Jawaban Bagi yang Meragukan Rasulullah Masuk Surga

N.B. semoga orang2 yang membaca artikel ini adalah orang yang benar2 ingin mencari ilmu, mencari tahu kebenaran karena sangat meyakini Beliau (Rasulullah) adalah manusia paling mulia yang semua dosa-dosanya telah dimaafkan oleh Allah, dan SUDAH DIJAMIN MASUK SURGA. jadi jika ada yang membaca artikel ini untuk mencari-cari kesalahan dalam penulisannya, dan kemudian melontarkan komentar yang ingin menyerang isi nya demi membenarkan pendapat pribadi bahwa “Rasulullah tidak dijamin masuk surga”, maaf, komentar anda tak akan saya terima dan akan langsung saya anggap sebagai spam!

Bukan masalah setinggi apa orang itu sudah mengkaji ilmu agama. Sungguh bukan itu yg menjadi masalah. Tapi kemuliaan seorang Rasul yg selama ini kita hormati dan kita cintai bisa dgn seketika hancur dgn satu kalimat yg dikeluarkan secara tidak hati2.

Jika kita tanyakan pada hati nurani kita yg notabene tidak sekolah agama sampai bergelar profesor ini “apakah kau yakin bahwa Rasulullah, manusia yg dianggap paling mulia oleh Allah, manusia yg dipilih Allah utk mengemban risalah agama ini untuk disebarkan kepada ummat manusia, manusia paling indah akhlaq nya, sudah dijamin Allah masuk surga?” seharusnya hati nurani yg paling lembut dan bersih ini mengatakan “ya. Saya YAKIN”

Maka tak akan lagi ada perdebatan diantara muslimin jika ada pernyataan yg aneh keluar dr lisan seseorang yg meragukan jaminan surga bagi Rasulullah, tak perlu lagi ada yg membela dan membantu orang itu menjelaskan dari mana dia mengambil sumber utk mnyokong pendapatnya. Sungguh. Siapa yg akan memberikan kita syafaat di akhirat kelak jika bukan Rasulullah?

Sungguh. Seharusnya kita malu pada Rasulullah. seharusnya rasulullah lah yg kita bela, buka siapa2 selain beliau. Beliau begitu menyayangi kita hingga di akhir hayatnya, ketika nyawa hampir dicabut dari jasadnya, yg dia sebut adalah “ummatku…unmatku…ummatku…”

Begitu besar sayangnya beliau pada kita. Mugkin jika ia masih hidup dan menyaksikan kita saat ini, dia akan menangis melihat kondisi ummat yg begitu ia sayangi ini malah memperdebatkan dan meragukan jaminan surga untuk beliau. Sungguh seharusnya kita malu…

Sholawat serta salam smoga slalu tercurah kepadamu ya nabiyullah. Maafkan kami, dan jangan masukkan kami ke dalam golongan org2 yg tak kau beri syafa’at kelak di padang mahsyar.

Tertanda, saudarimu, seorang manusia yg penuh khilaf dan salah, yg hanya ingin berusaha mengembalikan keyakinan dan kecintaan kita semua pada Rasulullah Muhammad SAW.

Berikut saya sertakan tulisan oleh ust. Bachtiar Natsir berjudul “Jawaban bagi yang meragukan Rasulullah masuk surga”

sumber: http://aqlislamiccenter.com/2014/07/18/jawaban-bagi-yang-meragukan-rasulullah-masuk-surga/

Syubhat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tidak dapat dipastikan masuk Surga bukanlah hal baru, keraguan seperti ini banyak disebarkan oleh orang-orang Nasrani dan tokoh sekuler dari kalangan muslim.

Untuk menjawabnya cukup sederhana; “Bukankah telah disediakan telaga Al-Kautsar atau telaga Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang disediakan bagi calon penghuni Surga?”.

Hadits yang sering mereka jadikan sebagai pintu masuk untuk merasukkan doktrin keraguan (tasykik) diantaranya adalah hadits riwayat Imam al-Bukhari di dalam kitab shahihnya dari hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah, dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam

»لَنْ يُنَجِّيَ أَحَدًا مِنْكُمْ عَمَلُهُ قَالُوا وَلَا أَنْتَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ وَلَا أَنَا إِلَّا أَنْ يَتَغَمَّدَنِي اللَّهُ بِرَحْمَةٍ سَدِّدُوا وَقَارِبُوا وَاغْدُوا وَرُوحُوا وَشَيْءٌ مِنْ الدُّلْجَةِ وَالْقَصْدَ الْقَصْدَ تَبْلُغُوا«
“Salah seorang dari kalian tidak akan dapat diselamatkan oleh amalnya,” maka para sahabat bertanya, “Tidak juga dengan engkau wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Tidak juga saya, hanya saja Allah telah melimpahkan rahmat-Nya kepadaku. Maka beramallah kalian sesuai sunnah dan berlakulah dengan imbang, berangkatlah di pagi hari dan berangkatlah di sore hari, dan (lakukanlah) sedikit waktu (untuk shalat) di malam hari, niat dan niat maka kalian akan sampai.”
Juga hadits Dalam riwayat Aisyah Radhiyallahu ‘Anha, dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, beliau bersabda :
»سَدِّدُوا وَقَارِبُوا وَأَبْشِرُوا فَإِنَّهُ لَا يُدْخِلُ أَحَدًا الْجَنَّةَ عَمَلُهُ قَالُوا وَلَا أَنْتَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ وَلَا أَنَا إِلَّا أَنْ يَتَغَمَّدَنِي اللَّهُ بِمَغْفِرَةٍ وَرَحْمَةٍ«
“Beramalah sesuai sunnah (istiqamah) dan berlaku imbanglah, dan berilah kabar gembira, sesungguhnya seseorang tidak akan masuk surga karena amalannya.” Para sahabat bertanya, “Begitu juga dengan engkau wahai Rasulullah?” Beliau bersabda, “Begitu juga denganku, kecuali bila Allah meliputi melimpahkan rahmat dan ampunan-Nya kepadaku.” (HR. al-Bukhari)
Dari hadits di atas, para penafsir dengan hawa nafsunya berdalih bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tidak memiliki jaminan masuk surga, baik untuk dirinya maupun umatnya.
Untuk membantah pemahaman salah tersebut, maka diperlukan pemahaman terhadap hadits dengan benar.
Dua hadits di atas mengandung hal yang mendasar dan menjadi kaidah yang penting. Hal mendasar dan sifatnya asas adalah bahwa amal perbuatan manusia tidak dapat menjaminnya untuk selamat dari api Neraka dan tidak pula dapat menjaminnya untuk masuk surga, karena masuk surga dan selamat dari api neraka disebabkan oleh ampunan dan rahmat Allah Subhanahu wa Ta’ala; karena seorang muslim meyakini dan mengimani bahwa segala sesuatu berada di Tangan Allah, dan hanya Allah sajalah yang mengetahui tempat kembalinya manusia.
Tidak seperti orang nasrani yang tersesat dengan mengimani bahwa yesus sang penebus, yang diantara ajarannya kepada pemeluknya : akuilah dosa-dosa kalian kepada para pendeta niscaya kalian akan diampuni, walaupun pendeta tersebut bukan orang yang lurus. Berbeda dengan seorang Muslim yang berkeyakinan bahwa seseorang tidak dapat menjamin dirinya masuk surga, bahkan dengan amal shalihnya sekalipun, karena seseorang masuk surga disebabkan rahmat dan ampunan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Banyak ayat-ayat al-Qur’an yang menerangkan hal diatas, di antaranya adalah :
)فَالَّذِينَ هَاجَرُوا وَأُخْرِجُوا مِنْ دِيَارِهِمْ وَأُوذُوا فِي سَبِيلِي وَقَاتَلُوا وَقُتِلُوا لَأُكَفِّرَنَّ عَنْهُمْ سَيِّئَاتِهِمْ وَلَأُدْخِلَنَّهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ( [آل عمران : 195]
Maka orang-orang yang berhijrah, yang diusir dari kampung halamannya, yang disakiti pada jalan-Ku, yang berperang dan yang dibunuh, pastilah akan Ku-hapuskan kesalahan-kesalahan mereka dan pastilah Aku masukkan mereka ke dalam surga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya.
Ayat diatas menegaskan bahwa Allah menghapuskan kesalahan hamba-Nya baru kemudian memasukkannya ke dalam Surga.
)تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَتُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ بِأَمْوَالِكُمْ وَأَنْفُسِكُمْ ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ. يَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَيُدْخِلْكُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ وَمَسَاكِنَ طَيِّبَةً فِي جَنَّاتِ عَدْنٍ ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ( [الصف : 11-12]
(yaitu) kamu beriman kepada Allah dan RasulNya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui. Niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosamu dan memasukkanmu ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; dan (memasukkan kamu) ke tempat tinggal yang baik di dalam jannah ‘Adn. Itulah keberuntungan yang besar.
Allah hanya memasukkan hambanya yang sudah mendapatkan ampunan dosa-dosa dari-Nya.
Sekali lagi, Allah Subhanahu wa Ta’ala menghubungkan antara masuknya seseoang ke Surga dan selamatnya dari Neraka dengan maghfirah dan rahmat-Nya untuk menunjukkan bahwa hal tersebut tidak akan didapat tanpa adanya maghfirah dan rahmat-Nya.
Para salaf berkata, “Di akhirat kelak hanya ada dua kemungkinan; ampunan Allah atau Neraka, sedangkan di dunia juga cuma ada 2 hal saja; penjagaan Allah atau kebinasaan.”
Muhammad bin Wasi’ rahimahullah berkata kepada para sahabatnya ketika menjelang wafat, “Alaikumus salam,  bisa jadi neraka atau ampunan Allah.”
Adapun firman Allah :
)وَتِلْكَ الْجَنَّةُ الَّتِي أُورِثْتُمُوهَا بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ( [الزخرف : 72]
Dan itulah surga yang diwariskan kepada kamu disebabkan amal-amal yang dahulu kamu kerjakan.
)كُلُوا وَاشْرَبُوا هَنِيئًا بِمَا أَسْلَفْتُمْ فِي الْأَيَّامِ الْخَالِيَةِ( [الحاقة : 24]
(kepada mereka dikatakan), “Makan dan minumlah dengan sedap disebabkan amal yang telah kamu kerjakan pada hari-hari yang telah lalu.”
Ayat-ayat tersebut menunjukkan bahwa masuknya seseorang ke Surga karena rahmat Allah, dan penentuan derajat di surga berdasarkan amal seseorang.
Ibnu ‘Uyainah berkata, “Mereka berpendapat bahwa selamatnya seseorang dari api neraka itu disebabkan karena adanya ampunan dari Allah, dan masuknya seseorang ke surga disebabkan karena anugerah dari Allah serta penentuan derajat di surga berdasarkan amal seseorang.”
Coba perhatikan konotasi huruf al-Ba’ dalam firman Allah :
(بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ)
(بِمَا أَسْلَفْتُمْ فِي الْأَيَّامِ الْخَالِيَةِ)
Adalah ba’ sababiyyah (ba’ yang mengandung arti sebab), jadi maknanya adalah Allah menjadikan amal seseorang sebagai sebab masuknya seseorang ke dalam surga.
Sedang ba’ dalam hadits Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam :
)لَا يَدْخُلُ أَحَدُكُمْ الْجَنَّةَ بِعَمَلِهِ) [رواه أحمد]
Adalah ba’ muqabalah dan mu’awadhah (mengandung arti timbal balik) jadi makna dari hadits adalah Salah seorang dari kalian tidak akan masuk surga dengan amal perbuatan yang dia kerjakan.
Hadits ini menjawab keraguan orang yang mengira bahwa surga itu diperoleh karena hasil dari amal perbuatannya, dan menghapus keraguan bahwa orang yang mengerjakan suatu perbuatan akan secara otomatis berhak mendapatkan surga sebagaimana orang yang sudah membayar dengan harga tertentu akan mendapatkan barang dari harga yang sudah dibayar.
Hadits tersebut juga menjelaskan bahwa sebab seseorang masuk surga adalah karena anugerah dan rahmat-Nya. jadi masuknya seseorang ke dalam surga disandarkan kepada anugerah, rahmat, dan maghfirah-Nya, karena Dia-lah yang memberikan anugerah berupa sebab dan amalan yang menyebabkan seseorang beramal, jadi masuknya seseorang ke dalam surga tidak hanya disebabkan hanya karena amalnya sendiri.
»إِلَّا أَنْ يَتَغَمَّدَنِي اللَّهُ بِمَغْفِرَةٍ وَرَحْمَةٍ«
“Kecuali bila Allah meliputi melimpahkan rahmat dan ampunan-Nya kepadaku.” (HR. al-Bukhari)
Hadits di atas menunjukkan bahwa seseorang betapapun tinggi derajat dan keutamaannya tidak akan selamat hanya karena amalnya, bahkan dengan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, seandainya Allah tidak memberikan anugerah berupa diampunkannya dosa-dosa; baik yang telah lalu maupun yang akan datang, maka beliau tidak bisa selamat dengan amalnya.
والسلام علي من اتبع الهدي

Diantara kelemahan Prof. Quraish Shihab yang sangat mendasar dalam menyampaikan hadits adalah menyampaikannya hanya dengan maknanya saja, dan bisa jadi dua hadits yang berbeda digabungkannya menjadi satu dan bercampur baur dengan ucapannya, dan tanpa menyebutkan referensi kitab-kitab hadits, tidak pula sahabat yang meriwayatkan.

Dan kami mengira hadits yang dimaksudkan di atas adalah dua hadits yang berbeda, yaitu:

Pertama: Hadits Ummul ‘Alaa Al-Anshoriyah radhiyallahu’anha, beliau berkata ketika meninggalnya sahabat yang mulia Abus Saaib ‘Utsman bin Maz’un radhiyallahu’anhu:

رَحْمَةُ اللهِ عَلَيْكَ أَبَا السَّائِبِ فَشَهَادَتِي عَلَيْكَ لَقَدْ أَكْرَمَكَ اللَّهُ فَقَالَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم وَمَا يُدْرِيكِ أَنَّ اللَّهَ قَدْ أَكْرَمَهُ فَقُلْتُ بِأَبِي أَنْتَ يَا رَسُولَ اللهِ فَمَنْ يُكْرِمُهُ اللَّهُ فَقَالَ أَمَّا هُوَ فَقَدْ جَاءَهُ الْيَقِينُ وَاللَّهِ إِنِّي لأَرْجُو لَهُ الْخَيْرَ وَاللَّهِ مَا أَدْرِي – وَأَنَا رَسُولُ اللهِ – مَا يُفْعَلُ بِي قَالَتْ فَوَاللَّهِ لاَ أُزَكِّي أَحَدًا بَعْدَهُ أَبَدًا.

“Rahmat Allah atasmu wahai Abus Saaib (‘Utsman bin Mazh’un). Aku bersaksi bahwa Allah sungguh telah memuliakanmu.” Maka Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda, ”Apa yang telah membuat engkau mengetahui bahwa Allah telah memuliakannya?” Aku mengatakan, ”Demi bapakmu (ini bukan untuk bersumpah, Pen), lalu siapa yang dimuliakan Allah?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ”Adapun Abus Saaib maka telah datang kematiannya, demi Allah sungguh aku mengharapkan kebaikan baginya. Dan demi Allah aku tidak tahu –padahal aku adalah Rasulullah- apa yang akan Allah lakukan pada diriku.” Kemudian Ummul ‘Alaa’ mengatakan, “Maka demi Allah, setelah itu aku tidak pernah lagi memastikan seseorang (telah dimuliakan oleh Allah).” [HR Bukhari]

Perhatian: Tentang ucapan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits di atas,

وَاللَّهِ مَا أَدْرِي وَأَنَا رَسُولُ اللَّهِ مَا يُفْعَلُ بِي

“Dan demi Allah aku tidak tahu –padahal aku adalah Rasulullah- apa yang akan Allah lakukan pada diriku.”

Maka ucapan beliau tersebut sebelum turun firman Allah ta’ala yang mengabarkan bahwa dosa-dosa beliau semuanya telah diampuni. Allah ta’ala berfirman,

إِنَّا فَتَحْنَا لَكَ فَتْحًا مُّبِينًا لِّيَغْفِرَ لَكَ اللهُ مَاتَقَدَّمَ مِن ذَنبِكَ وَمَاتَأَخَّرَ

“Sesungguhnya Kami telah memberikan kepada kamu kemenangan yang nyata, supaya Allah memberi ampunan kepadamu terhadap dosa yang telah lalu dan yang akan datang.” [Al-Fath:1-2]

Apakah mungkin setelah dosa seseorang diampuni semuanya oleh Allah ta’ala lalu kemudian ia belum dijamin masuk surga?!

Dan terdapat beberapa hadits yang semakna dengan hadits Ummul ‘Alaa’ Al-Anshoriyah di atas, diantaranya adalah yang disebutkan oleh Al-Imam Al-Bukhari rahimahullah dalam Shahih beliau pada bab, Tidak Boleh Mengatakan Fulan Syahid:

قَالَ أَبُو هُرَيْرَةَ ، عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم اللَّهُ أَعْلَمُ بِمَنْ يُجَاهِدُ فِي سَبِيلِهِ اللَّهُ أَعْلَمُ بِمَنْ يُكْلَمُ فِي سَبِيلِه

“Abu Hurairah berkata, dari Nabi shallallahu’alaihi wa sallam: Allah yang lebih mengetahui siapa yang berjihad di jalan-Nya, Allah yang lebih tahu siapa yang terluka di jalan-Nya.” [HR. Al-Bukhari]

Hadits di atas menunjukkan bahwa tidak boleh memastikan seseorang itu mati syahid walau ia meninggal di medan jihad, karena kita tidak mengetahui keadaannya yang sesungguhnya di sisi Allah. Maka demikian pula, lebih tidak boleh lagi memastikan seseorang masuk surga walau kita melihat amalannya baik, karena belum tentu diterima di sisi Allah, sebab kita tidak tahu niat orang tersebut ketika beramal.

Namun larangan memastikan seseorang mati syahid dan masuk surga ini hanya berlaku bagi mereka yang belum dipastikan syahid atau masuk surga, adapun yang sudah dipastikan dan sudah dijamin masuk surga maka wajib bagi kita untuk meyakini bahwa ia pasti dan terjamin masuk surga.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata,

وَيَشْهَدُونَ بِالْجَنَّةِ لِمَنْ شَهِدَ لَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالْجَنَّةِ كَالْعَشَرَةِ وَكَثَابِتِ بْنِ قَيْسِ بْنِ شَمَّاسٍ وَغَيْرِهِمْ مِنْ الصَّحَابَةِ

“Dan mereka (Ahlus Sunnah wal Jama’ah) mempersaksikan (memastikan) akan masuk surga, orang orang yang dipersaksikan oleh Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam akan masuk surga, seperti 10 sahabat, Tsabit bin Qois bin Syammas, dan selain mereka dari kalangan para sahabat.” [Matan Al-Aqidah Al-Washitiyah]

Hal itu karena wajib membenarkan apa yang dikabarkan oleh Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam, sebagaimana dalam hadits Sa’id bin Zaid radhiyallahu’anhu, beliau berkata: Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,

عَشْرَةٌ فِى الْجَنَّةِ النَّبِىُّ فِى الْجَنَّةِ وَأَبُو بَكْرٍ فِى الْجَنَّةِ وَعُمَرُ فِى الْجَنَّةِ وَعُثْمَانُ فِى الْجَنَّةِ وَعَلِىٌّ فِى الْجَنَّةِ وَطَلْحَةُ فِى الْجَنَّةِ وَالزُّبَيْرُ بْنُ الْعَوَّامِ فِى الْجَنَّةِ وَسَعْدُ بْنُ مَالِكٍ فِى الْجَنَّةِ وَعَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ عَوْفٍ فِى الْجَنَّةِ ». وَلَوْ شِئْتَ لَسَمَّيْتُ الْعَاشِرَ. قَالَ فَقَالُوا مَنْ هُوَ فَسَكَتَ قَالَ فَقَالُوا مَنْ هُوَ فَقَالَ هُوَ سَعِيدُ بْنُ زَيْدٍ.

“Sepuluh orang di surga, Nabi (Muhammad) di surga, Abu Bakar di surga, Umar di surga, Utsman di surga, Ali di surga, Thalhah di surga, Az-Zubair bin Al-‘Awwam di surga, Sa’ad bin Malik di surga, Abdur Rahman bin ‘Auf di surga.” (Sa’id bin Zaid) berkata, “Kalau engkau mau aku akan sebutkan yang kesepuluh.” Mereka berkata, “Siapakah dia?” Maka beliau diam. Mereka berkata lagi, “Siapakah dia?” Beliau berkata, “Dia adalah Sa’id bin Zaid.” [HR. Abu Daud dan At-Tirmidzi dan ini adalah lafaz Abu Daud, Lihat Ash-Shahihah: 1435]

Dalam lafaz At-Tirmidzi:

وَأَبُو عُبَيْدَةَ وَسَعْدُ بْنُ أَبِى وَقَّاصٍ

“… Abu Ubaidah (di surga) dan Sa’ad bin Abi Waqqash di surga.” [HR. At-Tirmidzi dari Sa’id bin Zaidradhiyallahu’anhu, Shahih At-Tirmidzi: 2947]

Perhatian: Dalam lafaz Abu Daud di atas sangat jelas disebutkan, “Nabi (Muhammad) di surga.” Semoga kita termasuk orang-orang yang membenarkan sabda Nabi Muhammad shallallahu’alaihi wa sallam dan tidak mendustakannya.

Adapun tentang sahabat yang mulia Tsabin bin Qois bin Syammas, Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam telah bersabda tentang beliau,

بَلْ هُوَ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ

“Bahkan ia termasuk penghuni surga.” [HR. Al-Bukhari dan Muslim, dan inimlafaz Muslim dari Anas bin Malik radhiyallahu’anhu]

Jadi, pendalilan Prof. Quraish Shihab dengan hadits yang disebutkannya untuk menafikan jaminan surga bagi Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam adalah tidak tepat, karena terdapat banyak sekali dalil yang menunjukkan bahwa Nabi Muhammad dan sahabat telah dijamin masuk surga.

Dan telah dimaklumi bahwa untuk mengambil satu kesimpulan dari dalil hendaklah mengumpulkan terlebih dahulu seluruh dalil yang terkait, bukan mengambil sebagian dalil dan membuang yang lainnya. Oleh karena itu dalam ilmu tafsir juga dikenal adanya nash-nash yang umum dan khusus, yang muthlaq danmuqoyyad, yang naasikh dan mansukh.

Menerapkan Syariat Islam dalam Sistem Demokrasi….?????

Mumpung lagi tadarusan ni, coba buka surat Al Baqarah ayat 183….

Di sana tertera perintah Allah (kewajiban) untuk berpuasa kan?

Nah….

Sekarang coba naik 5 ayat ke atas….

Di sana tertera “Hai orang-orang yang beriman, DIWAJIBKAN atas kamu QISHAASH……” 

Menurut kalian apakah qishaash bisa dilaksanakan dalam sistem demokrasi???

Hanya dalam sistem pemerintahan islam saja lah qishaash itu bisa dilaksanakan. Dalam sebuah daulah islam, yang dipimpin oleh seorang khalifah. 

Inget lho, hukum qishaash itu WAJIB menurut Allah, jadi kita yang manusia ini tak punya hak untuk merubah2 hukum tersebut dengan alasan apapun, dengan pertimbangan apapun, dalam kondisi apapun. 

Dan karena sekarang kita belum bisa melaksanakannya (qishaash) karena belum ada daulah islam yang akan menerapkannya, maka WAJIB pula hukumnya untuk kita menyeru pada penegakan khilafah kepada seluruh masyarakat. 

Caranya? Dengan dakwah, itu saja, Rasulullah juga dulu hanya menempuh jalur dakwah saja. 

Apakah kita perlu masuk ke dalam sistem demokrasi agar langkahnya jadi terasa lebih realistis daripada sekedar ‘omong doang’? hmmm….apakah pernah ada satu saja partai, calon legislatif atau calon presiden yang mengatakan dengan lantang “Akan menerapkan syariat islam secara total jika saya terpilih nanti” ??? jawabannya pasti “tidak ada”, iya kan? Kenapa? Karena jika kita menyuarakan “penerapan syariat islam” dalam bingkai demokrasi, whoooaa, kita pasti akan dirongrong oleh para suksesor demokrasi, para suksesor sistem sekuler ini. mereka tak akan pernah membiarkan syariat islam diterapkan di negara ini karena jika syariat islam diterapkan hilang pula lah wahana bermain mereka, tak ada lagi jalur untuk bisa melakukan korupsi, tak ada lagi jalur untuk suap menyuap, tak ada lagi jalan bagi para pemilik modal dan pengusaha untuk men’setting’ kebijakan pemerintah agar sesuai dengan kemauan mereka. 

Jadi yang bisa kita lakukan apa? Ya itu tadi. dakwah, dakwah, dakwah, ngomong, ngomong dan ngomoooong terus. 

Sampai kapan? Sampai sebagian besar masyarakat paham pentingnya penerapan syariat islam secara total di bumi nya Allah ini, agar kelak masyarakat inilah yang mendesak pemerintahannya digantikan dengan sistem pemerintahan islam, sampai aparat kemanan mau memberikan perlindungan jika di negara ini (contohnya indonesia) akan ditegakkan kekhilafahan dan diruntuhkan demokrasi, sampai sebagian besar petinggi negara mau mengubah negara ini dari negara sekuler menjadi daulah islam. 

Indahnya jalan dakwah, indahnya jalan damai yang diajarkan Rasulullah. Anarkis itu bukan solusi ya untuk menegakkan khilafah. Jadi yang bilang khilafah sudah tegak tapi pakai jalur anarkis dan tak punya perlindungan dari negara manapun, itu bukan kekhilafahan yang sah. 

wallahu a’lamubissawab

semoga bermanfaat. 

 

Umat Islam – DULU dan KINI

Dulu saat masyarakat eropa masih percaya takhayul, semua barang yg menjadi hasil science dianggap memiliki kekuatan magis, masyarakatnya berada dalam kebodohan hingga masa itu dikatakan sebagai masa kegelapan di eropa (dark age).

Sedangkan di jazirah arab di mana masa kekhilafahan masih berjaya dengan daerah kekuasaan yg membentang sangat luas dan sistem pemerintahan islam masih di gunakan, ilmu pengetahuan sangat berkembang pesat dan bermunculan berbagai cendekiawan dari berbagai bidang ilmu, seperti ibnu sina dalam bidang kedokteran, az zahrawi dalam bidang ilmu bedah, al khawarizmi sebagai ahli matematika, jabir ibn hayyan dlm bidang kimia, al idrisi pakar geografi, nashrudin ath thusi pakar astronomi, imam empat mazhab (hanafi, maliki, syafii, hanbali) dalam bidang ilmu islam. mereka muncul dan memberikan kemajuan bagi peradaban Islam hingga nama daulah/negara islam sangat dihormati, disegani, dan ditakuti pada masa itu. 

Mereka bisa muncul karena sistem pemerintahan yg digunakan adalah sistem pemerintahan islam, yg memberikan keluasan dan keleluasaan bagi siapapun untuk mengembangkan diri, menambah ilmu sebanyak-banyaknya, tanpa memikirkan biaya pendidikan, tanpa harus susah dengan uang gaji yang habis karena biaya kesehatan. Pendidikan dan kesehatan di gratiskan, semua sumber daya alam yang menunjang hajat hidup orang banyak di kelola langsung oleh negara, tidak boleh ada pihak swasta dan asing yang mengelola dan melakukan privatisasi untuk keuntungan pribadi. Dan hasil dari sumber daya alam digunakan sepenuhnya untuk kesejahteraan ummat. Perpustakaan dan laboratorium berdiri di setiap sudut kota, semua orang boleh dengan bebas mengasah kemampuannya dan berlatih menjadi penemu.

Coba lihat apa yg terjadi pada umat islam saat ini. Jika disebut nama islam di tengah2 bangsa barat, mereka akan mengatakan ”islam itu bodoh, miskin, kotor, terbelakang, mudah di profokasi, mudah dikendalikan, mudah di pecah belah, teroris,” tak ada lagi yang tersisa dari umat islam saat ini. Tak ada lagi nama besar islam yang kuat dan dihormati. Tak ada lagi kedigdayaan daulah islam.

Umat islam saat ini meski jumlahnya banyak namun seperti buih di lautan. Mereka fokus mempertahankan kesukuannya, kenegaraannya, tak peduli pada saudaranya di negara lain yg sedang menderita dan disiksa. Mereka banting tulang mencari nafkah untuk makan dan menyekolahkan anaknya, sedangkan biaya pendidikan semakin melambung tinggi. Yang bisa bebas sekolah di mana saja sampai jadi profesor hanya orang2 berduit. Baru punya uang sedikit namun akhirnya jatuh sakit, mereka harus lagi merogoh kocek dalam-dalam guna membayar biaya kesehatan yg semakin tinggi membumbung dan sudah di komersialisasi oleh beberapa pihak.

Di Indonesia, minyak bumi, emas, perak, tembaga, batu bara, hasil hutan, hasil laut, mau cari apa lagi? Semuanya ada! Tersedia dan gratis diberikan oleh Allah? Tapi apa yg terjadi? Perusahaan2 besar bernama freeport, petronas, newmont dan lain2 lah yg menguasai, dan itu DILEGALKAN oleh pemerintahnya sendiri karena tak bisa membiayai anak bangsa untuk mengelola sumber daya alam nya sendiri. 

beginilah nasib umat tanpa seorang khalifah yang melindungi dan mengayominya. Sudah begini keadaan umat di seluruh dunia, masih saja ada yang mengatakan khilafah tidak dibutuhkan. Masih saja ada yg tidak percaya bisyarah Rasulullah bahwa di akhir zaman akan muncul kembali khilafah rasyidah. Masih saja ada yang percaya pada sistem pemerintahan yg memang digunakan musuh2 Allah untuk memecah belah ummat agar mementingkan kesukuan dan kenegaraannya saja. Masih saja ada yang mengatakan islam tak pernah mengajarkan berpolitik dan islam tak perlu dikejar dan dibangkitkan dengan politik. Masih saja ada yang mengatakan ‘hanya’ perbaikan individu yg dibutuhkan utk memperbaiki kerusakan dan kebobrokan yang ada di seluruh dunia ini dan tidak butuh koar2 menegakkan khilafah dan syariat islam. Masih saja ada yang mengatakan orang2 yang memperjuangkan tegaknya khilafah, memperjuangkan janji Allah dan kabar gembira Rasulullah, sebagai perusak ukhuwah, perusak NKRI, aliran sesat…ya Rabbi, maafkan kami, dan tunjukkanlah kami jalan yang lurus dan engkau ridhoi…

Mencari Figur Ulama: Khazanah Trans 7

Saya salut dengan acara khazanah di trans 7. Materi-materi yang disampaikan selalu tepat sasaran, berbobot dan menggunakan bahasa yang mudah dipahami masyarakat. Acung 4 jempol deh untuk penggagasnya. semoga bisa membantu membangun opini di tengah-tengah masyarakat untuk kembali sepenuhnya kepada Islam… 🙂

Ini salah satu contoh liputan tim khazanah tentang mencari figur ulama. selamat menyaksikan, semoga bermanfaat. 🙂

 

Dare To Be DIFFERENT

2f3e778cd1ff11e3a6f90002c9e15338_8

Ketika dunia dengan segenap perhiasannya mengelabui manusia dengan warna-warninya yang menarik nafsu dan mengundang minat, datanglah syaitan berwajah manusia yang membisikkan ke telingamu, 

“Ayo, nikmatilah masa mudamu! kapan lagi, hidup cuma sekali, cobain aja dulu, sekali aja”

“Masak jaman modern GA PACARAN. masak mau nikah kayak beli kucing dalam karung? ya penjajakan dulu lah, kenal dulu mana yang baik mana yang nggak. nanti kalau udah dapet yang pas ya baru nikah”

“Masak baju ketutup kayak kurungan gitu, badan lo tuh bagus, rambut lo bagus, masak ga mau dipamerin ke orang-orang?”

“Aduh pake kerudung. Jaman sekarang masa msh kuno, yg stylish dong kaya di luar”

bla bla bla bla bla …..

Mungkin kita merasa hidup di tengah keterasingan, namun beruntunglah orang-orang yang asing (al-Ghuroba’), yaitu yang berusaha untuk menghidupkan kembali Sunnah yang nyaris mati dan Aqidah yang telah luntur dari dada manusia. Rasul bersabda, “Islam datang dalam keadaan asing, dan akan kembali dalam keadaan asing sebagaimana datangnya. Maka beruntunglah orang2 yg asing itu” (HR. Muslim) Yaitu orang-orang yang tidak menjual akheratnya demi mendapatkan secuil dunia yang hina dan tak berharga :’)

Semoga kita bisa dimudahkan Allah untuk berada di jalan islam yg lurus dengan iatiqomah, karena cobaan pasti ada dan Allah juga pasti selalu ada..so dont be sad !!! #DAREtobeDIFFERENT Illustration pict by: Gaby for #RATUBILQIS

sumber: @ratubilqis IG account

Perjuangan Rasulullah sebelum terbentuknya daulah islam di Jazirah Arab

Copas Dari Saudara M Falah Rumaria.

Kalau berdakwah hanya sebatas persoalan akhlaq dan ibadah mahdhah (ritual), spt menjaga shalat, rajin puasa, mensucikan hati, menebar salam, menjauhi riya’, murah senyum, dsb, tentu sedikit–jika tdk bisa dikatakan tdk ada–yg akan menentang dakwah tsb.

Cobalah tengok pada pribadi rasulullah saw, beliau itu kurang apa?

Beliau berasal dari keluarga terpandang (klan beliau Bani Hasyim adl klan yg dipercayakan utk memegang kunci ka’bah), akhlak beliau nomor satu, tutur katanya sempurna, sopan santun pasti, orang2 tidak ada yg menyangsikan kejujuran dan keamanahan beliau sampai2 beliau diberi gelar al-amin (yg dpt dipercaya).

Tetapi pertanyaannya, mengapa muhammad yg dikenal masyarakat mekah pada saat itu sbg orang yg paling baik, org yg paling sempurna, namun ketika beliau menyampaikan Islam, kok malah ditentang habis-habisan?

Hal ini tentu karena dakwah yg disampaikan muhammad itu bukan semata persoalan akhlak & ritual. Artinya jikalau hanya persoalan akhlak & ritual yg disampaikan beliau, siapa masyarakat yg mau menentang? Sementara muhammad itu orang yg baik, tutur katanya sempurna, orang yg paling halus budi pekertinya dan paling disegani?

 

Kalau demikian, lalu apa yg menyebabkan beliau mendapatkan penentangan seperti itu?

 

Jawabannya adl karena dakwah yg disampaikan muhammad adl dakwah yg ‘menabrak kekuasaan’, ‘menabrak kedaulatan’, ‘menabrak tatanan hidup’, ‘menabrak pola pikir’. Dakwah semacam inilah yg mengakibatkan para petinggi Quraisy yg bahkan paman2 beliau sendiri melancarkan segenap tipu daya dan makar serta memobilisasi masyarakat utk menghentikan dakwah beliau, bahkan sampai ingin membunuh beliau.

 

Mengapa bisa begitu?

 

Ya, karena mereka tahu, bahwa jika mereka bersyahadat (menerima apa yg disampaikan Muhammad dan mengakui Muhammad sbg rasul), di sisi lain mereka juga harus menyerahkan sepenuhnya kekuasaan mereka kepada Muhammad, menyerahkan sepenuhnya kedaulatan mereka kepada Allah Sang pembuat hukum, serta tatanan hidup mereka dan pola pikir mereka disandarkan hanya pada Islam. Yakni tatanan hidup diatur berdasarkan wahyu (Al-Qur’an dan As-Sunnah), dan pola pikir Islam dijadikan asas dlm menilai segala sesuatu (halal/haram sbg tolok ukur). Ini konsekuensi yg sangat berat guys 

 

Allah berfirman :

“Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakikatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu (Muhammad) sebagai hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian MEREKA TIDAK MERASA DALAM HATI MEREKA SESUATU KEBERATAN TERHADAP PUTUSAN YANG KAMU BERIKAN, DAN MEREKA MENERIMA SEPENUHNYA.” (QS. An-Nisa: 65)

Jadi, seharusnya para ulama menyampaikan Islam sbg sebuah diin yg utuh, yg dapat memecahkan segala urusan kehidupan secara menyeluruh sesuai dengan fitrah manusia.

Ketika kemiskinan merajalela, para ulama’ seharusnya tidak hanya mengajarkan utk semata bersabar dan memperbanyak shadaqah saja, tapi juga harus dijelaskan akar persoalannya yaitu diterapkannya sistem ekonomi sekuler-kapitalistik yg menyerahkan keadilan ekonomi kepada pasar bebas. Kemudian memberikan solusinya yaitu pergantian sistem ekonomi kapitalisme dengan sistem ekonomi Islam.

Ketika zina sudah semakin biasa, seharusnya para ulama’ tidak hanya mengajarkan utk berpuasa dan menahan diri dari hawa nafsu , tapi juga harus dijelaskan akar persoalannya mulai dari tatanan kehidupan yg semakin bebas, tidak adanya peraturan yg mewajibkan wanita utk menutup aurat dlm kehidupan umum, dimana-mana terjadi eksploitasi besar2an atas tubuh wanita (tempat kerja, film, produk2 bisnis), beredarnya video porno, sanksi yg tidak memberikan efek jera bagi pelaku zina, dll.

Oleh karena itu umat membutuhkan ulama’ yg dengan gagah berani menyampaikan al-haq, yakni Islam, dengan sempurna, sehingga ulama’ akan mendorong kebangkitan berpikir umat dan menggerakkan umat menuju ke arah perubahan yg hakiki, yaitu diterapkannya solusi atas akar2 permasalahan tadi, mulai dari sistem ekonomi islam, sistem sosial kemasyarakatan Islam, sistem pendidikan Islam, sistem persanksian Islam, dsb, yg sistem2 ini tidak akan bisa terlaksana tanpa diterapkannya sistem pemerintahan warisan Rasulullah, yakni al-Khilafah ar-Rasyidah ‘ala manhaj an-Nubuwwah, bukan sistem pemerintahan sekuler-demokrasi.

 

Wallahu a’lam bish shawab.

‘Jokowi Effect’ – menuntun pada kemenangan islam? atau menarik ke dalam jurang? Think again!

‘Jokowi effect’ ramai dibicarakan. Tak lama setelah PDIP secara resmi mencalonkan jokowi sebagai capres dikabarkan rupiah menguat. media massa yang memang selama ini dikenal pro jokowi pun memunculkan opini kuat, “jokowi adalah pilihan presiden terbaik” dengan berbagai argumentasi. Tak ketinggalan media massa luar negeri, menyambut hangat Jokowi.

Memang kemunculan Jokowi–lepas dari berbagai tudingan konspirasi dibaliknya–bagi sebagian orang menimbulkan harapan. sosok yang kelihatan sederhana, berwajah ‘lugu’ dan dicitrakan merakyat diharapkan bisa membawa perubahan untuk indonesia yang karut marut. Wajar saja, hal ini muncul sebagai reaksi kemuakan terhadap politisi-politisi stok lama yang sarat masalah. Persoalannya, bisakah mengandalkan sosok individual jokowi?

untuk itu, menjawab apa sebenarnya persoalan Indonesia sehingga karut marut seperti sekarang menjadi penting. Kalau kita memperhatikan secara mendalam, persoalan Indonesia sesungguhnya adalah persoalan sistem. Memang ada masalah individual, tetapi yang paling berpengaruh dan menonjol adalah sistem.

beberapa indikasinya antara lain, Indonesia bermasalah dalam hampir semua aspek, multidimensional. pendidikan, sosial, ekonomi, politik, hukum, keamanan, transportasi, hampir semuanya bermasalah.

indikasi lain, banyak persoalan muncul bukan berkaitan masalah implementasi kebijakan, justru lahir dari undang-undang yang mengatur kebijakan itu. Perampokan kekayaan alam Indonesia oleh perusahaan-perusahaan asing dilegitimasi berbagai UU yang pro kapitalis, seperti UU migas, UU penanaman modal, UU kelistrikan. sebagai contoh, keinginan untuk menjadikan pertamina sebagai BUMN kuat dan alat pemerintah dalam pengelolaan BBM justru terhalang UU migas No. 22 tahun 2001. UU ini membatasi kewenangan pertamina sebagai pemain utama (single player) di sektor ini. UU ini juga memberikan hak/kewenangan kepada perusahaan minyak lain, baik domestik atau asing. Tidak mengherankan kalau sektor migas kita sebagian besar dikuasai oleh perusahaan asing.

persoalan Indonesia bukan sekedar persoalan individual, tetapi sistemik juga bisa kita lihat dalam korupsi. Hampir semua aspek di Indonesia tidak lepas dari korupsi, baik swasta atau negara. tiga institusi pilar negara demokrasi (legislatif, eksekutif, yudikatif) pun tidak lepas dari kasus korupsi. DPR dan kepolisian kerap mendapat gelar lembaga terkorup. Bahkan DPR sudah 4 tahun berturut-turut, menurut KPK, menduduki posisi nomor wahid dalam kasus korupsi. Menurut petinggi KPK Busyro muqaddas, hampir semua sistem DPR rawan korupsi, baik fungsi legislasi, anggaran maupun pengawasan. menurut staf mendagri sejak pemilu pilkada 2004, sudah ada 3000 anggota DPRD yang terjerat kasus hukum, lebih dari 80% adalah kasus korupsi. Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) yang salah satu tugas pentingnya menilai UU, juga terjerat korupsi.

mengingat persoalan Indonesia adalah persoalan sistem, ‘jokowi effect’ yang tidak menyentuh perubahan sistem dipastikan 100% tidak akan membawa perubahan yang mendasar. jokowi pasti akan gagal. pasalnya, pangkal persoalan indonesia dan negeri-negeri islam lainnya adalah penerapan sistem kapitalisme yang berasas sekularisme berikut pemikiran pokoknya seperti demokrasi, pluralisme, dan liberalisme.

dari berbagai transisi politik di Indonesia, pada mulanya para pemimpin tiap orde itu pun banjir pujian. namun tidak lama berlangsung, mereka juga gagal. sebabanya, yang terjadi hanya berganti rezim/orang, bukan sistem. kegagalan mereka diperparah dengan ketundukan mereka kepada barat. sikap pemimpin seperti inilah yang melestarikan penjajahan kapitalisme.

perlu kita catat, yang diinginkan barat dari pemimpin Indonesia ke depan adalah tetap tunduk kepada mereka. Tentu mereka akan memuji calon pemimpin yang siap melestarikan sistem penjajahan mereka. tidak mengherenkan kalau petinggi Bank Dunia sudah mewanti-wanti kepada presiden baru ke depan untuk menaikkan harga BBM atau mengurangi subsidi. ini sesungguhnya pesan arogansi dari barat, bahwa siapapun pemimpin Indonesia harus tunduk kepada mereka.

Di sinilah letak penting peran partai-partai Islam. Seharusnya mereka menyerukan perubahan sistem dengan tawaran ideologi yang jelas. Tentu ideologi yang harus berseberangan dengan kapitalisme, tidak ada lain kecuali islam: bukan malah menyerukan demokrasi dan liberalisme, apalagi menikmatinya, apalagi kemudian menjilat barat untuk mendapatkan keridhaannya.

Partai Islam harus menyerukan pergantian sistem kapitalisme sekuler menjadi islam; mengganti negara sekuler yang menerapkan kapitalisme menjadi negara khilafah yang menerapkan syariah islam secara kaffah. seruan ini harus jelas, gamblang dan terbuka agar umat bisa paham sehingga mendukung dan memperjuangkannya.

tugas penting ini diperintahkan Allah SWT (QS Ali Imran [3]: 104) yang menjadi dasar dari kewajiban keberadaan gerakan kelompok, atau partai politik yang berdasarkan islam. kelompok atau partai politik ini wajib menyerukan al khair (ISLAM) serta melakukan amar makruf nahi mungkar. Imam ath-thabari dalam tafsirnya Jami’ an-Bayan fi Ta’wil al-Qur’an menjelaskan pengertian yad’una ila al-khair adalah yad’una ila al-islam wa syarai’ihi allati syara’a Allahu li ‘ibadihi (menyerukan islam dan syariah-Nya yang disyariatkan Allah swt kepada hambanNya).

tugas ini memang berat dan bisa jadi belum diterima sepenuhnya oleh rakyat. namun in sha Allah, dengan perjuangan yang tidak kenal lelah, rakyat akan makin paham dan mendukung, bahwa syariah islam wajib diterapkan secara kaffah di tengah-tengah kehidupan mereka dalam institusi pemerintahan Islam yang bernama khilafah.

Apalagi mereka melihat di depan mata, bagaimana fakta kerusakan akibat sistem kapitalisme. Rakyat juga merasakan langsung penderitaan itu. in sha Allah dengan sikap istiqomah berpegang teguh pada islam, bekerja keras berdasarkan manhaj Rasulullah saw. dan berharap pada pertolongan Allah SWT. kemenangan itu akan semakin dekat. bukankah Allah yang memiliki kekuasaan dan Allah pula yang menggilirkan kekuasaan kepada siapa yang dia kehendaki?

sumber: Tabloit Al Waie edisi April 2014