Our Circle

Seorang teman pernah berkata pada saya, “Makin dewasa, our circle pasti akan makin mengecil diameternya. Setiap orang akan mulai punya prioritas masing-masing. Keluarga dan orang-orang terdekat, misalnya”

Mungkin apa yang dia katakan ada benarnya. karena saya sendiri juga merasa demikian. Pertambahan usia memang membuat kita mengenal makin banyak orang. Tapi diantara sekian banyak ‘acquitances‘ itu pada akhirnya kita hanya akan memilih untuk melebihkan waktu bersama orang-orang tertentu saja. Orang-orang itu mungkin bagi sebagian orang disebut ‘prioritas utama’, namun saya lebih memaknainya sebagi ‘tempat yang nyaman’. Hal yang paling saya butuhkan dari suatu hubungan, entah itu hubungan keluarga, pertemanan, persahabatan, atau yang lainnya adalah kenyamanan. Jika saya merasa nyaman dengan orang-orang itu, maka hanya dengan orang-orang itu sajalah saya memilih untuk menghabiskan waktu saya. Orang yang menjadi prioritas utama, belum tentu adalah orang yang membuat saya merasa nyaman. Mungkin inilah yang membuat lingkup pergaulan saya kian hari jadi kian mengecil. Karena dari beribu orang yang pernah hadir dalam hidup saya, yang bisa membuat saya merasa nyaman mungkin bisa dihitung dengan jari, sangat amat sedikit.

Apakah itu salah satu bentuk keegoisan? Saya rasa tidak. Saya tidak mengatakan saya serta merta jadi menganut cara bergaul macam ini tanpa ada sebab musababnya. Dulu sekali, saat masa kuliah, saya pernah mencoba memperluas pergaulan. Berteman dengan siapa saja. Bicara dengan siapa saja. Mengetahui banyak sekali rahasia karena ada begitu banyak orang yang datang pada saya untuk menceritakan rahasia dan masalah-masalah mereka. Tapi lambat laun, orang-orang itu menghilang, satu demi satu. Mereka bagaikan fatamorgana yang hanya nampak dari kejauhan tapi ketika saya berusaha mendekat, mereka lenyap, hilang tak berbekas. Mereka tak pernah ada disaat saya butuh tempat untuk bercerita. Mereka tak pernah ada di saat saya merasa sendiri, kesepian, terjatuh, sakit, putus asa, dan tak lagi punya semangat untuk hidup. Mereka tak pernah mau mendengarkan sebagaimana saya selalu berusaha menjadi pendengar yang baik bagi mereka. Kalaupun ada yang mau mendengarkan, mereka malah men-judge, menghakimi, seakan mereka lebih tahu tentang hidup saya dibanding saya sendiri yang sudah berusaha bertahan dan menjalaninya selama bertahun-tahun. Bahkan ada diantara mereka yang jengah dengan cerita saya, jengah dengan tangisan-tangisan saya, membentak saya dan mengatakan saya wanita yang lemah. Ada pula diantara mereka yang ketika saya mencoba pergi dari rumah dan ingin menumpang menginap di tempatnya hanya untuk satu malam saja, dia malah memarahi saya dan menyuruh saya kembali kerumah tanpa pernah bertanya, “Kamu kenapa? Kenapa pergi dari rumah?” Dia bahkan tak menawarkan saya untuk menginap ditempatnya, tidak menawarkan pundaknya untuk saya bersandar, atau pelukannya untuk menenangkan perasaan saya yang saat itu sedang benar-benar kalut. Sungguh, jika saya mengingat-ingat lagi peristiwa itu, saya sangat menyesal pernah menyebut gadis itu sebagai sahabat saya. Padahal tak sekalipun dia pernah peduli pada masalah apapun yang saya alami. Dia tak pernah bertanya kenapa sering sekali saya masuk kuliah dengan mata yang sembab, atau datang ke kosnya untuk menumpang belajar tapi dengan mata dan hidung yang memerah. Tak pernah satu kali pun.

Oleh karena itulah, perlahan-lahan saya semakin menarik diri. Mengamati dan menilai, untuk kemudian memilih siapa yang harus saya pertahankan dan siapa yang harus saya jauhi. Saya yang semula sangat extrovert berubah 180 derajat menjadi sangat introvert. Ini saya lakukan semata-mata demi kebaikan diri saya sendiri. Saya hanya tak ingin menaruh harapan akan kehadiran orang lain dalam hidup saya. Saya tak ingin membuat orang lain tak nyaman dengan keluhan dan cerita-cerita saya. Berkat sikap mereka saya jadi banyak belajar tentang pentingnya merahasiakan masalah. Saya tak perlu bercerita pada siapapun tentang betapa berat hidup ini dan betapa lelahnya saya harus menjalaninya sendirian. Karena belum tentu dari semua orang yang saya titipkan cerita itu benar-benar ingin tahu dan peduli dengan apa yang saya rasakan. 

“Jangan pernah berharap orang lain akan selalu ada untukmu. Bahkan bayanganmu pun bisa saja meninggalkanmu di saat gelap gulita.”

Mungkin tulisan ini tak bisa menjadi penyemangat bagi orang-orang yang sedang merasa kesepian. Saran saya, hadapilah kesepian itu dengan semampumu, sekuat yang kau bisa. Masih ada Allah, ingat saja itu. Jangan lagi jadikan manusia sebagai tempat pelarianmu. Karena semua orang punya masalah, dan tak semua orang mau menerima tambahan masalah darimu. Berkenalanlah dengan siapa saja. Berbuat baik lah tanpa mengharap imbalan apa-apa, apalagi berharap mereka akan selalu ada untukmu, jangan pernah! Tersenyumlah seceria mungkin pada semua orang yang kau kenal, sembunyikan dalam-dalam air matamu dari mereka semua karena mereka tak perlu tahu seberapa besar rasa sakit yang sedang kau tahan. Dan dari sekian banyak orang yang kau kenal itu, pilihlah satu, dua atau tiga orang yang bisa membuatmu nyaman. Bertemanlah dengan mereka. Luangkan waktumu bersama mereka. Tak perlu kau kembangkan sayapmu terlampau luas karena pada akhirnya rangka-rangkanya akan patah karena tak mampu menahan terpaan angin yang keras di luar sana.

Sekali lagi, ini bukan tulisan untuk memotivasi. Saya hanya menuliskan apa yang pernah saya alami dan apa yang saya dapatkan dari kehidupan saya selama ini. Jika ternyata teori yang saya terapkan ini sesuai untukmu, maka gunakanlah dalam kehidupanmu. Jika kau tak setuju, maka jangan menghakimi, jangan memprotes berlebihan, jangan memberikan saran. Jangan lakukan apapun selain membaca dan berusaha memahami keadaan, dan perasaan orang-orang seperti saya. Karena tanpa kalian sadari, orang-orang sejenis ini tersebar banyak sekali, di mana saja, di seluruh dunia. Mereka tak pernah terlihat karena selama ini mereka menyembunyikan dalam-dalam luka dan air matanya di balik senyum ceria yang mereka pasang ketika berhadapan dengan kalian. 

Ya Allah, please, save muslim people… T_T

masihkah kalian ingat bahwa di rohingnya, dan di beberapa negara islam lainnya, ada saudara2 kita sesama muslim, yang hidupnya penuh penderitaan, dianiaya dan disiksa oleh orang2 yang tak menyukai islam, dibunuh, dibiarkan mati kelaparan dan mati karena penyakit mematikan di kamp pengungsian, dibombardir, anak-anak mereka mati dihadapan mereka, isteri dan suami mereka meregang nyawa tepat di depan wajah mereka, masihkah kalian ingat? apakah kalian pikir kejadian-kejadian ini sudah berakhir? apakah kalian pernah sekali saja memikirkan nasib mereka? mendo’akan mereka? memohonkan keselematan mereka kepada Allah? pernahkah?

sedangkan kita, ummat muslim Indonesia, ummat dengan jumlah yang begitu banyak, yang (syukur alhamdulillah) masih diberikan kesempatan untuk bebas bernafas, masih diberikan kesempatan untuk menunaikan ibadah, masih dapat menjalani kehidupan dengan normal dari mulai bangun tidur hingga tidur lagi, malah berlomba-lomba berkampanye, memposting berbagai kehebatan capres ini dan itu, gegap gempita tak peduli kiri-kanan menyeru kepada calon yang menjadi pujaan! ah…kenapa begini sekali kita ini? kemana rasa kemanusiaan kita? kemana dibawa akal pikiran kita? apakah capres yang dipuja-puja itu mampu menyelamatkan saudara2 kita yang sedang menderita di luar sana? apakah mereka bisa membawa sedikit saja perubahan untuk ummat muslim di seluruh dunia yang sekarang sudah tak lagi punya nama, tak lagi dianggap ada dan hanya mendapatkan cap “miskin, kotor, kampungan, ketinggalan jaman, lemah, mudah diperdaya, mudah dipecah-belah, teroris”. Mau sampai seberapa jauh kita pergi dari Allah? mau sampai seberapa jauh kita mempercayai mereka yang TAK SEKALIPUN pernah mengatakan akan membela islam hingga titik darah penghabisan? apa sebegitu suci nya negara ini, sebegitu sucinya nasionalisme ini, hingga agama sendiri dibuang, dianggap tak layak pakai, dan hanya dipelihara di masjid dan dirumah saja, dan hanya digunakan untuk perbaikan individu saja, tidak bisa dipakai untuk membangun sebuah negara, tak bisa digunakan untuk berpolitik?!

ya Rabbi….ya Allah….maafkan kami yang begitu ingkar dan membangkang ini…maafkan kami ya Rabbi, maafkan kami….izinkan kami menangis ya Rabbi, izinkan kami menangis melihat keadaan ummat islam diseluruh penjuru bumiMu yang kini lemah dan tak punya daya upaya apapun untuk membela diri, apalagi untuk menyerukan namaMu dengan lantang dan berani, tak berani mengibarkarkan panji-panji agamaMu karena takut dianggap teroris, takut dianggap ekstrimis, radikalis, takut dianggap SESAT..!! ya Allah ya Tuhanku, izinkan kami menangis karena sudah tak tahan lagi rasanya melihat agamaMu dihina, dicemooh, Rasulmu dijadikan olok-olokan, Al Qur’anmu yang suci disobek-sobek, dijadikan tissue toilet, dibakar…izinkan kami menangis, sekali ini saja, duhai Tuhanku…

sumber artikel di bawah: https://www.facebook.com/photo.php?fbid=10151565016765891&set=a.10150234881225891.358582.202547135890&type=1&relevant_count=1
SAVE ROHINGYA

Bayangkan betapa hancurnya perasaan seorang ayah di Rohingya ini. Anaknya sedang sakit keras dan butuh pertolongan medis, namun ia tak dapat membawa buah hatinya berobat karena minimnya obat-obatan dan peralatan medis di Rohingya. Dan akhirnya ia harus melihat buah hatinya kembali kepada Allah SWT dipangkuannya.

Sahabat sekalian, saat ini suku rohingya banyak yg tinggal di pengungsian. Namun tempat tinggal mereka tidak layak kesehatannya. Sehingga cerita diatas adalah salah satu contoh akibatnya.

Photo: FamilyGuide

SAVE ROHINGYA

Bayangkan betapa hancurnya perasaan seorang ayah di Rohingya ini. Anaknya sedang sakit keras dan butuh pertolongan medis, namun ia tak dapat membawa buah hatinya berobat karena minimnya obat-obatan dan peralatan medis di Rohingya. Dan akhirnya ia harus melihat buah hatinya kembali kepada Allah SWT dipangkuannya.

Sahabat sekalian, saat ini suku rohingya banyak yg tinggal di pengungsian. Namun tempat tinggal mereka tidak layak kesehatannya. Sehingga cerita diatas adalah salah satu contoh akibatnya.

Inginkah Anda membantu mereka?

1. Jadikan posting status ini populer (viral) agar lebih banyak orang melihat dan tergerak membantu
- Klik LIKE atau berikan komentar di status ini
- SHARE status ini di timeline/wall Anda agar teman-teman Anda bisa juga tergerak membantu

2. Ingin membantu lebih, silakan salurkan donasi atau sedekah Anda melalui lembaga kemanusiaan yang peduli rohingya ACT( Aksi Cepat Tanggap)

Like n share ya ^^
 

iseng :)

nggak tau kenapa malem ini tiba-tiba saya pengen cari video akad nikah syar’i…eh ternyata nemu videonya couple ini…this is one of my favourite couple (muhammad amirul dan irine nadia). mereka pasangan dari malaysia. kenapa saya suka banget sama couple ini? mungkin karena yang cowoknya cakep, terus yang ceweknya cantik, mungkin…mungkin juga karena yang cowok nya pake kacamata? hahaha, mungkin juga 😛 ….mungkin karena suka liat mereka yang keliatan malu-malu setelah akhirnya ‘sah’ jadi suami isteri, mungkin karena…..karena saya pengen banget ngerasain hal yang sama, ngerasain senyum bahagia seperti yang terpancar dari wajah mereka berdua…mungkin…. 🙂

tapi bagian paling mengharukan dari video pernikahan, selalu di bagian di mana mempelai wanita mencium tangan ibunya, memeluk ibunya, ahh….saya belum siap untuk melakukan hal itu, masih pengen terus-terus sama umi, pengen nebus semua dosa dan kesalahan selama ini karena bandel nggak pernah mau dengerin kata-katanya umi, pengen bikin umi & bapak bisa ngerasa bangga punya anak seperti saya, barulah saya siap untuk berada di posisi itu, menerima pinangan seorang laki-laki yang akan membawa saya pergi dari umi dan bapak….sekarang saya boleh nangis kan? sudah nggak ketahan daritadi….

umi, bapak, do’akan anakmu….semoga esok akan datang laki-laki sholeh, laki-laki dengan akhlaq yang baik, perangai yang baik, santun tutur katanya, terjaga pandangan dan sikapnya, serta terjaga ibadahnya untuk meminang anak semata wayangmu ini….agar tenang hati umi & bapak ketika melepas saya pergi…do’akan agar lelaki itu datang karena benar-benar mencintai anakmu, bukan karena parasnya, bukan karena fisiknya, namun karena kecintaan ia pada Allah sang pemilik jiwa….agar ia mampu menjadi imam yang baik untuk saya, mampu menjaga dan melindungi saya, mampu mengerti saya, mampu membimbing saya ke agama Allah yang lurus dan indah, dan agar kami mampu membesarkan anak-anak yang juga sholeh dan sholehah, cucu-cucu yang akan meramaikan rumah yang sepi ini, memberikan senyum dan tawa bahagia di wajah umi & bapak di hari tua kelak….umi…bapak….saya sayang kalian berdua….sayang sekali….

sudah siap jadi orang tua???

begini beratnya jadi orang tua, padahal ini cuma dua anak. kalau jadi ibu yang nggak sabaran, pasti semuanya kacau balau. kalau jadi ayah yang egois dan nggak mau ngebantu istri untuk merawat anak, pasti hancur rumah tangga itu…

untuk yang sudah menikah, semoga siap menjalani semua tanggung jawab yang ada dan sanggup meluangkan waktu semaksimal mungkin untuk anak-anak. untuk yang belum menikah, hehe, kita siap-siap yuk, menikah nggak gampang, ngebesarin anak apalagi, kalau ngurus diri sendiri aja kita masih belum bisa, kalau hati kita masih diisi sama yang nggak karuan (apa itu? artinya caritau sendiri, tanya sama hati masing2, hehe) nggak akan bisa kita bangun keluarga yang indah, nggak akan bisa kita besarin anak-anak dengan baik…. 🙂

sumber: http://bobaepapa.blogspot.com/search?updated-max=2013-02-14T02:36:00%2B09:00&max-results=3

It’s been a month since Yeseo was born.
With Yerin and Yeseo in one month, my wife and I….

wake up early as soon as the sun rises and play with Yerin who excitedly run to us
feed her, wash her, have a little war trying to get her to dress for daycare.
feed Yeseo too, make sure she burps,
In the meanwhile, have Yerin use the restroom, wash her, then get her clothes all wet,
Yeseo isn’t able to burp enough and throws up while lying down

have another war trying to get Yerin dressed, bring her to daycare, I go to work
my wife does all the dishes, clean the house
feed Yeseo again, burp her, play with her, do the mountains of laundry
eat brunch herself, wash dishes, take out the laundry and lay them out to dry
feed Yeseo again, burp her, have her nap
and when she finall tries to rest, Yerin comes back from daycare…

When She plays with Yerin, Yeseo cries
When She takes care of Yeseo, Yerin comes and asks to play
when She tries to watch TV and rest a little…
one by one have to make sure the babies go to restroom and clean them
If she doesn’t pay attention, then the babies try to do dangerous things or put anything into their mouths
when this lasts for two to three hours, my wife is already delirious

When I finish work, I know the situation well
so without even grabbing a bite to eat, I run home
of course, there is no way I can go out to dinner with my colleagues, and much less eat out with them for BBQ

I come home, feed Yeseo too and change her diapers and clean her
The bath has to wait a bit because Yeseo poops a lot
Get the water warm for the bath… take care of her when she cries… put her to bed
And in that time, Yerin takes her chance and makes a mess with the water and the floor becomes flooded
I have to clean the floor and the laundry piles up in a mountain again

Have to make sure Yerin doesn’t get jealous, so have to read her books, play with her
When time comes, wash her… and when we try to have her sleep, she refuses
We get tired, so if we let her be, she runs around enough to make the people living downstairs get mad, so we have to chase after her
Even though the night is late, she says she’s hungry… so we give her a snack… and brush her teeth
then she again refuses to sleep, and wants to eat again
And finally we tell her she’ll get it tomorrow, and she falls asleep

For a second it seems quiet but Yeseo wakes up hungry and cries
Because of the cries, Yerin wakes up and cries too. When this situation is taken care of it’s already 2-3am.
Because I have to go to work in the morning, I don’t get to even turn on the TV and I fall asleep right away.
At night, my wife keeps to Yeseo’s eating schedule and feeds her every 3 hours
Then wakes up early in the morning to get breakfast ready…
And the moment she wakes up, Yerin is looking for the food we promised her last night…
And then the cycle repeats…

On Saturdays, Yerin doesn’t go to daycare so I have to play with her outside
And when we start to forget it happened, the babies take turns getting sick, so we take care of them all night
And the day after, we run to the hospital and pharmacy the moment the doors open

There is no way we can even imagine going outside with both babies
Traveling is difficult, much less watching a movie… and trying to have a dinner out is a luxury…
And it’s difficult to have some time for myself
I am not sure how long these days will continue, and it seems endless.
Even during the tough military service times, I had holidays….

Babies are my reality
Be kind and grateful to your parents…

 

318934_155375484544826_3768658_n

adakah hadirmu di hari-hari senja ibumu?

suatu waktu, pasti akan muncul sebuah pertanyaan dalam kehidupan kita.

Mana lebih baik bagi seorang anak perempuan, untuk ikut tinggal bersama sang suami, atau tinggal menemani orang tua dihari-hari senja mereka??

setelah melihat mbah dengan kondisinya yg semakin lemah dimakan usia dan selalu membutuhkan keberadaan umi untuk merawatnya setiap hari…

saya jadi mengambil kesimpulan, apalah arti kita hidup jika membiarkan ibu kita tertatih sendiri di hari tuanya kelak…

apalah arti kita bahagia ditempat yg jauh bersama suami di saat untuk mengupas buah seperti dulu saja ibu kita tak mampu lagi melakukannya dengan mudah…

ada seorang teman yg berkata “Harusnya menantu perempuan dari anak laki-laki nanti yang rawat ibu”, ingatlah, menantu itu bukan anak kandung ibu kita, pasti ibu akan tetap merasa sungkan untuk dirawat oleh menantunya, dan si menantu pun belum tentu mau sepenuh hati merawat ibu kita sebagaimana ia merawat ibu kandungnya sendiri, zaman sekarang susah menemukan menantu perempuan yang tulus lho, yang ada malah si menantu sering merasa direpotkan oleh keberadaan mertuanya, beneran deh

ada juga yg berkata “Nanti anak laki-laki yang tanggung jawab ke ibu”, lalu bagaimana jika kau hanya anak semata wayang dan kau adalah wanita?

jikalau pun kau punya saudara laki-laki, bisakah ia merawat ibunya setelaten anak wanita? bisakah ibumu nyaman dimandikan anak laki-lakinya? bisakah anak laki-lakinya membantu menceboki ibunya saat sang ibu sudah tak mampu lagi melakukan aktivitas itu dengan tenaganya yang sudah melemah?

ini hanyalah sebuah ksimpulan yang saya ambil dari apa yang saya lihat sendiri, semoga bisa jadi bahan pembelajaran untuk kita smua

ingatlah, surga itu ada di telapak kaki ibu. ingatlah bagimana ibumu dengan tulus ikhlas merawatmu, dari kecil sampai kau akhirnya bisa sedewasa sekarang, dan akhirnya bisa jatuh cinta dan memutuskan untuk membangun sebuah keluarga seperti sekarang. di dalam hatinya, mungkin ia malu untuk memintamu tinggal dan menemaninya, tapi sejujurnya dia pasti sangat ingin kau ada di sana, di dekatnya, merawatnya, membuatnya tertawa setiap hari, menyuapinya, ah, bahagia pasti rasanya jika anak kita memperlakukan kita dengan seperti itu…

tidak adalah salahnya kan meminta pada suami? suami yang baik insya Allah mengerti, suami yang baik tidak akan marah ketika kita mengatakan ingin merawat orang tua kita. maka dari itu, pilihlah suami yang baik dan mau mengerti kita… ^_^

ANAKMU MENGENALKAN SIAPA DIRIMU…!!

1.Jika anakmu BERBOHONG,itu karena engkau MENGHUKUNYA terlalu BERAT.

2.Jika anakmu TIDAK PERCAYA DIRI,itu karena engkau TIDAK MEMBERI dia SEMANGAT

3.Jika anakmu KURANG BERBICARA,itu karena engkau TIDAK MENGAJAKNYA BERBICARA

4.Jika anakmu MENCURI,itu karena engkau TIDAK MENGAJARINYA MEMBERI.

5.Jika anakmu PENGECUT,itu karena engkau selalu MEMBELANYA.

6.Jika anakmu TIDAK MENGHARGAI ORANG LAIN,itu karena engkau BERBICARA TERLALU KERAS KEPADANYA.

7.Jika anakmu MARAH,itu karena engkau KURANG MEMUJINYA.

8.Jika anakmu SUKA BERBICARA PEDAS, itu karena engkau TIDAK BERBAGI DENGANNYA.

9.Jika anakmu MENGASARI ORANG LAIN,itu karena engkau SUKA MELAKUKAN KEKERASAN TERHADAPNYA.

10.Jika anakmu LEMAH,itu karena engkau SUKA MENGANCAMNYA.

11.Jika anakmu CEMBURU,itu karena engkau MENELANTARKANNYA.

12.Jika anakmu MENGANGGUMU,itu karena engkau KURANG MENCIUM& MEMELUKNYA

13.Jika anakmu TIDAK MEMATUHIMU,itu karena engkau MENUNTUT TERLALU BANYAK padanya.

14.Jika anakmu TERTUTUP,itu karena engkau TERLALU SIBUK.

i want…

i want somebody to share

share the rest of  my life

share my innermost thoughts

know my intimate details

someone who’ll stand by my side

and give me support

and in return

he’ll get my support too

he will listen to me

when i want to speak

about the world we live in

and life in general

though my views may be wrong

they may be even perverted

he’ll hear me out

and won’t easily be converted

to my way of thinking

infact he’ll often disagree

but in the end of it all

he will understand me

 

diadaptasi dari novel 23 Episentrum karya Adenita