COVER lebih penting daripada ISI ???

Ketika sosok lebih diperhatikan ketimbang apa yang dia bawa dan bicarakan…
Ketika cap buruk dengan mudahnya diberikan pada kelompok yg maksudnya ingin menyadarkan…
Ketika suara mayoritas lebih disukai ketimbang suara minoritas yg terdengar aneh tanpa peduli apa isi yg dibicarakan…
Maka di mana kita letakkan akal utk mencari tahu kebenaran? Untuk menelaah dalil yang dipaparkan? 
Maka di mana kita letakkan hati yg terbuka utk menerima ilmu, nasehat dan kritikan dari orang lain?
Jika sosok atau kelompok itu terlampau buruk dalam pandanganmu, maka hapuskan bayangannya dari benakmu, namun telaahlah apa yg dibawa, apa yg diucapkan, dan yg terpenting dalil yg digunakan. Jika semua itu ternyata sesuai dgn hati nuranimu, sesuai dgn fitrahmu sbg manusia, dapat memuaskan akalmu dan menentramkan hatimu, maka apakah yg menghalangi utk percaya dan ikhlas mengatakan “iya”…? 

Kami bukan manusia sempurna, sungguh….

Ada perbedaan yang jauh sekali antara membenci manusia dengan membenci kemaksiatan…
Ada perbedaan yang jauh sekali antara memperingatkan dan menasehati, dengan mencerca dan menghina…

Biasanya, saat seseorang mengungkapkan sesuatu, akan bisa ditangkap berbeda oleh orang yang mendengarkannya. Kenapa? Karena semua dikembalikan pada ‘hati’. Jika hati ikhlas menerima kritik, mendengarkan nasehat dari orang lain, dan mau membuka diri, maka penerimaannya akan baik. Sedangkan hal ini akan ditangkap berbeda jika hati tak mau di ajak ‘bekerjasama’. Sebaik apapun bahasa seseorang, jika ‘hati’ masih tak mau bekerjasama, maka akan tetap terasa sebagai sindiran, hinaan dan cercaan yang membuat kita jadi sangat tersinggung. 

Saya pun dulu pernah mengalaminya, ketika seseorang mengatakan ‘pacaran itu haram’ dan saya masih menjalaninya. Tiba-tiba di kepala rasanya keluar tanduk. Kesel se kesel keselnya.  maka marilah kita membuka si hati dan ajak dia bekerjasama, agar kita bisa menerima semuanya dengan hati yang lapang. Menasehati seseorang itu kewajiban setiap muslim, bahkan seorang pendosa seperti saya pun punya kewajiban untuk tetap mengingatkan kebaikan pada orang lain. Bukanlah berarti saya atau rekan2 lain yg ingin berdakwah itu merasa diri sempurna dan tanpa cela. Dihadapan Allah, saya hanyalah seorang manusia yang berlumuran dosa, dan masih bergelut dengan keras untuk menghapus dosa-dosa ini satu per satu. Tapi kewajiban tetaplah kewajiban. Tetap harus ditunaikan, karena jika tak ditunaikan justru akan semakin menambah berat timbangan dosa kelak di hari akhir. Semoga Allah selalu memaafkan kesalahan kita semua dan memberikan kita hati yang penuh keikhlasan. 

Apakah Seruan Amar Ma’ruf Nahi Munkar dapat Merusak Ukhuwah? Let’s Think Again….

Kita harus jeli membedakan mana yg termasuk amar ma’ruf nahi munkar dan mana yg termasuk fitnah perusak ukhuwah…

Apakah protes tegas terhadap kemakisatan tidak diperbolehkan dalam agama? Jika ada peraturan penguasa yang mencabik2 hak seorang muslim untuk menjalankan syariat agamanya dan meraup uang rakyat demi kepentingan pribadi, apa lantas kita harus diam dan tak boleh bersuara? Tak boleh menegur dan menasehati mereka? Tak boleh menjelaskan pada masyarakat mana yg salah dan mana yg benar?

Mungkin kisah-kisah dibawah ini bisa kita jadikan bahan perenungan. Ada banyak sekali contoh kisah para ulama terdahulu yg hidupnya berada dalam penyiksaan fisik dan psikis akibat keberanian dan ketegasannya dalam menentang kedzliman penguasa. Mereka tabah dan sabar menghadapi segala macam tantangan dan halangan demi memperjuangkan islam dan umatnya, bukan demi membela kepentingan pribadi, pemimpin, atau kelompoknya. Mereka tidak menyembunyikan apalagi memutar balikkan syariah Islam.

Hasan Al Bashri adalah seorang di antara para ulama yg begitu besar rasa takutnya kepada Allah. Sebaliknya, ia tak pernah gentar terhadap penguasa dunia yg lalim. Beliau berani menentang penguasa Hijaj bin Yusuf ats-Tsaqafi, penguasa Iraq yg lalim pada zamannya. Ia berani mengungkap keburukan perilaku penguasa tersebut di hadapan rakyat dan menyampaikan kebenaran di hadapannya. Beliau sangat terkenal dengan ucapannya, ”Sesungguhnya Allah telah mengambil perjanjian dari para pemilik ilmu untuk menjelaskan ilmu yg dimilikiNya kepada manusia dan tidak menyembunyikannya.” karena keberaniannya itulah beliau harus menanggung penderitaan.

Demikian pula Sufyan ats Tsauri. Rasa takutnya kepada Allah begitu besar. Sebaliknya, keberaniannya terhadap penguasa lalim pun tak diragukan. Ia pernah menentang apa yg dilakukan penguasa Abu Ja’far al Manshur ketika dia mendanai dirinya dan para pengikutnya yang beribadah haji ke Baitul Haram dalam jumlah yg sangat besar, yg diambil dari baitul mal milik kaum muslim. Dengan sikapnya ini, hampir saja polisi al-manshur membunuh sufyan.

Abu hanifah pernah menolak jabatan yang ditawarkan Abu Ja’far al-manshur dan menolak uang 10.000 ribu dirham yg akan dberikan kepadanya. Kemudian ia ditanya oleh seseorang, ”apa yg anda berikan kepada keluarga anda, padahal anda telah berkeluarga.” beliau menjawab, ”keluargaku kuserahkan pada Allah, sebulan aku cukup hidup dengan 2 dirham saja,”

dalam riwayat lain disebutkan, suatu ketika khalifah muawiyah hendak memulai pidatonya. Saat itu Abu Muslim al Khaulani segera berdiri dan berkata bahwa ia tidak mau mendengar dan menaati khalifah. Ketika ditanya alasannya, beliau menjawab ”karena engkau telah berani memutuskan bantuan kepada kaum muslim. Padahal harta itu bukan hasil keringatmu dan bukan harta ayah-ibumu.” mendengar itu khalifah muawiyah sangat marah. Ia lalu turun dari mimbar, pergi dan sejenak kembali dengan wajah yg basah. Ia membenarkan apa yg dikatakan Abu Muslim dan mempersilahkan siapa saja yg merasa dirugikan boleh mengambil bantuan dari baitul mal (Al Badri, Al Islam bayna al ulama’ wa al hukkam, hlm. 10)

lalu bagaimana dengan Rasulullah? Rasulullah dahulu berdakwah dikalangan kafir quraisy yg hidupnya sangat amat jahiliyah. Perzinahan, pembunuhan terhadap anak perempuan, penyiksaan terhadap kaum wanita, penyembahan terhadap berhala, dan segala macam jenis kemaksiatan lainnya terjadi disana. Dakwah Rasulullah pada saat itu mendobrak tatanan hidup kafir quraisy yg sudah menganggap semua jenis kemaksiatan itu sebagai sesuatu yg lumrah dan sudah jadi bagian dari tradisi sehari-hari. Itulah yg membuat para penguasa kafir quraisy berang akan kemunculan rasulullah dan dakwah yg disampaikannya. Mereka merasa kedudukan mereka sebagai pemimpian kaum quraisy mulai terganggu bila banyak rakyatnya yg mau mengikuti agama yg dibawa Rasulullah dan mengikuti segala aturan dari agama tersebut. Itulah mengapa Rasulullah pun disiksa oleh penguasa quraisy pada masa itu.

kadang ada beberapa hal dalam hidup ini yg perlu ketegasan. Tidak selamanya kelemah lembutan itu yg membawa kebaikan. Apalagi dengan tipe masyarakat yg sekarang, yg lebih banyak tak acuh terhadap suara ulama, hidup semaunya sendiri dan bebas tanpa aturan, merasa diri islam dan cukup dengan keislamannya itu, tidak lantas mau peduli pada aturan yg diberikan agamanya. Ketegasan juga dibutuhkan untuk menertibkan ummat yg seperti ini. Dan itulah tugas utama ulama. Ulama seharusnya berani berusra dengan tegas dan lantang menyerukan ummat dan para pemimpin untuk kembali pada syariat islam, kembali pada agama Allah yg indah, dan menjadikan dunia hanya sebagai ‘kuda tunggangan’, bukan sebaliknya. Ulama seharusnya tidak mendiamkan, tidak menyetujui dan tidak mendukung kedzaliman dan siapapun yg berbuat dzalim. Karena Allah sudah tegas berfirman:

”Janganlah kalian cenderung (la tarkanuu) kepada orang-orang yg berbuat dzalim, yg dapat mengakibatkan kalian disentuh api neraka.” (QS. Hud [11]: 113)

Curhat Colongan: kendala dalam menyampaikan materi ideologi islam di tengah masyarakat

Ada kenyataan pahit yang saya temukan setelah berdiskusi dengan beberapa teman mengenai islam, mengenai penegakan syariat islam dan khilafah. Dari diskusi ini saya mengambil kesimpulan “intensitas mengenal seseorang yang lama, bahkan sampai bertahun-tahun tidak lantas membuat kita benar-benar bisa saling memahami karakter pribadi masing-masing”. Mereka yang saya pikir akan welcome dan dengan senang hati diajak untuk mendiskusikan agama malah terkesan acuh tak acuh dan risih jika diajak mendiskusikan hal seperti itu, mendiskusikan sesuatu yang terkesan beda dan aneh, mendiskusikan tema yang asing di telinga, mendiskusikan sesuatu yang berada di luar ‘zona nyaman’ mereka.

Ada begitu banyak toleransi terhadap kemaksiatan, toleransi terhadap penyimpangan hukum Allah, semua serba di toleransi, begitulah kesimpulan yang saya ambil dari gaya bahasa rekan-rekan saya tersebut. Sudah mulai rancu batasan maksiat ada di mana, sudah mulai rancu antara mana yang jelas-jelas haram dan mana yang mubah, semuanya jadi rancu karena mereka lebih banyak menggunakan dalil logika dan akal-akalan manusia (yang serba terbatas) dalam melihat problematika ummat. Ketika saya tanyakan “apa dalilnya shahihnya? Apakah ada di Al Qur’an dan As sunnah?” mereka sering berkelit dari pertanyaan macam ini, tidak mau menjawab langsung atau ada yang terang-terangan mengatakan “saya tidak cukup ilmu untuk memberikan dalil”, padahal dalam setiap langkah yang kita ambil harus didasarkan pada aturan Allah, didasarkan pada syariat islam, sudah sesuaikan langkah kita itu dengan ketentuan Allah? Sudah sesuaikah dengan ajaran yang dibawa Rasulullah? Adakah dalilnya? Kuatkah dalil itu? Harusnya itu yang kita pikirkan baik-baik sebelum mengambil langkah, sebelum mengambil keputusan, sebelum percaya dan yakin pada sesuatu atau seseorang.

Bahkan ada salah satu diantara mereka (yang ber’aliran’ tertentu, saya rasa tidak perlu saya sebutkan aliran apa, agar tidak menyinggung perasaan pembaca) yang mengatakan hizbut tahrir itu sesat, hizbut tahrir itu keliru, Rasulullah tidak pernah mengajarkan ummatnya untuk berpolitik, tidak pernah mendirikan daulah islam, dan bisyarah Rasulullah tentang khilafah itu tidak ada. Saya lantas berpikir, “Ah, selama ini ada saja beberapa anggota masyarakat yang berpikir bahwa HT itu perusak ukhuwah, karena sering memprotes kebijakan pemerintah. Tapi kok oknum2 seperti seperti ini tidak pernah ada yang tahu. Oknum-oknum yang menebar kebencian dari belakang. Mereka diam-diam, dibalik layar, mengkaji tentang keburukan hizbut tahrir (menurut versi mereka, tanpa pernah mencari tahu apakah memang benar demikian, memang benar buruk) dan mencap saudara sesama muslim nya sebagai pengikut aliran sesat, hanya karena menurut mereka negara islam itu sudah ada (Saudi arabia) dan tidak perlu lagi didirikan negara islam lainnya, hanya karena kesalah-pahaman tentang materi qadha dan qadar.” Orang-orang inilah yang sebenarnya cocok diberikan label perusak ukhuwah, tukang sebar fitnah tak berdasar, penebar kebencian terhadap sesama muslim. Tapi yang selama ini yang diberikan cap jelek itu siapa? Selalu hizbut tahrir. Kenapa? Karena apa yang dibawa hizbut tahrir itu terkesan ‘gila, aneh, utopis, tidak real, tidak relevan untuk keadaan masyarakat’ bagi sebagian orang.

Ada pula yang mengatakan HT Cuma ngomong doang, bisanya hanya menyebarkan kebencian dan menjelek-jelekkan saudara sesama muslim sendiri. Ya Rabbi, pemikiran seperti ini lebih tidak bijak lagi. Sekarang jika saya tanya balik, pernah HT itu menyebarkan aib pribadi si fulan atau fulanah? Pernah kami menjelek-jelekkan fisiknya, mengorek-ngorek aib keluarganya seperti yang dilakukan oleh para pelaku black campaign? Pernah? Coba diperhatikan lagi, ditelaah lagi, apa sih yang biasanya kami lakukan? Kami memprotes kebijakan mereka, terutama kebijakan yang bertentangan dengan islam, bertentangan dengan hukum Allah, bertentangan dengan syariat, itu yang kami lakukan. Jika semua orang hanya boleh bicara lemah lembut, lantas siapa yang akan bicara dengan lantang dan tegas mengatakan “Ini HARAM, ini tidak diperbolehkan dalam Islam! Tinggalkan ini, jangan ikuti lagi. Mari kembali pada jalan Islam yang lurus.” Bukankah itu namanya nahi mungkar, mencegah dari kemungkaran, menyuarakan contoh-contoh kemaksiatan terhadap Allah di tengah-tengah masyarakat agar mereka sadar bahwa “oh iya, ini salah, harusnya kita sebagai muslim tidak begini.” Dan apakah kami hanya bisa protes-protes di jalan dan di sosmedd saja? Jelas tidak. Hizbut tahrir itu sudah sering, bahkan terlalu sering, mendatangi langsung oknum pemerintah yang bersangkutan, untuk memberikan nasehat agar mereka tidak melakukan hal-hal yang dibenci Allah dan dilarang agama. Tapi tak pernah digubris oleh si bapak-bapak dan ibu-ibu penguasa itu. pernah ada yang tahu metode kami yang seperti ini? Pernah di blow up media? Hanya demo-demo nya saja mungkin yang di blow up, agar kelihatan jeleknya hizbut tahrir di hadapan masyarakat. Tahu sendiri lah media yang ada sekarang sudah di setting dengan sedemikian rupa, sesuai permintaan pemilik kepentingan, “by request” istilahnya.

Saya pernah mendapatkan perumpamaan yang bagus sekali dari musyrifah (guru ngaji) saya tentang perbedaan gaya dakwah Umar bin Khattab dan Abu Bakar Asy Syidiq. Abu bakar adalah orang yang lembut sekali hatinya, lembut tutur katanya, hampir tidak pernah marah. Sedangkan Umar adalah orang yang tegas, keras, garang terhadap kemaksiatan, bahkan Syaithan pun takut padanya, sedikit-sedikit pedang, sedikit-sedikit pedang. Lantas apakah kemuliaan abu bakar jauh lebih tinggi dibanding umar bin khattab hanya karena sifatnya yang jauh lebih lembut dalam berdakwah? Tentu tidak. Setiap orang itu punya gaya bahasa dan penyampaian yang berbeda-beda, ada yang lembut, ada yang senang menjelaskan panjang lebar, ada yang penjelasannya singkat padat dan jelas, dan ada yang tegas, terkesan saklek dan keras. Apakah yang keras itu salah? Selama yang ia suarakan adalah amar maqruf nahi mungkar, semafhum saya tidak ada yang salah. Toh tidak sampai merusak fasilitas umum kan? Palingan hanya menyindir sedikit lewat tulisan.

Ada pula beberapa orang yang tiba-tiba muncul untuk menanyakan ini dan itu, saya kurang tahu maksudnya memang ingin tahu, atau ingin mengetes kemampuan, atau untuk mengajak berdebat. Tapi ketika saya tawarkan untuk melanjutkan diskusi dengan tatap muka langsung dengan anggota HT, mereka semua kabur, hilang entah kemana, bahkan ada yang tiba-tiba meng’unfriend’ saya di sosmed, padahal hubungan persahabatan itu sudah lama sekali terjalin, dan tiba-tiba terputus karena masalah sepele, yaitu “mempersilahkan agar dakwahnya di oper ke rekan yang sesama ikhwan, agar bisa lebih leluasa untuk diskusi, tidak menimbulkan fitnah jika maunya hanya diskusi dengan akhwat saja”. Hadeh…saya benar-benar tidak paham dengan yang begini ini.

Memang sulit, sulit sekali berdakwah untuk kembali pada syariat islam di tengah-tengah masyarakat yang sudah sangat sekuler ini. Pemisahan agama dengan kehidupan yang terjadi sudah benar-benar mengakar, karena mereka sudah ‘terbiasa’ hidup dalam kondisi seperti itu sejak kecil. Setiap segi kehidupan sudah sekuler, agama hanya diletakkan di masjid, tidak boleh dibawa-bawa keluar.

Untuk para pengemban dakwah yang membaca tulisan saya ini, saya mohon, jangan patah semangat untuk terus menyuarakan perbedaan yang haq dan yang bathil. Biarlah satu dua orang menjadi pembencimu, do’akan saja Allah membuka pintu hatinya untuk kelak menjadi orang yang terdepan membela agama Allah. Toh kita berjuang bukan untuk kepentingan golongan kan? Tapi untuk kemenangan islam. Jadi demi agama ini, mari kuatkan semangat dan tekad untuk terus berdakwah di jalan Allah. Semoga kita tetap istiqomah. ^_^

inilah pernyataan saya, inilah pernyataan kami… ^_^

Maaf, maaf sekali. Saya berjuang untuk Allah, untuk Islam, untuk Rasulullah, bukan untuk HT atau HTI.
Di akhirat pun yg ditanya Allah bukan “bersama partai mana kamu berjuang?”, tapi “apa yg sudah kamu lakukan utk Islam?”.

Organisasi/partai hanya wadah kita untuk memperjuangkan Islam, karena berdakwah sendiri-sendiri akan terasa berat, maka perlu adanya dakwah secara berjama’ah.
Kenapa saya pilih dakwah berjama’ah bersama HTI?
Karena hanya HTI yg visi & misinya selalu istiqomah, & perjuangannya melanjutkan kehidupan Islam, perjuangannya menyambut bisyarah Rasulullah & janji Allah pun di luar parlemen.
“Perjuangan di luar parlemen”nya itu yg saya sangat salut.
Dan saya pun telah membuktikan bahwa kejelekan-kejelekan HTI yg digembar-gemborkan oleh orang-orang iri & dengki terbukti salah. Mereka hanya salah paham & hanya didoktrin oleh petinggi-petinggi mereka yg memanfaatkn kondisi serta mempropagandakan kebusukan yg ada.
Saya yakin, siapa saja yg sinis & benci dgn perjuangan HTI, bisa jd ke depannya dia menjadi garda terdepan dlm perjuangan ini. Karena Allah Maha Pembolak-balik hati.
Semoga Allah membuka mata, telinga & hati orang-orang yg benci, karena benci & cinta itu “beti” alias beda tipis.
Salam ukhuwah dari saudarimu yg tak kenal menyerah menyampaikan mana yg haq, mana yg bathil. in syaa Allah

semoga saya, dan siapapun yang telah mantap memutuskan untuk berjuang bersama jama’ah ini bisa tetap istiqomah, dan semoga akan semakin banyak lagi saudara muslim yang mau bergabung bersama kami demi memperjuangkan tegaknya khilafah dan syariat islam di bumi Allah…

Allahu Akbar ! 

Diskusi sore yang bermanfaat bersama Ust. Ismail Yusanto

Sore ini, selepas acara Konferensi Islam dan Peradaban selesai diadakan dengan sukses (alhamduillah) di aula graha bakti praja, kami para anggota HTI seluruh lombok diberikan kesempatan untuk berdiskusi langsung dengan almukarrom ustadz Ismail Yusanto, juru bicara Hizbut Tahrir Indonesia yang terkenal dengan ketegasannya dalam menyampaikan materi-materi dakwah. Tapi ternyata, setelah mendengar cerita-cerita dan tausyiah beliau mengenai perjuangan dakwahnya selama 25 tahun ini, beliau tidak melulu menggunakan tata bahasa yang tegas dan saklek, tapi kita diajak berdiskusi ringan dan santai, dalam suasana yang nyaman sambil duduk bersama-sama. Beliau sesekali juga mengeluarkan beberapa celetukan-celetukan lucu yang membuat kami cengengesan atau tertawa kecil. Dalam diskusi singkat tersebut, beliau membagi beberapa tips yang bermanfaat agar kita, para pengemban dakwah ini, tetap semangat dalam berdakwah, tapi juga dapat mengimbanginya dengan kehidupan di lingkungan bekerja, belajar, rumah tangga, dan lain sebagainya, diantaranya yaitu:

  1. Dalam rencana berumah tangga, kita sebaiknya mencari calon pasangan yang memiliki visi dan misi yang sama. Nahhh….ketika ust. Ismail menyampaikan tips yang ini semua syabab/syabah sepertinya pada cengengesan sendiri deh, entah membayangkan apa atau siapa. hehehe. Beliau mengatakan, visi misi yang harus disamakan itu ya sama-sama harus memiliki jiwa pejuang syariah dan khilafah, supaya rumah tangga itu bisa sejalan, bisa adem ayem, dan karena seperjuangan jadi nanti in syaa Allah bisa bertemu di surganya Allah. coba bayangkan jika calon pasangannya tidak sevisi-misi, yang satu pengen ngaji (halaqoh) yang satu nggak mau, atau malah yang lebih parah ada yang melarang pasangannya untuk halaqoh. yang satu sibuk ngontak tokoh masyarakat, yang satunya ribut karena pasangannya sering pergi ke luar rumah terus, nggak pernah ada waktu untuk keluarga, nggak pernah ada hari libur karena hari libur full dipakai untuk jadwal dakwah dan acara2 publik, padahal dakwah itu yang lebih penting, tapi karena punya pasangan yang tidak mengerti, malah jadi masalah. Yang ada malah pusing, nyusahin, bikin stress, ribet. (untuk tips yang satu ini saya bener-bener setuju deh ustadz, untuk saya ngurus diri sendiri aja masih susah banget buat istiqomah, yang sudah ikut halaqoh aja masih bisa melenceng, apalagi yang nggak pernah ikut halaqoh, nggak sevisi-misi, bisa berabe urusannye)
  2. Dalam kehidupan berumah tangga, ust. Ismail juga menyarankan untuk selalu membangun komunikasi. segalanya harus dikomuikasikan, biar sama-sama enak. jangan apa-apa dipendem. punya masalah, bukannya dibagi dengan pasangan agar bisa dibantu cari penyelesaiannya malah dipendem sendiri, susah-susah sendiri, stress sendiri, ujung-ujungnya berdampak pada keharmonisan keluarga juga nantinya. komunikasi itu sangat penting pokoknya.
  3. dalam berdakwah, kuncinya cuma ada 3: sabar, sabar, dan sabar. itu saja. tapi untuk bisa menjalankannya itu susaaaah sekali. sering sekali kita terbawa emosi jika menanggapi orang-orang yang nyinyir, nyindir, mencibir, menyangsikan pergerakan kita, dan lain sebagainya. padahal sabarnya Rasulullah saat disiksa fisik dan batin nya oleh kafir quraisy saja sampai tak terhingga. seharusnya kita berusaha melakukan hal yang sama. meskipun tidak 100% bisa sama dengan manusia se-mulia Rasulullah, paling tidak berusaha untuk menyamai. 🙂
  4. Kuatkan qolbu dengan sholat malam. itulah kunci keteguhan hati Rasulullah dalam berdakwah. selain itu jangan lupa banyak-banyak mengaji dan puasa senin kamis untuk semakin memperkuat qolbu. kalau kita sudah berusaha untuk sering qiyamullail, meskipun kita mulai melenceng dan tidak istiqomah di jalan dakwah, in syaa Allah akan cepat sadar dan taubatnya ketimbang tidak pernah melakukan amalan tersebut.

Galaunya Para Pengemban Dakwah Islam

sumber: buku karangan Arief B. Iskandar, “Hikmah-hikmah bertutur untuk jiwa yang mudah futur”, terbitan Al Azhar press

Dalam bukunya, Haml ad-Da’wah al-Islaamiyyah Waajibaat wa shifaat, Mahfud Abdul Lathif ‘Uwaidhah menjelaskan bahwa mengemban dakwah (Haml Ad-Da’wah) terdiri dari dua kata: mengemban (haml[un]) dan dakwah (ad-da’wah). Mengemban adalah satu hal dan dakwah adalah hal lain. Dakwah bisa dimaknai sebagai sekumpula pemikiran dan hukum-hukum syariah, yakni Islam itu sendiri secara keseluruhan. Adapun mengemban pada dasarnya sama dengan menyampaikan (tablig). Karena itu, mengemban dakwah bisa didefinisikan sebagai meyampaikan-kepada manusia-pelbagai pemikiran dan hukum-hukum syariah islam.

Setiap pengemban dakwah wajib istiwomah dalam mengemban dakwah, terkait dengan hal itu Allah berfirman:

“Sungguh telah didustakan pula para Rasul sebelum kamu, namun mereka tetap bersabar atas pendustaan dan penganiayaan yang dilakukan atas mereka hingga datang pertolongan Allah.” (QS. Al An’am [6]: 34)

Dalam ayat ini secara tersirat Allah memerintahkan kepada Rasul saw. Agar tetap sabar dan istiqomah dalam mengemban meskipun dihadapkan pada berbagai pendustaan dan penganiayaan orang-orang kafir yang menentang dakwah beliau. Sebab memang demikian pula yang dialami para Rasul sebelum beliau.

Masalahnya sederhana. Mengemban dakwah adalah menyampaikan ide-ide dan hukum-hukum ‘baru’ yang biasanya bertentangan dengan ide-ide dan hukum-hukum tradisi lama yang berkembang di tengah-tengah masyarakat. Karena itu, wajar jika dakwah yang haq sering dihadapkan pada penentangan masyarakat yang merasa ‘terusik’ dengan dakwah tersebut. Inilah sunnatullah yang berlakua dan dialami para nabi dan sahabat, serta tentu pengemban dakwah yang istiqomah mengikuti jejak langkah mereka dimanapun dan kapanpun.

Jika dulu Rasul dan para sahabat dihadapkan pada ide-ide, hukum-hukum, tradisi-tradisi jahiliah yang berpangkal pada paganisme (kesyirikan) maka saat ini para pengemban dakwah dihadapkan pada ide-ide, hukum-hukum dan tradisi-tradisi yang berpangkal pada sekulerisme. Saat ini, upaya mengusung ide serta hukum syariah dan khilafah, misalnya, dihadapkan pada ide HAM, demokrasi, pluralisme, nasionalisme/negara-bangsa, dll: dihadapkan pula pada penerapan UU dan hukum warisan para penjajah.

Tidak jarang, untuk itu para pengemban dakwah dilabeli dengan cap ‘fundamentalis, ‘ekstrimis’, bahkan ‘teroris’, baik oleh penguasa, masyarakat, ataupun musuh-musuh mereka dari kalangan kafir. Tidak jarang pula, perlawanan dari para penentang dakwah ini mengancam jiwa para pengemban dakwah.

Setiap pengemban dakwah haram untuk melenceng sedikit saja dari ide-ide dan hukum-hukum syariah. Sayangnya, tidak sedikit pengemban dakwah yang tidak istiqomah dengan dakwahnya. Misalnya: betapa banyak pengemban dakwah yang menyimpang dari ide-ide dan hukum-hukum syariah, entah karena kedangkalan pemahaman mereka atau karena sikap pragmatis mereka. Mereka tidak lagi menyerukan islam dalam wujud yang utuh sebagaimana yang diserukan Rasulullah saw. Mereka tidak berani secara tegas menyerukan syariah. Sebaliknya, mereka malah menyerukan ide-ide dan hukum-hukum sekuler yang bertentangan dengan ide-ide dan hukum-hukum islam, seperti: demokrasi, HAM, pluralisme, nasionalisme, dll. Padahal Allah SWT. Sendiri telah mengecam keras kekasihnya, Baginda Rasulullah saw seandainya beliau menyerukan apa yang tidak Dia perintahkan. Allah SWT. berfirman:

“Seandainya dia (Muhammad) mengada-adakan sebagian perkataan atas nama kami, niscaya kami benar-benar akan memegangnya pada tangan kanannya, kemudian memotong urat tali jantungnya…” (QS. Al Haqqah [69]: 44-46)

Yang lebih parah, banyak pengemban dakwah—yang tidak sabar ingin segera meraih kemenangan—menjerumuskan diri dalam kancah sistem kufur. Tidak aneh jika kemudian ada partai islam yang lebih konsisten menyerukan demokrasi ketimbang menyerukan penerapan syariah Islam karena khawatir partainya tidak laku dalam pemilu; berkoalisi dengan partai sekuler; atau memproklamirkan diri sebagai partai ‘terbuka’—yang memungkinkan orang-orang non muslim pun bisa menjadi anggota bakan pengurus partai—demi meraih konstituen sebanyak-banyaknya. Padahal, jika mereka konsiste memperjuangkan Islam, itu tidak akan mungkin mereka lakukan. Sebabnya, mustahil orang-orang kafir akan memperjuangkan Islam, padahal mereka sendiri mengingkari Islam.

Mungkin dengan semua itu, mereka menyangka akan meraih kemenangan. Jika kemenangan yang dimaksud adalah berhasilnya partai Islam atau para kadernya duduk di kursi kekuasaan, itu mungkin saja, namun, jika yang dimaksud adalah berdaulatnya idelogi Islam yang terwujud dalam penerapan syariahnya secara total oleh negara, maka  itu hanya mungkin diraih dengan keistiqomahan dan keteguhan dalam mengemban dakwah, apapun resikonya!