Curhat Colongan: kendala dalam menyampaikan materi ideologi islam di tengah masyarakat

Ada kenyataan pahit yang saya temukan setelah berdiskusi dengan beberapa teman mengenai islam, mengenai penegakan syariat islam dan khilafah. Dari diskusi ini saya mengambil kesimpulan “intensitas mengenal seseorang yang lama, bahkan sampai bertahun-tahun tidak lantas membuat kita benar-benar bisa saling memahami karakter pribadi masing-masing”. Mereka yang saya pikir akan welcome dan dengan senang hati diajak untuk mendiskusikan agama malah terkesan acuh tak acuh dan risih jika diajak mendiskusikan hal seperti itu, mendiskusikan sesuatu yang terkesan beda dan aneh, mendiskusikan tema yang asing di telinga, mendiskusikan sesuatu yang berada di luar ‘zona nyaman’ mereka.

Ada begitu banyak toleransi terhadap kemaksiatan, toleransi terhadap penyimpangan hukum Allah, semua serba di toleransi, begitulah kesimpulan yang saya ambil dari gaya bahasa rekan-rekan saya tersebut. Sudah mulai rancu batasan maksiat ada di mana, sudah mulai rancu antara mana yang jelas-jelas haram dan mana yang mubah, semuanya jadi rancu karena mereka lebih banyak menggunakan dalil logika dan akal-akalan manusia (yang serba terbatas) dalam melihat problematika ummat. Ketika saya tanyakan “apa dalilnya shahihnya? Apakah ada di Al Qur’an dan As sunnah?” mereka sering berkelit dari pertanyaan macam ini, tidak mau menjawab langsung atau ada yang terang-terangan mengatakan “saya tidak cukup ilmu untuk memberikan dalil”, padahal dalam setiap langkah yang kita ambil harus didasarkan pada aturan Allah, didasarkan pada syariat islam, sudah sesuaikan langkah kita itu dengan ketentuan Allah? Sudah sesuaikah dengan ajaran yang dibawa Rasulullah? Adakah dalilnya? Kuatkah dalil itu? Harusnya itu yang kita pikirkan baik-baik sebelum mengambil langkah, sebelum mengambil keputusan, sebelum percaya dan yakin pada sesuatu atau seseorang.

Bahkan ada salah satu diantara mereka (yang ber’aliran’ tertentu, saya rasa tidak perlu saya sebutkan aliran apa, agar tidak menyinggung perasaan pembaca) yang mengatakan hizbut tahrir itu sesat, hizbut tahrir itu keliru, Rasulullah tidak pernah mengajarkan ummatnya untuk berpolitik, tidak pernah mendirikan daulah islam, dan bisyarah Rasulullah tentang khilafah itu tidak ada. Saya lantas berpikir, “Ah, selama ini ada saja beberapa anggota masyarakat yang berpikir bahwa HT itu perusak ukhuwah, karena sering memprotes kebijakan pemerintah. Tapi kok oknum2 seperti seperti ini tidak pernah ada yang tahu. Oknum-oknum yang menebar kebencian dari belakang. Mereka diam-diam, dibalik layar, mengkaji tentang keburukan hizbut tahrir (menurut versi mereka, tanpa pernah mencari tahu apakah memang benar demikian, memang benar buruk) dan mencap saudara sesama muslim nya sebagai pengikut aliran sesat, hanya karena menurut mereka negara islam itu sudah ada (Saudi arabia) dan tidak perlu lagi didirikan negara islam lainnya, hanya karena kesalah-pahaman tentang materi qadha dan qadar.” Orang-orang inilah yang sebenarnya cocok diberikan label perusak ukhuwah, tukang sebar fitnah tak berdasar, penebar kebencian terhadap sesama muslim. Tapi yang selama ini yang diberikan cap jelek itu siapa? Selalu hizbut tahrir. Kenapa? Karena apa yang dibawa hizbut tahrir itu terkesan ‘gila, aneh, utopis, tidak real, tidak relevan untuk keadaan masyarakat’ bagi sebagian orang.

Ada pula yang mengatakan HT Cuma ngomong doang, bisanya hanya menyebarkan kebencian dan menjelek-jelekkan saudara sesama muslim sendiri. Ya Rabbi, pemikiran seperti ini lebih tidak bijak lagi. Sekarang jika saya tanya balik, pernah HT itu menyebarkan aib pribadi si fulan atau fulanah? Pernah kami menjelek-jelekkan fisiknya, mengorek-ngorek aib keluarganya seperti yang dilakukan oleh para pelaku black campaign? Pernah? Coba diperhatikan lagi, ditelaah lagi, apa sih yang biasanya kami lakukan? Kami memprotes kebijakan mereka, terutama kebijakan yang bertentangan dengan islam, bertentangan dengan hukum Allah, bertentangan dengan syariat, itu yang kami lakukan. Jika semua orang hanya boleh bicara lemah lembut, lantas siapa yang akan bicara dengan lantang dan tegas mengatakan “Ini HARAM, ini tidak diperbolehkan dalam Islam! Tinggalkan ini, jangan ikuti lagi. Mari kembali pada jalan Islam yang lurus.” Bukankah itu namanya nahi mungkar, mencegah dari kemungkaran, menyuarakan contoh-contoh kemaksiatan terhadap Allah di tengah-tengah masyarakat agar mereka sadar bahwa “oh iya, ini salah, harusnya kita sebagai muslim tidak begini.” Dan apakah kami hanya bisa protes-protes di jalan dan di sosmedd saja? Jelas tidak. Hizbut tahrir itu sudah sering, bahkan terlalu sering, mendatangi langsung oknum pemerintah yang bersangkutan, untuk memberikan nasehat agar mereka tidak melakukan hal-hal yang dibenci Allah dan dilarang agama. Tapi tak pernah digubris oleh si bapak-bapak dan ibu-ibu penguasa itu. pernah ada yang tahu metode kami yang seperti ini? Pernah di blow up media? Hanya demo-demo nya saja mungkin yang di blow up, agar kelihatan jeleknya hizbut tahrir di hadapan masyarakat. Tahu sendiri lah media yang ada sekarang sudah di setting dengan sedemikian rupa, sesuai permintaan pemilik kepentingan, “by request” istilahnya.

Saya pernah mendapatkan perumpamaan yang bagus sekali dari musyrifah (guru ngaji) saya tentang perbedaan gaya dakwah Umar bin Khattab dan Abu Bakar Asy Syidiq. Abu bakar adalah orang yang lembut sekali hatinya, lembut tutur katanya, hampir tidak pernah marah. Sedangkan Umar adalah orang yang tegas, keras, garang terhadap kemaksiatan, bahkan Syaithan pun takut padanya, sedikit-sedikit pedang, sedikit-sedikit pedang. Lantas apakah kemuliaan abu bakar jauh lebih tinggi dibanding umar bin khattab hanya karena sifatnya yang jauh lebih lembut dalam berdakwah? Tentu tidak. Setiap orang itu punya gaya bahasa dan penyampaian yang berbeda-beda, ada yang lembut, ada yang senang menjelaskan panjang lebar, ada yang penjelasannya singkat padat dan jelas, dan ada yang tegas, terkesan saklek dan keras. Apakah yang keras itu salah? Selama yang ia suarakan adalah amar maqruf nahi mungkar, semafhum saya tidak ada yang salah. Toh tidak sampai merusak fasilitas umum kan? Palingan hanya menyindir sedikit lewat tulisan.

Ada pula beberapa orang yang tiba-tiba muncul untuk menanyakan ini dan itu, saya kurang tahu maksudnya memang ingin tahu, atau ingin mengetes kemampuan, atau untuk mengajak berdebat. Tapi ketika saya tawarkan untuk melanjutkan diskusi dengan tatap muka langsung dengan anggota HT, mereka semua kabur, hilang entah kemana, bahkan ada yang tiba-tiba meng’unfriend’ saya di sosmed, padahal hubungan persahabatan itu sudah lama sekali terjalin, dan tiba-tiba terputus karena masalah sepele, yaitu “mempersilahkan agar dakwahnya di oper ke rekan yang sesama ikhwan, agar bisa lebih leluasa untuk diskusi, tidak menimbulkan fitnah jika maunya hanya diskusi dengan akhwat saja”. Hadeh…saya benar-benar tidak paham dengan yang begini ini.

Memang sulit, sulit sekali berdakwah untuk kembali pada syariat islam di tengah-tengah masyarakat yang sudah sangat sekuler ini. Pemisahan agama dengan kehidupan yang terjadi sudah benar-benar mengakar, karena mereka sudah ‘terbiasa’ hidup dalam kondisi seperti itu sejak kecil. Setiap segi kehidupan sudah sekuler, agama hanya diletakkan di masjid, tidak boleh dibawa-bawa keluar.

Untuk para pengemban dakwah yang membaca tulisan saya ini, saya mohon, jangan patah semangat untuk terus menyuarakan perbedaan yang haq dan yang bathil. Biarlah satu dua orang menjadi pembencimu, do’akan saja Allah membuka pintu hatinya untuk kelak menjadi orang yang terdepan membela agama Allah. Toh kita berjuang bukan untuk kepentingan golongan kan? Tapi untuk kemenangan islam. Jadi demi agama ini, mari kuatkan semangat dan tekad untuk terus berdakwah di jalan Allah. Semoga kita tetap istiqomah. ^_^

2 thoughts on “Curhat Colongan: kendala dalam menyampaikan materi ideologi islam di tengah masyarakat

  1. I know exactly how it feels…

    Sesat, wah itu paling langganan deh… “Lapor polisi aja!” Tapi ga bisa membuktikan sesatnya gimana. Hm, susah.

    jangan patah semangat untuk terus menyuarakan perbedaan yang haq dan yang bathil. Biarlah satu dua orang menjadi pembencimu, do’akan saja Allah membuka pintu hatinya untuk kelak menjadi orang yang terdepan membela agama Allah. Toh kita berjuang bukan untuk kepentingan golongan kan? Tapi untuk kemenangan islam. Jadi demi agama ini, mari kuatkan semangat dan tekad untuk terus berdakwah di jalan Allah. Semoga kita tetap istiqomah. ^_^

    Aamiin…😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s