Beda Calon Khalifah dengan Calon Presiden :D

Saat Umar bin Abdul aziz dibaiat menjadi khalifah (kepala negara), kalimat pertama yg meluncur dari bibir beliau adalah ”inna lillaahi wa inna ilayhi raaji’un”

sebelumnya, Umar memang sudah berusaha keras menolak untuk di angkat menjadi khalifah. Namun umat tampaknya lebih keras memaksa agar beliau bersedia menjadi khalifah. Lalu terjadilah pembaiatan itu. Akhirnya, dengan ikhlas dan ridha, Umar menerima baiat umat. Namun hal itu tidak membuat beliau tenang. Kegelisahan di dada ia bawa saat pulang ke rumahnya. Ia mengurung diri di kamarnya dan menangis. Dalam benaknya terbayang, jutaan rakyatnya siap menuntutnya di hadapan pengadilan Allah pada hari kiamat nanti jika ia tidak bisa melayani, mengayomi dan melindungi mereka. Karena itulah, bagi beliau, amanah kekuasaan yang baru saja beliau terima adalah ‘musibah besar’. Khalifah umar bin abdul aziz menyadari betul sabda baginda Nabi saw.

”sesungguhnya kekuasaan itu amanah. Pada hari kiamat nanti ia akan berubah menjadi kehinaan dan penyesalan, kecuali bagi orang yang mengambilnya dengan haq dan menunaikan apa yang diamanahkan di dalamnya.” (HR. Muslim)

sumber: hikmah-hikmah bertutur untuk jiwa yg mudah futur, karangan arief b. Iskandar

kisah singkat tentang khalifah Umar bin Abdul Aziz di atas telah memunculkan pertanyaan dalam benak saya, “Ada tidak ya, di zaman sekarang orang yang seperti ini? Yang tidak mau dipilih menjadi pemimpin karena takut akan pengadilan Allah di hari akhir jika ia tak mampu melakukan amanah yang diembankan padanya? yang takut tidak dapat menerapkan hukum dan syariat islam dengan baik di tengah-tengah rakyat yang dipimpinnya????

kenyataan yang kita saksikan saat ini, para penguasa dan calon penguasa negeri ini sangat percaya diri mempromosikan dirinya, bahkah jauh-jauh hari sebelum putaran pemilu dimulai. mereka dengan mudahnya menebarkan janji, membual tentang ini dan itu, tapi ketika diberikan kekuasaan, bisakah mereka amanah? bisakah mereka menjalankan janji-janji yang sudah terlanjur dilontarkan itu? sudah terlalu banyak bukti yang memperlihatkan bahwa sesiapa yang begitu menginginkan kekuasaan dan sampai melakukan berbagai macam cara untuk mendapatkan kekuasaan itu, ketika sudah di dapat apa yang diinginkannya, tidak akan ingat pada tanggung jawab utamanya, tidak ingat apa yang diamanahkan rakyat kepadanya, tidak ingat dosa, tidak ingat hukuman dan azab dari Allah….

jadi marilah kita mencari pemimpin yang tidak berlebihan mempromosikan dirinya. kalau sekarang tidak ada, ya berarti tak usah pilih siapa-siapa. hihihi….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s