Galaunya Para Pengemban Dakwah Islam

sumber: buku karangan Arief B. Iskandar, “Hikmah-hikmah bertutur untuk jiwa yang mudah futur”, terbitan Al Azhar press

Dalam bukunya, Haml ad-Da’wah al-Islaamiyyah Waajibaat wa shifaat, Mahfud Abdul Lathif ‘Uwaidhah menjelaskan bahwa mengemban dakwah (Haml Ad-Da’wah) terdiri dari dua kata: mengemban (haml[un]) dan dakwah (ad-da’wah). Mengemban adalah satu hal dan dakwah adalah hal lain. Dakwah bisa dimaknai sebagai sekumpula pemikiran dan hukum-hukum syariah, yakni Islam itu sendiri secara keseluruhan. Adapun mengemban pada dasarnya sama dengan menyampaikan (tablig). Karena itu, mengemban dakwah bisa didefinisikan sebagai meyampaikan-kepada manusia-pelbagai pemikiran dan hukum-hukum syariah islam.

Setiap pengemban dakwah wajib istiwomah dalam mengemban dakwah, terkait dengan hal itu Allah berfirman:

“Sungguh telah didustakan pula para Rasul sebelum kamu, namun mereka tetap bersabar atas pendustaan dan penganiayaan yang dilakukan atas mereka hingga datang pertolongan Allah.” (QS. Al An’am [6]: 34)

Dalam ayat ini secara tersirat Allah memerintahkan kepada Rasul saw. Agar tetap sabar dan istiqomah dalam mengemban meskipun dihadapkan pada berbagai pendustaan dan penganiayaan orang-orang kafir yang menentang dakwah beliau. Sebab memang demikian pula yang dialami para Rasul sebelum beliau.

Masalahnya sederhana. Mengemban dakwah adalah menyampaikan ide-ide dan hukum-hukum ‘baru’ yang biasanya bertentangan dengan ide-ide dan hukum-hukum tradisi lama yang berkembang di tengah-tengah masyarakat. Karena itu, wajar jika dakwah yang haq sering dihadapkan pada penentangan masyarakat yang merasa ‘terusik’ dengan dakwah tersebut. Inilah sunnatullah yang berlakua dan dialami para nabi dan sahabat, serta tentu pengemban dakwah yang istiqomah mengikuti jejak langkah mereka dimanapun dan kapanpun.

Jika dulu Rasul dan para sahabat dihadapkan pada ide-ide, hukum-hukum, tradisi-tradisi jahiliah yang berpangkal pada paganisme (kesyirikan) maka saat ini para pengemban dakwah dihadapkan pada ide-ide, hukum-hukum dan tradisi-tradisi yang berpangkal pada sekulerisme. Saat ini, upaya mengusung ide serta hukum syariah dan khilafah, misalnya, dihadapkan pada ide HAM, demokrasi, pluralisme, nasionalisme/negara-bangsa, dll: dihadapkan pula pada penerapan UU dan hukum warisan para penjajah.

Tidak jarang, untuk itu para pengemban dakwah dilabeli dengan cap ‘fundamentalis, ‘ekstrimis’, bahkan ‘teroris’, baik oleh penguasa, masyarakat, ataupun musuh-musuh mereka dari kalangan kafir. Tidak jarang pula, perlawanan dari para penentang dakwah ini mengancam jiwa para pengemban dakwah.

Setiap pengemban dakwah haram untuk melenceng sedikit saja dari ide-ide dan hukum-hukum syariah. Sayangnya, tidak sedikit pengemban dakwah yang tidak istiqomah dengan dakwahnya. Misalnya: betapa banyak pengemban dakwah yang menyimpang dari ide-ide dan hukum-hukum syariah, entah karena kedangkalan pemahaman mereka atau karena sikap pragmatis mereka. Mereka tidak lagi menyerukan islam dalam wujud yang utuh sebagaimana yang diserukan Rasulullah saw. Mereka tidak berani secara tegas menyerukan syariah. Sebaliknya, mereka malah menyerukan ide-ide dan hukum-hukum sekuler yang bertentangan dengan ide-ide dan hukum-hukum islam, seperti: demokrasi, HAM, pluralisme, nasionalisme, dll. Padahal Allah SWT. Sendiri telah mengecam keras kekasihnya, Baginda Rasulullah saw seandainya beliau menyerukan apa yang tidak Dia perintahkan. Allah SWT. berfirman:

“Seandainya dia (Muhammad) mengada-adakan sebagian perkataan atas nama kami, niscaya kami benar-benar akan memegangnya pada tangan kanannya, kemudian memotong urat tali jantungnya…” (QS. Al Haqqah [69]: 44-46)

Yang lebih parah, banyak pengemban dakwah—yang tidak sabar ingin segera meraih kemenangan—menjerumuskan diri dalam kancah sistem kufur. Tidak aneh jika kemudian ada partai islam yang lebih konsisten menyerukan demokrasi ketimbang menyerukan penerapan syariah Islam karena khawatir partainya tidak laku dalam pemilu; berkoalisi dengan partai sekuler; atau memproklamirkan diri sebagai partai ‘terbuka’—yang memungkinkan orang-orang non muslim pun bisa menjadi anggota bakan pengurus partai—demi meraih konstituen sebanyak-banyaknya. Padahal, jika mereka konsiste memperjuangkan Islam, itu tidak akan mungkin mereka lakukan. Sebabnya, mustahil orang-orang kafir akan memperjuangkan Islam, padahal mereka sendiri mengingkari Islam.

Mungkin dengan semua itu, mereka menyangka akan meraih kemenangan. Jika kemenangan yang dimaksud adalah berhasilnya partai Islam atau para kadernya duduk di kursi kekuasaan, itu mungkin saja, namun, jika yang dimaksud adalah berdaulatnya idelogi Islam yang terwujud dalam penerapan syariahnya secara total oleh negara, maka  itu hanya mungkin diraih dengan keistiqomahan dan keteguhan dalam mengemban dakwah, apapun resikonya!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s