Tanya Jawab “Pentingkah mengadakah sebuah Konferensi Islam demi cita-cita tegaknya KHILAFAH?”

disadur dari akun facebook seorang teman….

A: “Apakah melalui acara KIP (KONFRENSI ISLAM & PERADABAN), khilafah bakalan bisa tegak kembali?”

B: “Ndak bisa”

A: “lalu, mengapa acara tersebut diselenggarakan?”

B: “KIP hanya uslub/ wasilah untuk pembentukan opini umum terkait tentang SYARIAH & KHILAFAH”

A: “emang opini itu penting?”

B: “penting karna opini dapat membentuk persepsi, persepsi dapat membentuk sikap.”

A: “Apakah melalui KONFRENSI, MUKTAMAR, JICMI, dan lain sebagainya bisa membentuk opini KHLAFAH menyebar?”

B: “tentu saja bisa, apakah acara-acara yang kami lalukan berhasil atau tidak, kita bisa melihat hari demi hari pejuang SYARIAH & KHILAFAH semakin bertambah, mulai dari bertambahnya jumlah pejuangnya ( 10 tahun pertama pejuangnya hanya 17 orang) sekarang sudah mencapai ribuan orang se-Indonesia, buktinya saya dan para pejuang yang lainnya, saya adalah hasil opini acara, bisa jadi anda juga hasil dari pembentukan opini dan akan tercerahkan hingga akhirnya anda bergabung dalam barisan pejuang ISLAM berkat acara-acara yang diselenggarakan, bertambahnya jumlah wilayah dulu awal-awal opini KHILAFAH di Indonesia hanya ada di bogor & jakarta, sekarang wiayah pejuangnya sudah mencapai seluruh wilayah Indonesia, sedangkan ditingkat internasional yang dimulai dari MASJIDIIL AQSO di Palestina sekarang opini KHILAFAH mendunia, selain itu kemampuan semakin membesar pejuangnya dari mulai lulusan S1, S2,S3, SD pun ada, dari kalangan ekonomi bawah, menengah sampai atas pun ada….dari para pejuang yang menggunakan mobil hingga sepeda bahkan jalan kaki pun ada karna ISLAM untuk seluruh umat.Yang pasti melalui berbagai uslub ini dan konsisten menggunakan tiga metode dakwahnya Rasulullah Muhammad maka dakwah ini semakin menyebar.”

Diskusi sore yang bermanfaat bersama Ust. Ismail Yusanto

Sore ini, selepas acara Konferensi Islam dan Peradaban selesai diadakan dengan sukses (alhamduillah) di aula graha bakti praja, kami para anggota HTI seluruh lombok diberikan kesempatan untuk berdiskusi langsung dengan almukarrom ustadz Ismail Yusanto, juru bicara Hizbut Tahrir Indonesia yang terkenal dengan ketegasannya dalam menyampaikan materi-materi dakwah. Tapi ternyata, setelah mendengar cerita-cerita dan tausyiah beliau mengenai perjuangan dakwahnya selama 25 tahun ini, beliau tidak melulu menggunakan tata bahasa yang tegas dan saklek, tapi kita diajak berdiskusi ringan dan santai, dalam suasana yang nyaman sambil duduk bersama-sama. Beliau sesekali juga mengeluarkan beberapa celetukan-celetukan lucu yang membuat kami cengengesan atau tertawa kecil. Dalam diskusi singkat tersebut, beliau membagi beberapa tips yang bermanfaat agar kita, para pengemban dakwah ini, tetap semangat dalam berdakwah, tapi juga dapat mengimbanginya dengan kehidupan di lingkungan bekerja, belajar, rumah tangga, dan lain sebagainya, diantaranya yaitu:

  1. Dalam rencana berumah tangga, kita sebaiknya mencari calon pasangan yang memiliki visi dan misi yang sama. Nahhh….ketika ust. Ismail menyampaikan tips yang ini semua syabab/syabah sepertinya pada cengengesan sendiri deh, entah membayangkan apa atau siapa. hehehe. Beliau mengatakan, visi misi yang harus disamakan itu ya sama-sama harus memiliki jiwa pejuang syariah dan khilafah, supaya rumah tangga itu bisa sejalan, bisa adem ayem, dan karena seperjuangan jadi nanti in syaa Allah bisa bertemu di surganya Allah. coba bayangkan jika calon pasangannya tidak sevisi-misi, yang satu pengen ngaji (halaqoh) yang satu nggak mau, atau malah yang lebih parah ada yang melarang pasangannya untuk halaqoh. yang satu sibuk ngontak tokoh masyarakat, yang satunya ribut karena pasangannya sering pergi ke luar rumah terus, nggak pernah ada waktu untuk keluarga, nggak pernah ada hari libur karena hari libur full dipakai untuk jadwal dakwah dan acara2 publik, padahal dakwah itu yang lebih penting, tapi karena punya pasangan yang tidak mengerti, malah jadi masalah. Yang ada malah pusing, nyusahin, bikin stress, ribet. (untuk tips yang satu ini saya bener-bener setuju deh ustadz, untuk saya ngurus diri sendiri aja masih susah banget buat istiqomah, yang sudah ikut halaqoh aja masih bisa melenceng, apalagi yang nggak pernah ikut halaqoh, nggak sevisi-misi, bisa berabe urusannye)
  2. Dalam kehidupan berumah tangga, ust. Ismail juga menyarankan untuk selalu membangun komunikasi. segalanya harus dikomuikasikan, biar sama-sama enak. jangan apa-apa dipendem. punya masalah, bukannya dibagi dengan pasangan agar bisa dibantu cari penyelesaiannya malah dipendem sendiri, susah-susah sendiri, stress sendiri, ujung-ujungnya berdampak pada keharmonisan keluarga juga nantinya. komunikasi itu sangat penting pokoknya.
  3. dalam berdakwah, kuncinya cuma ada 3: sabar, sabar, dan sabar. itu saja. tapi untuk bisa menjalankannya itu susaaaah sekali. sering sekali kita terbawa emosi jika menanggapi orang-orang yang nyinyir, nyindir, mencibir, menyangsikan pergerakan kita, dan lain sebagainya. padahal sabarnya Rasulullah saat disiksa fisik dan batin nya oleh kafir quraisy saja sampai tak terhingga. seharusnya kita berusaha melakukan hal yang sama. meskipun tidak 100% bisa sama dengan manusia se-mulia Rasulullah, paling tidak berusaha untuk menyamai. 🙂
  4. Kuatkan qolbu dengan sholat malam. itulah kunci keteguhan hati Rasulullah dalam berdakwah. selain itu jangan lupa banyak-banyak mengaji dan puasa senin kamis untuk semakin memperkuat qolbu. kalau kita sudah berusaha untuk sering qiyamullail, meskipun kita mulai melenceng dan tidak istiqomah di jalan dakwah, in syaa Allah akan cepat sadar dan taubatnya ketimbang tidak pernah melakukan amalan tersebut.

jangan sampai ‘semua’ dikatakan halal dan wajib karena ‘daruroh’ :D

Berikut adalah tulisan di laman page FB ust. Ahmad Sarwat tenang hakikat pengambilan alasan ‘darurat’ dalam menetapkan suatu hukum halal/haram. Tulisan ini di share kembali oleh ust. Felix Siauw dalam page FB nya, beliau juga memberikan footage:

“Ada analogi bagus dari ust. Ahmad Sarwat, coba baca dengan pikiran terbuka dan hati tenang, dan tentu dengan iman pada Allah Swt, apapun hasilnya setelah membaca, tolong tahan diri anda untuk bermaksiat dengan komentar-komentar yang tidak pantas”

Pilih Mana, Makan Anjing atau Babi?

Dosen fiqih saya dulu pernah berteori bahwa kalau pilihannya cuma dua, pilih mana seharusnya, makan anjing atau makan babi?

Jawaban diplomatisnya makan anjing. Sebab masih ada sebagian ulama yang menghalalkan anjing.
Sedang babi diharamkan secara ijma’ oleh semua ulama.

Tapi meski pilih anjing, tetap saja makannya tidak boleh banyak-banyak, apalagi nafsu sampai nambah tiga porsi.

Kalau itu mah bukan darurat tapi doyan, begitu beliau bilang.

Harusnya makan anjing sekedar buat ganjel perut penyambung hidup saja, tidak perlu mewajib-wajibkan makan daging anjing.

Hukumnya cuma berhenti sampai boleh dan bukan wajib. Tidak ada ulama yang mewajibkan makan anjing.

Lagi pula halalnya anjing karena darurat pun sekedar sebuah pendapat sebagian ulama. Tidak semua ulama setuju anjing berubah jadi halal karena alasan darurat.

Kan masih bisa hidup meski makan daun-daunan dan tumbuhan, tidak harus sampai makan anjing.

Anjing gitu loh

Galaunya Para Pengemban Dakwah Islam

sumber: buku karangan Arief B. Iskandar, “Hikmah-hikmah bertutur untuk jiwa yang mudah futur”, terbitan Al Azhar press

Dalam bukunya, Haml ad-Da’wah al-Islaamiyyah Waajibaat wa shifaat, Mahfud Abdul Lathif ‘Uwaidhah menjelaskan bahwa mengemban dakwah (Haml Ad-Da’wah) terdiri dari dua kata: mengemban (haml[un]) dan dakwah (ad-da’wah). Mengemban adalah satu hal dan dakwah adalah hal lain. Dakwah bisa dimaknai sebagai sekumpula pemikiran dan hukum-hukum syariah, yakni Islam itu sendiri secara keseluruhan. Adapun mengemban pada dasarnya sama dengan menyampaikan (tablig). Karena itu, mengemban dakwah bisa didefinisikan sebagai meyampaikan-kepada manusia-pelbagai pemikiran dan hukum-hukum syariah islam.

Setiap pengemban dakwah wajib istiwomah dalam mengemban dakwah, terkait dengan hal itu Allah berfirman:

“Sungguh telah didustakan pula para Rasul sebelum kamu, namun mereka tetap bersabar atas pendustaan dan penganiayaan yang dilakukan atas mereka hingga datang pertolongan Allah.” (QS. Al An’am [6]: 34)

Dalam ayat ini secara tersirat Allah memerintahkan kepada Rasul saw. Agar tetap sabar dan istiqomah dalam mengemban meskipun dihadapkan pada berbagai pendustaan dan penganiayaan orang-orang kafir yang menentang dakwah beliau. Sebab memang demikian pula yang dialami para Rasul sebelum beliau.

Masalahnya sederhana. Mengemban dakwah adalah menyampaikan ide-ide dan hukum-hukum ‘baru’ yang biasanya bertentangan dengan ide-ide dan hukum-hukum tradisi lama yang berkembang di tengah-tengah masyarakat. Karena itu, wajar jika dakwah yang haq sering dihadapkan pada penentangan masyarakat yang merasa ‘terusik’ dengan dakwah tersebut. Inilah sunnatullah yang berlakua dan dialami para nabi dan sahabat, serta tentu pengemban dakwah yang istiqomah mengikuti jejak langkah mereka dimanapun dan kapanpun.

Jika dulu Rasul dan para sahabat dihadapkan pada ide-ide, hukum-hukum, tradisi-tradisi jahiliah yang berpangkal pada paganisme (kesyirikan) maka saat ini para pengemban dakwah dihadapkan pada ide-ide, hukum-hukum dan tradisi-tradisi yang berpangkal pada sekulerisme. Saat ini, upaya mengusung ide serta hukum syariah dan khilafah, misalnya, dihadapkan pada ide HAM, demokrasi, pluralisme, nasionalisme/negara-bangsa, dll: dihadapkan pula pada penerapan UU dan hukum warisan para penjajah.

Tidak jarang, untuk itu para pengemban dakwah dilabeli dengan cap ‘fundamentalis, ‘ekstrimis’, bahkan ‘teroris’, baik oleh penguasa, masyarakat, ataupun musuh-musuh mereka dari kalangan kafir. Tidak jarang pula, perlawanan dari para penentang dakwah ini mengancam jiwa para pengemban dakwah.

Setiap pengemban dakwah haram untuk melenceng sedikit saja dari ide-ide dan hukum-hukum syariah. Sayangnya, tidak sedikit pengemban dakwah yang tidak istiqomah dengan dakwahnya. Misalnya: betapa banyak pengemban dakwah yang menyimpang dari ide-ide dan hukum-hukum syariah, entah karena kedangkalan pemahaman mereka atau karena sikap pragmatis mereka. Mereka tidak lagi menyerukan islam dalam wujud yang utuh sebagaimana yang diserukan Rasulullah saw. Mereka tidak berani secara tegas menyerukan syariah. Sebaliknya, mereka malah menyerukan ide-ide dan hukum-hukum sekuler yang bertentangan dengan ide-ide dan hukum-hukum islam, seperti: demokrasi, HAM, pluralisme, nasionalisme, dll. Padahal Allah SWT. Sendiri telah mengecam keras kekasihnya, Baginda Rasulullah saw seandainya beliau menyerukan apa yang tidak Dia perintahkan. Allah SWT. berfirman:

“Seandainya dia (Muhammad) mengada-adakan sebagian perkataan atas nama kami, niscaya kami benar-benar akan memegangnya pada tangan kanannya, kemudian memotong urat tali jantungnya…” (QS. Al Haqqah [69]: 44-46)

Yang lebih parah, banyak pengemban dakwah—yang tidak sabar ingin segera meraih kemenangan—menjerumuskan diri dalam kancah sistem kufur. Tidak aneh jika kemudian ada partai islam yang lebih konsisten menyerukan demokrasi ketimbang menyerukan penerapan syariah Islam karena khawatir partainya tidak laku dalam pemilu; berkoalisi dengan partai sekuler; atau memproklamirkan diri sebagai partai ‘terbuka’—yang memungkinkan orang-orang non muslim pun bisa menjadi anggota bakan pengurus partai—demi meraih konstituen sebanyak-banyaknya. Padahal, jika mereka konsiste memperjuangkan Islam, itu tidak akan mungkin mereka lakukan. Sebabnya, mustahil orang-orang kafir akan memperjuangkan Islam, padahal mereka sendiri mengingkari Islam.

Mungkin dengan semua itu, mereka menyangka akan meraih kemenangan. Jika kemenangan yang dimaksud adalah berhasilnya partai Islam atau para kadernya duduk di kursi kekuasaan, itu mungkin saja, namun, jika yang dimaksud adalah berdaulatnya idelogi Islam yang terwujud dalam penerapan syariahnya secara total oleh negara, maka  itu hanya mungkin diraih dengan keistiqomahan dan keteguhan dalam mengemban dakwah, apapun resikonya!

Teaser of Islamic Civilization Conference 1435 H

Islam once dominated for 13 centuries, there has never been a civilization in the same level. With the fall of the civilization and the existence of capitalism all we witness are social problems. Social inequality, blasphemy, sexual freedom etc. Is this the coveted civilization?
http://hizbut-tahrir.or.id/ – media representatif hizbut tahrir indonesia, media ini merupakan akun youtube resmi hizbut tahrir indonesia,

Like facebook kami : htiinfokom
follow twitter : hizbuttahrirID

Di Indonesia, mau cari apa aja, semuanya ada :D

Di negeri dengan mayoritas muslim terbesar di dunia ini, mau cari tempat buat berzina ada. Tinggal pergi ke lokalisasi, sarangnya para PSK, atau kalau mau kerenan dikit, pergi ke club2 malam, habis dugem terus dapet cewek seksi yang bisa dipake, tinggal pergi ke hotel, nggak bakal ada yang larang. Atau buat yang sekedar pacaran, yang masih beraninya cuma pegang2an tangan, peluk2an, dan sebagainya, tinggal pergi ke taman2 kota seperti udayana, mau pacaran gaya apa aja disana sah2 saja, tak ada yang melarang, bahkan tak ada yang peduli.

Di negeri dengan mayoritas muslim terbesar di dunia ini, mau cari pasangan homoseks dan lesbian ada, bahkan kadang bikin komunitas sendiri, kumpul2 di sudut kota. diperhatikan orang sekitar tak masalah. Toh negara tak pernah melarang. Mereka bebas melakukan apapun, karena punya bekal ‘HAM’. Tinggal panggil LSM yang mendukung saja jika ada yang berani macam2. Dan para aktivis HAM pun akan senang hati berkoar-koar sampai isi tenggorokannya mau keluar demi membela mereka.

Di negeri dengan mayoritas muslim terbesar di dunia ini, minuman keras boleh kok diperjual belikan, boleh kok dikonsumi, asalkan punya hak izin aja untuk menjualnya. DI warung deket rumah juga sudah ada, nggak perlu cari yang mahal2 sekelas Gyn atau Vodka, kelas murahan kayak Bir BINTANG juga ada yang versi kalengan tuh di warung itu. DI letakkan sejajar dengan minuman lain seperti fruit tea, pocari sweat, dan minuman anak-anak seperti Milkuat. Ada yang takut buat membeli? Ada memang, tapi cuma orang2 yang masih takut sama Allah aja, nah kalau di hatinya sudah tak ada ketakutan sama Allah? Peduli amat sama dosa. beli ya beli aja. Toh disediakan. Toh bisa bebas ditemukan dimana-mana. Toh pemerintah nggak bakal ngasi hukumana apa2 asalkan mabuknya tidak sampai mengganggu ketentraman hidup orang lain.

Di negeri dengan mayoritas muslim terbesar di dunia ini, riba itu bukan lagi suatu hal yang haram. Bank-bank konvensional bertebaran di mana-mana. Bahkan kadang orang muslim lebih milih dan percaya sama Bank2 itu ketimbang Bank yang berbasis syariah. Malah ada yang dengan entengnya bilang “nabung banyak2 biar bunganya makin banyak, kan lumayan” padahal dia orang islam.

Di negeri dengan mayoritas muslim terbesar di dunia ini, sumber daya alam digunakan untuk kesejahteraan rakyat? Ohh, tentu tidak.  Lihat apa yang terjadi di Sumbawa, di Papua, emas-emas kita dikeruk sampai habis. yang tersisa buat masyarakatnya apa? Limbah yang meracuni sumber air, dan membuat tanah menjadi kering dan tidak subur lagi. Coba saja lihat, daerah pertambangan mana yang pohon2nya subur? Minyak bumi apa lagi. Jangan tanya deh. Wong pemerintahnya sudah bikin undang2 yang memperbolehkan pihak swasta dan asing untuk menguasai daerah2 sumber daya alam itu kok. Jadi gimana coba kita mau protes kalo pemerintah aja sudah memberikan izin agar sumber daya kita dikeruk habis-habisan sama pihak asing?

Di negeri dengan mayoritas muslim terbesar di dunia ini, kesehatan dan pendidikan NGGAK PERNAH kenal yang namanya GRATIS. duit, duit dan duit, semuanya harus serba duit. mau sekolah tinggi, sampai jadi dokter konsultan atau profesor, harus ada duit tebel. Mau dapet dokter terbaik dengan fasilitas kesehatan paling canggih ya harus punya duit segepok. Jangan heran kalau yang bisa sekolah tinggi + pake fasilitasn kesehatan yang wah itu cuma orang cina (maaf bukan bermaksud rasis) yang notabene berduit, punya banyak perusahaan atau toko. lah kalo yang miskin? miskin ya miskin aja, bodoh ya bodoh aja. dana buat sekolah orang miskin ya paling segitu2 aja dikasi sama pemerintah. mati ya mati aja. mana pernah orang miskin dapet fasilitas kelas satu apalagi VIP di rumah sakit, hidiiih, ngarep!

Di negeri dengan mayoritas muslim terbesar di dunia ini, pornografi dan pornoaksi memang masih dianggap tabu. tapiiiii, ada tapi nya ya. batasan tabu nya itu nggak tabu2 banget sih sebenernya. lihat aja di TV, betapa banyak paha murah dipamerin, bukan hanya di TV malah, di jalanan juga sudah nemu paha kalau mau nyari, nggak perlu repot2. Pakaian minim itu sudah jadi trend mode. Nggak ngikuti mode dianggap nggak gaul. orang pakai gamis panjang lebar dibilang “ibuk2” karena nggak pernah tuh biasanya ada mbak2 atau anak muda yang pakai baju nggak stylish begitu. boro2 stylish, kelihatannya kayak kurungan ayam. apalagi kerudung lebar+panjang. bahhh….satu kata menurut masyarakat indonesia untuk orang2 berpakaian seperti itu –> teroris atau radikal. gile beneeeer masyarakat kita ini. oke lah sekarang hijab lagi ngetrend, tapiiii, yang ngtrend itu yang gimana coba? hijab plintir2 kayak sarang burung (malah sarang burung pun kalah), pakai jarum petul sana-sini (nggak takut ketusuk apa), rambut dibikin pentolan bakso segede kepalan tangan biar kelihatan bagus (bagus dari hongkong! yang ada kepalanya jadi kelihatan besar kayak kena tumor). pakai jilbab tipis2 nggak nutupin dada, pakai jilbab tapi bajunya seksi aduhai, lika liku lekuk tubuhnya ditampilkan kesana-kemari, mata laki2 masih bisa dengan nyaman menikmati tubuh2 yang cuma dibalut itu, apa bedanya sama telanjang kalo begitu? kata-kata saya pedes ya? hehe, afwan deh, kalo mau protes jangan sama saya ya, protes coba sama Allah kalau berani. Azab Allah itu lebih pedes dan lebih menyeramkan lho ketimbang kata-kata saya 

Di negeri dengan mayoritas muslim terbesar di dunia ini, memberantas peredaran narkoba dan penggunaanya itu bagaikan mimpi di siang bolong. Mustahil. orang-orang dipenjara aja masih bisa nyabu, dari mana coba mereka dapet? apa tidak ada pengawasan terhadap mereka? ada, pasti ada, tapi ya gimana ya. ntar kalau terlalu banyak ngomong masalah oknum pemerintah yang bekerja dibidang itu malah dibilang sok tahu, sok tempe. Apalagi di generasi muda. haduuuh, tinggal pergi aja ke diskotik atau club malam, pasti nemu lah barang haram itu. sangat gampang!

beginilah nasib Indonesia. Kalau diibaratkan makanan, Indonesia ini versi lengkapnya, versi 4 sehat 5 sempurna nya. Sudah jadi ladang subur untuk kemaksiatan. Beginilah nasib ummat Islam di Indonesia yang KATANYA sudah merdeka ini. Merdeka secara fisik sih iya kali ya, tapi merdeka secara mental? BELUM. kita masih dikendalikan kekuatan di luar sana yang mengobrak abrik tatanan kehidupan ummat agar semakin jauh dari unsur2 agama, semakin jauh dari syariat islam, semakin jauh dari Allah. dalam bidang pemerintahan apa lagi. coba lihat berapa banyak orang2 politik itu yang mengambil paham sekuler untuk dijadikan landasan berpikir, dan mereka dengan bangganya mengatakan “Jangan bawa-bawa agama ke ranah politik. Agama itu terlalu suci untuk dikotori oleh politik. Agama hanya berlaku di masjid2 saja” astaghfirullah….mau sampai kapan kita begini? Mau sampai kapan kita biarkan diri kita diperlakukan seperti ini? Sudah, nggak usah mikir pakai cara aneh2 lah. ganti segera sistem demokrasi saat ini dengan khilafah islamiyah. nggak usah dukung capres mana2. semuanya sama aja sekulernya. mau sampai kapan kita biarkan diri kita dipimpin oleh orang sekuler? buka mata dan pikiran selebar-lebarnya. permasalahan bangsa ini tidak akan selesai hanya dengan menggenati ‘orang’, apalagi jika orang itu tidak pernah dengan jelas menyatakan ingin menerapkan syariat islam di Indonesia. kembali lah pada Allah, kembalilah pada Allah, kembalilah pada Islam yang sempurna..