Pelarangan Jilbab, peci dan Bank Syariah di Bali –> Apakah ini yang namanya TOLERANSI ?!

Allah, Tuhan ummat muslim, telah berfirman “lakum diinukum waliyadiin” yang artinya “Untukmulah agamamu, dan untukku lah agamaku”

Pelarangan berhijab di BALI menjadi bukti bahwa ‘toleransi’ beragama yg selama ini di gembar gembor kan tidak berlaku sama sekali untuk islam minoritas. Hak seorang wanita muslim untuk menjalankan kewajiban agamanya direnggut oleh orang2 yang pro demokrasi, orang2 yang ‘katanya’ mengusung kebebasan.

jika hal seperti ini terjadi pada umat muslim, kemana lari nya aktivis HAM yang selama ini selalu koar2 mengatakan islam agama yg tidak toleran tanpa pernah mau tahu ajaran islam yang sesungguhnya? Dimana diletakkan kebebasan untuk umat islam?! Giliran ada sekolompok penganut agama lain yg memaksa mati-matian ingin mendirikan rumah ibadah di pemukiman muslim dengan cara memalsukan tanda-tangan perizinan warga, malah dibela sampai kabar beritanya menyebar ke luar negeri. Sebenarnya yg tidak punya dan tidak paham toleransi itu siapa? kita lihat apakah ada media TV yang berani memberitakan hal ini secara ‘proporsional’ dan tidak semakin memojokkan ummat muslim?! setahu saya sampai detik ini BELUM ADA media TV yang BERANI menyoroti hal ini! yang disoroti masih itu-itu saja –> isu ISIS dan KHILAFAH. (tanya kenapa??!!)

lagi-lagi Allah memberikan tamparan untuk ummat muslim (terutama yg hidup di indonesia) dengan kejadian ini. Ketika kita hidup dalam lingkungan mayoritas islam dan tidak ada tekanan apa-apa dari pihak mana pun terhadap hak-hak kita dalam menjalankan hidup, mungkin itu akan membuat kita malah lalai menjalankan aturan2 agama. Tak mau peduli yang namanya syariat islam, tak mau peduli akan usaha orang2 yang getol menyuarakan penerapan syariat islam dalam bingkai khilafah islamiyah. Malah senang-senang saja menjadi pendukung sistem kufur demokrasi. Tapi lihatlah bagaimana kondisi saudara2 kita yang hidup sebagai minoritas di daerah dengen penduduk yang kebanyakan beragama lain. Atau yang hidup dalam tekanan dari bangsa lain. Bandingkan keimanan dan ketakwaan mereka dengan kita. Bandingkan kekuatan niat dan keistiqomahan mereka dalam menjalankan syariat islam dibanding kita. Tidak kah seharusnya kita malu?!

Semua episode buruk yg terjadi pada ummat muslim ini terjadi bukan tanpa maksud apa-apa, tapi Allah sedang benar2 menegur kita, marah pada kita. Bagaimana bisa seseorang yg mengatakan diri muslim dan mengatakan agamanya adalah agama yg sempurna lantas tidak mau melaksanakan aturan agamanya? Bagaimana bisa seseorang yg mengatakan “AlQur’an adalah penuntunku” lantas tidak mau melaksanakan apa yang tertuang dalam Al Qur’an? Tidak mau pula mengusahakan agar seluruh umat muslim di dunia ini (bukan hanya dirinya) bisa menjalani hidup yang sama damainya dengan dirinya, bisa merasakan ketenangan dan keleluasaan dalam menjalankan ajaran agama seperti dirinya? Atau, apa perlu Allah membalikkan kondisi kita yang saat ini masih bisa berleha-leha, diubah seketika menjadi berada di sisi tertindas untuk membuat kita menyadari kesalahan kita? Sungguh mudah bagi Allah untuk melakukan itu jika Ia berkehendak.

Maka dari itu, sadarlah. Bukalah mata dan hati kalian bahwa ummat ini membutuhkan khilafah. Membutuhkan sebuah sistem kenegaraan, sistem pemerintahan yang dijalankan dengan ajaran islam agar setiap muslim mampu menjadi islam yg kaffah. Tak akan pernah surut langkah kami untuk menyuarakan penegakan syariah dan khilafah sampai seluruh umat sadar betul bahwa tidak ada lagi yang bisa menolong mereka selain Allah, tidak ada lagi yang bisa merubah kondisi mereka selain menerapakan hukum2 Allah. Berharap pada demokrasi? Ah sungguh itu hanya bualan pemimpi. Yang peka melihat fakta dan mengambil ibroh dari segala kejadian in syaa Allah tahu betul bahwa sistem ini ya memang sudah rusak. Tidak bisa diperbaiki lagi. Yang berusaha untuk memperbaiki mobil yang rusak nya parah malah akan ikut meledak di dalam mobil itu.

Pengemban dakwah syariah dan khilafah pun saat ini sedang diuji dengan isu global munculnya gerakan separatis berskala besar yang malah merusak keagungan khilafah dan makin mencoreng nama islam. Makin menjadi-jadi lah islamophobia dan makin menjadi-jadi pula cercaan terhadap umat muslim serta agama kita yang indah dan sempurna ini. Marilah satukan barisan bersama orang-orang yg istiqomah memperjuangkan agama Allah. Demi kemenangan islam. Demi kesatuan ummat ini. Demi kehidupan umat yang lebih baik di dunia dan akhirat

 

apakah kita termasuk buih dilautan itu? na’udzubillah…

Memang benar, bahwa akan datang suatu masa, dimana ummat islam itu jumlahnya banyak, tapi mereka bagaikan buih dilautan…
Mereka menyatakan diri beragama islam, tapi sedikit sekali yang bangga akan keislamannya, bahkan ada yg tak tahu mengapa dirinya beragama islam, tahunya hanya ”ini agama orang tua saya”…

Yang lebih miris lagi, bukannya berusaha menyesuaikan hidup agar sesuai dengan syariat islam, sesuai dgn perintah Allah, tapi malah bangga dengan kesekuleran, bangga dan mengatakan diri ”saya ini orangnya liberal”, menganggap diri mengikuti zaman, lupa bahwa islam itu agama sempurna, yang tak akan bisa diubah zaman, meski zaman sudah hancur pun, islam tetaplah islam, dan hukum Allah itu tak akan pernah berubah…

Mengapa kita, ummat Islam ini, bangga sekali, menggunakan sistem yang bahkan diragukan keberhasilannya oleh pencetusnya…

Mengapa kita bangga sekali, menggunakan sistem yg bahkan di negara penguasanya pun diragukan keberhasilannya…?

Ya Rabbi… 

saya berikan kutipan kalimat dari mantan presiden AS yang ke-2 John Adams tentang demokrasi:

”Ingatlah bahwa demokrasi tidak akan pernah bertahan lama. Ia akan segera dibuang, kehilangan kekuatan, dan akan menghabisi dirinya sendiri. Tidak akan pernah ada sebuah sistem demokrasi yang tidak menghabisi dirinya sendiri.”

Wallahu a’lamubissawab…

Semoga kita tidak termasuk dalam golongan orang2 tersebut…semoga Allah selalu menunjukkan kita jalan yg Ia ridhoi, dan semoga kita tdk taklid buta, mengikuti sesuatu atau seseorang tanpa punya hujjah yang jelas, mengikuti sesuatu tanpa dasar, hanya dilandaskan pada logika manusia yg serba terbatas…aamiin…

renungan untuk saya dan untuk kita semua… :)

Ukhuwah yang terpenting…
ukhuwah yang terpenting…
ukhuwah yang terpenting…

Semoga ukhuwah kita tetap terjaga, dan semoga Allah selalu menunjukkan jalan yang ia ridhoi bagi orang2 yang mengharapkan ridhonya dan senantiasa memperdalam ilmu agamanya…

Tetaplah berusaha menambah ilmu, mencari sebanyak-banyaknya jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang muncul dalam benakmu, hingga kau temukan jawaban yang paling tepat, jawaban yang diridhoi Allah…

Janganlah berpuas diri dengan sedikit ilmu yang saat ini kita miliki, karena para ulama, para sahabat nabi, para pendahulu kita, ilmu agama mereka dengan kita bagaikan bumi dan langit, kita tak ada apa-apanya dibanding mereka, ketakwaan dan keistiqomahan mereka jauh melebihi kita yang sudah terpontang panting oleh dunia ini….

jangan lantas sombong dan jumawa, merasa diri paling istiqomah, paling sholeh, paling alim, paling paham agama dan semua orang lain salah, merasa hebat dibanding orang lain, jangan, sungguh jangan, Allah tak mengharapkan kita mengkaji ilmu agama untuk jadi pembanggaan diri… 😦

Dan semoga kita senantiasa menjadi layaknya padi, yang ketika semakin berisi maka akan semakin merunduk…
Semoga kelak kita bisa bergabung dengan orang2 yang dekat dengan Rasulullah, para syuhada, dan orang2 sholeh yang senantiasa memperjuangkan tegaknya syariat islam, di surga Allah…


Aamiin, ya Rabbl ‘alamin… 

semoga bukan dunia yang menjadi prioritas kita…

semua orang di dunia ini punya berbagai macam hal yang harus dipikirkan dalam hidupnya. termasuk saya. otak saya harus terbagi jadi berbagai macam tema yang harus di pikirkan. tapi dari semua tema itu harus ada prioritas yang diutamakan. apa prioritas paling utama saya saat ini? Perbaikan diri, dan keadaan umat.

manusia pasti wajar memiliki hal lain yang harus dipikirkan seperti dambaan hati, atau seseorang yang spesial, masa lalu, atau apalah yang memiliki kaitan dengan perasaan. tapi untuk saat ini, ah sungguh, rasanya saya benar-benar harus meletakkan masalah perasaan-perasaan ini di urutan paling bawah. daripada memusingkan hal yang belum jelas, ada hal lain yang lebih urgent. saya tidak tahu sampai kapan Allah memberikan batas usia, dan saya tidak tahu, apakah nanti ketika ALLAH tiba-tiba mengambil ruh ini, saya sudah cukup punya tabungan amal ibadah untuk dijadikan bekal ke akhirat. saya juga tidak tahu, ketika nanti ajal menjemput, sudah maksimal kah usaha saya untuk mendakwahkan agama Allah ditengah-tengah masyarakat yang sekarang sudah carut marut ini? sudah sampaikah ke dalam hati mereka keyakinan untuk ikut serta menyongsong tegaknya kekhilafahan? semoga saja usaha saya selama ini diridhoi Allah, agar kelak ketika saya mati, saya tidak mati dalam keadaan jahiliyah karena tidak mengusahakan khilafah untuk tegak di bumi Allah.

para pembaca sekalian, apa prioritasmu dalam hidup? jika kita punya prioritas yang sama, mari kita usahakan dengan semaksimal mungkin. mari kita tetap saling mengingatkan dalam kebaikan. jika rasanya kadar keimanan sudah mulai turun, semoga Allah cepat menegur kita untuk segera kembali ke jalan yang benar. semoga dunia tidak menjadikan kita lalai dan lupa pada prioritas kita, dan lupa akan tujuan Allah menciptakan kita ke dunia… T__T

Maukah membagi “semangat” dan “suara” nya untuk menolong generasi muda muslim?

Entah kenapa, saya berharap sekali, semangat luar biasa dari rekan-rekan sesama dokter dan dokter muda yang beragama Islam yang kemarin digunakan untuk menyuarakan penolakan terhadap kriminalisasi dokter bisa juga digunakan untuk menyuarakan penolakan terhadap pekan kondom nasional dan membela agamanya sendiri. 

Karena kalau bukan kita yang membela dan membangun agama ini, lantas siapa yg mau diharapkan? Para tokoh agama saja? Tak cukup kawan, kita generasi muda inilah yg sepatutnya bergerak maju. Mari bersama-sama dengan tegas kita menyatakan #TolakPekanKondomNasional !!! Selamatkan ummat dari bahaya seks bebas !!!

Hijab besar –> bukan Radikal, hanya sebuah bentuk ketaatan ^_^

Dulu saya pernah mendengar pendapat “orang jilbab besar itu RADIKAL” dulu mungkin saya tak begitu peduli dengan celetukan2 sejenis itu, tapi sekarang saya sadar bahwa pendapat itu salah, Please, Don’t Judge A Book by its Cover, kalau kita tidak tahu mengenai hakikat sesuatu, alangkah baiknya bertanyalah, cari tahulah dahulu, dan setelah menemukan jawaban yg sebenarnya, disanalah hidayah Allah akan menyentuh hatimu.  – Pinguin