Jawaban Bagi yang Meragukan Rasulullah Masuk Surga

N.B. semoga orang2 yang membaca artikel ini adalah orang yang benar2 ingin mencari ilmu, mencari tahu kebenaran karena sangat meyakini Beliau (Rasulullah) adalah manusia paling mulia yang semua dosa-dosanya telah dimaafkan oleh Allah, dan SUDAH DIJAMIN MASUK SURGA. jadi jika ada yang membaca artikel ini untuk mencari-cari kesalahan dalam penulisannya, dan kemudian melontarkan komentar yang ingin menyerang isi nya demi membenarkan pendapat pribadi bahwa “Rasulullah tidak dijamin masuk surga”, maaf, komentar anda tak akan saya terima dan akan langsung saya anggap sebagai spam!

Bukan masalah setinggi apa orang itu sudah mengkaji ilmu agama. Sungguh bukan itu yg menjadi masalah. Tapi kemuliaan seorang Rasul yg selama ini kita hormati dan kita cintai bisa dgn seketika hancur dgn satu kalimat yg dikeluarkan secara tidak hati2.

Jika kita tanyakan pada hati nurani kita yg notabene tidak sekolah agama sampai bergelar profesor ini “apakah kau yakin bahwa Rasulullah, manusia yg dianggap paling mulia oleh Allah, manusia yg dipilih Allah utk mengemban risalah agama ini untuk disebarkan kepada ummat manusia, manusia paling indah akhlaq nya, sudah dijamin Allah masuk surga?” seharusnya hati nurani yg paling lembut dan bersih ini mengatakan “ya. Saya YAKIN”

Maka tak akan lagi ada perdebatan diantara muslimin jika ada pernyataan yg aneh keluar dr lisan seseorang yg meragukan jaminan surga bagi Rasulullah, tak perlu lagi ada yg membela dan membantu orang itu menjelaskan dari mana dia mengambil sumber utk mnyokong pendapatnya. Sungguh. Siapa yg akan memberikan kita syafaat di akhirat kelak jika bukan Rasulullah?

Sungguh. Seharusnya kita malu pada Rasulullah. seharusnya rasulullah lah yg kita bela, buka siapa2 selain beliau. Beliau begitu menyayangi kita hingga di akhir hayatnya, ketika nyawa hampir dicabut dari jasadnya, yg dia sebut adalah “ummatku…unmatku…ummatku…”

Begitu besar sayangnya beliau pada kita. Mugkin jika ia masih hidup dan menyaksikan kita saat ini, dia akan menangis melihat kondisi ummat yg begitu ia sayangi ini malah memperdebatkan dan meragukan jaminan surga untuk beliau. Sungguh seharusnya kita malu…

Sholawat serta salam smoga slalu tercurah kepadamu ya nabiyullah. Maafkan kami, dan jangan masukkan kami ke dalam golongan org2 yg tak kau beri syafa’at kelak di padang mahsyar.

Tertanda, saudarimu, seorang manusia yg penuh khilaf dan salah, yg hanya ingin berusaha mengembalikan keyakinan dan kecintaan kita semua pada Rasulullah Muhammad SAW.

Berikut saya sertakan tulisan oleh ust. Bachtiar Natsir berjudul “Jawaban bagi yang meragukan Rasulullah masuk surga”

sumber: http://aqlislamiccenter.com/2014/07/18/jawaban-bagi-yang-meragukan-rasulullah-masuk-surga/

Syubhat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tidak dapat dipastikan masuk Surga bukanlah hal baru, keraguan seperti ini banyak disebarkan oleh orang-orang Nasrani dan tokoh sekuler dari kalangan muslim.

Untuk menjawabnya cukup sederhana; “Bukankah telah disediakan telaga Al-Kautsar atau telaga Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang disediakan bagi calon penghuni Surga?”.

Hadits yang sering mereka jadikan sebagai pintu masuk untuk merasukkan doktrin keraguan (tasykik) diantaranya adalah hadits riwayat Imam al-Bukhari di dalam kitab shahihnya dari hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah, dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam

»لَنْ يُنَجِّيَ أَحَدًا مِنْكُمْ عَمَلُهُ قَالُوا وَلَا أَنْتَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ وَلَا أَنَا إِلَّا أَنْ يَتَغَمَّدَنِي اللَّهُ بِرَحْمَةٍ سَدِّدُوا وَقَارِبُوا وَاغْدُوا وَرُوحُوا وَشَيْءٌ مِنْ الدُّلْجَةِ وَالْقَصْدَ الْقَصْدَ تَبْلُغُوا«
“Salah seorang dari kalian tidak akan dapat diselamatkan oleh amalnya,” maka para sahabat bertanya, “Tidak juga dengan engkau wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Tidak juga saya, hanya saja Allah telah melimpahkan rahmat-Nya kepadaku. Maka beramallah kalian sesuai sunnah dan berlakulah dengan imbang, berangkatlah di pagi hari dan berangkatlah di sore hari, dan (lakukanlah) sedikit waktu (untuk shalat) di malam hari, niat dan niat maka kalian akan sampai.”
Juga hadits Dalam riwayat Aisyah Radhiyallahu ‘Anha, dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, beliau bersabda :
»سَدِّدُوا وَقَارِبُوا وَأَبْشِرُوا فَإِنَّهُ لَا يُدْخِلُ أَحَدًا الْجَنَّةَ عَمَلُهُ قَالُوا وَلَا أَنْتَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ وَلَا أَنَا إِلَّا أَنْ يَتَغَمَّدَنِي اللَّهُ بِمَغْفِرَةٍ وَرَحْمَةٍ«
“Beramalah sesuai sunnah (istiqamah) dan berlaku imbanglah, dan berilah kabar gembira, sesungguhnya seseorang tidak akan masuk surga karena amalannya.” Para sahabat bertanya, “Begitu juga dengan engkau wahai Rasulullah?” Beliau bersabda, “Begitu juga denganku, kecuali bila Allah meliputi melimpahkan rahmat dan ampunan-Nya kepadaku.” (HR. al-Bukhari)
Dari hadits di atas, para penafsir dengan hawa nafsunya berdalih bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tidak memiliki jaminan masuk surga, baik untuk dirinya maupun umatnya.
Untuk membantah pemahaman salah tersebut, maka diperlukan pemahaman terhadap hadits dengan benar.
Dua hadits di atas mengandung hal yang mendasar dan menjadi kaidah yang penting. Hal mendasar dan sifatnya asas adalah bahwa amal perbuatan manusia tidak dapat menjaminnya untuk selamat dari api Neraka dan tidak pula dapat menjaminnya untuk masuk surga, karena masuk surga dan selamat dari api neraka disebabkan oleh ampunan dan rahmat Allah Subhanahu wa Ta’ala; karena seorang muslim meyakini dan mengimani bahwa segala sesuatu berada di Tangan Allah, dan hanya Allah sajalah yang mengetahui tempat kembalinya manusia.
Tidak seperti orang nasrani yang tersesat dengan mengimani bahwa yesus sang penebus, yang diantara ajarannya kepada pemeluknya : akuilah dosa-dosa kalian kepada para pendeta niscaya kalian akan diampuni, walaupun pendeta tersebut bukan orang yang lurus. Berbeda dengan seorang Muslim yang berkeyakinan bahwa seseorang tidak dapat menjamin dirinya masuk surga, bahkan dengan amal shalihnya sekalipun, karena seseorang masuk surga disebabkan rahmat dan ampunan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Banyak ayat-ayat al-Qur’an yang menerangkan hal diatas, di antaranya adalah :
)فَالَّذِينَ هَاجَرُوا وَأُخْرِجُوا مِنْ دِيَارِهِمْ وَأُوذُوا فِي سَبِيلِي وَقَاتَلُوا وَقُتِلُوا لَأُكَفِّرَنَّ عَنْهُمْ سَيِّئَاتِهِمْ وَلَأُدْخِلَنَّهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ( [آل عمران : 195]
Maka orang-orang yang berhijrah, yang diusir dari kampung halamannya, yang disakiti pada jalan-Ku, yang berperang dan yang dibunuh, pastilah akan Ku-hapuskan kesalahan-kesalahan mereka dan pastilah Aku masukkan mereka ke dalam surga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya.
Ayat diatas menegaskan bahwa Allah menghapuskan kesalahan hamba-Nya baru kemudian memasukkannya ke dalam Surga.
)تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَتُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ بِأَمْوَالِكُمْ وَأَنْفُسِكُمْ ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ. يَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَيُدْخِلْكُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ وَمَسَاكِنَ طَيِّبَةً فِي جَنَّاتِ عَدْنٍ ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ( [الصف : 11-12]
(yaitu) kamu beriman kepada Allah dan RasulNya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui. Niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosamu dan memasukkanmu ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; dan (memasukkan kamu) ke tempat tinggal yang baik di dalam jannah ‘Adn. Itulah keberuntungan yang besar.
Allah hanya memasukkan hambanya yang sudah mendapatkan ampunan dosa-dosa dari-Nya.
Sekali lagi, Allah Subhanahu wa Ta’ala menghubungkan antara masuknya seseoang ke Surga dan selamatnya dari Neraka dengan maghfirah dan rahmat-Nya untuk menunjukkan bahwa hal tersebut tidak akan didapat tanpa adanya maghfirah dan rahmat-Nya.
Para salaf berkata, “Di akhirat kelak hanya ada dua kemungkinan; ampunan Allah atau Neraka, sedangkan di dunia juga cuma ada 2 hal saja; penjagaan Allah atau kebinasaan.”
Muhammad bin Wasi’ rahimahullah berkata kepada para sahabatnya ketika menjelang wafat, “Alaikumus salam,  bisa jadi neraka atau ampunan Allah.”
Adapun firman Allah :
)وَتِلْكَ الْجَنَّةُ الَّتِي أُورِثْتُمُوهَا بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ( [الزخرف : 72]
Dan itulah surga yang diwariskan kepada kamu disebabkan amal-amal yang dahulu kamu kerjakan.
)كُلُوا وَاشْرَبُوا هَنِيئًا بِمَا أَسْلَفْتُمْ فِي الْأَيَّامِ الْخَالِيَةِ( [الحاقة : 24]
(kepada mereka dikatakan), “Makan dan minumlah dengan sedap disebabkan amal yang telah kamu kerjakan pada hari-hari yang telah lalu.”
Ayat-ayat tersebut menunjukkan bahwa masuknya seseorang ke Surga karena rahmat Allah, dan penentuan derajat di surga berdasarkan amal seseorang.
Ibnu ‘Uyainah berkata, “Mereka berpendapat bahwa selamatnya seseorang dari api neraka itu disebabkan karena adanya ampunan dari Allah, dan masuknya seseorang ke surga disebabkan karena anugerah dari Allah serta penentuan derajat di surga berdasarkan amal seseorang.”
Coba perhatikan konotasi huruf al-Ba’ dalam firman Allah :
(بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ)
(بِمَا أَسْلَفْتُمْ فِي الْأَيَّامِ الْخَالِيَةِ)
Adalah ba’ sababiyyah (ba’ yang mengandung arti sebab), jadi maknanya adalah Allah menjadikan amal seseorang sebagai sebab masuknya seseorang ke dalam surga.
Sedang ba’ dalam hadits Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam :
)لَا يَدْخُلُ أَحَدُكُمْ الْجَنَّةَ بِعَمَلِهِ) [رواه أحمد]
Adalah ba’ muqabalah dan mu’awadhah (mengandung arti timbal balik) jadi makna dari hadits adalah Salah seorang dari kalian tidak akan masuk surga dengan amal perbuatan yang dia kerjakan.
Hadits ini menjawab keraguan orang yang mengira bahwa surga itu diperoleh karena hasil dari amal perbuatannya, dan menghapus keraguan bahwa orang yang mengerjakan suatu perbuatan akan secara otomatis berhak mendapatkan surga sebagaimana orang yang sudah membayar dengan harga tertentu akan mendapatkan barang dari harga yang sudah dibayar.
Hadits tersebut juga menjelaskan bahwa sebab seseorang masuk surga adalah karena anugerah dan rahmat-Nya. jadi masuknya seseorang ke dalam surga disandarkan kepada anugerah, rahmat, dan maghfirah-Nya, karena Dia-lah yang memberikan anugerah berupa sebab dan amalan yang menyebabkan seseorang beramal, jadi masuknya seseorang ke dalam surga tidak hanya disebabkan hanya karena amalnya sendiri.
»إِلَّا أَنْ يَتَغَمَّدَنِي اللَّهُ بِمَغْفِرَةٍ وَرَحْمَةٍ«
“Kecuali bila Allah meliputi melimpahkan rahmat dan ampunan-Nya kepadaku.” (HR. al-Bukhari)
Hadits di atas menunjukkan bahwa seseorang betapapun tinggi derajat dan keutamaannya tidak akan selamat hanya karena amalnya, bahkan dengan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, seandainya Allah tidak memberikan anugerah berupa diampunkannya dosa-dosa; baik yang telah lalu maupun yang akan datang, maka beliau tidak bisa selamat dengan amalnya.
والسلام علي من اتبع الهدي

Diantara kelemahan Prof. Quraish Shihab yang sangat mendasar dalam menyampaikan hadits adalah menyampaikannya hanya dengan maknanya saja, dan bisa jadi dua hadits yang berbeda digabungkannya menjadi satu dan bercampur baur dengan ucapannya, dan tanpa menyebutkan referensi kitab-kitab hadits, tidak pula sahabat yang meriwayatkan.

Dan kami mengira hadits yang dimaksudkan di atas adalah dua hadits yang berbeda, yaitu:

Pertama: Hadits Ummul ‘Alaa Al-Anshoriyah radhiyallahu’anha, beliau berkata ketika meninggalnya sahabat yang mulia Abus Saaib ‘Utsman bin Maz’un radhiyallahu’anhu:

رَحْمَةُ اللهِ عَلَيْكَ أَبَا السَّائِبِ فَشَهَادَتِي عَلَيْكَ لَقَدْ أَكْرَمَكَ اللَّهُ فَقَالَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم وَمَا يُدْرِيكِ أَنَّ اللَّهَ قَدْ أَكْرَمَهُ فَقُلْتُ بِأَبِي أَنْتَ يَا رَسُولَ اللهِ فَمَنْ يُكْرِمُهُ اللَّهُ فَقَالَ أَمَّا هُوَ فَقَدْ جَاءَهُ الْيَقِينُ وَاللَّهِ إِنِّي لأَرْجُو لَهُ الْخَيْرَ وَاللَّهِ مَا أَدْرِي – وَأَنَا رَسُولُ اللهِ – مَا يُفْعَلُ بِي قَالَتْ فَوَاللَّهِ لاَ أُزَكِّي أَحَدًا بَعْدَهُ أَبَدًا.

“Rahmat Allah atasmu wahai Abus Saaib (‘Utsman bin Mazh’un). Aku bersaksi bahwa Allah sungguh telah memuliakanmu.” Maka Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda, ”Apa yang telah membuat engkau mengetahui bahwa Allah telah memuliakannya?” Aku mengatakan, ”Demi bapakmu (ini bukan untuk bersumpah, Pen), lalu siapa yang dimuliakan Allah?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ”Adapun Abus Saaib maka telah datang kematiannya, demi Allah sungguh aku mengharapkan kebaikan baginya. Dan demi Allah aku tidak tahu –padahal aku adalah Rasulullah- apa yang akan Allah lakukan pada diriku.” Kemudian Ummul ‘Alaa’ mengatakan, “Maka demi Allah, setelah itu aku tidak pernah lagi memastikan seseorang (telah dimuliakan oleh Allah).” [HR Bukhari]

Perhatian: Tentang ucapan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits di atas,

وَاللَّهِ مَا أَدْرِي وَأَنَا رَسُولُ اللَّهِ مَا يُفْعَلُ بِي

“Dan demi Allah aku tidak tahu –padahal aku adalah Rasulullah- apa yang akan Allah lakukan pada diriku.”

Maka ucapan beliau tersebut sebelum turun firman Allah ta’ala yang mengabarkan bahwa dosa-dosa beliau semuanya telah diampuni. Allah ta’ala berfirman,

إِنَّا فَتَحْنَا لَكَ فَتْحًا مُّبِينًا لِّيَغْفِرَ لَكَ اللهُ مَاتَقَدَّمَ مِن ذَنبِكَ وَمَاتَأَخَّرَ

“Sesungguhnya Kami telah memberikan kepada kamu kemenangan yang nyata, supaya Allah memberi ampunan kepadamu terhadap dosa yang telah lalu dan yang akan datang.” [Al-Fath:1-2]

Apakah mungkin setelah dosa seseorang diampuni semuanya oleh Allah ta’ala lalu kemudian ia belum dijamin masuk surga?!

Dan terdapat beberapa hadits yang semakna dengan hadits Ummul ‘Alaa’ Al-Anshoriyah di atas, diantaranya adalah yang disebutkan oleh Al-Imam Al-Bukhari rahimahullah dalam Shahih beliau pada bab, Tidak Boleh Mengatakan Fulan Syahid:

قَالَ أَبُو هُرَيْرَةَ ، عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم اللَّهُ أَعْلَمُ بِمَنْ يُجَاهِدُ فِي سَبِيلِهِ اللَّهُ أَعْلَمُ بِمَنْ يُكْلَمُ فِي سَبِيلِه

“Abu Hurairah berkata, dari Nabi shallallahu’alaihi wa sallam: Allah yang lebih mengetahui siapa yang berjihad di jalan-Nya, Allah yang lebih tahu siapa yang terluka di jalan-Nya.” [HR. Al-Bukhari]

Hadits di atas menunjukkan bahwa tidak boleh memastikan seseorang itu mati syahid walau ia meninggal di medan jihad, karena kita tidak mengetahui keadaannya yang sesungguhnya di sisi Allah. Maka demikian pula, lebih tidak boleh lagi memastikan seseorang masuk surga walau kita melihat amalannya baik, karena belum tentu diterima di sisi Allah, sebab kita tidak tahu niat orang tersebut ketika beramal.

Namun larangan memastikan seseorang mati syahid dan masuk surga ini hanya berlaku bagi mereka yang belum dipastikan syahid atau masuk surga, adapun yang sudah dipastikan dan sudah dijamin masuk surga maka wajib bagi kita untuk meyakini bahwa ia pasti dan terjamin masuk surga.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata,

وَيَشْهَدُونَ بِالْجَنَّةِ لِمَنْ شَهِدَ لَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالْجَنَّةِ كَالْعَشَرَةِ وَكَثَابِتِ بْنِ قَيْسِ بْنِ شَمَّاسٍ وَغَيْرِهِمْ مِنْ الصَّحَابَةِ

“Dan mereka (Ahlus Sunnah wal Jama’ah) mempersaksikan (memastikan) akan masuk surga, orang orang yang dipersaksikan oleh Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam akan masuk surga, seperti 10 sahabat, Tsabit bin Qois bin Syammas, dan selain mereka dari kalangan para sahabat.” [Matan Al-Aqidah Al-Washitiyah]

Hal itu karena wajib membenarkan apa yang dikabarkan oleh Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam, sebagaimana dalam hadits Sa’id bin Zaid radhiyallahu’anhu, beliau berkata: Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,

عَشْرَةٌ فِى الْجَنَّةِ النَّبِىُّ فِى الْجَنَّةِ وَأَبُو بَكْرٍ فِى الْجَنَّةِ وَعُمَرُ فِى الْجَنَّةِ وَعُثْمَانُ فِى الْجَنَّةِ وَعَلِىٌّ فِى الْجَنَّةِ وَطَلْحَةُ فِى الْجَنَّةِ وَالزُّبَيْرُ بْنُ الْعَوَّامِ فِى الْجَنَّةِ وَسَعْدُ بْنُ مَالِكٍ فِى الْجَنَّةِ وَعَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ عَوْفٍ فِى الْجَنَّةِ ». وَلَوْ شِئْتَ لَسَمَّيْتُ الْعَاشِرَ. قَالَ فَقَالُوا مَنْ هُوَ فَسَكَتَ قَالَ فَقَالُوا مَنْ هُوَ فَقَالَ هُوَ سَعِيدُ بْنُ زَيْدٍ.

“Sepuluh orang di surga, Nabi (Muhammad) di surga, Abu Bakar di surga, Umar di surga, Utsman di surga, Ali di surga, Thalhah di surga, Az-Zubair bin Al-‘Awwam di surga, Sa’ad bin Malik di surga, Abdur Rahman bin ‘Auf di surga.” (Sa’id bin Zaid) berkata, “Kalau engkau mau aku akan sebutkan yang kesepuluh.” Mereka berkata, “Siapakah dia?” Maka beliau diam. Mereka berkata lagi, “Siapakah dia?” Beliau berkata, “Dia adalah Sa’id bin Zaid.” [HR. Abu Daud dan At-Tirmidzi dan ini adalah lafaz Abu Daud, Lihat Ash-Shahihah: 1435]

Dalam lafaz At-Tirmidzi:

وَأَبُو عُبَيْدَةَ وَسَعْدُ بْنُ أَبِى وَقَّاصٍ

“… Abu Ubaidah (di surga) dan Sa’ad bin Abi Waqqash di surga.” [HR. At-Tirmidzi dari Sa’id bin Zaidradhiyallahu’anhu, Shahih At-Tirmidzi: 2947]

Perhatian: Dalam lafaz Abu Daud di atas sangat jelas disebutkan, “Nabi (Muhammad) di surga.” Semoga kita termasuk orang-orang yang membenarkan sabda Nabi Muhammad shallallahu’alaihi wa sallam dan tidak mendustakannya.

Adapun tentang sahabat yang mulia Tsabin bin Qois bin Syammas, Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam telah bersabda tentang beliau,

بَلْ هُوَ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ

“Bahkan ia termasuk penghuni surga.” [HR. Al-Bukhari dan Muslim, dan inimlafaz Muslim dari Anas bin Malik radhiyallahu’anhu]

Jadi, pendalilan Prof. Quraish Shihab dengan hadits yang disebutkannya untuk menafikan jaminan surga bagi Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam adalah tidak tepat, karena terdapat banyak sekali dalil yang menunjukkan bahwa Nabi Muhammad dan sahabat telah dijamin masuk surga.

Dan telah dimaklumi bahwa untuk mengambil satu kesimpulan dari dalil hendaklah mengumpulkan terlebih dahulu seluruh dalil yang terkait, bukan mengambil sebagian dalil dan membuang yang lainnya. Oleh karena itu dalam ilmu tafsir juga dikenal adanya nash-nash yang umum dan khusus, yang muthlaq danmuqoyyad, yang naasikh dan mansukh.

Antara Euforia Pemilu Capres dan Derita di Ghaza

Pagi tadi kita sudah menyaksikan bersama pesta demokrasi yang diselenggarakan di seluruh indonesia dan melibatkan ratusan juta pendudukan negeri ini. Seperti yang biasa terjadi setelah pemilu berlangsung, akan ada lembaga2 survey yang mengadakan quick count atau hitung cepat pemilu untuk memberikan kabar pada masyarakat yang ‘ngebet banget’ ingin cepat tahu hasil pemilu nya seperti apa dan siapa yang jadi pemenang.

Untuk pemilu tahun 2014 ini, dari kebanyakan berita yang saya lihat, terjadi kesimpang siuran mengenai masing-masing capres yang mendeklarasikan dirinya sebagai pemenang. Hasil survey dari berbagai lembaga tersebut fifty-fifty, sebagian mengatakan yang menang itu nomor 1, sebagian lagi berkata sebaliknya.  

Saya jadi ingat kembali bagaimana hari-hari pra pemilu kemarin. Hari-hari yang membuat saya muak dengan segala promosi lebay dari masing-masing pendukung capres, yang dipenuhi dengan caci maki dan fitnah kepada capres yang bukan jagoannya. Hari-hari dimana terlihat jelas seperti ada dua kubu hitam dan putih yang berseteru dan saling berjuang untuk jadi pemenang. Kubu putih (kita panggil saja begitu) didukung oleh banyak ulama, diusung dengan membawa-bawa nama islam. Sedangkan kubu hitam, (katanya) didukung oleh kebanyakan tokoh JIL dan syiah. Kenapa saya sebut mereka kubu putih dan hitam? Karena kesan seperti itulah yang diciptakan oleh masyarakat kita. Kubu putih lah yang paling benar, paling suci, karena didukung kaum agamais dari kalangan ulama-ulama islam, sedangkan kubu hitam terkesan seperti kubunya orang kafir. Ini bukan kesimpulan asal-asalan, tapi begitulah kesimpulan yang bisa kita tarik dari semua pendapat supporter dadakan yang nampak di sosmed. Kubu hitam selalu terbentur dengan tema ‘agama’, kesannya seperti orang-orang yang mendukung kubu ini tidak pro terhadap islam dan mengusung asas liberal dan sekuler. Padahal, mereka berdua sama saja. Mereka berdua berasal dari partai yang sama-sama sekulernya. Mereka tidak pernah sekalipun menyuarakan akan membela islam mati-matian. Betul kan?

Para pendukung kubu putih begitu percaya diri bahwa pilihan merekalah yang paling benar, “yang penting ini didukung ulama” begitu katanya. Padahal tidak semua ulama melabuhkan pilihan pada capres yang itu. Ada pula ulama yang mendukung kubu lawan, dan banyak pula yang tak sudi mendukung kubu manapun karena tahu mereka berdua sama-sama pengusung sistem demokrasi yang tak sejalan dengan Islam. Mereka yakin betul bahwa capres dari kubu mereka lah yang akan menang. Tapi sepertinya kenyataannya tidak sejalan dengan opini mereka. Capres yang diusung kubu putih sepertinya tak mendapat suara dengan jumlah luar biasa, tidak benar-benar bisa mengungguli suara kubu hitam, meskipun sudah dapat dukungan dari ulama. Harusnya ya, kalau kita pikir-pikir, di negara ini mayoritas penduduknya kan beragama islam, tapi kenapa tidak semua setuju dengan pilihan beberapa ulama itu dan malah memilih kubu seberang? Hmmmm…..

Dan biasanya, ketika kubu yang didukung ulama itu tidak menang, akan selalu ada yang dijadikan kambing hitam, yak! Itulah kubu ketiga, yakni kubu golput. Mereka selalu dipersalahkan dengan pernyataan, “kalau saja kamu tidak golput, pasti si ini yang menang!” mereka yang senang mencari-cari kambing hitam itu melupakan ‘keputihan dan kemurnian’ kubu nya dengan menyalahkan orang lain atas apa yang tidak didapatkannya. Mereka tidak pernah berpikir, “kan yang golput tidak banyak, lebih banyak ummat muslim indonesia yang memilih, tapi kenapa tidak semua dari mereka menyumbangkan suaranya kepada kubu putih padahal isu agama sudah sangat santer terdengar?”. Saya tidak punya wewenang untuk menjawab pertanyaan “kenapa dan kalau” seperti itu, saya rasa kita berikan saja kesempatan kepada yang bersangkutan untuk menjawab dan introspeksi diri.

Sama hal nya dengan pemilu legislatif kemarin. Partai yang mengusung nama islam tidak memenangkan pemilu, bahkan tidak masuk dalam jajaran 3 besar partai yang meraih poling terbanyak. Lantas siapa yang disalahkan? KUBU GOLPUT. hahaha, selaluuuu begitu. saya rasa saya pernah membahas hal ini dalam tulisan sebelumnya, bahwa ada rekan yang menjadi pendukung salah satu partai islam itu tiba2 protes pada saya karena saya golput, menyalahkan saya karena tidak memilih partai yang didukungnya. Semoga pada pemilu kali ini orang tersebut tidak melakukan tindakan yang sama lagi. Semoga sekarang dia bisa berpikir dengan lebih arif, bijak dan dewasa. -.-” 

Ada pula yang menganggap, “Meskipun kubu putih kalah, ini adalah ketentuan Allah, berarti 5 tahun kedepan Allah memberikan kita ladang dakwah yang lebih banyak” astaghfirullah, pendapat seperti ini lebih memprihatinkan lagi. Bukannya introspeksi diri, tapi malah mengait-ngaitkan qadha Allah dengan kemenangan kubu yang mereka anggap “kubunya orang kafir” sebagai ladang untuk berdakwah dan berjihad, seakan-akan di Indonesia akan terjadi pembantaian terhadap ummat islam setelah kubu hitam menang. Padahal meskipun capres dari kubu putih yang menang pun, keadaan ummat islam indonesia tak akan berubah! Ummat islam di indonesia akan tetap di cap sebagai sarang teroris, kaum yang lemah, miskin, bodoh dan mudah dipecah-belah! Selama sistem yang digunakan adalah sistem yang memisahkan antara agama dengan kehidupan, maka akan selamanya ummat islam jadi ummat yang ditindas, siapapun capres yang menang dalam pemilu itu tidak penting lagi.

Ada hal lain yang mungkin tak pernah disadari oleh pendukung kedua kubu ini, bahwa ummat islam sedang ditampar keras oleh Allah dengan serangan Israel terhadap saudara2 kita di Ghaza pada bulan Ramadhan yang suci ini. Allah sedang menegur kita yang sibuk mengurusi pemilu untuk memilih pemimpim-pemimpin yang akan melanggengkan hukum2 buatan manusia dan mengesampingkan hukum2 ALLAH. Allah sedang menegur kita yang sibuk mencari pembenaran masing-masing kubu, sibuk menyalahkan kubu lawan. Allah sedang menegur kita yang terlena dengan euforia dunia yang fana ini. Allah sedang menegur kita dan menguji sejauh mana rasa kemanusiaan masih tersisa di hati kita saat melihat saudara sesama muslim dirongrong, dibantai dan dianiaya. Allah sedang menegur pemimpin negeri-negeri muslim, menampar tepat di wajah mereka, agar mereka sadar bahwa kekuasaan yang mereka miliki tak akan bisa membawa perubahan apa-apa pada keadaan ummat ini jika tidak mengusahakan seluruh ummat muslim untuk bersatu dibawah satu kepemimpinan oleh seorang khalifah, jika mereka masih saja tunduk patuh dan takut pada kekuatan Amerika, Israel dan antek-anteknya. 

Jika saja ummat muslim semuanya—dari ujung timur hingga barat—bersatu, bayangkan betapa hebat kekuatan yang kita miliki. Dengan menjunjung nama Allah, kita bisa punya kekuatan untuk melawan musuh-musuh Allah yang selama ini menindas kita. Kita akan punya satu pemimpin yang didengarkan oleh seluruh ummat, yang kekuasaannya bisa melindungi seluruh ummat muslim, yang menjaga kita agar tidak terpecah belah lagi seperti sekarang.

Duhai saudara2ku ummat muslim se Indonesia, bukalah pikiran kalian. Jangan biarkan pemikiran “demokrasi lah sistem pemerintahan yg paling baik” itu merasukimu. Kembalilah pada islam. Islam sudah punya sistem pemerintahan yang begitu sempurna mengatur segala segi kehidupan rakyatnya. Islam sudah diciptakan begitu komplit oleh Allah. Tidakkah kita ingin menerapkannya dalam kehidupan kita sehari-hari? Tidakkah kita ingin melindungi saudara2 kita di palestina, suriah, mesir dan rohingnya? Ya Allah, ketuklah hati seluruh ummat islam di Indonesia agar mau berjuang untuk menerapkan syariatMu. Ketuklah hati para pemimpin kita agar mereka berani dengan lantang menyerukan panji-panji agamaMu, berani melawan penguasa kafir yang menghancurkan islam. Hamba mohon, ya Allah….  

Tanya Jawab “Pentingkah mengadakah sebuah Konferensi Islam demi cita-cita tegaknya KHILAFAH?”

disadur dari akun facebook seorang teman….

A: “Apakah melalui acara KIP (KONFRENSI ISLAM & PERADABAN), khilafah bakalan bisa tegak kembali?”

B: “Ndak bisa”

A: “lalu, mengapa acara tersebut diselenggarakan?”

B: “KIP hanya uslub/ wasilah untuk pembentukan opini umum terkait tentang SYARIAH & KHILAFAH”

A: “emang opini itu penting?”

B: “penting karna opini dapat membentuk persepsi, persepsi dapat membentuk sikap.”

A: “Apakah melalui KONFRENSI, MUKTAMAR, JICMI, dan lain sebagainya bisa membentuk opini KHLAFAH menyebar?”

B: “tentu saja bisa, apakah acara-acara yang kami lalukan berhasil atau tidak, kita bisa melihat hari demi hari pejuang SYARIAH & KHILAFAH semakin bertambah, mulai dari bertambahnya jumlah pejuangnya ( 10 tahun pertama pejuangnya hanya 17 orang) sekarang sudah mencapai ribuan orang se-Indonesia, buktinya saya dan para pejuang yang lainnya, saya adalah hasil opini acara, bisa jadi anda juga hasil dari pembentukan opini dan akan tercerahkan hingga akhirnya anda bergabung dalam barisan pejuang ISLAM berkat acara-acara yang diselenggarakan, bertambahnya jumlah wilayah dulu awal-awal opini KHILAFAH di Indonesia hanya ada di bogor & jakarta, sekarang wiayah pejuangnya sudah mencapai seluruh wilayah Indonesia, sedangkan ditingkat internasional yang dimulai dari MASJIDIIL AQSO di Palestina sekarang opini KHILAFAH mendunia, selain itu kemampuan semakin membesar pejuangnya dari mulai lulusan S1, S2,S3, SD pun ada, dari kalangan ekonomi bawah, menengah sampai atas pun ada….dari para pejuang yang menggunakan mobil hingga sepeda bahkan jalan kaki pun ada karna ISLAM untuk seluruh umat.Yang pasti melalui berbagai uslub ini dan konsisten menggunakan tiga metode dakwahnya Rasulullah Muhammad maka dakwah ini semakin menyebar.”

Islam bicara ‘CINTA’

Islam tidak pernah mengaharamkan cinta. Islam mengajarkan cinta agar berjalan pada koridornya, yakni dgn mengikatnya dalam pernikahan. Sebaliknya islam melarang keras segala interaksi cinta yg tdk halal. Karena islam adalah agama yg memuliakan manusia. Islam mencegah kerusakan2 yg akan terjadi pada diri manusia dikarenakan cinta yg dilangsungkan dalam ikatan tdk halal tersebut. 

Sayangnya, kaum muslimin kini hidup dalam kungkungan masyarakat yg sebagian besar salah kaprah dalam hal cinta. Karenanya tdk dikenal lagi kesakralan pernikahan dan kesucian diri, apalagi kehormatan dan kemuliaan jiwa. Semua sudah terganti dengan pergaulan bebas, ada yg menyebutnya pacaran, teman tapi mesra, dibalut dlm alasan adik-kakak, teman dekat, atau yg lainnya.

#UdahPutusinAja, apapun namanya, kelak akan bersaksi seluruh bagian tubuh di hadapan Allah. seluruhnya! tanpa terkecuali. Mulut yg bicara bermesra-mesraan dengan nada suara dimanja-manjakan, mata yang memandang dengan tatapan penuh cinta (baca: nafsu), kulit yang menyentuh seseorang yang belum halal untuk disentuh, otak yang berpikir mengenai si dia (entah pikiran bersih atau kotor yang muncul), semuanya akan bersaksi dihadapan ALLAH kerak di akhirat dan mengatakan “dulu kami pernah digunakan untuk melakukan kemaksiatan yang tidak engkau sukai, duhai Allah.” astaghfirullaah… T_T

Mari mendidik cinta, mengajarinya agar ia bersemi dalam taat, bukan direndahkan oleh maksiat. Ajarkan cinta agar ia benar hingga membuat pemiliknya terhormat, bukan nista yg ditanggung karena terbuai cinta yg terlaknat.

– disadur dari buku #UdahPutusinAja karya ust. felix y. siauw

masyarakat yang kritis akan berpikir: “siapa sih densus 88 ini?!!”

Tidak bisa dipungkiri bahwa masyarakat indonesia sekarang jadi semakin kritis. Terimakasih banyak kami ucapkan pada rekan-rekan media yang berusaha membuat pemberitaan mengenai terorisme dan aksi-aksi heroik densus 88 ini menjadi berita yang cetar membahana gegap gempita. Haha. Karena semakin lebay berita yang ditampilkan maka akan semakin terpicu pula akal pikiran masyarakat kita untuk mempertanyakan potongan-potongan informasi yang mereka dengar dan baca selama ini.

Sekarang kita lihat sendiri, bagaimana di dunia maya sudah banyak sekali orang yang mempertanyakan:
”siapa sih densus 88 itu? Apa sih tugas utama mereka? Bagaimana mereka bisa terbentuk? Bagaimana sejarahnya? Siapa yang menjadi pemodal utamanya? Siapa penggagasnya? Kenapa mereka sering melakukan penggerebekan yang terlihat lebih seperti drama sinetron ketimbang penggerebekan sebenarnya? Kenapa kebanyakan korban ditembak mati? Apa memang mereka begitu berwenang untuk mencabut nyawa siapapun yang mereka anggap teroris? Apa tak bisa mereka menangkap hidup-hidup incarannya? bukannya mereka dipersenjatai dengan senjata super lengkap dan canggih serta kemampuan fisik yang lebih dibandingkan kita? Apa susah untuk menghindari baku tembak dan menangkap tanpa harus membunuh?”

Pertanyaan-pertanyaan seperti ini yang membuat masyarakat yang memang mau membuka mata, akan berusaha mencari jawabannya. dan pada akhirnya mereka akan sadar, semakin mereka mencari tahu akan semakin banyak kejanggalan yang akan mereka temukan.
Kami tidak mengatakan bahwa densus 88 ini salah, atau semua tindakan mereka hanya rekayasa. Tidak. Karena kami tidak punya bukti apa-apa dan kami hanya orang awam yang bisanya mendapat informasi alakadarnya saja. Tapi kita biarkan saja masyarakat semakin terpacu rasa penasarannya. Kita biarkan saja, sampai Allah yang tunjukkan mana yang benar dan mana yang salah. Dan selama waktu itu, kita terus berusaha untuk menyebarkan kebaikan, membersihkan nama baik islam yang sudah dibuat coreng moreng oleh tindakan oknum2 yang bersembunyi di baling topeng kekuasaannya.

filosofi kisah Lukman dan keterkaitannya dengan arus protes terhadap profesi dokter

*tulisan ini rada telah di post di wordpress, sebenarnya sudah di posting duluan lewat FB tanggal 3o november, tapi ndak apa lah, daripada ndak sama sekali 😀

Pernah dengar kan cerita tentang Lukman yg berjalan dgn anaknya sambil membawa keledai?

Mungkin cerita ini cocok dengan keadaan para dokter saat ini 

saat Lukman menyuruh anaknya menaiki keledai karena tak ingin anaknya lelah berjalan, ada orang yg berkata ”anak kurang ajar, dia biarkan ayahnya berjalan sedangkan dia enak2 naik keledai”

kemudian mereka bertukar posisi. Kini lukman yg menaiki keledai dan anaknya yg berjalan, lalu ada orang yg berkata ”ayah tak punya perasaan, dia biarkan anaknya yg lemah utk berjalan sedangkan dia yg kuat malah naik keledai”

selanjutnya mereka memutuskan utk menunggangi keledai tersebut bersama-sama, dan orang yg melihat mereka berkata ”orang2 tak punya perasaan, mereka berdua menunggangi keledai yang lemah itu”

lalu terakhir mereka kembali berjalan bersama dan membiarkan keledainya tak ditunggangi, lantas ada lagi orang yang berkata ”bodoh! Bawa keledai tapi tak ditunggangi”

kemudian si anak bertanya pada lukman, ”ayah, mengapa semua orang memprotes semua hal yang kita lakukan?”

lukman pun menjawab ”anakku, itulah tujuan ayah mengajakmu jalan-jalan. Ketika kamu berbuat sesuat yg menurutmu benar, orang2 akan tetap berkata-kata tentang dirimu. Apalagi kalau kau melakukan kesalahan. Pelajaran yg ingin ayah sampaikan adalah: laa yumkinu irdhaa’u kullinnaas. Mustahil membuat semua orang sepakat dengan apa yang kamu lakukan”. Jadi mau kita bicara pakai teori jenis apapun juga, tetap saja tak bisa elakkan bahwa tetap akan ada orang-orang yang tak setuju dengan pendapat atau sikap kita. Yang bisa kita lakukan hanya berusaha untuk sabar dan ikhlas, tapi justru itu lah yang paling sulit ya? 🙂

semoga bisa kita petik pelajaran dari semua kejadian yang menimpa kita saat ini. Pasti Allah punya rahasia dibalik kejadian ini, pasti ada hikmah yang harus kita cari tahu. malah mungkin kata-kata pedas dan kalimat cacian yg mereka tujukan pada kita ternyata adalah ‘bahan renungan’ yang dikirimkan Allah pada kita semua. Atau Allah ingin menguji keikhlasan dan kesabaran kita, dalam menjalani profesi mulia ini. Wallahu a’lamubissawab. Semoga kita termasuk orang2 yang sabar, ikhlas, dan bisa mengambil hikmah dari setiap kejadian.