Apakah Seruan Amar Ma’ruf Nahi Munkar dapat Merusak Ukhuwah? Let’s Think Again….

Kita harus jeli membedakan mana yg termasuk amar ma’ruf nahi munkar dan mana yg termasuk fitnah perusak ukhuwah…

Apakah protes tegas terhadap kemakisatan tidak diperbolehkan dalam agama? Jika ada peraturan penguasa yang mencabik2 hak seorang muslim untuk menjalankan syariat agamanya dan meraup uang rakyat demi kepentingan pribadi, apa lantas kita harus diam dan tak boleh bersuara? Tak boleh menegur dan menasehati mereka? Tak boleh menjelaskan pada masyarakat mana yg salah dan mana yg benar?

Mungkin kisah-kisah dibawah ini bisa kita jadikan bahan perenungan. Ada banyak sekali contoh kisah para ulama terdahulu yg hidupnya berada dalam penyiksaan fisik dan psikis akibat keberanian dan ketegasannya dalam menentang kedzliman penguasa. Mereka tabah dan sabar menghadapi segala macam tantangan dan halangan demi memperjuangkan islam dan umatnya, bukan demi membela kepentingan pribadi, pemimpin, atau kelompoknya. Mereka tidak menyembunyikan apalagi memutar balikkan syariah Islam.

Hasan Al Bashri adalah seorang di antara para ulama yg begitu besar rasa takutnya kepada Allah. Sebaliknya, ia tak pernah gentar terhadap penguasa dunia yg lalim. Beliau berani menentang penguasa Hijaj bin Yusuf ats-Tsaqafi, penguasa Iraq yg lalim pada zamannya. Ia berani mengungkap keburukan perilaku penguasa tersebut di hadapan rakyat dan menyampaikan kebenaran di hadapannya. Beliau sangat terkenal dengan ucapannya, ”Sesungguhnya Allah telah mengambil perjanjian dari para pemilik ilmu untuk menjelaskan ilmu yg dimilikiNya kepada manusia dan tidak menyembunyikannya.” karena keberaniannya itulah beliau harus menanggung penderitaan.

Demikian pula Sufyan ats Tsauri. Rasa takutnya kepada Allah begitu besar. Sebaliknya, keberaniannya terhadap penguasa lalim pun tak diragukan. Ia pernah menentang apa yg dilakukan penguasa Abu Ja’far al Manshur ketika dia mendanai dirinya dan para pengikutnya yang beribadah haji ke Baitul Haram dalam jumlah yg sangat besar, yg diambil dari baitul mal milik kaum muslim. Dengan sikapnya ini, hampir saja polisi al-manshur membunuh sufyan.

Abu hanifah pernah menolak jabatan yang ditawarkan Abu Ja’far al-manshur dan menolak uang 10.000 ribu dirham yg akan dberikan kepadanya. Kemudian ia ditanya oleh seseorang, ”apa yg anda berikan kepada keluarga anda, padahal anda telah berkeluarga.” beliau menjawab, ”keluargaku kuserahkan pada Allah, sebulan aku cukup hidup dengan 2 dirham saja,”

dalam riwayat lain disebutkan, suatu ketika khalifah muawiyah hendak memulai pidatonya. Saat itu Abu Muslim al Khaulani segera berdiri dan berkata bahwa ia tidak mau mendengar dan menaati khalifah. Ketika ditanya alasannya, beliau menjawab ”karena engkau telah berani memutuskan bantuan kepada kaum muslim. Padahal harta itu bukan hasil keringatmu dan bukan harta ayah-ibumu.” mendengar itu khalifah muawiyah sangat marah. Ia lalu turun dari mimbar, pergi dan sejenak kembali dengan wajah yg basah. Ia membenarkan apa yg dikatakan Abu Muslim dan mempersilahkan siapa saja yg merasa dirugikan boleh mengambil bantuan dari baitul mal (Al Badri, Al Islam bayna al ulama’ wa al hukkam, hlm. 10)

lalu bagaimana dengan Rasulullah? Rasulullah dahulu berdakwah dikalangan kafir quraisy yg hidupnya sangat amat jahiliyah. Perzinahan, pembunuhan terhadap anak perempuan, penyiksaan terhadap kaum wanita, penyembahan terhadap berhala, dan segala macam jenis kemaksiatan lainnya terjadi disana. Dakwah Rasulullah pada saat itu mendobrak tatanan hidup kafir quraisy yg sudah menganggap semua jenis kemaksiatan itu sebagai sesuatu yg lumrah dan sudah jadi bagian dari tradisi sehari-hari. Itulah yg membuat para penguasa kafir quraisy berang akan kemunculan rasulullah dan dakwah yg disampaikannya. Mereka merasa kedudukan mereka sebagai pemimpian kaum quraisy mulai terganggu bila banyak rakyatnya yg mau mengikuti agama yg dibawa Rasulullah dan mengikuti segala aturan dari agama tersebut. Itulah mengapa Rasulullah pun disiksa oleh penguasa quraisy pada masa itu.

kadang ada beberapa hal dalam hidup ini yg perlu ketegasan. Tidak selamanya kelemah lembutan itu yg membawa kebaikan. Apalagi dengan tipe masyarakat yg sekarang, yg lebih banyak tak acuh terhadap suara ulama, hidup semaunya sendiri dan bebas tanpa aturan, merasa diri islam dan cukup dengan keislamannya itu, tidak lantas mau peduli pada aturan yg diberikan agamanya. Ketegasan juga dibutuhkan untuk menertibkan ummat yg seperti ini. Dan itulah tugas utama ulama. Ulama seharusnya berani berusra dengan tegas dan lantang menyerukan ummat dan para pemimpin untuk kembali pada syariat islam, kembali pada agama Allah yg indah, dan menjadikan dunia hanya sebagai ‘kuda tunggangan’, bukan sebaliknya. Ulama seharusnya tidak mendiamkan, tidak menyetujui dan tidak mendukung kedzaliman dan siapapun yg berbuat dzalim. Karena Allah sudah tegas berfirman:

”Janganlah kalian cenderung (la tarkanuu) kepada orang-orang yg berbuat dzalim, yg dapat mengakibatkan kalian disentuh api neraka.” (QS. Hud [11]: 113)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s