filosofi kisah Lukman dan keterkaitannya dengan arus protes terhadap profesi dokter

*tulisan ini rada telah di post di wordpress, sebenarnya sudah di posting duluan lewat FB tanggal 3o november, tapi ndak apa lah, daripada ndak sama sekali😀

Pernah dengar kan cerita tentang Lukman yg berjalan dgn anaknya sambil membawa keledai?

Mungkin cerita ini cocok dengan keadaan para dokter saat ini 

saat Lukman menyuruh anaknya menaiki keledai karena tak ingin anaknya lelah berjalan, ada orang yg berkata ”anak kurang ajar, dia biarkan ayahnya berjalan sedangkan dia enak2 naik keledai”

kemudian mereka bertukar posisi. Kini lukman yg menaiki keledai dan anaknya yg berjalan, lalu ada orang yg berkata ”ayah tak punya perasaan, dia biarkan anaknya yg lemah utk berjalan sedangkan dia yg kuat malah naik keledai”

selanjutnya mereka memutuskan utk menunggangi keledai tersebut bersama-sama, dan orang yg melihat mereka berkata ”orang2 tak punya perasaan, mereka berdua menunggangi keledai yang lemah itu”

lalu terakhir mereka kembali berjalan bersama dan membiarkan keledainya tak ditunggangi, lantas ada lagi orang yang berkata ”bodoh! Bawa keledai tapi tak ditunggangi”

kemudian si anak bertanya pada lukman, ”ayah, mengapa semua orang memprotes semua hal yang kita lakukan?”

lukman pun menjawab ”anakku, itulah tujuan ayah mengajakmu jalan-jalan. Ketika kamu berbuat sesuat yg menurutmu benar, orang2 akan tetap berkata-kata tentang dirimu. Apalagi kalau kau melakukan kesalahan. Pelajaran yg ingin ayah sampaikan adalah: laa yumkinu irdhaa’u kullinnaas. Mustahil membuat semua orang sepakat dengan apa yang kamu lakukan”. Jadi mau kita bicara pakai teori jenis apapun juga, tetap saja tak bisa elakkan bahwa tetap akan ada orang-orang yang tak setuju dengan pendapat atau sikap kita. Yang bisa kita lakukan hanya berusaha untuk sabar dan ikhlas, tapi justru itu lah yang paling sulit ya?🙂

semoga bisa kita petik pelajaran dari semua kejadian yang menimpa kita saat ini. Pasti Allah punya rahasia dibalik kejadian ini, pasti ada hikmah yang harus kita cari tahu. malah mungkin kata-kata pedas dan kalimat cacian yg mereka tujukan pada kita ternyata adalah ‘bahan renungan’ yang dikirimkan Allah pada kita semua. Atau Allah ingin menguji keikhlasan dan kesabaran kita, dalam menjalani profesi mulia ini. Wallahu a’lamubissawab. Semoga kita termasuk orang2 yang sabar, ikhlas, dan bisa mengambil hikmah dari setiap kejadian. 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s