Antara Euforia Pemilu Capres dan Derita di Ghaza

Pagi tadi kita sudah menyaksikan bersama pesta demokrasi yang diselenggarakan di seluruh indonesia dan melibatkan ratusan juta pendudukan negeri ini. Seperti yang biasa terjadi setelah pemilu berlangsung, akan ada lembaga2 survey yang mengadakan quick count atau hitung cepat pemilu untuk memberikan kabar pada masyarakat yang ‘ngebet banget’ ingin cepat tahu hasil pemilu nya seperti apa dan siapa yang jadi pemenang.

Untuk pemilu tahun 2014 ini, dari kebanyakan berita yang saya lihat, terjadi kesimpang siuran mengenai masing-masing capres yang mendeklarasikan dirinya sebagai pemenang. Hasil survey dari berbagai lembaga tersebut fifty-fifty, sebagian mengatakan yang menang itu nomor 1, sebagian lagi berkata sebaliknya.  

Saya jadi ingat kembali bagaimana hari-hari pra pemilu kemarin. Hari-hari yang membuat saya muak dengan segala promosi lebay dari masing-masing pendukung capres, yang dipenuhi dengan caci maki dan fitnah kepada capres yang bukan jagoannya. Hari-hari dimana terlihat jelas seperti ada dua kubu hitam dan putih yang berseteru dan saling berjuang untuk jadi pemenang. Kubu putih (kita panggil saja begitu) didukung oleh banyak ulama, diusung dengan membawa-bawa nama islam. Sedangkan kubu hitam, (katanya) didukung oleh kebanyakan tokoh JIL dan syiah. Kenapa saya sebut mereka kubu putih dan hitam? Karena kesan seperti itulah yang diciptakan oleh masyarakat kita. Kubu putih lah yang paling benar, paling suci, karena didukung kaum agamais dari kalangan ulama-ulama islam, sedangkan kubu hitam terkesan seperti kubunya orang kafir. Ini bukan kesimpulan asal-asalan, tapi begitulah kesimpulan yang bisa kita tarik dari semua pendapat supporter dadakan yang nampak di sosmed. Kubu hitam selalu terbentur dengan tema ‘agama’, kesannya seperti orang-orang yang mendukung kubu ini tidak pro terhadap islam dan mengusung asas liberal dan sekuler. Padahal, mereka berdua sama saja. Mereka berdua berasal dari partai yang sama-sama sekulernya. Mereka tidak pernah sekalipun menyuarakan akan membela islam mati-matian. Betul kan?

Para pendukung kubu putih begitu percaya diri bahwa pilihan merekalah yang paling benar, “yang penting ini didukung ulama” begitu katanya. Padahal tidak semua ulama melabuhkan pilihan pada capres yang itu. Ada pula ulama yang mendukung kubu lawan, dan banyak pula yang tak sudi mendukung kubu manapun karena tahu mereka berdua sama-sama pengusung sistem demokrasi yang tak sejalan dengan Islam. Mereka yakin betul bahwa capres dari kubu mereka lah yang akan menang. Tapi sepertinya kenyataannya tidak sejalan dengan opini mereka. Capres yang diusung kubu putih sepertinya tak mendapat suara dengan jumlah luar biasa, tidak benar-benar bisa mengungguli suara kubu hitam, meskipun sudah dapat dukungan dari ulama. Harusnya ya, kalau kita pikir-pikir, di negara ini mayoritas penduduknya kan beragama islam, tapi kenapa tidak semua setuju dengan pilihan beberapa ulama itu dan malah memilih kubu seberang? Hmmmm…..

Dan biasanya, ketika kubu yang didukung ulama itu tidak menang, akan selalu ada yang dijadikan kambing hitam, yak! Itulah kubu ketiga, yakni kubu golput. Mereka selalu dipersalahkan dengan pernyataan, “kalau saja kamu tidak golput, pasti si ini yang menang!” mereka yang senang mencari-cari kambing hitam itu melupakan ‘keputihan dan kemurnian’ kubu nya dengan menyalahkan orang lain atas apa yang tidak didapatkannya. Mereka tidak pernah berpikir, “kan yang golput tidak banyak, lebih banyak ummat muslim indonesia yang memilih, tapi kenapa tidak semua dari mereka menyumbangkan suaranya kepada kubu putih padahal isu agama sudah sangat santer terdengar?”. Saya tidak punya wewenang untuk menjawab pertanyaan “kenapa dan kalau” seperti itu, saya rasa kita berikan saja kesempatan kepada yang bersangkutan untuk menjawab dan introspeksi diri.

Sama hal nya dengan pemilu legislatif kemarin. Partai yang mengusung nama islam tidak memenangkan pemilu, bahkan tidak masuk dalam jajaran 3 besar partai yang meraih poling terbanyak. Lantas siapa yang disalahkan? KUBU GOLPUT. hahaha, selaluuuu begitu. saya rasa saya pernah membahas hal ini dalam tulisan sebelumnya, bahwa ada rekan yang menjadi pendukung salah satu partai islam itu tiba2 protes pada saya karena saya golput, menyalahkan saya karena tidak memilih partai yang didukungnya. Semoga pada pemilu kali ini orang tersebut tidak melakukan tindakan yang sama lagi. Semoga sekarang dia bisa berpikir dengan lebih arif, bijak dan dewasa. -.-” 

Ada pula yang menganggap, “Meskipun kubu putih kalah, ini adalah ketentuan Allah, berarti 5 tahun kedepan Allah memberikan kita ladang dakwah yang lebih banyak” astaghfirullah, pendapat seperti ini lebih memprihatinkan lagi. Bukannya introspeksi diri, tapi malah mengait-ngaitkan qadha Allah dengan kemenangan kubu yang mereka anggap “kubunya orang kafir” sebagai ladang untuk berdakwah dan berjihad, seakan-akan di Indonesia akan terjadi pembantaian terhadap ummat islam setelah kubu hitam menang. Padahal meskipun capres dari kubu putih yang menang pun, keadaan ummat islam indonesia tak akan berubah! Ummat islam di indonesia akan tetap di cap sebagai sarang teroris, kaum yang lemah, miskin, bodoh dan mudah dipecah-belah! Selama sistem yang digunakan adalah sistem yang memisahkan antara agama dengan kehidupan, maka akan selamanya ummat islam jadi ummat yang ditindas, siapapun capres yang menang dalam pemilu itu tidak penting lagi.

Ada hal lain yang mungkin tak pernah disadari oleh pendukung kedua kubu ini, bahwa ummat islam sedang ditampar keras oleh Allah dengan serangan Israel terhadap saudara2 kita di Ghaza pada bulan Ramadhan yang suci ini. Allah sedang menegur kita yang sibuk mengurusi pemilu untuk memilih pemimpim-pemimpin yang akan melanggengkan hukum2 buatan manusia dan mengesampingkan hukum2 ALLAH. Allah sedang menegur kita yang sibuk mencari pembenaran masing-masing kubu, sibuk menyalahkan kubu lawan. Allah sedang menegur kita yang terlena dengan euforia dunia yang fana ini. Allah sedang menegur kita dan menguji sejauh mana rasa kemanusiaan masih tersisa di hati kita saat melihat saudara sesama muslim dirongrong, dibantai dan dianiaya. Allah sedang menegur pemimpin negeri-negeri muslim, menampar tepat di wajah mereka, agar mereka sadar bahwa kekuasaan yang mereka miliki tak akan bisa membawa perubahan apa-apa pada keadaan ummat ini jika tidak mengusahakan seluruh ummat muslim untuk bersatu dibawah satu kepemimpinan oleh seorang khalifah, jika mereka masih saja tunduk patuh dan takut pada kekuatan Amerika, Israel dan antek-anteknya. 

Jika saja ummat muslim semuanya—dari ujung timur hingga barat—bersatu, bayangkan betapa hebat kekuatan yang kita miliki. Dengan menjunjung nama Allah, kita bisa punya kekuatan untuk melawan musuh-musuh Allah yang selama ini menindas kita. Kita akan punya satu pemimpin yang didengarkan oleh seluruh ummat, yang kekuasaannya bisa melindungi seluruh ummat muslim, yang menjaga kita agar tidak terpecah belah lagi seperti sekarang.

Duhai saudara2ku ummat muslim se Indonesia, bukalah pikiran kalian. Jangan biarkan pemikiran “demokrasi lah sistem pemerintahan yg paling baik” itu merasukimu. Kembalilah pada islam. Islam sudah punya sistem pemerintahan yang begitu sempurna mengatur segala segi kehidupan rakyatnya. Islam sudah diciptakan begitu komplit oleh Allah. Tidakkah kita ingin menerapkannya dalam kehidupan kita sehari-hari? Tidakkah kita ingin melindungi saudara2 kita di palestina, suriah, mesir dan rohingnya? Ya Allah, ketuklah hati seluruh ummat islam di Indonesia agar mau berjuang untuk menerapkan syariatMu. Ketuklah hati para pemimpin kita agar mereka berani dengan lantang menyerukan panji-panji agamaMu, berani melawan penguasa kafir yang menghancurkan islam. Hamba mohon, ya Allah….  

Yang tak pernah disadari oleh pendukung capres nomor urut 1 atau 2…

yang tak pernah disadari oleh pendukung capres nomor urut 1 atau 2, bahwa mereka berdua tak akan memberi perubahan apa-apa pada kehidupan umat islam di Indonesia, apalagi di seluruh dunia. uang riba akan selalu berada di sekitar kita, dan sebagian besar masyarakat masih menganggap riba bukan sesuatu yang haram karena pemerintah tak pernah melarangnya, tak pernah mengharamkannya, dan membiarkannya tumbuh bebas dalam sistem perekonomian negara ini. Dalam tiap rupiah gaji yang kita terima, dalam tiap suap makanan yang kita makan, yakinkah semua itu tak pernah dihinggapi oleh debu-debu riba? mungkin tak heran jika iman kita masih sulit untuk tetap berada di atas, kita masih sulit untuk bisa istiqomah, karena kita tak bisa memastikan apakah semua makanan yang masuk ke dalam perut ini bersih dari hal yang HARAM…

yang tak pernah disadari oleh pendukung capres nomor urut 1 atau 2, bahwa mereka berdua tak pernah sekalipun menyebut-nyebut akan menerapkan syariat islam, akan menjunjung hukum2 Allah sang pencipta, dan masih memelihara bahkan membuat kembali hukum2 baru, hukum2 yang menyaingi hukum buatan Allah, menyaingi hukum buatan sang pembuat manusia. Siapalah kita ini, berani menyaingi Allah dalam membuat hukum. siapalah kita ini, berani memberikan toleransi kebablasan pada kemaksiatan, berani melegalkan penjualan minuman keras, berani melegalkan perzinahan, bahkan berani membuat aturan untuk melarang wanita muslimah yang ingin berhijab. Tidak ingatkah dari mana kita berasal? dari setetes air yang kotor, na’jis dan hina. tak ada hak untuk kita yang lemah ini berani menandingi hukum2 Allah sang pemilik tubuh ini, pemilik seluruh jagad raya dan seisinya.

yang tak pernah disadari oleh pendukung capres nomor urut 1 atau 2, bahwa mereka berdua adalah penganut paham sekulerisme. paham yang memisahkan agama dari kehidupan, agama hanya berlaku di masjid dan di rumah, tidak untuk diterapkan dalam pergaulan, dalam perekonomian, dalan dunia pekerjaan, apalagi dalam pemerintahan. Paham yang sangat mengagungkan kebebasan seperti kebebasan mengeluarkan pendapat, kebebasan berprilaku, kebebasan kepemilikan. Kebebasan-kebebasan inilah yang membuat tatanan kehidupan ummat islam menjadi hancur. SIapa saja akan merasa bebas bersuara, mengatakan apapun, bahkan menghina Allah dan Rasulullah. Siapa saja bebas bergaul seluas mungkin, tak memperhatikan kaidah pergaulan antar ikhwan dan akhwat, bercampur baur antara yang bukan muhrim menjadi hal yang sangat lazim, pacaran sudah jadi budaya yang susah sekali dihilangkan, seks bebas? jangan tanya! sudah banyak bukti hasil survei yang menunjukkan angka kejadian seks bebas di kalangan remaja semakin meningkat. kebebasan kepemilikan mengakibatkan semua sumber daya alam bangsa bebas di raup oleh pihak swasta dan asing, dan yang tersisa untuk rakyat hanyalah debunya saja.

yang tak pernah disadari oleh pendukung capres nomor urut 1 atau 2, bahwa mereka berdua akan tetap mengusung sistem perekonomian kapitalis. Sistem yang hanya akan menguntungkan para pemilik modal besar. sehingga tidak heran jika pemerintahan ini dikendalikan pula oleh para pemilik modal tersebut. kebijakan pemerintah ‘dijinakkan’ agar keberadaan perusahaan-perusahaan besar ini tidak mudah digoyahkan. ada simbiosis mutualisme antara para pengusaha besar dengan pemerintah, simbiosis yang tak pernah sekalipun menguntungkan pihak lain selain mereka (baca: rakyat kecil). yang miskin akan tetap miskin. mati pun tak akan dipedulikan. Kapitalisme, adalah paham yang sangat mengagung-agungkan UANG. jadi jangan heran jika korupsi bisa jadi sangat mengakar begini di dalam pemerintahan kita. jangan pernah heran! karena demi uang dan kekuasaan, apapun akan dilakukan, bahkan memakan rakyat nya sendiri.

yang tak pernah disadari oleh pendukung capres nomor urut 1 atau 2, bahwa meskipun ada salah satu capres yang dengan lantang dan berapi-api mengatakan “Saya akan menjaga kedaulatan bangsa ini dari tangan-tangan asing yang ingin menguasai dan mengeruk kekayaan kita…!!!!” kita lihat saja, apakah nantinya setelah mereka terpilih mereka bisa serta merta meruntuhkan kerajaan perusahaan asing yang sudah bertahun-tahun bercokol di Indonesia, bertahun-tahun mengeruk kekayaan alam kita seperti newmont, freeport, petronas, dan lain-lain?! padahal dalam sistem islam, kepemilikan individu tidak boleh menguasai kepemilikan umum. sedangkan dalam sistem yang diusung para capres ini (sistem demokrasi) jangankan kepemilikan umum, pulau saja bisa dibeli oleh siapa saja yang berduit.

Mungkin para pendukung capres ini merasa bahwa indonesia telah merdeka SEPENUHNYA. padahal kenyataannya tidak demikian. Mungkin benar bahwa kita telah merdeka secara fisik, tidak dijajah seperti dulu, tidak dijadikan buruh, tidak disuruh untuk kerja rodi, tapi tidak kah kalian sadar bahwa kita masih dijajah melalui budaya, melalui nilai-nilai agama yang dibuat menyimpang, melalui undang-undang yang kufur terhadap Allah???!!!! justru penjajahan seperti ini yang jauh lebih berbahaya! penjajahan fisik lebih bisa membuat rakyat mendekat pada Allah, mengingat Allah, meminta bantuan kepada Allah. sedangkan penjajahan mental? karena masyarakat tidak merasakan penjajahan itu secara langsung, maka mereka membiarkan diri mereka terlena, memasrahkan diri mereka untuk dijajah, Terlena oleh aturan yang tak menganggungkan Islam, karena merasa diri sudah hidup nyaman, karena merasa “yang penting kita bisa ibadah tenang”. padahal di luar sana, ada masih banyak saudara kita sesama muslim yang tak bisa beribadah dengan tenang, yang setiap detik hidupnya diwarnai oleh suara ledakan bom, yang anggota keluarganya dibunuh dan dibantai di depan matanya. Padahal di luar sana, saudari kita yang ingin berhijab malah terbentur oleh aturan negara, dianggap teroris, bahkan dilecehkan secara seksual. Apakah masyarakat indonesia ini harus diberikan penjajahan fisik (lagi) baru mau menyadari bahwa kembali pada jalan Allah adalah jalan yang paling benar? tidak kah mereka menyadari bahwa AS telah mengepung Indonesia dengan mendirikan pangkalan militer di berbagai titik yang mengelilingi negara ini? akan sangat mudah untuk kita secara fisik dijajah lagi oleh mereka. tinggal lemparkan saja bom nuklir ke Indonesia, kacaulah negara ini. na’udzubillahimindzalik. semoga tidak seperti itu kejadiannya, semoga Allah masih memaafkan kita dan memberikan kita kesempatan untuk bertaubat… 😥

saya benar-benar tak habis pikir. bagaimana bisa mereka begitu menggebu-gebu mempromosikan capres yang tak pernah sedikit pun memikirkan nasib ummat islam? sedangkan kemaksiatan di sekitar mereka dibiarkan begitu saja? bagaimana bisa mereka marah dan berang ketika pancasila dihina, NKRI diganggu kedaulatannya, sedangkan ketika Rasulullah di caci, dibuat karikaturnya, dihina, dan Al Qur’an dijadikan tissue toilet mereka tidak bersuara? malah mengatakan “kita orang islam harus sabar, bukankah dulu Rasulullah sabar saja ketika dilempari kotoran oleh kafir quraisy?” Astaghfirullaaah….dimanakah kita letakkan hati nurani kita??? 😥

mari pikirkan kembali pilihan kita, 1 atau 2 itu sama saja. pilih saja Allah dan Rasulullah agar hati lebih tenang. saling mencerca dan menghina hanya karena fanatik pada salah satu capres tak akan menambah timbangan amal baik kita di hari penghisaban nanti, malah akan memberikan kehinaan pada kita dihadapan ALLAH. selagi masih ada umur, selagi masih ada sisa waktu, selagi Allah masih menganugerahkan kita kesempatan untuk menghirup napas dalam-dalam, renungkanlah kembali semuanya, semua yang terjadi dalam hidup ini, semua realita ummat saat ini. kembalilah pada jalan yang diridhoi Allah. kembalilah pada jalan yang dicontohkan Rasulullah. bergabunglah bersama mereka yang istiqomah menyuarakan penegakan syariat islam tanpa harus masuk ke dalam sistem pemerintahan yang kufur ini. semoga Allah membuka pintu-pintu hati kita yang masih tertutup rapat. semoga Allah selalu menunjukkan kita jalan yang Ia Ridhoi… 🙂

jangan sampai ‘semua’ dikatakan halal dan wajib karena ‘daruroh’ :D

Berikut adalah tulisan di laman page FB ust. Ahmad Sarwat tenang hakikat pengambilan alasan ‘darurat’ dalam menetapkan suatu hukum halal/haram. Tulisan ini di share kembali oleh ust. Felix Siauw dalam page FB nya, beliau juga memberikan footage:

“Ada analogi bagus dari ust. Ahmad Sarwat, coba baca dengan pikiran terbuka dan hati tenang, dan tentu dengan iman pada Allah Swt, apapun hasilnya setelah membaca, tolong tahan diri anda untuk bermaksiat dengan komentar-komentar yang tidak pantas”

Pilih Mana, Makan Anjing atau Babi?

Dosen fiqih saya dulu pernah berteori bahwa kalau pilihannya cuma dua, pilih mana seharusnya, makan anjing atau makan babi?

Jawaban diplomatisnya makan anjing. Sebab masih ada sebagian ulama yang menghalalkan anjing.
Sedang babi diharamkan secara ijma’ oleh semua ulama.

Tapi meski pilih anjing, tetap saja makannya tidak boleh banyak-banyak, apalagi nafsu sampai nambah tiga porsi.

Kalau itu mah bukan darurat tapi doyan, begitu beliau bilang.

Harusnya makan anjing sekedar buat ganjel perut penyambung hidup saja, tidak perlu mewajib-wajibkan makan daging anjing.

Hukumnya cuma berhenti sampai boleh dan bukan wajib. Tidak ada ulama yang mewajibkan makan anjing.

Lagi pula halalnya anjing karena darurat pun sekedar sebuah pendapat sebagian ulama. Tidak semua ulama setuju anjing berubah jadi halal karena alasan darurat.

Kan masih bisa hidup meski makan daun-daunan dan tumbuhan, tidak harus sampai makan anjing.

Anjing gitu loh

Pompei, negeri para pezina yg dikutuk. Akankah Indonesia mengalami nasib yang sama?

Mungkin sebagian dari teman2 pernah mendengar mengenai kisah negeri pompei. Negeri yang diluluh-lantahkan Allah karena seluruh rakyatnya melakukan kemaksiatan secara terang2an, termasuk ZINA. Hampir setiap rumah dijadikan sbg tempat perzinahan, bahkan tak ada cerita ada rumah yg dihuni oleh keluarga ‘normal’ yg terdiri dari suami, isteri dan anak. Mereka menganggap isteri bisa dipakai bersama. Lantas apa yg terjadi pada mereka? Allah menghancurkan mereka dengan meledakkan gunung berapi yang berada tepat disamping kota pompei yg mengeluarkan semburan lahar yg luar biasa, dan rakyat kota pompei dikutuk Allah menjadi BATU. Bukti nyatanya masih ada sampai saat ini, sudah ditemukan situs peninggalannya oleh para arkeolog. Dari patung2 batu itu kita bisa melihat beberapa ada yang sedang melakukan perzinahan ketika kutukan Allah datang pada mereka. Na’udzubillahimindzalik..

Beberapa dati teman2 mungkin ada yg berpendapat ”ah lebay, indonesia kan nggak separah itu, apa kaitannya indonesia sama si negeri pompei?!” apa yakin indonesia sudah tak berada dalam kondisi parah? Ketika kita setiap saat mendengar berita mengenai pemerkosaan, anak yg dicabuli, anak kecil memerkosa temannya sendiri, orang dewasa mencabuli bayi, seks bebas artis yg berujung pada kehamilan diluar nikah dan pernikahan yg dilangsungkan terburu-buru setelah itu, video seks siswa/siswi SMP di jakarta yg direkam di lingkungan sekolah oleh teman2nya sendiri pada jam sekolah, dan hasil survei dari beberapa lembaga survei indonesia yg menyatakan ”jumlah remaja putri indonesia yg masih perawan semakin berkurang”. Tidak kah itu cukup membuktikan bahwa indonesia sudah sampai pada taraf sangat parah? Lantas apa harus mirip dengan kondisi rakyat negeri pompei baru bisa dikatakan parah? Ya Rabbi, gunakanlah hati nurani teman2 sebelum memberikan komentar..

Kadang ada juga kita mendengar kalimat2 toleransi kebebasan yg kebablasan seperti ini dari rekan2 yg bahkan beragama muslim ”itu kan tergantung individu, kembalikan lagi ke diri masing-masing”. Apa maksudnya dengan kalimat ini? Tidak kah miris hati kalian ketika melihat kemaksiatan sudah semakin merajalela dan pemerintah justru seakan memberikan jalan pintas bagi kemaksiatan itu utk semakin berkembang? Tak adakah di hati kalian sedikit saja keinginan utk menyuarakan kebenaran agama Allah? Istighfar lagi jika di hati masih ada toleransi bagi hal-hal seperti ini.

Allah itu tak pernah membuat aturan utk menyengsarakan makhluknya. Dalam Al Qur’an sudah jelas dan tegas Ia katakan ”jangan dekati zina!”. mendekati zina disini diartikan sebagai hal-hal ataupun aktivitas yg bisa mendorong seseorang utk melakukan zina, seperti: nonton video porno (istighfar sebanyak2nya untuk rekan2 yg masih hobi nonton video laknat seperti ini!!!), tidak menutup aurat (utk wanita) sehingga bisa merangsang laki2 yg lemah imannya utk mendekatinya dengan melihat kecantikan dan kemolekan tubuhnya, berkhalwat (berdua-duaan antara laki2 dan perempuan yg bukan muhrim), komunikasi yg berlebihan dan menggunakan syahwat antara laki2 dan perempuan seperti telpon2an dengan nada mesra dan berbicara dengan nada yang dilembut2kan dan dibuat seperti centil dan menggoda, melihat dan menatap lawan jenis dengan berlebihan bahkan sampai menggunakan syahwat (contohnya, melihat wanita cantik atau seksi sampai terpikir hal-hal aneh di kepalanya), menyentuh laki2 atau perempuan yg bukan muhrimnnya dengan menggunakan syahwat. Empat kegiatan terakhir yg disebutkan di atas biasanya lazim dilakukan oleh pasangan yg tak halal atau yg disebut dgn PACARAN! Dasar inilah yg menjadi dalil HARAM PACARAN, karena semua kegiatan yg dilakukan oleh orang pacaran adalah kegiatan/tindakan yang mendekati zina, dan Allah sudah meletakkan kata ”JANGAN” sebagai perintah tegasnya agar makhluknya tidak melakukan hal tersebut! Bisakah kita, manusia yg lemah ini, yg belum bisa mengontrol nafsu ini, yang tak sempurna ini, menganggap diri mampu utk tidak melakukan hal2 yang tidak mendekati zina selama berpacaran? Sungguh tak bisa! Mari kita renungkan bersama, mari istighfar sebanyak-banyaknya.

Lantas apakah masih ada dari kita yang tetap ingin melanggar perintah Allah meski sudah ada bukti dan dalil yang kuat yang asalnya dari Al Qur’an? Setelah semua petunjuk diperlihatkan oleh Allah, dan setelah dakwah demi dakwah diutarakan oleh para alim ulama yg mengajarkan hal yang sama namun kita masih berani membangkang pada perintah Allah, maka biarkanlah Allah yang tentukan apa yg ingin Ia lakukan. Apakah nasib kita akan sama dengan kaum negeri pompei? Na’udzubillahimindzalik. Semoga saja hal itu tak akan pernah terjadi pada kita, dan semoga Allah masih berkenan utk membukakan pintu ampunan selebar-lebarnya utk kita hamba2nya yg bebal dan pembangkang ini… T-T