Menolak Khilafah Karena Pendiri Hizbut Tahrir Seorang Mu’tazilah? Apa benar demikian? Yuk Tabayyun dulu ^_^

sumber: facebook post from Miftah Al-Kansa

Saya pernah bertanya, ‘Mengapa mereka menolak Khilafah?’Ajaibnya, ada yang menjawab begini, ‘Karena pendiri Hizbut Tahrir adalah penganut mu’tazilah.’Jawaban itu menjadi tidak nyambung karena:

Pertama: Khilafah bukan milik Hizbut Tahrir, sehingga tidak sepatutnya menolak Khilafah karena tidak suka dengan pendiri Hizbut Tahrir. Khilafah adalah kewajiban dari Allah, bukan dari pendiri Hizbut Tahrir.

Ada banyak nash yang menunjukkan kewajiban menegakkan Khilafah, baik dari Al-Quran maupun Al-Hadits. Sehingga, menolak kewajiban menegakkan Khilafah, sama saja menolak sebagian ayat Al-Quran, menolak sebagian sabda Nabi, dan menolak sejarah.

Tidak bijak jika hanya karena ketidaksukaan terhadap pendiri Hizbut Tahrir, malah rela menolak kewajiban dari Allah. Sebenarnya beriman kepada Allah, atau kepada hawa nafsu?

Kedua: Pendiri Hizbut Tahrir, syaikh Taqiyuddin An-Nabhani, bukanlah seorang Mu’tazilah. Bahkan di kitab beliau yang berjudul Nizhamul Islam, dengan tegas beliau menyatakan penolakan terhadap paham mu’tazilah.

Mu’tazilah adalah paham yang menempatkan akal berada di atas nash atau dalil. Sehingga, segala perintah Allah akan diterima jika sesuai dengan akal dan akan ditolak jika bertentangan dengan akal. Adapun syaikhTaqiyuddin An-Nabhani, menjadikan akal sebagai sarana untuk memikirkan fakta dan menghubungkannya dengan nash, lalu dihukumi dengan nash itu. Bukan menjadikan akal sebagai sumber hukum. Sehingga, merupakan sebuah fitnah keji apabila mengatakan bahwa beliau adalah seorang penganut mu’tazilah.

Ketiga: Jikapun ingin menolak kewajiban Khilafah, seharusnya bukan berdasarkan maslahat atau mudharat, melainkan karena ada dalil yang melarangnya atau tidak mewajibkannya. Pertanyaannya, adakah dalil yang mengharamkan Khilafah? Atau minimal, adakah dalil yang menyatakan bahwa Khilafah tidak wajib?

Keempat: Jikapun ingin membahas maslahat atau mudharat, sesungguhnya ada segudang maslahat yang bisa disuguhkan oleh konsep Khilafah, dan ada segudang mudharat yang telah kita rasakan sendiri manakala kita tidak menegakkannya.

Sesungguhnya, Khilafah adalah kewajiban dari Allah, janji-Nya, dan bisyarah (kabar gembira) dari Rasul-Nya. Maka, sekuat apapun daya manusia, meskipun seluruh kekufuran berkumpul untuk menghalanginya, sungguh kami percaya, Khilafah akan tegak semula. Kapan? Itulah yang masih menjadi rahasia-Nya.

Testimoni Para Tokoh Intelektual dalam JICMI 2013

untuk para kaum intelektual, yg tua maupun muda, tidak ada kata terlambat untuk mengkaji ilmu islam. karena mengkaji ilmu agama hukumnya FARDU ‘AIN, sedangkan mempelajari ilmu dunia hanyalah fardu kifayah. jangan sampai di akhirat kelak kita menyesali mengapa waktu yg begitu banyak dalam hidup yang dikaruniakan Allah ini tidak kita gunakan semaksimal mungkin untuk mengkaji ilmu islam.

contoh lah tokoh2 dalam video ini, dari gelar yang tertempel di nama-nama mereka jelas mereka bukan orang sembarang. mereka habiskan waktu bertahun-tahun untuk mengejar ilmu dunia sampai mendapatkan gelar profesor dan gelar-gelar prestisius lainnya dari universitas dalam hingga luar negeri, namun pada akhirnya mereka sadar bahwa ilmu-ilmu dunia ini tak akan ada gunanya jika tidak dibarengi dengan ilmu agama.

buktikanlah pada orang2 yang selama ini merendahkan islam, memberikan cap buruk pada umat dan agama ini, menganggap islam itu teroris, mengatakan islam itu bodoh, miskin, dan mudah dipecah belah, bahwa kaum intelektual seperti kalian pun bisa memberikan andil dalam memperjuangkan islam, dalam memperjuangkan bangkitnya kembali umat dari keterpurukan, yakni dengan cara mengkaji ilmu islam dan berjuang bersama jama’ah yang senantiasa istiqomah memperjuangkan kebangkitan islam dan istiqomah memperjuangkan ditegakkannya kembali hukum-hukum ALLAH di muka bumi.

ambillah ibrah dari pengalaman dan testimoni yang mereka bagikan untuk kita melalui video ini. semoga bermanfaat, selamat menonton

#YukNgaji ^_^

 

Simpati? Atau ‘Kepo’?

Ada perbedaan yang besar antara simpati, dan rasa sekedar ingin tahu.

Simpati, tidak mengharuskanmu untuk bertanya “Apa dan kenapa”. Simpati, memberikanmu kemampuan lebih untuk menelaah kondisi seseorang tanpa perlu orang itu menjelaskan terlalu banyak tentang dirinya. Simpati, memberikanmu kemampuan untuk bisa menyentuh hati seseorang, dengan kata-kata dan kalimat yang menenangkan, tanpa sedikitpun melukai, tanpa menghakimi, tanpa menggurui. Simpati, memberikanmu kemampuan untuk bisa merasakan apa yang orang lain rasakan, sehingga tak mudah bagimu untuk mengeluarkan saran yang mainstream seperti “sabar, ikhlas” dan sebagainya, karena kau tahu toh meskipun tak kau suruh sabar pun orang itu tahu betul bahwa ia harus bersabar. Simpati, memberikanmu kemampuan untuk mengalihkan rasa sedih yang dirasakan seseorang menjadi tawa, yang walaupun efeknya hanya sementara, tapi bisa membantu orang itu sesaat melupakan luka dihatinya.

Sedangkan rasa sekedar ingin tahu, mengharuskanmu untuk bertanya “Apa? Kenapa? Bagaimana?” dan membuat orang lain harus sibuk menceritakan segalanya, sibuk membuatmu paham sudut pandang masalah yang sesungguhnya. Rasa ingin tahu membuatmu tidak puas dengan satu jawaban, tapi terus dan terus menggali jawaban lainnya, terus dan terus menggali luka yang mungkin ingin ditutup rapat oleh orang yang kau ajukan pertanyaan. Dan rasa ingin tahu, tidak lantas membuatmu bisa mengerti dan memahami kondisi orang tersebut, tidak lantas bisa membuatmu merasakan seberapa sakitnya, seberapa beratnya masalah yang sedang ia hadapi. Rasa ingin tahu, muncul hanya untuk memuaskan egomu, agar hatimu bisa mendapatkan jawaban “oh, ternyata itu masalahnya”.

Itulah beda simpati dan rasa ingin tahu. Cermati ini baik-baik, dan pikirkan dimana posisimu saat ini. Apakah kau bisa menjadi seseorang yang mampu memberikan simpati pada orang lain, atau seseorang yang hanya sekedar ingin tahu urusan dan masalah orang lain? jika tak mudah bagi kita untuk bisa memahami luka yang dirasakan seseorang, kita tak bisa menenangkan hati seseorang apalagi membuatnya bisa tertawa lepas dan melupakan masalahnya, maka paling tidak berusahalah untuk tidak menjadi orang yang ‘kepo’ dan selalu ingin tahu masalah orang lain. Karena bisa jadi, bukannya membantu, kau malah akan semakin melukai orang tersebut.

alhamdulillah…

image

 

 

I never expect that in the first place..

Well…oke, honestly i did, a little bit 😀

Gimana nggak?

Seorang penulis amatir, yang iseng-iseng pertama kali ikutan lomba menulis, baru dapet novelnya pun beberapa hari menjelang deadline pengumpulan naskah, yang ditulis cuma dalam satu hari, ngelawan ratusan peserta dari seluruh indonesia. Duh rasa-rasanya nggak mungkin banget lah bisa menang. Apalagi dengan penulisan yang masih amburadul, EYD nggak jelas, banyak typo error disana-sini, dan yang paling bikin mupeng itu jumlah tulisannya yang nggak bisa saya kurangi lagi, mentok di 12 halaman kertas ukuran A4 (selain emang karena nggak ada waktu lagi buat ngurang-ngurangin). Ngumpulinnya pun satu jam menjelang batas akhir pengumpulan. Gile bener. Nekat? Iya mungkin, sedikit. Ya namanya nyoba-nyoba nasib. Siapa tahu bisa menang.

Siapa tahu? Emang bener nggak ada yang tahu, selain Allah. Ternyata dari pengumuman yang disampaikan tadi sore, saya dapet juara harapan I. Alhamdulillaaaah. Segala syukur saya panjatkan kehadirat Allah. Saya bener-bener nggak nyangka. Sambil nungguin cucian yang lagi muter-muter dalem mesin cuci, saya loncat-loncat sendiri pas ngeliat pengumuman lewat smartphone. Saya emang nggak pernah berharap banget bisa dapet juara I. It’s kinda impossible, mengingat pengerjaannya yang mendadak banget, bener-bener pake “the power of kepepet”. Tapi, juara harapan I??? Itu sudah lebih dari cukup buat saya. Itu sudah lebih dari cukup membuat saya begitu bahagia. Itu sudah lebih dari cukup untuk membuktikan bahwa tulisan saya lumayan bisa diterima. Itu sudah lebih dari cukup untuk jadi pelecut semangat saya, agar bisa terus menulis, agar terus menelurkan karya-karya yang bermanfaat untuk banyak orang, untuk terus menggugah hati banyak orang lewat tulisan, untuk terus ikut lomba-lomba lainnya. Doakan semoga saya bisa jadi juara I di lomba-lomba selanjutnya ya. ^_^