Perjuangan Rasulullah sebelum terbentuknya daulah islam di Jazirah Arab

Copas Dari Saudara M Falah Rumaria.

Kalau berdakwah hanya sebatas persoalan akhlaq dan ibadah mahdhah (ritual), spt menjaga shalat, rajin puasa, mensucikan hati, menebar salam, menjauhi riya’, murah senyum, dsb, tentu sedikit–jika tdk bisa dikatakan tdk ada–yg akan menentang dakwah tsb.

Cobalah tengok pada pribadi rasulullah saw, beliau itu kurang apa?

Beliau berasal dari keluarga terpandang (klan beliau Bani Hasyim adl klan yg dipercayakan utk memegang kunci ka’bah), akhlak beliau nomor satu, tutur katanya sempurna, sopan santun pasti, orang2 tidak ada yg menyangsikan kejujuran dan keamanahan beliau sampai2 beliau diberi gelar al-amin (yg dpt dipercaya).

Tetapi pertanyaannya, mengapa muhammad yg dikenal masyarakat mekah pada saat itu sbg orang yg paling baik, org yg paling sempurna, namun ketika beliau menyampaikan Islam, kok malah ditentang habis-habisan?

Hal ini tentu karena dakwah yg disampaikan muhammad itu bukan semata persoalan akhlak & ritual. Artinya jikalau hanya persoalan akhlak & ritual yg disampaikan beliau, siapa masyarakat yg mau menentang? Sementara muhammad itu orang yg baik, tutur katanya sempurna, orang yg paling halus budi pekertinya dan paling disegani?

 

Kalau demikian, lalu apa yg menyebabkan beliau mendapatkan penentangan seperti itu?

 

Jawabannya adl karena dakwah yg disampaikan muhammad adl dakwah yg ‘menabrak kekuasaan’, ‘menabrak kedaulatan’, ‘menabrak tatanan hidup’, ‘menabrak pola pikir’. Dakwah semacam inilah yg mengakibatkan para petinggi Quraisy yg bahkan paman2 beliau sendiri melancarkan segenap tipu daya dan makar serta memobilisasi masyarakat utk menghentikan dakwah beliau, bahkan sampai ingin membunuh beliau.

 

Mengapa bisa begitu?

 

Ya, karena mereka tahu, bahwa jika mereka bersyahadat (menerima apa yg disampaikan Muhammad dan mengakui Muhammad sbg rasul), di sisi lain mereka juga harus menyerahkan sepenuhnya kekuasaan mereka kepada Muhammad, menyerahkan sepenuhnya kedaulatan mereka kepada Allah Sang pembuat hukum, serta tatanan hidup mereka dan pola pikir mereka disandarkan hanya pada Islam. Yakni tatanan hidup diatur berdasarkan wahyu (Al-Qur’an dan As-Sunnah), dan pola pikir Islam dijadikan asas dlm menilai segala sesuatu (halal/haram sbg tolok ukur). Ini konsekuensi yg sangat berat guys 

 

Allah berfirman :

“Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakikatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu (Muhammad) sebagai hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian MEREKA TIDAK MERASA DALAM HATI MEREKA SESUATU KEBERATAN TERHADAP PUTUSAN YANG KAMU BERIKAN, DAN MEREKA MENERIMA SEPENUHNYA.” (QS. An-Nisa: 65)

Jadi, seharusnya para ulama menyampaikan Islam sbg sebuah diin yg utuh, yg dapat memecahkan segala urusan kehidupan secara menyeluruh sesuai dengan fitrah manusia.

Ketika kemiskinan merajalela, para ulama’ seharusnya tidak hanya mengajarkan utk semata bersabar dan memperbanyak shadaqah saja, tapi juga harus dijelaskan akar persoalannya yaitu diterapkannya sistem ekonomi sekuler-kapitalistik yg menyerahkan keadilan ekonomi kepada pasar bebas. Kemudian memberikan solusinya yaitu pergantian sistem ekonomi kapitalisme dengan sistem ekonomi Islam.

Ketika zina sudah semakin biasa, seharusnya para ulama’ tidak hanya mengajarkan utk berpuasa dan menahan diri dari hawa nafsu , tapi juga harus dijelaskan akar persoalannya mulai dari tatanan kehidupan yg semakin bebas, tidak adanya peraturan yg mewajibkan wanita utk menutup aurat dlm kehidupan umum, dimana-mana terjadi eksploitasi besar2an atas tubuh wanita (tempat kerja, film, produk2 bisnis), beredarnya video porno, sanksi yg tidak memberikan efek jera bagi pelaku zina, dll.

Oleh karena itu umat membutuhkan ulama’ yg dengan gagah berani menyampaikan al-haq, yakni Islam, dengan sempurna, sehingga ulama’ akan mendorong kebangkitan berpikir umat dan menggerakkan umat menuju ke arah perubahan yg hakiki, yaitu diterapkannya solusi atas akar2 permasalahan tadi, mulai dari sistem ekonomi islam, sistem sosial kemasyarakatan Islam, sistem pendidikan Islam, sistem persanksian Islam, dsb, yg sistem2 ini tidak akan bisa terlaksana tanpa diterapkannya sistem pemerintahan warisan Rasulullah, yakni al-Khilafah ar-Rasyidah ‘ala manhaj an-Nubuwwah, bukan sistem pemerintahan sekuler-demokrasi.

 

Wallahu a’lam bish shawab.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s