Kami bukan manusia sempurna, sungguh….

Ada perbedaan yang jauh sekali antara membenci manusia dengan membenci kemaksiatan…
Ada perbedaan yang jauh sekali antara memperingatkan dan menasehati, dengan mencerca dan menghina…

Biasanya, saat seseorang mengungkapkan sesuatu, akan bisa ditangkap berbeda oleh orang yang mendengarkannya. Kenapa? Karena semua dikembalikan pada ‘hati’. Jika hati ikhlas menerima kritik, mendengarkan nasehat dari orang lain, dan mau membuka diri, maka penerimaannya akan baik. Sedangkan hal ini akan ditangkap berbeda jika hati tak mau di ajak ‘bekerjasama’. Sebaik apapun bahasa seseorang, jika ‘hati’ masih tak mau bekerjasama, maka akan tetap terasa sebagai sindiran, hinaan dan cercaan yang membuat kita jadi sangat tersinggung. 

Saya pun dulu pernah mengalaminya, ketika seseorang mengatakan ‘pacaran itu haram’ dan saya masih menjalaninya. Tiba-tiba di kepala rasanya keluar tanduk. Kesel se kesel keselnya.  maka marilah kita membuka si hati dan ajak dia bekerjasama, agar kita bisa menerima semuanya dengan hati yang lapang. Menasehati seseorang itu kewajiban setiap muslim, bahkan seorang pendosa seperti saya pun punya kewajiban untuk tetap mengingatkan kebaikan pada orang lain. Bukanlah berarti saya atau rekan2 lain yg ingin berdakwah itu merasa diri sempurna dan tanpa cela. Dihadapan Allah, saya hanyalah seorang manusia yang berlumuran dosa, dan masih bergelut dengan keras untuk menghapus dosa-dosa ini satu per satu. Tapi kewajiban tetaplah kewajiban. Tetap harus ditunaikan, karena jika tak ditunaikan justru akan semakin menambah berat timbangan dosa kelak di hari akhir. Semoga Allah selalu memaafkan kesalahan kita semua dan memberikan kita hati yang penuh keikhlasan. 

si melankolis yang suka menulis :D

sejujurnya, saya punya dua modal utama dalam diri saya yang biasanya saya jadikan pelampiasan bila ada masalah, yaitu menangis dan menulis. hahaha, kedengarannya lucu ya. mungkin memang benar, orang-orang yang melankolis, yang sering menangis, yang sering merasa sendiri dan kesepian, yang sering merenung, akan mudah sekali menjadi penulis dan menelurkan karya-karya yang baik. saya mungkin belum sampai tahapan ‘menelurkan karya yang baik’, masih jauh sekali malah, tapi memang terasa, kalau sedang sedih, bahkan kalau sedang menangis, otak saya begitu lancar mengeluarkan berbagai macam kosa kata yang sebelumnya tak pernah saya gunakan dalam pergaulan sehari-hari, kata-kata yang saya sendiri sampai heran “ini saya kok bisa nulis begini ya? gimana ceritanya?” 😀

menulis, bagi saya adalah suatu kenikmatan, cara saya untuk ‘bicara’ dan mengeluarkan seluruh isi hati. jujur, saya bukan orang yang fasih dalam berkata-kata jika di dunia nyata, saya lebih sering terbata-bata kalau disuruh untuk ngomong pakai bahasa formal. tapi kalau disuruh nulis, ngaliiiiiir semua, nggak bisa ditahen kadang, semua ide rasanya berlomba-lomba, berebutan pengen dijadikan yang terdepan. meski sudah saya coba untuk sering-sering mengasah kemampuan berbicara saya, tetap saja begitu-begitu terus hasilnya. 😀

jadi inilah saya, seorang wanita melankolis (caeddaah… 😀 ) yang punya hobi menulis, duduk dibalik layar komputer, dan menggerakkan jari-jari kesana kemari, menulis sebanyak mungkin yang saya bisa, menghasilkan sebanyak mungkin karya. saya hanya berharap, apa yang saya tulis dalam blog ini dapat memberikan banyak manfaat untuk siapapun yang membacanya. in syaa Allah… 🙂

berbagi cerita: lift your head, be brave, and say Allahu Akbar! Allah is bigger than any of that obstacle! ^_^

Malam ini saya ingin sedikit sharing kepada para pembaca sekalian mengenai kehidupan saya. Hihihi, kesannya gimana gitu ya. Curhat? Mungkin bisa dibilang begitu. Atau mungkin lebih tepatnya ingin menulis kan apa yang rasanya mengganjal di hati.

Seseorang pernah mengatakan pada saya “berpikir dulu sebelum bertindak”. Wah, dapat kata-kata seperti ini rasanya bagaikan dilempar panah dari segala sisi. Rasanya seperti saya sudah di cap orang yang asal-asalan. Asal ngomong, asal nulis, asal bertindak seenak udelnya. Ahh….benar-benar menyakitkan rasanya dikatakan begitu. Sepertinya yang bilang begitu benar-benar tidak mengerti saya itu seperti apa. Padahal andaikan si oknum itu tahu bagaimana sebelum melakukan sesuatu, saya sampai harus berpikir berkali-kali, bertanya pada diri sendiri “benar kah ini?” atau “bagaimana respon orang-orang nantinya?” dan berbagai pertanyaan lain yang kadang-kadang berujung pada rasa tak percaya diri, rasa minder, rasa rendah diri, rasa tak pantas melakukan apapun. Ya, begitulah saya. Saya tipe pemikir, suka terlalu banyak berpikir sampai kadang pikiran-pikiran itu menyakiti diri saya sendiri. Suka berspekulasi sendiri tentang sikap orang lain terhadap saya sampai kadang terjebak pada kesimpulan-kesimpulan yang salah. Terlalu melankolis. Terlalu penyendiri. Tapi herannya masih saja ada yang mengatakan saya tidak pakai pikiran sebelum bertindak. Haduh, rendah sekali rasanya diri ini dikatakan begitu. Harus berpikir sekeras apa lagi ya saya supaya bisa dianggap benar-benar ‘berpikir’? T_T

Salah satu contoh tindakan yang saya ambil dengan pemikiran yang rumit adalah keputusan saya untuk mengenakan hijab syar’i. Sebelum mengambil keputusan itu, saya tahu betul bahwa langkah ini bukan hanya langkah untuk memperbaiki penampilan saja. Tapi langkah untuk menunjukkan pada Allah bahwa, “Ya Allah, aku ingin belajar untuk taat!” maka dari itu, bukan hanya perubahan pada sisi penampilan luar yang harus saya perbaiki, tapi keseluruhannya, seluruh aspek hidup saya harus saya coba tata untuk semaksimal mungkin mendekati standar yang sudah ditentukan Allah. Hal pertama yang waktu itu sangat berat untuk dilakukan adalah memutuskan hubungan dengan laki-laki yang sudah 4 tahun bersama dengan saya. Sulit sekali rasanya waktu itu. Di saat sudah menjalani keputusan itu beberapa lama, keyakinan saya malah mulai goyah dan kembali bertanya pada diri sendiri, “Benarkah keputusan saya ini?” tapi alhamdulillah, ada begitu banyak bantuan dari Allah yang datang setelah keputusan besar itu saya ambil. Ada begitu banyak hal yang Allah tunjukkan sehingga saya benar-benar mantap mengambil jalan itu, tanpa melihat ke belakang lagi. And let’s say “I’m Single, and i’m happy for it” and “SAY NO TO PACARAN!” YAK! Itulah kesimpulan akhirnya 😀

Contoh lain adalah ketika saya memutuskan untuk mulai mengaji di hizbut tahrir. Wuih, ada banyak sekali stigma negatif yang saya dengar tentang organisasi ini sebelum masuk ke sana. Tapi semua itu saya cari tahu lagi kebenarannya, saya tabayyun lagi kepada pihak hizbut tahrirnya, dan alhamdulillah, bukannya keraguan yang saya dapatkan, tapi malah keyakinan. Ya, saya jadi semakin yakin untuk belajar di sana dan ikut memperjuangkan tegaknya khilafah. Setelah mengambil jalan ini pun, bukan tak ada rintangan. Orang-orang lain di sekitar saya mulai berpikiran negatif tentang saya. Saya suka menulis, suka sekali. Dan saya merasa lebih percaya diri menyampaikan segala hal dalam bentuk tulisan, ketimbang harus bicara langsung. Saya kurang percaya diri dengan kemampuan bicara saya. Saya sering kaku dan terbata-bata jika bicara mengenai tema-tema yang agak serius. Jadilah saya lebih memilih jalur dakwah lewat sosmed dan blog. Banyak lah tulisan-tulisan yang saya hasilkan mengenai penegakan khilafah. Lantas apa respon yang saya dapatkan? Luar biasa! penolakan itu datang bahkan dari kalangan rekan-rekan yang saya kenal cukup dekat. Yang paling membuat saya tak habis pikir, ada satu orang teman yang menyalahkan HT, golputnya HT dianggap sebagai penyebab menangnya partai banteng merah di pemilu 2014 kemarin. Hadeh…kenapa harus tidak arif begitu cara mereka berpikir. Jika memang partai islam yang mereka banggakan tidak diminati oleh masyarakat, mengapa tidak tanyakan pada diri sendiri “kenapa bisa begitu? Kenapa masyarakat tidak memilih saya dan malah memilih partai sekuler?” ini malah HT yang dijadikan kambing hitam. Ada pula beberapa orang yang membuat status di facebook yang saya tahu betul itu ditujukan untuk kami—orang-orang yang menyuarakan penegakan khilafah—tanpa harus berpikir panjang pun saya tahu status tersebut diperuntukkan bagi siapa. Saya tidak lantas mendebat orang itu, saya pendam saja rasa hati saya yang tercabik-cabik karena kata-kata pedas mereka. Toh Allah lebih menyukai orang yang menghindari perdebatan. Saya hanya bisa menyemangati diri dengan berpikir “mugkin mereka begitu karena belum paham apa yang saya bawa, mungkin harus dipahamkan dengan cara yang lebih ma’ruf lagi” ya, hanya dengan cara itu saya dan rekan-rekan sesama HT bisa saling menyemangati. Jika kami goyah, jika kami menyerah, lantas apa jadinya dakwah kami? Saya hanya bisa minta tolong kepada Allah, semoga apa yang kami sampaikan bisa masuk ke hati-hati mereka. Apa yang kami bawa ini memang terkesan ‘beda’ bahkan ada yang mengatakan ‘gila’. Tapi mengapa mereka tidak mau diajak bicara baik-baik, diskusi baik-baik, tanpa ada cercaan, tanpa ada tudingan, tanpa ada embel-embel negatif lainnya? Cobalah bersikap dewasa, jika ingin berdiskusi tolong gunakan bahasa yang arif dan gunakan dalil-dalil yang memang bisa menunjang pendapat masing-masing. Bukannya malah memilih debat kusir tanpa dasar, debat tak berkesudahan dengan menggunakan ego dan emosi semata. Jika mau mencari ilmu, ada baiknya kita turunkan dulu ego kita. Jika ego masih di ubun-ubun, ilmu apapun juga akan mental. Apa sulitnya untuk mentabayyun? Untuk bertanya terlebih dahulu, mencari tahu dahulu, baru kemudian menyimpulkan? Kalaupun mereka punya dalil yang kuat, mari sama-sama kita rembukkan, agar kita bisa sama-sama tahu mana yang benar dan mana yang salah. Toh semua anggota yang kemudian bergabung di HT juga pernah menjadi orang yang nihil informasi tentang organisasi ini, tapi lantas kenapa kami bisa luluh dan ikut bergabung dengan pergerakannya? Saya rasa bisa disimpulkan sendiri.

Kami juga tidak mengatakan diri kami hebat dan tahu segalanya. Oh, sungguh tidak. Kami hanyalah para manusia bergelimang dosa yang ingin mencari ridho Allah dengan jalan mendakwahkan agamanya, mendakwahkan ajaran Rasulullah. Itu saja, tidak lebih. Niat kami hanya ingin saling mengingatkan, ingin mengajak masyarakat untuk kembali pada ajaran Rasulullah dan tidak terpengaruh oleh hasutan demokrasi yang menggerogoti seluruh kehidupan mereka. Hanya itu. Dan buktinya sekarang sudah banyak masyarakat yang mau percaya pada kami, dan tidak ragu menyatakan ingin ikut berjuang menegakkan khilafah. Lantas apakah HT yang paling baik? Tentu tidak, jika di luar sana, ada orang yang tidak mau bergabung dengan organisasi ini, tapi punya pandangan, punya visi dan misi yang sama dengan HT, dan tidak mau tunduk pada sistem kufur yang sekarang diterapkan, kami sangat menghargai itu, kami sangat berterimakasih karena mereka mau ikut memperjuangkan Islam. Karena bukan kemenangan HT yang kami harapakan, tapi kemenangan islam. Kemenangan dengan jalan yang di ridhoi ALLAH. HT ibaratnya hanya sebuah mobil yang digunakan untuk membawa penumpang menuju sebuah gunung. Jika ada yang mau menuju ke gunung tersebut dengan menggunakan alat kendaraan lain pun boleh, asalkan sifat ‘kendaraan’ yang dipakai itu tidak keluar dari Al Qur’an dan As Sunnah, asalkan kendaraan itu punya hujah, asalkan kendaraan itu tidak kufur terhadap hukum dan syariat Allah !

Saya sedih sekali melihat bagaimana dakwah yang kami lontarkan untuk membuka mata masyarakat mengenai keburukan sistem demokrasi malah dianggap sebagai upaya menjelek-jelekkan orang lain. Padahal bukan orangnya yang kami kritisi, tapi kebijakannya dan sistem yang digunakannya, kebijakan dan sistem yang tidak dilandaskan pada hukum-hukum Allah. Kami selalu dianggap “Cuma bisa omong doang” atau “mimpi di siang bolong” atau “orang gila” atau “sok tahu segalanya” atau “sok alim” atau “radikalis, ekstrimis” atau apalah sebutan lainnya. Tapi semakin banyak cercaan itu datang, entah kenapa malah membuat kami jadi semakin kuat, semakin ingin mencari tahu lagi. Semua sanggahan-sanggahan yang dilontarkan pihak yang membenci kami, kami pelajari lagi, kami perdalam lagi, hingga akhirnya kami menemukan jawaban yang benar. Kami seharusnya berterima kasih kepada para pembenci itu. Mereka membuat kami semakin tak mau dengan mudah digoyahkan oleh penilaian mereka. Itulah contoh lain tindakan yang saya ambil dengan banyak pemikiran. Perang batin terjadi dimana-mana. Otak saya sampai puyeng rasanya memikirkan semuanya. Jika masih saja ada yang mengatakan saya tidak berpikir sebelum bertindak, Yah, apa boleh dikata. Yang penting sudah berusaha melakukan yang terbaik. Saya kembalikan semuanya pada Allah. Semoga semua yang kita lakukan bisa diridhoi Allah. Cukup itu saja, cukup ridho Allah saja. Selama apa yang disampaikan memiliki hujah, maka jangan pernah gentar. Jika terlalu menyesakkan membaca komentar-komentar negatif mereka, unfriend saja, atau di block, atau di unfollow. Hari gini, dia bisa ngomong seenaknya, kita juga bisa unfriend/unfollow seenaknya kan. Tidak ada yang salah jika itu bermaksud untuk menjaga hati (tanpa ada maksud untuk memutus silaturrahim—toh biasanya orang-orang seperti itu juga berteman lewat facebook atau sosmed lainnya pun tidak lantas mengajak kita untuk bersilaturrahim, malah seperti orang yang tak saling kenal, hiihihi, santai saja lah…) Daripada jadi penyakit hati. Hehehe..

hal yang sama juga dialami oleh semua anggota atau darisah HT lainnya. banyak mendapat penolakan, banyak di boikot di berbagai negara. tapi tidakkah pernah terlintas dalam benak kita semua, kenapa HT sampai di boikot oleh negara-negara barat sana? negara-negara pengusung sekulerisme itu? bukankah itu artinya mereka takut dengan apa yang dibawa oleh HT? bukankah itu berarti ada sesuatu dari HT yang tidak diinginkan oleh mereka untuk berkembang di negara kekuasaanya? hmmmmm…..

Jika para pembaca ada yang memiliki cerita sama seperti saya. Hehe, ayo senyum. Jangan manyun karena tanggapan negatif orang-orang. Ingat, Rasulullah juga mengalami hal yang sama. Siksaan fisik dan batin yang diberikan oleh musuh-musuh beliau malah lebih keras lagi dibandingkan apa yang kita alami sekarang, tapi itu tidak lantas membuat beliau takut dan menyerah bukan? Janji Allah dan Rasul Nya itu pasti kok. Khilafah Rasyidah yang mengikuti manhaj kenabian itu pasti akan bangkit, cepat atau lambat. Ingat saja itu… ^_^

iseng :)

nggak tau kenapa malem ini tiba-tiba saya pengen cari video akad nikah syar’i…eh ternyata nemu videonya couple ini…this is one of my favourite couple (muhammad amirul dan irine nadia). mereka pasangan dari malaysia. kenapa saya suka banget sama couple ini? mungkin karena yang cowoknya cakep, terus yang ceweknya cantik, mungkin…mungkin juga karena yang cowok nya pake kacamata? hahaha, mungkin juga 😛 ….mungkin karena suka liat mereka yang keliatan malu-malu setelah akhirnya ‘sah’ jadi suami isteri, mungkin karena…..karena saya pengen banget ngerasain hal yang sama, ngerasain senyum bahagia seperti yang terpancar dari wajah mereka berdua…mungkin…. 🙂

tapi bagian paling mengharukan dari video pernikahan, selalu di bagian di mana mempelai wanita mencium tangan ibunya, memeluk ibunya, ahh….saya belum siap untuk melakukan hal itu, masih pengen terus-terus sama umi, pengen nebus semua dosa dan kesalahan selama ini karena bandel nggak pernah mau dengerin kata-katanya umi, pengen bikin umi & bapak bisa ngerasa bangga punya anak seperti saya, barulah saya siap untuk berada di posisi itu, menerima pinangan seorang laki-laki yang akan membawa saya pergi dari umi dan bapak….sekarang saya boleh nangis kan? sudah nggak ketahan daritadi….

umi, bapak, do’akan anakmu….semoga esok akan datang laki-laki sholeh, laki-laki dengan akhlaq yang baik, perangai yang baik, santun tutur katanya, terjaga pandangan dan sikapnya, serta terjaga ibadahnya untuk meminang anak semata wayangmu ini….agar tenang hati umi & bapak ketika melepas saya pergi…do’akan agar lelaki itu datang karena benar-benar mencintai anakmu, bukan karena parasnya, bukan karena fisiknya, namun karena kecintaan ia pada Allah sang pemilik jiwa….agar ia mampu menjadi imam yang baik untuk saya, mampu menjaga dan melindungi saya, mampu mengerti saya, mampu membimbing saya ke agama Allah yang lurus dan indah, dan agar kami mampu membesarkan anak-anak yang juga sholeh dan sholehah, cucu-cucu yang akan meramaikan rumah yang sepi ini, memberikan senyum dan tawa bahagia di wajah umi & bapak di hari tua kelak….umi…bapak….saya sayang kalian berdua….sayang sekali….

Maukah membagi “semangat” dan “suara” nya untuk menolong generasi muda muslim?

Entah kenapa, saya berharap sekali, semangat luar biasa dari rekan-rekan sesama dokter dan dokter muda yang beragama Islam yang kemarin digunakan untuk menyuarakan penolakan terhadap kriminalisasi dokter bisa juga digunakan untuk menyuarakan penolakan terhadap pekan kondom nasional dan membela agamanya sendiri. 

Karena kalau bukan kita yang membela dan membangun agama ini, lantas siapa yg mau diharapkan? Para tokoh agama saja? Tak cukup kawan, kita generasi muda inilah yg sepatutnya bergerak maju. Mari bersama-sama dengan tegas kita menyatakan #TolakPekanKondomNasional !!! Selamatkan ummat dari bahaya seks bebas !!!