Dalil-dalil mengenai wajibnya menggunakan Hijab Syar’i

10151409_552913894822075_6727944814844364910_n

Syariah telah mewajibkan pakaian tertentu kepada perempuan ketika keluar dari rumahnya dan beraktivitas dalam kehidupan umum. Pakaian perempuan yang disyariatkan terdiri dari dua potong. Potongan pertama adalah bagian baju yang diulurkan dari atas sampai ke bawah menutupi kedua kaki. Bagian kedua adalah kerudung, atau yang menyerupai atau menduduki posisinya berupa pakaian yang menutupi seluruh kepala, leher dan bukaan pakaian di dada. Jika ia memiliki kedua pakaian ini, ia boleh keluar dari rumahnya ke pasar atau berjalan di jalan umum, yakni keluar ke kehidupan umum. Sebaliknya, jika ia tidak memiliki kedua pakaian ini, ia tidak sah untuk keluar, apapun keadaannya. Sebab, perintah dengan kedua pakaian ini datang bersifat umum dan ia tetap berlaku umum dalam semua kondisi; tidak ada dalil yang mengkhususkannya sama sekali.

Dalil atas kewajiban ini adalah firman Allah SWT tentang pakaian bagian atas:

وَلا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلا مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَى جُيُوبِهِنَّ

Janganlah mereka menampakkan perhiasan-nya, kecuali yang (biasa) tampak pada dirinya. Hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya (QS an-Nur [24]: 31).

Juga firman Allah SWT tentang pakaian bagian bawah:

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لأزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلابِيبِهِنَّ

Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang Mukmin, “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.” (QS al-Ahzab [33]: 59)

Dalil lain adalah hadis penuturan Ummu ‘Athiyah yang berkata:

أَمَرَنَا رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ نُخْرِجَهُنَّ فِيْ الْفِطْرِ وَالْأَضْحَى، اَلْعَوَاتِقَ وَالْحُيَّضَ وَذَوَاتِ الْخُدُوْرِ، فَأَمَا الْحَيّضُ فَيَعْتَزلْنَ الصَّلاَةَ وَيَشْهَدْنَ الْخَيْرَ، وَدَعْوَةَ الْمُسْلِمِيْنَ. قُلْتُ يَا رَسُوْلَ اللهِ إِحْدَانَا لاَ يَكُوْنُ لَهَا جِلْبَابٌ، قَالَ: لِتُلْبِسْهَا أُخْتُهَا مِنْ جِلْبَابِهَا

Rasulullah saw. memerintahkan kami untuk mengeluarkan para perempuan pada Hari Idul Fitri dan Idul Adha; para perempuan yang punya halangan, perempuan yang sedang haid dan gadis-gadis yang dipingit. Adapun perempuan yang sedang haid, mereka memisahkan diri dari shalat dan menyaksikan kebaikan dan seruan kepada kaum Muslim. Aku berkata, “Ya Rasulullah, salah seorang dari kami tidak memiliki jilbab.” Rasul saw menjawab, “Hendaknya saudaranya memin-jami dia jilbab.” (HR Muslim)

Dalil-dalil ini jelas dalam dalalah-nya atas pakaian perempuan dalam kehidupan umum. Jadi, dalam dua ayat ini, Allah SWT telah mendeskripsikan pakaian yang Allah wajibkan atas perempuan agar ia kenakan dalam kehidupan umum dengan deskripsi yang dalam, sempurna dan menyeluruh. Allah SWT juga berfirman terkait pakaian perempuan bagian bawah (yang artinya):

Allah SWT pun berfirman tentang tatacara umum yang berlaku atas pakaian ini (yang artinya): Janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) tampak pada dirinya (TQS an-Nur [24]: 31). Maknanya, hendaknya mereka tidak menampakkan anggota-anggota tubuh yang merupakan tempat perhiasan seperti kedua telinga, kedua lengan bawah, kedua betis dan selain itu kecuali apa yang bisa tampak dalam kehidupan umum ketika ayat ini turun, yakni pada masa Rasul saw., yaitu wajah dan kedua telapak tangan.

Dalam hal ini, diriwayatkan dari Ibn Umar bahwa Rasul saw. pernah bersabda:

مَنْ جَرَّ ثَوْبَهُ خُيَلاَءَ لَمْ يَنْظُرِ اللَّهُ إِلَيْهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَقَالَتْ أُمُّ سَلَمَةَ فَكَيْفَ يَصْنَعْنَ النِّسَاءُ بِذُيُولِهِنَّ قَالَ يُرْخِينَ شِبْرًا فَقَالَتْ إِذًا تَنْكَشِفُ أَقْدَامُهُنَّ قَالَ فَيُرْخِينَهُ ذِرَاعًا لاَ يَزِدْنَ عَلَيْهِ

“Siapa yang menjulurkan pakaiannya karena sombong, Allah tidak memandang dirinya pada Hari Kiamat.” Lalu Ummu Salamah berkata, “Lalu bagaimana perempuan memperlakukan ujung pakaiannya.” Rasul menjawab, “Hendaknya mereka menjulurkan-nya sejengkal.” Ummu Salamah berkata, “Kalau begitu tersingkap kedua kaki mereka.” Rasulullah pun menjawab, “Hendaknya mereka menjulurkannya sehasta, jangan mereka lebihkan atasnya.” (HR at-Tirmidzi; ia menyatakan hadis ini hasan-shahih).

Hadis ini gamblang menjelaskan bahwa jilbab yang dikenakan di atas pakaian itu wajib dijulurkan ke bawah sampai menutupi kedua kaki. Jika kedua kaki ditutupi dengan sepatu atau kaos kaki, itu belum cukup (jika jilbabnya tidak menjulur ke bawah, red.). Jilbab tetap harus menjulur ke bawah hingga kedua kaki dalam bentuk yang menunjukkan adanya irkha’ (dijulurkan) sehingga diketahui bahwa itu adalah pakaian kehidupan umum yang wajib dikenakan perempuan di kehidupan umum. Jilbab harus tampak irkha’ sebagai realisasi dari firman Allah: “yudnîna” yakni yurkhîna (hendaknya mereka menjulurkan).

[Sumber: Nasyrah Soal-Jawab Amir HT/Atha’ bin Khalil Abu ar-Rasytah, 1 Muharram 1435/4 November 2013] : http://hizbut-tahrir.or.id/2014/04/25/busana-muslimah-syari/

Jawaban Ustadz Felix Siauw Terkait Statemen Ngawur Kapolri Soal Jilbab

JAKARTA (KompasIslam.Com) – Kepala Kepolisian Republik Indonesia (Kapolri) Jenderal Polisi Sutarman, Kamis (13/3/2014) lalu kembali mengeluarkan statemen “nyleneh”, ngawur dan menyakiti umat Islam diseluruh dunia dengan menyatakan bahwa polisi wanita (polwan) muslimah yang tidak berjilbab tidak berdosa. “Insya Allah tidak berdosa karena termasuk kita merelakan hak asasi kita ini, karena memproklamirkan diri menjadi anggota polri,” kata Sutarman yang beberapa waktu lalu juga memfitnah ustadz Abu Bakar Ba’asyir dan buku Tadzkiroh yang disebut sebagai pemicu aksi perampokan dan aksi teror di Indonesia. Menyikapi pernyataan itu, ustadz Felix Siauw seorang da’i muda dan penulis produktif yang baru saja dicekal oleh negara penjajah Amerika Serikat (AS) pada Rabu (5/3/2014) lalu memberikan tanggapannya melalui twitter soal statemen “sembrono” Kapolri itu, sebagai berikut:
  1. Kapolri: “Insya Allah (polwan tak berhijab) tidak berdosa..” | innalillahi.. ini musibah sesungguhnya.. mengatakan perkara yang tidak kita ketahui itu salah | menyelisihi perkara yang sudah ditentukan Allah itu dosa
  2. siapa manusia lantas bisa menentukan “ini halal dan ini haram?” | sedang ketentuan Allah sudah jelas dalam Al-Qur’an dan lisan Rasul-Nya
  3. dan janganlah kamu mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh lidahmu secara dusta “Ini halal dan ini haram” (QS 16:116) 4. untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Allah. sungguh mereka yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah tiada beruntung (QS 16:116)
  4. bila tidak memahami suatu persoalan | seharusnya kita merujuk pada ahlinya | bukan memberikan pernyataan keliru
  5. mengambil hukum negara jadi alasan untuk menghapus hukum Allah | perkara ini sama saja membuat manusia menyembah pada manusia
  6. tanggung jawab atasan-bawahan hanya sampai dunia | dihadapan Allah keduanya akan dihisab dan tak ada perlindungan
  7. teratur dan patuh pada aturan itu sangat baik | namun beralasan peraturan manusia lalu meremehkan aturan Allah? arogan…
  8. subhanAllah, Mahasuci Allah dari penyekutuan terhadap manusia | tugas kita hanya mengingatkan dan memberi keterangan
  9. seandainya tiada titik terang soal hijab ini tak ada niat baik dari Polri | sebaiknya tiap Muslimah memang mengundurkan diri
  10. tak layak bagi Muslimah demi pekerjaan lantas membantah Allah | dipersulit taatnya dengan berbagai alasan
  11. Allah Mahakaya dan Maha Mencukupi | siapa yang meninggalkan maksiat karena-Nya, akan digantikan kebaikan lebih oleh-Nya pula
  12. “sungguh tidaklah engkau tinggalkan sesuatu karena Allah | kecuali Allah akan menggantinya dengan yang lebih baik bagimu” (HR Ahmad).
Ya Allah… Siapa lagi yang akan menyelamatkan agama-Mu kecuali diri kami sendiri ya Rabb. Maka bantulah kami untuk memenangkan hukum islam-Mu. Bantulah kami untuk memperjuangkan Islam sampai titik darah penghabisan. Dan berilah kami motivasi untuk berjihad di jalan-Mu ya Rabb. Berilah petunjuk dan hidayah-Mu kepada penentang-penentang kaum muslimin. Hanya kepada-Mu lah kami berserah diri. Aamiin Ya Rabbal ‘alamiin “Allahumma ya Allah tanamkan di hati kami kekuatan dan keindahan iman, hiasilah hidup kami dengan kenikmatan ibadah dan kemuliaan akhlak, serta selamatkan kami dari semua fitnah dan keinginan maksiat”. Aamiin… [Khalid/dbs] –

Semua yang kita punya ini akan dimintai pertanggung jawaban kan kelak di akhirat? Termasuk tubuh dan paras…jika kecantikan tubuh tidak dilindungi dengan hijab, dan kecantikan paras tidak dilindungi dengan menundukkan pandangan dan menghindari rasa sombong karena memiliki paras cantik, kelak ketika kita ditanya Allah di akhirat, mau jawab apa? 

– the girl with the broken wings

Hijab besar –> bukan Radikal, hanya sebuah bentuk ketaatan ^_^

Dulu saya pernah mendengar pendapat “orang jilbab besar itu RADIKAL” dulu mungkin saya tak begitu peduli dengan celetukan2 sejenis itu, tapi sekarang saya sadar bahwa pendapat itu salah, Please, Don’t Judge A Book by its Cover, kalau kita tidak tahu mengenai hakikat sesuatu, alangkah baiknya bertanyalah, cari tahulah dahulu, dan setelah menemukan jawaban yg sebenarnya, disanalah hidayah Allah akan menyentuh hatimu.  – Pinguin

# Cantik itu…#

bukan seberapa merah lipstik melukis bibirmu, bukan seberapa tebal make up ditabur dipipimu, bukan juga seberapa lentik bulu matamu!

bukan pula engkau yang pintar menarik perhatian para lelaki, bukan pula yang mendahului langkah para suami.

tidak tergoda akan gemerlap indahnya dunia, tidak pula lemah kehilangan harta dan tahta karna bukan itu tujuannya.

tak perlu menjadi wanita seksi yang modis lagi trendi di zaman ini.

cantik itu sederhana, namun pesonanya sampai ke syurga!

jadi, cantik adalah sejauh mana ia dapat menyembunyikan segala kecantikannya, dengan berjilbab secara syar’i dan di cerminkan dengan akhlakul karimah!

walaupun tersembunyi bidadari tetaplah bidadari.!

tumblr_ma3m6cxROe1raeu1ao1_500_large