Umi

image

Kita sibuk sekali mencari-cari
Padahal yang selalu ada dan tak pernah kurang memberi berada dekat sekali
dia mungkin tak pandai menampakkan cinta dan kasih sayangnya
tapi coba lihat segala hal yang dikorbankannya untuk kebahagiaan kita
Mana bisa kau sembunyikan air matamu darinya
Meski sudah kau tutup-tutupi, dia pasti bisa melihat ke dalam hatimu, dan ikut Merasakan apa yang sedang kau rasakan, turut merisaukan apa yang kau risaukan
Adalah ibu
Manusia yang paling besar cintanya pada kita di muka bumi ini
Yang cintanya tak kan pernah habis
Dan tak pernah berbatas
Bahkan kelak jika kau tak lagi hidup bersamanya
Jika kau tak lagi menjadikannya prioritas utama
Dia tetap akan memprioritaskanmu, sampai kapanpun, tak akan pernah berubah, selamanya… 😥

– mindeulle

*NB. Kaligrafi ini bukan karya saya

Mengapa WANITA rela menanggalkan gelar MULIA hanya demi kesetaraan gender ?

Mengingatkan sesama wanita akan kemuliaan yg diberikan Allah pada dirinya 🙂

Kesetaraan gender? bukan itu yang kita cari. karena pada hakikatnya wanita dan pria diciptakan ALLAH dengan kodrat yang berbeda, maka kita tak bisa disetarakan dan di sama-sama kan. wanita punya tugas mulia nya sendiri, begitu pula pria, punya tugas mulia nya sendiri.

islam tak pernah melarangmu untuk berkembang, tapi justru Ia memberikanmu kemudahan dan jalan keluar untuk mendapatkan pahala yang sama dengan laki-laki.

mungkin dulu saya pernah kagum dengan wanita-wanita yang berhasil dengan kariernya, menjadi spesialis atau bahkan mendapat gelar yang lebih tinggi lagi di usia muda tapi tetap mampu mengurus anak. tapi ketika tahu ‘yang sebenarnya’ pemikiran saya berubah 180 derajat. saya jadi berpikir bahwa yang membuat wanita berada pada kedudukan paling mulia, adalah ketika ia berada di rumah, menjadi madrasah pertama untuk anak-anaknya, mempersiapkan segala sesuatunya untuk kebutuhan anak dan suaminya, menjadi ibu dan isteri yang baik.

Islam tak pernah melarang wanita untuk sekolah setinggi-tingginya, dan bekerja untuk membantu keuangan keluarga, tak pernah. Asalkan, jangan lupakan kewajibannya, untuk menjadi isteri yang sholehah dan menghormati suami, menjadi ibu yang baik dan mendidik anak-anaknya untuk menjadi generasi islam yang hebat. tapi jika kesibukan diluar rumah membuat wanita lupa akan kewajibannya, kira-kira bisakah ia menjalankah kewajiban-kewajibannya itu dengan maksimal?

jika nanti di akhirat, ketika catatan amal kita dibuka oleh Allah dan Allah bertanya “kau dulu ketika hidup, bekerja mengejar dunia dan lalai akan tugasmu menjadi isteri dan ibu yang baik. kau tinggalkan suamimu dan membiarkannya kesepian dan tak bahagia, di saat seharusnya kau jadi penyemangatnya setelah ia lelah mencari nafkah untukmu dan anakmu. kau biarkan anak-anakmu mengasuh dirinya sendiri, bermain sendiri, belajar sendiri, dan akhirnya tersesat dalam ketidak-tahuannya tentang agama dan kehidupan akhirat. bisakah kau mempertanggung-jawabkan ini semua?” 😦

sungguh indahnya ajaran agama yang dihadiahkan Allah untuk kita. mari bersyukur kita terlahir sebagai wanita 🙂

berikut adalah tulisan dari seorang teman yang membahas mengenai tema yang sama 🙂

Mengapa WANITA rela menanggalkan gelar MULIA hanya demi kesetaraan gender ??

ketika laki-laki diwajibkan untuk sholat berjama’ah di Masjid, wanita justeru diberi penawaran untuk memilih ikut serta dalam sholat berjama’ah itu atau memilih sebuah KEMULIAAN dengan tetap sholat di rumah untuk menjaga anak2 dan harta suaminya..

ketika laki-laki diwajibkan untuk berjihad, wanita justeru diberi penawaran untuk memilih ikut serta dalam “jihad” itu atau memilih sebuah KEMULIAAN dengan tetap di rumah untuk menjaga anak2 dan harta suaminya..

ketika laki-laki diwajibkan untuk menafkahi ibu dan keluarganya, wanita justeru diberi penawaran untuk memilih ikut membantu suaminya atau memilih sebuah KEMULIAAN dengan tetap di rumah untuk menjaga anak2 dan harta suaminya serta berbakti pada (suami) nya..

Wanita tidak pernah dilarang untuk melakukan apa saja yg bisa dilakukan oleh laki-laki, namun wanita ditawarkan sebuah kemudahan yang sudah sangat disesuaikan dengan kondisinya, kemudahan itulah yang dapat membawa seorang wanita pada gelar MULIA..

Satu hal yang harus kita (wanita) ingat, jika ingin tau kedudukan wanita di mata ISLAM, maka pelajarilah seluruhnya secara utuh, jangan setengah2, lihat semua sisi, maka kita akan bersyukur dilahirkan sebagai seoran wanita, Laki-laki pun begitu,,

ISLAM selalu seimbang, jika ada ketimpangan, maka pertanyakanlah pengetahuan (tentang islam) kita masing2,,

figur IBU yang semakin hilang di akhir zaman…

sumber: fanpage ust. felix siauw https://www.facebook.com/UstadzFelixSiauw

 

01. samar betul bagi kita masa depan yang dijelang anak-anak | apakah di masa depan ia masih taat Islam atau berontak

02. kita jalani Islam dengan penuh ketaatan | namun tiada jaminan pada keturunan

03. walau pada masa kecil anak kita dengan Islam sudah terbiasa | di masa depan akan banyak waktunya diajar teman bukan orangtua

04. mendidik anak di zaman ini benar mengkhawatirkan | disaat dosa dan maksiat menjadi bagian hidup dan kewajaran

05. maka kita takjub dengan ibu yang melalaikan saat anak bertumbuh | padahal itulah saatnya dia belajar agama pada ibunya secara penuh

06. uang takkan pernah ada cukupnya | masa perkembangan anak tiada gantinya

07. dengan beribu alasan peran ibu mulai hilang terganti | digantikan oleh pembantu yang dengan agama tidak mengerti?

08. sementara wanita berbangga dengan berapa banyak pnghasilan dirinya | mencoba mencari eksistensi diri dari uang yang tidak seberapa

09. “lalu bila tidak bekerja untuk apa tinggi bersekolah?” | inilah pemahaman salah kaprah pangkal dari generasi musibah

10. justru diperlukan ibu berpendidikan tinggi | untuk mendidik anak-anak agar ranggi

11. jangan berpikir seolah sayang bila pendidikan tinggi | hanya untuk mendidik anak dan rumah tangga ia dipakai

12. seolah-olah ibu rumah tangga pekerjaan tanpa perlu pengetahuan | padahal jadi ibu adalah pekerjaan sulit penuh tantangan

13. menjadi idola bagi anak-anak itu usaha luar biasa | tak banyak wanita yang sukses melakukannya

14. jangan heran bila satu saat anak melawan ibunya | wajar saja dia lebih sering bertemu teman dibanding orangtua

15. uang tidak bisa membeli ketaatan dan kepatuhan anak | atas waktu ibunya bukan kantor yang punya namun anak lebih berhak

16. tapi terkadang hidup memang menyudutkan wanita yang terpaksa bekerja | maka kita bertanya pada suaminya yang seharusnya dia

17. atau ada wanita hidup membesarkan anak sendiri | kita hanya berdoa Allah beri kekuatan kesabaran dan solusi

18. namun nasihat ini bagi wanita-wanita yang mungkin belum sadar | bahwa ada yang jauh lebih penting dari uang dan jabatan sekedar

19. karena karir terbaik wanita adalah menjadi ibu | maka pantaskan diri dengan iman dan ilmu

20. gagal pekerjaan bisa diulang kapan saja | gagal menjadi ibu hanya penyesalan tersisa

21. atau jangan-jangan emas perak sudah lebih menarik dari surga | hingga kita membandingkan antara harta dan pahala?

22. bila tidak tahu darimana memulai jadi ibu yang baik bagi anak | maka mulailah dengan memberikan waktu baginya yang paling banyak

23. karena taat itu asalnya dari cinta | cinta tumbuh dari waktu bersama-sama

24. lebih banyak berkisah padanya lebih banyak memeluknya | mudah-mudahan lebih taat pada Allah jadinya dia karena ibunya

25. semua sulit dan susah itu akan terganti sempurna | saat mereka berucap “karena Allah aku menyayangi bunda”

adakah hadirmu di hari-hari senja ibumu?

suatu waktu, pasti akan muncul sebuah pertanyaan dalam kehidupan kita.

Mana lebih baik bagi seorang anak perempuan, untuk ikut tinggal bersama sang suami, atau tinggal menemani orang tua dihari-hari senja mereka??

setelah melihat mbah dengan kondisinya yg semakin lemah dimakan usia dan selalu membutuhkan keberadaan umi untuk merawatnya setiap hari…

saya jadi mengambil kesimpulan, apalah arti kita hidup jika membiarkan ibu kita tertatih sendiri di hari tuanya kelak…

apalah arti kita bahagia ditempat yg jauh bersama suami di saat untuk mengupas buah seperti dulu saja ibu kita tak mampu lagi melakukannya dengan mudah…

ada seorang teman yg berkata “Harusnya menantu perempuan dari anak laki-laki nanti yang rawat ibu”, ingatlah, menantu itu bukan anak kandung ibu kita, pasti ibu akan tetap merasa sungkan untuk dirawat oleh menantunya, dan si menantu pun belum tentu mau sepenuh hati merawat ibu kita sebagaimana ia merawat ibu kandungnya sendiri, zaman sekarang susah menemukan menantu perempuan yang tulus lho, yang ada malah si menantu sering merasa direpotkan oleh keberadaan mertuanya, beneran deh

ada juga yg berkata “Nanti anak laki-laki yang tanggung jawab ke ibu”, lalu bagaimana jika kau hanya anak semata wayang dan kau adalah wanita?

jikalau pun kau punya saudara laki-laki, bisakah ia merawat ibunya setelaten anak wanita? bisakah ibumu nyaman dimandikan anak laki-lakinya? bisakah anak laki-lakinya membantu menceboki ibunya saat sang ibu sudah tak mampu lagi melakukan aktivitas itu dengan tenaganya yang sudah melemah?

ini hanyalah sebuah ksimpulan yang saya ambil dari apa yang saya lihat sendiri, semoga bisa jadi bahan pembelajaran untuk kita smua

ingatlah, surga itu ada di telapak kaki ibu. ingatlah bagimana ibumu dengan tulus ikhlas merawatmu, dari kecil sampai kau akhirnya bisa sedewasa sekarang, dan akhirnya bisa jatuh cinta dan memutuskan untuk membangun sebuah keluarga seperti sekarang. di dalam hatinya, mungkin ia malu untuk memintamu tinggal dan menemaninya, tapi sejujurnya dia pasti sangat ingin kau ada di sana, di dekatnya, merawatnya, membuatnya tertawa setiap hari, menyuapinya, ah, bahagia pasti rasanya jika anak kita memperlakukan kita dengan seperti itu…

tidak adalah salahnya kan meminta pada suami? suami yang baik insya Allah mengerti, suami yang baik tidak akan marah ketika kita mengatakan ingin merawat orang tua kita. maka dari itu, pilihlah suami yang baik dan mau mengerti kita… ^_^

me, my mom, and mother’s day…

hari ini adalah hari istimewa untuk para ibu. tanggal 22 desember ditetapkan sebagai HARI IBU, entah oleh siapa dan dengan alasan apa. hari di mana semua orang berlomba-lomba untuk menunjukkan cinta kasih mereka pada sang ibu. ketika saya membuka salah satu situs jejaring sosial hari ini, home saya di situs itu penuh dengan berbagai macam status orang yang menggambarkan rasa cinta mereka pada sang ibu. mereka juga melakukan berbagai macam hal untuk mengekpresikan rasa cinta mereka pada hari special ini. ada yang bangun pagi-pagi sekali untuk menggantikan tugas sang ibu di pagi hari dan menyiapkan sarapan istimewa untuk beliau, ada yang membuatkan kue, ada yang membeli barang-barang tertentu seperti bunga sebagai hadiah, ada yang merasa cukup dengan memberikan pelukan, ciuman dan mengucapkan “i love you mom”, dan masih banyak lagi cara lain yang digunakan orang-orang untuk membahagiakan ibu mereka pada hari ini…

jika kau bertanya bagaimana saya merayakan hari ini dengan ibu saya? jawabannya mungkin akan di luar dugaan kalian. 🙂 ironis sekali. baru pagi tadi saya mengetahui bahwa hari ini adalah hari ibu, kalau bukan karena teman-teman saya yang membincangkannya di kampus, mungkin saya tak akan tahu. dan sesampainya di rumah pun saya tak melakukan apapun seperti yang dilakukan kebanyakan orang pada hari ini. ya, saya memang aneh. mungkin kalian akan berpikir begitu. dari sejak kecil saya tidak terbiasa dengan hal-hal yang seperti itu. jangankan hari ibu, hari ulang tahun pun mungkin hanya sekali pernah saya rayakan dan itu pun diadakan saat saya masih duduk di bangku taman kanak-kanak. saya bukan anak yang terbiasa bermanja-mana pada ibunya, bukan orang yang biasa bicara dengan luwes dengan ibu sendiri, saya tak terbiasa untuk memeluk dan mencium ibu saya, apalagi mengucapkan “saya sayang ibu” dengan mudah seperti layaknya anak-anak lain. yah, apa mau dikata, beginilah saya, beginilah cara hidup keluarga saya…

ketika saya melihat status-status orang-orang tentang bagaimana mereka merayakan hari bahagia ini bersama ibu mereka, saya sempat merasa sedih, mengapa saya tak bisa merasakan apa yang mereka rasakan? pun jika saya mencoba untuk memulai bersikap manis di depan ibu saya, pasti akan terasa sangat canggung, dan ibu saya pasti akan merasa bahwa saya aneh karena melakukan hal yang tak biasa kami lakukan sebelumnya. tapi, meskipun rasa sayang ini tak pernah bisa saya sampaikan secara verbal kepada ibu, tak bisa saya pungkiri bahwa di dunia ini, mungkin ibu lah satu-satunya orang yang tulus mencintai saya. dan juga tak bisa saya bohongi diri saya sendiri bahwa saya sangat menyayangi beliau, melebihi apapun yang ada di dunia ini…

mom, even if i can’t give you a warm big hug today, i wish you knew that  deep inside my heart, you’re the one i truly love…i mean it, mom…