20 – 29 = Usia Penentuan

Kalau kalian pernah baca tulisan mas gun di tumblr pasti kalian pernah menemukan pernyataan yang bunyinya, “usia 20-29 itu usia pembuktian”. Maksudnya dalam rentang usia ini biasanya manusia akan membuktikan 2 hal penting untuk kehidupannya. Yang pertama adalah pembuktian setelah lulus kuliah ia akan jadi apa dan bekerja dimana, serta akan memainkan peran seperti apa dia dalam masyarakat. Dan yang kedua pembuktian yang berkaitan dengan masalah jodoh, atau bahasa lainnya “kapan bisa nikah”. Kalau ingin tahu lebih lanjut tentang pembahasan dua hal tadi mungkin bisa langsung dibaca di tumblr milik beliau, karena yang ingin saya bahas di sini bukan lagi tentang 2 hal tersebut.

Kalau boleh menambahkan, menurut saya di usia 20-29 ini ada satu hal lagi yang terjadi pada diri setiap manusia. “Penentuan posisi”, begitu mungkin bahasa kerennya. Di usia inilah biasanya kita menetukan di mana, dengan siapa, dan dalam lingkungan seperti apa kita akan hidup, bergaul, dan menghabiskan sisa waktu kita kedepannya. Proses penentuan ini mungkin sebenarnya sudah dimulai sejak kita masih remaja, tapi pilihan-pilihan yang kita buat saat masih muda biasanya masih sering berubah-ubah, dan di usia 20-29 inilah kita menancapkan titik akhirnya. Mungkin ini tidak terjadi pada semua orang, karena ada beberapa yang bahkan di usia 30an pun masih terus mencari-cari dan belum menentukan pilihan.

Jika pada usia ini kita memilih lingkungan yang dipenuhi orang-orang yang tak mau dekat dengan Allah, tak mau mengkaji ilmu agama, tak peduli pada aturan agama, hidup foya-foya, lebih banyak menghabiskan waktu untuk hal-hal yang menjauhkan diri dari Allah, dan sebagainya, lantas kemudian kita habiskan waktu untuk bergaul dengan orang-orang seperti itu, maka sudah barang tentu gaya hidup, pemikiran dan kebiasaan kita sedikit banyak akan mengacu pada mereka.

Tapi jika kita menancapkan posisi pada lingkungan yang baik, yang diisi orang-orang baik, dengan ilmu agama yang baik, yang selalu bisa mengingatkan kita pada Allah, orang-orang sholeh yang selalu berusaha mengisi hidupnya dengan memperbanyak ibadah baik yang wajib maupun yang sunnah, yang senantiasa takut pada Allah, yang tak mati semangatnya untuk terus belajar, bukan hanya mempelajari ilmu dunia tapi juga ilmu agama, maka in syaa Allah kita pun akan kecipratan kebaikan dari mereka.

“Seseorang itu berada pada agama teman karibnya, maka hendaklah salah seorang di antara kalian melihat siapakah yang dia jadikan teman karibnya.” (HR. Abu Dawud, At-Tirmidzi, dan Ahmad)

Bahkan Rasulullah pun sudah mengingatkan hal ini pada kita jauh-jauh hari. Karena ‘teman’ itu bagaikan aroma yang menempel pada tubuh. Manakah yang lebih baik, aroma asap atau aroma wewangian?

الْأَخِلَّاء يَوْمَئِذٍ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ إِلَّا الْمُتَّقِينَ

“Teman -teman akrab pada hari itu sebagian menjadi musuh bagi sebagian yang lain kecuali orang-orang yang bertakwa.” (QS. Az-Zukhruf : 67)

Kelak di alam akhirat, orang-orang yang selama ini berteman bisa saja berubah menjadi musuh. Mereka saling menyalahkan satu sama lain sebagai penyebab dirinya jauh dari Allah. Kecuali orang-orang sholeh. Mereka justru akan saling bantu dan saling mencari. Jika ada satu orang dari sekumpulan orang sholeh yang dulu bersahabat pada saat di dunia, masuk surga lebih dulu di akhirat kelak dan ternyata di sana ia tidak menemukan sahabat-sahabat karibnya, maka satu orang sholeh itu akan menyebutkan dan meminta untuk dipanggilkan nama-nama sahabatnya yang lain pada Allah, agar mereka bisa dikumpulkan lagi di surga, dan bisa menikmati tinggal di sana bersama-sama. 

Maka di usia 20-29 ini, choose your companion wisely, pilihlah dengan sebaik-baiknya siapa temanmu akan menghabiskan waktumu. Tentukan posisi yang paling bisa membuatmu selalu merasa dekat dengan Allah. Karena keimanan kita saja tak cukup untuk membentengi diri dari pengaruh buruk yang diberikan oleh dunia. Harus ada jama’ah yang menguatkan, yang menjadi pengingat di saat kita mulai lalai dan menjauh dari Allah. Hal ini juga bisa diterapkan dalam hal mencari jodoh. Maka dari itu Allah dan rasulNya meminta kita untuk menjadikan faktor ‘agama’ sebagai alasan utama dalam memilih calon pendamping. Karena wajah, kekayaan dan kedudukan, serta garis keturunan bisa saja memberikan kebahagiaan dunia, tapi tak bisa memberikan jaminan surga dan kebahagiaan di akhirat.

Ini bukan berarti kita harus menutup diri dari mengenal berbagai macam orang. Jangan sampai kita jadi orang-orang sok eksklusif yang hanya mau bergaul dengan satu komunitas saja. Berkenalanlah dengan siapapun, itu akan membantu kita mengetahui berbagai tipe dan karakter manusia, serta cara kita menghadapi berbagai jenis manusia yang berbeda-beda tersebut. Bahkan mungkin (kalau mampu) kita bisa memberikan dampak positif bagi orang-orang yang kita kenal sehingga mereka mau diajak bersama-sama meniti jalan kebaikan. Tapi tetaplah, dari sekian banyak manusia yang kau kenal itu, pilihlah orang-orang yang tepat sebagai ‘jama’ah’ mu, jama’ah yang senantiasa akan mendekatkanmu pada Allah dan membentengimu dari dunia yang punya berbagai macam tipu daya ini.

– mindeulle

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s