Partai Islam berkoalisi dengan Partai Sekuler? Ya Rabbiii….apa lagi ini? T__T

kita mungkin sudah tahu mengenai pemberitaan yang ramai dibicarakan di media saat ini, tentang bagaimana partai-partai islam (baca: yang tidak menang pemilu) mulai mendekati dan menggoda partai-partai nasionalis dan sekuler untuk diajak berkoalisi. “speechless” cuma itu respon yang bisa saya berikan ketika menonton ini. Saya ingat betul bagaimana teman saya yang berasal dari salah satu partai islam itu marah-marah pada saya karena tahu saya golput dan tidak memilih partai islamnya dan menyebabkan orang kafir (yang dia anggap orang kafir itu partai PDI, ini dia yang ngomong ya bukan saya =P ) malah memenangkan pemilu. Sekarang? Malah saya dengar ada partai islam yang ingin berkoalisi dengan si partai pemenang pemilu itu. Malah partai yang teman saya bangga-bangga kan itu akan berkoalisi dengan partai juara ke 2 dalam pemilu kemarin. Saya ingat betul bagaiman MUI sampai mengeluarkan fatwa haram golput! Sampai ada yang bilang “kalau golput nanti orang kafir dan sekuler yang menang!” Nyatanya? Ya Allah….nggak tahu lagi harus bilang apa. lindungilah kami semua. T_T

Hanya sebagai tambahan saja ya, saya berikan kutipan status Bang Tere Liye ke dalam tulisan ini. Saya sertakan juga link page nya. Jangan lupa baca komentar follower di status tersebut dan lihatlah bagaimana respon masyarakat mengenai ‘tema’ ini…

*Entah apa yang ada di kepala mereka

Ada 4 partai Islam, digabungkan ke-4 suara mereka, maka total jenderal 30% di tangan. Lantas, dengan angka sebesar itu, kenapa mereka tidak percaya diri mencalonkan dari kelompoknya sendiri? Kenapa elit politik partai Islam susah sekali untuk bicara satu sama lain, menyatukan kekuatan? Ada apa dengan mereka ini? Takut kalah? Takut salah perhitungan? Ada apa sih?

Sungguh, kami memberikan satu suara kepada kalian, bukan sekadar bersemangat menyelamatkan parpol Islam yang konon kata survei bisa tamat tahun 2014, kami menitipkan satu suara kepada kalian, agar kalian mengaum bagai harimau di tengah gelanggang politik, bukan sebaliknya meng-embekkk semua ikut gerbong lebih besar.

Buat apa kalian mengirimkan begitu banyak selebaran tentang jangan pilih ini, itu, “haram” hukumnya, tapi sekarang, setelah pileg selesai, kalian malah genit sekali bergabung dengan yang kalian “haramkan” sendiri?

Bersatulah. Apa susahnya sih? Mumpung masih ada waktu. Sungguh jangan khianati suara2 yang menginginkan kalian berdiri dengan kepala tegak. 30% itu modal bagus sekali, bukan hanya bisa menggagalkan capres partai lain, bahkan bisa membuat partai lain yang justeru memohon bergabung, ikut peraturan, ikut gerbong. Kalaupun akhirnya kalah, oh dear, itu lebih terhormat. Kalah setelah menyatukan semua kekuatan. Politik itu bicara tentang kehormatan, bukan kesempatan.

Bersatulah. Selagi masih ada waktu. Atau besok lusa, kalian akan semakin kehilangan jati diri. Semakin tidak nyambung antara ucapan dan kelakuan. Semakin tidak mengerti keinginan mendasar orang2 yang memberikan suara.

Bersatulah. Skip semua perbedaan demi sesuatu yang lebih penting

Lambat laun, masyarakat akan semakin sadar. lambat laun, mereka akan semakin mengerti.

Kenyataan yang sekarang tergambar jelas dalam pemberitaan di televisi sudah bisa membuat masyarakat kembali berpikir “Benarkah mereka bisa memperjuangkan islam? Lantas jika memang benar cita-citanya begitu, kenapa bukannya bersatu tapi malah mengekor pada partai yang mengusung sekulerisme?” 


hhh….sesak rasanya jika menyalakan TV dan menyaksikan semua ini. padahal begitu banyak umat islam yang menumpukan harapan pada mereka. tapi mereka malah bersikap begini. Dan nanti orang-orang yang masih pro terhadap mereka pasti akan mengatakan “Mereka pasti punya alasan sendiri. Yang penting niatnya kan tetap ingin memenangkan islam!” ya sudahlah, bicara saja lah sesuka kalian. kami, rakyat negeri ini, sudah terlalu lelah dengan semua alasan-alasan klasik itu. 

Biarlah masyarakat yang menilai sendiri. kadang diam lebih baik ketimbang harus berbicara banyak tapi tak didengar. Hanya satu pesan terakhir kami, kembalilah pada islam. jika tak percaya pada kelompok tertentu (baca: Hizbut Tahrir) yang mengatakan diri ingin memperjuangkan islam karena menganggap organisasi atau kelompok ini hanya bisa omong doang, maka buatlah pergerakan sendiri di luar sana, buatlah pergerakan yang bisa menyadarkan masyarakat bahwa kembali pada islam lah jalan keluar yang terbaik. bukankah itu cita-cita kita bersama? bukankah itu yang kita harapakan?

ini bukan lagi masalah siapa yang salah dan siapa yang benar. ini masalah siapa yang berani dan mau sungguh-sungguh memperjuangkan bangkitnya agama ini. janganlah rusak ukhuwah dengan fitnah-fitnah tak berdasar. bukalah mata lebar-lebar. cermati semua fakta yang terjadi. dan mintalah petunjuk pada Allah lantas usahakanlah apa yang menjadi cita-cita kita bersama ini tanpa harus menunggu siapa-siapa lagi, tanpa harus menggantungkan harapan pada orang-orang yang membudak pada kekuasaan dan lupa akan niat awalnya.

sungguh, Allah akan menilai seberapa jauh usaha kita. maka jangan sia-sia kan waktu walau hanya sedetik. islam menantimu kawan, Allah menyaksikanmu… T_T

berbagi cerita: lift your head, be brave, and say Allahu Akbar! Allah is bigger than any of that obstacle! ^_^

Malam ini saya ingin sedikit sharing kepada para pembaca sekalian mengenai kehidupan saya. Hihihi, kesannya gimana gitu ya. Curhat? Mungkin bisa dibilang begitu. Atau mungkin lebih tepatnya ingin menulis kan apa yang rasanya mengganjal di hati.

Seseorang pernah mengatakan pada saya “berpikir dulu sebelum bertindak”. Wah, dapat kata-kata seperti ini rasanya bagaikan dilempar panah dari segala sisi. Rasanya seperti saya sudah di cap orang yang asal-asalan. Asal ngomong, asal nulis, asal bertindak seenak udelnya. Ahh….benar-benar menyakitkan rasanya dikatakan begitu. Sepertinya yang bilang begitu benar-benar tidak mengerti saya itu seperti apa. Padahal andaikan si oknum itu tahu bagaimana sebelum melakukan sesuatu, saya sampai harus berpikir berkali-kali, bertanya pada diri sendiri “benar kah ini?” atau “bagaimana respon orang-orang nantinya?” dan berbagai pertanyaan lain yang kadang-kadang berujung pada rasa tak percaya diri, rasa minder, rasa rendah diri, rasa tak pantas melakukan apapun. Ya, begitulah saya. Saya tipe pemikir, suka terlalu banyak berpikir sampai kadang pikiran-pikiran itu menyakiti diri saya sendiri. Suka berspekulasi sendiri tentang sikap orang lain terhadap saya sampai kadang terjebak pada kesimpulan-kesimpulan yang salah. Terlalu melankolis. Terlalu penyendiri. Tapi herannya masih saja ada yang mengatakan saya tidak pakai pikiran sebelum bertindak. Haduh, rendah sekali rasanya diri ini dikatakan begitu. Harus berpikir sekeras apa lagi ya saya supaya bisa dianggap benar-benar ‘berpikir’? T_T

Salah satu contoh tindakan yang saya ambil dengan pemikiran yang rumit adalah keputusan saya untuk mengenakan hijab syar’i. Sebelum mengambil keputusan itu, saya tahu betul bahwa langkah ini bukan hanya langkah untuk memperbaiki penampilan saja. Tapi langkah untuk menunjukkan pada Allah bahwa, “Ya Allah, aku ingin belajar untuk taat!” maka dari itu, bukan hanya perubahan pada sisi penampilan luar yang harus saya perbaiki, tapi keseluruhannya, seluruh aspek hidup saya harus saya coba tata untuk semaksimal mungkin mendekati standar yang sudah ditentukan Allah. Hal pertama yang waktu itu sangat berat untuk dilakukan adalah memutuskan hubungan dengan laki-laki yang sudah 4 tahun bersama dengan saya. Sulit sekali rasanya waktu itu. Di saat sudah menjalani keputusan itu beberapa lama, keyakinan saya malah mulai goyah dan kembali bertanya pada diri sendiri, “Benarkah keputusan saya ini?” tapi alhamdulillah, ada begitu banyak bantuan dari Allah yang datang setelah keputusan besar itu saya ambil. Ada begitu banyak hal yang Allah tunjukkan sehingga saya benar-benar mantap mengambil jalan itu, tanpa melihat ke belakang lagi. And let’s say “I’m Single, and i’m happy for it” and “SAY NO TO PACARAN!” YAK! Itulah kesimpulan akhirnya 😀

Contoh lain adalah ketika saya memutuskan untuk mulai mengaji di hizbut tahrir. Wuih, ada banyak sekali stigma negatif yang saya dengar tentang organisasi ini sebelum masuk ke sana. Tapi semua itu saya cari tahu lagi kebenarannya, saya tabayyun lagi kepada pihak hizbut tahrirnya, dan alhamdulillah, bukannya keraguan yang saya dapatkan, tapi malah keyakinan. Ya, saya jadi semakin yakin untuk belajar di sana dan ikut memperjuangkan tegaknya khilafah. Setelah mengambil jalan ini pun, bukan tak ada rintangan. Orang-orang lain di sekitar saya mulai berpikiran negatif tentang saya. Saya suka menulis, suka sekali. Dan saya merasa lebih percaya diri menyampaikan segala hal dalam bentuk tulisan, ketimbang harus bicara langsung. Saya kurang percaya diri dengan kemampuan bicara saya. Saya sering kaku dan terbata-bata jika bicara mengenai tema-tema yang agak serius. Jadilah saya lebih memilih jalur dakwah lewat sosmed dan blog. Banyak lah tulisan-tulisan yang saya hasilkan mengenai penegakan khilafah. Lantas apa respon yang saya dapatkan? Luar biasa! penolakan itu datang bahkan dari kalangan rekan-rekan yang saya kenal cukup dekat. Yang paling membuat saya tak habis pikir, ada satu orang teman yang menyalahkan HT, golputnya HT dianggap sebagai penyebab menangnya partai banteng merah di pemilu 2014 kemarin. Hadeh…kenapa harus tidak arif begitu cara mereka berpikir. Jika memang partai islam yang mereka banggakan tidak diminati oleh masyarakat, mengapa tidak tanyakan pada diri sendiri “kenapa bisa begitu? Kenapa masyarakat tidak memilih saya dan malah memilih partai sekuler?” ini malah HT yang dijadikan kambing hitam. Ada pula beberapa orang yang membuat status di facebook yang saya tahu betul itu ditujukan untuk kami—orang-orang yang menyuarakan penegakan khilafah—tanpa harus berpikir panjang pun saya tahu status tersebut diperuntukkan bagi siapa. Saya tidak lantas mendebat orang itu, saya pendam saja rasa hati saya yang tercabik-cabik karena kata-kata pedas mereka. Toh Allah lebih menyukai orang yang menghindari perdebatan. Saya hanya bisa menyemangati diri dengan berpikir “mugkin mereka begitu karena belum paham apa yang saya bawa, mungkin harus dipahamkan dengan cara yang lebih ma’ruf lagi” ya, hanya dengan cara itu saya dan rekan-rekan sesama HT bisa saling menyemangati. Jika kami goyah, jika kami menyerah, lantas apa jadinya dakwah kami? Saya hanya bisa minta tolong kepada Allah, semoga apa yang kami sampaikan bisa masuk ke hati-hati mereka. Apa yang kami bawa ini memang terkesan ‘beda’ bahkan ada yang mengatakan ‘gila’. Tapi mengapa mereka tidak mau diajak bicara baik-baik, diskusi baik-baik, tanpa ada cercaan, tanpa ada tudingan, tanpa ada embel-embel negatif lainnya? Cobalah bersikap dewasa, jika ingin berdiskusi tolong gunakan bahasa yang arif dan gunakan dalil-dalil yang memang bisa menunjang pendapat masing-masing. Bukannya malah memilih debat kusir tanpa dasar, debat tak berkesudahan dengan menggunakan ego dan emosi semata. Jika mau mencari ilmu, ada baiknya kita turunkan dulu ego kita. Jika ego masih di ubun-ubun, ilmu apapun juga akan mental. Apa sulitnya untuk mentabayyun? Untuk bertanya terlebih dahulu, mencari tahu dahulu, baru kemudian menyimpulkan? Kalaupun mereka punya dalil yang kuat, mari sama-sama kita rembukkan, agar kita bisa sama-sama tahu mana yang benar dan mana yang salah. Toh semua anggota yang kemudian bergabung di HT juga pernah menjadi orang yang nihil informasi tentang organisasi ini, tapi lantas kenapa kami bisa luluh dan ikut bergabung dengan pergerakannya? Saya rasa bisa disimpulkan sendiri.

Kami juga tidak mengatakan diri kami hebat dan tahu segalanya. Oh, sungguh tidak. Kami hanyalah para manusia bergelimang dosa yang ingin mencari ridho Allah dengan jalan mendakwahkan agamanya, mendakwahkan ajaran Rasulullah. Itu saja, tidak lebih. Niat kami hanya ingin saling mengingatkan, ingin mengajak masyarakat untuk kembali pada ajaran Rasulullah dan tidak terpengaruh oleh hasutan demokrasi yang menggerogoti seluruh kehidupan mereka. Hanya itu. Dan buktinya sekarang sudah banyak masyarakat yang mau percaya pada kami, dan tidak ragu menyatakan ingin ikut berjuang menegakkan khilafah. Lantas apakah HT yang paling baik? Tentu tidak, jika di luar sana, ada orang yang tidak mau bergabung dengan organisasi ini, tapi punya pandangan, punya visi dan misi yang sama dengan HT, dan tidak mau tunduk pada sistem kufur yang sekarang diterapkan, kami sangat menghargai itu, kami sangat berterimakasih karena mereka mau ikut memperjuangkan Islam. Karena bukan kemenangan HT yang kami harapakan, tapi kemenangan islam. Kemenangan dengan jalan yang di ridhoi ALLAH. HT ibaratnya hanya sebuah mobil yang digunakan untuk membawa penumpang menuju sebuah gunung. Jika ada yang mau menuju ke gunung tersebut dengan menggunakan alat kendaraan lain pun boleh, asalkan sifat ‘kendaraan’ yang dipakai itu tidak keluar dari Al Qur’an dan As Sunnah, asalkan kendaraan itu punya hujah, asalkan kendaraan itu tidak kufur terhadap hukum dan syariat Allah !

Saya sedih sekali melihat bagaimana dakwah yang kami lontarkan untuk membuka mata masyarakat mengenai keburukan sistem demokrasi malah dianggap sebagai upaya menjelek-jelekkan orang lain. Padahal bukan orangnya yang kami kritisi, tapi kebijakannya dan sistem yang digunakannya, kebijakan dan sistem yang tidak dilandaskan pada hukum-hukum Allah. Kami selalu dianggap “Cuma bisa omong doang” atau “mimpi di siang bolong” atau “orang gila” atau “sok tahu segalanya” atau “sok alim” atau “radikalis, ekstrimis” atau apalah sebutan lainnya. Tapi semakin banyak cercaan itu datang, entah kenapa malah membuat kami jadi semakin kuat, semakin ingin mencari tahu lagi. Semua sanggahan-sanggahan yang dilontarkan pihak yang membenci kami, kami pelajari lagi, kami perdalam lagi, hingga akhirnya kami menemukan jawaban yang benar. Kami seharusnya berterima kasih kepada para pembenci itu. Mereka membuat kami semakin tak mau dengan mudah digoyahkan oleh penilaian mereka. Itulah contoh lain tindakan yang saya ambil dengan banyak pemikiran. Perang batin terjadi dimana-mana. Otak saya sampai puyeng rasanya memikirkan semuanya. Jika masih saja ada yang mengatakan saya tidak berpikir sebelum bertindak, Yah, apa boleh dikata. Yang penting sudah berusaha melakukan yang terbaik. Saya kembalikan semuanya pada Allah. Semoga semua yang kita lakukan bisa diridhoi Allah. Cukup itu saja, cukup ridho Allah saja. Selama apa yang disampaikan memiliki hujah, maka jangan pernah gentar. Jika terlalu menyesakkan membaca komentar-komentar negatif mereka, unfriend saja, atau di block, atau di unfollow. Hari gini, dia bisa ngomong seenaknya, kita juga bisa unfriend/unfollow seenaknya kan. Tidak ada yang salah jika itu bermaksud untuk menjaga hati (tanpa ada maksud untuk memutus silaturrahim—toh biasanya orang-orang seperti itu juga berteman lewat facebook atau sosmed lainnya pun tidak lantas mengajak kita untuk bersilaturrahim, malah seperti orang yang tak saling kenal, hiihihi, santai saja lah…) Daripada jadi penyakit hati. Hehehe..

hal yang sama juga dialami oleh semua anggota atau darisah HT lainnya. banyak mendapat penolakan, banyak di boikot di berbagai negara. tapi tidakkah pernah terlintas dalam benak kita semua, kenapa HT sampai di boikot oleh negara-negara barat sana? negara-negara pengusung sekulerisme itu? bukankah itu artinya mereka takut dengan apa yang dibawa oleh HT? bukankah itu berarti ada sesuatu dari HT yang tidak diinginkan oleh mereka untuk berkembang di negara kekuasaanya? hmmmmm…..

Jika para pembaca ada yang memiliki cerita sama seperti saya. Hehe, ayo senyum. Jangan manyun karena tanggapan negatif orang-orang. Ingat, Rasulullah juga mengalami hal yang sama. Siksaan fisik dan batin yang diberikan oleh musuh-musuh beliau malah lebih keras lagi dibandingkan apa yang kita alami sekarang, tapi itu tidak lantas membuat beliau takut dan menyerah bukan? Janji Allah dan Rasul Nya itu pasti kok. Khilafah Rasyidah yang mengikuti manhaj kenabian itu pasti akan bangkit, cepat atau lambat. Ingat saja itu… ^_^

Perjuangan Rasulullah sebelum terbentuknya daulah islam di Jazirah Arab

Copas Dari Saudara M Falah Rumaria.

Kalau berdakwah hanya sebatas persoalan akhlaq dan ibadah mahdhah (ritual), spt menjaga shalat, rajin puasa, mensucikan hati, menebar salam, menjauhi riya’, murah senyum, dsb, tentu sedikit–jika tdk bisa dikatakan tdk ada–yg akan menentang dakwah tsb.

Cobalah tengok pada pribadi rasulullah saw, beliau itu kurang apa?

Beliau berasal dari keluarga terpandang (klan beliau Bani Hasyim adl klan yg dipercayakan utk memegang kunci ka’bah), akhlak beliau nomor satu, tutur katanya sempurna, sopan santun pasti, orang2 tidak ada yg menyangsikan kejujuran dan keamanahan beliau sampai2 beliau diberi gelar al-amin (yg dpt dipercaya).

Tetapi pertanyaannya, mengapa muhammad yg dikenal masyarakat mekah pada saat itu sbg orang yg paling baik, org yg paling sempurna, namun ketika beliau menyampaikan Islam, kok malah ditentang habis-habisan?

Hal ini tentu karena dakwah yg disampaikan muhammad itu bukan semata persoalan akhlak & ritual. Artinya jikalau hanya persoalan akhlak & ritual yg disampaikan beliau, siapa masyarakat yg mau menentang? Sementara muhammad itu orang yg baik, tutur katanya sempurna, orang yg paling halus budi pekertinya dan paling disegani?

 

Kalau demikian, lalu apa yg menyebabkan beliau mendapatkan penentangan seperti itu?

 

Jawabannya adl karena dakwah yg disampaikan muhammad adl dakwah yg ‘menabrak kekuasaan’, ‘menabrak kedaulatan’, ‘menabrak tatanan hidup’, ‘menabrak pola pikir’. Dakwah semacam inilah yg mengakibatkan para petinggi Quraisy yg bahkan paman2 beliau sendiri melancarkan segenap tipu daya dan makar serta memobilisasi masyarakat utk menghentikan dakwah beliau, bahkan sampai ingin membunuh beliau.

 

Mengapa bisa begitu?

 

Ya, karena mereka tahu, bahwa jika mereka bersyahadat (menerima apa yg disampaikan Muhammad dan mengakui Muhammad sbg rasul), di sisi lain mereka juga harus menyerahkan sepenuhnya kekuasaan mereka kepada Muhammad, menyerahkan sepenuhnya kedaulatan mereka kepada Allah Sang pembuat hukum, serta tatanan hidup mereka dan pola pikir mereka disandarkan hanya pada Islam. Yakni tatanan hidup diatur berdasarkan wahyu (Al-Qur’an dan As-Sunnah), dan pola pikir Islam dijadikan asas dlm menilai segala sesuatu (halal/haram sbg tolok ukur). Ini konsekuensi yg sangat berat guys 

 

Allah berfirman :

“Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakikatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu (Muhammad) sebagai hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian MEREKA TIDAK MERASA DALAM HATI MEREKA SESUATU KEBERATAN TERHADAP PUTUSAN YANG KAMU BERIKAN, DAN MEREKA MENERIMA SEPENUHNYA.” (QS. An-Nisa: 65)

Jadi, seharusnya para ulama menyampaikan Islam sbg sebuah diin yg utuh, yg dapat memecahkan segala urusan kehidupan secara menyeluruh sesuai dengan fitrah manusia.

Ketika kemiskinan merajalela, para ulama’ seharusnya tidak hanya mengajarkan utk semata bersabar dan memperbanyak shadaqah saja, tapi juga harus dijelaskan akar persoalannya yaitu diterapkannya sistem ekonomi sekuler-kapitalistik yg menyerahkan keadilan ekonomi kepada pasar bebas. Kemudian memberikan solusinya yaitu pergantian sistem ekonomi kapitalisme dengan sistem ekonomi Islam.

Ketika zina sudah semakin biasa, seharusnya para ulama’ tidak hanya mengajarkan utk berpuasa dan menahan diri dari hawa nafsu , tapi juga harus dijelaskan akar persoalannya mulai dari tatanan kehidupan yg semakin bebas, tidak adanya peraturan yg mewajibkan wanita utk menutup aurat dlm kehidupan umum, dimana-mana terjadi eksploitasi besar2an atas tubuh wanita (tempat kerja, film, produk2 bisnis), beredarnya video porno, sanksi yg tidak memberikan efek jera bagi pelaku zina, dll.

Oleh karena itu umat membutuhkan ulama’ yg dengan gagah berani menyampaikan al-haq, yakni Islam, dengan sempurna, sehingga ulama’ akan mendorong kebangkitan berpikir umat dan menggerakkan umat menuju ke arah perubahan yg hakiki, yaitu diterapkannya solusi atas akar2 permasalahan tadi, mulai dari sistem ekonomi islam, sistem sosial kemasyarakatan Islam, sistem pendidikan Islam, sistem persanksian Islam, dsb, yg sistem2 ini tidak akan bisa terlaksana tanpa diterapkannya sistem pemerintahan warisan Rasulullah, yakni al-Khilafah ar-Rasyidah ‘ala manhaj an-Nubuwwah, bukan sistem pemerintahan sekuler-demokrasi.

 

Wallahu a’lam bish shawab.

Dalil-dalil mengenai wajibnya menggunakan Hijab Syar’i

10151409_552913894822075_6727944814844364910_n

Syariah telah mewajibkan pakaian tertentu kepada perempuan ketika keluar dari rumahnya dan beraktivitas dalam kehidupan umum. Pakaian perempuan yang disyariatkan terdiri dari dua potong. Potongan pertama adalah bagian baju yang diulurkan dari atas sampai ke bawah menutupi kedua kaki. Bagian kedua adalah kerudung, atau yang menyerupai atau menduduki posisinya berupa pakaian yang menutupi seluruh kepala, leher dan bukaan pakaian di dada. Jika ia memiliki kedua pakaian ini, ia boleh keluar dari rumahnya ke pasar atau berjalan di jalan umum, yakni keluar ke kehidupan umum. Sebaliknya, jika ia tidak memiliki kedua pakaian ini, ia tidak sah untuk keluar, apapun keadaannya. Sebab, perintah dengan kedua pakaian ini datang bersifat umum dan ia tetap berlaku umum dalam semua kondisi; tidak ada dalil yang mengkhususkannya sama sekali.

Dalil atas kewajiban ini adalah firman Allah SWT tentang pakaian bagian atas:

وَلا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلا مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَى جُيُوبِهِنَّ

Janganlah mereka menampakkan perhiasan-nya, kecuali yang (biasa) tampak pada dirinya. Hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya (QS an-Nur [24]: 31).

Juga firman Allah SWT tentang pakaian bagian bawah:

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لأزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلابِيبِهِنَّ

Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang Mukmin, “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.” (QS al-Ahzab [33]: 59)

Dalil lain adalah hadis penuturan Ummu ‘Athiyah yang berkata:

أَمَرَنَا رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ نُخْرِجَهُنَّ فِيْ الْفِطْرِ وَالْأَضْحَى، اَلْعَوَاتِقَ وَالْحُيَّضَ وَذَوَاتِ الْخُدُوْرِ، فَأَمَا الْحَيّضُ فَيَعْتَزلْنَ الصَّلاَةَ وَيَشْهَدْنَ الْخَيْرَ، وَدَعْوَةَ الْمُسْلِمِيْنَ. قُلْتُ يَا رَسُوْلَ اللهِ إِحْدَانَا لاَ يَكُوْنُ لَهَا جِلْبَابٌ، قَالَ: لِتُلْبِسْهَا أُخْتُهَا مِنْ جِلْبَابِهَا

Rasulullah saw. memerintahkan kami untuk mengeluarkan para perempuan pada Hari Idul Fitri dan Idul Adha; para perempuan yang punya halangan, perempuan yang sedang haid dan gadis-gadis yang dipingit. Adapun perempuan yang sedang haid, mereka memisahkan diri dari shalat dan menyaksikan kebaikan dan seruan kepada kaum Muslim. Aku berkata, “Ya Rasulullah, salah seorang dari kami tidak memiliki jilbab.” Rasul saw menjawab, “Hendaknya saudaranya memin-jami dia jilbab.” (HR Muslim)

Dalil-dalil ini jelas dalam dalalah-nya atas pakaian perempuan dalam kehidupan umum. Jadi, dalam dua ayat ini, Allah SWT telah mendeskripsikan pakaian yang Allah wajibkan atas perempuan agar ia kenakan dalam kehidupan umum dengan deskripsi yang dalam, sempurna dan menyeluruh. Allah SWT juga berfirman terkait pakaian perempuan bagian bawah (yang artinya):

Allah SWT pun berfirman tentang tatacara umum yang berlaku atas pakaian ini (yang artinya): Janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) tampak pada dirinya (TQS an-Nur [24]: 31). Maknanya, hendaknya mereka tidak menampakkan anggota-anggota tubuh yang merupakan tempat perhiasan seperti kedua telinga, kedua lengan bawah, kedua betis dan selain itu kecuali apa yang bisa tampak dalam kehidupan umum ketika ayat ini turun, yakni pada masa Rasul saw., yaitu wajah dan kedua telapak tangan.

Dalam hal ini, diriwayatkan dari Ibn Umar bahwa Rasul saw. pernah bersabda:

مَنْ جَرَّ ثَوْبَهُ خُيَلاَءَ لَمْ يَنْظُرِ اللَّهُ إِلَيْهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَقَالَتْ أُمُّ سَلَمَةَ فَكَيْفَ يَصْنَعْنَ النِّسَاءُ بِذُيُولِهِنَّ قَالَ يُرْخِينَ شِبْرًا فَقَالَتْ إِذًا تَنْكَشِفُ أَقْدَامُهُنَّ قَالَ فَيُرْخِينَهُ ذِرَاعًا لاَ يَزِدْنَ عَلَيْهِ

“Siapa yang menjulurkan pakaiannya karena sombong, Allah tidak memandang dirinya pada Hari Kiamat.” Lalu Ummu Salamah berkata, “Lalu bagaimana perempuan memperlakukan ujung pakaiannya.” Rasul menjawab, “Hendaknya mereka menjulurkan-nya sejengkal.” Ummu Salamah berkata, “Kalau begitu tersingkap kedua kaki mereka.” Rasulullah pun menjawab, “Hendaknya mereka menjulurkannya sehasta, jangan mereka lebihkan atasnya.” (HR at-Tirmidzi; ia menyatakan hadis ini hasan-shahih).

Hadis ini gamblang menjelaskan bahwa jilbab yang dikenakan di atas pakaian itu wajib dijulurkan ke bawah sampai menutupi kedua kaki. Jika kedua kaki ditutupi dengan sepatu atau kaos kaki, itu belum cukup (jika jilbabnya tidak menjulur ke bawah, red.). Jilbab tetap harus menjulur ke bawah hingga kedua kaki dalam bentuk yang menunjukkan adanya irkha’ (dijulurkan) sehingga diketahui bahwa itu adalah pakaian kehidupan umum yang wajib dikenakan perempuan di kehidupan umum. Jilbab harus tampak irkha’ sebagai realisasi dari firman Allah: “yudnîna” yakni yurkhîna (hendaknya mereka menjulurkan).

[Sumber: Nasyrah Soal-Jawab Amir HT/Atha’ bin Khalil Abu ar-Rasytah, 1 Muharram 1435/4 November 2013] : http://hizbut-tahrir.or.id/2014/04/25/busana-muslimah-syari/

‘Jokowi Effect’ – menuntun pada kemenangan islam? atau menarik ke dalam jurang? Think again!

‘Jokowi effect’ ramai dibicarakan. Tak lama setelah PDIP secara resmi mencalonkan jokowi sebagai capres dikabarkan rupiah menguat. media massa yang memang selama ini dikenal pro jokowi pun memunculkan opini kuat, “jokowi adalah pilihan presiden terbaik” dengan berbagai argumentasi. Tak ketinggalan media massa luar negeri, menyambut hangat Jokowi.

Memang kemunculan Jokowi–lepas dari berbagai tudingan konspirasi dibaliknya–bagi sebagian orang menimbulkan harapan. sosok yang kelihatan sederhana, berwajah ‘lugu’ dan dicitrakan merakyat diharapkan bisa membawa perubahan untuk indonesia yang karut marut. Wajar saja, hal ini muncul sebagai reaksi kemuakan terhadap politisi-politisi stok lama yang sarat masalah. Persoalannya, bisakah mengandalkan sosok individual jokowi?

untuk itu, menjawab apa sebenarnya persoalan Indonesia sehingga karut marut seperti sekarang menjadi penting. Kalau kita memperhatikan secara mendalam, persoalan Indonesia sesungguhnya adalah persoalan sistem. Memang ada masalah individual, tetapi yang paling berpengaruh dan menonjol adalah sistem.

beberapa indikasinya antara lain, Indonesia bermasalah dalam hampir semua aspek, multidimensional. pendidikan, sosial, ekonomi, politik, hukum, keamanan, transportasi, hampir semuanya bermasalah.

indikasi lain, banyak persoalan muncul bukan berkaitan masalah implementasi kebijakan, justru lahir dari undang-undang yang mengatur kebijakan itu. Perampokan kekayaan alam Indonesia oleh perusahaan-perusahaan asing dilegitimasi berbagai UU yang pro kapitalis, seperti UU migas, UU penanaman modal, UU kelistrikan. sebagai contoh, keinginan untuk menjadikan pertamina sebagai BUMN kuat dan alat pemerintah dalam pengelolaan BBM justru terhalang UU migas No. 22 tahun 2001. UU ini membatasi kewenangan pertamina sebagai pemain utama (single player) di sektor ini. UU ini juga memberikan hak/kewenangan kepada perusahaan minyak lain, baik domestik atau asing. Tidak mengherankan kalau sektor migas kita sebagian besar dikuasai oleh perusahaan asing.

persoalan Indonesia bukan sekedar persoalan individual, tetapi sistemik juga bisa kita lihat dalam korupsi. Hampir semua aspek di Indonesia tidak lepas dari korupsi, baik swasta atau negara. tiga institusi pilar negara demokrasi (legislatif, eksekutif, yudikatif) pun tidak lepas dari kasus korupsi. DPR dan kepolisian kerap mendapat gelar lembaga terkorup. Bahkan DPR sudah 4 tahun berturut-turut, menurut KPK, menduduki posisi nomor wahid dalam kasus korupsi. Menurut petinggi KPK Busyro muqaddas, hampir semua sistem DPR rawan korupsi, baik fungsi legislasi, anggaran maupun pengawasan. menurut staf mendagri sejak pemilu pilkada 2004, sudah ada 3000 anggota DPRD yang terjerat kasus hukum, lebih dari 80% adalah kasus korupsi. Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) yang salah satu tugas pentingnya menilai UU, juga terjerat korupsi.

mengingat persoalan Indonesia adalah persoalan sistem, ‘jokowi effect’ yang tidak menyentuh perubahan sistem dipastikan 100% tidak akan membawa perubahan yang mendasar. jokowi pasti akan gagal. pasalnya, pangkal persoalan indonesia dan negeri-negeri islam lainnya adalah penerapan sistem kapitalisme yang berasas sekularisme berikut pemikiran pokoknya seperti demokrasi, pluralisme, dan liberalisme.

dari berbagai transisi politik di Indonesia, pada mulanya para pemimpin tiap orde itu pun banjir pujian. namun tidak lama berlangsung, mereka juga gagal. sebabanya, yang terjadi hanya berganti rezim/orang, bukan sistem. kegagalan mereka diperparah dengan ketundukan mereka kepada barat. sikap pemimpin seperti inilah yang melestarikan penjajahan kapitalisme.

perlu kita catat, yang diinginkan barat dari pemimpin Indonesia ke depan adalah tetap tunduk kepada mereka. Tentu mereka akan memuji calon pemimpin yang siap melestarikan sistem penjajahan mereka. tidak mengherenkan kalau petinggi Bank Dunia sudah mewanti-wanti kepada presiden baru ke depan untuk menaikkan harga BBM atau mengurangi subsidi. ini sesungguhnya pesan arogansi dari barat, bahwa siapapun pemimpin Indonesia harus tunduk kepada mereka.

Di sinilah letak penting peran partai-partai Islam. Seharusnya mereka menyerukan perubahan sistem dengan tawaran ideologi yang jelas. Tentu ideologi yang harus berseberangan dengan kapitalisme, tidak ada lain kecuali islam: bukan malah menyerukan demokrasi dan liberalisme, apalagi menikmatinya, apalagi kemudian menjilat barat untuk mendapatkan keridhaannya.

Partai Islam harus menyerukan pergantian sistem kapitalisme sekuler menjadi islam; mengganti negara sekuler yang menerapkan kapitalisme menjadi negara khilafah yang menerapkan syariah islam secara kaffah. seruan ini harus jelas, gamblang dan terbuka agar umat bisa paham sehingga mendukung dan memperjuangkannya.

tugas penting ini diperintahkan Allah SWT (QS Ali Imran [3]: 104) yang menjadi dasar dari kewajiban keberadaan gerakan kelompok, atau partai politik yang berdasarkan islam. kelompok atau partai politik ini wajib menyerukan al khair (ISLAM) serta melakukan amar makruf nahi mungkar. Imam ath-thabari dalam tafsirnya Jami’ an-Bayan fi Ta’wil al-Qur’an menjelaskan pengertian yad’una ila al-khair adalah yad’una ila al-islam wa syarai’ihi allati syara’a Allahu li ‘ibadihi (menyerukan islam dan syariah-Nya yang disyariatkan Allah swt kepada hambanNya).

tugas ini memang berat dan bisa jadi belum diterima sepenuhnya oleh rakyat. namun in sha Allah, dengan perjuangan yang tidak kenal lelah, rakyat akan makin paham dan mendukung, bahwa syariah islam wajib diterapkan secara kaffah di tengah-tengah kehidupan mereka dalam institusi pemerintahan Islam yang bernama khilafah.

Apalagi mereka melihat di depan mata, bagaimana fakta kerusakan akibat sistem kapitalisme. Rakyat juga merasakan langsung penderitaan itu. in sha Allah dengan sikap istiqomah berpegang teguh pada islam, bekerja keras berdasarkan manhaj Rasulullah saw. dan berharap pada pertolongan Allah SWT. kemenangan itu akan semakin dekat. bukankah Allah yang memiliki kekuasaan dan Allah pula yang menggilirkan kekuasaan kepada siapa yang dia kehendaki?

sumber: Tabloit Al Waie edisi April 2014