Renungan untuk para pejuang dakwah

Mengatakan diri beriman itu mudah sekali
Mengeluarkan teori itu mudah sekali
Tapi ketika didatangkan ujian yang bertubi-tubi di saat kita tidak siap, di sanalah baru terbukti, apakah kita benar-benar beriman seperti apa yang terucap? apakah teori kita tentang cara menjalani hidup yang baik mampu dijalankan?
Saya dulu pernah dengan mudahnya mengatakan diri sudah berhijrah, sudah beriman, sudah baik, pernah merasa bangga pada kedekatan terhadap Allah, memandang sebelah mata orang2 yang masih belum mau berhijrah, sudah merasa cukup dengan bergaul dalam lingkungan yang dipenuhi orang-orang yang istiqomah, namun ketika Allah mendatangkan ujian dari seluruh sisi kehidupan, terbuktilah bahwa selama ini iman saya masih amat sangat lemah, hati saya masih dipenuhi keangkuhan dan keegoisan, ketakwaan yang saya perlihatkan di dunia nyata maupun dunia maya hanya sampai ‘di luar’ saja, teori yang saya paparkan tak lebih dari kata-kata tanpa makna.
Tapi Allah memang punya caranya sendiri untuk membuat kita sadar di mana letak kesalahan kita sebagai hambaNya
Jika saja ia membiarkan saya terus menerus seperti itu, mungkin saya tak akan pernah sadar bahwa saya masih kurang dalam segala hal, amat sangat kurang, saya tak akan sadar bahwa berdakwah tidak bisa dilakukan dengan penuh tekanan, hinaan, kata-kata yang tidak santun, dan tanpa contoh yang nyata, bahwa berdakwah tidak bisa dilakukan dengan hati yang keruh dan dipenuhi berbagai macam penyakit hati, saya tak akan pernah sadar betapa berbahayanya lidah dan jari ini jika tidak dikontrol oleh iman dan akal sehat, saya tak akan pernah sadar bahwa sebelum memperbaiki orang lain, harusnya terlebih dahulu saya perbaiki dulu bagian yang masih compang camping dari iman dan akhlak saya….
Saya membagi cerita ini bukan untuk membuka kejelekan diri sendiri. Tapi saya ingin kalian mengambil pelajaran berarti dari apa yang sudah saya lalui. Semoga bisa memberi manfaat :’)

2 thoughts on “Renungan untuk para pejuang dakwah

  1. Seperti perkataan seorang safar yang bernama Abdullah bin Al Mubarak

    Ada 3 tahapan ilmu🙂
    1. Jika sampai pada tahapan pertama, maka ia akan merasa sombong
    2. Jika sampai pada tahapan kedua, maka ia akan merasa rendah hati
    3. Jika sampai pada tahapan ketiga, maka ia akan merasa dirinya tidak punya apa-apa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s