Yang tak pernah disadari oleh pendukung capres nomor urut 1 atau 2…

yang tak pernah disadari oleh pendukung capres nomor urut 1 atau 2, bahwa mereka berdua tak akan memberi perubahan apa-apa pada kehidupan umat islam di Indonesia, apalagi di seluruh dunia. uang riba akan selalu berada di sekitar kita, dan sebagian besar masyarakat masih menganggap riba bukan sesuatu yang haram karena pemerintah tak pernah melarangnya, tak pernah mengharamkannya, dan membiarkannya tumbuh bebas dalam sistem perekonomian negara ini. Dalam tiap rupiah gaji yang kita terima, dalam tiap suap makanan yang kita makan, yakinkah semua itu tak pernah dihinggapi oleh debu-debu riba? mungkin tak heran jika iman kita masih sulit untuk tetap berada di atas, kita masih sulit untuk bisa istiqomah, karena kita tak bisa memastikan apakah semua makanan yang masuk ke dalam perut ini bersih dari hal yang HARAM…

yang tak pernah disadari oleh pendukung capres nomor urut 1 atau 2, bahwa mereka berdua tak pernah sekalipun menyebut-nyebut akan menerapkan syariat islam, akan menjunjung hukum2 Allah sang pencipta, dan masih memelihara bahkan membuat kembali hukum2 baru, hukum2 yang menyaingi hukum buatan Allah, menyaingi hukum buatan sang pembuat manusia. Siapalah kita ini, berani menyaingi Allah dalam membuat hukum. siapalah kita ini, berani memberikan toleransi kebablasan pada kemaksiatan, berani melegalkan penjualan minuman keras, berani melegalkan perzinahan, bahkan berani membuat aturan untuk melarang wanita muslimah yang ingin berhijab. Tidak ingatkah dari mana kita berasal? dari setetes air yang kotor, na’jis dan hina. tak ada hak untuk kita yang lemah ini berani menandingi hukum2 Allah sang pemilik tubuh ini, pemilik seluruh jagad raya dan seisinya.

yang tak pernah disadari oleh pendukung capres nomor urut 1 atau 2, bahwa mereka berdua adalah penganut paham sekulerisme. paham yang memisahkan agama dari kehidupan, agama hanya berlaku di masjid dan di rumah, tidak untuk diterapkan dalam pergaulan, dalam perekonomian, dalan dunia pekerjaan, apalagi dalam pemerintahan. Paham yang sangat mengagungkan kebebasan seperti kebebasan mengeluarkan pendapat, kebebasan berprilaku, kebebasan kepemilikan. Kebebasan-kebebasan inilah yang membuat tatanan kehidupan ummat islam menjadi hancur. SIapa saja akan merasa bebas bersuara, mengatakan apapun, bahkan menghina Allah dan Rasulullah. Siapa saja bebas bergaul seluas mungkin, tak memperhatikan kaidah pergaulan antar ikhwan dan akhwat, bercampur baur antara yang bukan muhrim menjadi hal yang sangat lazim, pacaran sudah jadi budaya yang susah sekali dihilangkan, seks bebas? jangan tanya! sudah banyak bukti hasil survei yang menunjukkan angka kejadian seks bebas di kalangan remaja semakin meningkat. kebebasan kepemilikan mengakibatkan semua sumber daya alam bangsa bebas di raup oleh pihak swasta dan asing, dan yang tersisa untuk rakyat hanyalah debunya saja.

yang tak pernah disadari oleh pendukung capres nomor urut 1 atau 2, bahwa mereka berdua akan tetap mengusung sistem perekonomian kapitalis. Sistem yang hanya akan menguntungkan para pemilik modal besar. sehingga tidak heran jika pemerintahan ini dikendalikan pula oleh para pemilik modal tersebut. kebijakan pemerintah ‘dijinakkan’ agar keberadaan perusahaan-perusahaan besar ini tidak mudah digoyahkan. ada simbiosis mutualisme antara para pengusaha besar dengan pemerintah, simbiosis yang tak pernah sekalipun menguntungkan pihak lain selain mereka (baca: rakyat kecil). yang miskin akan tetap miskin. mati pun tak akan dipedulikan. Kapitalisme, adalah paham yang sangat mengagung-agungkan UANG. jadi jangan heran jika korupsi bisa jadi sangat mengakar begini di dalam pemerintahan kita. jangan pernah heran! karena demi uang dan kekuasaan, apapun akan dilakukan, bahkan memakan rakyat nya sendiri.

yang tak pernah disadari oleh pendukung capres nomor urut 1 atau 2, bahwa meskipun ada salah satu capres yang dengan lantang dan berapi-api mengatakan “Saya akan menjaga kedaulatan bangsa ini dari tangan-tangan asing yang ingin menguasai dan mengeruk kekayaan kita…!!!!” kita lihat saja, apakah nantinya setelah mereka terpilih mereka bisa serta merta meruntuhkan kerajaan perusahaan asing yang sudah bertahun-tahun bercokol di Indonesia, bertahun-tahun mengeruk kekayaan alam kita seperti newmont, freeport, petronas, dan lain-lain?! padahal dalam sistem islam, kepemilikan individu tidak boleh menguasai kepemilikan umum. sedangkan dalam sistem yang diusung para capres ini (sistem demokrasi) jangankan kepemilikan umum, pulau saja bisa dibeli oleh siapa saja yang berduit.

Mungkin para pendukung capres ini merasa bahwa indonesia telah merdeka SEPENUHNYA. padahal kenyataannya tidak demikian. Mungkin benar bahwa kita telah merdeka secara fisik, tidak dijajah seperti dulu, tidak dijadikan buruh, tidak disuruh untuk kerja rodi, tapi tidak kah kalian sadar bahwa kita masih dijajah melalui budaya, melalui nilai-nilai agama yang dibuat menyimpang, melalui undang-undang yang kufur terhadap Allah???!!!! justru penjajahan seperti ini yang jauh lebih berbahaya! penjajahan fisik lebih bisa membuat rakyat mendekat pada Allah, mengingat Allah, meminta bantuan kepada Allah. sedangkan penjajahan mental? karena masyarakat tidak merasakan penjajahan itu secara langsung, maka mereka membiarkan diri mereka terlena, memasrahkan diri mereka untuk dijajah, Terlena oleh aturan yang tak menganggungkan Islam, karena merasa diri sudah hidup nyaman, karena merasa “yang penting kita bisa ibadah tenang”. padahal di luar sana, ada masih banyak saudara kita sesama muslim yang tak bisa beribadah dengan tenang, yang setiap detik hidupnya diwarnai oleh suara ledakan bom, yang anggota keluarganya dibunuh dan dibantai di depan matanya. Padahal di luar sana, saudari kita yang ingin berhijab malah terbentur oleh aturan negara, dianggap teroris, bahkan dilecehkan secara seksual. Apakah masyarakat indonesia ini harus diberikan penjajahan fisik (lagi) baru mau menyadari bahwa kembali pada jalan Allah adalah jalan yang paling benar? tidak kah mereka menyadari bahwa AS telah mengepung Indonesia dengan mendirikan pangkalan militer di berbagai titik yang mengelilingi negara ini? akan sangat mudah untuk kita secara fisik dijajah lagi oleh mereka. tinggal lemparkan saja bom nuklir ke Indonesia, kacaulah negara ini. na’udzubillahimindzalik. semoga tidak seperti itu kejadiannya, semoga Allah masih memaafkan kita dan memberikan kita kesempatan untuk bertaubat… 😥

saya benar-benar tak habis pikir. bagaimana bisa mereka begitu menggebu-gebu mempromosikan capres yang tak pernah sedikit pun memikirkan nasib ummat islam? sedangkan kemaksiatan di sekitar mereka dibiarkan begitu saja? bagaimana bisa mereka marah dan berang ketika pancasila dihina, NKRI diganggu kedaulatannya, sedangkan ketika Rasulullah di caci, dibuat karikaturnya, dihina, dan Al Qur’an dijadikan tissue toilet mereka tidak bersuara? malah mengatakan “kita orang islam harus sabar, bukankah dulu Rasulullah sabar saja ketika dilempari kotoran oleh kafir quraisy?” Astaghfirullaaah….dimanakah kita letakkan hati nurani kita??? 😥

mari pikirkan kembali pilihan kita, 1 atau 2 itu sama saja. pilih saja Allah dan Rasulullah agar hati lebih tenang. saling mencerca dan menghina hanya karena fanatik pada salah satu capres tak akan menambah timbangan amal baik kita di hari penghisaban nanti, malah akan memberikan kehinaan pada kita dihadapan ALLAH. selagi masih ada umur, selagi masih ada sisa waktu, selagi Allah masih menganugerahkan kita kesempatan untuk menghirup napas dalam-dalam, renungkanlah kembali semuanya, semua yang terjadi dalam hidup ini, semua realita ummat saat ini. kembalilah pada jalan yang diridhoi Allah. kembalilah pada jalan yang dicontohkan Rasulullah. bergabunglah bersama mereka yang istiqomah menyuarakan penegakan syariat islam tanpa harus masuk ke dalam sistem pemerintahan yang kufur ini. semoga Allah membuka pintu-pintu hati kita yang masih tertutup rapat. semoga Allah selalu menunjukkan kita jalan yang Ia Ridhoi… 🙂

Beda Calon Khalifah dengan Calon Presiden :D

Saat Umar bin Abdul aziz dibaiat menjadi khalifah (kepala negara), kalimat pertama yg meluncur dari bibir beliau adalah ”inna lillaahi wa inna ilayhi raaji’un”

sebelumnya, Umar memang sudah berusaha keras menolak untuk di angkat menjadi khalifah. Namun umat tampaknya lebih keras memaksa agar beliau bersedia menjadi khalifah. Lalu terjadilah pembaiatan itu. Akhirnya, dengan ikhlas dan ridha, Umar menerima baiat umat. Namun hal itu tidak membuat beliau tenang. Kegelisahan di dada ia bawa saat pulang ke rumahnya. Ia mengurung diri di kamarnya dan menangis. Dalam benaknya terbayang, jutaan rakyatnya siap menuntutnya di hadapan pengadilan Allah pada hari kiamat nanti jika ia tidak bisa melayani, mengayomi dan melindungi mereka. Karena itulah, bagi beliau, amanah kekuasaan yang baru saja beliau terima adalah ‘musibah besar’. Khalifah umar bin abdul aziz menyadari betul sabda baginda Nabi saw.

”sesungguhnya kekuasaan itu amanah. Pada hari kiamat nanti ia akan berubah menjadi kehinaan dan penyesalan, kecuali bagi orang yang mengambilnya dengan haq dan menunaikan apa yang diamanahkan di dalamnya.” (HR. Muslim)

sumber: hikmah-hikmah bertutur untuk jiwa yg mudah futur, karangan arief b. Iskandar

kisah singkat tentang khalifah Umar bin Abdul Aziz di atas telah memunculkan pertanyaan dalam benak saya, “Ada tidak ya, di zaman sekarang orang yang seperti ini? Yang tidak mau dipilih menjadi pemimpin karena takut akan pengadilan Allah di hari akhir jika ia tak mampu melakukan amanah yang diembankan padanya? yang takut tidak dapat menerapkan hukum dan syariat islam dengan baik di tengah-tengah rakyat yang dipimpinnya????

kenyataan yang kita saksikan saat ini, para penguasa dan calon penguasa negeri ini sangat percaya diri mempromosikan dirinya, bahkah jauh-jauh hari sebelum putaran pemilu dimulai. mereka dengan mudahnya menebarkan janji, membual tentang ini dan itu, tapi ketika diberikan kekuasaan, bisakah mereka amanah? bisakah mereka menjalankan janji-janji yang sudah terlanjur dilontarkan itu? sudah terlalu banyak bukti yang memperlihatkan bahwa sesiapa yang begitu menginginkan kekuasaan dan sampai melakukan berbagai macam cara untuk mendapatkan kekuasaan itu, ketika sudah di dapat apa yang diinginkannya, tidak akan ingat pada tanggung jawab utamanya, tidak ingat apa yang diamanahkan rakyat kepadanya, tidak ingat dosa, tidak ingat hukuman dan azab dari Allah….

jadi marilah kita mencari pemimpin yang tidak berlebihan mempromosikan dirinya. kalau sekarang tidak ada, ya berarti tak usah pilih siapa-siapa. hihihi….

Kami bukan manusia sempurna, sungguh….

Ada perbedaan yang jauh sekali antara membenci manusia dengan membenci kemaksiatan…
Ada perbedaan yang jauh sekali antara memperingatkan dan menasehati, dengan mencerca dan menghina…

Biasanya, saat seseorang mengungkapkan sesuatu, akan bisa ditangkap berbeda oleh orang yang mendengarkannya. Kenapa? Karena semua dikembalikan pada ‘hati’. Jika hati ikhlas menerima kritik, mendengarkan nasehat dari orang lain, dan mau membuka diri, maka penerimaannya akan baik. Sedangkan hal ini akan ditangkap berbeda jika hati tak mau di ajak ‘bekerjasama’. Sebaik apapun bahasa seseorang, jika ‘hati’ masih tak mau bekerjasama, maka akan tetap terasa sebagai sindiran, hinaan dan cercaan yang membuat kita jadi sangat tersinggung. 

Saya pun dulu pernah mengalaminya, ketika seseorang mengatakan ‘pacaran itu haram’ dan saya masih menjalaninya. Tiba-tiba di kepala rasanya keluar tanduk. Kesel se kesel keselnya.  maka marilah kita membuka si hati dan ajak dia bekerjasama, agar kita bisa menerima semuanya dengan hati yang lapang. Menasehati seseorang itu kewajiban setiap muslim, bahkan seorang pendosa seperti saya pun punya kewajiban untuk tetap mengingatkan kebaikan pada orang lain. Bukanlah berarti saya atau rekan2 lain yg ingin berdakwah itu merasa diri sempurna dan tanpa cela. Dihadapan Allah, saya hanyalah seorang manusia yang berlumuran dosa, dan masih bergelut dengan keras untuk menghapus dosa-dosa ini satu per satu. Tapi kewajiban tetaplah kewajiban. Tetap harus ditunaikan, karena jika tak ditunaikan justru akan semakin menambah berat timbangan dosa kelak di hari akhir. Semoga Allah selalu memaafkan kesalahan kita semua dan memberikan kita hati yang penuh keikhlasan. 

Umat Islam Bagaikan Tali yang Terputus-putus

tidakkah hadits ini mampu menggambarkan bagaimana kita saat ini? bagaimana ummat muslim secara keseluruhan saat ini?

inilah yg terjadi pada ummat islam. Ummat ini terpecah karena simpul pemerintahan (khilafah) yg pertama kali lepas, maka lepaslah simpul2 lain nya. Bahkan perkara ‘sholat’ pun kini sudah membuat kita semakin terpecah dan terputus-putus menjadi bagian-bagian kecil yang tak punya kekuatan sama sekali jika digerus oleh zaman dan kekuatan asing….

sadarilah wahai saudara saudariku yang kusayangi…

10452313_664037850349214_8531212309026580875_n

Umat Islam – DULU dan KINI

Dulu saat masyarakat eropa masih percaya takhayul, semua barang yg menjadi hasil science dianggap memiliki kekuatan magis, masyarakatnya berada dalam kebodohan hingga masa itu dikatakan sebagai masa kegelapan di eropa (dark age).

Sedangkan di jazirah arab di mana masa kekhilafahan masih berjaya dengan daerah kekuasaan yg membentang sangat luas dan sistem pemerintahan islam masih di gunakan, ilmu pengetahuan sangat berkembang pesat dan bermunculan berbagai cendekiawan dari berbagai bidang ilmu, seperti ibnu sina dalam bidang kedokteran, az zahrawi dalam bidang ilmu bedah, al khawarizmi sebagai ahli matematika, jabir ibn hayyan dlm bidang kimia, al idrisi pakar geografi, nashrudin ath thusi pakar astronomi, imam empat mazhab (hanafi, maliki, syafii, hanbali) dalam bidang ilmu islam. mereka muncul dan memberikan kemajuan bagi peradaban Islam hingga nama daulah/negara islam sangat dihormati, disegani, dan ditakuti pada masa itu. 

Mereka bisa muncul karena sistem pemerintahan yg digunakan adalah sistem pemerintahan islam, yg memberikan keluasan dan keleluasaan bagi siapapun untuk mengembangkan diri, menambah ilmu sebanyak-banyaknya, tanpa memikirkan biaya pendidikan, tanpa harus susah dengan uang gaji yang habis karena biaya kesehatan. Pendidikan dan kesehatan di gratiskan, semua sumber daya alam yang menunjang hajat hidup orang banyak di kelola langsung oleh negara, tidak boleh ada pihak swasta dan asing yang mengelola dan melakukan privatisasi untuk keuntungan pribadi. Dan hasil dari sumber daya alam digunakan sepenuhnya untuk kesejahteraan ummat. Perpustakaan dan laboratorium berdiri di setiap sudut kota, semua orang boleh dengan bebas mengasah kemampuannya dan berlatih menjadi penemu.

Coba lihat apa yg terjadi pada umat islam saat ini. Jika disebut nama islam di tengah2 bangsa barat, mereka akan mengatakan ”islam itu bodoh, miskin, kotor, terbelakang, mudah di profokasi, mudah dikendalikan, mudah di pecah belah, teroris,” tak ada lagi yang tersisa dari umat islam saat ini. Tak ada lagi nama besar islam yang kuat dan dihormati. Tak ada lagi kedigdayaan daulah islam.

Umat islam saat ini meski jumlahnya banyak namun seperti buih di lautan. Mereka fokus mempertahankan kesukuannya, kenegaraannya, tak peduli pada saudaranya di negara lain yg sedang menderita dan disiksa. Mereka banting tulang mencari nafkah untuk makan dan menyekolahkan anaknya, sedangkan biaya pendidikan semakin melambung tinggi. Yang bisa bebas sekolah di mana saja sampai jadi profesor hanya orang2 berduit. Baru punya uang sedikit namun akhirnya jatuh sakit, mereka harus lagi merogoh kocek dalam-dalam guna membayar biaya kesehatan yg semakin tinggi membumbung dan sudah di komersialisasi oleh beberapa pihak.

Di Indonesia, minyak bumi, emas, perak, tembaga, batu bara, hasil hutan, hasil laut, mau cari apa lagi? Semuanya ada! Tersedia dan gratis diberikan oleh Allah? Tapi apa yg terjadi? Perusahaan2 besar bernama freeport, petronas, newmont dan lain2 lah yg menguasai, dan itu DILEGALKAN oleh pemerintahnya sendiri karena tak bisa membiayai anak bangsa untuk mengelola sumber daya alam nya sendiri. 

beginilah nasib umat tanpa seorang khalifah yang melindungi dan mengayominya. Sudah begini keadaan umat di seluruh dunia, masih saja ada yang mengatakan khilafah tidak dibutuhkan. Masih saja ada yg tidak percaya bisyarah Rasulullah bahwa di akhir zaman akan muncul kembali khilafah rasyidah. Masih saja ada yang percaya pada sistem pemerintahan yg memang digunakan musuh2 Allah untuk memecah belah ummat agar mementingkan kesukuan dan kenegaraannya saja. Masih saja ada yang mengatakan islam tak pernah mengajarkan berpolitik dan islam tak perlu dikejar dan dibangkitkan dengan politik. Masih saja ada yang mengatakan ‘hanya’ perbaikan individu yg dibutuhkan utk memperbaiki kerusakan dan kebobrokan yang ada di seluruh dunia ini dan tidak butuh koar2 menegakkan khilafah dan syariat islam. Masih saja ada yang mengatakan orang2 yang memperjuangkan tegaknya khilafah, memperjuangkan janji Allah dan kabar gembira Rasulullah, sebagai perusak ukhuwah, perusak NKRI, aliran sesat…ya Rabbi, maafkan kami, dan tunjukkanlah kami jalan yang lurus dan engkau ridhoi…

si melankolis yang suka menulis :D

sejujurnya, saya punya dua modal utama dalam diri saya yang biasanya saya jadikan pelampiasan bila ada masalah, yaitu menangis dan menulis. hahaha, kedengarannya lucu ya. mungkin memang benar, orang-orang yang melankolis, yang sering menangis, yang sering merasa sendiri dan kesepian, yang sering merenung, akan mudah sekali menjadi penulis dan menelurkan karya-karya yang baik. saya mungkin belum sampai tahapan ‘menelurkan karya yang baik’, masih jauh sekali malah, tapi memang terasa, kalau sedang sedih, bahkan kalau sedang menangis, otak saya begitu lancar mengeluarkan berbagai macam kosa kata yang sebelumnya tak pernah saya gunakan dalam pergaulan sehari-hari, kata-kata yang saya sendiri sampai heran “ini saya kok bisa nulis begini ya? gimana ceritanya?” 😀

menulis, bagi saya adalah suatu kenikmatan, cara saya untuk ‘bicara’ dan mengeluarkan seluruh isi hati. jujur, saya bukan orang yang fasih dalam berkata-kata jika di dunia nyata, saya lebih sering terbata-bata kalau disuruh untuk ngomong pakai bahasa formal. tapi kalau disuruh nulis, ngaliiiiiir semua, nggak bisa ditahen kadang, semua ide rasanya berlomba-lomba, berebutan pengen dijadikan yang terdepan. meski sudah saya coba untuk sering-sering mengasah kemampuan berbicara saya, tetap saja begitu-begitu terus hasilnya. 😀

jadi inilah saya, seorang wanita melankolis (caeddaah… 😀 ) yang punya hobi menulis, duduk dibalik layar komputer, dan menggerakkan jari-jari kesana kemari, menulis sebanyak mungkin yang saya bisa, menghasilkan sebanyak mungkin karya. saya hanya berharap, apa yang saya tulis dalam blog ini dapat memberikan banyak manfaat untuk siapapun yang membacanya. in syaa Allah… 🙂