tumblr_okgnnfdogh1sl8g3to1_1280

Fitrah penciptaan wanita adalah sebagai ummu warobbatul bait, yakni sebagai ibu dan pengatur rumah tangga. Tapi untuk bisa dan mampu menjalani profesi mulia itu, wanita butuh persiapan yang juga benar2 matang

Karena kelak ibu lah yang akan menjadi madrasah pertama bagi anak-anaknya. Ia yang akan mendidik dan membentuk karakter sang anak. Apakah ayah tak berperan sama sekali? Tentu saja berperan. Tapi peran ibu jauuuuh lebih besar dan lebih berpengaruh

Jika ingin membentuk generasi yang cerdas maka sang ibu pun harus cerdas, jika ingin membentuk anak dengan wawasan luas, maka sang ibu pun harus punya wawasan yang jauh lebih luas, jika ingin memiliki anak yang lingustik nya berkembang dengan baik dan pintar dalam hal komunikasi, maka demikian pula sang ibu, harus sedari kecil mendidik anak nya menjadi komunikator handal. Jika sang ibu abai terhadap pendidikan anak dan menyerahkan sepenuhnya pada sekolah dan lingkungan, maka jangan heran jika bukti nyata nya kita lihat sendiri di masa saat ini. Anak2 semacam awkarin bermunculan dimana-mana. Bukan hanya di kota2 besar tapi juga sampai ke pelosok2 desa

Tidak mudah mendidik anak. Sangat tidak mudah. Dan bisa kita tanyakan pada ibu kita sendiri, bagaimana upaya beliau untuk membentuk kita hingga jadi seperti sekarang, dan apa saja yang dengan ikhlas harus dia lepaskan dan korbankan untuk membuat kita bisa merasakan kasih sayang sepenuhnya dari seorang ibu. 🙂

What Do You Actually Want In Your Life?

Akhir-akhir ini otak serasa sedang tumpul. Kepingin nulis sesuatu tapi nggak tahu harus memulai dari mana dan dengan intro seperti apa. Jadi saya coba-coba saja menulis. Kalau dibaca hasil nya kurang enak, harap dimaafkan dan dimaklumi…

– What Do You Actually Want In Your Life? –

Apa yang sesungguhnya kamu inginkan dalam hidupmu? Pernah tidak kalian coba renungkan hal ini, direnungkan dalam situasi yang tenang, dan bukan dibawah tekanan. Jawaban yang muncul dari dalam diri masing-masing kita pun pasti beragam. Ada yang ingin mengejar cita-cita hingga setinggi luar angkasa (jika kata ‘langit’ tidak cukup menggambarkan ketinggian angan-angan dan harapannya). Ada yang ingin bisa merasakan segala kemudahan dalam hidupnya, bisa makan enak setiap hari, punya rumah mewah, mobil berjejer di garasi, pekerjaan yang mapan dengan gaji yang bahkan berlebih jika patokannya untuk memenuhi kebutuhan tersier. Ada yang ingin suami sempurna, sempurna dalam artian benar-benar punya segalanya, kaya, tampan, mapan, baik hati, tidak sombong, rajin menabung, dan lain sebagainya. Ada yang keinginannya hanya satu, ingin terus mendekatkan diri pada Allah, dan seluruh hal yang ia lakukan dalam hidupnya ingin disandarkannya pada penilaian baik menurut Allah. Ada pula yang tak punya jawaban sama sekali, cuma bisa senyum ketika diberikan pertanyaan seperti itu, tidak punya keinginan apa-apa, dan memilih prinsip hidup “mengalir seperti air”.

Sebenarnya, setinggi apapun kemauan dan harapan kita terhadap kehidupan dunia ini, pasti pada intinya kita hanya menginginkan satu hal, bahagia. Satu kata yang punya ribuan makna. Satu kata yang dicapai dan diusahakan dengan berbagai macam cara oleh masing-masing manusia. Standar bahagia setiap orang pun ternyata tak sama. Ada yang bahagia nya disandarkan pada hal-hal bersifat materi keduniawian, ada yang diletakkan pada hubungan sosial dengan sesama manusia, dan ada pula sekelompok orang yang menancapkan standar bahagianya pada hubungannya dengan Sang Pencipta. Kita semua diberikan keleluasaan oleh Allah untuk menentukan pilihan tentang apa yang sebenarnya kita inginkan dalam hidup, standar bahagia seperti apa yang kita pilih, dan bagaimana cara kita untuk mengusahakannya. Namun bukan berarti keleluasaan itu tidak dibarengi dengan konsekuensi. There will always be a reward or punishment in every decision we made, yang telah ditetapkan Allah untuk setiap manusia, yang merupakan hasil akhir atau konsekuensi dari setiap pilihan yang kita buat dalam hidup.

Tak mudah memang menentukan pilihan, memilih standar bahagia yang tepat, dan mencari apa yang sesungguhnya kita inginkan dari hidup yang hanya sekali dan sementara ini, ditengah gempuran berbagai gaya hidup manusia yang ada sekarang, benar-benar tak mudah. Kadang walaupun kita tahu mana jalan yang akan membawa kita pada ‘bahagia’ yang paling tepat, tetap saja ada kalanya kita menikung, memilih jalan yang salah. Tapi masih saja Allah berbaik hati memberi kita waktu untuk kembali merenung, kembali menata hati dan jiwa, kembali menentukan pilihan. Semoga kita ditetapkanNya pada pilihan-pilihan keinginan yang senantiasa mengantarkan bahagia menurut standar yang dibenarkan oleh syariatNya. In syaa Allah….

My Heart is with ALEPPO

Apa yang saudara muslim kita alami di aleppo sudah di luar batas kewajaran yang.bisa diterima akal dan nurani.manusia. Apa yang di lakukan rezim bashar Assad terhadap rakyatnya sendiri sudah amat sangat biadab! Begitu sakit rasanya setiap kali menyaksikan video2 yang menggambarkan kondisi terakhir di sana. Ibu terpisah dari anaknya, anak-anak bayi yang bahkan belum mengenal apa itu dosa harus meregang nyawa, para wanita yang tak sudi kehormatannya di lucuti pengikut ashad memilih untuk bunuh diri, suami yang menggotong tubuh istrinya yang sekarat untuk mencari pertolongan medis tapi tak menemukan satu dokter pun di kawasannya yang masih tersisa hingga akhirnya sang istri menghembuskan nafas terakhirnya. .

Ya rabbi…apa yang tengah terjadi pada umat ini? Dimana lagi rasa kemanusiaan di letakkan oleh Ashad dan Pemimpin Amerika serta Rusia yang menjadi pendukungnya? Kapankah umat ini akan menang dan merasakan hidup yang damai di bawah naungan hukum syariatMu, tanpa ada satu negeri kafir pun yang bisa menginjak-injak kehormatan kami?

Mungkin sebagian kita berpikir bahwa.hanya doa dan bantuan dana saja lah yang bisa kita berikan untuk mereka saat ini. Namun sesungguhnya masih ada satu hal penting yang kita lupakan. Yakni dakwah. Dakwah agar umat muslim mau merasakan sakit yang sama seperti di hati mereka seperti yang saat ini dirasakan oleh saudara2 kita di aleppo, iraq, afghanistan, rohingnya, dan daerah2 konflik lainnya. Dakwah agar umat muslim paham bahwa semua penindasan yang saat ini umat rasakan karena tidak adanya persatuan umat di seluruh dunia. Umat islam terpecah-pecah dalam.sekat nasionalisme, terkukung dalam wilayah teritori, terbagi menjadi 54 negara, yang tidak satupun pemimpin negaranya mau membela umat muslim negara lain dengan mengirim pasukan nya, hanya karena pemikiran “urusan dalam negeri suriah tidak mungkin bisa di campuri” lantas merasa cukup hanya dengan mengirimkan kecaman, memutus hubunga diplomatik dengan rusia, dan kebijakan2 lainnya yang sebenarnya tak akan berdampak banyak pada nasib umat ini.

Berdakwahlah, agar umat ini merindukan kejayaan islam. Agar umat ini merindukan nikmatnya.hidup dalam naungan syariat islam. Berdakwahlah agar mereka paham bahwa dulu umat islam pernah bersatu, menguasai 3/4 dunia, dalam satu kepemimpinan, dengan di atur oleh hukum islam, dan di saat itu semua rakyat merasakan betul apa yang sering kita sebut sebagai “rahmatan lil ‘alamin”. Berdakwahlah, agar terketuk hati para pemilik kuasa, para pemimpin pasukan keamanan di tiap2 negeri muslim, untuk bersatu, dan menyelamatkan saudara2 kita yang saat ini tak harus meminta tolong pada siapa…

 

image

Secantik dan setampan apapun dirimu tak akan meningkatkan derajatmu dihadapan Allah jika hatimu tidak kau benahi, imanmu kau biarkan compang camping, akhlakmu tak kau jaga dengan baik, lisanmu tak kau gunakan dengan ma’ruf….
Karena wajah yang kau banggakan bisa jadi hilang dalam sekejap jika Allah berkehendak…
Sedangkan hati yang indah, akhlak yang baik, tutur kata yang lembut, serta keimanan dan ketakwaan yang terjaga tak akan pernah lekang oleh waktu….

Lebih dulu mana, jodoh atau kematian?

Beberapa waktu terakhir tulisan saya di Instagram, facebook atapun di blog berkisar di situ-situ saja. Berputar-putar hanya membahas tentang cinta dan pernikahan.

Memang benar di usia 25 tahunan ini bagi kebanyakan wanita, membahas dan mencari jawaban dari pertanyaan, “Kapan nikah?” Itu adalah hal yang amat sangat menarik, yang seakan tak ada habis-habisnya untuk dibicarakan. Padahal ada yang jauh lebih penting dan lebih pasti dari masalah kapan datangnya jodoh. Hal itu adalah, Kematian.

Siapa yang tahu kapan kita akan mati? Siapa yang bisa mengira jika ternyata ajal yang tak pernah diundang itu justru lebih dulu datang menjemput dibanding sang jodoh yang selalu dinanti-nantikan? Sudah siapkah kita untuk itu? 😥

Menjadi hal yang penting memang untuk memantaskan diri guna mendapatkan seorang suami yang baik agamanya, dan baik akhlaqnya. Tapi memantaskan diri untuk menghadap sang Khalik rasanya jauh lebih penting dan jauh lebih urgent untuk diurus saat ini.

Jika ternyata kita diizinkan untuk bertemu ‘dia’ sebelum ‘Dia’ memanggil, maka itu semata-mata bonus dari Allah untuk kehidupan kita. Bonus yang diberikan sebelum Dia menarik segala nikmat untuk kita di dunia, dan mengakhiri perjalanan kita sampai di detik yang telah ditentukan waktunya… Mulai sekarang, kita sama2 perbaiki lagi niat kita. Agar segala hal yang kita lakukan dalam hidup, segala ibadah yang kita lakukan, semata-mata untuk mencari ridhoNya, dan untuk bekal menuju kematian yang bisa jadi cepat kedatangannya…

Umi

image

Kita sibuk sekali mencari-cari
Padahal yang selalu ada dan tak pernah kurang memberi berada dekat sekali
dia mungkin tak pandai menampakkan cinta dan kasih sayangnya
tapi coba lihat segala hal yang dikorbankannya untuk kebahagiaan kita
Mana bisa kau sembunyikan air matamu darinya
Meski sudah kau tutup-tutupi, dia pasti bisa melihat ke dalam hatimu, dan ikut Merasakan apa yang sedang kau rasakan, turut merisaukan apa yang kau risaukan
Adalah ibu
Manusia yang paling besar cintanya pada kita di muka bumi ini
Yang cintanya tak kan pernah habis
Dan tak pernah berbatas
Bahkan kelak jika kau tak lagi hidup bersamanya
Jika kau tak lagi menjadikannya prioritas utama
Dia tetap akan memprioritaskanmu, sampai kapanpun, tak akan pernah berubah, selamanya… 😥

– mindeulle

*NB. Kaligrafi ini bukan karya saya

Menunggu Jodoh

Kalau jodoh harus dijemput, jangan pernah membuat orang yang kamu jemput itu menunggu. Jikapun terpaksa, tak perlu berlama-lama. Karena dia akan sampai pada jodohnya, dengan atau tanpa kamu. Kalau memang dia adalah jodoh kamu, kamu akan membersamainya. Tapi jika dia bukan jodoh kamu, tolong jangan jadi penghalang baginya untuk menemukan jodoh yang lebih tepat daripada kamu. Lakukan apa saja selama itu baik untuk mendapatkannya, tapi jangan pernah memintanya menunggu tanpa kepastian. Menunggu saja sudah melelahkan, apalagi ditambah dengan ketidakpastian. Tentu berkali-kali lebih melelahkan.

Kamu memintaku untuk bersabar atas nama cinta. Kamu harus tahu, tak mau menunggu bukan berarti aku tidak sabar. Aku hanya berusaha untuk bergerak dari satu takdir ke takdir lainnya. Dari seorang kamu ke laki-laki lain, yang semoga jauh lebih baik dan tepat untuk menggenapi hidupku kelak. Lagipula, perempuan yang cerdas harusnya menyadari, bahwa tidak semua laki-laki layak ditunggu untuk menggenapi hidupnya. Dan maaf, laki-laki yang tidak bisa memberi kepastian adalah salah satu diantaranya.

Kamu bilang, cinta itu butuh pengorbanan. Dan menunggu adalah salah satu bentuknya. Aku juga ingin bilang, cinta itu tanggung jawab. Jadi jangan bicara tentang cinta jika kamu tidak berani untuk mengambil tanggung jawab atas kehidupan dunia akhirat perempuan yang katanya kamu cintai itu. Tanggung jawab yang selayaknya kamu ambil dengan menggenapi hidupnya. Bukan malah menghindar dari tanggungjawab yang kamu bungkus dengan kalimat;

“tunggu, sampai aku benar-bena siap.”

Laki-laki yang bertanggung jawab itu memberikan komitmen, bukan sekedar janji. Dan tak ada komitmen yang bisa berdiri kokoh di atas pondasi ketidakpastian.

Kamu bilang, cinta itu butuh pengorbanan. Mungkin ada benarnya. Tapi cinta yang tulus, tidak akan pernah menyakiti. Mungkin akan membutuhkan banyak pengorbanan, tapi pengorbanan yang membahagiakan. Bukan pengorbanan yang disesali. Dan tak ada bahagia-bahagianya perempuan yang menunggu laki-laki yang tidak bisa memberi kepastian. Jikapun ada, itu sedikit sekali dibandingkan dengan rasa cemas dan khawatir yang dirasakan. Dan kebahagian yang sedikit itu juga bukan berasal dari proses menunggu, tapi dari proses berharap, yang rentan sekali mendatangkan kecewa.

Memang, tidak semua orang beruntung bisa memiliki orang yang dicintainya, tapi kita selalu bisa mencintai siapa yang sudah kita miliki. Memang, menyenangkan memiliki apa atau siapa yang kita cintai. Tapi kita bukan hanya bisa memulainya dari mencintai, kita juga bisa memulainya dari memiliki. Tak mesti mencintai dulu lalu memiliki. Bisa juga dari memiliki lantas mencintai. Bahkan seharusnya, mencintai apa yang sudah kita miliki jauh lebih mudah daripada mencintai apa yang belum kita miliki. Dan aku tak mau hidupku jadi lebih rumit hanya karena ketidakpastian darimu. Jadi, selamat tinggal!

→Kutipan Buku Genap, Nazrul Anwar←