What Do You Actually Want In Your Life?

Akhir-akhir ini otak serasa sedang tumpul. Kepingin nulis sesuatu tapi nggak tahu harus memulai dari mana dan dengan intro seperti apa. Jadi saya coba-coba saja menulis. Kalau dibaca hasil nya kurang enak, harap dimaafkan dan dimaklumi…

– What Do You Actually Want In Your Life? –

Apa yang sesungguhnya kamu inginkan dalam hidupmu? Pernah tidak kalian coba renungkan hal ini, direnungkan dalam situasi yang tenang, dan bukan dibawah tekanan. Jawaban yang muncul dari dalam diri masing-masing kita pun pasti beragam. Ada yang ingin mengejar cita-cita hingga setinggi luar angkasa (jika kata ‘langit’ tidak cukup menggambarkan ketinggian angan-angan dan harapannya). Ada yang ingin bisa merasakan segala kemudahan dalam hidupnya, bisa makan enak setiap hari, punya rumah mewah, mobil berjejer di garasi, pekerjaan yang mapan dengan gaji yang bahkan berlebih jika patokannya untuk memenuhi kebutuhan tersier. Ada yang ingin suami sempurna, sempurna dalam artian benar-benar punya segalanya, kaya, tampan, mapan, baik hati, tidak sombong, rajin menabung, dan lain sebagainya. Ada yang keinginannya hanya satu, ingin terus mendekatkan diri pada Allah, dan seluruh hal yang ia lakukan dalam hidupnya ingin disandarkannya pada penilaian baik menurut Allah. Ada pula yang tak punya jawaban sama sekali, cuma bisa senyum ketika diberikan pertanyaan seperti itu, tidak punya keinginan apa-apa, dan memilih prinsip hidup “mengalir seperti air”.

Sebenarnya, setinggi apapun kemauan dan harapan kita terhadap kehidupan dunia ini, pasti pada intinya kita hanya menginginkan satu hal, bahagia. Satu kata yang punya ribuan makna. Satu kata yang dicapai dan diusahakan dengan berbagai macam cara oleh masing-masing manusia. Standar bahagia setiap orang pun ternyata tak sama. Ada yang bahagia nya disandarkan pada hal-hal bersifat materi keduniawian, ada yang diletakkan pada hubungan sosial dengan sesama manusia, dan ada pula sekelompok orang yang menancapkan standar bahagianya pada hubungannya dengan Sang Pencipta. Kita semua diberikan keleluasaan oleh Allah untuk menentukan pilihan tentang apa yang sebenarnya kita inginkan dalam hidup, standar bahagia seperti apa yang kita pilih, dan bagaimana cara kita untuk mengusahakannya. Namun bukan berarti keleluasaan itu tidak dibarengi dengan konsekuensi. There will always be a reward or punishment in every decision we made, yang telah ditetapkan Allah untuk setiap manusia, yang merupakan hasil akhir atau konsekuensi dari setiap pilihan yang kita buat dalam hidup.

Tak mudah memang menentukan pilihan, memilih standar bahagia yang tepat, dan mencari apa yang sesungguhnya kita inginkan dari hidup yang hanya sekali dan sementara ini, ditengah gempuran berbagai gaya hidup manusia yang ada sekarang, benar-benar tak mudah. Kadang walaupun kita tahu mana jalan yang akan membawa kita pada ‘bahagia’ yang paling tepat, tetap saja ada kalanya kita menikung, memilih jalan yang salah. Tapi masih saja Allah berbaik hati memberi kita waktu untuk kembali merenung, kembali menata hati dan jiwa, kembali menentukan pilihan. Semoga kita ditetapkanNya pada pilihan-pilihan keinginan yang senantiasa mengantarkan bahagia menurut standar yang dibenarkan oleh syariatNya. In syaa Allah….

image

Secantik dan setampan apapun dirimu tak akan meningkatkan derajatmu dihadapan Allah jika hatimu tidak kau benahi, imanmu kau biarkan compang camping, akhlakmu tak kau jaga dengan baik, lisanmu tak kau gunakan dengan ma’ruf….
Karena wajah yang kau banggakan bisa jadi hilang dalam sekejap jika Allah berkehendak…
Sedangkan hati yang indah, akhlak yang baik, tutur kata yang lembut, serta keimanan dan ketakwaan yang terjaga tak akan pernah lekang oleh waktu….

Lebih dulu mana, jodoh atau kematian?

Beberapa waktu terakhir tulisan saya di Instagram, facebook atapun di blog berkisar di situ-situ saja. Berputar-putar hanya membahas tentang cinta dan pernikahan.

Memang benar di usia 25 tahunan ini bagi kebanyakan wanita, membahas dan mencari jawaban dari pertanyaan, “Kapan nikah?” Itu adalah hal yang amat sangat menarik, yang seakan tak ada habis-habisnya untuk dibicarakan. Padahal ada yang jauh lebih penting dan lebih pasti dari masalah kapan datangnya jodoh. Hal itu adalah, Kematian.

Siapa yang tahu kapan kita akan mati? Siapa yang bisa mengira jika ternyata ajal yang tak pernah diundang itu justru lebih dulu datang menjemput dibanding sang jodoh yang selalu dinanti-nantikan? Sudah siapkah kita untuk itu? 😥

Menjadi hal yang penting memang untuk memantaskan diri guna mendapatkan seorang suami yang baik agamanya, dan baik akhlaqnya. Tapi memantaskan diri untuk menghadap sang Khalik rasanya jauh lebih penting dan jauh lebih urgent untuk diurus saat ini.

Jika ternyata kita diizinkan untuk bertemu ‘dia’ sebelum ‘Dia’ memanggil, maka itu semata-mata bonus dari Allah untuk kehidupan kita. Bonus yang diberikan sebelum Dia menarik segala nikmat untuk kita di dunia, dan mengakhiri perjalanan kita sampai di detik yang telah ditentukan waktunya… Mulai sekarang, kita sama2 perbaiki lagi niat kita. Agar segala hal yang kita lakukan dalam hidup, segala ibadah yang kita lakukan, semata-mata untuk mencari ridhoNya, dan untuk bekal menuju kematian yang bisa jadi cepat kedatangannya…

Umi

image

Kita sibuk sekali mencari-cari
Padahal yang selalu ada dan tak pernah kurang memberi berada dekat sekali
dia mungkin tak pandai menampakkan cinta dan kasih sayangnya
tapi coba lihat segala hal yang dikorbankannya untuk kebahagiaan kita
Mana bisa kau sembunyikan air matamu darinya
Meski sudah kau tutup-tutupi, dia pasti bisa melihat ke dalam hatimu, dan ikut Merasakan apa yang sedang kau rasakan, turut merisaukan apa yang kau risaukan
Adalah ibu
Manusia yang paling besar cintanya pada kita di muka bumi ini
Yang cintanya tak kan pernah habis
Dan tak pernah berbatas
Bahkan kelak jika kau tak lagi hidup bersamanya
Jika kau tak lagi menjadikannya prioritas utama
Dia tetap akan memprioritaskanmu, sampai kapanpun, tak akan pernah berubah, selamanya… 😥

– mindeulle

*NB. Kaligrafi ini bukan karya saya

Renungan untuk para pejuang dakwah

Mengatakan diri beriman itu mudah sekali
Mengeluarkan teori itu mudah sekali
Tapi ketika didatangkan ujian yang bertubi-tubi di saat kita tidak siap, di sanalah baru terbukti, apakah kita benar-benar beriman seperti apa yang terucap? apakah teori kita tentang cara menjalani hidup yang baik mampu dijalankan?
Saya dulu pernah dengan mudahnya mengatakan diri sudah berhijrah, sudah beriman, sudah baik, pernah merasa bangga pada kedekatan terhadap Allah, memandang sebelah mata orang2 yang masih belum mau berhijrah, sudah merasa cukup dengan bergaul dalam lingkungan yang dipenuhi orang-orang yang istiqomah, namun ketika Allah mendatangkan ujian dari seluruh sisi kehidupan, terbuktilah bahwa selama ini iman saya masih amat sangat lemah, hati saya masih dipenuhi keangkuhan dan keegoisan, ketakwaan yang saya perlihatkan di dunia nyata maupun dunia maya hanya sampai ‘di luar’ saja, teori yang saya paparkan tak lebih dari kata-kata tanpa makna.
Tapi Allah memang punya caranya sendiri untuk membuat kita sadar di mana letak kesalahan kita sebagai hambaNya
Jika saja ia membiarkan saya terus menerus seperti itu, mungkin saya tak akan pernah sadar bahwa saya masih kurang dalam segala hal, amat sangat kurang, saya tak akan sadar bahwa berdakwah tidak bisa dilakukan dengan penuh tekanan, hinaan, kata-kata yang tidak santun, dan tanpa contoh yang nyata, bahwa berdakwah tidak bisa dilakukan dengan hati yang keruh dan dipenuhi berbagai macam penyakit hati, saya tak akan pernah sadar betapa berbahayanya lidah dan jari ini jika tidak dikontrol oleh iman dan akal sehat, saya tak akan pernah sadar bahwa sebelum memperbaiki orang lain, harusnya terlebih dahulu saya perbaiki dulu bagian yang masih compang camping dari iman dan akhlak saya….
Saya membagi cerita ini bukan untuk membuka kejelekan diri sendiri. Tapi saya ingin kalian mengambil pelajaran berarti dari apa yang sudah saya lalui. Semoga bisa memberi manfaat :’)

Jodoh itu jangan dicari, cukup memantaskan diri

Barusan nemu artikel yang bagus banget tentang ‘memantaskan diri’. Di repost ulang di sini dengan sedikit editan (sedikit kok…nggak banyak…hehe)

Sumbernya: http://www.hipwee.com/hubungan/jodoh-tidak-perlu-dicari-yang-penting-kamu-memantaskan-diri/

Selamat membaca!

Jodoh dan soulmate adalah konsep absurd yang sering membuat orang galau. Apalagi, dalam masyarakat kita jodoh dan pernikahan seakan menentukan keberhasilan seseorang. Saat sudah mencapai umur yang dianggap siap untuk menikah, tidak jarang kamu dihampiri pertanyaan, “Mana calonnya?” dan “Kapan nikah?”

Dampaknya, banyak dari kita yang panik mencari saat merasa belum juga menemukan soulmate. Mulai dari minta dikenalkan teman, pasrah dijodohkan oleh orang tua, hingga ikut kontak jodoh di internet. Memang benar ya jodoh dan soulmate harus dicari? Tidak adakah cara lain untuk mendapatkannya? Hmm…memantaskan diri, misalnya?

Terus mencari pasangan sejiwa justru bisa membuat kita tersakiti

Soulmate atau belahan jiwa jadi hal yang ingin didapatkan oleh hampir semua orang. Memang kedengarannya menyenangkan sih, saat kamu punya seseorang yang memahami dan selalu ada di sisimu.

Demi mendapatkan soulmate-nya tidak jarang orang akan rela mengorbankan banyak hal. Tapi pernahkah kita bertanya mengenai validitas konsep ini? Apakah benar ada individu lain yang akan benar-benar memahami kita sampai ke titik terdalam?

Sebuah penelitian yang diterbitkan oleh Journal of Experimental Psychology justru menunjukkan bahwa konsep soulmate sebenarnya hanya ilusi. Mempercayai konsep ini akan membuat seseorang tidak bisa menjalani hubungan romantis yang sedang dijalaninya dengan maksimal.

“Saat seseorang mempercayai bahwa pasangannya adalah pasangan jiwa dan mereka “tertakdirkan”, biasanya pasangan ini akan lebih tidak bahagia. Mereka juga akan menghadapi risiko lebih besar untuk berpisah.”
Menganggap pasanganmu sempurna adalah awal dari bencana
Menganggap pasanganmu sempurna adalah awal dari bencana via imgur.com

Ketika kita mempercayai konsep soulmate, kita akan rentan menganggap pasangan yang sedang bersama kita sebagai orang paling sempurna bagi kita. Dalam hubungan yang dianggap sudah “tertakdirkan”, akan tercipta pemahaman bahwa hubungan tersebut harus bebas dari konflik. Padahal, konflik adalah bagian yang tidak terpisahkan dalam sebuah hubungan.

Dampaknya, setelah masa “bulan madu” lewat dan konflik mulai bermunculan, pasangan yang merasa sudah menemukan belahan jiwanya tersebut akan terkejut saat melihat ketidaksempurnaan pasangan.

“Ketika kenyataan dalam hubungan menunjukkan sebaliknya, maka pasangan jenis ini akan lebih tersakiti.”

Jika Diam Saja, Apakah Jodoh Akan Datang Sendiri?

Lalu bagaimana dong agar kita bisa menemukan pendamping? Haruskah kita hanya duduk di rumah, diam dan berdoa sembari menunggu jodoh datang? Tentu tidak, dong. Sebenarnya proses menemukan jodoh itu tidak jauh berbeda dari pendakian gunung.

Demi mencapai puncak, kamu harus terus melangkahkan kaki. Akan ada berbagai jalan menanjak dan ranting besar yang harus dilewati. Kamu bisa memilih berhenti dan membalikkan badan untuk kembali atau terus memaksakan diri agar tetap melangkahkan kaki. Jika kamu memilih untuk terus berjalan, pelan-pelan puncak pasti terlihat di hadapan.

Hanya saja, ada cara lain yang lebih elegan dari sekedar mencari jodoh. Kamu tidak perlu heboh seperti anak ayam kehilangan induk hanya demi menemukan orang yang bisa mengisi hati. Nama cara ini adalah: memantaskan diri.

Alasan Kenapa Lebih Baik Kamu Fokus Memantaskan Diri:

1. Terkadang Jodoh Belum Datang Karena Kita Belum Selesai Dengan Diri Sendiri
Selesaikan dulu kewajiban dan kejarlah impianmu.
Kamu tidak jelek, pemikiran dan pengetahuanmu pun luas. Tapi hingga hari ini belum ada orang yang datang dan mengisi hati. Jika hal ini terjadi padamu, kamu perlu bertanya pada dirimu:

“Apakah aku benar-benar sudah selesai dengan diri sendiri?”

Terkadang kondisi pribadimulah yang menjadi halangan bagi orang-orang yang tepat untuk datang. Barangkali kamu belum lulus kuliah, atau masih ingin bertualang mencari pekerjaan yang paling tepat untukmu. Semua keinginan pribadi itu akan tercermin dalam perilaku dan kesiapanmu.

Daripada sibuk mencari, kenapa tidak berusaha menuntaskan keinginan dan impian pribadi terlebih dahulu? Selesaikanlah semua ambisi dan egoisme personalmu. Setelah urusan dengan dirimu sendiri benar-benar tuntas barulah kamu akan mampu menciptakan ruang untuk orang lain.

2. Meningkatkan Kualitas Diri Akan Membuatmu Lebih Menarik Dan Merasa Siap

Pernah gak kamu merasa tidak memiliki apapun untuk dibanggakan? Kamu tidak punya pencapaian, tidak ada gairah besar dalam dirimu yang benar-benar membuatmu merasa hidup. Saat kamu sedang berada dalam titik ini biasanya kepercayaan dirimu pun akan sedikit luntur.

Seseorang yang tahu benar apa yang ingin dikejarnya akan terlihat lebih menarik di mata orang lain. Ia yang fokus mengejar impiannya sudah mengerti apa yang harus dilakukan, orang macam apa yang layak mendampingi serta hubungan romantis macam apa yang harus dihindari.

Pribadi dengan visi yang jelas tentu tampak lebih menjanjikan dibanding orang yang masih belum tahu akan membawa hidupnya ke arah mana. Tidak hanya membuatmu lebih menarik di mata orang lain, fokus menambah kualitas diri juga akan membuatmu merasa lebih siap.

Kamu sudah tahu akan mengarahkan kemudi hidupmu, kini saatnya ada orang yang mendampingimu.

3. Saat Kamu Sudah Berada Di Jalur yang Tepat, Mereka yang Datang Juga Akan Lebih Tepat

Kamu sudah yakin sepenuh hati akan mengambil pendidikan Master di Jurusan Jurnalistik dengan spesifikasi Penulisan Kreatif. Untuk sementara waktu kamu melupakan urusan hati dan fokus pada pendidikanmu. Waktumu benar-benar kamu manfaatkan untuk belajar dan mengejar passion-mu.

Dengan perjuangan yang tidak ringan, kini hidupmu sudah berada di jalur yang selama ini kamu idamkan. Kamu sudah diterima di universitas dan jurusan idaman. Tidak hanya itu, ditengah kesibukan kuliah kamu juga bekerja di media lokal. Tulisanmu mulai muncul dan dibaca orang.

Selalu ada hal baik bagi orang-orang yang melakukan hal baik. Kamu yang sudah berusaha membawa hidup kearah yang lebih sesuai panggilan hati juga akan didatangi oleh mereka yang layak mendampingi. Tidak akan ada lagi orang-orang random yang mendekatimu.

Mereka yang datang di saat arah hidupmu sudah terang kemungkinan besar adalah orang yang juga punya arah hidup yang sama denganmu. Atau paling tidak, bersama dia kamu bisa berjalan beriringan mencapai impian.

4. Datang Disaat Kamu Sudah Siap Akan Membuatmu Lebih Terhormat

Buat para laki-laki/perempuan yang galau karena masih belum punya calon, ada baiknya kamu mengubah pola pikir. Daripada merana sepanjang hari karena merasa sepi, kenapa tidak kamu manfaatkan waktumu untuk memperbaiki diri? Seperti yang Hipwee jabarkan disini, di luar sana masih banyak kegiatan yang lebih bermanfaat dari sekedar pacaran, kok.

Datang ketika kamu sudah benar-benar siap akan membuatmu jadi pribadi terhormat yang memang layak diperhitungkan. Kamu tidak perlu membuang waktu mengejar gadis/laki-laki yang jual mahal terus itu. Tidak usah pula kamu habiskan rayuanmu untuk menjadikannya pacarmu.

Sumpah deh — lebih baik kamu ikut banyak2 kajian agama, perbanyak bekal buat akhirat, ikut Muay Thai kek, gabung klub menulis, atau ikut komunitas film dokumenter Gunakan waktu yang kamu miliki untuk menambah pengetahuan dan pengalaman.

Ketika kelak kamu mendatangi gadis atau didatangi laki-laki yang kamu sukai dengan perbekalan yang sudah lengkap, kamu tidak akan lagi dipandang sebelah mata. Dengan fokus memantaskan diri kamu juga akan merasa tidak harus bertaruh banyak saat kelak mendatangi dia yang membuatmu tertarik.

Toh kamu datang dengan kualitas yang oke, kalau ditolak ya dia yang rugi!

5. Meminta Pasangan Menerimamu Apa Adanya Adalah Hal yang Egois
Kalau kamu masih suka menunda, jangan kaget kalau dapat pasangan yang juga gemar menunda pekerjaan

Kamu pasti tahu kan lirik Lagu Tulus yang ini?:

Jangan cintai aku apa adanya ooooh jangan. Tuntutlah sesuatu, biar kita jalan kedepan.

Kalau belum tahu, silahkan cari albumnya. Murah kok, jangan download bajakan ya!.

Menjadi orang yang tidak mau meningkatkan kualitas diri adalah bentuk egoisme terhadap calon pasangan. Kamu ingin pasangan yang sempurna, sementara kamu sendiri tidak mau melakukan apapun untuk mencapainya. Ketika kelak akhirnya (kamu beruntung) pasanganmu yang “wow” itu datang, apa dia nggak kecewa lihat kamu yang nggak ada apa-apanya ini?

Punya keinginan kuat untuk terus memperbaiki diri juga jadi modal awal bagi langgengnya hubungan. Seseorang yang mau terus meningkatkan kualitasnya akan lebih mudah belajar beradaptasi dengan pasangannya kelak.

6. Bukankah Pada Akhirnya Jodoh Adalah Cerminan Diri?

Lihat deh ayah-ibu kita atau pasangan suami istri di sekelilingmu. Jika kamu mengamati dengan seksama, biasanya mereka adalah 2 pribadi yang mirip dalam pandangan hidup tapi punya sifat yang saling melengkapi. Begitu pula yang kemungkinan besar akan terjadi padamu.

Jodohmu adalah cerminan dirimu sendiri. Mereka yang datang tidak akan jauh-jauh dari upayamu memperbaiki diri selama ini. Kalau kamu mau dapat pasangan yang baik agamanya maka kamu pun harus membaguskan dulu agamamu, kamu harus fair dong!

Kalau kamu mau dapat pasangan yang cerdas dan gemar membaca, ya masa kamu mau cuma duduk diam sambil ongkang-ongkang kaki? Perbanyak juga referensimu soal bahan bacaan, agar kalian bisa hangat berbincang.

Dia yang “tertakdirkan” untukmu tidak akan jauh dari upayamu mengubah diri menjadi pribadi yang lebih baik. Tuhan tidak pernah main-main dengan janjinya.

Gimana? Masih mau galau dan heboh berusaha cari calon pendamping, atau mau mulai memantaskan diri aja nih mulai sekarang?

Waktu untuk sendiri

Kadang kita memang perlu waktu untuk menyendiri, menghilang dari peredaran, bukan untuk bersembunyi, tapi untuk berpikir dalam ruang yang lebih tenang, untuk menilai banyak hal dari kejauhan.

Memangnya apa yang bisa dinilai? Banyak, banyak sekali. Tak bisa saya sebutkan satu-satu di sini karena banyak dari hal-hal itu yang bersifat sangat pribadi, atau jika disebutkan malah akan melukai hati orang lain.

Tapi cobalah lakukan sesekali. Kau akan menemukan bahwa menyendiri tidak selamanya berarti terasingkan. Bahwa menyendiri tidak selamanya berarti kesepian. Bahwa menyendiri tidak akan membuatmu kehilangan, tapi malah membuatmu mendapatkan apa yang kau selama ini kau cari dengan susah payah. 🙂

Teori ini memang tidak berlaku untuk segala hal. Tapi saya jamin ini berkaitan dengan hal-hal yang paling krusial dalam hidupmu. 🙂

– mindeulle