Kafir Tahu Khilafah Akan Tegak

Ketika ummat muslim di seluruh dunia masih terlena dengan janji-janji sistem demokrasi, dengan gaya hidup bebas yang disodorkan sekulerisme dan liberalisme, yang sebenarnya ditujukan untuk memecah belah ummat yang seharusnya bersatu padu, orang kafir di luar sana sudah ketakutan akan ancaman kembalinya kejayaan khilafah islamiyah seperti dulu, yang pernah berdiri dengan gagah dan jaya di muka bumi selama 1300 tahun….

Para petinggi AS pun sudah sejak dulu mempersiapkan diri untuk membendung ancaman ini, namun kemana ummat islam? Kemana keinginan mereka untuk bersatu? Apa yang membuat mereka tertidur pulas di bawah sistem buatan kafir yang baru berdiri 100 tahun tapi sudah memperlihatkan kehancuran dan kebobrokan di sana-sini? Mengapa mereka bangga menyuarakan ”kami orang ini”, ”kami bangsa ini”, terkotak2 oleh nasionalisme yang membuat mereka tak peduli pada nasib saudara sesama muslimnya di negara lain, tak peduli pada penderitaan rakyat di palestina, rohingnya, suriah, mesir, dan hanya bisa pasrah dibawah kekuasaan kafir tanpa bisa melakukan apa2 untuk membantu saudaranya?! Bahkan masih tetap berharap pada sistem kufur yg tak pernah dicontohkan Rasulullah?

berikut adalah artikel mengenai seorang pastur yang mengetahui khilafah akan bangkit dan sampai mengarang buku untuk mencegah hal itu terjadi.

sumber:https://www.facebook.com/photo.php?fbid=244848592384590&set=a.117346021801515.1073741828.113598835509567&type=1&relevant_count=1

1452367_244848592384590_8233971681193588318_n

Oleh : Mujiyanto

Setelah Israel takluk, khalifah akan menyerang Amerika dan kemudian Eropa.

Ketika kaum Muslim di negeri-negeri Islam terpesona dengan demokrasi, para dedengkot Kristen justru khawatir akan berdirinya khilafah dalam waktu dekat. Sampai-sampai mereka menulis buku dan menyebarkannya ke seluruh dunia.

Pendeta Gerald Rowland, asal Queensland Australia, menerbitkan buku dengan judul cukup provokatif ‘Defeating the New Chaliphate” atau dalam terjemahan bebas berarti: Mengalahkan Khalifah yang Baru. Penulis buku ini telah lebih dari 50 tahun menjadi misionaris di berbagai belahan dunia dan pernah menetap di Yerusalem, Palestina.

Dalam bukunya, ia sangat mengetahui apa itu khilafah. Menurutnya, khalifah adalah pengganti Muhammad SAW dalam memimpin umat Islam di seluruh dunia. “Khalifah adalah pemimpin dalam agama dan politik, di mana khalifah memerintah imperium Islam. Yang paling terkenal adalah imperium Utsmani (Ottoman).”

Rowland pun membeberkan sejarah kekhilafahan Islam sejak masa setelah Nabi SAW hingga berakhirnya kekhilafahan Utsmani di Turki akibat ulah Mustafa Kemal Attaturk. Turki akhirnya berubah menjadi republik sekuler. “Dan tak ada lagi khalifah yang baru setelah itu,” tulisnya.

Upaya menegakkan khilafah itu, menurut Rowland, sedang berlangsung. Tujuan utama penegakan khilafah yang baru adalah menyatukan seluruh Muslim dunia dan menyebarkan Islam dengan dakwah dan jihad.

Kekhilafahan pertama akan berusaha menaklukkan dan menundukkan Israel, khususnya Yerusalem. Nantinya, tulis pendeta itu, ibukota khilafah berada di Yerusalem. Setelah Israel takluk, katanya, khalifah akan menyerang Amerika dan kemudian Eropa. “Dan itu tidak sulit karena akan ada jutaan orang yang rela mati, karena mengharap balasan yang berlimpah dari Allah jika mereka mati.”

Dalam buku itu Rowland menulis, banyak gerakan yang ikut andil dalam menegakkan kembali khilafah Islam ini di seluruh dunia. “Anehnya, yang paling vokal menyuarakan dari kelompok-kelompok ini adalah Hizbut Tahrir,” tulisnya sambil mengambil contoh HT Inggris dan Australia.

Ia sangat khawatir, khilafah Islam ini akan menjadi momok bagi kaum Kristen dan Yahudi. Dalam bayangannya, orang kafir nantinya akan dibunuh secara teratur oleh khalifah. Terhadap kondisi ini, Rowland menulis, “Sayangnya, gereja pada umumnya bodoh dan diam tentang ancaman serius ini yang sepenuhnya bermaksud untuk memusnahkan orang Yahudi dan Kristen, bersama dengan semua penganut untuk setiap agama lain di bumi.”

Makanya, menurutnya, setiap orang Kristen harus diinformasikan secara lengkap dan secara aktif bersiap menjadi prajurit Kristen dan berdiri bersama Israel ‘menanggung beban awal perang yang sangat nyata ini’.

Ia mengingatkan, serangan Islam menjadi langkah penting berdirinya khilafah yang baru. Jika Kristen dan Yahudi gagal menghadang, maka khilafah Islam akan menjadi ‘raksasa’ untuk mengatur kembali rencana dan harapan Islam.

Misionaris ini berharap dunia Barat bangun dalam menghadapi ancaman serius. “Dan mulai mengambil tindakan yang tepat untuk membendung air pasang ini yang akan pasti menyusul mereka jika tidak dihentikan.”

Sesuai Prediksi

Bagi Barat, Khilafah bukanlah ide utopis. Prof Noah Feldman, Dosen Law School, Harvard University, AS dalam bukunya yang berjudul, “The Rise dan The Down of Islamic State”, menulis, “Dapat ditegaskan bahwa meningkatnya dukungan rakyat (Islam) terhadap syariah Islam dewasa ini—meskipun pernah mengalami keruntuhan—akan dapat mengantarkan pada terwujudnya Khilafah Islamiyah yang sukses.”

Berdasarkan perhitungan yang matang kalangan intelijen Amerika Serikat, NIC (National Inteligent Council/Dewan Intelijen Nasional) yang berpusat di Washington dalam “The Global Future Mapping 2020” memperkirakan bakal berdirinya The New Islamic Chaliphate (Khalifah Islam yang baru) sebagai salah satu kekuatan dunia pada 2020. Ini adalah perkiraan para intelijen Amerika yang berasal dari seluruh dunia.

Dalam laporannya tahun 2004, NIC memprediksi empat skenario yang akan hadir pada masa 10 tahun ke depan, yakni:

1. Dovod World: “Digambarkan bahwa 15 tahun ke depan Cina dan India akan menjadi pemain penting ekonomi dan politik dunia”.

2. Pax Americana: “Dunia masih dipimpin oleh Amerika Serikat dengan Pax America-nya”.

3. A New Chaliphate: “Berdirinya kembali Khalifah Islam, sebuah pemerintahan Islam global yang mampu memberikan tantangan pada norma-norma dan nilai-nilai global Barat”.

4. Cycle of Fear : “ ‘Munculnya lingkaran ketakutan’, dalam skenario ini respon agresif pada ancaman teroris mengarah pada pelanggaran atas aturan dan sistem keamanan yang berlaku, akibatnya akan lahir dunia ‘Orwellian’ ketika pada masa depan manusia menjadi budak bagi satu dan tiga negara otoriter”.

Ketua Dewan Duma (Parlemen Rusia) Mikael Boreyev, dalam buku “Rusia Emperium Ketiga”, juga memprediksikan bahwa pada tahun 2020 mayoritas negara-negara di dunia akan mengalami kehancuran dan nanti hanya akan ada lima negara besar, yakni: Rusia, yang telah menggabungkan Eropa ke dalamnya; Cina, yang akan mendominasi negara-negara Asia Timur dengan kekuatan ekonomi dan militernya; Khilafah Islamiyah, yang akan membentang dari Jakarta hingga Tangier dan mayoritas daerah Afrika selatan padang pasir; dan Konfederasi yang menggabungkan benua Amerika Utara dan Amerika Selatan. Boreyev melihat bahwa India juga mungkin akan menjadi negara besar jika ia mampu menghadapi kekuatan Islam yang meliputinya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s