kita sering di ajarkan untuk ber’empati’ terhadap orang lain…
sungguh, sebenarnya kemampuan untuk bisa memahami kondisi seseorang, dan memahami kesulitan yang dihadapi orang lain itu tidak mudah. hanya 1 diantara beribu orang yang bisa berusaha memahami dan mengerti kondisi orang lain, dan lebih sedikit lagi yang bisa ber’empati’ dengan benar….
kita lebih mudah untuk menjudge, menyakiti, menghakimi, mengambil kesimpulan dengan serampangan, dan mencocok-cocokkan kondisi orang lain dengan apa yang kita alami, padahal belum tentu ketika kita ditempatkan dalam kondisi yang sama lantas kita bisa ‘bertahan’, lantas kita bisa leluasa menentukan opsi dan mengambil keputusan…
karena hidup satu orang dengan orang lain itu tak sama….

Tidak ada manusia yg sempurna tanpa cela, tapi Allah selalu memberikan kita pilihan setiap hari nya, untuk hidup di dunia ini dengan cara yg Dia tentukan atau dengan aturan yg kita buat-buat sendiri, dengan senantiasa berusaha mendekat padaNya atau malah semakin menjauh . Dan dalan hidup akan selalu ada manusia yg dihadirkan Allah utk menegur kita, menasehati kita, mengkritik kita, mengajak kita kembali pada Allah, kembali hidup dengan aturan yg telah dibuat Allah utk manusia. Apakah dia bersikap begitu karena merasa hidup nya sudah baik dan sempurna? justru karena dia tahu bahwa hidupnya penuh dg ketidak sempurnaan, ia tak ingin ada saudaranya yg lain di luar sana melakukan hal yg sama, ia ingin berubah dan ingin mengajak saudara yg ia cintai juga mengambil langkah yg sama dengannya, menyongsong cinta Allah. Dan tidak semua kebenaran dpt diterima dgn penerimaan yg baik, pun tidak semua hal yg benar bisa disampaikan dgn cara yg ‘sesuai’ dengan apa yg kita mau.

Karena sesuatu yg buruk menurut perasaan kita, belun tentu buruk menurut penilaian Allah. Semoga kelapangan hati selalu diberikan Allah utk kita semua. Semoga Allah senantiasa menunjukkan kita jalan yg lurus, jalan yg ia ridhoi.

 

 

10636286_586357074807151_7912043013309127235_n

Siklus Maksiat bernama PACARAN !!!

10606444_833703186664151_3767915230182374900_n

 

mungkin bagi sebagian orang, siklus ini biasa-biasa saja…
tapi bagi ALLAH, siklus ini adalah siklus penuh kedurhakaan kepadaNya. kenapa durhaka? karena Allah sudah menetapkan larangan tapi sebagian manusia malah bermain-main dan mengingkari larangan Allah itu dengan berbagai macam dalih, salah satu dalih paling tokcer yang sering digunakan yakni ‘penjajakan pra nikah’, padahal siapa yang bisa memastikan laki-laki/wanita yang dipacari saat ini akan jadi suami/istri nya kelak? apa kita lupa yang menentukan segalanya adalah Allah? apa kita lupa bahwa Allah pula yang akan memasangkan kita dengan seseorang sesuai dengan tingkat keimanan dan ketakwaan kita? maka jika berharap mendapat pasangan yang setia, tidak suka menyakiti perasaan pasangannya, baik akhlaqnya, santun tutur katanya, dan bisa menjadi imam yang baik dalam keluarga serta bisa membimbingmu ke jalan Allah, maka jangan pernah berharap untuk mendapatkannya melalui jalan yang dibenci Allah! renungkanlah ini…

If i have to choose an example to explain about DEMOCRACY, then i’ll consider it as an END STAGE of MALIGNANCY (KANKER GANAS STADIUM AKHIR). Can you treat that kind of disease from ‘its inside body’ ?! Could you explain your answer with an evidence? Or perhaps you’ve got a journal from clinical control study that has proved your opinion? Nah…that’s sounds impossible… -..-

#MedicalStudentCriticalThinkingEdition

jika saya harus mengambil sebuah analogi untuk menggambarkan DEMOKRASI, maka saya umpamakan ia sebagai sebuah PENYAKIT KANKER GANAS STADIUM AKHIR. bisakah sebuah penyakit seperti itu diobati ‘dari dalam’ badan kanker nya ?! kalau bisa, mohon dijelaskan mungkin bukti-buktinya? atau mungkin ada yang pernah mendapatkan jurnal dari sebuah penelitian klinis terkontrol yang dapat membuktikan pendapat anda? nah…kayaknya impossible deh ada pengobatan macam itu… -..-

#EdisiMahasiswaKedokteranBerpikirKritis -..-