Beginilah Cara Kapitalisme Merampok Negeri Ini dan Menjadikan Rakyat Sebagai Tumbal

walaupun singkat tapi tulisan ini cukup untuk membuka wawasan dan mata kita yg selama ini tertutup tentang bagaimana buruknya tipudaya kapitalis. indonesia hanyalah salah satu dari negara ‘lemah’ lainnya yg terperdaya oleh rencana busuk mereka. negara ini tak ubahnya sebuah boneka yg diatur gerak kaki dan tangannnya untuk melakukan apapun yg dapat memberi keuntungan sebanyak-banyaknya bagi para kapitalis. IMF, world bank, USAID, dan lembaga2 lainnya hanyalah serigala berbulu domba.

ah…mau sampai kapan kita ini di perdaya oleh mereka. padahal kita sudah jelas tahu bahwa kita (rakyat) lah yg akan dijadikan tumbal. apa manfaat yg bisa kita dapatkan dari berbagai macam nota kesepakatan para kapitalis dengan petinggi negara ini? tidak ada! pembangunan yg mampu mensejahterakan rakyat? ah itu hanya dongeng yg dihembus2kan untuk membesar-besarkan hati rakyat yg sudah putus asa dengan kehidupan. yg ada kita sudah diberikan tanggungan hutang. setiap satu anak bayi yg terlahir di indonesia sudah menanggung hutang sebesar 7 juta rupiah, dan jumlah ini bisa jadi akan terus bertambah! dari mana angka itu berasal? dari rerata jumlah keseluruhan hutang yg ditanggung oleh negeri kita tercinta ini jika dibagi dengan jumlah keseluruhan rakyat. ucapkanlah terimakasih untuk para penguasa yg telah memberikan kita hadiah berupa hutang yang tak tahu kapan akan bisa dilunasi itu. ucapkan pula terimakasih pada demokrasi dan sistem ekonomi yang berjalan beriringan dengannya (sistem ekonomi kapitalis) yg telah memperburuk nasib rakyat negeri yg kaya raya gemah ripah loh jinawi ini. terimakasih banyak!

semoga Allah memudahkan perjuangan orang2 yg istiqomah memperjuangkan sistem kenegaraan islam yang kita sebut dengan khilafah, yg senantiasa istiqomah mendakwahkan keindahan islam dan menjelaskan kebobrokan dan kebusukan sistem pemerintahan demokrasi pada seluruh rakyat agar mereka pun menginginkan demokrasi diganti dengan khilafah, yg berani mendatangi penguasa untuk memberikan nasehat dan teguran agar mereka kembali ke jalan Allah, yg meski dicerca, di fitnah, dikatakan sesat, di cap hanya bisa ‘omong doang’, yg dianggap mengancam NKRI padahal tak pernah melakukan kegiatan yg membahayakan macam apapun namun semangat juangnha tak pernah surut bahkan anggotanya semakin banyak tersebar di seluruh dunia, yg tetap menempuh jalan dakwah yg telah dicontohkan rasulullah dan tidak sedikitpun berminat untuk menghamba pada demokrasi apalagi ikut andil dalam sistem kufur ini. salam hangat untuk kalian semua. perjuangan kalian yg tanpa pamrih, tanpa mengharapkan imbalan apapun selain ridho Allah, semoga kelak dibalas dengan surga oleh Allah dan disana kalian bisa bertemu dengan sosok yg sama2 kita rindukan, kekasih kita Muhammad SAW.

saya mungkin hanya bisa menulis, tak punya banyak kontribusi untuk dakwah ini. tapi semoga orang2 yg membaca tulisan ini, rekan2 yg saya tag dlm tulisan sederhana ini, kelak akan menjadi bagian dari kalian, bagian yg memperjuangkan hukum Allah tegak di atas segala-galanya. aamiin, allahumma aamiin…

“Siapa pun yang ingin mengetahui apa yang sesungguhnya terjadi di dunia, mesti segera membaca buku ini.” Itulah komentar majalah Rolling Stone tentang buku “The Shock Doctrine; The Rise of Disaster Capitalism” karangan wartawati Kanada, Naomi Klein, yang diterbitkan Penguin Books, London , Inggris (2007).

“Tuan-tuan, kami ini berdaulat. Kami ingin melunasi utang kami, tapi maaf-maaf saja jika kami harus membuat kesepakatan lagi dengan IMF,” kata Presiden Argentina, Nestor Kirchner.

Sambil membopong diktator dan rezim sokongannya, kaum kapitalis mensponsori para ekonom didikan kampus-kampus neoliberal untuk menyiapkan karpet merah bagi kapitalisme dengan menyusun kebijakan ekonomi reformis propasar, satu eufemisme dari kebijakan prokapitalis fundamentalis. Afrika Selatan pasca-Nelson Mandela, Rusia di bawah Boris Yeltsin, dan Polandia pasca komunis adalah beberapa contoh.

Negara-negara yang semula khidmat mendengarkan rekomendasi para ekonom bimbingan Bank Dunia dan Dana Moneter Internasional (IMF) itu kemudian sadar telah dibohongi para ekonom dan birokrat bimbingan Barat yang ternyata para calo swastanisasi (perampok) negara.

Para penyusun kebijakan reformasi ekonomi tersebut memang kerap berperan menjadi mulut perusahaan raksasa asing, bahkan konsep kebijakan swastanisasi Bolivia semasa Presiden Gonzalo Sanchez de Lozada disusun para analis keuangan perusahaan asing, seperti Salomon Brothers dan ExxonMobil.

Nelson Mandela adalah salah satu yang kecewa karena cita-cita memakmurkan warga kulit hitam, seperti dipesankan Piagam Perdamaian tak tercapai, justru karena orang dekatnya, Tabo Mbeki, menyusun kebijakan pro-kapitalis sehingga mayoritas rakyat Afsel terpinggirkan.

Polandia juga menyesal mematuhi nasihat ekonom Jeffrey Sachs, seorang Friedmanis dari Universitas Harvard, sehingga aset-aset strategis Polandia jatuh ke tangan asing, justru ketika Partai Solidaritas memerintah negeri itu.

Demikian pula Rusia, yang kehilangan aset-aset strategisnya setelah ekonom reformis Yegor Gaidar, seorang Friedmanis di bawah bimbingan IMF, mempromosikan kebijakan neoliberal. Vladimir Putin kemudian mengoreksi kesalahan itu, dan mengakhiri hubungan mesra Rusia dengan IMF.

Buku tersebut juga menyebut krisis moneter Asia 1997 sebagai hasil desain kaum kapitalis karena mereka ingin menguasai aset-aset strategis di kawasan itu, mencaplok aset-aset perusahaan nasional Asia yang tumbuh meraksasa, dan hendak menggulingkan rezim-rezim yang berubah kritis, seperti Soeharto di Indonesia.

Menurut Naomi, di masa tuanya, Soeharto yang pro-Barat itu bosan diperah korporasi asing, sehingga ia “berkhianat” dengan membagikan aset nasional kepada kroninya yang berakibat korporasi asing itu berang, lalu merancang pembalasan dengan membesarkan skala krisis moneter Asia

Ketika Indonesia dan Asia akhirnya lunglai karena krisis moneter, IMF datang menawarkan obat dengan syarat liberalisasi pasar, sebuah formula klasik ala Friedman. Semua Asia menerima resep itu, hanya Malaysia yang menampik formula rente itu.

Hanya dalam 20 bulan, perusahaan-perusahaan multinasional asing berhasil menguasai perekonomian (termasuk aset dan labanya yang menggiurkan) Indonesia, Thailand, Korea Selatan, Filipina, dan juga Malaysia lewat 186 merger dana kuisisi perusahaan-perusahaan besar di negara-negara ini.

“Ini adalah pengalihan aset dari domestik ke asing terbesar dalam limapuluh tahun terakhir,” kata ekonom Robert Wade.

Tak puas di situ, para kapitalis merancang serangan ke Irak setelah Presiden Saddam Hussein memberi keleluasaan pada Rusia menambang minyak di Irak.

Perusahaan-perusahaan minyak seperti Shell, Halliburton, BP, dan ExxonMobil lalu mengipasi pemerintah AS dan Inggris untuk mencaplok Irak.

Namun, saat Irak sulit digenggam karena masalah terlalu kompleks, negeri itu disulap menjadi lahan bisnis keamanan sehingga para pedagang senjata, konsultan keamanan perusahaan di wilayah krisis, tentara bayaran, dan para spesialis teknologi keamanan mendadak bergelimang uang.

Kemudian, saat kaum kapitalis itu membutuhkan relaksasi setelah penat berburu laba, maka sejumlah lokasi dibidik menjadi situs wisata eksotis, di antaranya Srilanka. Namun, para nelayan miskin yang mendiami pantai-pantai indah Srilanka tak mau hengkang sampai tsunami menghantam Asia bagian Selatan pada 2004.

Bertopengkan bantuan rekonstruksi pascabencana dan bergerak dalam kerudung USAID, para kapitalis menyandera pemerintah Srilanka, agar “menukarkan” pantai indah Srilanka dengan bantuan tsunami. Situasi serupa berlaku di Thailand dan New Orleans pasca-badai Katrina.

Intinya, kaum kapitalis telah membisniskan perang, teror, anarki, situasi krisis, dan bencana alam untuk memperbesar pundi-pundi mereka dengan penderitaan jutaan orang di dunia. Naomi Klein menyebutnya sebagai “kapitalisme bencana”.

sumber: wikimu.com

Seandainya kami tak pernah ikut halqah, mungkin kami akan jadi pendukung sistem kufur demokrasi

first posted by Emeralda Noor Achni a.k.a Benefiko (salah satu pengarang buku ##UdahPutusinAja bagian visualisasinya) in her facebook account

Seandainya kami tak pernah ikut halqah | mungkin jemari kami ingin bersegera luncurkan komen yg mendebat dalil-dalil yg mengharamkan sistem ini.

Seandainya kami tak pernah ikut halqah | mungkin mulut kami dg lancang ingin menyuarakan dalih-dalih pembenaran atas sistem ini.

Seandainya kami tak pernah ikut halqah | mungkin lidah kami lantas nyinyir dan menghakimi si pemilik posting yang menentang sistem ini.

Seandainya kami tak pernah ikut halqah | mungkin kami yg miskin ilmu ini akan turut dalam kekeliruan penggunaan kaidah “darurat” atau “pilih yg sedikit mudharat”, yg berulang 5 tahunan sekali.

Seandainya kami tak pernah ikut halqah | mungkin dalam kepala kami akan terus dilanda pertanyaan kegalauan; “jika tidak dengan berdemokrasi, lalu bagaimana caranya?”

Seandainya kami tak pernah ikut halqah | mungkin kami tak akan pernah mengetahui bagaimana menyikapi pernyataan nyeri-nyeri sedap berikut ini:

“Bila umat Islam tidak berpartisipasi dalam demokrasi, maka bersiaplah pemerintahan dikuasai orang kafir, zhalim, fasik, dan aliran sesat! Tinggal menanti negri ini menjadi seperti Suriah & Irak, mau?”

Seandainya kami tak pernah ikut halqah | mungkin kami tak akan pernah tercerahkan pada sebuah jalan yang baginda Rasulullah SAW telah tunjukkan, metode syar’i perjuangan penegakan Daulah Islam.

Seandainya kami tak pernah ikut halqah | mungkin kami tak kunjung menyadari, bahwa Rasulullah adalah sebaik-baiknya teladan bagi setiap mukmin-mukminat yang mengaku beriman kepadanya.

Hendak disebut sebagai muslim apa kah kita ini | jika masih menaruh harapan pada jalan selain Islam, sementara malah meragukan metode yang Rasulullah teladankan sebagai jalan perjuangan terbaik?

Siapalah kami ini? Tak pandai kami berfatwa | hanya ingin tunduk dan menjadikan Allah dan Rasulullah di atas segalanya.

=====

semoga postingan ini bisa memberi sedikit pandangan | akan apa yang seharusnya umat Islam lakukan pada 9 juli mendatang.

Jika galau masih berlanjut, segera #YukNgaji ke sini: http://hizbut-tahrir.or.id/gabung | Bagi yg berserius, sila add Pin BB dakwah Hizbut Tahrir Indonesia: 7DD73ED8.

jangan sampai ‘semua’ dikatakan halal dan wajib karena ‘daruroh’ :D

Berikut adalah tulisan di laman page FB ust. Ahmad Sarwat tenang hakikat pengambilan alasan ‘darurat’ dalam menetapkan suatu hukum halal/haram. Tulisan ini di share kembali oleh ust. Felix Siauw dalam page FB nya, beliau juga memberikan footage:

“Ada analogi bagus dari ust. Ahmad Sarwat, coba baca dengan pikiran terbuka dan hati tenang, dan tentu dengan iman pada Allah Swt, apapun hasilnya setelah membaca, tolong tahan diri anda untuk bermaksiat dengan komentar-komentar yang tidak pantas”

Pilih Mana, Makan Anjing atau Babi?

Dosen fiqih saya dulu pernah berteori bahwa kalau pilihannya cuma dua, pilih mana seharusnya, makan anjing atau makan babi?

Jawaban diplomatisnya makan anjing. Sebab masih ada sebagian ulama yang menghalalkan anjing.
Sedang babi diharamkan secara ijma’ oleh semua ulama.

Tapi meski pilih anjing, tetap saja makannya tidak boleh banyak-banyak, apalagi nafsu sampai nambah tiga porsi.

Kalau itu mah bukan darurat tapi doyan, begitu beliau bilang.

Harusnya makan anjing sekedar buat ganjel perut penyambung hidup saja, tidak perlu mewajib-wajibkan makan daging anjing.

Hukumnya cuma berhenti sampai boleh dan bukan wajib. Tidak ada ulama yang mewajibkan makan anjing.

Lagi pula halalnya anjing karena darurat pun sekedar sebuah pendapat sebagian ulama. Tidak semua ulama setuju anjing berubah jadi halal karena alasan darurat.

Kan masih bisa hidup meski makan daun-daunan dan tumbuhan, tidak harus sampai makan anjing.

Anjing gitu loh

Galaunya Para Pengemban Dakwah Islam

sumber: buku karangan Arief B. Iskandar, “Hikmah-hikmah bertutur untuk jiwa yang mudah futur”, terbitan Al Azhar press

Dalam bukunya, Haml ad-Da’wah al-Islaamiyyah Waajibaat wa shifaat, Mahfud Abdul Lathif ‘Uwaidhah menjelaskan bahwa mengemban dakwah (Haml Ad-Da’wah) terdiri dari dua kata: mengemban (haml[un]) dan dakwah (ad-da’wah). Mengemban adalah satu hal dan dakwah adalah hal lain. Dakwah bisa dimaknai sebagai sekumpula pemikiran dan hukum-hukum syariah, yakni Islam itu sendiri secara keseluruhan. Adapun mengemban pada dasarnya sama dengan menyampaikan (tablig). Karena itu, mengemban dakwah bisa didefinisikan sebagai meyampaikan-kepada manusia-pelbagai pemikiran dan hukum-hukum syariah islam.

Setiap pengemban dakwah wajib istiwomah dalam mengemban dakwah, terkait dengan hal itu Allah berfirman:

“Sungguh telah didustakan pula para Rasul sebelum kamu, namun mereka tetap bersabar atas pendustaan dan penganiayaan yang dilakukan atas mereka hingga datang pertolongan Allah.” (QS. Al An’am [6]: 34)

Dalam ayat ini secara tersirat Allah memerintahkan kepada Rasul saw. Agar tetap sabar dan istiqomah dalam mengemban meskipun dihadapkan pada berbagai pendustaan dan penganiayaan orang-orang kafir yang menentang dakwah beliau. Sebab memang demikian pula yang dialami para Rasul sebelum beliau.

Masalahnya sederhana. Mengemban dakwah adalah menyampaikan ide-ide dan hukum-hukum ‘baru’ yang biasanya bertentangan dengan ide-ide dan hukum-hukum tradisi lama yang berkembang di tengah-tengah masyarakat. Karena itu, wajar jika dakwah yang haq sering dihadapkan pada penentangan masyarakat yang merasa ‘terusik’ dengan dakwah tersebut. Inilah sunnatullah yang berlakua dan dialami para nabi dan sahabat, serta tentu pengemban dakwah yang istiqomah mengikuti jejak langkah mereka dimanapun dan kapanpun.

Jika dulu Rasul dan para sahabat dihadapkan pada ide-ide, hukum-hukum, tradisi-tradisi jahiliah yang berpangkal pada paganisme (kesyirikan) maka saat ini para pengemban dakwah dihadapkan pada ide-ide, hukum-hukum dan tradisi-tradisi yang berpangkal pada sekulerisme. Saat ini, upaya mengusung ide serta hukum syariah dan khilafah, misalnya, dihadapkan pada ide HAM, demokrasi, pluralisme, nasionalisme/negara-bangsa, dll: dihadapkan pula pada penerapan UU dan hukum warisan para penjajah.

Tidak jarang, untuk itu para pengemban dakwah dilabeli dengan cap ‘fundamentalis, ‘ekstrimis’, bahkan ‘teroris’, baik oleh penguasa, masyarakat, ataupun musuh-musuh mereka dari kalangan kafir. Tidak jarang pula, perlawanan dari para penentang dakwah ini mengancam jiwa para pengemban dakwah.

Setiap pengemban dakwah haram untuk melenceng sedikit saja dari ide-ide dan hukum-hukum syariah. Sayangnya, tidak sedikit pengemban dakwah yang tidak istiqomah dengan dakwahnya. Misalnya: betapa banyak pengemban dakwah yang menyimpang dari ide-ide dan hukum-hukum syariah, entah karena kedangkalan pemahaman mereka atau karena sikap pragmatis mereka. Mereka tidak lagi menyerukan islam dalam wujud yang utuh sebagaimana yang diserukan Rasulullah saw. Mereka tidak berani secara tegas menyerukan syariah. Sebaliknya, mereka malah menyerukan ide-ide dan hukum-hukum sekuler yang bertentangan dengan ide-ide dan hukum-hukum islam, seperti: demokrasi, HAM, pluralisme, nasionalisme, dll. Padahal Allah SWT. Sendiri telah mengecam keras kekasihnya, Baginda Rasulullah saw seandainya beliau menyerukan apa yang tidak Dia perintahkan. Allah SWT. berfirman:

“Seandainya dia (Muhammad) mengada-adakan sebagian perkataan atas nama kami, niscaya kami benar-benar akan memegangnya pada tangan kanannya, kemudian memotong urat tali jantungnya…” (QS. Al Haqqah [69]: 44-46)

Yang lebih parah, banyak pengemban dakwah—yang tidak sabar ingin segera meraih kemenangan—menjerumuskan diri dalam kancah sistem kufur. Tidak aneh jika kemudian ada partai islam yang lebih konsisten menyerukan demokrasi ketimbang menyerukan penerapan syariah Islam karena khawatir partainya tidak laku dalam pemilu; berkoalisi dengan partai sekuler; atau memproklamirkan diri sebagai partai ‘terbuka’—yang memungkinkan orang-orang non muslim pun bisa menjadi anggota bakan pengurus partai—demi meraih konstituen sebanyak-banyaknya. Padahal, jika mereka konsiste memperjuangkan Islam, itu tidak akan mungkin mereka lakukan. Sebabnya, mustahil orang-orang kafir akan memperjuangkan Islam, padahal mereka sendiri mengingkari Islam.

Mungkin dengan semua itu, mereka menyangka akan meraih kemenangan. Jika kemenangan yang dimaksud adalah berhasilnya partai Islam atau para kadernya duduk di kursi kekuasaan, itu mungkin saja, namun, jika yang dimaksud adalah berdaulatnya idelogi Islam yang terwujud dalam penerapan syariahnya secara total oleh negara, maka  itu hanya mungkin diraih dengan keistiqomahan dan keteguhan dalam mengemban dakwah, apapun resikonya!

demokrasi untuk kemenangan Islam?

suatu sistem yang berasal dari akidah kafir mau dipakai untuk membangun islam, apa iya bakal nyambung? Semuanya hanya akan sia-sia. Bukan ridho Allah yang akan kita dapat. Mau pilih dapat ridho Allah dengan menerapkan cara yang sudah dicontohkan Rasulullah, atau mau terus-terusan coba-coba dengan memakai sistem yang dari dasarnya saja sudah rusak? Mobil yang sudah rusak dari awal pembuatan, nggak bakal bisa diperbaiki dari dalam! Yang ada pengemudi yang mau coba-coba pakai itu mobil bakal kenal kecelakaan lalu lintas, atau mobilnya meledak tiba-tiba. Bukankah begitu kalau dalam produksi mobil? Mobil2 produk gagal itu tidak akan dibiarkan dipasarkan ke masyarakat karena lebih banyak bahaya yang akan terjadi ketimbang manfaatnya kan? ayo coba direnungkan lagi… 

“Dan bahwa inilah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah agar kamu bertakwa.” (QS. Al An’am [6]: 153)

“siapa saja yang melakukan amal perbuatan, yang tidak sesuai dengan tuntunan kami, maka perbuatan itu akan tertolak.” (HR. Muslim)

islam itu sudah sempurna. TITIK, nggak ada KOMA. mau apa lagi kita ini? ingat, dunia ini fana kawan, jika tidak mencari ridho Allah, lantas ridho siapa yang mau kita cari? Islam tak akan bisa bangkit dalam sistem seperti ini. sudah terlalu banyak bukti. kembali sepenuhnya pada syariat islam dan menyongsong penegakan khilafah dengan metode yang sudah dicontohkan Rasulullah lah jalan keluar yang terbaik. in syaa Allah…. 

Partai Islam berkoalisi dengan Partai Sekuler? Ya Rabbiii….apa lagi ini? T__T

kita mungkin sudah tahu mengenai pemberitaan yang ramai dibicarakan di media saat ini, tentang bagaimana partai-partai islam (baca: yang tidak menang pemilu) mulai mendekati dan menggoda partai-partai nasionalis dan sekuler untuk diajak berkoalisi. “speechless” cuma itu respon yang bisa saya berikan ketika menonton ini. Saya ingat betul bagaimana teman saya yang berasal dari salah satu partai islam itu marah-marah pada saya karena tahu saya golput dan tidak memilih partai islamnya dan menyebabkan orang kafir (yang dia anggap orang kafir itu partai PDI, ini dia yang ngomong ya bukan saya =P ) malah memenangkan pemilu. Sekarang? Malah saya dengar ada partai islam yang ingin berkoalisi dengan si partai pemenang pemilu itu. Malah partai yang teman saya bangga-bangga kan itu akan berkoalisi dengan partai juara ke 2 dalam pemilu kemarin. Saya ingat betul bagaiman MUI sampai mengeluarkan fatwa haram golput! Sampai ada yang bilang “kalau golput nanti orang kafir dan sekuler yang menang!” Nyatanya? Ya Allah….nggak tahu lagi harus bilang apa. lindungilah kami semua. T_T

Hanya sebagai tambahan saja ya, saya berikan kutipan status Bang Tere Liye ke dalam tulisan ini. Saya sertakan juga link page nya. Jangan lupa baca komentar follower di status tersebut dan lihatlah bagaimana respon masyarakat mengenai ‘tema’ ini…

*Entah apa yang ada di kepala mereka

Ada 4 partai Islam, digabungkan ke-4 suara mereka, maka total jenderal 30% di tangan. Lantas, dengan angka sebesar itu, kenapa mereka tidak percaya diri mencalonkan dari kelompoknya sendiri? Kenapa elit politik partai Islam susah sekali untuk bicara satu sama lain, menyatukan kekuatan? Ada apa dengan mereka ini? Takut kalah? Takut salah perhitungan? Ada apa sih?

Sungguh, kami memberikan satu suara kepada kalian, bukan sekadar bersemangat menyelamatkan parpol Islam yang konon kata survei bisa tamat tahun 2014, kami menitipkan satu suara kepada kalian, agar kalian mengaum bagai harimau di tengah gelanggang politik, bukan sebaliknya meng-embekkk semua ikut gerbong lebih besar.

Buat apa kalian mengirimkan begitu banyak selebaran tentang jangan pilih ini, itu, “haram” hukumnya, tapi sekarang, setelah pileg selesai, kalian malah genit sekali bergabung dengan yang kalian “haramkan” sendiri?

Bersatulah. Apa susahnya sih? Mumpung masih ada waktu. Sungguh jangan khianati suara2 yang menginginkan kalian berdiri dengan kepala tegak. 30% itu modal bagus sekali, bukan hanya bisa menggagalkan capres partai lain, bahkan bisa membuat partai lain yang justeru memohon bergabung, ikut peraturan, ikut gerbong. Kalaupun akhirnya kalah, oh dear, itu lebih terhormat. Kalah setelah menyatukan semua kekuatan. Politik itu bicara tentang kehormatan, bukan kesempatan.

Bersatulah. Selagi masih ada waktu. Atau besok lusa, kalian akan semakin kehilangan jati diri. Semakin tidak nyambung antara ucapan dan kelakuan. Semakin tidak mengerti keinginan mendasar orang2 yang memberikan suara.

Bersatulah. Skip semua perbedaan demi sesuatu yang lebih penting

Lambat laun, masyarakat akan semakin sadar. lambat laun, mereka akan semakin mengerti.

Kenyataan yang sekarang tergambar jelas dalam pemberitaan di televisi sudah bisa membuat masyarakat kembali berpikir “Benarkah mereka bisa memperjuangkan islam? Lantas jika memang benar cita-citanya begitu, kenapa bukannya bersatu tapi malah mengekor pada partai yang mengusung sekulerisme?” 


hhh….sesak rasanya jika menyalakan TV dan menyaksikan semua ini. padahal begitu banyak umat islam yang menumpukan harapan pada mereka. tapi mereka malah bersikap begini. Dan nanti orang-orang yang masih pro terhadap mereka pasti akan mengatakan “Mereka pasti punya alasan sendiri. Yang penting niatnya kan tetap ingin memenangkan islam!” ya sudahlah, bicara saja lah sesuka kalian. kami, rakyat negeri ini, sudah terlalu lelah dengan semua alasan-alasan klasik itu. 

Biarlah masyarakat yang menilai sendiri. kadang diam lebih baik ketimbang harus berbicara banyak tapi tak didengar. Hanya satu pesan terakhir kami, kembalilah pada islam. jika tak percaya pada kelompok tertentu (baca: Hizbut Tahrir) yang mengatakan diri ingin memperjuangkan islam karena menganggap organisasi atau kelompok ini hanya bisa omong doang, maka buatlah pergerakan sendiri di luar sana, buatlah pergerakan yang bisa menyadarkan masyarakat bahwa kembali pada islam lah jalan keluar yang terbaik. bukankah itu cita-cita kita bersama? bukankah itu yang kita harapakan?

ini bukan lagi masalah siapa yang salah dan siapa yang benar. ini masalah siapa yang berani dan mau sungguh-sungguh memperjuangkan bangkitnya agama ini. janganlah rusak ukhuwah dengan fitnah-fitnah tak berdasar. bukalah mata lebar-lebar. cermati semua fakta yang terjadi. dan mintalah petunjuk pada Allah lantas usahakanlah apa yang menjadi cita-cita kita bersama ini tanpa harus menunggu siapa-siapa lagi, tanpa harus menggantungkan harapan pada orang-orang yang membudak pada kekuasaan dan lupa akan niat awalnya.

sungguh, Allah akan menilai seberapa jauh usaha kita. maka jangan sia-sia kan waktu walau hanya sedetik. islam menantimu kawan, Allah menyaksikanmu… T_T

“Sudahkah Kehidupan Kita Ditata Oleh Ajaran Islam?” by @MFatihKarim

assalamu’alaykum. sebelum memulai aktivitas pagi ini, atau di sela-sela kesibukan saudara2 sekalian, sempatkanlah membaca tulisan ini. tak akan memakan waktu lama kok utk membacanya, tapi in sha Allah akan membantu kita untuk merenungi banyak hal. ini dikutip dari twit2 ust. fatih Karim. semoga bermanfaat… 

Bahaya terbesar adalah jika seorang muslim sudah malu menyuarakan,jadikan islam solusi satu2nya | sudahkah kehidupan kita ditata islam?

Apakah Islam tidak miliki seperangkat sistem pemerintahan yg unik detail&jelas? hingga kita bangga ambil konsep JJ Roseu,montesqiu,plato?

Apakah wahyu mulia dari Allah hina dimata kita? hingga kita ganti menjadi konsep ekonomi Adam smith,david richardo,keynes pun kita bangga?

Apakah Rasulullah tercinta tidak pernah beri contoh perubahan sistem jahili menuju islami?sehingga kita ambil setiap kata dari machiavelli?

Benarkah bahwa utk raih kuasa harus halalkan segala cara?bukankah rasul teladan abadi kita? apakah ada beda diantara kita teladaninya?

Apakah Islam tidak memberikan panduan rinci format sistem bernegara?apakah kita setuju Islam ini belum sempurna?

Sahabatku fillah tolong jawab pertanyaan dlm semua twit saya.. 🙂 jika belum terjawab adakah memang kita belum bisa menjawabnya?

Apakah Islam diturunkan Allah mandul beri solusi untuk setiap problema? Lantas kita bebas ambil solusi dari mana saja?

Apakah lisan rasul yang mulia juga sikapnya tak pernah beri kita teladan bagaimana hadapi kekufuran beserta para pendukungnya?

Islam hanya berlaku sesaat pd masa diturunkannya hingga mandul menjawab detail problema manusia?apakah ini yg namanya sempurna?

Lantas apakah isi Alquran hanya utk diperdengarkan saja bukan sebagai panduan jalan menuju RidhoNya? Apakah Islam sudah usang??

Apakah sahabat yakin Bahwa Islam = agama lainnya | mandul menjawab detail problema sehingga jadikan akal manusia sebagai Tuhannya?

Apakah bisyarah Rasulullah tentang kemenangan Islam itu ilusi semata atau justru kitalah yg semestinya wujudkannya?

Apakah Islam membiarkan kita bebas bersikap dan berfikir tanpa tuntunan?hingga kita mengatakan jangan bawa Islam dalam ranah kehidupan?

Apakah Islam tidak detail menjelaskan bagaimana bersikap dengan kubangan kekufuran dan mengubah kegelapan menjadi cahaya?

Alquran Dusturuna Allah ghayatuna Rasul qudwatuna apakah nyata atau hanya kata semata?sahabatku fillah..fahamilah!

Apakah kecintaan dan kerinduan kita sudah berbeda tak lagi sama? Hingga kita bangga serukan selain Islam dan rendah diri serukan Islam?

Apakah Islam yang mandul ataukah akal kita yang tumpul?hingga tak mampu lagi membeda halal haram terpuji tercela?

Sahabatku fillah petaka mengerikan yg menimpa kita adalah padamnya cahaya aqidah dalam diri!hilangnya rasa takut pd Allah&patuh padaNya

Apakah ada beda antara Islam dulu kini dan akan datang ataukah sikap kita yg sudah berubah terhadap Islam Allah dan RasulNya??

Wahai orang yg beriman penuhilah seruan Allah&RasulNya jika rasul menyeru kalian pd sesuatu yg mberi kehidupan pd kalian QS Al anfal 24

Ukhuwah kita telah diputus menjadi ikatan berdasar sekat kebangsaan (nasionalisme) aqidah kita sudah dirusak sebatas spiritualisme

Sistem pemerintahan kita sudah diganti menjadi Republik demokrasi sistem ekonomi kita diubah menjadi liberalisme kapitalisme

Kerinduan pada JannahNya diganti dengan berbangga tahta harta dan kuasa kemarahan terhadap maksiat berubah menjadi kebiasaan&kerinduan

Islam sebagai solusi total kehidupan diganti menjadi sebatas agama spiritual semata | ridho mengambil hukum buatan manusia

Allahumma Balaghna Fashad ya Allah! Ya Allah kami sudah sampaikan Ya Allah Saksikanlah…