Ibrah Dibalik Tragedi “Air Asia QZ5801”

Baru saja selesai melihat reportase mengenai ditemukannya puing-puing kapal yang dicurigai milik pesawat Air Asia QZ5801

Dalam reportase tersebut sekilas dijelaskan bahwa pesawat ini merupakan salah satu pesawat tercanggih yang di produksi di Prancis. Sebuah pesawat yang memiliki sistem komputerisasi mirip seperti pesawat tempur.

Pesawat dengan sistem komputerisasi secanggih ini bukan tidak memiliki kelemahan. dijelaskan oleh salah seorang pakar penerbangan indonesia, kelemahannya akan nampak ketika pesawat tersebut berhadapan dengan fenomena alam serupa awan cumulonimbus yang memilki muatan listrik yang begitu tinggi sehingga sering terjadi kilatan petir di dalamnya, yang menyimpan kandungan air yang sangat banyak sehingga curah hujan di dalam awan sangat tinggi, dan memiliki suhu dingin yg ekstrim.

Awan sejenis ini dapat mengakibatkan gangguan pada pesawat-pesawat yang menggunakan sistem komputerisasi seperti yang terpasang pada QZ5801. kilatan petirnya mampu meledakkan pesawat, curah hujan dalam awan dapat menganggu turbulensi mesin, atau bisa juga suhu udara dingin pada awan tersebut yang dapat mengakibatkan mesin beku dan kehilangan fungsinya.

tanpa mengurangi rasa bela sungkawa pada keluarga awak pesawat dan penumpang yang ditinggalkan, dari kejadian ini kita bisa mengambil ibrah bahwa, sehebat apapun manusia menciptakan suatu teknologi, kekuatan Allah tak akan pernah bisa terkalahkan. jika Allah sudah berhendak, maka kita tak akan pernah bisa mengelak dari ketetapan tersebut. sakit, ajal, dan ujian-ujian lainnya, semua Allah yang menentukan. ajal tak kan pernah bisa diterka kapan datangnya. meskipun manusia sangat ingin melindungi dirinya dari ajal dengan membuat teknologi secanggih apapun, meskipun manusia sampai harus pindah hidup ke Mars pun, ajal itu tak akan pernah tertunda. karena kita tak tahu, kapan ajal akan datang menjemput, yang kita lakukan hanya bisa mempersiapkan diri. siapa yang tahu kapan saya akan dipanggil Allah? bisa saja esok, nanti, atau bahkan beberapa detik lagi. selama Allah masih memberikan kita kesempatan untuk hidup di dunia ini, mari kita gunakan untuk berlomba-lomba memperbaiki diri, menjalankan aturan islam secara total tanpa banyak alasan dan berusaha menunda-nunda. marilah jadi seperti generasi sahabat dahulu, yang ketika Rasulullah datangkan wahyu dari Allah tentang suatu perkara syariat, maka mereka langsung mengikutinya tanpa pikir panjang. mereka benar-benar sami’na wa atha’ na. sungguh berbeda jauh dengan kita sekarang.

semoga Allah masih mau memberikan kita perpanjangan waktu untuk memperbaiki diri dan menyiapkan bekal untuk kehidupan abadi di akhirat kelak. semoga jika ajal menjemput, kita tidak mati dalam kondisi mendurhakai Allah dan bermaksiat kepadaNya. aamiin, ya Rabbal ‘alamin…

Minyak Bumi Indonesia, Milik Siapa???

575701_452186194851796_424651168_n

“HAMPIR 80% DARI TOTAL PRODUKSI MINYAK INDONESIA DIKUASAI ASING, yakni; PT Chevron AS (40%), Total E&P (10%), Conoco Phillips (8%), Medco Energy (6%), China National Offshore Oil Corporation (5%), China National Petroleum Corporations (2%), British Petroleum, Vico sia, dan Kodeco Energy masing-masing satu persen. Sedangkan Pertamina, perusahaan BUMN hanya mendapatkan porsi 16%.”

IT IS JUST ONE OF THE SADDEST FACT OF THIS RICH COUNTRY (INDONESIA)

inilah hasil demokrasi, inilah hasil ketundukan pemerintah dan rakyatnya terhadap sistem yang tidak berasal dari akidah islam. inilah hasil dari sistem ekonomi kapitalisme yang diterapkan atas negeri Indonesia (sebagai pengingat, definisi sistem ekonomi kapitalisme: adalah sistem ekonomi di mana perdagangan, industri dan alat-alat produksi dikendalikan oleh pemilik swasta dengan tujuan membuat keuntungan dalam ekonomi pasar. Pemilik modal bisa melakukan usahanya untuk meraih keuntungan sebesar-besarnya. Demi prinsip tersebut, maka pemerintah tidak dapat melakukan intervensi pasar guna keuntungan bersama, tapi intervensi pemerintah dilakukan secara besar-besaran untuk kepentingan-kepentingan pribadi)

padahal mayoritas rakyat negeri ini beragamakan islam, dan menurut penalaran kita (harusnya) muslim-muslim ini mau mengusahakan yang terbaik demi indonesia dengan mengusung hukum islam. Karena (harusnya) muslim-muslim ini meyakini dengan menerapkan aturan islam maka kesejahteraan akan dapat tercapai di bumi pertiwi, baik untuk muslim maupun non muslim. Karena (harusnya) mereka tahu bahwa agama mereka adalah rahmat bagi semesta alam, agama yang paling sempurna dan tanpa cela sedikitpun.

tapi sayangnya kebanyakan dari mereka seakan tak yakin akan kesempurnaan agamanya sendiri, ragu untuk memperjuangkan penerapan hukum islam karena merasa “indonesia ini negeri yang plural, jika hanya hukum islam yg diterapkan lantas bagaimana dengan non muslim?”, sebuah pertanyaan yang seharusnya tidak dilontarkan oleh seseorang yang meyakini kesempurnaan ajaran agama ini, yang karena kesempurnaanya tak mungkin Sang Pencipta mengesampingkan hak-hak non muslim dalam masalah pengaturan warga negara.

Hanya aturan islam yang memperhatikan hak-hak hidup manusia, aturan selain islam tumpul dalam masalah pemeliharaan hak hidup tersebut.

karena HANYA aturan islam yg sempurna mengatur urusan manusia, termasuk urusan perminyak-bumian, yang tergambar dalam sabda Rasulullah berikut:

“Manusia itu berserikat (bersama-sama memiliki) dalam tiga hal: air, padang rumput, dan api”. (HR Ahmad, Abu Dawud, An Nasaaiy)

artinya, dalam aturan islam, api (maksudnya di sini bisa dalam bentuk bahan bakar, seperti minyak bumi, gas bumi, dll) adalah merupakan hak milik seluruh rakyat. yang berkewajiban mengurus (dari penggalian, pengolahan, sampai pendistribusian) secara adil dan merata adalah pemerintah. pemerintah tidak diperkenankan memberi kesempatan kepada pihak swasta, baik asing maupun dalam negerti untuk memonopoli sektor tersebut.

Tapi lihat apa yang terjadi pada negeri kita? lihat apa yang terjadi pada hasil bumi indonesia? lihat apa yang terjadi pada negara yang begitu membanggakan ke-demokrastisan-nya ini? lihat apa yang terjadi pada negeri yang meletakkan ayat-ayat konstitusi di atas ayat-ayat suci ini? lihat apa yang terjadi pada negeri yang membuang hukum dan aturan Allah, dan malah menggunakan hukum dan aturan yang (katanya) universal untuk semua agama? adakah terjamin kesejahteraan di negeri tersebut????

mari kita renungkan ini bersama-sama

“Telah tampak kerusakan di darat dan lautan akibat perbuatan tangan manusia, supaya Allah swt merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka agar mereka kembali (ke jalan yang benar)” (Terjemahan QS Ar Ruum(30):41)

Ketika kita bertanya pada sebagian besar muslim tentang 3 pertanyaan besar, “Dari mana asal manusia? untuk apa manusia hidup? akan kemana setelah mati?”, maka jawaban yang khas dari mereka adalah, “saya berasal dari Allah, saya hidup untuk beribadah kepada Allah, saya akan kembali pada Allah setelah mati”. Itu adalah jawaban standar seorang muslim. Tapi yang menjadi pertanyaan adalah, “benarkah mereka benar-benar meyakininya? jika iya, bagaimana mereka bisa membuktikan kebenaran dari 3 jawaban standar tadi?”

– felix siauw, dalam buku Beyond the Inspiration
– terdapat pula dalam kitab nizamul islam, produksi HTI press

‪#‎YukNgaji‬ di Hizbut Tahrir ^_^

ada sebuah quote yang saya temukan dari blog orang, izinkan saya membagikannya untuk kalian…

Jika orang bodoh banyak berbicara seolah-olah dia alim, tidaklah yang keluar dari rahangnya kecuali semua hal yg sudah ia ketahui. Jika ia terus-menerus melakukannya, semakin nampaklah kebodohannya. Sedangkan org alim, ia akan berbicara seperlunya seolah-olah dia bodoh, hal ini karena masih sangat banyak yang ia tahan di dalam hati. Jika seorang alim berbicara, semakin ia berbicara seperlunya semakin tampaklah kealimannya.

Saya lah si bodoh itu. Saya lah orang yang menampakkan diri seakan-akan menjadi orang alim itu. Saya lah si fakir yang tak punya apapun untuk dibanggakan dihadapan Allah. Saya lah manusia yang menghabiskan 24 tahun hidupnya untuk hal yang sia-sia dan tiada guna. Saya lah yang baru belajar ilmu agama seumur jagung tapi merasa sudah paling pintar dan paling bijak. Terimakasih banyak untuk yang menulis quote ini. Terimakasih sudah menegur orang-orang seperti saya… 🙂

“Sekali tumbuh subur, tunas-tunas perasaanmu tak bisa kau pangkas lagi. Semakin kautikam, dia tumbuh dua kali lipatnya. Semakin kau injak, helai daun barunya semakin banyak.”
— Tere Liye, novel ‘Daun Yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin’

the feeling when you want to write down exactly how you felt, but somehow the page stayed empty and you couldn’t describe it any better than the flowing river from the tip of your eyes…

here comes the feeling you thought you’d forgotten….

mana lebih jadul, demokrasi atau khilafah islam?

mana lebih jadul, demokrasi atau khilafah islam?

jelas jawabannya demokrasi

masih ingat kata “demos” dan “kratos”? dari mana dua kata tersebut berasal? Yak, tepat sekali, dari zaman yunani kuno. Jadi demokrasi memang lahir dari peradaban yunani kuno, peradaban yang luar biasa bobroknya, peradaban yang tidak memandang harkat dan martabat manusia. nggak perlu jauh2 untuk lihat contoh peradaban yunani, tinggal nonton aja film2 hollywood yang berlatar kehidupan bangsa yunani, lihat bagaimana jahiliyahnya gaya hidup mereka. lihat juga bagaimana cara kotor mereka untuk memperebutkan dan mempertahankan kekuasaan.

Dan kemudian datanglah khilafah islam, sebuah sistem yang berasal dari Allah sang penguasa jagad raya dan seisinya yang dengan diterapkannya sistem ini harkat dan martabat manusia, terutama kaum wanita dijunjung tinggi, kesejahteraan merata di seluruh lapisan masyarakat, kriminalitas merosot jauh, dan nama islam sebagai sebuah agama dan ideologi menjadi nama yang begitu disegani dan dihormati. sebuah sistem yang berhasil membuat peradaban yunani nampak tak punya ‘gigi’ untuk bisa dibanggakan melawan peradaban umat yang menerapkan sistem yang sempurna ini.

jadi, masih mau membanggakan dan menggunakan demokrasi?? masih mau membanggakan dan menggunakan sebuah sistem jadul, yang berasal dari akidah kafir, yang sudah terbukti kebobrokannya ini???
banting setir ke khilafah aja deh