Idealisme vs dunia nyata

Idealisme anak muda biasanya akan melunak, atau bahkan mungkin pudar setelah ia beranjak menuju ke usia dewasa. Setelah ia tahu berat dan kerasnya terpaan hidup. Setelah ia lepas dari tanggung jawab orang tuanya

Dulu, saya pun demikian. Merasa bisa bertahan hanya dengan semangat untuk menggapai mimpi yang belum kesampaian, dan tak mau percaya sepenuhnya pada wejangan orang tua yang (saat itu) saya rasa hanya akan menali kekang ekspresi dan bakat yang dimiliki

Tapi sekarang, hari ini, detik ini, saya sepenuhnya tersadar bahwa idealisme itu, yang dulu rasanya paling benar, yang dulu dianggap keren sekali, ternyata tak bisa menjamin apa-apa untuk bertahan di dunia yang persaingannya keras ini

“If you want to live with your own dream and idealism, then work hard for it! But, if you’re still doubting your self, then you should stop day dreaming and live a normal life like what your parents told you to do”

Syukurlah orang tua saya termasuk tipe pendidik yang tegas. Andaikata mereka tidak menindak tegas anak sejenis saya, entah akan jadi apa saya hari ini

Tapi saya salut dengan mereka yang ternyata bisa membuktikan dirinya, hidup dengan idealisme nya, dan sukses karena kerja keras dan semangat juangnya. Kerja keras yang pastinya dipupuk dengan semangat yang tak mudah padam. Pernah dengar mas kurniawan gunadi? Dia salah satu contohnya. Seorang penulis yang sudah menelurkan 3 buah best selling book dari rumah produksinya sendiri. Padahal dia kuliah bukan di jurusan sastra, tapi prosa-prosa karangannya selalu bisa menyentuh hati pembacanya. Saya salut, sungguh, karena semangat seperti yang dimiliki mas gun ini tidak pernah ada pada diri saya. Dan kenyataan itulah yang membuat saya sadar, bahwa “Hey nanda, if you still insist on being like this, you’ll be  vanished, seriously”

What Do You Actually Want In Your Life?

Akhir-akhir ini otak serasa sedang tumpul. Kepingin nulis sesuatu tapi nggak tahu harus memulai dari mana dan dengan intro seperti apa. Jadi saya coba-coba saja menulis. Kalau dibaca hasil nya kurang enak, harap dimaafkan dan dimaklumi…

– What Do You Actually Want In Your Life? –

Apa yang sesungguhnya kamu inginkan dalam hidupmu? Pernah tidak kalian coba renungkan hal ini, direnungkan dalam situasi yang tenang, dan bukan dibawah tekanan. Jawaban yang muncul dari dalam diri masing-masing kita pun pasti beragam. Ada yang ingin mengejar cita-cita hingga setinggi luar angkasa (jika kata ‘langit’ tidak cukup menggambarkan ketinggian angan-angan dan harapannya). Ada yang ingin bisa merasakan segala kemudahan dalam hidupnya, bisa makan enak setiap hari, punya rumah mewah, mobil berjejer di garasi, pekerjaan yang mapan dengan gaji yang bahkan berlebih jika patokannya untuk memenuhi kebutuhan tersier. Ada yang ingin suami sempurna, sempurna dalam artian benar-benar punya segalanya, kaya, tampan, mapan, baik hati, tidak sombong, rajin menabung, dan lain sebagainya. Ada yang keinginannya hanya satu, ingin terus mendekatkan diri pada Allah, dan seluruh hal yang ia lakukan dalam hidupnya ingin disandarkannya pada penilaian baik menurut Allah. Ada pula yang tak punya jawaban sama sekali, cuma bisa senyum ketika diberikan pertanyaan seperti itu, tidak punya keinginan apa-apa, dan memilih prinsip hidup “mengalir seperti air”.

Sebenarnya, setinggi apapun kemauan dan harapan kita terhadap kehidupan dunia ini, pasti pada intinya kita hanya menginginkan satu hal, bahagia. Satu kata yang punya ribuan makna. Satu kata yang dicapai dan diusahakan dengan berbagai macam cara oleh masing-masing manusia. Standar bahagia setiap orang pun ternyata tak sama. Ada yang bahagia nya disandarkan pada hal-hal bersifat materi keduniawian, ada yang diletakkan pada hubungan sosial dengan sesama manusia, dan ada pula sekelompok orang yang menancapkan standar bahagianya pada hubungannya dengan Sang Pencipta. Kita semua diberikan keleluasaan oleh Allah untuk menentukan pilihan tentang apa yang sebenarnya kita inginkan dalam hidup, standar bahagia seperti apa yang kita pilih, dan bagaimana cara kita untuk mengusahakannya. Namun bukan berarti keleluasaan itu tidak dibarengi dengan konsekuensi. There will always be a reward or punishment in every decision we made, yang telah ditetapkan Allah untuk setiap manusia, yang merupakan hasil akhir atau konsekuensi dari setiap pilihan yang kita buat dalam hidup.

Tak mudah memang menentukan pilihan, memilih standar bahagia yang tepat, dan mencari apa yang sesungguhnya kita inginkan dari hidup yang hanya sekali dan sementara ini, ditengah gempuran berbagai gaya hidup manusia yang ada sekarang, benar-benar tak mudah. Kadang walaupun kita tahu mana jalan yang akan membawa kita pada ‘bahagia’ yang paling tepat, tetap saja ada kalanya kita menikung, memilih jalan yang salah. Tapi masih saja Allah berbaik hati memberi kita waktu untuk kembali merenung, kembali menata hati dan jiwa, kembali menentukan pilihan. Semoga kita ditetapkanNya pada pilihan-pilihan keinginan yang senantiasa mengantarkan bahagia menurut standar yang dibenarkan oleh syariatNya. In syaa Allah….

tumblr_ol628kfcf21sl8g3to1_1280

Setiap orang pasti punya kriteria pasangan idaman nya masing-masing. Dan entah sejak kapan saya berpikir, laki-laki yang selalu menunaikan kewajiban sholat di saat tepat ketika adzan mulai berkumandang (bahkan mungkin dia lah yang mengawali langkah untuk mengumandangkan panggilan sholat kepada muslim lainnya), yang berusaha untuk tidak menunda-nunda meski sedang dihadapkan pada pekerjaan yang bertumpuk-tumpuk, dan selalu memaksa dirinya untuk menunaikan kewajiban itu secara berjama’ah di rumah Allah meskipun harus berjalan kaki atau naik kendaraan sedikit agak jauh, laki-laki jenis ini selalu punya nilai lebih, selalu ada rasa kagum yang terselip di dalam hati, selalu ada perasaan teduh yang menenangkan saat melihatnya, dan rasa aman karena menyadari bahwa laki-laki seperti ini in syaa allah akan mampu membimbing istri dan anak-anaknya ke jalan yang Allah ridhoi, jalan yang ditekuni oleh orang-orang yang senantiasa berusaha mengutamakan Allah diatas segala-galanya, yang mampu mengayomi, dan memberi harapan akan perkumpulan kembali kelak di surga Allah yang luasnya seluas langit dan bumi…

Mbah…

Mungkin Allah memanjangkan usianya untuk memberikan pengajaran pada kami, bahwa kelak di hari tua kami pun akan menjadi selemah dirinya, dan jadi amat sangat membutuhkan bantuan dan kasih sayang anak dan cucu untuk bisa tetap bertahan… 

Mungkin Allah menjaga nya hingga saat ini untuk menguji keikhlasan dan kesabaran kami. Sesabar dan seikhlas apa kami menghadapi tantrum nya yang jauh melebihi tantrum anak balita, menghadapi penyakit usia tua yang kian hari kian menggerogoti tubuh ringkih dan lemahnya… 

Ya Rabb, ampuni segala dosanya, terima seluruh amal ibadahnya. Jika seluruh penyakit dan rasa lelah yang ia rasakan saat ini adalah caramu untuk menghapus segala dosa nya yang terdahulu, maka ampunilah seluruhnya tanpa tersisa satu biji zarah pun, ya Rabbana… 

si melankolis yang suka menulis :D

sejujurnya, saya punya dua modal utama dalam diri saya yang biasanya saya jadikan pelampiasan bila ada masalah, yaitu menangis dan menulis. hahaha, kedengarannya lucu ya. mungkin memang benar, orang-orang yang melankolis, yang sering menangis, yang sering merasa sendiri dan kesepian, yang sering merenung, akan mudah sekali menjadi penulis dan menelurkan karya-karya yang baik. saya mungkin belum sampai tahapan ‘menelurkan karya yang baik’, masih jauh sekali malah, tapi memang terasa, kalau sedang sedih, bahkan kalau sedang menangis, otak saya begitu lancar mengeluarkan berbagai macam kosa kata yang sebelumnya tak pernah saya gunakan dalam pergaulan sehari-hari, kata-kata yang saya sendiri sampai heran “ini saya kok bisa nulis begini ya? gimana ceritanya?” 😀

menulis, bagi saya adalah suatu kenikmatan, cara saya untuk ‘bicara’ dan mengeluarkan seluruh isi hati. jujur, saya bukan orang yang fasih dalam berkata-kata jika di dunia nyata, saya lebih sering terbata-bata kalau disuruh untuk ngomong pakai bahasa formal. tapi kalau disuruh nulis, ngaliiiiiir semua, nggak bisa ditahen kadang, semua ide rasanya berlomba-lomba, berebutan pengen dijadikan yang terdepan. meski sudah saya coba untuk sering-sering mengasah kemampuan berbicara saya, tetap saja begitu-begitu terus hasilnya. 😀

jadi inilah saya, seorang wanita melankolis (caeddaah… 😀 ) yang punya hobi menulis, duduk dibalik layar komputer, dan menggerakkan jari-jari kesana kemari, menulis sebanyak mungkin yang saya bisa, menghasilkan sebanyak mungkin karya. saya hanya berharap, apa yang saya tulis dalam blog ini dapat memberikan banyak manfaat untuk siapapun yang membacanya. in syaa Allah… 🙂

untuk calon-calon penulis hebat…

bagi seorang penulis, menulis adalah segalanya…

menulis adalah bagian dari hidupnya…

menulis adalah caranya mengekspresikan diri, mengekspresikan perasaan, mencurahkan kata-kata yang tak mampu ia ucapkan lewat lisan….

menulis adalah semangatnya…

menulis adalah salah satu caranya menenangkan diri…

menulis adalah DIRINYA….

jadi bagi para penulis…

menulislah…

apapun yang ingin kau tulis, tuliskanlah…

tak usah mempedulikan tak akan ada yang membaca tulisanmu…

tak usah pedulikan orang tak suka hasil karya mu…

tak usah pedulikan orang yang mengintai, mengawasi gerak gerikmu, dan membuatmu takut untuk menuliskan apa yang kau mau…

tak usah pedulikan semua penghalang itu….

selama apa yang kau tulis bisa bermanfaat untuk orang lain…

selama apa yang kau tulis bisa membuatmu bahagia…

selama kau menuliskan kebaikan…

selama tulisan itu tidak berisi penghinaan terhadap Allah dan Rasulullah…

bismillah, tuliskan saja isi hatimu, tak perlu ragu, tak perlu takut…

selamat berkarya, para penulis di seluruh dunia… 🙂