berbagi cerita: lift your head, be brave, and say Allahu Akbar! Allah is bigger than any of that obstacle! ^_^

Malam ini saya ingin sedikit sharing kepada para pembaca sekalian mengenai kehidupan saya. Hihihi, kesannya gimana gitu ya. Curhat? Mungkin bisa dibilang begitu. Atau mungkin lebih tepatnya ingin menulis kan apa yang rasanya mengganjal di hati.

Seseorang pernah mengatakan pada saya “berpikir dulu sebelum bertindak”. Wah, dapat kata-kata seperti ini rasanya bagaikan dilempar panah dari segala sisi. Rasanya seperti saya sudah di cap orang yang asal-asalan. Asal ngomong, asal nulis, asal bertindak seenak udelnya. Ahh….benar-benar menyakitkan rasanya dikatakan begitu. Sepertinya yang bilang begitu benar-benar tidak mengerti saya itu seperti apa. Padahal andaikan si oknum itu tahu bagaimana sebelum melakukan sesuatu, saya sampai harus berpikir berkali-kali, bertanya pada diri sendiri “benar kah ini?” atau “bagaimana respon orang-orang nantinya?” dan berbagai pertanyaan lain yang kadang-kadang berujung pada rasa tak percaya diri, rasa minder, rasa rendah diri, rasa tak pantas melakukan apapun. Ya, begitulah saya. Saya tipe pemikir, suka terlalu banyak berpikir sampai kadang pikiran-pikiran itu menyakiti diri saya sendiri. Suka berspekulasi sendiri tentang sikap orang lain terhadap saya sampai kadang terjebak pada kesimpulan-kesimpulan yang salah. Terlalu melankolis. Terlalu penyendiri. Tapi herannya masih saja ada yang mengatakan saya tidak pakai pikiran sebelum bertindak. Haduh, rendah sekali rasanya diri ini dikatakan begitu. Harus berpikir sekeras apa lagi ya saya supaya bisa dianggap benar-benar ‘berpikir’? T_T

Salah satu contoh tindakan yang saya ambil dengan pemikiran yang rumit adalah keputusan saya untuk mengenakan hijab syar’i. Sebelum mengambil keputusan itu, saya tahu betul bahwa langkah ini bukan hanya langkah untuk memperbaiki penampilan saja. Tapi langkah untuk menunjukkan pada Allah bahwa, “Ya Allah, aku ingin belajar untuk taat!” maka dari itu, bukan hanya perubahan pada sisi penampilan luar yang harus saya perbaiki, tapi keseluruhannya, seluruh aspek hidup saya harus saya coba tata untuk semaksimal mungkin mendekati standar yang sudah ditentukan Allah. Hal pertama yang waktu itu sangat berat untuk dilakukan adalah memutuskan hubungan dengan laki-laki yang sudah 4 tahun bersama dengan saya. Sulit sekali rasanya waktu itu. Di saat sudah menjalani keputusan itu beberapa lama, keyakinan saya malah mulai goyah dan kembali bertanya pada diri sendiri, “Benarkah keputusan saya ini?” tapi alhamdulillah, ada begitu banyak bantuan dari Allah yang datang setelah keputusan besar itu saya ambil. Ada begitu banyak hal yang Allah tunjukkan sehingga saya benar-benar mantap mengambil jalan itu, tanpa melihat ke belakang lagi. And let’s say “I’m Single, and i’m happy for it” and “SAY NO TO PACARAN!” YAK! Itulah kesimpulan akhirnya 😀

Contoh lain adalah ketika saya memutuskan untuk mulai mengaji di hizbut tahrir. Wuih, ada banyak sekali stigma negatif yang saya dengar tentang organisasi ini sebelum masuk ke sana. Tapi semua itu saya cari tahu lagi kebenarannya, saya tabayyun lagi kepada pihak hizbut tahrirnya, dan alhamdulillah, bukannya keraguan yang saya dapatkan, tapi malah keyakinan. Ya, saya jadi semakin yakin untuk belajar di sana dan ikut memperjuangkan tegaknya khilafah. Setelah mengambil jalan ini pun, bukan tak ada rintangan. Orang-orang lain di sekitar saya mulai berpikiran negatif tentang saya. Saya suka menulis, suka sekali. Dan saya merasa lebih percaya diri menyampaikan segala hal dalam bentuk tulisan, ketimbang harus bicara langsung. Saya kurang percaya diri dengan kemampuan bicara saya. Saya sering kaku dan terbata-bata jika bicara mengenai tema-tema yang agak serius. Jadilah saya lebih memilih jalur dakwah lewat sosmed dan blog. Banyak lah tulisan-tulisan yang saya hasilkan mengenai penegakan khilafah. Lantas apa respon yang saya dapatkan? Luar biasa! penolakan itu datang bahkan dari kalangan rekan-rekan yang saya kenal cukup dekat. Yang paling membuat saya tak habis pikir, ada satu orang teman yang menyalahkan HT, golputnya HT dianggap sebagai penyebab menangnya partai banteng merah di pemilu 2014 kemarin. Hadeh…kenapa harus tidak arif begitu cara mereka berpikir. Jika memang partai islam yang mereka banggakan tidak diminati oleh masyarakat, mengapa tidak tanyakan pada diri sendiri “kenapa bisa begitu? Kenapa masyarakat tidak memilih saya dan malah memilih partai sekuler?” ini malah HT yang dijadikan kambing hitam. Ada pula beberapa orang yang membuat status di facebook yang saya tahu betul itu ditujukan untuk kami—orang-orang yang menyuarakan penegakan khilafah—tanpa harus berpikir panjang pun saya tahu status tersebut diperuntukkan bagi siapa. Saya tidak lantas mendebat orang itu, saya pendam saja rasa hati saya yang tercabik-cabik karena kata-kata pedas mereka. Toh Allah lebih menyukai orang yang menghindari perdebatan. Saya hanya bisa menyemangati diri dengan berpikir “mugkin mereka begitu karena belum paham apa yang saya bawa, mungkin harus dipahamkan dengan cara yang lebih ma’ruf lagi” ya, hanya dengan cara itu saya dan rekan-rekan sesama HT bisa saling menyemangati. Jika kami goyah, jika kami menyerah, lantas apa jadinya dakwah kami? Saya hanya bisa minta tolong kepada Allah, semoga apa yang kami sampaikan bisa masuk ke hati-hati mereka. Apa yang kami bawa ini memang terkesan ‘beda’ bahkan ada yang mengatakan ‘gila’. Tapi mengapa mereka tidak mau diajak bicara baik-baik, diskusi baik-baik, tanpa ada cercaan, tanpa ada tudingan, tanpa ada embel-embel negatif lainnya? Cobalah bersikap dewasa, jika ingin berdiskusi tolong gunakan bahasa yang arif dan gunakan dalil-dalil yang memang bisa menunjang pendapat masing-masing. Bukannya malah memilih debat kusir tanpa dasar, debat tak berkesudahan dengan menggunakan ego dan emosi semata. Jika mau mencari ilmu, ada baiknya kita turunkan dulu ego kita. Jika ego masih di ubun-ubun, ilmu apapun juga akan mental. Apa sulitnya untuk mentabayyun? Untuk bertanya terlebih dahulu, mencari tahu dahulu, baru kemudian menyimpulkan? Kalaupun mereka punya dalil yang kuat, mari sama-sama kita rembukkan, agar kita bisa sama-sama tahu mana yang benar dan mana yang salah. Toh semua anggota yang kemudian bergabung di HT juga pernah menjadi orang yang nihil informasi tentang organisasi ini, tapi lantas kenapa kami bisa luluh dan ikut bergabung dengan pergerakannya? Saya rasa bisa disimpulkan sendiri.

Kami juga tidak mengatakan diri kami hebat dan tahu segalanya. Oh, sungguh tidak. Kami hanyalah para manusia bergelimang dosa yang ingin mencari ridho Allah dengan jalan mendakwahkan agamanya, mendakwahkan ajaran Rasulullah. Itu saja, tidak lebih. Niat kami hanya ingin saling mengingatkan, ingin mengajak masyarakat untuk kembali pada ajaran Rasulullah dan tidak terpengaruh oleh hasutan demokrasi yang menggerogoti seluruh kehidupan mereka. Hanya itu. Dan buktinya sekarang sudah banyak masyarakat yang mau percaya pada kami, dan tidak ragu menyatakan ingin ikut berjuang menegakkan khilafah. Lantas apakah HT yang paling baik? Tentu tidak, jika di luar sana, ada orang yang tidak mau bergabung dengan organisasi ini, tapi punya pandangan, punya visi dan misi yang sama dengan HT, dan tidak mau tunduk pada sistem kufur yang sekarang diterapkan, kami sangat menghargai itu, kami sangat berterimakasih karena mereka mau ikut memperjuangkan Islam. Karena bukan kemenangan HT yang kami harapakan, tapi kemenangan islam. Kemenangan dengan jalan yang di ridhoi ALLAH. HT ibaratnya hanya sebuah mobil yang digunakan untuk membawa penumpang menuju sebuah gunung. Jika ada yang mau menuju ke gunung tersebut dengan menggunakan alat kendaraan lain pun boleh, asalkan sifat ‘kendaraan’ yang dipakai itu tidak keluar dari Al Qur’an dan As Sunnah, asalkan kendaraan itu punya hujah, asalkan kendaraan itu tidak kufur terhadap hukum dan syariat Allah !

Saya sedih sekali melihat bagaimana dakwah yang kami lontarkan untuk membuka mata masyarakat mengenai keburukan sistem demokrasi malah dianggap sebagai upaya menjelek-jelekkan orang lain. Padahal bukan orangnya yang kami kritisi, tapi kebijakannya dan sistem yang digunakannya, kebijakan dan sistem yang tidak dilandaskan pada hukum-hukum Allah. Kami selalu dianggap “Cuma bisa omong doang” atau “mimpi di siang bolong” atau “orang gila” atau “sok tahu segalanya” atau “sok alim” atau “radikalis, ekstrimis” atau apalah sebutan lainnya. Tapi semakin banyak cercaan itu datang, entah kenapa malah membuat kami jadi semakin kuat, semakin ingin mencari tahu lagi. Semua sanggahan-sanggahan yang dilontarkan pihak yang membenci kami, kami pelajari lagi, kami perdalam lagi, hingga akhirnya kami menemukan jawaban yang benar. Kami seharusnya berterima kasih kepada para pembenci itu. Mereka membuat kami semakin tak mau dengan mudah digoyahkan oleh penilaian mereka. Itulah contoh lain tindakan yang saya ambil dengan banyak pemikiran. Perang batin terjadi dimana-mana. Otak saya sampai puyeng rasanya memikirkan semuanya. Jika masih saja ada yang mengatakan saya tidak berpikir sebelum bertindak, Yah, apa boleh dikata. Yang penting sudah berusaha melakukan yang terbaik. Saya kembalikan semuanya pada Allah. Semoga semua yang kita lakukan bisa diridhoi Allah. Cukup itu saja, cukup ridho Allah saja. Selama apa yang disampaikan memiliki hujah, maka jangan pernah gentar. Jika terlalu menyesakkan membaca komentar-komentar negatif mereka, unfriend saja, atau di block, atau di unfollow. Hari gini, dia bisa ngomong seenaknya, kita juga bisa unfriend/unfollow seenaknya kan. Tidak ada yang salah jika itu bermaksud untuk menjaga hati (tanpa ada maksud untuk memutus silaturrahim—toh biasanya orang-orang seperti itu juga berteman lewat facebook atau sosmed lainnya pun tidak lantas mengajak kita untuk bersilaturrahim, malah seperti orang yang tak saling kenal, hiihihi, santai saja lah…) Daripada jadi penyakit hati. Hehehe..

hal yang sama juga dialami oleh semua anggota atau darisah HT lainnya. banyak mendapat penolakan, banyak di boikot di berbagai negara. tapi tidakkah pernah terlintas dalam benak kita semua, kenapa HT sampai di boikot oleh negara-negara barat sana? negara-negara pengusung sekulerisme itu? bukankah itu artinya mereka takut dengan apa yang dibawa oleh HT? bukankah itu berarti ada sesuatu dari HT yang tidak diinginkan oleh mereka untuk berkembang di negara kekuasaanya? hmmmmm…..

Jika para pembaca ada yang memiliki cerita sama seperti saya. Hehe, ayo senyum. Jangan manyun karena tanggapan negatif orang-orang. Ingat, Rasulullah juga mengalami hal yang sama. Siksaan fisik dan batin yang diberikan oleh musuh-musuh beliau malah lebih keras lagi dibandingkan apa yang kita alami sekarang, tapi itu tidak lantas membuat beliau takut dan menyerah bukan? Janji Allah dan Rasul Nya itu pasti kok. Khilafah Rasyidah yang mengikuti manhaj kenabian itu pasti akan bangkit, cepat atau lambat. Ingat saja itu… ^_^

Mudzakarah Ulama 2014: ”Tinggalkan Demokrasi, tegakkan khilafah”

jelang pemilu 2014, sekitar 300 ulama jatim dan 79 ulama daerah lainnya di indonesia gelar mudzakarah ulama yang hasilnya menyerukan seluruh komponen bangsal tolak demokrasi. ”segera tinggalkan demokrasi dengan semua pernak-perniknya!” tegas KH. Abdul Qoyyum, pemrakarsa mudzakarah ulama saat membacakan pers rilisnya usai mudzakarah, sabtu (8/3) di asrama haji sukolilo, surabaya.

Menurut beliau, seluruh peserta mudzakarah ulama sepakat menyatakan demokrasi adalah sistem yang zalim; sistem yang membuka lebar-lebar hegemoni, dominasi bahkan penjajahan asing kafir dan penyebab utama terjadinya krisis multidimensional.

Yang lebih parah, demokrasi adalah sistem kufur yang diharamkan oleh syariah. ”karena demokrasi adalah sistem yang menghalalkan yang diharamkan Allah serta mengharamkan yang dihalalkan Allah.” tegasnya.

Dalam mudzakarah tersebut, lanjut pimpinan majelis taklim pondok bambu al islam malang, para ulama juga menyepakati solusi untuk menyelamatkan indonesia yakni dengan perubahan sistem, bukan hanya perubahan rezim. ”perubahan dengan meninggalkan sistem demokrasi dan tegakkan khilafah islamiyah,” tegasnya.

Menurut ketua pemrakarsa KH Abdullah, acara ini merupakan bentuk ikhtiar ulama untuk terlibat secara aktif dalam memberikan solusi problem multidimensional bangsa. ”tujuannya adalah menyelamatkan indonesia dengan perspektif keilmuan para ulama, sebagai pewaris nabi (waratsatul anbiya),” ungkap pimpinan ponpes nurul ulum jember jawa timur tersebut.

Dalam pemaparan makalanya yang berjudul ”indonesia darurat”, KH Abdul Karim menyatakan indonesia dianugerahi Allah SWT negeri yang kaya-raya, dari daratan hingga lautan. Namun, saat ini dalam kondisi gawat. Utang indonesia saat ini sudah mencapai angka yang sangat besar, ”bisa jadi kalau kita tidak bisa membayar utang kita akan diusir!” ungkap ulama jawa timur tersebut.

Menurut beliau, itu terjadi lantaran indonesia menerapkan demokrasi. Sumber daya alam yang menurut ajaran islam wajib dikelola negara untuk sebesar-besarnya kesejahteraan rakyat, malah diserahkan kepada swasta bahkan asing.

Demokrasi pula yang membuat perzinaan dan riba merajalela. Padahal Rasulullah saw. Telah memperingatkan, apabila zina dan riba telah tampak nyata di suatu negeri, maka mereka telah menghalalkan diri mereka untuk menerima azab Allah. ”indonesia sangat gawat. Kalau sudah rusak seperti ini, sungguh hal ini sesuatu yang sangat mengerikan!” ungkap pengasuh pondok pesantren Al Iksan Nganjuk jawa timur.

Hal itu, menurut KH Ali Bayanullah, terjadi lantaran demokrasi adalah sistem yang melegalisasi manusia merampas hak prerogratif Allah dalam membuat hukum. Padahal dalam Al Qur’an surat al an’am ayat 50, Allah menegaskan in al-hukmu illaa lil’laah, menetapkan hukum hanyalah milik Allah swt.

Makanya ungkap Ali saat menyampaikan makalah yang berjudul ”demokrasi merampas hak prerogatif Allah”, lembaga legislasi pasti ada dalam demokrasi. Sedangkan dalam sistem pemerintahan islam yakni khilafah tidak ada namanya institusi legislasi.

”makanya institusi legislasi itu murni lembaga mungkaran!” tegas pimpinan ponpes tahfidzil qur’an darul bayan sumedang jawa barat.

Pernyataan tersebut diamini oleh KH manshur muhyiddin. Ini karena yang lebih tahu tentang manusia adalah yang menciptakannya yakni Allah swt. ”tapi manusia berani meninggalkan aturan Allah swt. Manusia membuat UU sendiri, diubah sendiri, dilanggar sendiri, diganti lalu diganti dengan UU yang baru,” ungkap pimpinan ponpes darul muttaqien cilegon banten.

Mereka merasa bangga dengan UU atau aturan yang dibuat manusia, bahkan merasa lebih hebat dari aturan-aturan yang diturunkan Allah. ”maka ini jelas-jelas syirik akbar!” tegas pendiri yayasan KH wasyid (1888) center tersebut.

Agar bangsa ini tidak terus larut dalam kerusakan dan kemusyrikan maka menurut KH Nashruddin, syariah islam wajib diterapkan secara total. ”maka dari itu, kita membutuhkan khilafah sebagai pelaksana syariah islam. Anda siap memperjuangkannya?” tanya ulama jawa tengah tersebut kemudian dijawab siap ratusan ulama lainnya.

Kalau tidak siap, menurut KH muhyiddin berarti bukan ulama pewaris nabi.

Menurutnya, ulama tidak boleh tenang-tenang, padahal umatnya sedang disesatkan dengan demokrasi dan berada di dalam jurang neraka. ”jika benar mencintai Rasulullah maka kita harusnya mengambil islam, bukan demokrasi!” tegas pimpinan ponpes An Nur pamijaha kabupaten bogor jawa barat.

Sebelum mudzakarah diakhiri, KH. Mahmudi membacakan nasihat ulama untuk umat islam, ”ulama-ulama kita, ulama ahlus sunnah wal jama’ah muttafaq (bersepakat) tentang wajibnya mengangkat khalifah; bahkan kewajiban tersebut merupakan kewajiban yang masuk kategori ahammul-wajibat (kewajiban yang paling penting).” tegas ulama jawa timur tersebut.

kemudian mudzakarah pun ditutup dengan doa oleh ulama dari banten yaitu KH tubagus zainal arifin, ”barang siapa yang menyangka demokrasi itu bagus, maka dialah orang yang paling jelek!” ungkap penasehat PC nahdlatul ulama (NU) pandeglang banten yang akrab disaba abah entus sebelum membacakan doa penutup.

Berikut adalah beberapa kutipan kalimat yang disampaikan oleh ulama lainnya yang menghadiri acara tersebut:

(KH Fathul Adzim/ulama banten) ”bagi saya demokrasi adalah sistem sampah dan pelecehan bagi ulama karena demokrasi menganut asas yang terbanyaklah yang menang. Dalam demokrasi, suara profesor, kyai, haji yang ikut demokrasi akan sama saja dengan suara pencopet dan pezina.”

(KH ali bayanullah/ulama jawa barat) ”yang berhak mengatakan ini benar, ini salah, ini baik, uni buruk, ini jelek, adalah Allah. Maka siapapun tidak berhak mengatakan itu benar walau pun itu anggota DPR. Jelas perbedaan demokrasi dengan islam. Dengan kenyataan seperti ini, demokrasi merampas hak Allah. Apakah masih ingin mempertahankan demokrasi?”

(KH syarir nuhun/ulama sulawesi selatan) ”demokrasi jelas-jelas kemungkaran, sistem kufur membawa mudharat. Anehnya, justru banyak yang berlomba-lomba untuk memproklamirkan itu dan mengajak umat berhukum dalam sistem tersebut. Sebaliknya sistem khilafah malah banyak dicemooh dan bahkan dikatakan utopis.”

(KH Muhyiddin/ulama jawa barat) ”ketika umat tidak menerapkan hukum islam malah menerapkan demokrasi, sesat apa tidak? Ulamanya ngantuk, umatnya sesat. Apakah ulama seperti ini pewaris nabi? Jika benar kita mencintai Rasul maka kita harusnya mengambil islam bukan demokrasi.”

(buya halim lanoi/ulama sulawesi tenggara) jangan pernah berharap negeri ini akan baik jika demokrasi masih ada di negeri ini, kenapa? Negara ini di eksploitiasi diambil kekayaannya oleh orang-orang kaya dan untuk kepentingan pribadi. Demokrasi harus segera ditinggalkan.”

(KH abdul karim/ulama jawa timur) indonesia sangat gawat, kalau sudah rusak seperti ini sungguh hal ini sesuatu yang sangat mengerikan. Jika telah tampak dan merajalela zina dan riba, maka masyarakat itu telah menghalalkan azab Allah. Karena itu, kalau ini tidak dihentikan kita juga akan kena akibatnya. Jika Allah menimpakan keburukan maka tidak pilih-pilih, semua akan kena.”

(KH mahmud syukri/jawa timur) ”bala’ yang menimpa indonesia adalah bala’ untuk umat islam karena indonesia negeri islam. Krisis multidimensional ini terjadi karena fasad disebabkan bermaksiat kepada Allah dan solusinya harus kembali pada Allah swt.”

(habib kholilullah bin abubakar al-habsyi/ulama jakarta) ”dengan sistem demokrasi, para pemimpin telah menghisap darah bangsanya sendiri. Masih maukah kita mendakwahkah demokrasi? Kalau tidak ingin dikutuk Allah maka tinggalkan demokrasi, campakkan demokrasi.”

(KH Nashruddin/ulama jawa tengah) ”islam memiliki konsep, namun saat ini demokrasi yang diterapkan, maka konsep islam itu tidak akan bisa ditegakkan. Maka dari itu, kita membutuhkan khilafah sebagai pelaksana syariah islam. Anda siap memperjuangkannya?”

(KH Abdul Hafidz/ulama kalimantan selatan) demokrasi membuat dharar bagi kita semua, dari sisi akidahnya, dari sisi politiknya dan kehidupannya. Demokrasi membuat umat melakukan syirik yang sangat besar, mendorong kaum muslim melakukan dosa besar.”

(KH Abdul Qottum/ulama jawa timur) ”menyadarkan umat tentang kerusakan demokrasi adalah tugas ulama. Ulama harus peka terhadap problematika umat saat ini yang terjadi. Tidak mungkin kita dimudahkan masuk ke surga kalau-cara kita memimpin umat dalam dunia kekufuran ini-diam saja. Umat akan kufur tergantung pada gerak ulamanya sekarang”

sumber: al wa’ie edisi april 2014

untuk calon-calon penulis hebat…

bagi seorang penulis, menulis adalah segalanya…

menulis adalah bagian dari hidupnya…

menulis adalah caranya mengekspresikan diri, mengekspresikan perasaan, mencurahkan kata-kata yang tak mampu ia ucapkan lewat lisan….

menulis adalah semangatnya…

menulis adalah salah satu caranya menenangkan diri…

menulis adalah DIRINYA….

jadi bagi para penulis…

menulislah…

apapun yang ingin kau tulis, tuliskanlah…

tak usah mempedulikan tak akan ada yang membaca tulisanmu…

tak usah pedulikan orang tak suka hasil karya mu…

tak usah pedulikan orang yang mengintai, mengawasi gerak gerikmu, dan membuatmu takut untuk menuliskan apa yang kau mau…

tak usah pedulikan semua penghalang itu….

selama apa yang kau tulis bisa bermanfaat untuk orang lain…

selama apa yang kau tulis bisa membuatmu bahagia…

selama kau menuliskan kebaikan…

selama tulisan itu tidak berisi penghinaan terhadap Allah dan Rasulullah…

bismillah, tuliskan saja isi hatimu, tak perlu ragu, tak perlu takut…

selamat berkarya, para penulis di seluruh dunia… 🙂

tulislah apa yang harus dibaca orang lain, bukan apa yang ingin orang baca

hal yang harus diyakini seorang penulis: “tulislah yang orang lain harus baca! bukan yang ingin orang baca. hadapi resikonya. Kunyah seluruh pahit getir reaksi orang2 jika tidak suka.” – tere liye

haters akan selalu ada, orang2 yang mencibir dan berpikiran negatif tentang apa yang kita tulis pun akan banyak. tapi memang itu resiko nya menulis “apa yang harus dibaca orang lain.”

bayangkan jika semua orang hanya bisa menulis yang indah-indah macam puisi cinta, atau menulis ajakan kebaikan dengan bahasa yang lemah lembut seperti “mari kita jadi orang baik, mari rajin menabung” orang mungkin suka bacanya, tapi yakin bisa ada yang menjalankan? manusia kadang musti dipecut dulu baru mau melakukan kebaikan. kita juga begitu, semua manusia punya kecenderungan seperti itu.

tapi giliran disodorkan model tulisan “jangan pacaran, itu haram!” atau “jangan buka auratmu”. yang ngamuk2, pencak silat, ngedumel2 waktu bacanya pasti bakal banyak.

tapi benar kata bang tere liye, kalau semua orang hanya menyuarakan amar maqruf, tapi tidak ada yang berani menyuarakan nahi mungkar, lantas bagaimana kita bisa saling menegur jika melakukan kesalahan? berarti memang harus ada yang berani untuk bersuara dan menanggung resiko pandangan orang terhadap apa yang disuarakannya itu. dan semoga kita jadi orang-orang seperti itu, orang-orang yang tidak takut pada pandangan dan respon manusia dalam berdakwah, dan melakukannya semata-mata untuk saling ingat mengingatkan tentang agama Allah yang indah ini. 

filosofi kisah Lukman dan keterkaitannya dengan arus protes terhadap profesi dokter

*tulisan ini rada telah di post di wordpress, sebenarnya sudah di posting duluan lewat FB tanggal 3o november, tapi ndak apa lah, daripada ndak sama sekali 😀

Pernah dengar kan cerita tentang Lukman yg berjalan dgn anaknya sambil membawa keledai?

Mungkin cerita ini cocok dengan keadaan para dokter saat ini 

saat Lukman menyuruh anaknya menaiki keledai karena tak ingin anaknya lelah berjalan, ada orang yg berkata ”anak kurang ajar, dia biarkan ayahnya berjalan sedangkan dia enak2 naik keledai”

kemudian mereka bertukar posisi. Kini lukman yg menaiki keledai dan anaknya yg berjalan, lalu ada orang yg berkata ”ayah tak punya perasaan, dia biarkan anaknya yg lemah utk berjalan sedangkan dia yg kuat malah naik keledai”

selanjutnya mereka memutuskan utk menunggangi keledai tersebut bersama-sama, dan orang yg melihat mereka berkata ”orang2 tak punya perasaan, mereka berdua menunggangi keledai yang lemah itu”

lalu terakhir mereka kembali berjalan bersama dan membiarkan keledainya tak ditunggangi, lantas ada lagi orang yang berkata ”bodoh! Bawa keledai tapi tak ditunggangi”

kemudian si anak bertanya pada lukman, ”ayah, mengapa semua orang memprotes semua hal yang kita lakukan?”

lukman pun menjawab ”anakku, itulah tujuan ayah mengajakmu jalan-jalan. Ketika kamu berbuat sesuat yg menurutmu benar, orang2 akan tetap berkata-kata tentang dirimu. Apalagi kalau kau melakukan kesalahan. Pelajaran yg ingin ayah sampaikan adalah: laa yumkinu irdhaa’u kullinnaas. Mustahil membuat semua orang sepakat dengan apa yang kamu lakukan”. Jadi mau kita bicara pakai teori jenis apapun juga, tetap saja tak bisa elakkan bahwa tetap akan ada orang-orang yang tak setuju dengan pendapat atau sikap kita. Yang bisa kita lakukan hanya berusaha untuk sabar dan ikhlas, tapi justru itu lah yang paling sulit ya? 🙂

semoga bisa kita petik pelajaran dari semua kejadian yang menimpa kita saat ini. Pasti Allah punya rahasia dibalik kejadian ini, pasti ada hikmah yang harus kita cari tahu. malah mungkin kata-kata pedas dan kalimat cacian yg mereka tujukan pada kita ternyata adalah ‘bahan renungan’ yang dikirimkan Allah pada kita semua. Atau Allah ingin menguji keikhlasan dan kesabaran kita, dalam menjalani profesi mulia ini. Wallahu a’lamubissawab. Semoga kita termasuk orang2 yang sabar, ikhlas, dan bisa mengambil hikmah dari setiap kejadian.