Bersyukur?

jika melihat kejadian-kejadian mengerikan yang terjadi pada umat muslim di seluruh dunia akhir-akhir ini, terutama yang paling baru yakni merebak kembalinya islamophobia di Eropa akibat makar di Charlie Hebdo, beberapa umat muslim di Indonesia pasti akan berujar “untung saya hidup di Indonesia, hidup aman damai, tenteram”.

perlu dipertanyakan kembali maksud kalimat tersebut

apakah dia bersyukur karena Allah masih mengizinkan dirinya hidup aman damai santai kayak di pantai dan tidak perlu hidup dalam kesulitan sebagai muslim minoritas di Eropa yang saat ini berada dalam bayang-bayang masyarakat Eropa yang mulai meningkatkan islamophobia?

apakah dia bersyukur hanya karena dia masih bisa makan enak sampai kekenyangan saat muslim di Rohingnya harus hidup dalam ketakutan, kelaparan dan penderitaan selama hampir 10 tahun karena usaha pembersihan etnis muslim oleh pemerintahnya sendiri?

atau dia bersyukur karena masih bisa tidur pulas sedangkan muslim di Gaza, suriah, iraq tak pernah lagi kenal tidur nyenyak akibat suara ledakan bom dan tembakan senapan?

apa ini yang ia syukuri?

lantas jika ia bersyukur, apakah dengan mudahnya ia tinggalkan agamanya, untuk hidup foya-foya dan mementingkan dunia?

apakah dengan mudahnya ia tepis kebenaran dan keabsahan ajaran Allah dalam Al Qur’an dan As sunnah, jika ia memang benar-benar orang yang bersyukur?

jika memang ia bersyukur atas segala nikmat dan keamanan yang diberikan Allah padanya, apakah ia masih tega untuk melalaikan semua perintah Allah?

jika memang dia begitu mensyukuri setiap nafas yang diberikan Allah, tanyakan padanya, “Lantas mengapa kau berani mencaci aturan Allah, mencaci syariat islam, mengatakan hukum Allah tidak atau belum pantas diterapkan di Indonesia atau di seluruh dunia saat ini, mencela orang-orang yang istiqomah memperjuangkan kebangkitan islam dengan membawa ide khilafah yang memang sudah jelas dijanjikan Allah dan RasulNya, dan yang paling parah, berani mengatakan bahwa Al Qur’an perlu direvisi dan semua itu kau lakukan atas dasar ‘kebebasan berbicara’?!”

coba tanyakan pada orang-orang itu, dan lihat bagaimana respon mereka. apakah mereka masih benar-benar berani menyucapkan “syukur” nya pada Allah…???

Ketika kita bertanya pada sebagian besar muslim tentang 3 pertanyaan besar, “Dari mana asal manusia? untuk apa manusia hidup? akan kemana setelah mati?”, maka jawaban yang khas dari mereka adalah, “saya berasal dari Allah, saya hidup untuk beribadah kepada Allah, saya akan kembali pada Allah setelah mati”. Itu adalah jawaban standar seorang muslim. Tapi yang menjadi pertanyaan adalah, “benarkah mereka benar-benar meyakininya? jika iya, bagaimana mereka bisa membuktikan kebenaran dari 3 jawaban standar tadi?”

– felix siauw, dalam buku Beyond the Inspiration
– terdapat pula dalam kitab nizamul islam, produksi HTI press

‪#‎YukNgaji‬ di Hizbut Tahrir ^_^

Belum bisa move on dari hasil pemilu kemarin?

mungkin masih banyak, bahkan terlalu banyak yang menganggap permasalahan indonesia ini terjadi karena ‘tokoh’ presidennya, tapi jarang ada yang mau tahu bahwa permasalahan ini sesungguhnya bersifat SISTEMIK akibat kesalahan pada SISTEM, yang tidak akan selesai hanya dengan mengganti presiden saja, tapi juga mengganti keseleruhuan sistem nya.

ada juga yang menganggap bahwa “pemerintahan SBY kemarin jauh lebih baik daripada sekarang”, pernahkah anda tahu bahwa SBY pernah mengeluarkan pernyataan berkut?

“…Kedepan pemerintah hanya berperan sebagai pembuat kebijakan, peraturan, dan fasilitator. Sedangkan peran swasta harus tumbuh dalam berbagai sektor pembangunan ……”

dalam artian, para presiden–siapapun dia–yang terpilih dalam sistem demokrasi, hanya akan memfungsikan pemerintah sebagai REGULATOR/PENGATUR/PEMBUAT KEBIJAKAN. bukan untuk mengurusi urusan rakyat secara langsung, bukan sebagai pengayom umat dan masyarakat, karena bukan begitu asas demokrasi yang sesungguhnya. rezim noeliberal adalah rezim yang menganggap bahwa pemberian subsidisi macam APAPUN kepada rakyatnya oleh negara adalah HARAM hukumnya karena dapat merugikan negara. beginikah sebuah sistem kenegaraan yang anda inginkan? maka jika presiden yang terpilih adalah presiden yang berbeda, sesuai dengan harapan anda, bisakah anda menjamin sistem yang bobrok dari akar sampai buahnya ini bisa ia perbaiki?

“… State regulation is a source of economic inefficiency. Hence, the role of the state in economic affairs should be minimized..“(Pengaturan Negara merupakan sumber ketidakefisiensian sehingga peran Negara dalam aspek ekonomi harus diminimalisasi) — The State and Neo Liberalism. Based on Cypher and Dietz The Process of Economic Development

begitulah pandangan rezim neolib mengenai fungsi sebuah negara

kita ambil contoh permasalahan yang paling besar saat ini, yakni masalah kenaikan BBM. siapa bilang BBM hanya akan naik pada masa pemerintahan jokowi? rencana kenaikan BBM sesungguhnya sudah digadang-gadang sejak masa pemerintahan SBY, dan baru terealisasi pada masa pemerintahan jokowi. apakah jiwa prabowo yang terpilih, BBM tidak akan naik? jawabannya adalah tidak. karena rencana kenaikan ini sudah disepakati oleh pemerintah jauh-jauh hari. hutang yang melilit indonesia lah yang menjadi penyebabnya. negara kita sudah mempersilahkan kepada ‘pihak asing’ untuk mengatur segala kebijakan melalui ‘barter’ hutang tersebut. kenaikan BBM ini adalah usaha pihak asing untuk menguasai secara penuh sektor minyak bumi indonesia, dari hulu (yang sudah lama dikuasai asing sebanyak 80%) hingga sektor hilir (dengan dibangunnya SPBU asing yang mampu bersaing dengan SPBU lokal milik pertamina). itu baru satu contoh saja, dan masih banyak contoh lain bertebaran, terbuka bagi siapapun yang ingin menelaah dan mengambil pelajaran.

jadi, yang belum bisa move on dari hasil pemilu kemarin, bukalah mata anda lebar-lebar, bahwa meskipun presiden yang terpilih adalah presiden yang menurut anda baik, jika sistem yang digunakan masih sistem yang mengizinkan negeri ini untuk hancur, maka akan semakin hancurlah negeri yang kaya raya ini.

“Telah tampak kerusakan di darat dan lautan akibat perbuatan tangan manusia, supaya Allah swt merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka agar mereka kembali (ke jalan yang benar)” (Terjemahan QS Ar Ruum(30):41)

Apakah jalan yang benar itu? satu-satunya Jalan yang benar, yang ditunjuki Allah SWT adalah dengan menerapkan hukum-hukum (syariah) yang telah diturunkan Allah swt. Dalam konsep-konsep syariah ini, prinsip tata kelola pelayanan kebutuhan publik yang shahih/baik menyatu dengan sistem politik kenegaraan Islam, dan konsep syariah ini hanya bisa diterapkan dalam sebuah sistem kenegaraan, yakni Khilafah Islam. sebuah sistem yang terbukti berhasil mewujudkan kesejahteraan kehidupan bagi umat manusia selama ratusan abad. sebuah sistem dimana penguasa/pemerintah tidak hanya berfungsi sebagai regulator yang lepas tangan terhadap urusan rakyatnya, tapi berperan total sebagai pengurus umat yang bertanggung jawab penuh dalam pengelolaan pemenuhan hajat hidup rakyat.

tidakkah kalian menginginkan kesejahteraan itu? tidakkah kalian menantikan masa di mana islam mampu menjadi rahmat bagi seluruh ummat? masihkah berharap pada sistem yang belum genap 100 tahun umurnya namun sudah menampakkan kerusakan dimana-mana? ayolah MOVE ON, masalah negeri ini tak kan terselesaikan hanya dengan mengganti presiden, tapi dengan mengganti keseluruhan sistem menjadi sistem yang diridhoi ALLAH swt, yakni khilafah islamiyah. 🙂

 

Video: Selamatkan Indonesia dengan Syariah, Menuju Indonesia Lebih Baik

*iseng cari di youtube ternyata nemu juga,

Ini adalah sebuah video berjudul “selamatkan Indonesia dengan syariah, menuju Indonesia lebih baik” karya almarhum Ustadz Luqman Setiyono (nama FB: Mbah Marijon). video berdurasi 45 menit menjelaskan begitu banyak hal tentang keterpurukan Indonesia, gagalnya segala usaha untuk menyelamatkan Indonesia dari keterpurukan tersebut, dan bagaimana solusi paling jitu dalam mengatasi segala permasalahan yg telah mengakar di Tanah kelahiran kita ini.

Menolak Khilafah Karena Pendiri Hizbut Tahrir Seorang Mu’tazilah? Apa benar demikian? Yuk Tabayyun dulu ^_^

sumber: facebook post from Miftah Al-Kansa

Saya pernah bertanya, ‘Mengapa mereka menolak Khilafah?’Ajaibnya, ada yang menjawab begini, ‘Karena pendiri Hizbut Tahrir adalah penganut mu’tazilah.’Jawaban itu menjadi tidak nyambung karena:

Pertama: Khilafah bukan milik Hizbut Tahrir, sehingga tidak sepatutnya menolak Khilafah karena tidak suka dengan pendiri Hizbut Tahrir. Khilafah adalah kewajiban dari Allah, bukan dari pendiri Hizbut Tahrir.

Ada banyak nash yang menunjukkan kewajiban menegakkan Khilafah, baik dari Al-Quran maupun Al-Hadits. Sehingga, menolak kewajiban menegakkan Khilafah, sama saja menolak sebagian ayat Al-Quran, menolak sebagian sabda Nabi, dan menolak sejarah.

Tidak bijak jika hanya karena ketidaksukaan terhadap pendiri Hizbut Tahrir, malah rela menolak kewajiban dari Allah. Sebenarnya beriman kepada Allah, atau kepada hawa nafsu?

Kedua: Pendiri Hizbut Tahrir, syaikh Taqiyuddin An-Nabhani, bukanlah seorang Mu’tazilah. Bahkan di kitab beliau yang berjudul Nizhamul Islam, dengan tegas beliau menyatakan penolakan terhadap paham mu’tazilah.

Mu’tazilah adalah paham yang menempatkan akal berada di atas nash atau dalil. Sehingga, segala perintah Allah akan diterima jika sesuai dengan akal dan akan ditolak jika bertentangan dengan akal. Adapun syaikhTaqiyuddin An-Nabhani, menjadikan akal sebagai sarana untuk memikirkan fakta dan menghubungkannya dengan nash, lalu dihukumi dengan nash itu. Bukan menjadikan akal sebagai sumber hukum. Sehingga, merupakan sebuah fitnah keji apabila mengatakan bahwa beliau adalah seorang penganut mu’tazilah.

Ketiga: Jikapun ingin menolak kewajiban Khilafah, seharusnya bukan berdasarkan maslahat atau mudharat, melainkan karena ada dalil yang melarangnya atau tidak mewajibkannya. Pertanyaannya, adakah dalil yang mengharamkan Khilafah? Atau minimal, adakah dalil yang menyatakan bahwa Khilafah tidak wajib?

Keempat: Jikapun ingin membahas maslahat atau mudharat, sesungguhnya ada segudang maslahat yang bisa disuguhkan oleh konsep Khilafah, dan ada segudang mudharat yang telah kita rasakan sendiri manakala kita tidak menegakkannya.

Sesungguhnya, Khilafah adalah kewajiban dari Allah, janji-Nya, dan bisyarah (kabar gembira) dari Rasul-Nya. Maka, sekuat apapun daya manusia, meskipun seluruh kekufuran berkumpul untuk menghalanginya, sungguh kami percaya, Khilafah akan tegak semula. Kapan? Itulah yang masih menjadi rahasia-Nya.

Testimoni Para Tokoh Intelektual dalam JICMI 2013

untuk para kaum intelektual, yg tua maupun muda, tidak ada kata terlambat untuk mengkaji ilmu islam. karena mengkaji ilmu agama hukumnya FARDU ‘AIN, sedangkan mempelajari ilmu dunia hanyalah fardu kifayah. jangan sampai di akhirat kelak kita menyesali mengapa waktu yg begitu banyak dalam hidup yang dikaruniakan Allah ini tidak kita gunakan semaksimal mungkin untuk mengkaji ilmu islam.

contoh lah tokoh2 dalam video ini, dari gelar yang tertempel di nama-nama mereka jelas mereka bukan orang sembarang. mereka habiskan waktu bertahun-tahun untuk mengejar ilmu dunia sampai mendapatkan gelar profesor dan gelar-gelar prestisius lainnya dari universitas dalam hingga luar negeri, namun pada akhirnya mereka sadar bahwa ilmu-ilmu dunia ini tak akan ada gunanya jika tidak dibarengi dengan ilmu agama.

buktikanlah pada orang2 yang selama ini merendahkan islam, memberikan cap buruk pada umat dan agama ini, menganggap islam itu teroris, mengatakan islam itu bodoh, miskin, dan mudah dipecah belah, bahwa kaum intelektual seperti kalian pun bisa memberikan andil dalam memperjuangkan islam, dalam memperjuangkan bangkitnya kembali umat dari keterpurukan, yakni dengan cara mengkaji ilmu islam dan berjuang bersama jama’ah yang senantiasa istiqomah memperjuangkan kebangkitan islam dan istiqomah memperjuangkan ditegakkannya kembali hukum-hukum ALLAH di muka bumi.

ambillah ibrah dari pengalaman dan testimoni yang mereka bagikan untuk kita melalui video ini. semoga bermanfaat, selamat menonton

#YukNgaji ^_^

 

Beginilah Cara Kapitalisme Merampok Negeri Ini dan Menjadikan Rakyat Sebagai Tumbal

walaupun singkat tapi tulisan ini cukup untuk membuka wawasan dan mata kita yg selama ini tertutup tentang bagaimana buruknya tipudaya kapitalis. indonesia hanyalah salah satu dari negara ‘lemah’ lainnya yg terperdaya oleh rencana busuk mereka. negara ini tak ubahnya sebuah boneka yg diatur gerak kaki dan tangannnya untuk melakukan apapun yg dapat memberi keuntungan sebanyak-banyaknya bagi para kapitalis. IMF, world bank, USAID, dan lembaga2 lainnya hanyalah serigala berbulu domba.

ah…mau sampai kapan kita ini di perdaya oleh mereka. padahal kita sudah jelas tahu bahwa kita (rakyat) lah yg akan dijadikan tumbal. apa manfaat yg bisa kita dapatkan dari berbagai macam nota kesepakatan para kapitalis dengan petinggi negara ini? tidak ada! pembangunan yg mampu mensejahterakan rakyat? ah itu hanya dongeng yg dihembus2kan untuk membesar-besarkan hati rakyat yg sudah putus asa dengan kehidupan. yg ada kita sudah diberikan tanggungan hutang. setiap satu anak bayi yg terlahir di indonesia sudah menanggung hutang sebesar 7 juta rupiah, dan jumlah ini bisa jadi akan terus bertambah! dari mana angka itu berasal? dari rerata jumlah keseluruhan hutang yg ditanggung oleh negeri kita tercinta ini jika dibagi dengan jumlah keseluruhan rakyat. ucapkanlah terimakasih untuk para penguasa yg telah memberikan kita hadiah berupa hutang yang tak tahu kapan akan bisa dilunasi itu. ucapkan pula terimakasih pada demokrasi dan sistem ekonomi yang berjalan beriringan dengannya (sistem ekonomi kapitalis) yg telah memperburuk nasib rakyat negeri yg kaya raya gemah ripah loh jinawi ini. terimakasih banyak!

semoga Allah memudahkan perjuangan orang2 yg istiqomah memperjuangkan sistem kenegaraan islam yang kita sebut dengan khilafah, yg senantiasa istiqomah mendakwahkan keindahan islam dan menjelaskan kebobrokan dan kebusukan sistem pemerintahan demokrasi pada seluruh rakyat agar mereka pun menginginkan demokrasi diganti dengan khilafah, yg berani mendatangi penguasa untuk memberikan nasehat dan teguran agar mereka kembali ke jalan Allah, yg meski dicerca, di fitnah, dikatakan sesat, di cap hanya bisa ‘omong doang’, yg dianggap mengancam NKRI padahal tak pernah melakukan kegiatan yg membahayakan macam apapun namun semangat juangnha tak pernah surut bahkan anggotanya semakin banyak tersebar di seluruh dunia, yg tetap menempuh jalan dakwah yg telah dicontohkan rasulullah dan tidak sedikitpun berminat untuk menghamba pada demokrasi apalagi ikut andil dalam sistem kufur ini. salam hangat untuk kalian semua. perjuangan kalian yg tanpa pamrih, tanpa mengharapkan imbalan apapun selain ridho Allah, semoga kelak dibalas dengan surga oleh Allah dan disana kalian bisa bertemu dengan sosok yg sama2 kita rindukan, kekasih kita Muhammad SAW.

saya mungkin hanya bisa menulis, tak punya banyak kontribusi untuk dakwah ini. tapi semoga orang2 yg membaca tulisan ini, rekan2 yg saya tag dlm tulisan sederhana ini, kelak akan menjadi bagian dari kalian, bagian yg memperjuangkan hukum Allah tegak di atas segala-galanya. aamiin, allahumma aamiin…

“Siapa pun yang ingin mengetahui apa yang sesungguhnya terjadi di dunia, mesti segera membaca buku ini.” Itulah komentar majalah Rolling Stone tentang buku “The Shock Doctrine; The Rise of Disaster Capitalism” karangan wartawati Kanada, Naomi Klein, yang diterbitkan Penguin Books, London , Inggris (2007).

“Tuan-tuan, kami ini berdaulat. Kami ingin melunasi utang kami, tapi maaf-maaf saja jika kami harus membuat kesepakatan lagi dengan IMF,” kata Presiden Argentina, Nestor Kirchner.

Sambil membopong diktator dan rezim sokongannya, kaum kapitalis mensponsori para ekonom didikan kampus-kampus neoliberal untuk menyiapkan karpet merah bagi kapitalisme dengan menyusun kebijakan ekonomi reformis propasar, satu eufemisme dari kebijakan prokapitalis fundamentalis. Afrika Selatan pasca-Nelson Mandela, Rusia di bawah Boris Yeltsin, dan Polandia pasca komunis adalah beberapa contoh.

Negara-negara yang semula khidmat mendengarkan rekomendasi para ekonom bimbingan Bank Dunia dan Dana Moneter Internasional (IMF) itu kemudian sadar telah dibohongi para ekonom dan birokrat bimbingan Barat yang ternyata para calo swastanisasi (perampok) negara.

Para penyusun kebijakan reformasi ekonomi tersebut memang kerap berperan menjadi mulut perusahaan raksasa asing, bahkan konsep kebijakan swastanisasi Bolivia semasa Presiden Gonzalo Sanchez de Lozada disusun para analis keuangan perusahaan asing, seperti Salomon Brothers dan ExxonMobil.

Nelson Mandela adalah salah satu yang kecewa karena cita-cita memakmurkan warga kulit hitam, seperti dipesankan Piagam Perdamaian tak tercapai, justru karena orang dekatnya, Tabo Mbeki, menyusun kebijakan pro-kapitalis sehingga mayoritas rakyat Afsel terpinggirkan.

Polandia juga menyesal mematuhi nasihat ekonom Jeffrey Sachs, seorang Friedmanis dari Universitas Harvard, sehingga aset-aset strategis Polandia jatuh ke tangan asing, justru ketika Partai Solidaritas memerintah negeri itu.

Demikian pula Rusia, yang kehilangan aset-aset strategisnya setelah ekonom reformis Yegor Gaidar, seorang Friedmanis di bawah bimbingan IMF, mempromosikan kebijakan neoliberal. Vladimir Putin kemudian mengoreksi kesalahan itu, dan mengakhiri hubungan mesra Rusia dengan IMF.

Buku tersebut juga menyebut krisis moneter Asia 1997 sebagai hasil desain kaum kapitalis karena mereka ingin menguasai aset-aset strategis di kawasan itu, mencaplok aset-aset perusahaan nasional Asia yang tumbuh meraksasa, dan hendak menggulingkan rezim-rezim yang berubah kritis, seperti Soeharto di Indonesia.

Menurut Naomi, di masa tuanya, Soeharto yang pro-Barat itu bosan diperah korporasi asing, sehingga ia “berkhianat” dengan membagikan aset nasional kepada kroninya yang berakibat korporasi asing itu berang, lalu merancang pembalasan dengan membesarkan skala krisis moneter Asia

Ketika Indonesia dan Asia akhirnya lunglai karena krisis moneter, IMF datang menawarkan obat dengan syarat liberalisasi pasar, sebuah formula klasik ala Friedman. Semua Asia menerima resep itu, hanya Malaysia yang menampik formula rente itu.

Hanya dalam 20 bulan, perusahaan-perusahaan multinasional asing berhasil menguasai perekonomian (termasuk aset dan labanya yang menggiurkan) Indonesia, Thailand, Korea Selatan, Filipina, dan juga Malaysia lewat 186 merger dana kuisisi perusahaan-perusahaan besar di negara-negara ini.

“Ini adalah pengalihan aset dari domestik ke asing terbesar dalam limapuluh tahun terakhir,” kata ekonom Robert Wade.

Tak puas di situ, para kapitalis merancang serangan ke Irak setelah Presiden Saddam Hussein memberi keleluasaan pada Rusia menambang minyak di Irak.

Perusahaan-perusahaan minyak seperti Shell, Halliburton, BP, dan ExxonMobil lalu mengipasi pemerintah AS dan Inggris untuk mencaplok Irak.

Namun, saat Irak sulit digenggam karena masalah terlalu kompleks, negeri itu disulap menjadi lahan bisnis keamanan sehingga para pedagang senjata, konsultan keamanan perusahaan di wilayah krisis, tentara bayaran, dan para spesialis teknologi keamanan mendadak bergelimang uang.

Kemudian, saat kaum kapitalis itu membutuhkan relaksasi setelah penat berburu laba, maka sejumlah lokasi dibidik menjadi situs wisata eksotis, di antaranya Srilanka. Namun, para nelayan miskin yang mendiami pantai-pantai indah Srilanka tak mau hengkang sampai tsunami menghantam Asia bagian Selatan pada 2004.

Bertopengkan bantuan rekonstruksi pascabencana dan bergerak dalam kerudung USAID, para kapitalis menyandera pemerintah Srilanka, agar “menukarkan” pantai indah Srilanka dengan bantuan tsunami. Situasi serupa berlaku di Thailand dan New Orleans pasca-badai Katrina.

Intinya, kaum kapitalis telah membisniskan perang, teror, anarki, situasi krisis, dan bencana alam untuk memperbesar pundi-pundi mereka dengan penderitaan jutaan orang di dunia. Naomi Klein menyebutnya sebagai “kapitalisme bencana”.

sumber: wikimu.com