itu. sekarang habits itu sudah di over-write dengan habits yang baru, membaca dan menulis.

cuplikan #4

bila sholat telah terbiasa, insya Allah akan ada ‘alarm’ otomatis yang akan mengingatkan

lalu bagaimana cara kita bisa memulai memunculkan habits itu? begini caranya…

cuplikan #5

Foto3566-horz

cuplikan #6

kita mengingat juga bahwa orang yang ‘tidak cerdas’ tidak akan mau menghabiskan uang membaca buku, karena makanan lebih baik bagi mereka, mereka anggap makanan lebih memberikan efek nyata. karena tidak membeli dan membaca buku, maka pengetahuannya pun sempit, dan menjadi makin tak cerdas. semakin ‘tidak cerdas’ seseorang, makin malas pula dia untuk membeli dan membaca buku. demikian seterusnya dan demikian pula sebaliknya.

cuplikan #7

terkadang walaupun kita pandai menyusun rencana, namun kita lebih pandai lagi untuk menundanya. inilah habits buruk sebagian besar orang. menunda. padahal yang penting dalam membentuk habits adalah action, amal nyata.

sulitnya seringkali kita justru tidak sadar, bahwa kita telah membentuk kebiasaan menunda-nunda amal. pernahkan anda mendengar orang lain berkata pada anda, “baiklah, saya akan berhenti menunda, mulai besok!”. atau justru anda mendengarnya dari diri anda sendiri?

cuplikan #8

kebanyakan dari kita memutuskan kita telah gagal tanpa sekalipun mencoba, sepertinya ketakutan telah membunuh rasa penasaran dan bahkan mematikan harapan. ketakutan-ketakutan tak beralasan yang seolah di back up dengan logika, benar-benar telah membuat kita merasa “lebih baik kalah daripada mengambil kemungkinan untuk menang”

begitulah kira-kira resensi seadanya dari saya. semoga bermanfaat ^_^

Jawaban cerdas dari Syaikh Ibnu Utsaimin, satu saat ada seorang pemuda yang bertanya pada Syaikh, “Saya sudah menikah, dan ingin menikah lagi yang kedua dengan niat menjaga kehormatan wanita.”
Syaikh menjawab, “Berikan saja hartamu kepada seorang pemuda yang membutuhkan, sehingga dia bisa menikahi wanita tersebut dan Anda pun mendapatkan 2 pahala (menjaga kehormatan wanita dan membantu orang menikah –pent).

sepenggal pesan ust. K.H. Muhammad Arifin Ilham

Ustadz bagaimana kita bersikap hidup ditengah hiruk pikuk ma’siyat & kezholiman seperti saat ini? Ya sahabat sholehku, tetaplah istiqomah dalam ketaqwaan kpd ALLAH, inilah era yg membuat kita harus semakin takut kpd ALLAH, ajaklah keluarga & sahabat yg bisa diajak u takut kpd ALLAH, perkuat sholat malam, krn “manhaatun anil itsmi” ALLAH jaga kemuliaan & keselamatan hambaNya yg menjaga sholat malam bahkan Allah cabut keinginan ma’siyat pada dirinya, selalu berjamaah di mesjid, pegang kuat Alqur’an & as Sunnah, rutinkan hadir di majlis ilmu, berkumpul & bersahabatlah dg hamba2 ALLAH yg takut pd ALLAH, perhebat istigfar & sedekah, ini dua cara terhebat menolak bala bencana & fitnah (QS al Anfal 33), tdk berbuat sia2 & jauhi lingkungan ma’siyat, jangan lepas dari selalu berwudhu, bacalah doa keselamatan disetiap selesai sholat, seperti, “Allahumma Antas Salaam…, Allahumma inna nas aluka salaamatan fiddiini” dst, sebelum tawakkal hanya ALLAH PENOLONG PELINDUNG, beri kesempatan diri ini u bermuhasabah dg tdk buru2 beranjak setiap selesai sholat, “dari mana aku, mau kemana aku, sungguh dunia ini bukan tempatku, sebentar lagi aku jadi bangkai!”. Maka energi taqwamu semakin dahsyat!. “Allahumma ya ALLAH penguasa hati & keadaan, tetapkanlah hati kami dalam keimanan & ketaatan kpdMU…aamiin”.

large (18)

sudah siap jadi orang tua???

begini beratnya jadi orang tua, padahal ini cuma dua anak. kalau jadi ibu yang nggak sabaran, pasti semuanya kacau balau. kalau jadi ayah yang egois dan nggak mau ngebantu istri untuk merawat anak, pasti hancur rumah tangga itu…

untuk yang sudah menikah, semoga siap menjalani semua tanggung jawab yang ada dan sanggup meluangkan waktu semaksimal mungkin untuk anak-anak. untuk yang belum menikah, hehe, kita siap-siap yuk, menikah nggak gampang, ngebesarin anak apalagi, kalau ngurus diri sendiri aja kita masih belum bisa, kalau hati kita masih diisi sama yang nggak karuan (apa itu? artinya caritau sendiri, tanya sama hati masing2, hehe) nggak akan bisa kita bangun keluarga yang indah, nggak akan bisa kita besarin anak-anak dengan baik…. 🙂

sumber: http://bobaepapa.blogspot.com/search?updated-max=2013-02-14T02:36:00%2B09:00&max-results=3

It’s been a month since Yeseo was born.
With Yerin and Yeseo in one month, my wife and I….

wake up early as soon as the sun rises and play with Yerin who excitedly run to us
feed her, wash her, have a little war trying to get her to dress for daycare.
feed Yeseo too, make sure she burps,
In the meanwhile, have Yerin use the restroom, wash her, then get her clothes all wet,
Yeseo isn’t able to burp enough and throws up while lying down

have another war trying to get Yerin dressed, bring her to daycare, I go to work
my wife does all the dishes, clean the house
feed Yeseo again, burp her, play with her, do the mountains of laundry
eat brunch herself, wash dishes, take out the laundry and lay them out to dry
feed Yeseo again, burp her, have her nap
and when she finall tries to rest, Yerin comes back from daycare…

When She plays with Yerin, Yeseo cries
When She takes care of Yeseo, Yerin comes and asks to play
when She tries to watch TV and rest a little…
one by one have to make sure the babies go to restroom and clean them
If she doesn’t pay attention, then the babies try to do dangerous things or put anything into their mouths
when this lasts for two to three hours, my wife is already delirious

When I finish work, I know the situation well
so without even grabbing a bite to eat, I run home
of course, there is no way I can go out to dinner with my colleagues, and much less eat out with them for BBQ

I come home, feed Yeseo too and change her diapers and clean her
The bath has to wait a bit because Yeseo poops a lot
Get the water warm for the bath… take care of her when she cries… put her to bed
And in that time, Yerin takes her chance and makes a mess with the water and the floor becomes flooded
I have to clean the floor and the laundry piles up in a mountain again

Have to make sure Yerin doesn’t get jealous, so have to read her books, play with her
When time comes, wash her… and when we try to have her sleep, she refuses
We get tired, so if we let her be, she runs around enough to make the people living downstairs get mad, so we have to chase after her
Even though the night is late, she says she’s hungry… so we give her a snack… and brush her teeth
then she again refuses to sleep, and wants to eat again
And finally we tell her she’ll get it tomorrow, and she falls asleep

For a second it seems quiet but Yeseo wakes up hungry and cries
Because of the cries, Yerin wakes up and cries too. When this situation is taken care of it’s already 2-3am.
Because I have to go to work in the morning, I don’t get to even turn on the TV and I fall asleep right away.
At night, my wife keeps to Yeseo’s eating schedule and feeds her every 3 hours
Then wakes up early in the morning to get breakfast ready…
And the moment she wakes up, Yerin is looking for the food we promised her last night…
And then the cycle repeats…

On Saturdays, Yerin doesn’t go to daycare so I have to play with her outside
And when we start to forget it happened, the babies take turns getting sick, so we take care of them all night
And the day after, we run to the hospital and pharmacy the moment the doors open

There is no way we can even imagine going outside with both babies
Traveling is difficult, much less watching a movie… and trying to have a dinner out is a luxury…
And it’s difficult to have some time for myself
I am not sure how long these days will continue, and it seems endless.
Even during the tough military service times, I had holidays….

Babies are my reality
Be kind and grateful to your parents…

 

318934_155375484544826_3768658_n

figur IBU yang semakin hilang di akhir zaman…

sumber: fanpage ust. felix siauw https://www.facebook.com/UstadzFelixSiauw

 

01. samar betul bagi kita masa depan yang dijelang anak-anak | apakah di masa depan ia masih taat Islam atau berontak

02. kita jalani Islam dengan penuh ketaatan | namun tiada jaminan pada keturunan

03. walau pada masa kecil anak kita dengan Islam sudah terbiasa | di masa depan akan banyak waktunya diajar teman bukan orangtua

04. mendidik anak di zaman ini benar mengkhawatirkan | disaat dosa dan maksiat menjadi bagian hidup dan kewajaran

05. maka kita takjub dengan ibu yang melalaikan saat anak bertumbuh | padahal itulah saatnya dia belajar agama pada ibunya secara penuh

06. uang takkan pernah ada cukupnya | masa perkembangan anak tiada gantinya

07. dengan beribu alasan peran ibu mulai hilang terganti | digantikan oleh pembantu yang dengan agama tidak mengerti?

08. sementara wanita berbangga dengan berapa banyak pnghasilan dirinya | mencoba mencari eksistensi diri dari uang yang tidak seberapa

09. “lalu bila tidak bekerja untuk apa tinggi bersekolah?” | inilah pemahaman salah kaprah pangkal dari generasi musibah

10. justru diperlukan ibu berpendidikan tinggi | untuk mendidik anak-anak agar ranggi

11. jangan berpikir seolah sayang bila pendidikan tinggi | hanya untuk mendidik anak dan rumah tangga ia dipakai

12. seolah-olah ibu rumah tangga pekerjaan tanpa perlu pengetahuan | padahal jadi ibu adalah pekerjaan sulit penuh tantangan

13. menjadi idola bagi anak-anak itu usaha luar biasa | tak banyak wanita yang sukses melakukannya

14. jangan heran bila satu saat anak melawan ibunya | wajar saja dia lebih sering bertemu teman dibanding orangtua

15. uang tidak bisa membeli ketaatan dan kepatuhan anak | atas waktu ibunya bukan kantor yang punya namun anak lebih berhak

16. tapi terkadang hidup memang menyudutkan wanita yang terpaksa bekerja | maka kita bertanya pada suaminya yang seharusnya dia

17. atau ada wanita hidup membesarkan anak sendiri | kita hanya berdoa Allah beri kekuatan kesabaran dan solusi

18. namun nasihat ini bagi wanita-wanita yang mungkin belum sadar | bahwa ada yang jauh lebih penting dari uang dan jabatan sekedar

19. karena karir terbaik wanita adalah menjadi ibu | maka pantaskan diri dengan iman dan ilmu

20. gagal pekerjaan bisa diulang kapan saja | gagal menjadi ibu hanya penyesalan tersisa

21. atau jangan-jangan emas perak sudah lebih menarik dari surga | hingga kita membandingkan antara harta dan pahala?

22. bila tidak tahu darimana memulai jadi ibu yang baik bagi anak | maka mulailah dengan memberikan waktu baginya yang paling banyak

23. karena taat itu asalnya dari cinta | cinta tumbuh dari waktu bersama-sama

24. lebih banyak berkisah padanya lebih banyak memeluknya | mudah-mudahan lebih taat pada Allah jadinya dia karena ibunya

25. semua sulit dan susah itu akan terganti sempurna | saat mereka berucap “karena Allah aku menyayangi bunda”

pilih berhijab sekarang, atau menyesal kemudian?

sumber: fanpage ust. felix siauw https://www.facebook.com/UstadzFelixSiauw

 

1. #YukBerhijab karena ia akan mengikat pahala yang terserak | dan menjadikannya utuh saat bertemu Allah kelak

2. jangan karena berbuka aurat kita merugi dua kali lipat | pertama di dunia yang dekat dan kedua di masa akhirat

3. jangan datang satu masa saat kita terbangun di hari kiamat | di kiri dan kanan kita amal menghilang lenyap karena maksiat

4. kita pikir sudah siapkan pahala shalat, umrah, haji, sedekah dan puasa | namun di waktu kita paling perlukan ia tiada bersisa

5. bertanyalah kita kemanakah pahala pergi menghilang? | tak sadar aurat yang belum dihijab menjadi dalang

6. shalat punya pahala dimakan tampaknya paha, sedekah habis dibakar leher terbuka | tidak tinggal amal shaum kecuali lapar dahaga

7. adalah lekukan tubuh buat ganjaran Allah atas ibadahmu jadi tak utuh | sementara mengalirnya peluh dihapus ketatnya penutup tubuh

8. berhijab bukan menjamin pahalamu sempurna, namun mengusahakan ia tetap ada | bila yang dijaga bisa tiada, apalagi yang dibiar saja

9. kesiapan akan datang saat telah berhijab, bukan sebaliknya | karena Allah berikan taufik setelah kita beramal, bukan sebaliknya

10. sebagaimana persiapan maut yang tak akan pernah selesai | begitu pula penantian kesiapan berhijab tiada akan usai

11. siap tidak siap sebagian kita dilahirkan Muslim | tiada lantas kita katakan “belum siap” menjadi Muslim?

12. kalaulah kematian menanyakan kesiapan sebagai syarat ajal | tentu ada alasan menunda berhijab karena “kesiapan” jadi pasal

13. #YukBerhijab dan minta kepada Allah istiqamahkan hati | menunda hijab dengan alasan akhlak justru tunjukkan keburukan diri

14. karena hijab adalah jalan untuk persiapan | karena berhijab adalah bagian dari perbaikan

15. tiada salah Muslimah yang dalam taat dia belajar | berhijab menjadikan dirinya dan penghuni surga menjadi sejajar

16. #YukBerhijab dia membuatmu dicintai Allah dan Rasul | bahkan mengajarimu konkrit mencintai Allah dan Rasul

17. #YukBerhijab agar aman dan terjaga | indah di dunia dan anggun di surga

18. #YukBerhijab dan tolonglah dirimu sendiri | bukan lahir yang nyata namun batin yang abadi

adakah hadirmu di hari-hari senja ibumu?

suatu waktu, pasti akan muncul sebuah pertanyaan dalam kehidupan kita.

Mana lebih baik bagi seorang anak perempuan, untuk ikut tinggal bersama sang suami, atau tinggal menemani orang tua dihari-hari senja mereka??

setelah melihat mbah dengan kondisinya yg semakin lemah dimakan usia dan selalu membutuhkan keberadaan umi untuk merawatnya setiap hari…

saya jadi mengambil kesimpulan, apalah arti kita hidup jika membiarkan ibu kita tertatih sendiri di hari tuanya kelak…

apalah arti kita bahagia ditempat yg jauh bersama suami di saat untuk mengupas buah seperti dulu saja ibu kita tak mampu lagi melakukannya dengan mudah…

ada seorang teman yg berkata “Harusnya menantu perempuan dari anak laki-laki nanti yang rawat ibu”, ingatlah, menantu itu bukan anak kandung ibu kita, pasti ibu akan tetap merasa sungkan untuk dirawat oleh menantunya, dan si menantu pun belum tentu mau sepenuh hati merawat ibu kita sebagaimana ia merawat ibu kandungnya sendiri, zaman sekarang susah menemukan menantu perempuan yang tulus lho, yang ada malah si menantu sering merasa direpotkan oleh keberadaan mertuanya, beneran deh

ada juga yg berkata “Nanti anak laki-laki yang tanggung jawab ke ibu”, lalu bagaimana jika kau hanya anak semata wayang dan kau adalah wanita?

jikalau pun kau punya saudara laki-laki, bisakah ia merawat ibunya setelaten anak wanita? bisakah ibumu nyaman dimandikan anak laki-lakinya? bisakah anak laki-lakinya membantu menceboki ibunya saat sang ibu sudah tak mampu lagi melakukan aktivitas itu dengan tenaganya yang sudah melemah?

ini hanyalah sebuah ksimpulan yang saya ambil dari apa yang saya lihat sendiri, semoga bisa jadi bahan pembelajaran untuk kita smua

ingatlah, surga itu ada di telapak kaki ibu. ingatlah bagimana ibumu dengan tulus ikhlas merawatmu, dari kecil sampai kau akhirnya bisa sedewasa sekarang, dan akhirnya bisa jatuh cinta dan memutuskan untuk membangun sebuah keluarga seperti sekarang. di dalam hatinya, mungkin ia malu untuk memintamu tinggal dan menemaninya, tapi sejujurnya dia pasti sangat ingin kau ada di sana, di dekatnya, merawatnya, membuatnya tertawa setiap hari, menyuapinya, ah, bahagia pasti rasanya jika anak kita memperlakukan kita dengan seperti itu…

tidak adalah salahnya kan meminta pada suami? suami yang baik insya Allah mengerti, suami yang baik tidak akan marah ketika kita mengatakan ingin merawat orang tua kita. maka dari itu, pilihlah suami yang baik dan mau mengerti kita… ^_^