Lebih dulu mana, jodoh atau kematian?

Beberapa waktu terakhir tulisan saya di Instagram, facebook atapun di blog berkisar di situ-situ saja. Berputar-putar hanya membahas tentang cinta dan pernikahan.

Memang benar di usia 25 tahunan ini bagi kebanyakan wanita, membahas dan mencari jawaban dari pertanyaan, “Kapan nikah?” Itu adalah hal yang amat sangat menarik, yang seakan tak ada habis-habisnya untuk dibicarakan. Padahal ada yang jauh lebih penting dan lebih pasti dari masalah kapan datangnya jodoh. Hal itu adalah, Kematian.

Siapa yang tahu kapan kita akan mati? Siapa yang bisa mengira jika ternyata ajal yang tak pernah diundang itu justru lebih dulu datang menjemput dibanding sang jodoh yang selalu dinanti-nantikan? Sudah siapkah kita untuk itu? 😥

Menjadi hal yang penting memang untuk memantaskan diri guna mendapatkan seorang suami yang baik agamanya, dan baik akhlaqnya. Tapi memantaskan diri untuk menghadap sang Khalik rasanya jauh lebih penting dan jauh lebih urgent untuk diurus saat ini.

Jika ternyata kita diizinkan untuk bertemu ‘dia’ sebelum ‘Dia’ memanggil, maka itu semata-mata bonus dari Allah untuk kehidupan kita. Bonus yang diberikan sebelum Dia menarik segala nikmat untuk kita di dunia, dan mengakhiri perjalanan kita sampai di detik yang telah ditentukan waktunya… Mulai sekarang, kita sama2 perbaiki lagi niat kita. Agar segala hal yang kita lakukan dalam hidup, segala ibadah yang kita lakukan, semata-mata untuk mencari ridhoNya, dan untuk bekal menuju kematian yang bisa jadi cepat kedatangannya…

Umi

image

Kita sibuk sekali mencari-cari
Padahal yang selalu ada dan tak pernah kurang memberi berada dekat sekali
dia mungkin tak pandai menampakkan cinta dan kasih sayangnya
tapi coba lihat segala hal yang dikorbankannya untuk kebahagiaan kita
Mana bisa kau sembunyikan air matamu darinya
Meski sudah kau tutup-tutupi, dia pasti bisa melihat ke dalam hatimu, dan ikut Merasakan apa yang sedang kau rasakan, turut merisaukan apa yang kau risaukan
Adalah ibu
Manusia yang paling besar cintanya pada kita di muka bumi ini
Yang cintanya tak kan pernah habis
Dan tak pernah berbatas
Bahkan kelak jika kau tak lagi hidup bersamanya
Jika kau tak lagi menjadikannya prioritas utama
Dia tetap akan memprioritaskanmu, sampai kapanpun, tak akan pernah berubah, selamanya… 😥

– mindeulle

*NB. Kaligrafi ini bukan karya saya

Menunggu Jodoh

Kalau jodoh harus dijemput, jangan pernah membuat orang yang kamu jemput itu menunggu. Jikapun terpaksa, tak perlu berlama-lama. Karena dia akan sampai pada jodohnya, dengan atau tanpa kamu. Kalau memang dia adalah jodoh kamu, kamu akan membersamainya. Tapi jika dia bukan jodoh kamu, tolong jangan jadi penghalang baginya untuk menemukan jodoh yang lebih tepat daripada kamu. Lakukan apa saja selama itu baik untuk mendapatkannya, tapi jangan pernah memintanya menunggu tanpa kepastian. Menunggu saja sudah melelahkan, apalagi ditambah dengan ketidakpastian. Tentu berkali-kali lebih melelahkan.

Kamu memintaku untuk bersabar atas nama cinta. Kamu harus tahu, tak mau menunggu bukan berarti aku tidak sabar. Aku hanya berusaha untuk bergerak dari satu takdir ke takdir lainnya. Dari seorang kamu ke laki-laki lain, yang semoga jauh lebih baik dan tepat untuk menggenapi hidupku kelak. Lagipula, perempuan yang cerdas harusnya menyadari, bahwa tidak semua laki-laki layak ditunggu untuk menggenapi hidupnya. Dan maaf, laki-laki yang tidak bisa memberi kepastian adalah salah satu diantaranya.

Kamu bilang, cinta itu butuh pengorbanan. Dan menunggu adalah salah satu bentuknya. Aku juga ingin bilang, cinta itu tanggung jawab. Jadi jangan bicara tentang cinta jika kamu tidak berani untuk mengambil tanggung jawab atas kehidupan dunia akhirat perempuan yang katanya kamu cintai itu. Tanggung jawab yang selayaknya kamu ambil dengan menggenapi hidupnya. Bukan malah menghindar dari tanggungjawab yang kamu bungkus dengan kalimat;

“tunggu, sampai aku benar-bena siap.”

Laki-laki yang bertanggung jawab itu memberikan komitmen, bukan sekedar janji. Dan tak ada komitmen yang bisa berdiri kokoh di atas pondasi ketidakpastian.

Kamu bilang, cinta itu butuh pengorbanan. Mungkin ada benarnya. Tapi cinta yang tulus, tidak akan pernah menyakiti. Mungkin akan membutuhkan banyak pengorbanan, tapi pengorbanan yang membahagiakan. Bukan pengorbanan yang disesali. Dan tak ada bahagia-bahagianya perempuan yang menunggu laki-laki yang tidak bisa memberi kepastian. Jikapun ada, itu sedikit sekali dibandingkan dengan rasa cemas dan khawatir yang dirasakan. Dan kebahagian yang sedikit itu juga bukan berasal dari proses menunggu, tapi dari proses berharap, yang rentan sekali mendatangkan kecewa.

Memang, tidak semua orang beruntung bisa memiliki orang yang dicintainya, tapi kita selalu bisa mencintai siapa yang sudah kita miliki. Memang, menyenangkan memiliki apa atau siapa yang kita cintai. Tapi kita bukan hanya bisa memulainya dari mencintai, kita juga bisa memulainya dari memiliki. Tak mesti mencintai dulu lalu memiliki. Bisa juga dari memiliki lantas mencintai. Bahkan seharusnya, mencintai apa yang sudah kita miliki jauh lebih mudah daripada mencintai apa yang belum kita miliki. Dan aku tak mau hidupku jadi lebih rumit hanya karena ketidakpastian darimu. Jadi, selamat tinggal!

→Kutipan Buku Genap, Nazrul Anwar←

Renungan untuk para pejuang dakwah

Mengatakan diri beriman itu mudah sekali
Mengeluarkan teori itu mudah sekali
Tapi ketika didatangkan ujian yang bertubi-tubi di saat kita tidak siap, di sanalah baru terbukti, apakah kita benar-benar beriman seperti apa yang terucap? apakah teori kita tentang cara menjalani hidup yang baik mampu dijalankan?
Saya dulu pernah dengan mudahnya mengatakan diri sudah berhijrah, sudah beriman, sudah baik, pernah merasa bangga pada kedekatan terhadap Allah, memandang sebelah mata orang2 yang masih belum mau berhijrah, sudah merasa cukup dengan bergaul dalam lingkungan yang dipenuhi orang-orang yang istiqomah, namun ketika Allah mendatangkan ujian dari seluruh sisi kehidupan, terbuktilah bahwa selama ini iman saya masih amat sangat lemah, hati saya masih dipenuhi keangkuhan dan keegoisan, ketakwaan yang saya perlihatkan di dunia nyata maupun dunia maya hanya sampai ‘di luar’ saja, teori yang saya paparkan tak lebih dari kata-kata tanpa makna.
Tapi Allah memang punya caranya sendiri untuk membuat kita sadar di mana letak kesalahan kita sebagai hambaNya
Jika saja ia membiarkan saya terus menerus seperti itu, mungkin saya tak akan pernah sadar bahwa saya masih kurang dalam segala hal, amat sangat kurang, saya tak akan sadar bahwa berdakwah tidak bisa dilakukan dengan penuh tekanan, hinaan, kata-kata yang tidak santun, dan tanpa contoh yang nyata, bahwa berdakwah tidak bisa dilakukan dengan hati yang keruh dan dipenuhi berbagai macam penyakit hati, saya tak akan pernah sadar betapa berbahayanya lidah dan jari ini jika tidak dikontrol oleh iman dan akal sehat, saya tak akan pernah sadar bahwa sebelum memperbaiki orang lain, harusnya terlebih dahulu saya perbaiki dulu bagian yang masih compang camping dari iman dan akhlak saya….
Saya membagi cerita ini bukan untuk membuka kejelekan diri sendiri. Tapi saya ingin kalian mengambil pelajaran berarti dari apa yang sudah saya lalui. Semoga bisa memberi manfaat :’)

Akan selalu ada laki-laki yang baik-baik untuk wanita yang terus berusaha memperbaiki dirinya. Juga, akan selalu ada, wanita yang baik-baik untuk laki-laki yang selalu berusaha memperbaiki dirinya. Jangan ragu mengambil prinsip hidup.

*Tere Liye