Jawaban Bagi yang Meragukan Rasulullah Masuk Surga

N.B. semoga orang2 yang membaca artikel ini adalah orang yang benar2 ingin mencari ilmu, mencari tahu kebenaran karena sangat meyakini Beliau (Rasulullah) adalah manusia paling mulia yang semua dosa-dosanya telah dimaafkan oleh Allah, dan SUDAH DIJAMIN MASUK SURGA. jadi jika ada yang membaca artikel ini untuk mencari-cari kesalahan dalam penulisannya, dan kemudian melontarkan komentar yang ingin menyerang isi nya demi membenarkan pendapat pribadi bahwa “Rasulullah tidak dijamin masuk surga”, maaf, komentar anda tak akan saya terima dan akan langsung saya anggap sebagai spam!

Bukan masalah setinggi apa orang itu sudah mengkaji ilmu agama. Sungguh bukan itu yg menjadi masalah. Tapi kemuliaan seorang Rasul yg selama ini kita hormati dan kita cintai bisa dgn seketika hancur dgn satu kalimat yg dikeluarkan secara tidak hati2.

Jika kita tanyakan pada hati nurani kita yg notabene tidak sekolah agama sampai bergelar profesor ini “apakah kau yakin bahwa Rasulullah, manusia yg dianggap paling mulia oleh Allah, manusia yg dipilih Allah utk mengemban risalah agama ini untuk disebarkan kepada ummat manusia, manusia paling indah akhlaq nya, sudah dijamin Allah masuk surga?” seharusnya hati nurani yg paling lembut dan bersih ini mengatakan “ya. Saya YAKIN”

Maka tak akan lagi ada perdebatan diantara muslimin jika ada pernyataan yg aneh keluar dr lisan seseorang yg meragukan jaminan surga bagi Rasulullah, tak perlu lagi ada yg membela dan membantu orang itu menjelaskan dari mana dia mengambil sumber utk mnyokong pendapatnya. Sungguh. Siapa yg akan memberikan kita syafaat di akhirat kelak jika bukan Rasulullah?

Sungguh. Seharusnya kita malu pada Rasulullah. seharusnya rasulullah lah yg kita bela, buka siapa2 selain beliau. Beliau begitu menyayangi kita hingga di akhir hayatnya, ketika nyawa hampir dicabut dari jasadnya, yg dia sebut adalah “ummatku…unmatku…ummatku…”

Begitu besar sayangnya beliau pada kita. Mugkin jika ia masih hidup dan menyaksikan kita saat ini, dia akan menangis melihat kondisi ummat yg begitu ia sayangi ini malah memperdebatkan dan meragukan jaminan surga untuk beliau. Sungguh seharusnya kita malu…

Sholawat serta salam smoga slalu tercurah kepadamu ya nabiyullah. Maafkan kami, dan jangan masukkan kami ke dalam golongan org2 yg tak kau beri syafa’at kelak di padang mahsyar.

Tertanda, saudarimu, seorang manusia yg penuh khilaf dan salah, yg hanya ingin berusaha mengembalikan keyakinan dan kecintaan kita semua pada Rasulullah Muhammad SAW.

Berikut saya sertakan tulisan oleh ust. Bachtiar Natsir berjudul “Jawaban bagi yang meragukan Rasulullah masuk surga”

sumber: http://aqlislamiccenter.com/2014/07/18/jawaban-bagi-yang-meragukan-rasulullah-masuk-surga/

Syubhat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tidak dapat dipastikan masuk Surga bukanlah hal baru, keraguan seperti ini banyak disebarkan oleh orang-orang Nasrani dan tokoh sekuler dari kalangan muslim.

Untuk menjawabnya cukup sederhana; “Bukankah telah disediakan telaga Al-Kautsar atau telaga Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang disediakan bagi calon penghuni Surga?”.

Hadits yang sering mereka jadikan sebagai pintu masuk untuk merasukkan doktrin keraguan (tasykik) diantaranya adalah hadits riwayat Imam al-Bukhari di dalam kitab shahihnya dari hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah, dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam

»لَنْ يُنَجِّيَ أَحَدًا مِنْكُمْ عَمَلُهُ قَالُوا وَلَا أَنْتَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ وَلَا أَنَا إِلَّا أَنْ يَتَغَمَّدَنِي اللَّهُ بِرَحْمَةٍ سَدِّدُوا وَقَارِبُوا وَاغْدُوا وَرُوحُوا وَشَيْءٌ مِنْ الدُّلْجَةِ وَالْقَصْدَ الْقَصْدَ تَبْلُغُوا«
“Salah seorang dari kalian tidak akan dapat diselamatkan oleh amalnya,” maka para sahabat bertanya, “Tidak juga dengan engkau wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Tidak juga saya, hanya saja Allah telah melimpahkan rahmat-Nya kepadaku. Maka beramallah kalian sesuai sunnah dan berlakulah dengan imbang, berangkatlah di pagi hari dan berangkatlah di sore hari, dan (lakukanlah) sedikit waktu (untuk shalat) di malam hari, niat dan niat maka kalian akan sampai.”
Juga hadits Dalam riwayat Aisyah Radhiyallahu ‘Anha, dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, beliau bersabda :
»سَدِّدُوا وَقَارِبُوا وَأَبْشِرُوا فَإِنَّهُ لَا يُدْخِلُ أَحَدًا الْجَنَّةَ عَمَلُهُ قَالُوا وَلَا أَنْتَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ وَلَا أَنَا إِلَّا أَنْ يَتَغَمَّدَنِي اللَّهُ بِمَغْفِرَةٍ وَرَحْمَةٍ«
“Beramalah sesuai sunnah (istiqamah) dan berlaku imbanglah, dan berilah kabar gembira, sesungguhnya seseorang tidak akan masuk surga karena amalannya.” Para sahabat bertanya, “Begitu juga dengan engkau wahai Rasulullah?” Beliau bersabda, “Begitu juga denganku, kecuali bila Allah meliputi melimpahkan rahmat dan ampunan-Nya kepadaku.” (HR. al-Bukhari)
Dari hadits di atas, para penafsir dengan hawa nafsunya berdalih bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tidak memiliki jaminan masuk surga, baik untuk dirinya maupun umatnya.
Untuk membantah pemahaman salah tersebut, maka diperlukan pemahaman terhadap hadits dengan benar.
Dua hadits di atas mengandung hal yang mendasar dan menjadi kaidah yang penting. Hal mendasar dan sifatnya asas adalah bahwa amal perbuatan manusia tidak dapat menjaminnya untuk selamat dari api Neraka dan tidak pula dapat menjaminnya untuk masuk surga, karena masuk surga dan selamat dari api neraka disebabkan oleh ampunan dan rahmat Allah Subhanahu wa Ta’ala; karena seorang muslim meyakini dan mengimani bahwa segala sesuatu berada di Tangan Allah, dan hanya Allah sajalah yang mengetahui tempat kembalinya manusia.
Tidak seperti orang nasrani yang tersesat dengan mengimani bahwa yesus sang penebus, yang diantara ajarannya kepada pemeluknya : akuilah dosa-dosa kalian kepada para pendeta niscaya kalian akan diampuni, walaupun pendeta tersebut bukan orang yang lurus. Berbeda dengan seorang Muslim yang berkeyakinan bahwa seseorang tidak dapat menjamin dirinya masuk surga, bahkan dengan amal shalihnya sekalipun, karena seseorang masuk surga disebabkan rahmat dan ampunan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Banyak ayat-ayat al-Qur’an yang menerangkan hal diatas, di antaranya adalah :
)فَالَّذِينَ هَاجَرُوا وَأُخْرِجُوا مِنْ دِيَارِهِمْ وَأُوذُوا فِي سَبِيلِي وَقَاتَلُوا وَقُتِلُوا لَأُكَفِّرَنَّ عَنْهُمْ سَيِّئَاتِهِمْ وَلَأُدْخِلَنَّهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ( [آل عمران : 195]
Maka orang-orang yang berhijrah, yang diusir dari kampung halamannya, yang disakiti pada jalan-Ku, yang berperang dan yang dibunuh, pastilah akan Ku-hapuskan kesalahan-kesalahan mereka dan pastilah Aku masukkan mereka ke dalam surga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya.
Ayat diatas menegaskan bahwa Allah menghapuskan kesalahan hamba-Nya baru kemudian memasukkannya ke dalam Surga.
)تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَتُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ بِأَمْوَالِكُمْ وَأَنْفُسِكُمْ ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ. يَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَيُدْخِلْكُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ وَمَسَاكِنَ طَيِّبَةً فِي جَنَّاتِ عَدْنٍ ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ( [الصف : 11-12]
(yaitu) kamu beriman kepada Allah dan RasulNya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui. Niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosamu dan memasukkanmu ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; dan (memasukkan kamu) ke tempat tinggal yang baik di dalam jannah ‘Adn. Itulah keberuntungan yang besar.
Allah hanya memasukkan hambanya yang sudah mendapatkan ampunan dosa-dosa dari-Nya.
Sekali lagi, Allah Subhanahu wa Ta’ala menghubungkan antara masuknya seseoang ke Surga dan selamatnya dari Neraka dengan maghfirah dan rahmat-Nya untuk menunjukkan bahwa hal tersebut tidak akan didapat tanpa adanya maghfirah dan rahmat-Nya.
Para salaf berkata, “Di akhirat kelak hanya ada dua kemungkinan; ampunan Allah atau Neraka, sedangkan di dunia juga cuma ada 2 hal saja; penjagaan Allah atau kebinasaan.”
Muhammad bin Wasi’ rahimahullah berkata kepada para sahabatnya ketika menjelang wafat, “Alaikumus salam,  bisa jadi neraka atau ampunan Allah.”
Adapun firman Allah :
)وَتِلْكَ الْجَنَّةُ الَّتِي أُورِثْتُمُوهَا بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ( [الزخرف : 72]
Dan itulah surga yang diwariskan kepada kamu disebabkan amal-amal yang dahulu kamu kerjakan.
)كُلُوا وَاشْرَبُوا هَنِيئًا بِمَا أَسْلَفْتُمْ فِي الْأَيَّامِ الْخَالِيَةِ( [الحاقة : 24]
(kepada mereka dikatakan), “Makan dan minumlah dengan sedap disebabkan amal yang telah kamu kerjakan pada hari-hari yang telah lalu.”
Ayat-ayat tersebut menunjukkan bahwa masuknya seseorang ke Surga karena rahmat Allah, dan penentuan derajat di surga berdasarkan amal seseorang.
Ibnu ‘Uyainah berkata, “Mereka berpendapat bahwa selamatnya seseorang dari api neraka itu disebabkan karena adanya ampunan dari Allah, dan masuknya seseorang ke surga disebabkan karena anugerah dari Allah serta penentuan derajat di surga berdasarkan amal seseorang.”
Coba perhatikan konotasi huruf al-Ba’ dalam firman Allah :
(بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ)
(بِمَا أَسْلَفْتُمْ فِي الْأَيَّامِ الْخَالِيَةِ)
Adalah ba’ sababiyyah (ba’ yang mengandung arti sebab), jadi maknanya adalah Allah menjadikan amal seseorang sebagai sebab masuknya seseorang ke dalam surga.
Sedang ba’ dalam hadits Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam :
)لَا يَدْخُلُ أَحَدُكُمْ الْجَنَّةَ بِعَمَلِهِ) [رواه أحمد]
Adalah ba’ muqabalah dan mu’awadhah (mengandung arti timbal balik) jadi makna dari hadits adalah Salah seorang dari kalian tidak akan masuk surga dengan amal perbuatan yang dia kerjakan.
Hadits ini menjawab keraguan orang yang mengira bahwa surga itu diperoleh karena hasil dari amal perbuatannya, dan menghapus keraguan bahwa orang yang mengerjakan suatu perbuatan akan secara otomatis berhak mendapatkan surga sebagaimana orang yang sudah membayar dengan harga tertentu akan mendapatkan barang dari harga yang sudah dibayar.
Hadits tersebut juga menjelaskan bahwa sebab seseorang masuk surga adalah karena anugerah dan rahmat-Nya. jadi masuknya seseorang ke dalam surga disandarkan kepada anugerah, rahmat, dan maghfirah-Nya, karena Dia-lah yang memberikan anugerah berupa sebab dan amalan yang menyebabkan seseorang beramal, jadi masuknya seseorang ke dalam surga tidak hanya disebabkan hanya karena amalnya sendiri.
»إِلَّا أَنْ يَتَغَمَّدَنِي اللَّهُ بِمَغْفِرَةٍ وَرَحْمَةٍ«
“Kecuali bila Allah meliputi melimpahkan rahmat dan ampunan-Nya kepadaku.” (HR. al-Bukhari)
Hadits di atas menunjukkan bahwa seseorang betapapun tinggi derajat dan keutamaannya tidak akan selamat hanya karena amalnya, bahkan dengan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, seandainya Allah tidak memberikan anugerah berupa diampunkannya dosa-dosa; baik yang telah lalu maupun yang akan datang, maka beliau tidak bisa selamat dengan amalnya.
والسلام علي من اتبع الهدي

Diantara kelemahan Prof. Quraish Shihab yang sangat mendasar dalam menyampaikan hadits adalah menyampaikannya hanya dengan maknanya saja, dan bisa jadi dua hadits yang berbeda digabungkannya menjadi satu dan bercampur baur dengan ucapannya, dan tanpa menyebutkan referensi kitab-kitab hadits, tidak pula sahabat yang meriwayatkan.

Dan kami mengira hadits yang dimaksudkan di atas adalah dua hadits yang berbeda, yaitu:

Pertama: Hadits Ummul ‘Alaa Al-Anshoriyah radhiyallahu’anha, beliau berkata ketika meninggalnya sahabat yang mulia Abus Saaib ‘Utsman bin Maz’un radhiyallahu’anhu:

رَحْمَةُ اللهِ عَلَيْكَ أَبَا السَّائِبِ فَشَهَادَتِي عَلَيْكَ لَقَدْ أَكْرَمَكَ اللَّهُ فَقَالَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم وَمَا يُدْرِيكِ أَنَّ اللَّهَ قَدْ أَكْرَمَهُ فَقُلْتُ بِأَبِي أَنْتَ يَا رَسُولَ اللهِ فَمَنْ يُكْرِمُهُ اللَّهُ فَقَالَ أَمَّا هُوَ فَقَدْ جَاءَهُ الْيَقِينُ وَاللَّهِ إِنِّي لأَرْجُو لَهُ الْخَيْرَ وَاللَّهِ مَا أَدْرِي – وَأَنَا رَسُولُ اللهِ – مَا يُفْعَلُ بِي قَالَتْ فَوَاللَّهِ لاَ أُزَكِّي أَحَدًا بَعْدَهُ أَبَدًا.

“Rahmat Allah atasmu wahai Abus Saaib (‘Utsman bin Mazh’un). Aku bersaksi bahwa Allah sungguh telah memuliakanmu.” Maka Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda, ”Apa yang telah membuat engkau mengetahui bahwa Allah telah memuliakannya?” Aku mengatakan, ”Demi bapakmu (ini bukan untuk bersumpah, Pen), lalu siapa yang dimuliakan Allah?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ”Adapun Abus Saaib maka telah datang kematiannya, demi Allah sungguh aku mengharapkan kebaikan baginya. Dan demi Allah aku tidak tahu –padahal aku adalah Rasulullah- apa yang akan Allah lakukan pada diriku.” Kemudian Ummul ‘Alaa’ mengatakan, “Maka demi Allah, setelah itu aku tidak pernah lagi memastikan seseorang (telah dimuliakan oleh Allah).” [HR Bukhari]

Perhatian: Tentang ucapan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits di atas,

وَاللَّهِ مَا أَدْرِي وَأَنَا رَسُولُ اللَّهِ مَا يُفْعَلُ بِي

“Dan demi Allah aku tidak tahu –padahal aku adalah Rasulullah- apa yang akan Allah lakukan pada diriku.”

Maka ucapan beliau tersebut sebelum turun firman Allah ta’ala yang mengabarkan bahwa dosa-dosa beliau semuanya telah diampuni. Allah ta’ala berfirman,

إِنَّا فَتَحْنَا لَكَ فَتْحًا مُّبِينًا لِّيَغْفِرَ لَكَ اللهُ مَاتَقَدَّمَ مِن ذَنبِكَ وَمَاتَأَخَّرَ

“Sesungguhnya Kami telah memberikan kepada kamu kemenangan yang nyata, supaya Allah memberi ampunan kepadamu terhadap dosa yang telah lalu dan yang akan datang.” [Al-Fath:1-2]

Apakah mungkin setelah dosa seseorang diampuni semuanya oleh Allah ta’ala lalu kemudian ia belum dijamin masuk surga?!

Dan terdapat beberapa hadits yang semakna dengan hadits Ummul ‘Alaa’ Al-Anshoriyah di atas, diantaranya adalah yang disebutkan oleh Al-Imam Al-Bukhari rahimahullah dalam Shahih beliau pada bab, Tidak Boleh Mengatakan Fulan Syahid:

قَالَ أَبُو هُرَيْرَةَ ، عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم اللَّهُ أَعْلَمُ بِمَنْ يُجَاهِدُ فِي سَبِيلِهِ اللَّهُ أَعْلَمُ بِمَنْ يُكْلَمُ فِي سَبِيلِه

“Abu Hurairah berkata, dari Nabi shallallahu’alaihi wa sallam: Allah yang lebih mengetahui siapa yang berjihad di jalan-Nya, Allah yang lebih tahu siapa yang terluka di jalan-Nya.” [HR. Al-Bukhari]

Hadits di atas menunjukkan bahwa tidak boleh memastikan seseorang itu mati syahid walau ia meninggal di medan jihad, karena kita tidak mengetahui keadaannya yang sesungguhnya di sisi Allah. Maka demikian pula, lebih tidak boleh lagi memastikan seseorang masuk surga walau kita melihat amalannya baik, karena belum tentu diterima di sisi Allah, sebab kita tidak tahu niat orang tersebut ketika beramal.

Namun larangan memastikan seseorang mati syahid dan masuk surga ini hanya berlaku bagi mereka yang belum dipastikan syahid atau masuk surga, adapun yang sudah dipastikan dan sudah dijamin masuk surga maka wajib bagi kita untuk meyakini bahwa ia pasti dan terjamin masuk surga.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata,

وَيَشْهَدُونَ بِالْجَنَّةِ لِمَنْ شَهِدَ لَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالْجَنَّةِ كَالْعَشَرَةِ وَكَثَابِتِ بْنِ قَيْسِ بْنِ شَمَّاسٍ وَغَيْرِهِمْ مِنْ الصَّحَابَةِ

“Dan mereka (Ahlus Sunnah wal Jama’ah) mempersaksikan (memastikan) akan masuk surga, orang orang yang dipersaksikan oleh Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam akan masuk surga, seperti 10 sahabat, Tsabit bin Qois bin Syammas, dan selain mereka dari kalangan para sahabat.” [Matan Al-Aqidah Al-Washitiyah]

Hal itu karena wajib membenarkan apa yang dikabarkan oleh Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam, sebagaimana dalam hadits Sa’id bin Zaid radhiyallahu’anhu, beliau berkata: Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,

عَشْرَةٌ فِى الْجَنَّةِ النَّبِىُّ فِى الْجَنَّةِ وَأَبُو بَكْرٍ فِى الْجَنَّةِ وَعُمَرُ فِى الْجَنَّةِ وَعُثْمَانُ فِى الْجَنَّةِ وَعَلِىٌّ فِى الْجَنَّةِ وَطَلْحَةُ فِى الْجَنَّةِ وَالزُّبَيْرُ بْنُ الْعَوَّامِ فِى الْجَنَّةِ وَسَعْدُ بْنُ مَالِكٍ فِى الْجَنَّةِ وَعَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ عَوْفٍ فِى الْجَنَّةِ ». وَلَوْ شِئْتَ لَسَمَّيْتُ الْعَاشِرَ. قَالَ فَقَالُوا مَنْ هُوَ فَسَكَتَ قَالَ فَقَالُوا مَنْ هُوَ فَقَالَ هُوَ سَعِيدُ بْنُ زَيْدٍ.

“Sepuluh orang di surga, Nabi (Muhammad) di surga, Abu Bakar di surga, Umar di surga, Utsman di surga, Ali di surga, Thalhah di surga, Az-Zubair bin Al-‘Awwam di surga, Sa’ad bin Malik di surga, Abdur Rahman bin ‘Auf di surga.” (Sa’id bin Zaid) berkata, “Kalau engkau mau aku akan sebutkan yang kesepuluh.” Mereka berkata, “Siapakah dia?” Maka beliau diam. Mereka berkata lagi, “Siapakah dia?” Beliau berkata, “Dia adalah Sa’id bin Zaid.” [HR. Abu Daud dan At-Tirmidzi dan ini adalah lafaz Abu Daud, Lihat Ash-Shahihah: 1435]

Dalam lafaz At-Tirmidzi:

وَأَبُو عُبَيْدَةَ وَسَعْدُ بْنُ أَبِى وَقَّاصٍ

“… Abu Ubaidah (di surga) dan Sa’ad bin Abi Waqqash di surga.” [HR. At-Tirmidzi dari Sa’id bin Zaidradhiyallahu’anhu, Shahih At-Tirmidzi: 2947]

Perhatian: Dalam lafaz Abu Daud di atas sangat jelas disebutkan, “Nabi (Muhammad) di surga.” Semoga kita termasuk orang-orang yang membenarkan sabda Nabi Muhammad shallallahu’alaihi wa sallam dan tidak mendustakannya.

Adapun tentang sahabat yang mulia Tsabin bin Qois bin Syammas, Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam telah bersabda tentang beliau,

بَلْ هُوَ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ

“Bahkan ia termasuk penghuni surga.” [HR. Al-Bukhari dan Muslim, dan inimlafaz Muslim dari Anas bin Malik radhiyallahu’anhu]

Jadi, pendalilan Prof. Quraish Shihab dengan hadits yang disebutkannya untuk menafikan jaminan surga bagi Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam adalah tidak tepat, karena terdapat banyak sekali dalil yang menunjukkan bahwa Nabi Muhammad dan sahabat telah dijamin masuk surga.

Dan telah dimaklumi bahwa untuk mengambil satu kesimpulan dari dalil hendaklah mengumpulkan terlebih dahulu seluruh dalil yang terkait, bukan mengambil sebagian dalil dan membuang yang lainnya. Oleh karena itu dalam ilmu tafsir juga dikenal adanya nash-nash yang umum dan khusus, yang muthlaq danmuqoyyad, yang naasikh dan mansukh.

Melek politik itu PENTING…. ^_^

sumber: FB page syariah dan khilafah padang sidempuan

Ada yang berkomentar pada unjuk rasa HTI di seluruh Nusantara yang mendesak agar pemerintah RI mengirimkan militer membebaskan Palestina. Bunyinya kira-kira begini :

“Kalian (selalu dengan ucapan sarkas) itu percuma meminta pemerintah untuk mengirim pasukan ke Palestina. Apa kalian pikir, pemerintah mau mendengarkan kalian. Percuma saja teriak-teriak.”

Hmmm….
Inilah beda orang yang buta politik dengan yang melek politik. yang buta politik itu hanya akan menilai sesuatu secara sempit dan apa yang sanggup terpikirkan oleh akal yang buta politik. Maka tidak heran mereka yang buta politik ini akan tetap mengelu-elukan Obama berkali-kali datang ke Indonesia, karena mereka melihat kedatangan Obama ini dari kesempitan wawasan politik mereka. Dia tamu, harus kita hormati, kata mereka. Benar-benar buta politik. Padahal Obama itu punya segudang agenda yang harus disukseskannya dengan kunjungan ke Indonesia. Namun mereka yang buta politik ini akan gagal untuk mengetahui bahkan hanya untuk mencium agenda-agenda tersebut.

Hizbut tahrir adalah organisasi politik. Maka segala aktifitas Hizbut Tahrir sarat dengan muatan politik. Maka sangat aneh jika mengira bahwa Hizbut Tahrir tidak tahu/tidak paham bahwa tidak mungkin penguasa sekuler ini mau mengirim pasukan ke Palestina. Kamilah yang paling paham, karena kami sudah tahu benar bahwa mereka ini adalah orang-orang yang menduduki kekuasaan dengan restu Barat. Restu Barat itu hanya didapat melalui satu komitmen yang menguntungkan Barat. Komitmennya, jika membuat kebijakan, kebijakan itu harus terlebih dahulu di diskusikan dan tidak boleh bertentangan dengan keinginan Barat. Jadi tidak mungkin penguasa begini mau mengirim militernya jika tidak ada lampu hijau dari Barat (PBB).

Terus untuk apa teriak-teriak ?
Nah, disinilah aspek politik itu bermain. Ketika kita mengadakan aksi, dalam hal ini, aksi solidaritas palestina, kita bukan kecam sembarang kecam, tapi memperdengarkan kepada khalayak apa penyebab ini semua terjadi dan apa solusi yang kita tawarkan, yaitu Jihad dan Khilafah. Solusi yang kita perdengarkan ini akan sampai kepada masyarakat, dan tersimpan di benak masyarakat, terlepas mereka setuju atau tidak. Itu poin pertama, mereka sudah mendengar adanya sebuah solusi.

Kemudian, dengan tetap diamnya penguasa sekuler-nasionalis ini, sama sekali tidak merugikan Hizbut tahrir. Ini justru menguntungkan Hizbut Tahrir, karena dengan diamnya pemerintah, masyarakat akan menilai dan bertanya-tanya kenapa pemerintah tidak peduli atas penderitaan saudara muslim mereka di Gaza/Palestina ? Disaat inilah, ketika masyarakat mencari-cari sebab dan solusinya, maklumat yang sudah ada/ maklumat tsabiqah yang sudah ada di benak mereka, yaitu sebab dan solusi yang disampaikan oleh Hizbut Tahrir akan terpikirkan.

Selanjutnya, anda sendiri yang membayangkan apa yang bakal terjadi ……..

Yuk ngaji agar melek politik … jangan selamanya jadi orang-orang naif/lugu yang akhirnya tidak paham siapa kawan, siapa lawan.

10509516_750697391655351_5254759403789901295_n

Tanya Jawab “Pentingkah mengadakah sebuah Konferensi Islam demi cita-cita tegaknya KHILAFAH?”

disadur dari akun facebook seorang teman….

A: “Apakah melalui acara KIP (KONFRENSI ISLAM & PERADABAN), khilafah bakalan bisa tegak kembali?”

B: “Ndak bisa”

A: “lalu, mengapa acara tersebut diselenggarakan?”

B: “KIP hanya uslub/ wasilah untuk pembentukan opini umum terkait tentang SYARIAH & KHILAFAH”

A: “emang opini itu penting?”

B: “penting karna opini dapat membentuk persepsi, persepsi dapat membentuk sikap.”

A: “Apakah melalui KONFRENSI, MUKTAMAR, JICMI, dan lain sebagainya bisa membentuk opini KHLAFAH menyebar?”

B: “tentu saja bisa, apakah acara-acara yang kami lalukan berhasil atau tidak, kita bisa melihat hari demi hari pejuang SYARIAH & KHILAFAH semakin bertambah, mulai dari bertambahnya jumlah pejuangnya ( 10 tahun pertama pejuangnya hanya 17 orang) sekarang sudah mencapai ribuan orang se-Indonesia, buktinya saya dan para pejuang yang lainnya, saya adalah hasil opini acara, bisa jadi anda juga hasil dari pembentukan opini dan akan tercerahkan hingga akhirnya anda bergabung dalam barisan pejuang ISLAM berkat acara-acara yang diselenggarakan, bertambahnya jumlah wilayah dulu awal-awal opini KHILAFAH di Indonesia hanya ada di bogor & jakarta, sekarang wiayah pejuangnya sudah mencapai seluruh wilayah Indonesia, sedangkan ditingkat internasional yang dimulai dari MASJIDIIL AQSO di Palestina sekarang opini KHILAFAH mendunia, selain itu kemampuan semakin membesar pejuangnya dari mulai lulusan S1, S2,S3, SD pun ada, dari kalangan ekonomi bawah, menengah sampai atas pun ada….dari para pejuang yang menggunakan mobil hingga sepeda bahkan jalan kaki pun ada karna ISLAM untuk seluruh umat.Yang pasti melalui berbagai uslub ini dan konsisten menggunakan tiga metode dakwahnya Rasulullah Muhammad maka dakwah ini semakin menyebar.”

Perjuangan Rasulullah sebelum terbentuknya daulah islam di Jazirah Arab

Copas Dari Saudara M Falah Rumaria.

Kalau berdakwah hanya sebatas persoalan akhlaq dan ibadah mahdhah (ritual), spt menjaga shalat, rajin puasa, mensucikan hati, menebar salam, menjauhi riya’, murah senyum, dsb, tentu sedikit–jika tdk bisa dikatakan tdk ada–yg akan menentang dakwah tsb.

Cobalah tengok pada pribadi rasulullah saw, beliau itu kurang apa?

Beliau berasal dari keluarga terpandang (klan beliau Bani Hasyim adl klan yg dipercayakan utk memegang kunci ka’bah), akhlak beliau nomor satu, tutur katanya sempurna, sopan santun pasti, orang2 tidak ada yg menyangsikan kejujuran dan keamanahan beliau sampai2 beliau diberi gelar al-amin (yg dpt dipercaya).

Tetapi pertanyaannya, mengapa muhammad yg dikenal masyarakat mekah pada saat itu sbg orang yg paling baik, org yg paling sempurna, namun ketika beliau menyampaikan Islam, kok malah ditentang habis-habisan?

Hal ini tentu karena dakwah yg disampaikan muhammad itu bukan semata persoalan akhlak & ritual. Artinya jikalau hanya persoalan akhlak & ritual yg disampaikan beliau, siapa masyarakat yg mau menentang? Sementara muhammad itu orang yg baik, tutur katanya sempurna, orang yg paling halus budi pekertinya dan paling disegani?

 

Kalau demikian, lalu apa yg menyebabkan beliau mendapatkan penentangan seperti itu?

 

Jawabannya adl karena dakwah yg disampaikan muhammad adl dakwah yg ‘menabrak kekuasaan’, ‘menabrak kedaulatan’, ‘menabrak tatanan hidup’, ‘menabrak pola pikir’. Dakwah semacam inilah yg mengakibatkan para petinggi Quraisy yg bahkan paman2 beliau sendiri melancarkan segenap tipu daya dan makar serta memobilisasi masyarakat utk menghentikan dakwah beliau, bahkan sampai ingin membunuh beliau.

 

Mengapa bisa begitu?

 

Ya, karena mereka tahu, bahwa jika mereka bersyahadat (menerima apa yg disampaikan Muhammad dan mengakui Muhammad sbg rasul), di sisi lain mereka juga harus menyerahkan sepenuhnya kekuasaan mereka kepada Muhammad, menyerahkan sepenuhnya kedaulatan mereka kepada Allah Sang pembuat hukum, serta tatanan hidup mereka dan pola pikir mereka disandarkan hanya pada Islam. Yakni tatanan hidup diatur berdasarkan wahyu (Al-Qur’an dan As-Sunnah), dan pola pikir Islam dijadikan asas dlm menilai segala sesuatu (halal/haram sbg tolok ukur). Ini konsekuensi yg sangat berat guys 

 

Allah berfirman :

“Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakikatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu (Muhammad) sebagai hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian MEREKA TIDAK MERASA DALAM HATI MEREKA SESUATU KEBERATAN TERHADAP PUTUSAN YANG KAMU BERIKAN, DAN MEREKA MENERIMA SEPENUHNYA.” (QS. An-Nisa: 65)

Jadi, seharusnya para ulama menyampaikan Islam sbg sebuah diin yg utuh, yg dapat memecahkan segala urusan kehidupan secara menyeluruh sesuai dengan fitrah manusia.

Ketika kemiskinan merajalela, para ulama’ seharusnya tidak hanya mengajarkan utk semata bersabar dan memperbanyak shadaqah saja, tapi juga harus dijelaskan akar persoalannya yaitu diterapkannya sistem ekonomi sekuler-kapitalistik yg menyerahkan keadilan ekonomi kepada pasar bebas. Kemudian memberikan solusinya yaitu pergantian sistem ekonomi kapitalisme dengan sistem ekonomi Islam.

Ketika zina sudah semakin biasa, seharusnya para ulama’ tidak hanya mengajarkan utk berpuasa dan menahan diri dari hawa nafsu , tapi juga harus dijelaskan akar persoalannya mulai dari tatanan kehidupan yg semakin bebas, tidak adanya peraturan yg mewajibkan wanita utk menutup aurat dlm kehidupan umum, dimana-mana terjadi eksploitasi besar2an atas tubuh wanita (tempat kerja, film, produk2 bisnis), beredarnya video porno, sanksi yg tidak memberikan efek jera bagi pelaku zina, dll.

Oleh karena itu umat membutuhkan ulama’ yg dengan gagah berani menyampaikan al-haq, yakni Islam, dengan sempurna, sehingga ulama’ akan mendorong kebangkitan berpikir umat dan menggerakkan umat menuju ke arah perubahan yg hakiki, yaitu diterapkannya solusi atas akar2 permasalahan tadi, mulai dari sistem ekonomi islam, sistem sosial kemasyarakatan Islam, sistem pendidikan Islam, sistem persanksian Islam, dsb, yg sistem2 ini tidak akan bisa terlaksana tanpa diterapkannya sistem pemerintahan warisan Rasulullah, yakni al-Khilafah ar-Rasyidah ‘ala manhaj an-Nubuwwah, bukan sistem pemerintahan sekuler-demokrasi.

 

Wallahu a’lam bish shawab.

‘Jokowi Effect’ – menuntun pada kemenangan islam? atau menarik ke dalam jurang? Think again!

‘Jokowi effect’ ramai dibicarakan. Tak lama setelah PDIP secara resmi mencalonkan jokowi sebagai capres dikabarkan rupiah menguat. media massa yang memang selama ini dikenal pro jokowi pun memunculkan opini kuat, “jokowi adalah pilihan presiden terbaik” dengan berbagai argumentasi. Tak ketinggalan media massa luar negeri, menyambut hangat Jokowi.

Memang kemunculan Jokowi–lepas dari berbagai tudingan konspirasi dibaliknya–bagi sebagian orang menimbulkan harapan. sosok yang kelihatan sederhana, berwajah ‘lugu’ dan dicitrakan merakyat diharapkan bisa membawa perubahan untuk indonesia yang karut marut. Wajar saja, hal ini muncul sebagai reaksi kemuakan terhadap politisi-politisi stok lama yang sarat masalah. Persoalannya, bisakah mengandalkan sosok individual jokowi?

untuk itu, menjawab apa sebenarnya persoalan Indonesia sehingga karut marut seperti sekarang menjadi penting. Kalau kita memperhatikan secara mendalam, persoalan Indonesia sesungguhnya adalah persoalan sistem. Memang ada masalah individual, tetapi yang paling berpengaruh dan menonjol adalah sistem.

beberapa indikasinya antara lain, Indonesia bermasalah dalam hampir semua aspek, multidimensional. pendidikan, sosial, ekonomi, politik, hukum, keamanan, transportasi, hampir semuanya bermasalah.

indikasi lain, banyak persoalan muncul bukan berkaitan masalah implementasi kebijakan, justru lahir dari undang-undang yang mengatur kebijakan itu. Perampokan kekayaan alam Indonesia oleh perusahaan-perusahaan asing dilegitimasi berbagai UU yang pro kapitalis, seperti UU migas, UU penanaman modal, UU kelistrikan. sebagai contoh, keinginan untuk menjadikan pertamina sebagai BUMN kuat dan alat pemerintah dalam pengelolaan BBM justru terhalang UU migas No. 22 tahun 2001. UU ini membatasi kewenangan pertamina sebagai pemain utama (single player) di sektor ini. UU ini juga memberikan hak/kewenangan kepada perusahaan minyak lain, baik domestik atau asing. Tidak mengherankan kalau sektor migas kita sebagian besar dikuasai oleh perusahaan asing.

persoalan Indonesia bukan sekedar persoalan individual, tetapi sistemik juga bisa kita lihat dalam korupsi. Hampir semua aspek di Indonesia tidak lepas dari korupsi, baik swasta atau negara. tiga institusi pilar negara demokrasi (legislatif, eksekutif, yudikatif) pun tidak lepas dari kasus korupsi. DPR dan kepolisian kerap mendapat gelar lembaga terkorup. Bahkan DPR sudah 4 tahun berturut-turut, menurut KPK, menduduki posisi nomor wahid dalam kasus korupsi. Menurut petinggi KPK Busyro muqaddas, hampir semua sistem DPR rawan korupsi, baik fungsi legislasi, anggaran maupun pengawasan. menurut staf mendagri sejak pemilu pilkada 2004, sudah ada 3000 anggota DPRD yang terjerat kasus hukum, lebih dari 80% adalah kasus korupsi. Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) yang salah satu tugas pentingnya menilai UU, juga terjerat korupsi.

mengingat persoalan Indonesia adalah persoalan sistem, ‘jokowi effect’ yang tidak menyentuh perubahan sistem dipastikan 100% tidak akan membawa perubahan yang mendasar. jokowi pasti akan gagal. pasalnya, pangkal persoalan indonesia dan negeri-negeri islam lainnya adalah penerapan sistem kapitalisme yang berasas sekularisme berikut pemikiran pokoknya seperti demokrasi, pluralisme, dan liberalisme.

dari berbagai transisi politik di Indonesia, pada mulanya para pemimpin tiap orde itu pun banjir pujian. namun tidak lama berlangsung, mereka juga gagal. sebabanya, yang terjadi hanya berganti rezim/orang, bukan sistem. kegagalan mereka diperparah dengan ketundukan mereka kepada barat. sikap pemimpin seperti inilah yang melestarikan penjajahan kapitalisme.

perlu kita catat, yang diinginkan barat dari pemimpin Indonesia ke depan adalah tetap tunduk kepada mereka. Tentu mereka akan memuji calon pemimpin yang siap melestarikan sistem penjajahan mereka. tidak mengherenkan kalau petinggi Bank Dunia sudah mewanti-wanti kepada presiden baru ke depan untuk menaikkan harga BBM atau mengurangi subsidi. ini sesungguhnya pesan arogansi dari barat, bahwa siapapun pemimpin Indonesia harus tunduk kepada mereka.

Di sinilah letak penting peran partai-partai Islam. Seharusnya mereka menyerukan perubahan sistem dengan tawaran ideologi yang jelas. Tentu ideologi yang harus berseberangan dengan kapitalisme, tidak ada lain kecuali islam: bukan malah menyerukan demokrasi dan liberalisme, apalagi menikmatinya, apalagi kemudian menjilat barat untuk mendapatkan keridhaannya.

Partai Islam harus menyerukan pergantian sistem kapitalisme sekuler menjadi islam; mengganti negara sekuler yang menerapkan kapitalisme menjadi negara khilafah yang menerapkan syariah islam secara kaffah. seruan ini harus jelas, gamblang dan terbuka agar umat bisa paham sehingga mendukung dan memperjuangkannya.

tugas penting ini diperintahkan Allah SWT (QS Ali Imran [3]: 104) yang menjadi dasar dari kewajiban keberadaan gerakan kelompok, atau partai politik yang berdasarkan islam. kelompok atau partai politik ini wajib menyerukan al khair (ISLAM) serta melakukan amar makruf nahi mungkar. Imam ath-thabari dalam tafsirnya Jami’ an-Bayan fi Ta’wil al-Qur’an menjelaskan pengertian yad’una ila al-khair adalah yad’una ila al-islam wa syarai’ihi allati syara’a Allahu li ‘ibadihi (menyerukan islam dan syariah-Nya yang disyariatkan Allah swt kepada hambanNya).

tugas ini memang berat dan bisa jadi belum diterima sepenuhnya oleh rakyat. namun in sha Allah, dengan perjuangan yang tidak kenal lelah, rakyat akan makin paham dan mendukung, bahwa syariah islam wajib diterapkan secara kaffah di tengah-tengah kehidupan mereka dalam institusi pemerintahan Islam yang bernama khilafah.

Apalagi mereka melihat di depan mata, bagaimana fakta kerusakan akibat sistem kapitalisme. Rakyat juga merasakan langsung penderitaan itu. in sha Allah dengan sikap istiqomah berpegang teguh pada islam, bekerja keras berdasarkan manhaj Rasulullah saw. dan berharap pada pertolongan Allah SWT. kemenangan itu akan semakin dekat. bukankah Allah yang memiliki kekuasaan dan Allah pula yang menggilirkan kekuasaan kepada siapa yang dia kehendaki?

sumber: Tabloit Al Waie edisi April 2014