What Do You Actually Want In Your Life?

Akhir-akhir ini otak serasa sedang tumpul. Kepingin nulis sesuatu tapi nggak tahu harus memulai dari mana dan dengan intro seperti apa. Jadi saya coba-coba saja menulis. Kalau dibaca hasil nya kurang enak, harap dimaafkan dan dimaklumi…

– What Do You Actually Want In Your Life? –

Apa yang sesungguhnya kamu inginkan dalam hidupmu? Pernah tidak kalian coba renungkan hal ini, direnungkan dalam situasi yang tenang, dan bukan dibawah tekanan. Jawaban yang muncul dari dalam diri masing-masing kita pun pasti beragam. Ada yang ingin mengejar cita-cita hingga setinggi luar angkasa (jika kata ‘langit’ tidak cukup menggambarkan ketinggian angan-angan dan harapannya). Ada yang ingin bisa merasakan segala kemudahan dalam hidupnya, bisa makan enak setiap hari, punya rumah mewah, mobil berjejer di garasi, pekerjaan yang mapan dengan gaji yang bahkan berlebih jika patokannya untuk memenuhi kebutuhan tersier. Ada yang ingin suami sempurna, sempurna dalam artian benar-benar punya segalanya, kaya, tampan, mapan, baik hati, tidak sombong, rajin menabung, dan lain sebagainya. Ada yang keinginannya hanya satu, ingin terus mendekatkan diri pada Allah, dan seluruh hal yang ia lakukan dalam hidupnya ingin disandarkannya pada penilaian baik menurut Allah. Ada pula yang tak punya jawaban sama sekali, cuma bisa senyum ketika diberikan pertanyaan seperti itu, tidak punya keinginan apa-apa, dan memilih prinsip hidup “mengalir seperti air”.

Sebenarnya, setinggi apapun kemauan dan harapan kita terhadap kehidupan dunia ini, pasti pada intinya kita hanya menginginkan satu hal, bahagia. Satu kata yang punya ribuan makna. Satu kata yang dicapai dan diusahakan dengan berbagai macam cara oleh masing-masing manusia. Standar bahagia setiap orang pun ternyata tak sama. Ada yang bahagia nya disandarkan pada hal-hal bersifat materi keduniawian, ada yang diletakkan pada hubungan sosial dengan sesama manusia, dan ada pula sekelompok orang yang menancapkan standar bahagianya pada hubungannya dengan Sang Pencipta. Kita semua diberikan keleluasaan oleh Allah untuk menentukan pilihan tentang apa yang sebenarnya kita inginkan dalam hidup, standar bahagia seperti apa yang kita pilih, dan bagaimana cara kita untuk mengusahakannya. Namun bukan berarti keleluasaan itu tidak dibarengi dengan konsekuensi. There will always be a reward or punishment in every decision we made, yang telah ditetapkan Allah untuk setiap manusia, yang merupakan hasil akhir atau konsekuensi dari setiap pilihan yang kita buat dalam hidup.

Tak mudah memang menentukan pilihan, memilih standar bahagia yang tepat, dan mencari apa yang sesungguhnya kita inginkan dari hidup yang hanya sekali dan sementara ini, ditengah gempuran berbagai gaya hidup manusia yang ada sekarang, benar-benar tak mudah. Kadang walaupun kita tahu mana jalan yang akan membawa kita pada ‘bahagia’ yang paling tepat, tetap saja ada kalanya kita menikung, memilih jalan yang salah. Tapi masih saja Allah berbaik hati memberi kita waktu untuk kembali merenung, kembali menata hati dan jiwa, kembali menentukan pilihan. Semoga kita ditetapkanNya pada pilihan-pilihan keinginan yang senantiasa mengantarkan bahagia menurut standar yang dibenarkan oleh syariatNya. In syaa Allah….

My Heart is with ALEPPO

Apa yang saudara muslim kita alami di aleppo sudah di luar batas kewajaran yang.bisa diterima akal dan nurani.manusia. Apa yang di lakukan rezim bashar Assad terhadap rakyatnya sendiri sudah amat sangat biadab! Begitu sakit rasanya setiap kali menyaksikan video2 yang menggambarkan kondisi terakhir di sana. Ibu terpisah dari anaknya, anak-anak bayi yang bahkan belum mengenal apa itu dosa harus meregang nyawa, para wanita yang tak sudi kehormatannya di lucuti pengikut ashad memilih untuk bunuh diri, suami yang menggotong tubuh istrinya yang sekarat untuk mencari pertolongan medis tapi tak menemukan satu dokter pun di kawasannya yang masih tersisa hingga akhirnya sang istri menghembuskan nafas terakhirnya. .

Ya rabbi…apa yang tengah terjadi pada umat ini? Dimana lagi rasa kemanusiaan di letakkan oleh Ashad dan Pemimpin Amerika serta Rusia yang menjadi pendukungnya? Kapankah umat ini akan menang dan merasakan hidup yang damai di bawah naungan hukum syariatMu, tanpa ada satu negeri kafir pun yang bisa menginjak-injak kehormatan kami?

Mungkin sebagian kita berpikir bahwa.hanya doa dan bantuan dana saja lah yang bisa kita berikan untuk mereka saat ini. Namun sesungguhnya masih ada satu hal penting yang kita lupakan. Yakni dakwah. Dakwah agar umat muslim mau merasakan sakit yang sama seperti di hati mereka seperti yang saat ini dirasakan oleh saudara2 kita di aleppo, iraq, afghanistan, rohingnya, dan daerah2 konflik lainnya. Dakwah agar umat muslim paham bahwa semua penindasan yang saat ini umat rasakan karena tidak adanya persatuan umat di seluruh dunia. Umat islam terpecah-pecah dalam.sekat nasionalisme, terkukung dalam wilayah teritori, terbagi menjadi 54 negara, yang tidak satupun pemimpin negaranya mau membela umat muslim negara lain dengan mengirim pasukan nya, hanya karena pemikiran “urusan dalam negeri suriah tidak mungkin bisa di campuri” lantas merasa cukup hanya dengan mengirimkan kecaman, memutus hubunga diplomatik dengan rusia, dan kebijakan2 lainnya yang sebenarnya tak akan berdampak banyak pada nasib umat ini.

Berdakwahlah, agar umat ini merindukan kejayaan islam. Agar umat ini merindukan nikmatnya.hidup dalam naungan syariat islam. Berdakwahlah agar mereka paham bahwa dulu umat islam pernah bersatu, menguasai 3/4 dunia, dalam satu kepemimpinan, dengan di atur oleh hukum islam, dan di saat itu semua rakyat merasakan betul apa yang sering kita sebut sebagai “rahmatan lil ‘alamin”. Berdakwahlah, agar terketuk hati para pemilik kuasa, para pemimpin pasukan keamanan di tiap2 negeri muslim, untuk bersatu, dan menyelamatkan saudara2 kita yang saat ini tak harus meminta tolong pada siapa…

 

Pelarangan Jilbab, peci dan Bank Syariah di Bali –> Apakah ini yang namanya TOLERANSI ?!

Allah, Tuhan ummat muslim, telah berfirman “lakum diinukum waliyadiin” yang artinya “Untukmulah agamamu, dan untukku lah agamaku”

Pelarangan berhijab di BALI menjadi bukti bahwa ‘toleransi’ beragama yg selama ini di gembar gembor kan tidak berlaku sama sekali untuk islam minoritas. Hak seorang wanita muslim untuk menjalankan kewajiban agamanya direnggut oleh orang2 yang pro demokrasi, orang2 yang ‘katanya’ mengusung kebebasan.

jika hal seperti ini terjadi pada umat muslim, kemana lari nya aktivis HAM yang selama ini selalu koar2 mengatakan islam agama yg tidak toleran tanpa pernah mau tahu ajaran islam yang sesungguhnya? Dimana diletakkan kebebasan untuk umat islam?! Giliran ada sekolompok penganut agama lain yg memaksa mati-matian ingin mendirikan rumah ibadah di pemukiman muslim dengan cara memalsukan tanda-tangan perizinan warga, malah dibela sampai kabar beritanya menyebar ke luar negeri. Sebenarnya yg tidak punya dan tidak paham toleransi itu siapa? kita lihat apakah ada media TV yang berani memberitakan hal ini secara ‘proporsional’ dan tidak semakin memojokkan ummat muslim?! setahu saya sampai detik ini BELUM ADA media TV yang BERANI menyoroti hal ini! yang disoroti masih itu-itu saja –> isu ISIS dan KHILAFAH. (tanya kenapa??!!)

lagi-lagi Allah memberikan tamparan untuk ummat muslim (terutama yg hidup di indonesia) dengan kejadian ini. Ketika kita hidup dalam lingkungan mayoritas islam dan tidak ada tekanan apa-apa dari pihak mana pun terhadap hak-hak kita dalam menjalankan hidup, mungkin itu akan membuat kita malah lalai menjalankan aturan2 agama. Tak mau peduli yang namanya syariat islam, tak mau peduli akan usaha orang2 yang getol menyuarakan penerapan syariat islam dalam bingkai khilafah islamiyah. Malah senang-senang saja menjadi pendukung sistem kufur demokrasi. Tapi lihatlah bagaimana kondisi saudara2 kita yang hidup sebagai minoritas di daerah dengen penduduk yang kebanyakan beragama lain. Atau yang hidup dalam tekanan dari bangsa lain. Bandingkan keimanan dan ketakwaan mereka dengan kita. Bandingkan kekuatan niat dan keistiqomahan mereka dalam menjalankan syariat islam dibanding kita. Tidak kah seharusnya kita malu?!

Semua episode buruk yg terjadi pada ummat muslim ini terjadi bukan tanpa maksud apa-apa, tapi Allah sedang benar2 menegur kita, marah pada kita. Bagaimana bisa seseorang yg mengatakan diri muslim dan mengatakan agamanya adalah agama yg sempurna lantas tidak mau melaksanakan aturan agamanya? Bagaimana bisa seseorang yg mengatakan “AlQur’an adalah penuntunku” lantas tidak mau melaksanakan apa yang tertuang dalam Al Qur’an? Tidak mau pula mengusahakan agar seluruh umat muslim di dunia ini (bukan hanya dirinya) bisa menjalani hidup yang sama damainya dengan dirinya, bisa merasakan ketenangan dan keleluasaan dalam menjalankan ajaran agama seperti dirinya? Atau, apa perlu Allah membalikkan kondisi kita yang saat ini masih bisa berleha-leha, diubah seketika menjadi berada di sisi tertindas untuk membuat kita menyadari kesalahan kita? Sungguh mudah bagi Allah untuk melakukan itu jika Ia berkehendak.

Maka dari itu, sadarlah. Bukalah mata dan hati kalian bahwa ummat ini membutuhkan khilafah. Membutuhkan sebuah sistem kenegaraan, sistem pemerintahan yang dijalankan dengan ajaran islam agar setiap muslim mampu menjadi islam yg kaffah. Tak akan pernah surut langkah kami untuk menyuarakan penegakan syariah dan khilafah sampai seluruh umat sadar betul bahwa tidak ada lagi yang bisa menolong mereka selain Allah, tidak ada lagi yang bisa merubah kondisi mereka selain menerapakan hukum2 Allah. Berharap pada demokrasi? Ah sungguh itu hanya bualan pemimpi. Yang peka melihat fakta dan mengambil ibroh dari segala kejadian in syaa Allah tahu betul bahwa sistem ini ya memang sudah rusak. Tidak bisa diperbaiki lagi. Yang berusaha untuk memperbaiki mobil yang rusak nya parah malah akan ikut meledak di dalam mobil itu.

Pengemban dakwah syariah dan khilafah pun saat ini sedang diuji dengan isu global munculnya gerakan separatis berskala besar yang malah merusak keagungan khilafah dan makin mencoreng nama islam. Makin menjadi-jadi lah islamophobia dan makin menjadi-jadi pula cercaan terhadap umat muslim serta agama kita yang indah dan sempurna ini. Marilah satukan barisan bersama orang-orang yg istiqomah memperjuangkan agama Allah. Demi kemenangan islam. Demi kesatuan ummat ini. Demi kehidupan umat yang lebih baik di dunia dan akhirat

 

KHILAFAH ? ISIS ?

Tanggapan Syeikh Muhaisini Hafizahulloh Atas Deklarasi Khilafah Versi ISIS

ansharulislam.com, 14 Ramadhaan 1435H/ 12 Juli 2014.

Bismillaahirrahmaanirrahiim.

Setelah berbagai ulama jihad seperti Syeikh Abu Muhammad Al-Maqdisi, Sami uraidi, Abu Bashiir at-Turtusi, dll menanggapi munculnya khilafah versi ISIS dengan amirnya Ibrahim Abu Bakar Al-Baghdadi, kini giliran Syeikh Muhaisini yang dulunya banyak berkiprah sebagai “juru damai” antara ISIS dengan mujahidin lainnya angkat bicara. Sebelum menampilkan tanggapan beliau, berikut ini adalah biografi beliau yang menunjukkan beliau sebagai seorang ulama besar, dimana sampai sekarang beliau masih di medan tempur menghadapi bashar assad laknatulloh ‘alaih.

Nama : Abdullah bin Muhammad bin Sulaiman Al-Muhaisini
Status : Sudah menikah
Tempat lahir : dilahirkan di Al-Qashim, di wilayah Buraidah.

  1. Menimba ilmu di Madrasah Ibtidaiyah di Al-Qashim sampai kelas 4.
  2. Kemudian pindah ke Mekah dan tinggal disana, serta menyempurnakan pendidikan ibtidaiyah disana.
  3. Melanjutkkkan pendidikan di Ma’had Ilmi Al-Haram Al-Makki Asy-Syarif, serta menyempurnakan hingga tingkat Mutawashitah, lalu Tsanawiyah. Lulus dari tingkat Tsanawiyah dengan peringkat Mumtaz dengan nilai 9,6
  4. Melanjutkan pendidikan di Perguruan tinggi Ummul Qura, jurusan Syariah Islamiyah, dan lulus dengan gelar Bachelorius dengan peringkat mumtaz, berderajat Asyarof –Al-Ula (Peringkat terbaik pertama), dengan nilai 3,80 dari nilai tertinggi 4.
  5. Melanjutkan pendidikan di Jamiah imam Muhammad bin Saud Al-Islamiy di Riyadh (Ma’had Aliy untuk peradilan), lalu Pasca sarjana jurusan Fiqh muqoronah (perbandingan Fiqh), dan lulus dengan peringkat mumtaz juga.
  6. Doctoral pada bidang Fiqh Muqoronah, dengan judul risalahnya “ Al-Ahkam Laaji-I AlHarb fi Al-Fiqh Al-Islamiy (Hukum Suaka pada peperangan menurut Fiqh Islam).

KEHIDUPAN ILMIYAHNYA :

  1. Telah hafal Al-Quran saat usia 15 tahun.
  2. Menimba ilmu pada Dauroh-dauroh Hifzhus-Sunnah kepaa Syekh Yahya bin Abdul Aziz Al-Yahya Hafizhahullah, dan pada rentang waktu itu beliau menyelesaikan hafalan Ash-Shahihain (Al-Bukhari dan Muslim-pent), juga Kutubul –Arba’ah (sunan abu dawud, an nasai, at tirmidzi dan ibnu majah),  juga kitab Muwatha imam Malik, juga kitab Ad-Darimi, yang mana beliau hafal semua itu tidak lebih dari 7 tahun mampu hafal 8000 hadits. Dan Syekhnya telah menugaskan beliau direntang waktu itu untuk mengajarkan ilmu-ilmu ini dan memberikan izin kepadanya, dengan nilai mumtaz tingkat tinggi.

Beliau belajar dari sejumlah Ulama, diantaranya :

  1. Syekh Abdullah bin Jibrin Rahimahullah.
  2. Syekh Abdullah Al-Ghunaiman Hafizhahullah
  3. Ulama Ahli Hadits, Syekh Sulaiman Al-Ulwan Hafizhahullah
  4. Syekh Abdurrahman Al-Barok Hafizhahullah
  5. Syekh Sulaiman Al Majid Hafizhahullah
  6. Syekh Ya’qub Al-Bahasan Hafizhahullah
  7. Syekh Yusuf Asy-Sibli Hafizhahullah
  8. Syekh Saad Asy-Syatyri Hafizhahullah
  9. Syekh Abdul Karim Al-Khadhir Hafizhahullah
  10. Dan ulama-ulama lain dari Ahlul-Ilmi dan keutamaan, Hafizhahumullah.

Mengikuti kajian-kajian ilmiyah, diantaranya : 

1.       Dauroh Syekhul Islam Ibnu Taimiyyah di Riyadh.
2.       Dauroh Syekh Ibnu Utsaimin di Anazah.
3.       Dauroh Jami Ar-rojihi, di Buraidah.
4.       Dauroh –dauroh Jami syekh Bin Baz di Mekah.
5.       Menempuh perjalanan ke Mauritania untuk menghafalkan Alfiyah dan mempelajari Syarhnya, juga mempelajari Ushul Fiqh.

Hafal sejumlah matan kitab, diantaranya :

1.        Sab’ah, pada kajian-kajian Syekh Yahya al-Yahya (seperti dijelaskan dimuka)
2.       Alfiyah imam malik
3.       Kitabut-Tauhid
4.       Bulughul maram
5.       Ar-Rahbiyah

Perjalanan Dakwahnya : 

Mengikuti berbagai macam kegiatan dan aktifitas Dakwah, diantaranya :
1.       Bergabung di lembaga dakwah di Aziziyah wal ‘Awaliy selama 5 tahun melaksanakan kegiatan-kegiatan dakwahnya yang banyak.
2.       Ikut serta dalam pembekalan Almushalat almutanaqilah antara Mekah dan Jedah
3.       Menyampaikan dakwah di ceramah-ceramah di dalam negeri Saudi.
4.       Menyampaikan materi ilmiyah dalam bidang Aqidah dan Ushul, Fiqh dan Tafsir
5.       Mengimami shalat tarawih lebih dari 7 tahun.
6.       Sebagai imam dan Khatib untuk masjid Alu Tsani.
7.       Mengikuti musabaqoh antar perguruan tinggi di Negara-negara teluk dalam hafalan As-Sunnah, dan beliau memperolah markaz kedua bagi Ummul Qura.

Data ini diambil dari situs resmi syekh Al-Muhaisini yang memuat biografi beliau, bisa di lihat di : http://mhesne.com/index.php?option=com_content&view=article&id=59&Itemid=121

Demikian secara ringkas biografi beliau, kemudian kami tampilkan tanggapan beliau tentang “khilafah” versi ISIS yang beliau beri judul:

KAMI MENGINGINKAN KHILAFAH ‘ALA MINHAJIN NUBUWWAH

Oleh : Syaikh Abdullah Al-Muhaisiny

Saya sebelumnya telah men-tweet memutuskan untuk mencukupi diri sendiri dalam hal apa yang saya klarifikasi berkaitan dengan Jama’ah al-Baghdadi. Namun sebuah insiden, dan saya memohon kepada Allah untuk metoleril para mujahidin, insiden itu adalah pengumuman khilafah oleh Jama’ah al-Baghdadi.

Sekelompok saudara bersikeras bahwa saya harus memperjelas sikap saya secara syar’i, bijaksana, jauh dari sengketa yang sedang berlangsung, jauh dari emosi, dan hanya untuk kebaikan Islam. Jadi saya katakan, dengan mengharap bantuan Allah, melalui tweet-tweet yang berjudul “Nuriduha ‘Ala Minhajin Nubuwwah” (Kami menginginkan Khilafah ‘ala Minhajin Nubuwwah) :

PEMBUKAAN

Untuk berjuang menuju pembentukan khilafah atas manhaj kenabian, yang mana ummat Muhammad SAW dihinakan dan direndahkan ketika meninggalkan jihad, para ulama’nya merendahkan dirinya untuk menjadi ulama yang diundang oleh para penguasa dan membuat hukum sesuai pesanan mereka, diminta agar mengeluarkan fatwa sesuai keinginan mereka, Wallahu musta’an.

Jadi (mengatakan bahwa) kembali kepada khilafah dan berjuang untuk itu adalah kewajiban yang paling utama, yang mana kekuatan kaum muslimin terletak pada kesatuan dan hubungan mereka, dan karena itu negara-negara Eropa yang sangat ingin memecahkan kesatuan Muslim dengan memberlakukan batas Sykes-Picot. Maka dari itu, tidak ada pendirian Negara Islam dalam artian Negara Islam sebenarnya kecuali melalui khilafah dan tidak ada keselamatan yang sebenarnya bagi kaum Muslimin kecuali melalui khilafah.

Dan saya katakan di sini kepada semua orang yang di dalam hatinya bersarang penyakit wahn, wahai kalian yang terkejut dengan goyahnya kekuatan Barat, dan berpikir bahwa untuk mengejar khilafah adalah khayalan dan imajinasi, kami katakan kepada mereka : Ketahuilah bahwa khilafah akan kembali, dan kami bersumpah dengan Yang tiada Ilah melainkan Dia, bahwa khilafah dan ‘izzah ummat akan kembali. Itulah janji Nabi kita SAW, kalian melihatnya jauh dan kami melihatnya dekat.

Kalian sedang melihat dari perspektif dunia, dan kami melihat perubahan situasi Tunisia kemarin dan kemudian Dia (Allah) yang memasukkan penguasa Mesir (Mubarak) ke penjara, dan kemudian Dia menjadikan yang sebelumnya dipenjara menjadi penguasa (Morsi) dan kemudian kembali Dia penjarakan penguasa itu (Morsi). Memang hanya Dialah yang mampu mengubah kondisi ini, dan tentu saja Dia mampu mengubah kondisi umat Islam saat ini dengan mengatakan “kun Fayakun”. Selain itu, kita hanya dituntut untuk berusaha, sementara hasil maka itu adalah urusan Allah SWT.

Namun meskipun begitu, kami katakan bahwa khilafah yang sedang kita upayakan dengan segenap upaya ini adalah Khilafah yang telah dijanjikan oleh Nabi SAW yang merupakan khilafah “’Ala Minhajin Nubuwwah”.

Adapun selain itu yang ada hanyalah penguasa-penguasa yang zalim, yang umat telah bosan dan telah mengalami penderitaan selama beberapa dekade.

Sesungguhnya mengklaim label khilafah tanpa memenuhi persyaratan-persyaratannya hanyalah yang mencederai perasaan umat Islam, mengeksploitasi emosi mereka dan merugikan agama Allah.

Pengumuman khilafah oleh Jama’ah al-Baghdadi bukan kasus yang pertama, sudah banyak yang mengumumkan seperti itu. Di Aljazair, mereka mengumumkan khilafah dan melawan umat, dan kemudian Barat dan agen-agennya bersukacita atas terjadinya fitnah itu.

Dua tahun lalu, “khilafah” telah diumumkan oleh Abul Banat dan teman-temannya di Suriah, mereka menuntut bai’at, mereka mengisolasi diri dari syura dari umat dan kita lihat, mereka hancur!

Begitu juga di Afghanistan, mereka (juga) mengumumkan “khilafah”, mereka keluar melawan mujahidin, dan memaksa kaum muslimin membai’at mereka. Mereka berjuang, dibunuh dan tewas!

Apa yang harus dipertimbangkan bukanlah menaikkan slogan khilafah, akan tetapi memenuhi persyaratannya. Dan yang harus menjadi pertimbangan adalah bahwa hal itu harus sesuai dengan manhaj kenabian, kalau tidak, kita akan gagal.

Dan di sini kita hari ini, menghadapi berbagai kemungkinan terpecahnya barisan mujahidin, ada upaya untuk mengubur jihad dan untuk memperpanjang perselisihan, perpecahan dan pertumpahan darah. Ya Allah, hanya kepada-Mu kami mengadu.

Hari ini, Jama’ah al-Baghdadi mengumumkan “khilafah tidak hanya di ‘Irak dan Syam, melainkan di seluruh dunia dari timur ke barat, walaupun tidak ada ulama’ jihad yang mengakui!”.

Kepada kalian orang-orang yang jujur, takutlah kepada Allah, ini adalah upaya yang berkali-kali dilakukan untuk mengubur jihad dan menjauhkan umat dari kelompok-kelompok jihad, para ulamanya, para intelektualnya, dan sungguh kalian akan dipinta pertanggung jawaban di depan Allah Tuhan semesta alam.

Wahai pencari kebenaran, para ulama’ telah menetapkan bahwa penguasa mendapatkan kekuasaan dengan salah satu dari tiga cara:

  1. Penunjukan oleh penguasa sebelumnya
  2. Bermusyawarah dengan metodologi kenabian
  3. Menaklukkan

Adapun poin yang pertama itu tidak mungkin, sehingga tinggal dua poin, bermusyawarah dan memenangkan daerah.

Adapun bermusyawarah, yang merupakan metodologi Nabi SAW yang telah dijanjikan oleh Nabi SAW, bahwa khilafah akan kembali dan itulah yang saat ini kita lakukan, menumpahkan darah di jalan Allah untuk menegakkan kembali khilafah, dan hal ini juga tidak terdapat dalam proses penegakan “khilafah” ‘ala al-Baghdadi.

Agama telah menetapkan untuk setiap ibadah ada persyaratan dan larangannya sehingga amal ibadah tidak dilakukan di tempat yang salah dan menyebabkan kerugian dan tidak bermanfaat, bahkan jika itu menarik bagi pelakunya dan berpikir bahwa dia berada dalam kebaikan, maka pelaku bid’ah dan Sufi ketika mereka menambah-nambahkan shalawat-shalawat mereka, doa-doa dan zikir mereka, dan berpikir bahwa mereka telah berbuat baik.

Seperti shalat itu ada waktunya dan persyaratannya, begitu juga dengan zakat, puasa dan haji. Jadi kecintaan dan keinginan kita untuk shalat, puasa, haji dan mendirikan khilafah tidak membawa kita melakukannya sesuka kita dan kemudian kita berasalan bahwa itu adalah bukti kecintaan dan keinginan kita dalam mengamalkan ibadah. Jangan sampai kita jatuh ke dalam bid’ah dan mengada-ngada dalam agama.

Sesungguhnya penegakan khilafah itu memiliki berbagai persyaratan, dan syarat yang terpenting adalah penegakan dan bermusyawarah. Penegakan yang hakiki  bukan hanya angan-angan, dan bermusyawarah cara Nabi bukanlah musyawarah dengan kelompoknya saja, namun bermusyawarah dengan umat. Khilafah itu milik ummat bukan milik suatu jamaah.

Dan keberadaan Al Baghdadi tidak bisa dikatakan pantas menjadi khalifah, karena salah satu persyaratan yang terpenting adalah memenuhi persyaratan dalam mendirikan khilafah, dan juga memilih Ahlu Halli wal Aqdi dari mereka yang dipilih oleh ummat. Karena sesungguhnya khilafah dalam sudut pandang syariah maupun fiqhiyyah berarti perwakilan, maka seorang khalifah haruslah seorang yang mewakili ummat.

Dan sesungguhnya pengangkatan ini tidak akan berlangsung syar’i, bijaksana dan arif kecuali ummat turut andil dalam memilih khalifah. Dan dalam hal ini, deklarasi khilafah yang dilakukan oleh satu atau segelintir jamaah tidaklah sah.

Apakah terpilihnya Al Baghdadi sebagai khilafah atas pilihan Mullah Umar, Syaikh Ayman Azh-Zhawahiri, amir Imarah Kaukasus, Syaikh Al-Wuhayshi dan lain-lain dari para pemimpin jihad? Apakah ia dipilih oleh ulama atau mayoritas dari mereka? Apakah ia dipilih oleh ahlul Halli wal Aqdi dari kalangan mujahidin dan orang-orang selain mereka? Karena kita tidak mencari khilafah untuk mujahidin saja, tapi khilafah untuk umat. Maka di sini ada pertanyaan, apakah “khilafah” Al-Baghdadi merupakan sebuah khilafah untuk ummat ini atau khilafah untuk jama’ahnya sendiri?

Wahai pencari kebenaran, (bahkan) mengakui kepemimpinan atas daerah tertentu tidak diperbolehkan kecuali dengan konsultasi rakyat yang berpengaruh di daerah itu, dalam hal ini Ahlul Halli wal Aqdi di daerah itu. Bukankah Allah mengatakan : “dan urusan mereka (dilakukan) dimusyawarahkan di antara mereka bersama”?Bukankah Rasulullah SAW bersabda : “Jikalau aku diperintahkan untuk menunjuk siapa pun tanpa konsultasi maka aku akan menunjuk ibn Mas’ud”?

Maka dari itu perlu adanya perwakilan Ahlul Halli wal aqdi pilihan umat.

Sesungguhnya pemilihan Ahlul Halli wal Aqdi itu bukan dipilih dari golongan mereka sendiri. Mereka mengangkat orang-orang dari jamaahnya menjadi dewan syura kemudian mengklaim diri mereka adalah Ahlul Halli wal Aqdi, itulah adalah yang dilakukan oleh para thagut, bukan cara-cara khilafah.

Siapakah orang-orang yang masuk dalam dewan syura itu? Siapa nama mereka dan apa kondisi mereka? Siapa yang mereka wakili dan siapa yang memilih mereka untuk memilih (khalifah tersebut)?

Deklarasi yang dikenal sebagai “Daulah Islam di Irak dan Syam” adalah kesalahan yang menyebabkan pertumpahan darah umat dan kesengsaraan, dan itu akan ditanggung oleh semua orang yang mendirikannya, mendukung dan berbai’at untuk itu.

Di sini kita hari ini, menghadapi pengumuman khilafah tanpa pembentukan atau musyawarah, ini adalah manhaj ahli bid’ah bukan manhaj kenabian. Jadi berapa banyak darah kaum muslimin yang akan tumpah karena itu?

Sesungguhnya saya melihat bahwa Al-Baghdadi tidak memiliki kekuasaan di sebagian besar Syam, seperti Alleppo, As-Sahil (wilayah pesisir), Homs, Damaskus dan di tempat lainnya. Jadi bagaimana dia mengumumkan khilafah untuk seluruh umat? Ini adalah demi Allah kesalahan yang fatal dan fitnah yang menyilaukan.

Kesalahan ini bahkan lebih mengerikan ketika didirikan dari darah dan pelanggaran kehormatan kaum muslimin, maka Al Baghdadi mendeklarasikan khilafah dan pengumuman bahwa semua orang yang tidak berbai’at kepadanya akan diperangi, yang akan menumpahkan darah para muwwahidin. Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang berbai’at dan mendukung “khilafah” untuk menumpahkan darah ini, kecelakaanlah bagi kalian saat kalian berdiri di depan Allah yang Maha Perkasa kelak.

Celakalah bagi mereka yang memecahkan barisan mujahidin di dunia Islam! Seolah-olah fitnah mereka akan mencapai Yaman, Maghreb dan Somalia, semoga Allah tidak mengizinkan hal itu, maka bersukacitalah Amerika dan agen-nya ketika itu terjadi!

Dari dilema tentang hal-hal yang tidak ada jalan keluar bagi orang yang jatuh tersebut, adalah pertumpahan darah Muslim tanpa alasan. Kami dan juga para mujahidin, demi Allah, tidak berangkat jauh-jauh untuk menumpahkan darah dan melanggar kehormatan kaum muslimin dan mujahidin lainnya, melainkan kami datang untuk menghapus penindasan, kufur dan fitnah. Maka bertakwalah kepada Allah dalam urusan dengan kaum muslimin.

Memang kurangnya konsultasi para mujahidin dan ulama adalah fitnah terbesar, ini akan menyebabkan pertempuran dan pertumpahan darah. Seandainya mereka kembali kepada para ulama sebagaimana yang diperintahkan Allah maka mereka pasti menang!

Jika tidak ada Khilafah yang sesuai dengan manhaj kenabian, maka yang ada hanyalah penaklukan dan perampasan, dan itu adalah aturan tirani bukan aturan khilafah seperti yang dijanjikan oleh Nabi SAW.

Dan jika mereka mengklaim bahwa kepemimpinan Al-Baghdadi tidak bisa dicapai melalui konsultasi tapi melalui pemaksaan, maka semua ulama’ telah bersepakat dalam memerangi pemimpin yang fasik, maka wajib memukul mundur dia di daerah-daerah yang tidak ia kuasai.

Jadi, jika kalian mengatakan bahwa dia penakluk dan pemenang, maka bila diasumsikan, bai’atnya di Raqqah disebabkan kekuasaannya di daerah itu. Namun daerah lainnya tidak melihat dia sebagai pemimpin tanpa melewati proses musyawarah, dan karena dia penakluk maka dia fasiq dan tidak boleh membai’atnya bahkan diharuskan untuk mengusirnya.

Dari apa yang telah disebutkan sebelumnya, berdirinya khilafah Al-Baghdadi bukanlah berdasarkan permusyawarahan Ahlul Halli wal Aqdi, melainkan sebuah bai’at yang bathil yang hanya menyengsarakan umat, memecahkan barisan mereka dan menumpahkan darah mereka.

PENUTUP

Wahai pencari kebenaran, deklarasi khilafah yang dilakukan secara sepihak tanpa berkonsultasi dengan para ulama dan kelompok-kelompok mujahidin lainnya, adalah deklarasi yang bathil, dan hanya menegaskan kepalsuan dari kelompok ini dan itu adalah pelanggaran terhadap hak-hak umat Islam lainnya.

Tujuan dari penunjukan seorang khalifah adalah untuk menyatukan kata, untuk menyatukan jamaah kita, untuk mendirikan agama, untuk melaksanakan keputusan dari Allah, untuk mengangkat penindasan dan untuk menyebarkan keadilan. Jadi saya bertanya kepada kalian, demi Allah, tindakan kalian ini menyatukan ummat atau memecah belah ummat?

Wahai pencari kebenaran, sesungguhnya orang yang mampu dan pantas dibaiat sebagai pemimpin adalah orang yang yang mampu menyebarkan kekuasaannya ke semua negara-negara Muslim, maka membai’atnya adalah wajib pada seluruh ummat.

Orang yang tidak memiliki kemampuan atau kekuasaan atas sebagian besar umat Islam, tanah mereka, sumber daya dan SDM mereka, maka orang ini tidak layak menjadi khilafah kecuali hanya nama.

Sesungguhnya kewajiban pemimpin dalam Islam lebih besar dan lebih dari sekedar menyenangkan dan memberi gelar untuk dirinya sendiri.

Apakah khalifah yang anda pilih mampu melindungi orang-orang Yaman, Somalia atau di tempat lainnya? Bagaimana dia bisa menjadi khalifah sementara ada hadits yang mengatakan: “Imam adalah perisai”??

Apakah dia benar-benar menjadi perisai bagi umat, yang ia mintakan bai’atnya dari mereka, dari segala sesuatu yang merugikan mereka atau menakutkan mereka, sedangkan Nabi SAW bersabda: “Imam adalah perisai”.

Menuntut ketaatan dan bai’at bagi orang yang yang tidak mampu mengurus urusan ummat yang jauh dari tempatnya adalah manifestasi dari ketidaktahuan mengenai tujuan dari khilafah dan tugas-tugasnya itu sendiri.

Sesungguhnya khilafah yang telah diumumkan tidak lebih dari menumpahkan lebih banyak darah dari Ahlu Sunnah, lebih banyak pelanggaran dan sebagai alasan untuk membunuh orang-orang yang menentang mereka dari mujahidin dan muwahhidin.

Ini berarti adalah upaya untuk menghilangkan dan memerangi kelompok lain selain mereka yang tidak setuju dengan keinginan “Daulah”.

Ini berarti adalah perang melawan Al-Qaeda dan cabang kelompok yang telah menggentarkan pemerintah Barat dan sekutunya, karena mereka tidak berbai’at kepada khalifah, dan dengan demikian terjadi perang melawan Ahlu Sunnah atas dalih menegakkan Sunnah!

Pengumuman khilafah berarti mengepung organisasi jihad sebelum mereka melangkah ke fase selanjutnya, yang berarti itu adalah perang melawan mujahidin atas nama agama!

Wahai pencari kebenaran, ketika kalian memberi label kepada semua orang yang menentang anda sebagai orang yang sesat, bahkan memerangi mereka, padahal mereka berasal dari mujahidin Ahlu Sunnah yang tulus, maka ini adalah tanda terbesar dari kesesatan kalian.

Wahai Jama’ah al-Baghdadi dan pendukungnya, sesungguhnya kata kebenaran yang kami sampaikan telah disampaikan sebelumnya oleh para ulama besar terdahulu, sesungguhnya ummat dan daulah Islam itu bukan hanya di Raqqah atau Mosul, ummat Islam itu lebih besar dari kalian dan kami, jadi takutlah kepada Allah dalam hal itu.

Bertakwalah kepada Allah dalam urusan kelompok mujahidin di Afghanistan, Yaman, Chechnya dan Maghreb, janganlah merusak jihad mereka.

Sesungguhnya agama Allah tidak dengan slogan yang berapi-api atau kata-kata yang mempesona, dan kalian akan mengetahui dampak dari tindakan anda beberapa saat lagi.

Dan bagi Allah segala urusan, sebelum dan sesudahnya.
Tanggapan beliau ini dapat dilihat pada situs resmi beliau: www.mhesne.com

Jawaban Bagi yang Meragukan Rasulullah Masuk Surga

N.B. semoga orang2 yang membaca artikel ini adalah orang yang benar2 ingin mencari ilmu, mencari tahu kebenaran karena sangat meyakini Beliau (Rasulullah) adalah manusia paling mulia yang semua dosa-dosanya telah dimaafkan oleh Allah, dan SUDAH DIJAMIN MASUK SURGA. jadi jika ada yang membaca artikel ini untuk mencari-cari kesalahan dalam penulisannya, dan kemudian melontarkan komentar yang ingin menyerang isi nya demi membenarkan pendapat pribadi bahwa “Rasulullah tidak dijamin masuk surga”, maaf, komentar anda tak akan saya terima dan akan langsung saya anggap sebagai spam!

Bukan masalah setinggi apa orang itu sudah mengkaji ilmu agama. Sungguh bukan itu yg menjadi masalah. Tapi kemuliaan seorang Rasul yg selama ini kita hormati dan kita cintai bisa dgn seketika hancur dgn satu kalimat yg dikeluarkan secara tidak hati2.

Jika kita tanyakan pada hati nurani kita yg notabene tidak sekolah agama sampai bergelar profesor ini “apakah kau yakin bahwa Rasulullah, manusia yg dianggap paling mulia oleh Allah, manusia yg dipilih Allah utk mengemban risalah agama ini untuk disebarkan kepada ummat manusia, manusia paling indah akhlaq nya, sudah dijamin Allah masuk surga?” seharusnya hati nurani yg paling lembut dan bersih ini mengatakan “ya. Saya YAKIN”

Maka tak akan lagi ada perdebatan diantara muslimin jika ada pernyataan yg aneh keluar dr lisan seseorang yg meragukan jaminan surga bagi Rasulullah, tak perlu lagi ada yg membela dan membantu orang itu menjelaskan dari mana dia mengambil sumber utk mnyokong pendapatnya. Sungguh. Siapa yg akan memberikan kita syafaat di akhirat kelak jika bukan Rasulullah?

Sungguh. Seharusnya kita malu pada Rasulullah. seharusnya rasulullah lah yg kita bela, buka siapa2 selain beliau. Beliau begitu menyayangi kita hingga di akhir hayatnya, ketika nyawa hampir dicabut dari jasadnya, yg dia sebut adalah “ummatku…unmatku…ummatku…”

Begitu besar sayangnya beliau pada kita. Mugkin jika ia masih hidup dan menyaksikan kita saat ini, dia akan menangis melihat kondisi ummat yg begitu ia sayangi ini malah memperdebatkan dan meragukan jaminan surga untuk beliau. Sungguh seharusnya kita malu…

Sholawat serta salam smoga slalu tercurah kepadamu ya nabiyullah. Maafkan kami, dan jangan masukkan kami ke dalam golongan org2 yg tak kau beri syafa’at kelak di padang mahsyar.

Tertanda, saudarimu, seorang manusia yg penuh khilaf dan salah, yg hanya ingin berusaha mengembalikan keyakinan dan kecintaan kita semua pada Rasulullah Muhammad SAW.

Berikut saya sertakan tulisan oleh ust. Bachtiar Natsir berjudul “Jawaban bagi yang meragukan Rasulullah masuk surga”

sumber: http://aqlislamiccenter.com/2014/07/18/jawaban-bagi-yang-meragukan-rasulullah-masuk-surga/

Syubhat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tidak dapat dipastikan masuk Surga bukanlah hal baru, keraguan seperti ini banyak disebarkan oleh orang-orang Nasrani dan tokoh sekuler dari kalangan muslim.

Untuk menjawabnya cukup sederhana; “Bukankah telah disediakan telaga Al-Kautsar atau telaga Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang disediakan bagi calon penghuni Surga?”.

Hadits yang sering mereka jadikan sebagai pintu masuk untuk merasukkan doktrin keraguan (tasykik) diantaranya adalah hadits riwayat Imam al-Bukhari di dalam kitab shahihnya dari hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah, dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam

»لَنْ يُنَجِّيَ أَحَدًا مِنْكُمْ عَمَلُهُ قَالُوا وَلَا أَنْتَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ وَلَا أَنَا إِلَّا أَنْ يَتَغَمَّدَنِي اللَّهُ بِرَحْمَةٍ سَدِّدُوا وَقَارِبُوا وَاغْدُوا وَرُوحُوا وَشَيْءٌ مِنْ الدُّلْجَةِ وَالْقَصْدَ الْقَصْدَ تَبْلُغُوا«
“Salah seorang dari kalian tidak akan dapat diselamatkan oleh amalnya,” maka para sahabat bertanya, “Tidak juga dengan engkau wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Tidak juga saya, hanya saja Allah telah melimpahkan rahmat-Nya kepadaku. Maka beramallah kalian sesuai sunnah dan berlakulah dengan imbang, berangkatlah di pagi hari dan berangkatlah di sore hari, dan (lakukanlah) sedikit waktu (untuk shalat) di malam hari, niat dan niat maka kalian akan sampai.”
Juga hadits Dalam riwayat Aisyah Radhiyallahu ‘Anha, dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, beliau bersabda :
»سَدِّدُوا وَقَارِبُوا وَأَبْشِرُوا فَإِنَّهُ لَا يُدْخِلُ أَحَدًا الْجَنَّةَ عَمَلُهُ قَالُوا وَلَا أَنْتَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ وَلَا أَنَا إِلَّا أَنْ يَتَغَمَّدَنِي اللَّهُ بِمَغْفِرَةٍ وَرَحْمَةٍ«
“Beramalah sesuai sunnah (istiqamah) dan berlaku imbanglah, dan berilah kabar gembira, sesungguhnya seseorang tidak akan masuk surga karena amalannya.” Para sahabat bertanya, “Begitu juga dengan engkau wahai Rasulullah?” Beliau bersabda, “Begitu juga denganku, kecuali bila Allah meliputi melimpahkan rahmat dan ampunan-Nya kepadaku.” (HR. al-Bukhari)
Dari hadits di atas, para penafsir dengan hawa nafsunya berdalih bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tidak memiliki jaminan masuk surga, baik untuk dirinya maupun umatnya.
Untuk membantah pemahaman salah tersebut, maka diperlukan pemahaman terhadap hadits dengan benar.
Dua hadits di atas mengandung hal yang mendasar dan menjadi kaidah yang penting. Hal mendasar dan sifatnya asas adalah bahwa amal perbuatan manusia tidak dapat menjaminnya untuk selamat dari api Neraka dan tidak pula dapat menjaminnya untuk masuk surga, karena masuk surga dan selamat dari api neraka disebabkan oleh ampunan dan rahmat Allah Subhanahu wa Ta’ala; karena seorang muslim meyakini dan mengimani bahwa segala sesuatu berada di Tangan Allah, dan hanya Allah sajalah yang mengetahui tempat kembalinya manusia.
Tidak seperti orang nasrani yang tersesat dengan mengimani bahwa yesus sang penebus, yang diantara ajarannya kepada pemeluknya : akuilah dosa-dosa kalian kepada para pendeta niscaya kalian akan diampuni, walaupun pendeta tersebut bukan orang yang lurus. Berbeda dengan seorang Muslim yang berkeyakinan bahwa seseorang tidak dapat menjamin dirinya masuk surga, bahkan dengan amal shalihnya sekalipun, karena seseorang masuk surga disebabkan rahmat dan ampunan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Banyak ayat-ayat al-Qur’an yang menerangkan hal diatas, di antaranya adalah :
)فَالَّذِينَ هَاجَرُوا وَأُخْرِجُوا مِنْ دِيَارِهِمْ وَأُوذُوا فِي سَبِيلِي وَقَاتَلُوا وَقُتِلُوا لَأُكَفِّرَنَّ عَنْهُمْ سَيِّئَاتِهِمْ وَلَأُدْخِلَنَّهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ( [آل عمران : 195]
Maka orang-orang yang berhijrah, yang diusir dari kampung halamannya, yang disakiti pada jalan-Ku, yang berperang dan yang dibunuh, pastilah akan Ku-hapuskan kesalahan-kesalahan mereka dan pastilah Aku masukkan mereka ke dalam surga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya.
Ayat diatas menegaskan bahwa Allah menghapuskan kesalahan hamba-Nya baru kemudian memasukkannya ke dalam Surga.
)تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَتُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ بِأَمْوَالِكُمْ وَأَنْفُسِكُمْ ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ. يَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَيُدْخِلْكُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ وَمَسَاكِنَ طَيِّبَةً فِي جَنَّاتِ عَدْنٍ ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ( [الصف : 11-12]
(yaitu) kamu beriman kepada Allah dan RasulNya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui. Niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosamu dan memasukkanmu ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; dan (memasukkan kamu) ke tempat tinggal yang baik di dalam jannah ‘Adn. Itulah keberuntungan yang besar.
Allah hanya memasukkan hambanya yang sudah mendapatkan ampunan dosa-dosa dari-Nya.
Sekali lagi, Allah Subhanahu wa Ta’ala menghubungkan antara masuknya seseoang ke Surga dan selamatnya dari Neraka dengan maghfirah dan rahmat-Nya untuk menunjukkan bahwa hal tersebut tidak akan didapat tanpa adanya maghfirah dan rahmat-Nya.
Para salaf berkata, “Di akhirat kelak hanya ada dua kemungkinan; ampunan Allah atau Neraka, sedangkan di dunia juga cuma ada 2 hal saja; penjagaan Allah atau kebinasaan.”
Muhammad bin Wasi’ rahimahullah berkata kepada para sahabatnya ketika menjelang wafat, “Alaikumus salam,  bisa jadi neraka atau ampunan Allah.”
Adapun firman Allah :
)وَتِلْكَ الْجَنَّةُ الَّتِي أُورِثْتُمُوهَا بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ( [الزخرف : 72]
Dan itulah surga yang diwariskan kepada kamu disebabkan amal-amal yang dahulu kamu kerjakan.
)كُلُوا وَاشْرَبُوا هَنِيئًا بِمَا أَسْلَفْتُمْ فِي الْأَيَّامِ الْخَالِيَةِ( [الحاقة : 24]
(kepada mereka dikatakan), “Makan dan minumlah dengan sedap disebabkan amal yang telah kamu kerjakan pada hari-hari yang telah lalu.”
Ayat-ayat tersebut menunjukkan bahwa masuknya seseorang ke Surga karena rahmat Allah, dan penentuan derajat di surga berdasarkan amal seseorang.
Ibnu ‘Uyainah berkata, “Mereka berpendapat bahwa selamatnya seseorang dari api neraka itu disebabkan karena adanya ampunan dari Allah, dan masuknya seseorang ke surga disebabkan karena anugerah dari Allah serta penentuan derajat di surga berdasarkan amal seseorang.”
Coba perhatikan konotasi huruf al-Ba’ dalam firman Allah :
(بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ)
(بِمَا أَسْلَفْتُمْ فِي الْأَيَّامِ الْخَالِيَةِ)
Adalah ba’ sababiyyah (ba’ yang mengandung arti sebab), jadi maknanya adalah Allah menjadikan amal seseorang sebagai sebab masuknya seseorang ke dalam surga.
Sedang ba’ dalam hadits Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam :
)لَا يَدْخُلُ أَحَدُكُمْ الْجَنَّةَ بِعَمَلِهِ) [رواه أحمد]
Adalah ba’ muqabalah dan mu’awadhah (mengandung arti timbal balik) jadi makna dari hadits adalah Salah seorang dari kalian tidak akan masuk surga dengan amal perbuatan yang dia kerjakan.
Hadits ini menjawab keraguan orang yang mengira bahwa surga itu diperoleh karena hasil dari amal perbuatannya, dan menghapus keraguan bahwa orang yang mengerjakan suatu perbuatan akan secara otomatis berhak mendapatkan surga sebagaimana orang yang sudah membayar dengan harga tertentu akan mendapatkan barang dari harga yang sudah dibayar.
Hadits tersebut juga menjelaskan bahwa sebab seseorang masuk surga adalah karena anugerah dan rahmat-Nya. jadi masuknya seseorang ke dalam surga disandarkan kepada anugerah, rahmat, dan maghfirah-Nya, karena Dia-lah yang memberikan anugerah berupa sebab dan amalan yang menyebabkan seseorang beramal, jadi masuknya seseorang ke dalam surga tidak hanya disebabkan hanya karena amalnya sendiri.
»إِلَّا أَنْ يَتَغَمَّدَنِي اللَّهُ بِمَغْفِرَةٍ وَرَحْمَةٍ«
“Kecuali bila Allah meliputi melimpahkan rahmat dan ampunan-Nya kepadaku.” (HR. al-Bukhari)
Hadits di atas menunjukkan bahwa seseorang betapapun tinggi derajat dan keutamaannya tidak akan selamat hanya karena amalnya, bahkan dengan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, seandainya Allah tidak memberikan anugerah berupa diampunkannya dosa-dosa; baik yang telah lalu maupun yang akan datang, maka beliau tidak bisa selamat dengan amalnya.
والسلام علي من اتبع الهدي

Diantara kelemahan Prof. Quraish Shihab yang sangat mendasar dalam menyampaikan hadits adalah menyampaikannya hanya dengan maknanya saja, dan bisa jadi dua hadits yang berbeda digabungkannya menjadi satu dan bercampur baur dengan ucapannya, dan tanpa menyebutkan referensi kitab-kitab hadits, tidak pula sahabat yang meriwayatkan.

Dan kami mengira hadits yang dimaksudkan di atas adalah dua hadits yang berbeda, yaitu:

Pertama: Hadits Ummul ‘Alaa Al-Anshoriyah radhiyallahu’anha, beliau berkata ketika meninggalnya sahabat yang mulia Abus Saaib ‘Utsman bin Maz’un radhiyallahu’anhu:

رَحْمَةُ اللهِ عَلَيْكَ أَبَا السَّائِبِ فَشَهَادَتِي عَلَيْكَ لَقَدْ أَكْرَمَكَ اللَّهُ فَقَالَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم وَمَا يُدْرِيكِ أَنَّ اللَّهَ قَدْ أَكْرَمَهُ فَقُلْتُ بِأَبِي أَنْتَ يَا رَسُولَ اللهِ فَمَنْ يُكْرِمُهُ اللَّهُ فَقَالَ أَمَّا هُوَ فَقَدْ جَاءَهُ الْيَقِينُ وَاللَّهِ إِنِّي لأَرْجُو لَهُ الْخَيْرَ وَاللَّهِ مَا أَدْرِي – وَأَنَا رَسُولُ اللهِ – مَا يُفْعَلُ بِي قَالَتْ فَوَاللَّهِ لاَ أُزَكِّي أَحَدًا بَعْدَهُ أَبَدًا.

“Rahmat Allah atasmu wahai Abus Saaib (‘Utsman bin Mazh’un). Aku bersaksi bahwa Allah sungguh telah memuliakanmu.” Maka Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda, ”Apa yang telah membuat engkau mengetahui bahwa Allah telah memuliakannya?” Aku mengatakan, ”Demi bapakmu (ini bukan untuk bersumpah, Pen), lalu siapa yang dimuliakan Allah?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ”Adapun Abus Saaib maka telah datang kematiannya, demi Allah sungguh aku mengharapkan kebaikan baginya. Dan demi Allah aku tidak tahu –padahal aku adalah Rasulullah- apa yang akan Allah lakukan pada diriku.” Kemudian Ummul ‘Alaa’ mengatakan, “Maka demi Allah, setelah itu aku tidak pernah lagi memastikan seseorang (telah dimuliakan oleh Allah).” [HR Bukhari]

Perhatian: Tentang ucapan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits di atas,

وَاللَّهِ مَا أَدْرِي وَأَنَا رَسُولُ اللَّهِ مَا يُفْعَلُ بِي

“Dan demi Allah aku tidak tahu –padahal aku adalah Rasulullah- apa yang akan Allah lakukan pada diriku.”

Maka ucapan beliau tersebut sebelum turun firman Allah ta’ala yang mengabarkan bahwa dosa-dosa beliau semuanya telah diampuni. Allah ta’ala berfirman,

إِنَّا فَتَحْنَا لَكَ فَتْحًا مُّبِينًا لِّيَغْفِرَ لَكَ اللهُ مَاتَقَدَّمَ مِن ذَنبِكَ وَمَاتَأَخَّرَ

“Sesungguhnya Kami telah memberikan kepada kamu kemenangan yang nyata, supaya Allah memberi ampunan kepadamu terhadap dosa yang telah lalu dan yang akan datang.” [Al-Fath:1-2]

Apakah mungkin setelah dosa seseorang diampuni semuanya oleh Allah ta’ala lalu kemudian ia belum dijamin masuk surga?!

Dan terdapat beberapa hadits yang semakna dengan hadits Ummul ‘Alaa’ Al-Anshoriyah di atas, diantaranya adalah yang disebutkan oleh Al-Imam Al-Bukhari rahimahullah dalam Shahih beliau pada bab, Tidak Boleh Mengatakan Fulan Syahid:

قَالَ أَبُو هُرَيْرَةَ ، عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم اللَّهُ أَعْلَمُ بِمَنْ يُجَاهِدُ فِي سَبِيلِهِ اللَّهُ أَعْلَمُ بِمَنْ يُكْلَمُ فِي سَبِيلِه

“Abu Hurairah berkata, dari Nabi shallallahu’alaihi wa sallam: Allah yang lebih mengetahui siapa yang berjihad di jalan-Nya, Allah yang lebih tahu siapa yang terluka di jalan-Nya.” [HR. Al-Bukhari]

Hadits di atas menunjukkan bahwa tidak boleh memastikan seseorang itu mati syahid walau ia meninggal di medan jihad, karena kita tidak mengetahui keadaannya yang sesungguhnya di sisi Allah. Maka demikian pula, lebih tidak boleh lagi memastikan seseorang masuk surga walau kita melihat amalannya baik, karena belum tentu diterima di sisi Allah, sebab kita tidak tahu niat orang tersebut ketika beramal.

Namun larangan memastikan seseorang mati syahid dan masuk surga ini hanya berlaku bagi mereka yang belum dipastikan syahid atau masuk surga, adapun yang sudah dipastikan dan sudah dijamin masuk surga maka wajib bagi kita untuk meyakini bahwa ia pasti dan terjamin masuk surga.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata,

وَيَشْهَدُونَ بِالْجَنَّةِ لِمَنْ شَهِدَ لَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالْجَنَّةِ كَالْعَشَرَةِ وَكَثَابِتِ بْنِ قَيْسِ بْنِ شَمَّاسٍ وَغَيْرِهِمْ مِنْ الصَّحَابَةِ

“Dan mereka (Ahlus Sunnah wal Jama’ah) mempersaksikan (memastikan) akan masuk surga, orang orang yang dipersaksikan oleh Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam akan masuk surga, seperti 10 sahabat, Tsabit bin Qois bin Syammas, dan selain mereka dari kalangan para sahabat.” [Matan Al-Aqidah Al-Washitiyah]

Hal itu karena wajib membenarkan apa yang dikabarkan oleh Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam, sebagaimana dalam hadits Sa’id bin Zaid radhiyallahu’anhu, beliau berkata: Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,

عَشْرَةٌ فِى الْجَنَّةِ النَّبِىُّ فِى الْجَنَّةِ وَأَبُو بَكْرٍ فِى الْجَنَّةِ وَعُمَرُ فِى الْجَنَّةِ وَعُثْمَانُ فِى الْجَنَّةِ وَعَلِىٌّ فِى الْجَنَّةِ وَطَلْحَةُ فِى الْجَنَّةِ وَالزُّبَيْرُ بْنُ الْعَوَّامِ فِى الْجَنَّةِ وَسَعْدُ بْنُ مَالِكٍ فِى الْجَنَّةِ وَعَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ عَوْفٍ فِى الْجَنَّةِ ». وَلَوْ شِئْتَ لَسَمَّيْتُ الْعَاشِرَ. قَالَ فَقَالُوا مَنْ هُوَ فَسَكَتَ قَالَ فَقَالُوا مَنْ هُوَ فَقَالَ هُوَ سَعِيدُ بْنُ زَيْدٍ.

“Sepuluh orang di surga, Nabi (Muhammad) di surga, Abu Bakar di surga, Umar di surga, Utsman di surga, Ali di surga, Thalhah di surga, Az-Zubair bin Al-‘Awwam di surga, Sa’ad bin Malik di surga, Abdur Rahman bin ‘Auf di surga.” (Sa’id bin Zaid) berkata, “Kalau engkau mau aku akan sebutkan yang kesepuluh.” Mereka berkata, “Siapakah dia?” Maka beliau diam. Mereka berkata lagi, “Siapakah dia?” Beliau berkata, “Dia adalah Sa’id bin Zaid.” [HR. Abu Daud dan At-Tirmidzi dan ini adalah lafaz Abu Daud, Lihat Ash-Shahihah: 1435]

Dalam lafaz At-Tirmidzi:

وَأَبُو عُبَيْدَةَ وَسَعْدُ بْنُ أَبِى وَقَّاصٍ

“… Abu Ubaidah (di surga) dan Sa’ad bin Abi Waqqash di surga.” [HR. At-Tirmidzi dari Sa’id bin Zaidradhiyallahu’anhu, Shahih At-Tirmidzi: 2947]

Perhatian: Dalam lafaz Abu Daud di atas sangat jelas disebutkan, “Nabi (Muhammad) di surga.” Semoga kita termasuk orang-orang yang membenarkan sabda Nabi Muhammad shallallahu’alaihi wa sallam dan tidak mendustakannya.

Adapun tentang sahabat yang mulia Tsabin bin Qois bin Syammas, Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam telah bersabda tentang beliau,

بَلْ هُوَ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ

“Bahkan ia termasuk penghuni surga.” [HR. Al-Bukhari dan Muslim, dan inimlafaz Muslim dari Anas bin Malik radhiyallahu’anhu]

Jadi, pendalilan Prof. Quraish Shihab dengan hadits yang disebutkannya untuk menafikan jaminan surga bagi Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam adalah tidak tepat, karena terdapat banyak sekali dalil yang menunjukkan bahwa Nabi Muhammad dan sahabat telah dijamin masuk surga.

Dan telah dimaklumi bahwa untuk mengambil satu kesimpulan dari dalil hendaklah mengumpulkan terlebih dahulu seluruh dalil yang terkait, bukan mengambil sebagian dalil dan membuang yang lainnya. Oleh karena itu dalam ilmu tafsir juga dikenal adanya nash-nash yang umum dan khusus, yang muthlaq danmuqoyyad, yang naasikh dan mansukh.

Melek politik itu PENTING…. ^_^

sumber: FB page syariah dan khilafah padang sidempuan

Ada yang berkomentar pada unjuk rasa HTI di seluruh Nusantara yang mendesak agar pemerintah RI mengirimkan militer membebaskan Palestina. Bunyinya kira-kira begini :

“Kalian (selalu dengan ucapan sarkas) itu percuma meminta pemerintah untuk mengirim pasukan ke Palestina. Apa kalian pikir, pemerintah mau mendengarkan kalian. Percuma saja teriak-teriak.”

Hmmm….
Inilah beda orang yang buta politik dengan yang melek politik. yang buta politik itu hanya akan menilai sesuatu secara sempit dan apa yang sanggup terpikirkan oleh akal yang buta politik. Maka tidak heran mereka yang buta politik ini akan tetap mengelu-elukan Obama berkali-kali datang ke Indonesia, karena mereka melihat kedatangan Obama ini dari kesempitan wawasan politik mereka. Dia tamu, harus kita hormati, kata mereka. Benar-benar buta politik. Padahal Obama itu punya segudang agenda yang harus disukseskannya dengan kunjungan ke Indonesia. Namun mereka yang buta politik ini akan gagal untuk mengetahui bahkan hanya untuk mencium agenda-agenda tersebut.

Hizbut tahrir adalah organisasi politik. Maka segala aktifitas Hizbut Tahrir sarat dengan muatan politik. Maka sangat aneh jika mengira bahwa Hizbut Tahrir tidak tahu/tidak paham bahwa tidak mungkin penguasa sekuler ini mau mengirim pasukan ke Palestina. Kamilah yang paling paham, karena kami sudah tahu benar bahwa mereka ini adalah orang-orang yang menduduki kekuasaan dengan restu Barat. Restu Barat itu hanya didapat melalui satu komitmen yang menguntungkan Barat. Komitmennya, jika membuat kebijakan, kebijakan itu harus terlebih dahulu di diskusikan dan tidak boleh bertentangan dengan keinginan Barat. Jadi tidak mungkin penguasa begini mau mengirim militernya jika tidak ada lampu hijau dari Barat (PBB).

Terus untuk apa teriak-teriak ?
Nah, disinilah aspek politik itu bermain. Ketika kita mengadakan aksi, dalam hal ini, aksi solidaritas palestina, kita bukan kecam sembarang kecam, tapi memperdengarkan kepada khalayak apa penyebab ini semua terjadi dan apa solusi yang kita tawarkan, yaitu Jihad dan Khilafah. Solusi yang kita perdengarkan ini akan sampai kepada masyarakat, dan tersimpan di benak masyarakat, terlepas mereka setuju atau tidak. Itu poin pertama, mereka sudah mendengar adanya sebuah solusi.

Kemudian, dengan tetap diamnya penguasa sekuler-nasionalis ini, sama sekali tidak merugikan Hizbut tahrir. Ini justru menguntungkan Hizbut Tahrir, karena dengan diamnya pemerintah, masyarakat akan menilai dan bertanya-tanya kenapa pemerintah tidak peduli atas penderitaan saudara muslim mereka di Gaza/Palestina ? Disaat inilah, ketika masyarakat mencari-cari sebab dan solusinya, maklumat yang sudah ada/ maklumat tsabiqah yang sudah ada di benak mereka, yaitu sebab dan solusi yang disampaikan oleh Hizbut Tahrir akan terpikirkan.

Selanjutnya, anda sendiri yang membayangkan apa yang bakal terjadi ……..

Yuk ngaji agar melek politik … jangan selamanya jadi orang-orang naif/lugu yang akhirnya tidak paham siapa kawan, siapa lawan.

10509516_750697391655351_5254759403789901295_n