Yang baik, tak selalu tepat

Suatu hari akan ada seseorang yang cukup baik budinya untuk membuat tertarik. Cukup luas hatinya untuk tempatmu tinggal. Cukup bijaksana pikirannya untuk kamu ajak bicara.  

Kamu tidak perlu menjadi orang lain untuk mempertahankan seseorang. Tetaplah jadi diri sendiri. Kamu pun tidak (dan jangan) menuntut orang lain menerima keadaanmu bila ia memang tidak mampu menerimanya. Karena yang baik belum tentu tepat.

Orang baik itu banyak sekali, dan hanya ada satu yang tepat. Selain itu hanyalah ujian. Kamu tidak pernah tahu siapa yang tepat sampai datang hari akad. Tetaplah jaga diri selayaknya menjaga orang yang paling berharga untukmu. Karena kamu sangat berharga untuk seseorang yang sangat berharga buatmu nantinya.

Suatu hari akan ada orang yang cukup baik dan cukup luas hatinya untuk kamu tinggali. Cukup kuat kakinya untuk kamu ajak jalan. lebih dari itu, ia mampu menerimamu yang juga serba cukup.

– kurniawan gunadi

20 – 29 = Usia Penentuan

Kalau kalian pernah baca tulisan mas gun di tumblr pasti kalian pernah menemukan pernyataan yang bunyinya, “usia 20-29 itu usia pembuktian”. Maksudnya dalam rentang usia ini biasanya manusia akan membuktikan 2 hal penting untuk kehidupannya. Yang pertama adalah pembuktian setelah lulus kuliah ia akan jadi apa dan bekerja dimana, serta akan memainkan peran seperti apa dia dalam masyarakat. Dan yang kedua pembuktian yang berkaitan dengan masalah jodoh, atau bahasa lainnya “kapan bisa nikah”. Kalau ingin tahu lebih lanjut tentang pembahasan dua hal tadi mungkin bisa langsung dibaca di tumblr milik beliau, karena yang ingin saya bahas di sini bukan lagi tentang 2 hal tersebut.

Kalau boleh menambahkan, menurut saya di usia 20-29 ini ada satu hal lagi yang terjadi pada diri setiap manusia. “Penentuan posisi”, begitu mungkin bahasa kerennya. Di usia inilah biasanya kita menetukan di mana, dengan siapa, dan dalam lingkungan seperti apa kita akan hidup, bergaul, dan menghabiskan sisa waktu kita kedepannya. Proses penentuan ini mungkin sebenarnya sudah dimulai sejak kita masih remaja, tapi pilihan-pilihan yang kita buat saat masih muda biasanya masih sering berubah-ubah, dan di usia 20-29 inilah kita menancapkan titik akhirnya. Mungkin ini tidak terjadi pada semua orang, karena ada beberapa yang bahkan di usia 30an pun masih terus mencari-cari dan belum menentukan pilihan.

Jika pada usia ini kita memilih lingkungan yang dipenuhi orang-orang yang tak mau dekat dengan Allah, tak mau mengkaji ilmu agama, tak peduli pada aturan agama, hidup foya-foya, lebih banyak menghabiskan waktu untuk hal-hal yang menjauhkan diri dari Allah, dan sebagainya, lantas kemudian kita habiskan waktu untuk bergaul dengan orang-orang seperti itu, maka sudah barang tentu gaya hidup, pemikiran dan kebiasaan kita sedikit banyak akan mengacu pada mereka.

Tapi jika kita menancapkan posisi pada lingkungan yang baik, yang diisi orang-orang baik, dengan ilmu agama yang baik, yang selalu bisa mengingatkan kita pada Allah, orang-orang sholeh yang selalu berusaha mengisi hidupnya dengan memperbanyak ibadah baik yang wajib maupun yang sunnah, yang senantiasa takut pada Allah, yang tak mati semangatnya untuk terus belajar, bukan hanya mempelajari ilmu dunia tapi juga ilmu agama, maka in syaa Allah kita pun akan kecipratan kebaikan dari mereka.

“Seseorang itu berada pada agama teman karibnya, maka hendaklah salah seorang di antara kalian melihat siapakah yang dia jadikan teman karibnya.” (HR. Abu Dawud, At-Tirmidzi, dan Ahmad)

Bahkan Rasulullah pun sudah mengingatkan hal ini pada kita jauh-jauh hari. Karena ‘teman’ itu bagaikan aroma yang menempel pada tubuh. Manakah yang lebih baik, aroma asap atau aroma wewangian?

الْأَخِلَّاء يَوْمَئِذٍ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ إِلَّا الْمُتَّقِينَ

“Teman -teman akrab pada hari itu sebagian menjadi musuh bagi sebagian yang lain kecuali orang-orang yang bertakwa.” (QS. Az-Zukhruf : 67)

Kelak di alam akhirat, orang-orang yang selama ini berteman bisa saja berubah menjadi musuh. Mereka saling menyalahkan satu sama lain sebagai penyebab dirinya jauh dari Allah. Kecuali orang-orang sholeh. Mereka justru akan saling bantu dan saling mencari. Jika ada satu orang dari sekumpulan orang sholeh yang dulu bersahabat pada saat di dunia, masuk surga lebih dulu di akhirat kelak dan ternyata di sana ia tidak menemukan sahabat-sahabat karibnya, maka satu orang sholeh itu akan menyebutkan dan meminta untuk dipanggilkan nama-nama sahabatnya yang lain pada Allah, agar mereka bisa dikumpulkan lagi di surga, dan bisa menikmati tinggal di sana bersama-sama. 

Maka di usia 20-29 ini, choose your companion wisely, pilihlah dengan sebaik-baiknya siapa temanmu akan menghabiskan waktumu. Tentukan posisi yang paling bisa membuatmu selalu merasa dekat dengan Allah. Karena keimanan kita saja tak cukup untuk membentengi diri dari pengaruh buruk yang diberikan oleh dunia. Harus ada jama’ah yang menguatkan, yang menjadi pengingat di saat kita mulai lalai dan menjauh dari Allah. Hal ini juga bisa diterapkan dalam hal mencari jodoh. Maka dari itu Allah dan rasulNya meminta kita untuk menjadikan faktor ‘agama’ sebagai alasan utama dalam memilih calon pendamping. Karena wajah, kekayaan dan kedudukan, serta garis keturunan bisa saja memberikan kebahagiaan dunia, tapi tak bisa memberikan jaminan surga dan kebahagiaan di akhirat.

Ini bukan berarti kita harus menutup diri dari mengenal berbagai macam orang. Jangan sampai kita jadi orang-orang sok eksklusif yang hanya mau bergaul dengan satu komunitas saja. Berkenalanlah dengan siapapun, itu akan membantu kita mengetahui berbagai tipe dan karakter manusia, serta cara kita menghadapi berbagai jenis manusia yang berbeda-beda tersebut. Bahkan mungkin (kalau mampu) kita bisa memberikan dampak positif bagi orang-orang yang kita kenal sehingga mereka mau diajak bersama-sama meniti jalan kebaikan. Tapi tetaplah, dari sekian banyak manusia yang kau kenal itu, pilihlah orang-orang yang tepat sebagai ‘jama’ah’ mu, jama’ah yang senantiasa akan mendekatkanmu pada Allah dan membentengimu dari dunia yang punya berbagai macam tipu daya ini.

– mindeulle

Tidak ada yang salah dari mencintai, sungguh tak ada yang salah….

Tapi bagi wanita, jika harus dihadapkan pada suatu kondisi yang memaksanya untuk menentukan pilihan, alangkah lebih baiknya jika dia memilih untuk dicintai, bukan mencintai…

Orang-orang yang pernah merasakan sakitnya mencintai pasti akan mengerti nasehat lama ini…. 🙂

– mindeulle

Waktu untuk sendiri

Kadang kita memang perlu waktu untuk menyendiri, menghilang dari peredaran, bukan untuk bersembunyi, tapi untuk berpikir dalam ruang yang lebih tenang, untuk menilai banyak hal dari kejauhan.

Memangnya apa yang bisa dinilai? Banyak, banyak sekali. Tak bisa saya sebutkan satu-satu di sini karena banyak dari hal-hal itu yang bersifat sangat pribadi, atau jika disebutkan malah akan melukai hati orang lain.

Tapi cobalah lakukan sesekali. Kau akan menemukan bahwa menyendiri tidak selamanya berarti terasingkan. Bahwa menyendiri tidak selamanya berarti kesepian. Bahwa menyendiri tidak akan membuatmu kehilangan, tapi malah membuatmu mendapatkan apa yang kau selama ini kau cari dengan susah payah. 🙂

Teori ini memang tidak berlaku untuk segala hal. Tapi saya jamin ini berkaitan dengan hal-hal yang paling krusial dalam hidupmu. 🙂

– mindeulle

Waktu- waktu paling produktif bagi orang-orang yang suka sekali menulis, melukis, atau mengerjakan pekerjaan seni lainnya adalah saat hujan turun dengan lebatnya, saat merasa sedih, dan saat jauh dari hiruk pikuk manusia. Jadi jika tiga kombinasi waktu itu sedang menghampirimu dan kau tidak memanfaatkannya untuk berkarya, maka kau termasuk orang-orang yang merugi…. 😀 😛

*kadang bersedih ada manfaatnya juga lho 😀

ilmu menerima

image

Dalam hidup ini, tak ada satu hal pun yang abadi
Tumbuhan ini contohnya
Ia tumbuh dan mekar untuk kemudian layu dan mati
Manusia pun sama
Kita dihidupkan untuk kemudian dimatikan
Kita memiliki untuk kemudian kehilangan
Maka kebahagiaan pun menjadi hal yang tak bisa bertahan lama
Pun kesedihan dan luka juga akan berlaku sama
Akan pergi dan menghilang dengan sendirinya
Untuk digantikan oleh bahagia
Atau malah memberi kesempatan bagi luka-luka baru lainnya
Kita dipaksa untuk hanya menerima
Karena memang satu-satunya hal yang bisa dilakukan adalah hanya menerima
Mau memberontak sekeras apapun, percuma
Kita hanya perlu menerima
Karena ‘menerima’lah satu-satunya jalan untuk berdamai dengan kehidupan
Karena ‘menerima’lah satu-satunya cara meraih ketenangan
Namun sayangnya, ilmu menerima itu adalah ilmu paling sulit yang harus dipelajari manusia
Terutama bagi manusia-manusia yang dalam hidupnya telah merasakan begitu banyak luka
Luka yang terus menerus menganga dan belum kunjung sembuh juga itu harus ditempeli lagi dengan luka-luka lainnya
Maka jangan heran jika mereka sulit untuk menerima
Bukan mereka tak mau, sungguh bukan
Tapi mereka hanya butuh waktu
Mungkin mereka harus belajar menerima luka-luka sebelumnya terlebih dahulu
Mungkin mereka masih berusaha mengobati hatinya yang sudah terlanjur payah itu dulu
Dan luka-luka baru yang datang malah membuat mereka hampir putus asa
Orang-orang seperti mereka bukanlah orang yang lemah
Justru mereka dipilih Tuhan karena mereka kuat untuk bisa menghadapai sendiri semuanya
Tapi tetap saja, ilmu menerima masih menjadi ilmu yang sungguh sulit untuk bisa dipelajari oleh manusia, tak terkecuali mereka
Dan mungkin hanya waktu lah yang mampu menjadi perantara paling baik untuk menghubungkan mereka dengan penerimaan seutuhnya…