INDONESIA TELAH BERTAHUN-TAHUN DIJUAL…!!!

10891689_1521405474812011_5429304345473976258_n

Di bawah ini ada kutipan artikel dari Facebook page ICMS 2014 mengenai 50 Fakta Tragis Negeri Kaya Raya Indonesia. Jujur, saya nggak sanggup baca sampai poin ke 50. terlalu menyesakkan, nggak sanggup tahan air mata rasanya harus baca semua kezhaliman dan ketidak-adilan yang dihasilkan oleh rezim-rezim yang katanya mengusung jiwa kerakyatan ini….

anda hanya salahkan JOKOWI? anda pikir SELURUH masalah indonesia bisa diselesaikan jika PRABOWO menang???!!! Oh, COME ON…!!! don’t pretend to be blind..! Semua orang bisa mengumbar janji manis apapun selama masa kampanye! ini masalah yang sudah terjadi sejak berpuluh-puluh tahun semenjak Indonesia dikatakan merdeka…!!! buka mata bahwa INDONESIA HANCUR KARENA SISTEM YANG KATANYA MEMILIKI ASAS “DARI RAKYAT, OLEH RAKYAT, UNTUK RAKYAT” INI…!!! bukan karena kesalahan pada sosok pemimpinnya, tapi karena kesalahan pada sistem yang diusung oleh negeri ini…!

mana yang mengaku nasionalis, nasionalis-religius, pengusung demokrasi dan demokrasi islami, pancasilais, pancasilais-idealis, NKRI HARGA MATI, cinta tanah air??? Manaa??? INI YANG DISEBUT MERDEKA??? INIKAH SEBUAH BENTUK NEGARA MERDEKA??????!!!!!

para penjajah tahu bahwa penjajahan secara fisik tidak akan memberi keuntungan SEBESAR INI, karena rakyat Indonesia tidak akan tinggal diam dengan penjajahan secara fisik. mereka mengganti gaya menjadi penjajahan segi ekonomi, politik, agama, dan penjajahan dari segi budaya. dan lihat buktinya??? mereka sukses besar-besaran melanjutkan penjajahan terhadap negeri kita! Jika anda tidak merasa terjajah dan merasa Indonesia sudah merdeka, berarti anda tidak peka dengan segala paparan fakta mengerikan yang ada di sekitar anda…!

kalau ada yang mengusik kebudayaan Indonesia sekelas batik, tari gandrung, atau angklung, atau saat suporter tim sepak bola malaysia menghina timnas Indonesia, anda semua marahnya bukan kepalang. tapi ketika HASIL SUMBER DAYA ALAM INDONESIA dikuras habis-habisan, ANDA KEMANA??? Kenapa bungkam????!!!

“Telah tampak kerusakan di darat dan lautan akibat perbuatan tangan manusia, supaya Allah swt merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka agar mereka kembali (ke jalan yang benar)” (Terjemahan QS Ar Ruum(30):41)

berkali-kali, bolak balik orang-orang yang memperjuangkan tegaknya khilafah berusaha menyadarkan anda-anda semua tentang hal ini. tapi anda abai terhadap urusan ummat, merasa bahwa semua kerusakan, semua kehancuran ini bisa diperbaiki melalui jalan lain selain penerapan hukum-hukum islam. jalan lain yang mana??? jalan seperti apa??? bagaimana cara jalan tersebut akan memperbaiki negeri yang bobrok ini?? bagaimana jalan lain itu bisa melindungi saudara-saudara kita di palestina, mesir, suriah, irak, dan rohingnya???!!!!

apakah anda meragukan kehebatan Allah dalam mengatur manusia, bumi, dan segala isinya??? sekali lagi saya tanyakan pada hati nurani anda, pada lubuk hati anda yang paling dalam, apakah anda meragukan Allah dan segala aturanNya??? apakah hanya karena negara ini isinya bukan hanya orang muslim lantas anda merasa Allah tak punya hak dan kuasa untuk mengatur sebuah negeri yang diisi tak hanya oleh warga muslim saja???

dan bagi yang sampai sekarang masih tak acuh tentang urusan perpolitikan, yang masih urung untuk peduli mengenai masalah ummat yang kelaparan, menderita di kolong-kolong jembatan, terpaksa menahan lapar karena tak punya sekeping uang untuk membeli makan, atau rakyat di luar Indonesia yang setiap detik dalam hidupnya harus dihantui oleh suara ledakan bom dan tembakan senapan, apakah anda tega untuk abai pada mereka? apakah anda tega merasa nyaman dengan kehidupan anda sendiri tanpa peduli pada apa yang terjadi dengan saudara anda? bagaimana jika posisinya terbalik, anda yang berada di posisi mereka dan anda merasakan seluruh dunia abai terhadap nasib anda, bagaimana??? apakah masih tega anda mengatakan “saya tidak tertarik dengan masalah politik”????!!!!

ya Rabbi, saksikanlah….kami telah menyuarakan ketidak adilan ini, saksikanlah ya Allah…bukakan pintu hati seluruh rakyat Indonesia agar mau kembali pada aturanMu, kembali pada Syariat Islam. karena hanya dengan jalan itulah negeri ini bisa selamat dari kehancuran….

*maafkan jika saya tak sanggup lagi membendung rasa geregetan ini, maafkan saya yang faqir ini, saya hanya benar-benar sudah tak sanggup melihat rakyat indonesia menderita bertahun-tahun, melihat negeri kaya raya ini semakin lama semakin rusak dan tak punya apa-apa lagi karena kekayaannya habis dikuras oleh penguasa kapitalis.

1. Di masa Raffles (1811) pemilik modal swasta hanya boleh menguasai lahan maksimal 45 tahun; di masa Hindia Belanda (1870) hanya boleh menguasai lahan maksimal selama 75 tahun; dan di masa Susilo Bambang Yudhoyono (UU 25/2007) pemilik modal diperbolehkan menguasai lahan selama 95 tahun. Teritorial Indonesia (tanah dan laut) telah dibagi dalam bentuk KK Migas, KK Pertambangan, HGU Perkebunan, dan HPH Hutan. Total 175 juta hektar (93% luas daratan Indonesia) milik pemodal swasta/asing(Sumber : Salamuddin Daeng(SD), Insititut Global Justice (IGJ)

2. Sebanyak 85% kekayaan migas, 75% kekayaan batubara, 50% lebih kekayaan perkebunan dan hutan dikuasai modal asing. Hasilnya 90% dikirim dan dinikmati oleh negara-negara maju. Sementara China tidak mengekspor batubara, Sekarang kita harus bertarung di pasar bebas dagang dengan China – Asean. Ibarat petinju kelas bulu diadu dengan petinju kelas berat dunia. Pasti Knock-Out ! Siapa yang melindungi rakyat dan tanah tumpah-darah kita ini?(Sumber : SD-IGJ)

3. Beberapa tahun terkhir kita impor 1,6 juta ton gula, 1,8 juta ton kedelai, 1,2 juta ton jagung, 1 juta ton bungkil makanan ternak, 1,5 juta ton garam, 100 ribu ton kacang tanah, bahkan pernah mengimpor sebanyak 2 juta ton beras(Sumber : RR) Pastinya ada yang salah dengan kebijakan yang diambil oleh Pemerintah Indonesia menyangkut sektor pertanian. Pasti juga ada agen kapitalis yang bermain di balik penindasan yang terjadi terhadap para petani Indonesia ini.

4. Penerimaan negara dari mineral dan batubara (minerba) hanya 3 persen (21 trilyun pada tahun 2006). Padahal kerusakan lingkungan dan hutan yang terjadi sangat dahsyat dan mengerikan!. Devisa remittance dari para tenaga kerja Indonesia (TKI) saja bisa mencapai 30 trilyun pada tahun sama.[Sumber : Tjatur Sapto Edy-(TSE)] Jadi kemanakah larinya hasil emas, tembaga, nikel, perak, batubara,timah,aluminium dan seterusnya, yang ribuan trilyun itu?…

5. Dari permainan ekspor – impor minyak mentah, pelaku perburuan rente migas ‘terpelihara’, dan setiap tahun negara dirugikan sampai 4 trilyun. Namun menguntungkan ‘oknum’ tertentu yg dikenal sebagai MR TWO DOLLARS dan memiliki hubungan dg penguasa(Sumber : RR).Inikah penyebab pansus BBM DPR RI tidak berkutik ? Malah mantan ketua pansus yang gagal itu jadi MENTERI.

6. Disepakati kontrak penjualan gas (LNG) ke luar negeri dengan harga antara tiga hingga 4 dollar Amerika/mmbtu. Padahal saat kontrak disepakati harga pasar internasional US$ 9/mmbtu(Sumber : TSE). Gas dipersembahkan buat siapa? Siapa yang bermain?

7. Dengan standar buatan Indonesia orang miskin di negeri ini tahun 2006 berjumlah 39 juta (pendapatan perhari 5.095,-) Tapi kalau memakai standar Bank Dunia/standar internasional US$ 2 per hari, maka orang miskin di Indonesia lebih kurang 144 juta orang (65%)(Sumber : FB). Lalu apa yang kita banggakan dari pemimpin bangsa ini?

8. Dengan 63 hypermarket, 16 supermarkets di 22 kota (termasuk 29 hypermartket Alfa dan jaringannya di seluruh Indonesia), maka Carefour Indonesia (komisarisnya jenderal-jenderal) total menguasai bisnis ritel. Bagaimana nasib jutaan warung-warung kelontong milik rakyat kecil? Atas nama liberalisme pasar semua digusur? (Sumber : Penelusuran di internet)

9. Sampai sekarang jumlah mall dengan konsep one stop shopping di JKT sekitar 80an dan akan bertambah tahun ini menjadi 90an. Sementara pasar tradisional yang dikelola PD Pasar Jaya tinggal 150an dlm keadaan “babak belur”. SIAPAKAH PEMILIK MALL ?? Sementara penghuni pasar tradisional mayoritas pribumi yg dengan memelas dan menjerit pendapatannya terus melorot. Siapa peduli mereka? Persaingan atas nama ideologi apa ini ? Atau penindasan rakyat macam apa ini? (Sumber : Penelusuran di internet)

10. Sepuluh tahun kedepan Indonesia akan impor biji gandum lk 10 juta ton (butuh devisa lk 42,5 triliun rupiah).Sekarang masih 5 juta ton/tahun. Itu artinya akan jadi importir terbesar didunia.Kebijakan pertanian dan pangan yg tidak pro petani/rakyat, membuat kita tergantung pada impor gandum dari AS, Kanada dan Australia. Budaya makan mie,roti dll ikut andil(sukses marketing kapitalis juga). Padahal di Meksiko mampu memproduksi mie dari tepung jagung atau di China Selatan dari tepung beras. Indonesia sebenarnya mampu membuat yang seperti itu bahkan tepung sagu melimpahruah, kalau mau. Tapi bisnis impor gandum dan jual beli terigu sudah jadi “kerajaan tersendiri” yang dinikmati kapitalis. Tak peduli kesengsaraan petani Indonesia.(Sumber : Penelusuran di internet).

11. Sampai saaat ini kebutuhan daging sapi nasional sekitar 400 ribu ton(1,8 juta ekor sapi).dari jumlah tsb baru bisa dipenuhi lk 65%. kekurangannya diimpor dari AS, AUSTRALIA, SELANDIA BARU, KANADA, IRLANDIA, BRAZIL. Pemerintah mencanangkan swasembada daging sapi thn 2014. tapi yang terjadi sejak tahun lalu adalah serbuan daging sapi impor, sapi siap potong impor, daging sapi beku impor yang menghantam usaha peternakan rakyat. Tak tergambar bagaimana program utk merealisasikan swasembada daging tsb secara gamblang.Tak beda dengan impor kedele, jagung, kacang tanah, gula dll berujung pada tdk diberdayakannya secara optimal kemampuan petani/peternak utk mengisi pasar dalam negeri guna menghadapi kebiasaan impor yang hanya menguntungkan segelintir pengusaha /kapitalis. Rezim ini berpihak ke siapa?(Sumber : Penelusuran di internet)

12. Tahun 2008 adalah tahun monumental bagi industri otomotif di Indonesia. Tercatat penjualan 607.151 unit mobil dan lk 6.000.000 unit sepeda motor.Tentusaja AGEN TUNGGAL PEMEGANG MERK(ATPM)berpesta, apalagi PRINCIPALnya. Apakah Pemerintah dan Rakyat Indonesia mendapat manfaat dari pesta tsb ? Ya tentu. Tapi tidak sebanyak yang diraih bila Indonesia punya merk mobil nasional sendiri lewat pembelian lisensi seperti yang ditempuh Malaysia, India, China, Iran dan Korsel. Sudah puluhan tahun gagasan punya merk mobil nasional tapi kandas. Tommy, Bakri dan Texmaco sdh mencoba tapi kandas. Apakah karena kekuatan kapitalisme pada industri otomotif Indonesia sedemikian mencengkeram sehingga kita tak berdaya atau political will yang lemah ? Kenapa Malaysia bisa dengan PROTON nya ?(Sumber : Penelusuran di internet)

13. Penjualan putus gas Donggi Senoro ke Mitsubishi , menghilangkan potensi perolehan negara sebesar USD 500.000.000/tahun atau Rp 4,5 triliun(hitungan DR.Kurtubi).padahal Pertamina jauh lebih pengalaman dalam membangun dan menjual LNG. Kenapa aset negara strategis ini dilepas begitu saja? Sementara rakyat harus membeli gas dengan “harga dunia”yang 5x lebih mahal?

14. Seperti dalam berbagai bidang Malaysia dulu banyak belajar dari Indonesia trmasuk Petronas awalnya banyak belajar dari Pertamina.tapi kini aset Petronas 5x lebih besar dari Pertamina.(Sumber : Dr. Kurtubi dan Marwan Batubara). Apakah karena kehebatan orang Malaysia atau karena Pertamina secara perlahan digrogoti dari dalam oleh mafia migas/konspirasi kapitalis?

15. Indonesia disebut TANAHAIR. 175 jt ha TANAH dalam bentuk HPH,HGU,KONTRAK KARYA. AIRTAWARNYA dikuasai 246 perusahaan air minum dalam kemasan(AMDK). 65% dipasok oleh perusahaan asing (AQUA DANONE dan ADES COCACOLA). AQUA DANONE milik Prancis menguras air Indonesia dari 2001 sd 2008 saja lk 32.000.000.000 liter dengan laba yang dilapor hanya Rp 728 milyar. Pada label disebut dari mata air pegunungan,padahal dari exploitasi air tanah.Banyak kebohongan pihak AQUA yang dilansir Marwan Batubara(Tokoh LSM KPK-N),mulai dari volume,pajak,laba hingga dampaknya. Dan yang paling mengerikan menurut Erwin Ramadhan, ancaman terhadap ketersediaan air tawar di Indonesia, akan kering dimasa datang? TANAHAIR milik siapa?

16. Hutang Luar Negeri Indonesia (Pemerintah dan Swasta) sebesar dua ribu lima ratus trilyun rupiah (2.500.000.000.000.000) diantaranya dibuat selama 5 th pemerintahan SBY sebesar 300an triliun.. Bunga dan cicilan pokok 450 trilyun. Pertumbuhan ekonomi 4 – 6 % per tahun hanya untuk biaya bunga dan cicilan pokok hutang luar negeri.Sebuah sumber menyebut negara telah bangkrut secara akuntansi karena hutang lebih besar dari assets. Kekuatan ekonomi bangsa Indonesia telah terjebak dalam hutang berkepanjangan (debt trap) hingga tak ada jalan keluar! Kita akan terus hidup bergantung pada hutang.Sementara itu diduga ada mafia dlm “permainan hutang” ini yg mengambil keuntuangan dari “selisih bunga pinjaman hutang”.makin banyak pinjaman makin menguntungkan mafia ini. oh lintah darat terus menghisap darah rakyat.[Sumber : SD-IGJ, FUAD BAWAZIER(FB), RIZAL RAMLI(RR)]

17. Empat puluh tahun lalu pendapatan rakyat Asia Timur rata-rata sebesar US$ 100, bahkan China cuma US$ 50. Kini Malaysia tumbuh 5 kali lipat lebih besar dari pendapatan Indonesia, Taiwan (16 kalilipat), Korea (20 kalilipat), China (1,5 kalilipat) dan telah jadi raksasa ekonomi, politik, dan militer di ASIA.(Sumber : RR). Ke mana hasil sumber daya alam kita yang sudah dikuras selama hampir 40 tahun ini? Ya memperkaya negara Barat, Singapura,ASIA Timur dan tentu saja oknum2 KAPITALIS di INDONESIA.

18. Ekonomi Indonesia hanya dikendalikan oleh 400-an keluarga yang menguasai ribuan perusahaan Sejak Orde Baru mereka dapat monopoli kredit murah, perlindungan tarif, kuota, dan sebagainya. Semua itu karena mereka memberi upeti kepada penguasa(Sumber : RR). Sementara usaha kecil yang puluhan juta dianiya, digusur, dan dipinggirkan.

19. Akibat dari BLBI 1997, maka banyak bank berantakan. Kemudian direkapitalisasi ratusan trilyun. Bunga rekapitalisasi setiap tahunnya ditanggung oleh rakyat Indonesia melalui APBN sebesar puluhan trilyun untuk jangka 30 tahun ke depan(Sumber : FB). Yang menikmati BLBI di antaranya Syamsul Nursalim dkk, ongkang-ongkang kaki di Singapura(bahkan melalui Ayin tetap menjalin “persahabatan” dg PENGUASA Ind). Parahnya lagi, sekarang keadaan perbankan 66-70% sudah dikuasai oleh modal asing(Sumber : SD-IGJ). Sebagian bank yang dikuasai asing itu menikmati bunga rekapitalisasi yang ditanggung oleh APBN tersebut. Kesimpulannya, negara Indonesia ini sudah berantakan dalam aspek-aspek mendasarnya (teritori, keuangan, hutang).

20. Dengan iming-iming pinjaman US$ 400 juta dari the World Bank, Undang-Undang Migas harus memuat ayat: Indonesia hanya boleh menggunakan maksimal 25% hasil produksi gas-nya. Bayangkan, kita eksportir gas terbesar di Asia, tapi penggunaan gas-nya diatur dari luar. Akibatnya PT Pupuk Iskandar Muda dan PT Asean Aceh Fertilizer, tutup karena kekurangan pasokan gas(Sumber : RR). Ini tikus mati di lumbung padi! Bahkan sekarang harga gas untuk rakyat mau dinaikkan lagi.

21. Dengan total anggaran belanja 3.660 trilyun (tahun 2005 s/d 2009), selama 1825 hari kerja, rezim ini hanya mampu menurunkan jumlah orang miskin dari 36,1 juta (16,6%) menjadi 32,5 juta (14,15%).Sumber lain malah menyebut terjadi penambahan jumlah orang miskin. Sementara pengangguran terbuka makin meningkat dari 7% menjadi lebih-kurang 8,5%. Padahal sebagian rakyatnya sudah rela jadi “kuli” di ARAB SAUDI, HONGKONG, SINGAPURA, MALAYSIA, KORSEL dll. Mau ke mana rakyat dan negeri ini dibawa…? (Sumber : Hasil penelusuran di internet)

22. Untuk pemenangan PEMILU dan PILPRES(selain “PROYEK CENTURY”), demi bertahannya rezim ‘anak manis’ ini, maka majikan dari luar memberi bantuan pinjaman sekitar 50 trilyun untuk mengambil hati orang desa, masyarakat miskin,dan pegawai negeri (PNPM, BLT, GAJI ke-13, JAMKEMAS, KUR, RASKIN, dll)(Sumber : SD-IGJ). Utang makin bertambah demi citra rezim di mata rakyat ‘bodoh’. Ditambah lagi dengan UTANG, untuk kesejahteraan pegawai DEPKEU atas nama REFORMASI BIROKRASI, sebesar hampir 15 trilyun, yang menghasilkan GAYUS MARKUS. Alamak…, makin sempurna kejahatan rezim ini!

23. Dugaan kekayaan negara yang hilang sia-sia: 1>. Dengan memakai asumsi Prof. Soemitro 30% bocor, maka kalau APBN 2007 sebesar 750 trilyun, maka bocornya lebih kurang 250 trilyun. 2>. Penyelundupan kayu/pencurian hasil laut, pasir, dan lain-lain 100 trilyun. 3>. Potensi pajak yang tidak masuk kas negara tahun 2002 (menurut Kwik Kian Gie) sekitar 240 trilyun kalau sekarang misalnya dua kali lipat, maka angkanya berkisar 500 trilyun. 4>. Subsidi ke bank yang sakit menurut Kwik 40 trilyun tahun 2002. Maka secara kasar potensi pendapatan negara yang hilang sia-sia totalnya 890 trilyun. Itulah salah satu sebab rakyat tetap miskin, segelintir orang mahakaya, dan negara tertentu kecipratan menjadi kaya.

24. Tahun 2005 BPK menemukan 900 rekening gelap senilai 22,4 trilyun milik 18 instansi pemerintah. Pada waktu itu ada 43 instansi yang belum diaudit(Sumber : FB). Jadi masih banyak uang negara yang gelap yang belum dimanfaatkan. Kenapa mesti menghutang untuk memberi rakyat raskin dan BLT? Kenapa jalan-jalan raya di tengah kota banyak yang bolong-bolong? Kenapa begitu banyak orang yang mengemis di pinggir-pinggir jalan?

25. Tahun 2003 BUMN Indosat dijual ke TEMASEK SINGAPURA dengan harga 5 triliun.Selama lk 5 tahun TEMASEK telah meraup keuntungan lk 5 triliun laba dari bisnis telekomunikasi tsb. Artinya secara kasar modal sudah kembali. Tahun 2008 TEMASEK menjual Indosat ke QATAR TELECOM senilai 16 triliun. Itu keuntungan mutlak hanya dalam 5 tahun dari perusahaan Singapura. Siapa yang pintar dan siapa yang “pura-pura bodoh”? Ini salah satu dosa rezim neolib yang tak akan dilupakan rakyat.(Sumber : Penelusuran di internet).

26. Menurut BPK ; “kerugian negara akibat ilegal logging 83 milyar/hari atau 30,3 triliun/tahun. ¾ hutan alam telah musnah. Setahun hilang seluas negara Swiss. Belum termasuk kerugian ekologis(banjir,longsor,kekeringan, hilangnya satwa,gas rumah kaca)”. Apa hubungannya dengan RRC atau Malaysia yang jadi juara export kayu lapis di dunia yang dulu dijuarai Indonesia?

27. Menurut ER Hardjapamekas, tahun 2008 , 36 Kepala Daerah diduga korupsi. Tiga tahun terakhir nilai yang dikorupsi lk 1.600 milyar. Sejak reformasi lk 1.000 anggota DPRD terlibat korupsi bernilai lk 200 milyar. Ini yang terungkap… cuma puncak gunung es…

28. Meskipun Cina menerapkan hukuman berat terhadap koruptor sampai 4800 pejabat negara dieksekusi didepan regu tembak tahun 2007, namun tahun 2009 pejabat terbukti korupsi meningkat 2,5% menjadi 106.000. Ini yang diduga menyebabkan peningkatan jumlah yang dieksekusi mati antara 8.000an sampai 10.000an (BATAVIASE.CO.ID 05 APRIL 2010). Indonesia yang “hanya memenjarakan dengan hukuman relatif ringan” (tak ada yang dieksekusi) lk 500an pejabat sejak 5 tahun terakhir, tentu tak mempunyai efek jera.

29. Salah satu dampak buruk skandal CENTURY ,pegawai rendahan tahu para BOS melakukan korupsi besar tapi tak ada tindakan hukum/politik.Akibatnya mereka yang rendahan merajalela melakukan koropsi seperti cerita pak SAPARI sbb ;” TENDER 800 JT. KETIKA MENANG LANGSUNG DIPOTONG 300 JT.PADA SAAT PELAKSANAAN RIELNYA CUMA SISA 250 JT. BERARTI PROYEK DIKERJAKAN DENGAN NILAI CUMA 30% ALIAS KORUPSI 70% (Sumber : Sapari, kontraktor, Jakarta,editorial Metro Tv, 10 Agustus 2010 pk. 07.30).Ini permainan orang bawah. tak merasa ada beban.mereka makin merasa ada pembenaran dari skandal Century.

30. Dlm kasus bencana Teluk Mexico Presiden Obama berhasil mendaptkan komitmen ganti rugi dari Biyond Petrolium(BP) sebesar USD 20 M. Dalam kasus Lapindo yang oleh Rahmat Witoelar (mantan Menneg KLH) disebut BUKAN BENCANA ALAM, malah pemerintah melalui APBN (DARI PAJAK RAKYAT!) harus menanggung beban Lapindo sebesar Rp 7,2 triliun dari 2010 sd 2014(Sumber :Marwan Batubara).lebih besar dari uang Century yang dirampok.

31. Presiden AS Richard Nixon menginginkan kekayaan alam Indonesia diperas sampai kering. Indonesia ibarat realestate terbesar didunia yang tak boleh jatuh ke tangan Uni soviet atau China(Charlie Illingworth,seperti dikutip B Shambazy dalam buku John Perkins” Membongkar Kejahatan Jaringan Internasional. Bagaimana realita Indonesia setelah 40 tahun “pesan Nixon” ? Minyak , gas, emas,batubara, tembaga dll hampir kering dijarah. Ditambah dengan jeratan utang menggunung. Apakah para agen Nixon belum kenyang dan belum tobat?

32. “Aku akan bekerja membangkrutkan negara negara yang menerima pinjaman sehingga negara negara itu selamanya akan terjerat utang . setelah itu mereka akan jadi sasaran empuk kepentingan kami (USA), berkait dengan ;pangkalan militer,hak suara di PBB,akes ke minyak bumi atau sumberdaya alam lainnya”. (John Perkins : ” CONFESSION OF AN ECONOMIC HIT MAN “)

33. Di barat kita bermasalah dengan Malaysia, di timur (NTT) ada masalah dengan tumpahan minyak(ledakan sumur)blok Montara milik PT TEP(Australia/Thailand).Tumpahan ini telah merugikan secara sosial ekonomi dan lingkungan Indonesia. Menurut Gubernur NTT nilai kerugian akan berakumulasi antara 2,5 sd 3 triliun mencakup 20.358 KK nelayan.Sikap Pem RI terhadap Australia/Thailand sangat lambat.Padahal kasus ini sudah lebih setahun(lebih dulu dari kasus Teluk Mexico yang diselesaikan cuma 2 bulan oleh Obama).PEM RI malah telah keluarkan biaya penanggulangan sekitar rp 900 juta. Penanganan dan klaim sangat lambat.bagaimana kedaulatan kita?akan diselesaikan diam2?

34. PETRONAS menguasai 1 juta ha PSC MIGAS dan 400 ribu ha (ada yang menyebut dua juta ha) lahan sawit di Indonesia dikuasai Malaysia.Kedua bisnis tsb seluruhnya seluas 3x pulau Lombok(sumber;SD-IGJ), Investasi senilai USD 1,2 M, 2 JUTA TKI dll seharusnya menjadi alat penekan PEM RI dalam rangka perundingan perbatasan dengan Malaysia.Tak ada perundingan yang sukses tanpa pressure.takada diplomasi santun dengan tetangga yang kurang ajar.

35. Amerika Serikat adalah negara brandal(rogue state) terbesar di muka bumi. Ia mensponsori kudeta a.l. di Indonesia (1965) dan bahkan dengan dukungan institusi keuangannya/Depkeunya juga IMF , menimbulkan aksi devaluasi kejam terhadap aset2 di Asia Timur/Tenggara termasuk Indonesia (1997) yang menciptakan pengangguran massal dan menihilkan seluruh kemajuan yang telah dicapai selama bertahun tahun di Asia Timur/Tenggara termasuk di Indonesia.(lihat NEO IMPERIALISME karya DAVID HARVEY hal 44 dst).Mungkinkah peristiwa tsb berulang lagi di Indonesia dalam pola yang lebih kreatif?

36. Indonesia adalah eksportir sawit terbesar di dunia. namun sebagian besar kebun sawit adalah pengusaha Malaysia. Pabrik olahan sawitnya dibangun di Malaysia dan Singapura.padahal sawit mempunyai 38 produk turunan (bahkan ada yang menyebut 100 an lebih). Indonesia tdk mendapat nilai tambah dari sawit.justru yang terjadi paradox/ketimpangan besar antara pengusaha dengan rakyat yang hidup di sekitar perkebunan (A.Prasetyantoko,FTW,Agsts 2010).Di MalaysiaTKI diexploitasi sebagai “budak”(ada 50ribuan anak anak TKI yang tdk sekolah di Sabah), di Tanahair sendiri jadi kuli di kebun orang Malaysia.TRAGIS DAN IRONIS.

37. Sejak 1998 sd 2009 lebih kurang 474 UU telah disahkan. Yang paling menyedihkan adalah UU bidang Ekonomi dan Sumber Daya Alam. Ciri umum UU tsb adalah ; 1. Hilangnya campurtangan negara dalam perekonomian dan diserahkan pada mekanisme pasar. 2. Penyerahan kekuasaan pada modal besar/asing dalam rangka ekspansi dan eksploitasi sumber daya alam di Indonesia.3.Perlakuan diskriminatif terhadap mayoritas usaha rakyat(Sumber : IGJ<April 2010). Tidak heran karena biaya amandemen UUD 45 dan pembuatan UU dibiayai UNDP, NDI,BANK DUNIA,ADB,USAID total $ US 740 juta ( Sumber : PETISI 28). Makin melapangkan jalan nekolim menguasai ekonomi Indonesia.

38. Menko Perekonomian menargetkan investasi mencapai 3.100 triliun sampai 2014(Sumber :SIB 25/6/2010). Padahal dalam 15 tahun terakhir investasi asing tidak mencapai 1.000 triliun atau cuma sekitar USD 76.469 M(Sumber : SD-IGJ). Dengan investasi dibawah 1.000 triliun saja pihak asing sdh menguasai lk 75% sumber kekayaan alam,sumber keuangan/perbankan dan aktifitas perdagangan di Indonesia. Bila target tsb terwujud ditambah UU yang pro asing/kapitalis serta sikap “kurang nasionalis” para politisi/penguasa, maka bukankah sama dengan kita menyerahkan bangsa dan rakyat (kedaulatan kita) bulat2 ke kaum imperialis?

39. Hutang perkepala rakyat Indonesia meningkat selama pemerintahan SBY , dari 5,8 juta (2004) menjadi 7,7 juta(2009). Jumlah hutang meningkat 31% dalam 5 tahun terakhir. PENINGKATAN TERBESAR SEPANJANG SEJARAH(Sumber : Tim Indonesia Bangkit). Cicilan pokok plus bunga yang dibayar dalam 6 tahun terakhir adalah 877,633 triliun(Sumber : SD-IGJ,Agsts 2010).Lebih besar dari APBN 2007.Melebihi seluruh pendapatan dari pajak setahun. Membangun atau menggali lubang…?

40. Indonesia akan benar2 jadi NEGARA GAGAL?Mnurut Rotberg(2002) gejala negara gagal 1.Keamanan rakyat tak bisa dijaga 2.Konflik agama/etnis tak usai 3.Korupsi merajalela 4.Legitimasi negara menipis 5.Pusat tak berdaya hadapi masalah dalam negeri 6.Rawan terhadap tekanan luar negeri 7.dll. Dalam bukunya COLLAPSE(2005) PROF JARED DIAMOND(UCLA), Indonesia diramalkan akan jadi NEGARA GAGAL,seperti SOMALIA,ETIOPIA,RWANDA dll. AYO BANGKIT BERSAMA.SELAMATKAN INDONESIA !JANGAN SIBUK SELAMATKAN DIRI MASING2 DONG !

41. Thn 1984 ekspor Indonesia US$ 4 MILYAR, CHINA hanya US$ 3 milyar. Dua puluh tahun kemudian Indonesia US$ 70 MILYAR, CHINA US$ 700 milyar. Dalam bidang pembangunan jalan tol Indonesia memulai lbh awal 10 tahun dari Malaysia dan 12 tahun dari China. Sekarang panjang tol Malaysia lk 6.000 km dan China lk 90.000 km. Sementara Indonesia cuma 630 km (Sumber :JEFFREY SACH).Skedar indikator betapa tertinggalnya kita.

42. Dari 1,3 milyar penduduk China ada 70 juta anggota Partai Komunis yang didoktrin utk berbuat terbaik utk rakyat/negaranya. Mereka adalah tim yang 24 jam nonstop memikirkan kemana negaranya akan dibawa.(Sumber : Mayjen Purn. Sudrajat,mantan Dubes di China). Rahasia kemajuan China lainnya :sangat kuat menjaga persatuan dan stabilitas keamanan(ala Soeharto?), falsafah : “mewujudkan dunia benar2 surga”,menegakkan hukum konsisten(sdh lk 10.000 koruptor dieksekusi !)dll. Benar sabda Nabi Muhammad SAW; kejarlah ilmu sampai ke negeri China.

43. Dana pemilu,pilpres dan pemilukada tahun 2009 diperkirakan sekitar 50 triliun(Sumber : Dradjad Wibowo,MI.Com 14/3/09). Lk 5% APBN. Demokrasi mahal. Yang terjadi adalah “demokrasi criminal/ crime democracy” (istilah Rizal Ramli). KRIMINAL PROSESNYA (sbagian beli suara, manipulasi,skandal Century,IT dan DPT,kolusi dan nepotisme nomor urut caleg dll). KRIMINAL OUTPUTNYA (“sekongkol” atur anggaran, contoh anggaran perjalanan 19,5 triliun, tidak serius tuntaskan skandal Century, kasus pemilihan Gub BI dll). Harus segera dibangun demokrasi yang bermartabat. Anggaran partai harus dari Negara supaya akuntabel dan tidak dibajak oleh kapitalis/corporatokrasi, lahir politisi yang akuntabel, bermutu, berintegritas. UU Pemilu/Parpol/Parlemen(MD3) harus dirubah dan spiritnya membuka ruang bagi tumbuhnya demokrasi yang sehat. Outpun lain dari demokrasi kriminal adalah KADER BANGSA TERBAIK (jujur, trackrecord bagus, cerdas, berintegritas) TERELIMINASI/ TERGUSUR dari proses recruitment politik dan birokrasi, sehingga tidak dapat tampil jadi PEMIMPIN BANGSA (hanya karena tak cukup uang/ sponsor/ tak punya power cantolan atau memang mereka menolak bermain uang/ memakai sponsor/cantolan). Yang EKSIS adalah sebagian mereka yang mau bermain dalam system demokrasi kriminal(dan karena itu tak heran bila lembaga politik bahkan birokrasi banyak dihuni “ bukan kader bangsa terbaik” dan karena itu tak punya visi serta komitmen membangun bangsa dengan sungguh2 dan benar). Sistem demokrasi yang benar dan sehat SEMESTINYA melahirkan KADER BANGSA TERBAIK PADA POSISI TERBAIK dan itu menjadi prasyarat menuju kejayaan sebuah bangsa.

44. Luas rata rata lahan petani Karawang 0,33 ha dengan nilai pendapatan rata rata perbulan lebih kurang Rp 700 ribu (Rp 23 ribu perhari). Angka “hidup layak minimal” di Karawang Rp 1,2 jt/bulan ,sementara upah minimum 2010 adalah Rp 1,1 juta/bln( Kompas 25/9/10). Petani Karawang adalah PAHLAWAN yang menyuplai beras utk warga.dan elit2 Jakarta.tapi siapa yang peduli dengan mereka? BENARKAH mereka tersentuh pembangunan? Bagaimana mereka menyekolahkan anak?berobat kalau sakit? Sawah tergenang banjir? Semoga saat kita menyuap NASI kita ingat dan doakan Petani Karawang dan semua Petani Indonesia .

45. Ada lebih kurang 30 juta rakyat Indonesia tidak punya rumah (Sumber;Prof.DR.D.Rachbini). Lebih besar dari seluruh penduduk Malaysia. Di zaman Orba ada rumus pembangunan rumah 1,3,6 (tiap bangun 1 rumah mewah ada kewajiban bangun 3 rumah menengah dan 6 rumah sederhana). Kekuatan lobby kapitalis membuat rumus tsb redup. Yang muncul adalah wanita2 cantik di layar kaca berceloteh tentang rumah idaman. Jutaan rakyat kecil di gang gang kumuh menonton kemolekan “agen kapitalis” tsb sembari merenung tentang harga apartemen yang “cuma satu koma empat milyar”. Para purnawirawan risau dengan nasib rumah yang dihuninya. Benarkah Negara menyejahterakan rakyatnya? Tanah dan bangunan untuk siapa?

46. “Kami telah terbiasa selama 30 thn trakhir ini memenuhi 95% kebutuhan kami dg swasembada. Kami hanya impor secuil. Sanksi internasional akan bawa berkah kemakmuran bagi kami. Negara2 Eropa akan rugi besar akibat sanksi thdp kami “(Pres Iran Ahmadinejad,21 Sep 2010 di New York.)” Tugas kami adalah utk memainkan peran penting dalam membebaskan dunia dari imperialisme, kapitalisme dan hegemoni neoliberal yang saat ini mengancam keberlangsungan hidup umat manusia” ( Kol.Purn. Hugo Chavez,Pres.Venezuela, 27 Juni 2010).”Roh Soekarno” sudah minggat? Tak betah di Tanahair beta? Bangsa yang telah terjebak hutang ribuan triliun tak mungkin bisa tegak kepalanya seperti Iran, Venezuela atau China.

47. Disatu sisi APBN dalam 5 tahun terakhir meningkat 100%. Sumbngan dari pajak 70%, khusus dari PPH dan PPN significant. Tapi subsidi terus menurun dari 23,69% tahun 2005 menjadi 14,29% tahun 2010(Sumber ; SD-IGJ). Padahal kenaikan APBN seharusnya makin memperkuat BASIS KEBIJAKAN EKONOMI KERAKYATAN/ NASIONAL. bukan malah memberi stimulus fiskal(73 triliun tahun 2009 dan 60 triliun tahun 2010) kepada sektor swasta/asing. Pencabutan subsidi listrik/kenaikan TDL (yang sangat memberatkan rakyat!) misalnya bukankah salah satunya karena ingin mengakomodir kepentingan perusahaan2 asing yang ingin investasi disektor kelistrikan? APBN mengabdi untuk siapa?

48. Meskipun China dan India impor minyak masing masing 60% dan 80% dari kebutuhan dalam negerinya tapi tetap mensubsidi rakyatnya. INDONESIA yang punya cadangan 80 miliar barel (seharusnya bisa memproduksi 1,5 jt barel/hari daripada sekarang yang cuma 960 ribu) dan jauh lebih besar potensi minyaknya dari kedua negara tsb (Sumber : DR.KURTUBI), malah sibuk dengan rencana mengurangi subsidi utk rakyatnya. Padahal Indonesia masih punya cadangan gas yang luar biasa yang bisa mengganti peran minyak di industri. Mengapa subsidi utk rakyat yang terus diutak atik? Bukankah masih BANYAK PILIHAN KEBIJAKAN utk membela rakyat dan MEMPERKUAT BASIS EKONOMI KERAKYATAN melalui KEBIJAKAN MIGAS tanpa harus mengurangi subsidi? Minyak dan gas salah kelola? Dipersembahkan buat siapa?

49. Struktur sektor perbankan secara umum tlah dikuasai asing. Bank yg dominan saham asing ; DANAMON (68,83%), BUANA(61%), UOBI(100%), NISP(72%), OCBC(100%), CIMB NIAGA(60, 38%) BII(55,85%), BTPN(71,6%). Meskipun msh minoritas tapi BANK PANIN dan PERMATA masing2 sdh dikuasai asing dengan 35% dan 44,5%. Tahun 2011 akan dijual/privatisasi 10 BUMN, termasuk MANDIRI dan BNI .Selama 5 thn (2004- 2009) kredit bank asing Cuma ngucur 19,34% dan sekarang cendrung turun.dibawah bank pemerintah/swasta nasional(Sumber : AE. YUSTIKA, INDEF). Kerja bank memang NYEDOT UANG, tapi sedotan bank asing lari kemana ya?

50. Kekayaan Indonesia 10 tahun terakhir ini meningkat 5 kali lipat menjadi Rp16.200 triliun, tertinggi peningkatannya di ASIA PACIFIC. Dari 232 juta penduduk Indonesia, 60ribu orang punya kekayaan diatas 1 juta USD( lk rp 9 M), 20%(46.400.000 orang)kekayaannya antara 10ribu USD sd 100 ribu USD(Rp 90jt sd Rp 900 jt). Delapan puluh(80%) atau 185.600.000 orang kekayaannya dibawah USD 10 ribu atau Rp 90 jt(Sumber: Riset Global Wealth Report). Kekayaan meningkat tapi hutan gundul, perut bumi dikuras habis. Yang maha kaya segelintir manusia. Yang miskin makin melarat. Yang maha kaya simpan duitnya dimana ya ?

=====
Tulisan : FUAD BAWAZIER(FB), RIZAL RAMLI(RR)

Ibrah Dibalik Tragedi “Air Asia QZ5801”

Baru saja selesai melihat reportase mengenai ditemukannya puing-puing kapal yang dicurigai milik pesawat Air Asia QZ5801

Dalam reportase tersebut sekilas dijelaskan bahwa pesawat ini merupakan salah satu pesawat tercanggih yang di produksi di Prancis. Sebuah pesawat yang memiliki sistem komputerisasi mirip seperti pesawat tempur.

Pesawat dengan sistem komputerisasi secanggih ini bukan tidak memiliki kelemahan. dijelaskan oleh salah seorang pakar penerbangan indonesia, kelemahannya akan nampak ketika pesawat tersebut berhadapan dengan fenomena alam serupa awan cumulonimbus yang memilki muatan listrik yang begitu tinggi sehingga sering terjadi kilatan petir di dalamnya, yang menyimpan kandungan air yang sangat banyak sehingga curah hujan di dalam awan sangat tinggi, dan memiliki suhu dingin yg ekstrim.

Awan sejenis ini dapat mengakibatkan gangguan pada pesawat-pesawat yang menggunakan sistem komputerisasi seperti yang terpasang pada QZ5801. kilatan petirnya mampu meledakkan pesawat, curah hujan dalam awan dapat menganggu turbulensi mesin, atau bisa juga suhu udara dingin pada awan tersebut yang dapat mengakibatkan mesin beku dan kehilangan fungsinya.

tanpa mengurangi rasa bela sungkawa pada keluarga awak pesawat dan penumpang yang ditinggalkan, dari kejadian ini kita bisa mengambil ibrah bahwa, sehebat apapun manusia menciptakan suatu teknologi, kekuatan Allah tak akan pernah bisa terkalahkan. jika Allah sudah berhendak, maka kita tak akan pernah bisa mengelak dari ketetapan tersebut. sakit, ajal, dan ujian-ujian lainnya, semua Allah yang menentukan. ajal tak kan pernah bisa diterka kapan datangnya. meskipun manusia sangat ingin melindungi dirinya dari ajal dengan membuat teknologi secanggih apapun, meskipun manusia sampai harus pindah hidup ke Mars pun, ajal itu tak akan pernah tertunda. karena kita tak tahu, kapan ajal akan datang menjemput, yang kita lakukan hanya bisa mempersiapkan diri. siapa yang tahu kapan saya akan dipanggil Allah? bisa saja esok, nanti, atau bahkan beberapa detik lagi. selama Allah masih memberikan kita kesempatan untuk hidup di dunia ini, mari kita gunakan untuk berlomba-lomba memperbaiki diri, menjalankan aturan islam secara total tanpa banyak alasan dan berusaha menunda-nunda. marilah jadi seperti generasi sahabat dahulu, yang ketika Rasulullah datangkan wahyu dari Allah tentang suatu perkara syariat, maka mereka langsung mengikutinya tanpa pikir panjang. mereka benar-benar sami’na wa atha’ na. sungguh berbeda jauh dengan kita sekarang.

semoga Allah masih mau memberikan kita perpanjangan waktu untuk memperbaiki diri dan menyiapkan bekal untuk kehidupan abadi di akhirat kelak. semoga jika ajal menjemput, kita tidak mati dalam kondisi mendurhakai Allah dan bermaksiat kepadaNya. aamiin, ya Rabbal ‘alamin…

Benarkah Indonesia Sudah Merdeka???

dalam pembahasan mengenai perjuangan para pahlawan Indonesia guna meraih kemerdekaan yang dituliskan pada buku2 sejarah, kita pasti sering membaca kalimat-kalimat seperti ini,

“setiap bangsa berhak menentukan nasibnya sendiri, mendeklarasikan kemerdekaannya dan lepas dari penjajahan.”

namun faktanya, ternyata ‘merdeka’-nya suatu bangsa barulah merdeka secara fisik. negara-negara imperialis tidak pernah mau melepaskan negara kolonialnya. karena mereka adalah aset sumber daya yang men-support negara induknya. mereka hanya mengubah strategi penjajahannya: penjajahan langsung menjadi penjajahan tidak langsung melalui antek-anteknya. penjajahan militer menjadi penjajahan ekonomi dan politik. maka dari itu, kemerdekaan negara-negara berdasarkan sistem kebangsaan hakikatnya adalah semu, bukan kemerdekaan yang hakiki. (H. Budi Mulyana,S.IP, M.Si — LKI DPP HTI, dosen ilmu hubungan internasional UNIKOM Bandung, mahasiswa program doktor Hubungan Internasional UNPAD)

kemerdekaan semu ini justru lebih menghancurkan tatananan masyarakat dan negara. mengapa? jika penjajahan terjadi secara fisik maka rakyat tak akan tinggal diam. mereka akan mengerahkan seluruh tenaga, daya dan upaya, harta dan segala yang dimilikinya untuk mengusir para penjajah. namun penjajahan ekonomi dan politik yang dibungkus dengan sampul ‘negara merdeka’ malah membuat rakyat merasa tak ada yang perlu diperjuangkan lagi karena mereka sudah ‘merdeka’. mereka menyerahkan semua tugas pengaturan negara pada tokoh-tokoh yang mereka pilih melalui PEMILU, tokoh2 yang ternyata merupakan perpanjangan tangan dari penjajah. kekuasaan yang mereka dapatkan sebagai imbalan menjadi ‘wakil rakyat’ digunakan dengan sebaik-baiknya, bukan untuk mensejahterakan rakyat, tapi untuk mensejahterakan Sang Penguasa sesungguhnya. dan inilah yang terjadi pada negeri kaya raya bernama INDONESIA, negeri merdeka yang tak pernah sungguh-sungguh merdeka.

Menolak Khilafah Karena Pendiri Hizbut Tahrir Seorang Mu’tazilah? Apa benar demikian? Yuk Tabayyun dulu ^_^

sumber: facebook post from Miftah Al-Kansa

Saya pernah bertanya, ‘Mengapa mereka menolak Khilafah?’Ajaibnya, ada yang menjawab begini, ‘Karena pendiri Hizbut Tahrir adalah penganut mu’tazilah.’Jawaban itu menjadi tidak nyambung karena:

Pertama: Khilafah bukan milik Hizbut Tahrir, sehingga tidak sepatutnya menolak Khilafah karena tidak suka dengan pendiri Hizbut Tahrir. Khilafah adalah kewajiban dari Allah, bukan dari pendiri Hizbut Tahrir.

Ada banyak nash yang menunjukkan kewajiban menegakkan Khilafah, baik dari Al-Quran maupun Al-Hadits. Sehingga, menolak kewajiban menegakkan Khilafah, sama saja menolak sebagian ayat Al-Quran, menolak sebagian sabda Nabi, dan menolak sejarah.

Tidak bijak jika hanya karena ketidaksukaan terhadap pendiri Hizbut Tahrir, malah rela menolak kewajiban dari Allah. Sebenarnya beriman kepada Allah, atau kepada hawa nafsu?

Kedua: Pendiri Hizbut Tahrir, syaikh Taqiyuddin An-Nabhani, bukanlah seorang Mu’tazilah. Bahkan di kitab beliau yang berjudul Nizhamul Islam, dengan tegas beliau menyatakan penolakan terhadap paham mu’tazilah.

Mu’tazilah adalah paham yang menempatkan akal berada di atas nash atau dalil. Sehingga, segala perintah Allah akan diterima jika sesuai dengan akal dan akan ditolak jika bertentangan dengan akal. Adapun syaikhTaqiyuddin An-Nabhani, menjadikan akal sebagai sarana untuk memikirkan fakta dan menghubungkannya dengan nash, lalu dihukumi dengan nash itu. Bukan menjadikan akal sebagai sumber hukum. Sehingga, merupakan sebuah fitnah keji apabila mengatakan bahwa beliau adalah seorang penganut mu’tazilah.

Ketiga: Jikapun ingin menolak kewajiban Khilafah, seharusnya bukan berdasarkan maslahat atau mudharat, melainkan karena ada dalil yang melarangnya atau tidak mewajibkannya. Pertanyaannya, adakah dalil yang mengharamkan Khilafah? Atau minimal, adakah dalil yang menyatakan bahwa Khilafah tidak wajib?

Keempat: Jikapun ingin membahas maslahat atau mudharat, sesungguhnya ada segudang maslahat yang bisa disuguhkan oleh konsep Khilafah, dan ada segudang mudharat yang telah kita rasakan sendiri manakala kita tidak menegakkannya.

Sesungguhnya, Khilafah adalah kewajiban dari Allah, janji-Nya, dan bisyarah (kabar gembira) dari Rasul-Nya. Maka, sekuat apapun daya manusia, meskipun seluruh kekufuran berkumpul untuk menghalanginya, sungguh kami percaya, Khilafah akan tegak semula. Kapan? Itulah yang masih menjadi rahasia-Nya.

Testimoni Para Tokoh Intelektual dalam JICMI 2013

untuk para kaum intelektual, yg tua maupun muda, tidak ada kata terlambat untuk mengkaji ilmu islam. karena mengkaji ilmu agama hukumnya FARDU ‘AIN, sedangkan mempelajari ilmu dunia hanyalah fardu kifayah. jangan sampai di akhirat kelak kita menyesali mengapa waktu yg begitu banyak dalam hidup yang dikaruniakan Allah ini tidak kita gunakan semaksimal mungkin untuk mengkaji ilmu islam.

contoh lah tokoh2 dalam video ini, dari gelar yang tertempel di nama-nama mereka jelas mereka bukan orang sembarang. mereka habiskan waktu bertahun-tahun untuk mengejar ilmu dunia sampai mendapatkan gelar profesor dan gelar-gelar prestisius lainnya dari universitas dalam hingga luar negeri, namun pada akhirnya mereka sadar bahwa ilmu-ilmu dunia ini tak akan ada gunanya jika tidak dibarengi dengan ilmu agama.

buktikanlah pada orang2 yang selama ini merendahkan islam, memberikan cap buruk pada umat dan agama ini, menganggap islam itu teroris, mengatakan islam itu bodoh, miskin, dan mudah dipecah belah, bahwa kaum intelektual seperti kalian pun bisa memberikan andil dalam memperjuangkan islam, dalam memperjuangkan bangkitnya kembali umat dari keterpurukan, yakni dengan cara mengkaji ilmu islam dan berjuang bersama jama’ah yang senantiasa istiqomah memperjuangkan kebangkitan islam dan istiqomah memperjuangkan ditegakkannya kembali hukum-hukum ALLAH di muka bumi.

ambillah ibrah dari pengalaman dan testimoni yang mereka bagikan untuk kita melalui video ini. semoga bermanfaat, selamat menonton

#YukNgaji ^_^

 

“RINDU” – Resensi Novel Karya Darwis Tere Liye

*naskah resensi ini alhamdulillah telah berhasil mengantarkan saya menjadi juara harapan 1 dalam lomba resensi novel “Rindu” yang diadakan oleh penerbit Republika. semoga tulisan ini bisa membawa manfaat untuk yang membaca. 🙂

Pernahkah, sekali saja sepanjang usiamu, kau memiliki sebuah pertanyaan mengenai kehidupan?

Pertanyaan tentang apa saja, apapun yang muncul dalam benakmu, apapun yang timbul dari pengalaman hidupmu.

Seperti…

“Apakah Tuhan masih mau memaafkan saya? Meski saya bergelimang dosa dan pernah hidup dengan cara yang nista dan hina?”

“Kenapa saya harus begitu membenci seseorang? Bagaimana caranya menghapuskan rasa benci ini?”

“Kenapa saya harus jatuh cinta? Kenapa ketika jatuh cinta, bukan bahagia yang memenuhi hati ini, tapi malah rasa sakit yang tak terperi? Kenapa Tuhan memberikan rasa cinta lantas Ia menghadapkan kita pada kenyataan bahwa cinta itu tak bisa kita miliki?”

“Kenapa Tuhan mengambil orang-orang yang sangat kita cintai? Kenapa tak bisa menunggu sedikit saja, sebentar saja, hingga apa yang kami impikan dan harapkan bisa menjadi kenyataan?”

“Kenapa rasanya begitu munafik? Memberikan nasehat dan kata-kata bijak pada orang lain namun diri sendiri tak bisa melakukan sesatu yang benar?”

Pertanyaan-pertanyaan itu, terangkum dalam kisah 5 orang anak manusia yang diceritakan dalam novel ini. Lima orang dengan latar belakang, usia, daerah asal dan karakter yang berbeda-beda. Mereka disatukan dalam sebuah perjalanan yang sama, untuk menggenapkan rukun islam yang kelima, dalam sebuah kapal uap bernama Blitar Holland. Kisah-kisah ini mengambil latar pada masa pendudukan dan penjajahan Belanda di Indonesia, tepatnya pada tahun 1938 Masehi, tujuh tahun sebelum kemerdekaan Indonesia.

Kalau saya boleh jujur, menurut saya membaca buku ini tidaklah mudah. Butuh semangat yang lebih untuk bisa menuntaskan bait demi bait tulisannya, lembar demi lembar halamannya. Mungkin karena saya lebih terbiasa membaca novel dengan ketebalan yang tidak melebihi 400 halaman, sehingga untuk yang satu ini membuat saya sedikit harus berusaha ekstra.

Ada banyak ulasan mengenai kapal uap, mengenai kegiatan para kelasi kapal, yang sejujurnya tidak begitu saya pahami dan tidak begitu menarik untuk saya telusuri lebih detail. Tapi apalah arti sebuah buku tanpa ada bumbu-bumbu penyedap. Mungkin bagian yang menjabarkan mengenai kapal uap, kelasi dan dermaga ini adalah bumbu penyedap yang diberikan penulis dalam buku ini setebal 544 halaman ini, yang menurut pembaca lain (selain saya) bisa jadi menarik untuk dibaca. Namun saya merasa sangat penting untuk terus membaca tiap lembar isinya, karena ditiap lembar bagian awal buku ini terletak kunci-kunci yang nantinya akan sangat berkaitan dengan bagian akhir cerita.

Dan yang membuat saya merasa puas adalah cara penulis menarasikan nasehat-nasehat yang disampaikan melalui lisan seorang ulama mahsyur bernama Gurutta, salah satu tokoh utama dalam novel ini, yang juga merupakan tokoh favorit saya. Nasehat-nasehat itu sepertinya keluar benar-benar dari seorang ulama besar dengan segala kebijaksanaan yang dimilikinya. Sampai-sampai saya berpikir, “Andai saja ada ulama seperti ini di Indonesia, mungkin saya akan hijrah ke tempat asal beliau dan meminta untuk menjadi muridnya.”.

Permasalahan yang dialami tokoh-tokoh dalam novel tersebut mungkin tak jauh beda dengan permasalahan yang selama ini kita alami dalam kehidupan sehari-hari. Satu tokoh memiliki satu permasalahan yang berbeda dengan tokoh lainnya. Tiap masalah memunculkan satu pertanyaan besar. Masalah dan pertanyaan itu lah yang menjadi bagian terpenting dari cerita dalam novel ini. Inilah yang akan saya jabarkan satu per satu dalam resensi ini.

 

Masa Lalu Yang Kelam

Siapa diantara kita yang tak punya masa lalu? Pasti semua memiliki masa lalu dengan ceritanya masing-masing. Jika masa lalu kita indah maka tak akan jadi soal. Namun jika masa lalu kita buruk, inilah yang menjadi masalah.

Dalam novel ini salah satu tokoh nya memiliki masa lalu yang begitu kelam. Masa lalu yang sama sekali tak ingin dia ingat, yang kalau bisa rasanya ingin dia hapuskan dari memori otaknya. Ia dulu pernah menjadi seorang pelacur, atau dalam bahasa novel tersebut, seorang ‘cabo’. Ia merasa begitu hina dan kotor karena profesi yang dulu pernah bertahun-tahun dilakoninya tersebut. Hingga ia merasa perlu untuk melarikan diri dari segalanya, dari kehidupannya yang dulu, dari keluarganya, dari daerah asalnya, karena takut dikenali orang-orang sebagai seorang mantan ‘cabo’. Ia sampai merubah namanya, dari Ling Ling menjadi Bonda Upe.

Bukan hanya masa lalu nya itu yang membuatya resah, namun pertanyaan yang muncul setelahnya. Kini ia sedang dalam perjalanan menuju tanah suci untuk menunaikan ibadah haji. Ia takut sekali dan terus mempertanyakan, “Apakah Allah menerima ibadah haji seorang mantan cabo?”. Masa lalu dan pertanyaan tersebut terus menghantui dirinya hingga membuatnya takut untuk bersosialisasi, takut bertemu dengan banyak orang, takut ada yang membuka identitas nya sebagai mantan cabo. Hingga ia memilih untuk menjadi orang yang sangat tertutup dan enggan berteman dengan siapapun.

Namun jawaban yang diberikan Gurutta, sang ulama bijak itu, telah menjawab semua kegundahan hatinya. Izinkan saya mengutip rangkaian nasihat indah yang diberikan Gurutta pada Bonda Upe, yang mungkin juga bisa menjadi pelipur lara bagi pembaca sekalian yang juga sedang bergelut dengan masa lalu yang kelam.

“Cara terbaik menghadapi masa lalu adalah dengan dihadapi. Berdiri gagah. Mulailah dengan damai menerima masa lalumu. Buat apa dilawan? Dilupakan? Itu sudah menjadi bagian hidup kita. Peluk semua kisah itu, berikan dia tempat terbaik dalam hidupmu. Itulah cara terbaik mengatasinya. Dengan kau menerimanya, perlahan-lahan, dia akan memudar sendiri. Disiram oleh waktu, dipoles oleh kenangan yang lebih bahagia.”

“Tentang penilaian orang lain, tentang cemas diketahui orang lain siapa kau sebenarnya. Maka ketahuilah, saat kita tertawa, hanya kitalah yang tahu persis apakah tawa itu bahagia atau tidak. Boleh jadi, kita sedang tertawa dalam seluruh kesedihan. Orang lain hanya melihat wajah. Saat kita menangis pun sama, hanya kita yang tahu persis apakah tangisan itu sedih atau tidak. Boleh jadi, kita sedang menangis dalam seluruh kebahagiaan. Orang lain hanya melihat luar. Maka, tidak relevan penilaian orang lain.”

“Kita tidak perlu menjelaskan panjang lebar. Itu kehidupan kita. Tidak perlu siapa pun mengakuinya untuk dibilang hebat. Kitalah yang tahu persis setiap perjalanan hidup yang kita lakukan. Karena sebenarnya yang tahu persis apakah kita bahagia atau tidak, tulus atau tidak, hanya diri kita sendiri. Kita tidak perlu menggapai seluruh catatan hebat menurut versi manusia sedunia. Kita hanya perlu merengkuh rasa damai dalam hati kita sendiri.”

“Kita tidak perlu membuktikan pada siapapun bahwa kita itu baik. Buat apa? Sama sekali tidak perlu. Jangan merepotkan diri sendiri dengan penilaian orang lain. Karena toh, kalaupun orang lain menganggap kita demikian, pada akhirnya tetap kita sendiri yang tahu persis apakah kita memang sebaik itu.”

“Apakah Allah akan menerima seorang pelacur di Tanah suci? Jawabannya hanya Allah yang tahu, kita tidak bisa menebak, menduga, memaksa, merajuk, dan sebagainya. Itu hak penuh Allah. Tapi ketahuilah, Nak, ada sebuah kisah sahih dari Nabi kita. Mungkin itu akan membuatmu menjadi mantap. Sebuah kisah tentang pelacur yang memberikan minumnya kepada anjing yang kehausan padahal ia juga sangat haus dan sisa air tinggal sedikit. Hingga akhirnya pelacur itu menjemput ajalnya karena kehausan, namun karena amal baiknya pada seekor anjing, Allah mengampuni dosa-dosanya.”

“Jadi apakah Allah akan menerima ibadah haji seorang pelacur? Hanya Allah yang tahu. Kita hanya bisa berharap dan takut. Senantiasa berharap atas ampunanNya. Selalu takut atas azabNya. Belajarlah dari riwayat itu. selalulah berbuat baik Upe, selalu. Maka semoga esok lusa, ada satu perbuatan baikmu yang menjadi sebab kau diampuni. Mengajar anak-anak mengaji misalnya, boleh jadi itu adalah sebabnya.”

Itulah tiga inti dari nasehat indah yang diberikan Gurutta. Berhenti lari dari kenyataan hidupmu, berhenti cemas dengan penilaian orang lain, dan mulailah berbuat baik sebanyak mungkin.

Tentu saja, masa lalu kelam memang tak bisa dengan mudah dilupakan. Tapi kita punya dua pilihan, apakah akan terus berusaha melarikan diri darinya, atau mengikhlaskannya sebagai bagian tak terpisahkan dari hidup kita. Sungguh kata-kata Gurutta telah lebih dari cukup menjelaskan segalanya, bahwa lari dari masa lalu justru akan membuat kita hidup dalam siksaan yang lebih menyakitkan. Siksaan karena pernah hidup dengan cara yang kotor, siksaan karena ingin menjadi sebersih mungkin dalam pandangan semua orang meskipun tahu masa lalu itu tak bisa dihapuskan. Tersiksa sekali jika harus hidup seperti itu. Maka tak ada cara lain selain mengikhlaskannya.

Biarkanlah masa lalu itu tetap menjadi masa lalumu, terima ia sebagai pelajaran indah yang diberikan Allah sehingga kini kau tahu jalan mana yang harus kau tempuh agar tidak kembali jatuh ke dalam jurang yang sama. Dan jangan biarkan rasa cemas terhadap penilaian orang lain semakin memperburuk hari-harimu. Karena manusia memang tempat khilaf dan salah. Tak ada manusia di dunia ini yang lepas dari dosa dan kesalahan. Bila memang ada orang lain yang menilai buruk tentangmu, ikhlaskan lah. Jika kata-kata yang ia sampaikan adalah benar, jadikan itu sebagai pecut untuk merubah diri menjadi lebih baik lagi. Namun jika kata-kata yang ia sampaikan salah dan tidak sesuai dengan apa yang sebenarnya kau alami, jadikan itu sebagai ladang pahala bagimu dengan bersabar menghadapi cacian dan hinaan darinya, sambil mendoakan semoga Allah membukakan pintu hatinya untuk menyadari kesalahannya.

Allah itu maha pengampun, sungguh. Namun bukan berarti sifat maha pengampun yang dimiliki Allah ini boleh kita jadikan untuk berulang kali melakukan kesalahan dan dosa, karena tahu esok lusa pasti akan diampuni Allah. Itu salah besar. Seperti yang Gurutta katakan, berbuat baiklah sebanyak-banyaknya. Taubat lah dengan sebenar-benarnya taubat, dengan berjanji pada Allah, dan berikrar di dalam diri, tak akan lagi mengulangi kesalahan yang sama. Mungkin dengan begitu Allah yang maha pengampun, maha pemurah dan maha penyayang akan mengampuni kita, membersihkan seluruh dosa dan kotoran yang menempel di masa lalu kita. Kita tak pernah tahu kapan itu akan terjadi. Tapi yakinlah, barang siapa yang senantiasa berusaha menjadi hamba yang dicintai Allah, maka Allah akan lebih-lebih mencintainya.

 

Kebencian yang Mendalam

Rasa benci memang selalu menjadi biang kerok. Rasa benci terhadap seseorang membuat kita tak sedikit pun mau berkomunikasi dengan orang tersebut, bahkan tak mau mendengar namanya, tak mau berurusan dengan apapun yang ada kaitan dengannya. Dan bagaimana jadinya jika rasa benci yang begitu besar itu malah kita berikan pada seseorang yang seharusnya kita cinta, yang seharusya kita hormati? Bagaimana jadinya jika yang kita benci itu adalah orang tua kita sendiri?

Dalam kisah kedua, seorang tokoh bernama Daeng Andipati, memiliki rasa benci yang telah bertahun-tahun ia rasakan dan ia simpan pada Ayahnya sendiri. Karena perlakukan kejam sang ayah terhadap dirinya dan seluruh keluarganya, tak terkecuali terhadap ibunya. Hingga akhirnya sang Ibu meninggal setelah dipukuli sang ayah. Rasa benci inilah yang memunculkan pertanyaan besar dalam diri Daeng. Bagaimana mungkin ia akan pergi naik haji dengan membawa kebencian sebesar itu? apakah Tanah Suci akan terbuka bagi seorang anak yang membenci ayahnya sendiri? Bagaimana caranya agar ia bisa memaafkan, melupakan semua? Bagaimana caranya agar semua ingatan itu enyah pergi?

Gurutta kembali memberikan jawaban yang sungguh bijak, yang mampu menyentuh relung hati terdalam Daeng,

“Kita sebenarnya sedang membenci diri sendiri saat membenci orang lain. Ketika ada orang jahat, membuat kerusakan di muka bumi, misalnya, apakah Allah langsung mengirimkan petir untuk menyambar orang itu? Nyatanya tidak. Bahkan dalam beberapa kasus, orang-orang itu diberikan begitu banyak kemudahan, jalan hidupnya terbuka lebar. Kenapa Allah tidak langsung menghukumnya? Kenapa Allah menangguhkannya? Itu hak mutlak Allah. Karena keadilan Allah selalu mengambil bentuk terbaiknya, yang kita selalu tak paham.”

“Apakah kita berhak membenci orang lain? Sedangkan Allah sendiri tidak mengirimkan petir? Kenapa kita harus benci? Kenapa? Padahal kita bisa saja mengatur hati kita, bilang saya tidak akan membencinya. Toh itu hati kita sendiri. Kita berkuasa penuh mengatur-aturnya. Kenapa kita tetap memutuskan membenci? Karena boleh jadi, saat kita membenci orang lain, kita sebenarnya membenci diri sendiri.”

“Saat kita memutuskan memaafkan seseorang, itu bukan persoalan apakah orang itu salah, dan kita benar. Apakah orang itu memang jahat atau aniaya, bukan! Kita memutuskan memaafkan seseorang karena kita berhak atas kedamaian di dalam hati.”

Membenci dan memaafkan. Dua kata yang sangat bertolak belakang. Namun tepat seperti yang Gurutta katakan, hati kita punya kemampuan untuk memilih antara keduanya, apakah kita akan membenci ataukah memaafkan seseorang. Bukankan setiap kita mengingkan kebahagiaan? Menginginkan kedamaian dalam hidup? Lantas, bisakah kebahagiaan dan kedamaian itu kita dapatkan dari membenci orang lain? Justru sebaliknya. Saat kita memutuskan untuk membenci seseorang, maka sepanjang hidup kita akan terus menerus bergelut dengan rasa benci itu. Kita tak mau dekat-dekat orang yang dibenci, tak mau berurusan dengannya, tak mau bicara dengannya, apalagi melihat batang hidungnya, tak sudi orang-orang terdekat kita berurusan dengannya, tak mau pekerjaan kita diambil alih oleh dirinya, tak mau satu tempat kerja dengannya, tak mau mendengar namanya. Ah, benar-benar menyesakkan.

Namun jika kita memilih untuk memaafkan, kita akan selalu tersenyum, sabar dan ikhlas menerima apapun kelakuan buruk yang dilakukan orang lain, dan justru mendoakan orang itu agar dimaafkan dan dibukakan pintu hatinya untuk mengetahui kesalahannya. Kita tak perlu jauh-jauh mencari contoh, Rasulullah SAW. Sendiri telah memberikan kita suri tauladan yang baik dalam hal bersabar dan memaafkan orang lain. Meskipun dicaci, dihina, difitnah, dilempari batu hingga kakinya lengket dengan sandalnya yang dilumuri darah, pernahkah Beliau membenci orang-orang yang mendzolimi dan berbuat buruk padanya? Pernahkah beliau mendendam? Pernahkah beliau menghujat balik atau memperlakukan orang itu dengan buruk juga? Tidak pernah sekali pun. Beliau malah berkata, “Ya Allah, maafkan ummatku, mereka melakukan ini karena mereka tidak tahu bahwa mereka salah.” Sungguh tidak ada contoh manusia di dunia ini yang memiliki sifat mulia melebihi kemuliaan beliau.

Seorang Rasul, yang sama-sama manusia seperti kita pun bisa memilih untuk tidak membenci. Bahkan Allah pun tidak segera mengazab orang yang kita benci. Lantas mengapa kita harus repot-repot, susah-susah, dan menyiksa diri dengan memilih membenci orang lain? Sulit memang untuk dijalani, sulit sekali. Tapi tak ada salahnya mencoba. Semoga Allah memberikan kedamaikan di hati kita.

 

Cinta yang Pergi dan Cinta yang Tak Bisa Dimiliki

Cinta, satu kata dengan berjuta kisah di dalamnya. Berlebihan? Saya rasa tidak. Karena memang begitulah adanya. Cinta bisa menghinggapi hati siapa saja, seluruh manusia di belahan bumi manapun. Tak terkecuali saya. Dan mungkin kisah mengenai cinta yang diwakilkan oleh dua orang tokoh dalam novel ini bisa memberikan sedikit pencerahan untuk siapa pun di luar sana yang terkena efek ‘galau’ akibat cinta yang pergi, ataupun cinta yang tak bisa dimiliki.

Kisah pertama tentang cinta ini adalah kisah seorang kakek tua yang akrab dipanggil Mbah Kakung. Dalam perjalanan menuju Tanah Suci, Mbah Kakung kehilangan cinta sejatinya, yakni sang istri, mbah putri. Padahal perjalanan haji ini adalah perjalanan yang amat mereka nanti-nantikan. Ini adalah pembuktian cinta mereka berdua yang telah berjuang bersama untuk mengumpulkan keping demi keping uang selama bertahun-tahun untuk bisa naik haji, karena mereka bukan berasal dari keluarga yang berada. Mimpi Mbah Kakung kandas seketika setelah ditinggalkan oleh Mbah Putri. Ia tak bisa terima, mengapa Istrinya tercinta harus diambil Allah sekarang? Saat sebentar lagi mereka akan sampai di Tanah Suci? Mengapa tak bisa menunggu sebentar saja?

Menjawab kekecewaan dan kesedihan Mbah Kakung, Gurutta kembali mengeluarkan nasehat yang sungguh bijak. Dengan bahasa yang penuh hati-hati karena bicara dengan orang yang lebih tua darinya, ia bisa mendamaikan hati Mbah Kakung. Gurutta berpesan,

“Lahir atau mati adalah takdir Allah. Kita tidak bisa menebaknya. Kita tidak bisa memilih orangtua, tanggal, tempat….tidak bisa. Itu hak mutlak Allah. Kita tidak bisa menunda, maupun memajukannya walau sedetik. Kenapa Mbah Putri harus meninggal di kapal ini? Allah yang tahu alasannya. Dan ketika kita tidak tahu, tidak mengerti alasannya, bukan berarti kita jadi membenci, tidak menyukai takdir tersebut. Amat terlarang bagi seorang muslim mendustakan takdir Allah.”

“Allah memberikan apa yang kita butuhkan, bukan apa yang kita inginkan. Segala sesuatu yang kita anggap buruk, boleh jadi baik untuk kita. Sebaliknya, segala sesuatu yang kita anggap baik, boleh jadi amat buruk bagi kita. Mulailah menerima dengan lapang hati. Karena kita mau menerima atau menolaknya, dia tetap terjadi. Takdir tidak pernah bertanya apa perasaan kita, apakah kita bahagia, apakah kita tidak suka. Takdir bahkan basa basi menyapa pun tidak. Tidak peduli, Nah. Kabar baiknya, karena kita tidak bisa mengendalikannya, bukan berarti kita jadi makhluk tidak berdaya. Kita tetap bisa mengendalikan diri sendiri bagaimana menyikapinya. Apakah bersedia menerimanya, atau mendustakannya.”

“Biarkanlah waktu mengobati seluruh kesedihan. Ketika kita tidka tahu mau melakukan apa lagi, ketika kita merasa semua sudah hilang, musnah, habis sudah, maka itulah saatnya untuk membiarkan waktu menjadi obat terbaik. Hari demi hari akan menghapus selembar demi selembar kesedihan. Minggu demi minggu akan melepas sepapan demi sepapan kegelisahan, bulan, tahun, maka rontok sudahlah bangunan kesedihan di dalam hati. Biarkanlah waktu mengobatinya, maka semoga kita mulai lapang hati menerimanya. Sambil terus mengisi hari-hari dengan baik dan positif.”

“Dalam Al Qur’an, ditulis dengan sangat indah, minta tolonglah kepada sabar dan shalat. Bagaimana mungkin sabar bisa menolong? Tentu saja bisa. Dalam situasi tertentu, sabar bahkan adalah penolong paling dahsyat. Tiada terkira. Dan shalat, itu juga penolong terbaik tiada tara.”

Lagi-lagi kita dihadapkan pada sesuatu yang sebenarnya bisa kita pilih. Sedih, siapa yang tak pernah merasa sedih. Sedih karena cinta, itu juga pasti pernah dirasakan semua orang. Namun kenapa kesedihan itu ada yang bisa bertahan lama, bertahun-tahun pada sebagian orang dan bisa berlalu, lenyap setelah beberapa hari bagi sebagian yang lain. Karena hati mereka telah memilih. Ada yang memilih untuk terus menerus hidup dalam kungkungan kesedihannya, ada pula yang memilih untuk ‘move on’ dan menjalani hidup dengan lebih lapang dada dengan mengikhlaskan kesedihan itu pergi dibawa oleh waktu.

Saya maupun penulis novel ini tidak bermaksud untuk menyepelekan rasa sakit dan kehilangan yang dirasakan oleh orang-orang yang ditinggal pergi oleh orang yang dicintainya, sungguh tidak. Tapi memang kematian itu pasti datangnya, karena setiap yang bernyawa pasti akan mati. Tak terkecuali saya, tak terkecuali anda, dan seluruh manusia di dunia ini. Sejauh apapun dia berlari, sehebat apapun dia bersembunyi, ajal Allah pasti akan tetap mendatanginya jika sudah saatnya. Maka siapa yang bisa mengelak? Dan apa yang bisa kita sesalkan dari kematian yang sudah pasti itu? Apa yang bisa kita salahkan? Tidak ada. Karena benar kata Gurutta, itu hak mutlak Allah sebagai sang maha pencipta. Karena kita ini miliki Allah, raga dan nyawa ini milik Allah, semua yang kita cintai di dunia ini milik Allah, maka ia berhak mengambilnya kapanpun ia mau, entah kita siap atau tidak menghadapinya.

Respon yang kita berikan saat menghadapi takdir Allah itulah yang kelak akan dipertanggung jawabkan dihadapan Allah. Apakah kita bisa ikhlas, atau malah kita tak mau terima sampai akhir. Kita perlu mengingat lagi, apa tujuan kita hidup di dunia ini, apa maksud Allah menciptakan manusia di dunia ini. Ia ingin kita terus beribadah kepadanya, menyembahnya, mengabdi padaNya, berserah diri kepadaNya, dan mempersiapkan diri untuk kehidupan yang sesungguhnya, kehidupan akhirat. Dunia bukanlah akhir segalanya, alam akhirat lah yang menjadi tempat kita akan hidup selama-lamanya. Maka persiapkanlah bekal untuk kehidupan akhirat itu dengan sebaik-baiknya. Bersedihlah, tiada yang melarang. Justru tak bisa merasakan sedih itu tidak normal. Tapi setelah puas bersedih beberapa hari, lantas bangkitlah dan lanjutkan misi untuk mempersiapkan diri menuju kehidupan akhirat. Bisa jadi sebulan, seminggu, atau beberapa hari kemudian justru kita yang mendapat giliran. Semoga Allah masih memberikan kita kesempatan untuk terus memperbaiki diri.

Kisah cinta yang kedua adalah kisah tentang cinta yang bisa dimiliki. Seorang pelaut bernama Ambo Uleng telah jatuh cinta dengan seorang anak gadis dari keluarga kaya dan terpandang. Dan cinta nya ditolak mentah-mentah oleh keluarga sang gadis hanya karena ia bukan anak bangsawan, bukan dari kalangan terpelajar, dan tidak memiliki harta yang cukup banyak untuk meminang sang gadis. Padahal sang gadis juga diam-diam menyukai dirinya. Kenyataan pahit ini membuat Ambo Uleng memutuskan untuk pergi sejauh mungkin dari kota tempat tinggalnya, dan bergabung dalam rombongan kapal penunmpang haji dengan mendaftar menjadi seorang kelasi. Ia pun sama seperti tokoh-tokoh lainnya, mengutarakan kesedihan dan kehancuran yang dirasakan hatinya pada Gurutta, sang ulama mahsyur itu. Gurutta lagi-lagi mampu memberikan jawaban yang bijak atas pertanyaan dan kegundahan yang dirasakan Ambo Uleng. Dan kalau boleh jujur, nasehat ini juga menjawab semua kegundahan dan kesedihan yang selama ini saya rasakan.

“Apakah arti cinta sejati itu? Maka jawabannya, dalam kasus kau ini, cinta sejati adalah melepaskan. Semakin sejati perasaan itu, maka semakin tulus kau melepaskannya. Persis seperti anak kecil yang menghanyutkan botol tertutup di lautan, dilepas dengan rasa suka cita. Aku tahu, kau akan protes, bagaimana mungkin? Kita bilang itu cinta sejati, tapi kita justru melepaskannya? Tapi inilah rumus terbalik yang tidak pernah dipahami para pecinta. Mereka tidak pernah mau mencoba memahami penjelasannya, tidak bersedia.”

“Lepaskanlah. Maka esok lusa, jika dia adalah cinta sejatimu, dia pasti akan kembali dengan cara mengagumkan. Ada saja takdir hebat yang tercipta untuk kita. Jika dia tidak kembali, maka sederhana jadinya, itu bukan cinta sejatimu. Kisah-kisah cinta di dalam buku itu, di dongeng-dongeng cinta, atau hikayat orang tua, itu semua ada penulisnya. Tapi kisah cinta kau, siapa penulisnya? Allah. Penulisnya adalah pemilik cerita paling sempurna di muka bumi. Tidakkah sedikit saja kau mau meyakini bahwa kisah kau pastilah yang terbaik yang dituliskan.”

“Dengan meyakini itu, maka tidak mengapa kalau kau patah hati, tidak mengapa kalau kau kecewa, atau menangis tergugu karena harapan, keinginan memiliki, tapi jangan berlebihan. Jangan merusak diri sendiri. Selalu pahami, cinta yang baik selalu mengajari kau agar menjaga diri. Tidak melanggar batas, tidak melewati kaidah agama. Karena esok lusa, ada orang yang mengaku cinta, tapi dia melakukan begitu banyak maksiat, menginjak-injak semua peraturan dalam agama, menodai cinta itu sendiri. Cinta itu ibarat bibit tanaman. Jika ia tumbuh di tanah yang subur, disiram dengan pupuk pemahaman baik, dirawat dengan menjaga diri, maka tumbuhlah dia menjadi pohon yang berbuah lebat dan lezat. Tapi jika bibit itu tumbuh di tanah yang kering, disiram dengan racun maksiat, dirawat dengan niat jelek, maka tumbuhlah ia menjadi pohon meranggas, berduri, berbuat pahit.”

“Jika harapan dan keinginan memiliki itu belum tergapai, belum terwujud, maka teruslah memperbaiki diri sendiri, sibukkan dengan belajar. Sekali kau bisa mengendalikan harapan dan keinginan memiliki, maka sebesar apa pun wujud kehilangan, kau akan siap menghadapinya. Jika pun kau akhirnya tidak memiliki gadis itu, besok lusa kau akan memperoleh pengganti yang lebih baik.”

Mungkin banyak dari pembaca yang juga memiliki pengalaman seperti ini, mencintai seseorang, sudah berusaha untuk mendapatkannya dengan cara yang benar dan sesuai kaidah agama, tapi ternyata tak ada jalan, buntu. Entah karena dia yang belum siap menikah, karena dia tidak bisa menerima kita, atau karena masalah keluarga seperti yang dialami Ambo Uleng. Atau bisa jadi karena kita yang merasa belum siap untuk melangkah lebih jauh, hanya berani menyimpan perasaan dalam-dalam di hati, namun tak berani diutarakan karena tahu tanggung jawab yang akan mengekori setelah ‘pengutaraan cinta’ itu akan sangat besar, dan kita belum siap untuk menjalani dan menghadapinya. Jadilah kita anak-anak manusia yang jatuh dalam kondisi ‘menggalau’. Tidak tahu harus berbuat apa untuk menolong diri sendiri, rasanya hampa, sedih. Tiba-tiba saja air mata jadi teman yang sangat setia menemani hari-hari kita.

Tapi benar apa yang dikatakan Gurutta, cinta sejati adalah cinta yang bisa melepaskan, merelakan, mengikhlaskan yang dicintai pergi. Jika sudah berusaha, jika sudah menempun jalan yang benar, berharap dan berdoa pada Allah dalam setiap sujud di tengah malam, lantas jawaban yang didapatkan tak seperti yang diharapkan, tak ada yang bisa kita lakukan selain mengikhlaskannya. Marah-marah? Merajuk? Mendendam? Itu jelas bukan pilihan yang baik. Mengejar-ngejar terus sampai tak mempedulikan batasan norma kesopanan dan agama? Itu juga jelas bukan jawabannya. Maka mengikhlaskan, melepaskannya pergi, membiarkannya terbang bebas, hanya itulah yang bisa kita lakukan.

Menangislah, hingga matamu bengkak, hingga semua tenagamu habis, hingga air matamu mengering dengan sendirinya, hingga kau lelah dan terlelap dalam tangismu. Tak ada yang melarangmu untuk menangis. Bersedihlah, tak pernah Allah membenci orang yang bersedih.  Tapi sekali lagi, Gurutta benar dengan mengatakan “Jangan berlebihan. Jangan merusak diri sendiri”. Lepaskan semua kesedihanmu dengan menangis hingga kau lelah dan terlelap, untuk selanjutnya bangun di pagi hari dan melanjutkan kehidupan dengan penuh rasa ikhlas. Isilah hari-harimu dengan semua hal positif yang bisa kau lakukan. Menulis, contohnya. Siapa tahu dengan menulis di blog, atau dalam lomba resensi novel seperti ini kau malah bisa menghasilkan karya-karya indah yang bisa menggugah hati banyak orang. Dan dengan membaca tulisanmu, orang lain bisa lebih bersemangat menjalani kehidupannya. Sungguh luar biasa efek dari patah hati dan jatuh cinta ini, kalau kita bisa menyikapinya dengan cara yang positif.

Dan tak ada yang pernah tahu skenario Allah. Allah selalu punya kejutan yang kadang tak pernah kita sangka-sangka. Bisa jadi dengan melihat usaha kita untuk ikhlas menerima takdir yang telah Ia gariskan, Allah malah menyimpan sesuatu yang sangat indah untuk kita. Yang baru akan kita ketahui di masa depan. Sungguh, Allah tak akan pernah menyia-nyiakan makhluknya yang senantiasa bersabar dan ikhlas dalam menghadapi semua ujian dariNya.

 

Kemunafikan dan Rasa Takut Kehilangan

Inilah kisah kelima, kisah dan pertanyaan besar yang ternyata datang dari seorang laki-laki paling bijak diantara seluruh tokoh di atas. Laki-laki yang selalu dimintai nasehat dan pendapatnya tentang segala permasalahan. Kisah ini datang dari Gurutta, sang ulama mahsyur itu.

Mungkin bagi beberapa orang, peperangan dan pertumpahan darah adalah sesuatu yang sangat amat tidak baik dan tidak layak untuk dilakukan. Karena dengan peperangan, kita bisa kehilangan orang-orang yang kita sayangi, kita bisa kehilangan segalanya. Oleh karenanya orang-orang tersebut memilih jalan yang lebih damai, salah satu contohnya seperti yang dilakukan oleh gurutta, ia memilih untuk menulis. Ia juga ingin negeri ini merdeka dari penjajahan, tapi ia terlalu takut untuk ikut serta dalam peperangan, selalu menghindar dari medan perang, dan lebih memilih melawan dengan cara yang lembut, melalui tulisan-tulisan dan ceramah-ceramah agama.

Namun pilihannya untuk menempuh jalan damai itu seketika dipertanyakan dalam sebuah kondisi yang begitu genting dan mendesak, yakni ketika kapal yang ia tumpangi bersama ribuan orang lainnya dibajak oleh perompak. Ambo uleng sudah menyusun rencana penyerangan balik terhadap para perompak tersebut, namun dilain pihak Gurutta malah tidak menyetujui rencana tersebut. Ia menolak mentah-mentah dengan alasan akan banyak korban yang jatuh jika memutuskan untuk melakukan penyerangan balik.

Dalam kondisi genting itulah, Ambo Uleng, seorang laki-laki yang bukan berasal dari kalangan berpendidikan tinggi, yang hanya seorang kelasi dapur itu mampu membuat Gurutta menyadari kesalahan terbesarnya, membuat sang Ulama menemukan jawaban dari pertanyaan besar yang selama ini menghantuinya.

“Aku tahu, sejak kejadian di Aceh, meninggalnya Syekh Raniri dan Cut Keumala, sejak saat itu Gurutta berjanji tidak akan menggunakan kekerasan lagi. Melawan lewat kalimat lembut, tulisan-tulisan menggugah, tapi kita tidak bisa mencabut duri di kaki dengan itu, Gurutta. Kita harus mencabutnya dengan tangan. Sakit memang, tapi harus dilakukan.”

“Aku tahu Gurutta tidak mau lagi kehilangan orang-orang yang Gurutta sayangi, tapi kebebasan pantas dibayar dengan nyawa. Aku membutuhkan Gurutta dalam rencana ini.”

“Gurutta masih ingat ceramah Gurutta beberapa hari lalu di masjid kapal? Lawanlah kemungkaran dengan tiga hal. Dengan tanganmu, tebaskan pedang penuh gagah berani. Dengan lisanmu, sampai dengan perkasa. Atau dengan di dalam hati, tapi itu sungguh selemah-lemahnya iman.”

“Ilmu agamaku dangkal Gurutta. Tapi malam ini, kita tidak bisa melawan kemungkaran dengan benci di dalam hati atau lisan. Kita tidak bisa menasihati perompan itu dengan ucapan-ucapan lembut. Kita tidak bisa membebaskan seluruh penumpang dengan benci di dalam hati. Malam ini kita harus menebaskan pedang. Percayalah Gurutta, semua akan berjalan baik. Kita bisa melumpuhkan perompak itu. Aku mohon. Sungguh aku mohon. Rencana ini sia-sia jika Gurutta tidak bersedia memimpinnya.”

Begitulah kalimat-kalimat yang mengalir dari seorang kelasi rendahan bernama Ambo Uleng. Kalimat-kalimat yang bagaiakan tamparan yang begitu keras mengenai pipi Seorang Ulama mahsyur dan bijak seperti Gurutta. Ia yang selama ini selalu tenggelam dalam tulisan-tulisan dan buku-buku ia yang buat, ia yang selama ini selalu mensyiarkan ajaran islam dan memberikan nasihat-nasihat bijak pada orang lain tiba-tiba merasa begitu tak berdaya ketika dihadapkan pada situasi terdesak oleh pelaku kemungkaran. Ia merasa begitu munafik karena selama ini dengan mudahnya nasihat-nasihat bijak mengalir dari mulutnya, namun justru ketika dihadapakan pada posisi sulit seperti itu, ia malah tak mampu berada di garda terdepan untuk memperjuangkan ummat nya.

Gaya kepemimpinan yang baik juga telah dicontohkan oleh Rasul kita Muhammad SAW. Ketika daulah islam belum terbentuk, beliau masih terus menempuh jalan dakwah. Mensyiarkan agama melalui kalimat-kalimat santun dan baik ke seluruh penduduk kota Mekah yang saat itu masih hidup dalam gaya dan sistem yang jahiliyah. Namun ketika telah berdiri Daulah/Negara Islam pertama di Madinah, dan dengan terbentuknya negara ini maka telah terbentuk pula pasukan keamanan yang mampu melindungi kedaulatan negara dan melindungi ummat, maka setiap kali ada bangsa atau kaum kafir yang ingin menyerang Madinah dan melukai ummat Muslim, Rasulullah tak gentar untuk menanggapi ajakan berperangan tersebut. Beliau pun menjadi pemimpin di tiap peperangan, berada di garda terdepan pasukan pembela ummat muslim. Dengan membawa panji-panji Islam, pasukan yang gagah berani itu memenangkan sebagian besar peperangan melawan Kafir. Karena dilindungi oleh Rasulullah dan pasukan yang siap mati syahid dalam jihad di jalan Allah, ummat bisa hidup dalam perlindungan penuh.

Begitulah seharusnya seorang ulama bertindak, mencontoh teladan Rasulullah yang tak pernah gentar melawan pasukan kafir quraisy meskipun jumlah pasukan mereka kalah banyak dibanding pasukan musuh. Peperangan memang kejam, karena akan ada begitu banyak nyawa yang melayang. Dan Allah benci jika ada nyawa muslim yang mati sia-sia. Namun jika ummat yang sudah terdesak, tidak lagi memiliki kesempatan untuk hidup dengan damai dan menjalankan ibadah dengan tenang karena berada di bawah ancaman, seperti yang terjadi pada bangsa Indonesia saat masa penjajahan, maka tak ada jalan lain yang bisa dilakukan selain melawan, berperang di jalan Allah. Pada masa Rasulullah masih memimpin ummat dulu, Allah lah yang mengizinkan untuk dilakukan peperangan, karena Allah tahu ummat sudah terdesak, dan tak ada jalan keluar lain untuk melindungi nyawa-nyawa lainnya yang tak berdosa selain dengan mengerahkan pasukan dan menjawab tawaran untuk berperang.

Dari kelima kisah tersebut, banyak sekali pelajaran yang bisa kita ambil. Novel ini memang tidak sempurna, karena tidak ada hal yang sempurna di dunia ini, bukan? Tapi jika melihat banyaknya nasihat dan pelajaran hidup yang bisa kita ambil dari kisah-kisah yang dipaparkan di dalamnya, maka saya sangat merekomendasikan untuk pembaca sekalian menjadikan novel ini sebagai referensi bacaan di waktu senggang. Resensi ini mungkin tak sempurna menggambarkan keindahan buku ini, pun tak sempurnah menjelaskan titik kelemahan dari buku karangan Darwis Tere Liye ini. Tapi semoga tulisan ini bisa memberikan ulasan yang cukup untuk membuat pembaca sekali tertarik membeli novel ini dan membacanya sampai habis.

Rensensi ini saya tutup dengan mengutip satu lagi puisi indah dari Gurutta…

“Wahai laut yang temaram, apalah arti memiliki? Ketika diri kami sendiri bukanlah milik kami.

Wahai laut yang lengang, apalah arti kehilangan? Ketika kami sebenarnya menemukan saat kehilangan, dan sebaliknya, kehilangan banyak saat menemukan.

Wahai laut yang sunyi, apalah arti cinta? Ketika kami menangis terluka atas perasaan yang seharusnya indah? Bagaimana mungkin, kami terduduk patah hati atas sesuatu yang seharusnya suci dan tidak menuntut apa pun?

Wahai laut yang gelap, bukankah banyak kerinduan saat kami hendak melupakan? Dan tidak terbilang keinginan melupakan saat kami dalam rindu? Hingga rindu dan melupakan jaraknya setipis benang saja.”

Terimakasih….    

 

 

 

 

 

 

Beginilah Cara Kapitalisme Merampok Negeri Ini dan Menjadikan Rakyat Sebagai Tumbal

walaupun singkat tapi tulisan ini cukup untuk membuka wawasan dan mata kita yg selama ini tertutup tentang bagaimana buruknya tipudaya kapitalis. indonesia hanyalah salah satu dari negara ‘lemah’ lainnya yg terperdaya oleh rencana busuk mereka. negara ini tak ubahnya sebuah boneka yg diatur gerak kaki dan tangannnya untuk melakukan apapun yg dapat memberi keuntungan sebanyak-banyaknya bagi para kapitalis. IMF, world bank, USAID, dan lembaga2 lainnya hanyalah serigala berbulu domba.

ah…mau sampai kapan kita ini di perdaya oleh mereka. padahal kita sudah jelas tahu bahwa kita (rakyat) lah yg akan dijadikan tumbal. apa manfaat yg bisa kita dapatkan dari berbagai macam nota kesepakatan para kapitalis dengan petinggi negara ini? tidak ada! pembangunan yg mampu mensejahterakan rakyat? ah itu hanya dongeng yg dihembus2kan untuk membesar-besarkan hati rakyat yg sudah putus asa dengan kehidupan. yg ada kita sudah diberikan tanggungan hutang. setiap satu anak bayi yg terlahir di indonesia sudah menanggung hutang sebesar 7 juta rupiah, dan jumlah ini bisa jadi akan terus bertambah! dari mana angka itu berasal? dari rerata jumlah keseluruhan hutang yg ditanggung oleh negeri kita tercinta ini jika dibagi dengan jumlah keseluruhan rakyat. ucapkanlah terimakasih untuk para penguasa yg telah memberikan kita hadiah berupa hutang yang tak tahu kapan akan bisa dilunasi itu. ucapkan pula terimakasih pada demokrasi dan sistem ekonomi yang berjalan beriringan dengannya (sistem ekonomi kapitalis) yg telah memperburuk nasib rakyat negeri yg kaya raya gemah ripah loh jinawi ini. terimakasih banyak!

semoga Allah memudahkan perjuangan orang2 yg istiqomah memperjuangkan sistem kenegaraan islam yang kita sebut dengan khilafah, yg senantiasa istiqomah mendakwahkan keindahan islam dan menjelaskan kebobrokan dan kebusukan sistem pemerintahan demokrasi pada seluruh rakyat agar mereka pun menginginkan demokrasi diganti dengan khilafah, yg berani mendatangi penguasa untuk memberikan nasehat dan teguran agar mereka kembali ke jalan Allah, yg meski dicerca, di fitnah, dikatakan sesat, di cap hanya bisa ‘omong doang’, yg dianggap mengancam NKRI padahal tak pernah melakukan kegiatan yg membahayakan macam apapun namun semangat juangnha tak pernah surut bahkan anggotanya semakin banyak tersebar di seluruh dunia, yg tetap menempuh jalan dakwah yg telah dicontohkan rasulullah dan tidak sedikitpun berminat untuk menghamba pada demokrasi apalagi ikut andil dalam sistem kufur ini. salam hangat untuk kalian semua. perjuangan kalian yg tanpa pamrih, tanpa mengharapkan imbalan apapun selain ridho Allah, semoga kelak dibalas dengan surga oleh Allah dan disana kalian bisa bertemu dengan sosok yg sama2 kita rindukan, kekasih kita Muhammad SAW.

saya mungkin hanya bisa menulis, tak punya banyak kontribusi untuk dakwah ini. tapi semoga orang2 yg membaca tulisan ini, rekan2 yg saya tag dlm tulisan sederhana ini, kelak akan menjadi bagian dari kalian, bagian yg memperjuangkan hukum Allah tegak di atas segala-galanya. aamiin, allahumma aamiin…

“Siapa pun yang ingin mengetahui apa yang sesungguhnya terjadi di dunia, mesti segera membaca buku ini.” Itulah komentar majalah Rolling Stone tentang buku “The Shock Doctrine; The Rise of Disaster Capitalism” karangan wartawati Kanada, Naomi Klein, yang diterbitkan Penguin Books, London , Inggris (2007).

“Tuan-tuan, kami ini berdaulat. Kami ingin melunasi utang kami, tapi maaf-maaf saja jika kami harus membuat kesepakatan lagi dengan IMF,” kata Presiden Argentina, Nestor Kirchner.

Sambil membopong diktator dan rezim sokongannya, kaum kapitalis mensponsori para ekonom didikan kampus-kampus neoliberal untuk menyiapkan karpet merah bagi kapitalisme dengan menyusun kebijakan ekonomi reformis propasar, satu eufemisme dari kebijakan prokapitalis fundamentalis. Afrika Selatan pasca-Nelson Mandela, Rusia di bawah Boris Yeltsin, dan Polandia pasca komunis adalah beberapa contoh.

Negara-negara yang semula khidmat mendengarkan rekomendasi para ekonom bimbingan Bank Dunia dan Dana Moneter Internasional (IMF) itu kemudian sadar telah dibohongi para ekonom dan birokrat bimbingan Barat yang ternyata para calo swastanisasi (perampok) negara.

Para penyusun kebijakan reformasi ekonomi tersebut memang kerap berperan menjadi mulut perusahaan raksasa asing, bahkan konsep kebijakan swastanisasi Bolivia semasa Presiden Gonzalo Sanchez de Lozada disusun para analis keuangan perusahaan asing, seperti Salomon Brothers dan ExxonMobil.

Nelson Mandela adalah salah satu yang kecewa karena cita-cita memakmurkan warga kulit hitam, seperti dipesankan Piagam Perdamaian tak tercapai, justru karena orang dekatnya, Tabo Mbeki, menyusun kebijakan pro-kapitalis sehingga mayoritas rakyat Afsel terpinggirkan.

Polandia juga menyesal mematuhi nasihat ekonom Jeffrey Sachs, seorang Friedmanis dari Universitas Harvard, sehingga aset-aset strategis Polandia jatuh ke tangan asing, justru ketika Partai Solidaritas memerintah negeri itu.

Demikian pula Rusia, yang kehilangan aset-aset strategisnya setelah ekonom reformis Yegor Gaidar, seorang Friedmanis di bawah bimbingan IMF, mempromosikan kebijakan neoliberal. Vladimir Putin kemudian mengoreksi kesalahan itu, dan mengakhiri hubungan mesra Rusia dengan IMF.

Buku tersebut juga menyebut krisis moneter Asia 1997 sebagai hasil desain kaum kapitalis karena mereka ingin menguasai aset-aset strategis di kawasan itu, mencaplok aset-aset perusahaan nasional Asia yang tumbuh meraksasa, dan hendak menggulingkan rezim-rezim yang berubah kritis, seperti Soeharto di Indonesia.

Menurut Naomi, di masa tuanya, Soeharto yang pro-Barat itu bosan diperah korporasi asing, sehingga ia “berkhianat” dengan membagikan aset nasional kepada kroninya yang berakibat korporasi asing itu berang, lalu merancang pembalasan dengan membesarkan skala krisis moneter Asia

Ketika Indonesia dan Asia akhirnya lunglai karena krisis moneter, IMF datang menawarkan obat dengan syarat liberalisasi pasar, sebuah formula klasik ala Friedman. Semua Asia menerima resep itu, hanya Malaysia yang menampik formula rente itu.

Hanya dalam 20 bulan, perusahaan-perusahaan multinasional asing berhasil menguasai perekonomian (termasuk aset dan labanya yang menggiurkan) Indonesia, Thailand, Korea Selatan, Filipina, dan juga Malaysia lewat 186 merger dana kuisisi perusahaan-perusahaan besar di negara-negara ini.

“Ini adalah pengalihan aset dari domestik ke asing terbesar dalam limapuluh tahun terakhir,” kata ekonom Robert Wade.

Tak puas di situ, para kapitalis merancang serangan ke Irak setelah Presiden Saddam Hussein memberi keleluasaan pada Rusia menambang minyak di Irak.

Perusahaan-perusahaan minyak seperti Shell, Halliburton, BP, dan ExxonMobil lalu mengipasi pemerintah AS dan Inggris untuk mencaplok Irak.

Namun, saat Irak sulit digenggam karena masalah terlalu kompleks, negeri itu disulap menjadi lahan bisnis keamanan sehingga para pedagang senjata, konsultan keamanan perusahaan di wilayah krisis, tentara bayaran, dan para spesialis teknologi keamanan mendadak bergelimang uang.

Kemudian, saat kaum kapitalis itu membutuhkan relaksasi setelah penat berburu laba, maka sejumlah lokasi dibidik menjadi situs wisata eksotis, di antaranya Srilanka. Namun, para nelayan miskin yang mendiami pantai-pantai indah Srilanka tak mau hengkang sampai tsunami menghantam Asia bagian Selatan pada 2004.

Bertopengkan bantuan rekonstruksi pascabencana dan bergerak dalam kerudung USAID, para kapitalis menyandera pemerintah Srilanka, agar “menukarkan” pantai indah Srilanka dengan bantuan tsunami. Situasi serupa berlaku di Thailand dan New Orleans pasca-badai Katrina.

Intinya, kaum kapitalis telah membisniskan perang, teror, anarki, situasi krisis, dan bencana alam untuk memperbesar pundi-pundi mereka dengan penderitaan jutaan orang di dunia. Naomi Klein menyebutnya sebagai “kapitalisme bencana”.

sumber: wikimu.com