Jangan Menyerah

Ada kalanya kita merasa bahwa kehidupan ini begitu sulit, menghimpit, menyesakkan, memuakkan, dan menyakitkan untuk dijalani.

Ada kalanya kita ingin sekali menyerah, tak sanggup lagi menjalani derita hidup yang seakan tak pernah ada akhirnya. Ingin menghilang, menjauh dari semuanya.

Ada kalanya kita merasa begitu kesepian, sendiri dan tak punya siapa-siapa untuk tempat berbagi kesedihan dan penderitaan.

Beberapa akan menemui saat-saat seperti itu sesekali dalam hidupnya, ada juga yang mengalaminya hampir setiap hari, sepanjang waktu, seakan tak ada waktu untuk beristirahat dan merebahkan tubuhnya yang lelah, seakan tak ada waktu untuk sekedar menghela nafas panjang.

Bagi siapapun, di luar sana, yg pernah atau sedang mengalaminya, bertahanlah, kuatkanlah dirimu. Ingatlah bahwa dunia ini, kehidupan yg kini kau jalani, hanyalah sebuah hal yg fana, yang tak ada apa-apanya dibandingkan kebahagiaan yang akan kau temukan di akhirat kelak.

Ingatlah bahwa semua ini pasti akan berlalu, cepat atau lambat pasti akan berlalu, bahwa Allah akan menghadiahkanmu kebahagiaan di depan sana, bahwa semuanya kelak akan baik-baik saja.

Jika sampai akhir hidupmu pun tak kau temukan bahagia itu, bersabarlah, karena bahagia itu telah disimpan Allah untukmu di alam keabadian, ketenangan itu telah menantimu di sana. Semuanya akan kau raih, hanya jika kau mau berusaha untuk bersabar, bersyukur, dan ikhlas menghadapi segalanya.

Percayalah, Allah tak akan pernah menyia-nyiakan hambanya. percayalah, Allah tak pernah meninggalkanmu sendiri, Ia selalu ada untukmu, menantimu panggilanmu, menanti curahan hatimu, Ia yang tak kenal lelah mendengarkan semua kisahmu, tak pernah mengkhiatimu, tak akan mengacuhkanmu….tak kan pernah….

Hidup adalah pilihan, mau jadi yang manakah anda?

Hidup adalah pilihan, mau jadi yang manakah anda?

  1. Mengabaikan janji Allah dan menganggap remeh orang2 yang mempercayai-Nya?
  2. Mendiamkan dan menunggu hasil daripada kejadian yang terjadi di depan anda?
  3. Membuat beribu alasan agar tidak berjuang demi tegaknya islam?
  4. Menyerahkan harta dan nyawa anda dan berbuat sekuat tenaga menegakkan islam?
  5. Membiarkan kemunkaran dan kemaksiatan merajalela di muka bumi, atau berjuang dalam dakwah amar ma’ruf nahi munkar?

Perhatikan firman Allah berikut ini:

“Tidaklah sama antara mukmin yang duduk yang tidak mempunyai ‘uzur dengan orang-orang yang berjihad di jalan Allah dengan harta mereka dan jiwanya. Allah melebihkan orang-orang yang berjihad dengan harta dan jiwanya atas orang-orang yang duduk satu derajat. Kepada masing-masing mereka Allah menjanjikan pahala yang baik (surga) dan Allah melebihkan orang-orang yang berjihad atas orang yang duduk dengan pahala yang besar.” (TQS. An-Nisaa [4]: 95)

Beberapa dari rekan-rekan mungkin pernah secara sadar atau tidak mengatakan “saya nggak begitu minat masalah politik”. Ya, memang bisa dimengerti. Jika yang dimaksud adalah politik kotor dalam sistem kufur semacam demokrasi, pastilah siapapun akan muak mendengar dan membicarakannya. karena saya juga demikian. Tak ada satu hal pun yang baik untuk dijadikan contoh dari sebuah sistem yang bobrok dan diragukan kesuksesannya semacam itu. Tak ada yang menarik untuk dibicarakan mengenai sistem demokrasi yang berasal dari peradaban yunani yang hancur dan tak menghargai harkat dan martabat manusia.

Tetapi politik islam adalah sesuatu yang berbeda. Politik islam yang kita bicarakan adalah sistem politik yang HANYA bisa diterapkan dalam sebuah sistem kenegaraan yang disebut Khilafah Islamiyah, tidak dalam bentuk sistem selain itu. Sistem politik ini adalah sistem politik terbaik yang pernah dijalankan di muka bumi, pernah terbukti berhasil menyejahterakan manusia selama 1300 tahun, pernah membuat peradaban muslim menjadi peradaban yang begitu jaya, hebat, disegani dan dihormati oleh kawan maupun lawan. Karena sistem ini berasal langsung dari sang pencipta manusia, Allah swt.

Tidak akan ada kehinaan di sisi Allah bagi siapapun yang membicarakan, mengkaji, memikirkan, apalagi memperjuangkan politik islam dalam bingkai khilafah. Justru memperjuangkannya adalah sesuatu yang wajib hukumnya bagi semua muslim, tanpa terkecuali. Jadi jika saat ini tak ada ketertarikan dalam hati untuk memikirkan masalah politik islam, maka ubahlah mindset anda dan patrikan dalam hati bahwa “saya harus mau tahu, dan saya harus tahu”. Karena tanpa adanya kekuasaan politik, agama kita tak akan pernah bisa menjadi agama yang rahmatan lil ‘alamin.

“Sesungguhnya dunia adalah ladang bagi akhirat, tidaklah sempurna agama kecuali dengan dunia. Kekuasaan dan agama bagaikan saudara kembar; agama merupakan pondasi dan penguasa adalah penjaganya. Apa saja yang tidak memiliki pondasi akan hancur, dan apa saja yang tidak memiliki penjaga akan hilang. Dan tidaklah sempurna kekuasaan dan hukum kecuali dengan adanya pemimpin.” – Ibnu Sina, dalam buku Al-Qanun.

Memang benar, ada atau tidak adanya orang yang memperjuangkan sistem politik islam tidaklah masalah bagi Allah, karena jika Allah sudah berkehendak untuk merealisasikan janjiNya maka “kun fayakun” pasti akan terjadi juga. Tapi apakah iya kita hanya akan menjadi penonton dan menunggu Allah menampakkan kekuasaannya tanpa ada keinginan kita untuk memperjuangkan tegaknya agama yang indah ini di muka bumi?

Cobalah baca sabda Rasulullah berikut,

“Barang siapa yang pada pagi hari hasratnya adalah selain Allah maka pada sisi Allah bukanlah apa-apa, dan barang siapa yang pagi harinya tidak peduli dengan urusan kaum muslimin maka dia bukan bagian dari mereka.”(HR. Imam Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman)

In the end, the choice is all yours, whether you want to join this big movement, or you want to sit and relax in your ‘comfy couch’…

Tidak ada manusia yg sempurna tanpa cela, tapi Allah selalu memberikan kita pilihan setiap hari nya, untuk hidup di dunia ini dengan cara yg Dia tentukan atau dengan aturan yg kita buat-buat sendiri, dengan senantiasa berusaha mendekat padaNya atau malah semakin menjauh . Dan dalan hidup akan selalu ada manusia yg dihadirkan Allah utk menegur kita, menasehati kita, mengkritik kita, mengajak kita kembali pada Allah, kembali hidup dengan aturan yg telah dibuat Allah utk manusia. Apakah dia bersikap begitu karena merasa hidup nya sudah baik dan sempurna? justru karena dia tahu bahwa hidupnya penuh dg ketidak sempurnaan, ia tak ingin ada saudaranya yg lain di luar sana melakukan hal yg sama, ia ingin berubah dan ingin mengajak saudara yg ia cintai juga mengambil langkah yg sama dengannya, menyongsong cinta Allah. Dan tidak semua kebenaran dpt diterima dgn penerimaan yg baik, pun tidak semua hal yg benar bisa disampaikan dgn cara yg ‘sesuai’ dengan apa yg kita mau.

Karena sesuatu yg buruk menurut perasaan kita, belun tentu buruk menurut penilaian Allah. Semoga kelapangan hati selalu diberikan Allah utk kita semua. Semoga Allah senantiasa menunjukkan kita jalan yg lurus, jalan yg ia ridhoi.

 

 

10636286_586357074807151_7912043013309127235_n

Apakah Seruan Amar Ma’ruf Nahi Munkar dapat Merusak Ukhuwah? Let’s Think Again….

Kita harus jeli membedakan mana yg termasuk amar ma’ruf nahi munkar dan mana yg termasuk fitnah perusak ukhuwah…

Apakah protes tegas terhadap kemakisatan tidak diperbolehkan dalam agama? Jika ada peraturan penguasa yang mencabik2 hak seorang muslim untuk menjalankan syariat agamanya dan meraup uang rakyat demi kepentingan pribadi, apa lantas kita harus diam dan tak boleh bersuara? Tak boleh menegur dan menasehati mereka? Tak boleh menjelaskan pada masyarakat mana yg salah dan mana yg benar?

Mungkin kisah-kisah dibawah ini bisa kita jadikan bahan perenungan. Ada banyak sekali contoh kisah para ulama terdahulu yg hidupnya berada dalam penyiksaan fisik dan psikis akibat keberanian dan ketegasannya dalam menentang kedzliman penguasa. Mereka tabah dan sabar menghadapi segala macam tantangan dan halangan demi memperjuangkan islam dan umatnya, bukan demi membela kepentingan pribadi, pemimpin, atau kelompoknya. Mereka tidak menyembunyikan apalagi memutar balikkan syariah Islam.

Hasan Al Bashri adalah seorang di antara para ulama yg begitu besar rasa takutnya kepada Allah. Sebaliknya, ia tak pernah gentar terhadap penguasa dunia yg lalim. Beliau berani menentang penguasa Hijaj bin Yusuf ats-Tsaqafi, penguasa Iraq yg lalim pada zamannya. Ia berani mengungkap keburukan perilaku penguasa tersebut di hadapan rakyat dan menyampaikan kebenaran di hadapannya. Beliau sangat terkenal dengan ucapannya, ”Sesungguhnya Allah telah mengambil perjanjian dari para pemilik ilmu untuk menjelaskan ilmu yg dimilikiNya kepada manusia dan tidak menyembunyikannya.” karena keberaniannya itulah beliau harus menanggung penderitaan.

Demikian pula Sufyan ats Tsauri. Rasa takutnya kepada Allah begitu besar. Sebaliknya, keberaniannya terhadap penguasa lalim pun tak diragukan. Ia pernah menentang apa yg dilakukan penguasa Abu Ja’far al Manshur ketika dia mendanai dirinya dan para pengikutnya yang beribadah haji ke Baitul Haram dalam jumlah yg sangat besar, yg diambil dari baitul mal milik kaum muslim. Dengan sikapnya ini, hampir saja polisi al-manshur membunuh sufyan.

Abu hanifah pernah menolak jabatan yang ditawarkan Abu Ja’far al-manshur dan menolak uang 10.000 ribu dirham yg akan dberikan kepadanya. Kemudian ia ditanya oleh seseorang, ”apa yg anda berikan kepada keluarga anda, padahal anda telah berkeluarga.” beliau menjawab, ”keluargaku kuserahkan pada Allah, sebulan aku cukup hidup dengan 2 dirham saja,”

dalam riwayat lain disebutkan, suatu ketika khalifah muawiyah hendak memulai pidatonya. Saat itu Abu Muslim al Khaulani segera berdiri dan berkata bahwa ia tidak mau mendengar dan menaati khalifah. Ketika ditanya alasannya, beliau menjawab ”karena engkau telah berani memutuskan bantuan kepada kaum muslim. Padahal harta itu bukan hasil keringatmu dan bukan harta ayah-ibumu.” mendengar itu khalifah muawiyah sangat marah. Ia lalu turun dari mimbar, pergi dan sejenak kembali dengan wajah yg basah. Ia membenarkan apa yg dikatakan Abu Muslim dan mempersilahkan siapa saja yg merasa dirugikan boleh mengambil bantuan dari baitul mal (Al Badri, Al Islam bayna al ulama’ wa al hukkam, hlm. 10)

lalu bagaimana dengan Rasulullah? Rasulullah dahulu berdakwah dikalangan kafir quraisy yg hidupnya sangat amat jahiliyah. Perzinahan, pembunuhan terhadap anak perempuan, penyiksaan terhadap kaum wanita, penyembahan terhadap berhala, dan segala macam jenis kemaksiatan lainnya terjadi disana. Dakwah Rasulullah pada saat itu mendobrak tatanan hidup kafir quraisy yg sudah menganggap semua jenis kemaksiatan itu sebagai sesuatu yg lumrah dan sudah jadi bagian dari tradisi sehari-hari. Itulah yg membuat para penguasa kafir quraisy berang akan kemunculan rasulullah dan dakwah yg disampaikannya. Mereka merasa kedudukan mereka sebagai pemimpian kaum quraisy mulai terganggu bila banyak rakyatnya yg mau mengikuti agama yg dibawa Rasulullah dan mengikuti segala aturan dari agama tersebut. Itulah mengapa Rasulullah pun disiksa oleh penguasa quraisy pada masa itu.

kadang ada beberapa hal dalam hidup ini yg perlu ketegasan. Tidak selamanya kelemah lembutan itu yg membawa kebaikan. Apalagi dengan tipe masyarakat yg sekarang, yg lebih banyak tak acuh terhadap suara ulama, hidup semaunya sendiri dan bebas tanpa aturan, merasa diri islam dan cukup dengan keislamannya itu, tidak lantas mau peduli pada aturan yg diberikan agamanya. Ketegasan juga dibutuhkan untuk menertibkan ummat yg seperti ini. Dan itulah tugas utama ulama. Ulama seharusnya berani berusra dengan tegas dan lantang menyerukan ummat dan para pemimpin untuk kembali pada syariat islam, kembali pada agama Allah yg indah, dan menjadikan dunia hanya sebagai ‘kuda tunggangan’, bukan sebaliknya. Ulama seharusnya tidak mendiamkan, tidak menyetujui dan tidak mendukung kedzaliman dan siapapun yg berbuat dzalim. Karena Allah sudah tegas berfirman:

”Janganlah kalian cenderung (la tarkanuu) kepada orang-orang yg berbuat dzalim, yg dapat mengakibatkan kalian disentuh api neraka.” (QS. Hud [11]: 113)

Curhat Colongan: kendala dalam menyampaikan materi ideologi islam di tengah masyarakat

Ada kenyataan pahit yang saya temukan setelah berdiskusi dengan beberapa teman mengenai islam, mengenai penegakan syariat islam dan khilafah. Dari diskusi ini saya mengambil kesimpulan “intensitas mengenal seseorang yang lama, bahkan sampai bertahun-tahun tidak lantas membuat kita benar-benar bisa saling memahami karakter pribadi masing-masing”. Mereka yang saya pikir akan welcome dan dengan senang hati diajak untuk mendiskusikan agama malah terkesan acuh tak acuh dan risih jika diajak mendiskusikan hal seperti itu, mendiskusikan sesuatu yang terkesan beda dan aneh, mendiskusikan tema yang asing di telinga, mendiskusikan sesuatu yang berada di luar ‘zona nyaman’ mereka.

Ada begitu banyak toleransi terhadap kemaksiatan, toleransi terhadap penyimpangan hukum Allah, semua serba di toleransi, begitulah kesimpulan yang saya ambil dari gaya bahasa rekan-rekan saya tersebut. Sudah mulai rancu batasan maksiat ada di mana, sudah mulai rancu antara mana yang jelas-jelas haram dan mana yang mubah, semuanya jadi rancu karena mereka lebih banyak menggunakan dalil logika dan akal-akalan manusia (yang serba terbatas) dalam melihat problematika ummat. Ketika saya tanyakan “apa dalilnya shahihnya? Apakah ada di Al Qur’an dan As sunnah?” mereka sering berkelit dari pertanyaan macam ini, tidak mau menjawab langsung atau ada yang terang-terangan mengatakan “saya tidak cukup ilmu untuk memberikan dalil”, padahal dalam setiap langkah yang kita ambil harus didasarkan pada aturan Allah, didasarkan pada syariat islam, sudah sesuaikan langkah kita itu dengan ketentuan Allah? Sudah sesuaikah dengan ajaran yang dibawa Rasulullah? Adakah dalilnya? Kuatkah dalil itu? Harusnya itu yang kita pikirkan baik-baik sebelum mengambil langkah, sebelum mengambil keputusan, sebelum percaya dan yakin pada sesuatu atau seseorang.

Bahkan ada salah satu diantara mereka (yang ber’aliran’ tertentu, saya rasa tidak perlu saya sebutkan aliran apa, agar tidak menyinggung perasaan pembaca) yang mengatakan hizbut tahrir itu sesat, hizbut tahrir itu keliru, Rasulullah tidak pernah mengajarkan ummatnya untuk berpolitik, tidak pernah mendirikan daulah islam, dan bisyarah Rasulullah tentang khilafah itu tidak ada. Saya lantas berpikir, “Ah, selama ini ada saja beberapa anggota masyarakat yang berpikir bahwa HT itu perusak ukhuwah, karena sering memprotes kebijakan pemerintah. Tapi kok oknum2 seperti seperti ini tidak pernah ada yang tahu. Oknum-oknum yang menebar kebencian dari belakang. Mereka diam-diam, dibalik layar, mengkaji tentang keburukan hizbut tahrir (menurut versi mereka, tanpa pernah mencari tahu apakah memang benar demikian, memang benar buruk) dan mencap saudara sesama muslim nya sebagai pengikut aliran sesat, hanya karena menurut mereka negara islam itu sudah ada (Saudi arabia) dan tidak perlu lagi didirikan negara islam lainnya, hanya karena kesalah-pahaman tentang materi qadha dan qadar.” Orang-orang inilah yang sebenarnya cocok diberikan label perusak ukhuwah, tukang sebar fitnah tak berdasar, penebar kebencian terhadap sesama muslim. Tapi yang selama ini yang diberikan cap jelek itu siapa? Selalu hizbut tahrir. Kenapa? Karena apa yang dibawa hizbut tahrir itu terkesan ‘gila, aneh, utopis, tidak real, tidak relevan untuk keadaan masyarakat’ bagi sebagian orang.

Ada pula yang mengatakan HT Cuma ngomong doang, bisanya hanya menyebarkan kebencian dan menjelek-jelekkan saudara sesama muslim sendiri. Ya Rabbi, pemikiran seperti ini lebih tidak bijak lagi. Sekarang jika saya tanya balik, pernah HT itu menyebarkan aib pribadi si fulan atau fulanah? Pernah kami menjelek-jelekkan fisiknya, mengorek-ngorek aib keluarganya seperti yang dilakukan oleh para pelaku black campaign? Pernah? Coba diperhatikan lagi, ditelaah lagi, apa sih yang biasanya kami lakukan? Kami memprotes kebijakan mereka, terutama kebijakan yang bertentangan dengan islam, bertentangan dengan hukum Allah, bertentangan dengan syariat, itu yang kami lakukan. Jika semua orang hanya boleh bicara lemah lembut, lantas siapa yang akan bicara dengan lantang dan tegas mengatakan “Ini HARAM, ini tidak diperbolehkan dalam Islam! Tinggalkan ini, jangan ikuti lagi. Mari kembali pada jalan Islam yang lurus.” Bukankah itu namanya nahi mungkar, mencegah dari kemungkaran, menyuarakan contoh-contoh kemaksiatan terhadap Allah di tengah-tengah masyarakat agar mereka sadar bahwa “oh iya, ini salah, harusnya kita sebagai muslim tidak begini.” Dan apakah kami hanya bisa protes-protes di jalan dan di sosmedd saja? Jelas tidak. Hizbut tahrir itu sudah sering, bahkan terlalu sering, mendatangi langsung oknum pemerintah yang bersangkutan, untuk memberikan nasehat agar mereka tidak melakukan hal-hal yang dibenci Allah dan dilarang agama. Tapi tak pernah digubris oleh si bapak-bapak dan ibu-ibu penguasa itu. pernah ada yang tahu metode kami yang seperti ini? Pernah di blow up media? Hanya demo-demo nya saja mungkin yang di blow up, agar kelihatan jeleknya hizbut tahrir di hadapan masyarakat. Tahu sendiri lah media yang ada sekarang sudah di setting dengan sedemikian rupa, sesuai permintaan pemilik kepentingan, “by request” istilahnya.

Saya pernah mendapatkan perumpamaan yang bagus sekali dari musyrifah (guru ngaji) saya tentang perbedaan gaya dakwah Umar bin Khattab dan Abu Bakar Asy Syidiq. Abu bakar adalah orang yang lembut sekali hatinya, lembut tutur katanya, hampir tidak pernah marah. Sedangkan Umar adalah orang yang tegas, keras, garang terhadap kemaksiatan, bahkan Syaithan pun takut padanya, sedikit-sedikit pedang, sedikit-sedikit pedang. Lantas apakah kemuliaan abu bakar jauh lebih tinggi dibanding umar bin khattab hanya karena sifatnya yang jauh lebih lembut dalam berdakwah? Tentu tidak. Setiap orang itu punya gaya bahasa dan penyampaian yang berbeda-beda, ada yang lembut, ada yang senang menjelaskan panjang lebar, ada yang penjelasannya singkat padat dan jelas, dan ada yang tegas, terkesan saklek dan keras. Apakah yang keras itu salah? Selama yang ia suarakan adalah amar maqruf nahi mungkar, semafhum saya tidak ada yang salah. Toh tidak sampai merusak fasilitas umum kan? Palingan hanya menyindir sedikit lewat tulisan.

Ada pula beberapa orang yang tiba-tiba muncul untuk menanyakan ini dan itu, saya kurang tahu maksudnya memang ingin tahu, atau ingin mengetes kemampuan, atau untuk mengajak berdebat. Tapi ketika saya tawarkan untuk melanjutkan diskusi dengan tatap muka langsung dengan anggota HT, mereka semua kabur, hilang entah kemana, bahkan ada yang tiba-tiba meng’unfriend’ saya di sosmed, padahal hubungan persahabatan itu sudah lama sekali terjalin, dan tiba-tiba terputus karena masalah sepele, yaitu “mempersilahkan agar dakwahnya di oper ke rekan yang sesama ikhwan, agar bisa lebih leluasa untuk diskusi, tidak menimbulkan fitnah jika maunya hanya diskusi dengan akhwat saja”. Hadeh…saya benar-benar tidak paham dengan yang begini ini.

Memang sulit, sulit sekali berdakwah untuk kembali pada syariat islam di tengah-tengah masyarakat yang sudah sangat sekuler ini. Pemisahan agama dengan kehidupan yang terjadi sudah benar-benar mengakar, karena mereka sudah ‘terbiasa’ hidup dalam kondisi seperti itu sejak kecil. Setiap segi kehidupan sudah sekuler, agama hanya diletakkan di masjid, tidak boleh dibawa-bawa keluar.

Untuk para pengemban dakwah yang membaca tulisan saya ini, saya mohon, jangan patah semangat untuk terus menyuarakan perbedaan yang haq dan yang bathil. Biarlah satu dua orang menjadi pembencimu, do’akan saja Allah membuka pintu hatinya untuk kelak menjadi orang yang terdepan membela agama Allah. Toh kita berjuang bukan untuk kepentingan golongan kan? Tapi untuk kemenangan islam. Jadi demi agama ini, mari kuatkan semangat dan tekad untuk terus berdakwah di jalan Allah. Semoga kita tetap istiqomah. ^_^

Anda Menolak Penerapan Syariat Islam??? Taubat aja deh, mumpung ada waktu…

berikut beberapa alasan2 “penolakan” kaum muslimin trhdp penerapan syariat islam :

(dikutip dari status seorang teman di akun FB nya)

  1. indonesia bukan negara islam jadi tidak bisa menerapkan syariat islam. memang betul indonesia bukan negara islam, justru itu kita perjuangkan supaya jadi negara islam, masak orang kafir aja berbondong-bondong menyeru kita untuk masuk ke agamanya, sampai bawa misionaris ke daerah2 terpencil, terus kita ummat muslim ini mau kalah? aduh nggak banget deh. hukum mendirikan daulah islamiyah (negara islam) fardlu sekaligus wajib jg bagi kita membai’at (mengangkat) seorang khalifah yaitu pemimpin umat islam, krn ini dicontohkah oleh rasulullah kemudian berdirilah negara islam pertama di Madinah. masak contoh dari rasulullah mau dijadikan “sejarah” aja? kalau cuma sejarah, berarti tata cara shalat, puasa, zakat dll jg cuma sejarah dong? ini nama nya mengambil yg mana disuka dan meninggalkan yg tidak disukai atau dianggap berat. ‪#‎Muslim‬SetengahHati
  2. indonesia itu plural terdiri dari berbagai macam agama suku dll. siapa bilang aturan islam cuma untuk islam dan hanya untuk suku tertentu saja? aturan islam itu dtg dari Tuhan (aturan nya pasti sempurna, TUHAN LHO YG TURUNKAN, masih berani pake alasan PLURAL?). Allah swt berfirman : islam adalah rahmatalilalamin (rahmat bagi sekalian alam), berarti kelompok ini secara tidak langsung mengatakan “Allah bohong” atau “Allah tidak benar”? ‪#‎mungkin‬, hanya mreka yg tahu
  3. kalau kita terapkan syariat islam kita akan digempur Mama rika dan wahyudi serta konco2 nya, berani sama mereka? jelas mreka kebakaran jengkot dan tidak akan pernah ridho islam bangkit dan bersatu, mreka akan tetap menggiring kita dg budaya2 nya (ultah, valentine, budaya pacaran , khalwat, ikhtilat dll) smpai kita mengikuti millah (agama) mreka, solusi nya adalah kita umat islam harus kuat, jangan anggap remeh thalabun-nusrah (minta dukungan politisi,ekonom dan yg penting jg adalah militer), memang tidak gampang tp itu tahap akhir perjuangan rasulullah dan kalau memperjuangkan secara instan (read: masuk parlemen), jika belum ada thalabun nusrah, percuma, malah jadi senjata makan tuan, seperti FIS di aljazair, IM di mesir, dan partai2 dari saudara muslim kita yg lain justru tumbang krn militer mreka sendiri.

Diskusi sore yang bermanfaat bersama Ust. Ismail Yusanto

Sore ini, selepas acara Konferensi Islam dan Peradaban selesai diadakan dengan sukses (alhamduillah) di aula graha bakti praja, kami para anggota HTI seluruh lombok diberikan kesempatan untuk berdiskusi langsung dengan almukarrom ustadz Ismail Yusanto, juru bicara Hizbut Tahrir Indonesia yang terkenal dengan ketegasannya dalam menyampaikan materi-materi dakwah. Tapi ternyata, setelah mendengar cerita-cerita dan tausyiah beliau mengenai perjuangan dakwahnya selama 25 tahun ini, beliau tidak melulu menggunakan tata bahasa yang tegas dan saklek, tapi kita diajak berdiskusi ringan dan santai, dalam suasana yang nyaman sambil duduk bersama-sama. Beliau sesekali juga mengeluarkan beberapa celetukan-celetukan lucu yang membuat kami cengengesan atau tertawa kecil. Dalam diskusi singkat tersebut, beliau membagi beberapa tips yang bermanfaat agar kita, para pengemban dakwah ini, tetap semangat dalam berdakwah, tapi juga dapat mengimbanginya dengan kehidupan di lingkungan bekerja, belajar, rumah tangga, dan lain sebagainya, diantaranya yaitu:

  1. Dalam rencana berumah tangga, kita sebaiknya mencari calon pasangan yang memiliki visi dan misi yang sama. Nahhh….ketika ust. Ismail menyampaikan tips yang ini semua syabab/syabah sepertinya pada cengengesan sendiri deh, entah membayangkan apa atau siapa. hehehe. Beliau mengatakan, visi misi yang harus disamakan itu ya sama-sama harus memiliki jiwa pejuang syariah dan khilafah, supaya rumah tangga itu bisa sejalan, bisa adem ayem, dan karena seperjuangan jadi nanti in syaa Allah bisa bertemu di surganya Allah. coba bayangkan jika calon pasangannya tidak sevisi-misi, yang satu pengen ngaji (halaqoh) yang satu nggak mau, atau malah yang lebih parah ada yang melarang pasangannya untuk halaqoh. yang satu sibuk ngontak tokoh masyarakat, yang satunya ribut karena pasangannya sering pergi ke luar rumah terus, nggak pernah ada waktu untuk keluarga, nggak pernah ada hari libur karena hari libur full dipakai untuk jadwal dakwah dan acara2 publik, padahal dakwah itu yang lebih penting, tapi karena punya pasangan yang tidak mengerti, malah jadi masalah. Yang ada malah pusing, nyusahin, bikin stress, ribet. (untuk tips yang satu ini saya bener-bener setuju deh ustadz, untuk saya ngurus diri sendiri aja masih susah banget buat istiqomah, yang sudah ikut halaqoh aja masih bisa melenceng, apalagi yang nggak pernah ikut halaqoh, nggak sevisi-misi, bisa berabe urusannye)
  2. Dalam kehidupan berumah tangga, ust. Ismail juga menyarankan untuk selalu membangun komunikasi. segalanya harus dikomuikasikan, biar sama-sama enak. jangan apa-apa dipendem. punya masalah, bukannya dibagi dengan pasangan agar bisa dibantu cari penyelesaiannya malah dipendem sendiri, susah-susah sendiri, stress sendiri, ujung-ujungnya berdampak pada keharmonisan keluarga juga nantinya. komunikasi itu sangat penting pokoknya.
  3. dalam berdakwah, kuncinya cuma ada 3: sabar, sabar, dan sabar. itu saja. tapi untuk bisa menjalankannya itu susaaaah sekali. sering sekali kita terbawa emosi jika menanggapi orang-orang yang nyinyir, nyindir, mencibir, menyangsikan pergerakan kita, dan lain sebagainya. padahal sabarnya Rasulullah saat disiksa fisik dan batin nya oleh kafir quraisy saja sampai tak terhingga. seharusnya kita berusaha melakukan hal yang sama. meskipun tidak 100% bisa sama dengan manusia se-mulia Rasulullah, paling tidak berusaha untuk menyamai. 🙂
  4. Kuatkan qolbu dengan sholat malam. itulah kunci keteguhan hati Rasulullah dalam berdakwah. selain itu jangan lupa banyak-banyak mengaji dan puasa senin kamis untuk semakin memperkuat qolbu. kalau kita sudah berusaha untuk sering qiyamullail, meskipun kita mulai melenceng dan tidak istiqomah di jalan dakwah, in syaa Allah akan cepat sadar dan taubatnya ketimbang tidak pernah melakukan amalan tersebut.