Ketika kita bertanya pada sebagian besar muslim tentang 3 pertanyaan besar, “Dari mana asal manusia? untuk apa manusia hidup? akan kemana setelah mati?”, maka jawaban yang khas dari mereka adalah, “saya berasal dari Allah, saya hidup untuk beribadah kepada Allah, saya akan kembali pada Allah setelah mati”. Itu adalah jawaban standar seorang muslim. Tapi yang menjadi pertanyaan adalah, “benarkah mereka benar-benar meyakininya? jika iya, bagaimana mereka bisa membuktikan kebenaran dari 3 jawaban standar tadi?”

– felix siauw, dalam buku Beyond the Inspiration
– terdapat pula dalam kitab nizamul islam, produksi HTI press

‪#‎YukNgaji‬ di Hizbut Tahrir ^_^

lelaki yang lisannya terbiasa kasar | tak akan memimpin dengan benar

lelaki yang tunduk patuh pada tiap perintah Allah | pasti memuliakan istri tersebab itu juga perintah Allah

lelaki yang tak malu bermaksiat ketika ramai | akan jauh lebih mudah maksiat di saat sendiri

lelaki yang tak takut mengajakmu maksiat | biasanya sudah pernah ajak wanita lain maksiat | dan besok akan ajak wanita lain lagi maksiat

lelaki yang mengingkari janji taat pada Allah | padamu juga akan diingkari, dia tak bisa dipercaya

dan lelaki yang biasa melafadzkan Al-Qur’an mulia dengan syahdu | lisannya bakal membahagiakanmu dan kehadirannya selalu dirindu

 

Ikuti Allah, atau Ikuti Manusia? Tentukan Pilihanmu

Kita diberikan pilihan cuma dua, mengikuti manusia atau mengikuti Al Qur’an.

Beberapa orang ada yg tanpa pikir panjang mengikuti kata2 manis yg mengalir dari lisan manusia, tak berusaha mengkaji apakah kata2 itu benar atau tidak, apakah hanya rekayasa lidah tak bertulang atau memang berasal dari sumber yg diakui kebenarannya.

Beberapa yg lain ada yg bingung, harus memilih yg mana. Di satu sisi mengatakan ”Al Qur’an lah yg paling benar”, tapi di sisi lain mengatakan ”apa yg diucapkan manusia itu juga benar, kita tidak mungkin menutup mata” mereka jelas memiliki ilmu karena tahu bahwa Al Qur’an adalah pilihan terbaik, namun karena rasanya ‘terlalu utopis’ untuk hanya mengikuti standar yg ditetapkan dalam Al Qur’an, maka diikuti pula kata2 manusia dengan dalih ”memilih mudhorat yg paling kecil” dan ”demi kemaslahatan ummat”.

Padahal jika sesuatu sudah haram dari awal, maka akan seterusnya haram, sesuatu yg haram tak akan pernah berubah menjadi mubah, bagaimana pun kita berusaha memutar balikkan fakta. Sesuatu yg haram akan selamanya memberikan kerusakan bagi kehidupan manusia.

Mungkin akan ada yg mempertanyakan ”lantas jika memang haram, kenapa masih hidup dalam situasi yg ‘haram’ ini? Kenapa masih mengikuti aturannya?” untuk hal ini pilihannya pun ada dua, meridhoi keharaman itu dan terus saja mengikutinya dengan senang hati, atau tidak meridhoi keharaman tersebut dan berusaha menjalani hidup dengan aturan yg sudah dibuat oleh Allah dan terus memperjuangkan agar yg haram ini bisa segera digantikan dengan yg halal.

Wallahu a’lamubissawab…

dibawah ini saya sertakan tulisan ust. Felix siauw mengenai tema yg sama, semoga bermanfaat

bila mendukung manusia, pasti akan ada perselisihan | bila mendukung Al-Qur’an insyaAllah akan menyatukan

manusia bisa berubah, Al-Qur’an tetap hingga kiamat | manusia bisa lupa, Al-Qur’an justru jadi pengingat

manusia memperdaya apalagi bila punya kepentingan | Al-Qur’an itu benar dan datangnya dari Tuhan

manusia itu lemah sedang Al-Qur’an justru yang melemahkan | Al-Qur’an itu satu-satunya mukjizat yang Allah masih berikan

manusia pasti mati sedangkan Al-Qur’an itu abadi | Al-Qur’an menuntun di dunia dan akhirat nanti

percaya dan berharap pada manusia pasti berakhir kecewa | percaya dan berharap pada Allah kelak baik dan berakhir sempurna

cuma mengandalkan manusia untuk memimpin itu percuma | kesejahteraan mungkin didapat namun di akhirat tak ada guna

karena keselamatan hanya dijamin di dalam Islam | dan kebangkitan hanya dengan ikuti jalan Rasulullah

“maka siapa yang mengikuti petunjuk-Ku, niscaya tidak ada kekhawatiran atas mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati” (QS 2:38)

jangan sampai ‘semua’ dikatakan halal dan wajib karena ‘daruroh’ :D

Berikut adalah tulisan di laman page FB ust. Ahmad Sarwat tenang hakikat pengambilan alasan ‘darurat’ dalam menetapkan suatu hukum halal/haram. Tulisan ini di share kembali oleh ust. Felix Siauw dalam page FB nya, beliau juga memberikan footage:

“Ada analogi bagus dari ust. Ahmad Sarwat, coba baca dengan pikiran terbuka dan hati tenang, dan tentu dengan iman pada Allah Swt, apapun hasilnya setelah membaca, tolong tahan diri anda untuk bermaksiat dengan komentar-komentar yang tidak pantas”

Pilih Mana, Makan Anjing atau Babi?

Dosen fiqih saya dulu pernah berteori bahwa kalau pilihannya cuma dua, pilih mana seharusnya, makan anjing atau makan babi?

Jawaban diplomatisnya makan anjing. Sebab masih ada sebagian ulama yang menghalalkan anjing.
Sedang babi diharamkan secara ijma’ oleh semua ulama.

Tapi meski pilih anjing, tetap saja makannya tidak boleh banyak-banyak, apalagi nafsu sampai nambah tiga porsi.

Kalau itu mah bukan darurat tapi doyan, begitu beliau bilang.

Harusnya makan anjing sekedar buat ganjel perut penyambung hidup saja, tidak perlu mewajib-wajibkan makan daging anjing.

Hukumnya cuma berhenti sampai boleh dan bukan wajib. Tidak ada ulama yang mewajibkan makan anjing.

Lagi pula halalnya anjing karena darurat pun sekedar sebuah pendapat sebagian ulama. Tidak semua ulama setuju anjing berubah jadi halal karena alasan darurat.

Kan masih bisa hidup meski makan daun-daunan dan tumbuhan, tidak harus sampai makan anjing.

Anjing gitu loh

Islam bicara ‘CINTA’

Islam tidak pernah mengaharamkan cinta. Islam mengajarkan cinta agar berjalan pada koridornya, yakni dgn mengikatnya dalam pernikahan. Sebaliknya islam melarang keras segala interaksi cinta yg tdk halal. Karena islam adalah agama yg memuliakan manusia. Islam mencegah kerusakan2 yg akan terjadi pada diri manusia dikarenakan cinta yg dilangsungkan dalam ikatan tdk halal tersebut. 

Sayangnya, kaum muslimin kini hidup dalam kungkungan masyarakat yg sebagian besar salah kaprah dalam hal cinta. Karenanya tdk dikenal lagi kesakralan pernikahan dan kesucian diri, apalagi kehormatan dan kemuliaan jiwa. Semua sudah terganti dengan pergaulan bebas, ada yg menyebutnya pacaran, teman tapi mesra, dibalut dlm alasan adik-kakak, teman dekat, atau yg lainnya.

#UdahPutusinAja, apapun namanya, kelak akan bersaksi seluruh bagian tubuh di hadapan Allah. seluruhnya! tanpa terkecuali. Mulut yg bicara bermesra-mesraan dengan nada suara dimanja-manjakan, mata yang memandang dengan tatapan penuh cinta (baca: nafsu), kulit yang menyentuh seseorang yang belum halal untuk disentuh, otak yang berpikir mengenai si dia (entah pikiran bersih atau kotor yang muncul), semuanya akan bersaksi dihadapan ALLAH kerak di akhirat dan mengatakan “dulu kami pernah digunakan untuk melakukan kemaksiatan yang tidak engkau sukai, duhai Allah.” astaghfirullaah… T_T

Mari mendidik cinta, mengajarinya agar ia bersemi dalam taat, bukan direndahkan oleh maksiat. Ajarkan cinta agar ia benar hingga membuat pemiliknya terhormat, bukan nista yg ditanggung karena terbuai cinta yg terlaknat.

– disadur dari buku #UdahPutusinAja karya ust. felix y. siauw

Jawaban Ustadz Felix Siauw Terkait Statemen Ngawur Kapolri Soal Jilbab

JAKARTA (KompasIslam.Com) – Kepala Kepolisian Republik Indonesia (Kapolri) Jenderal Polisi Sutarman, Kamis (13/3/2014) lalu kembali mengeluarkan statemen “nyleneh”, ngawur dan menyakiti umat Islam diseluruh dunia dengan menyatakan bahwa polisi wanita (polwan) muslimah yang tidak berjilbab tidak berdosa. “Insya Allah tidak berdosa karena termasuk kita merelakan hak asasi kita ini, karena memproklamirkan diri menjadi anggota polri,” kata Sutarman yang beberapa waktu lalu juga memfitnah ustadz Abu Bakar Ba’asyir dan buku Tadzkiroh yang disebut sebagai pemicu aksi perampokan dan aksi teror di Indonesia. Menyikapi pernyataan itu, ustadz Felix Siauw seorang da’i muda dan penulis produktif yang baru saja dicekal oleh negara penjajah Amerika Serikat (AS) pada Rabu (5/3/2014) lalu memberikan tanggapannya melalui twitter soal statemen “sembrono” Kapolri itu, sebagai berikut:
  1. Kapolri: “Insya Allah (polwan tak berhijab) tidak berdosa..” | innalillahi.. ini musibah sesungguhnya.. mengatakan perkara yang tidak kita ketahui itu salah | menyelisihi perkara yang sudah ditentukan Allah itu dosa
  2. siapa manusia lantas bisa menentukan “ini halal dan ini haram?” | sedang ketentuan Allah sudah jelas dalam Al-Qur’an dan lisan Rasul-Nya
  3. dan janganlah kamu mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh lidahmu secara dusta “Ini halal dan ini haram” (QS 16:116) 4. untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Allah. sungguh mereka yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah tiada beruntung (QS 16:116)
  4. bila tidak memahami suatu persoalan | seharusnya kita merujuk pada ahlinya | bukan memberikan pernyataan keliru
  5. mengambil hukum negara jadi alasan untuk menghapus hukum Allah | perkara ini sama saja membuat manusia menyembah pada manusia
  6. tanggung jawab atasan-bawahan hanya sampai dunia | dihadapan Allah keduanya akan dihisab dan tak ada perlindungan
  7. teratur dan patuh pada aturan itu sangat baik | namun beralasan peraturan manusia lalu meremehkan aturan Allah? arogan…
  8. subhanAllah, Mahasuci Allah dari penyekutuan terhadap manusia | tugas kita hanya mengingatkan dan memberi keterangan
  9. seandainya tiada titik terang soal hijab ini tak ada niat baik dari Polri | sebaiknya tiap Muslimah memang mengundurkan diri
  10. tak layak bagi Muslimah demi pekerjaan lantas membantah Allah | dipersulit taatnya dengan berbagai alasan
  11. Allah Mahakaya dan Maha Mencukupi | siapa yang meninggalkan maksiat karena-Nya, akan digantikan kebaikan lebih oleh-Nya pula
  12. “sungguh tidaklah engkau tinggalkan sesuatu karena Allah | kecuali Allah akan menggantinya dengan yang lebih baik bagimu” (HR Ahmad).
Ya Allah… Siapa lagi yang akan menyelamatkan agama-Mu kecuali diri kami sendiri ya Rabb. Maka bantulah kami untuk memenangkan hukum islam-Mu. Bantulah kami untuk memperjuangkan Islam sampai titik darah penghabisan. Dan berilah kami motivasi untuk berjihad di jalan-Mu ya Rabb. Berilah petunjuk dan hidayah-Mu kepada penentang-penentang kaum muslimin. Hanya kepada-Mu lah kami berserah diri. Aamiin Ya Rabbal ‘alamiin “Allahumma ya Allah tanamkan di hati kami kekuatan dan keindahan iman, hiasilah hidup kami dengan kenikmatan ibadah dan kemuliaan akhlak, serta selamatkan kami dari semua fitnah dan keinginan maksiat”. Aamiin… [Khalid/dbs] –

Because i choose to believe, and i insist to believe….

Karena Rasulullah pernah berjanji bahwa islam akan bangkit dalam suatu kepemimpinan khilafah di akhir zaman, semustahil apapun kabar ini dalam pandangan mata dan logika manusia, percayalah Rasulullah tak akan mungkin berbohong…

Because i choose to believe, and i insist to believe….

because I choose to believe | when there’s no way, I’ll make one…

sumber: facebook page ustadz felix siauw

01. mata itu terbatas, maka jangan dengannya engkau melihat | akal itu terbatas, maka jangan dengannya engkau berpikir

02. bila terbatas mata engkau percaya, maka surga hanya khayalan | bila terbatas akal engkau berpikir, maka kebangkitan Islam hanya angan

03. begitulah Rasullah dihina kafir-Quraisy saat kabarkan Isra-Mi’raj | karena mereka menilai cerita dengan standar mata dan logika akal

04. Rasulullah ditertawakan yahudi saat kabarkan takluknya Konstantinopel dan Roma | karena yahudi terbatas pada mata dan akal

05. berbeda dengan Abu Bakar | kenapa beliau digelari Ash-Shiddiq? | karena beliau selalu membenarkan Rasulullah

06. Abu Bakar benarkan Isra-Mi’raj yang mustahil bagi mata dan akal | hanya bisa dengan keyakinan akan kebenaran lisan Rasulullah

07. “Jika memang benar beliau mengatakannya, maka aku percaya” – Abu Bakar | jawab beliau melampai pandangan mata dan pandangan akal

08. bagi Abu Bakar | tidaklah penting suatu perkara bisa dibuktikan mata atau logika akal | yang penting ia terucap lisan Rasulullah

09. bukan “apa” yang disampaikan, tapi “siapa” yang menyampaikan kabar | itu yang penting bagi Abu Bakar | bila dari Rasul, tiada keraguan

10. pandangan Abu Bakar melebihi pandangan mata atau logika akal | ia mengajarkan pandangan tertinggi, yaitu berdasarkan dalil

11. tidak peduli fakta, abaikan realita | bila Rasulullah sudah berucap | realita dan fakta tidak penting samasekali

12. Ash-Shiddiq berarti gelar yang terpercaya, shahabat yang terdekat | disematkan pada Abu Bakar karena keyakinannya pada seTIAP lisan Rasul

13. kini tersisa bagi kita 2 pilihan | ikuti pandangan mata dan akal lalu abaikan Rasulullah | atau yakin pada Rasulullah dan abaikan selainnya

14. Rasulullah janjikan kebangkitan Islam | satu masa dimana dunia akan kembali dipimpin Khilafah yang menjamin penerapan Syariah

15. tiada peduli seberapa jauh penerapan Syariah-Khilafah dengan fakta dan realita | kami yakin Rasulullah mustahil berbohong

16. tiada peduli seberapa mustahil | kami yakin Islam akan bangkit | because I choose to believe, I insist to believe

17. because I choose to believe | when there’s no way, I’ll make one