Bersyukur?

jika melihat kejadian-kejadian mengerikan yang terjadi pada umat muslim di seluruh dunia akhir-akhir ini, terutama yang paling baru yakni merebak kembalinya islamophobia di Eropa akibat makar di Charlie Hebdo, beberapa umat muslim di Indonesia pasti akan berujar “untung saya hidup di Indonesia, hidup aman damai, tenteram”.

perlu dipertanyakan kembali maksud kalimat tersebut

apakah dia bersyukur karena Allah masih mengizinkan dirinya hidup aman damai santai kayak di pantai dan tidak perlu hidup dalam kesulitan sebagai muslim minoritas di Eropa yang saat ini berada dalam bayang-bayang masyarakat Eropa yang mulai meningkatkan islamophobia?

apakah dia bersyukur hanya karena dia masih bisa makan enak sampai kekenyangan saat muslim di Rohingnya harus hidup dalam ketakutan, kelaparan dan penderitaan selama hampir 10 tahun karena usaha pembersihan etnis muslim oleh pemerintahnya sendiri?

atau dia bersyukur karena masih bisa tidur pulas sedangkan muslim di Gaza, suriah, iraq tak pernah lagi kenal tidur nyenyak akibat suara ledakan bom dan tembakan senapan?

apa ini yang ia syukuri?

lantas jika ia bersyukur, apakah dengan mudahnya ia tinggalkan agamanya, untuk hidup foya-foya dan mementingkan dunia?

apakah dengan mudahnya ia tepis kebenaran dan keabsahan ajaran Allah dalam Al Qur’an dan As sunnah, jika ia memang benar-benar orang yang bersyukur?

jika memang ia bersyukur atas segala nikmat dan keamanan yang diberikan Allah padanya, apakah ia masih tega untuk melalaikan semua perintah Allah?

jika memang dia begitu mensyukuri setiap nafas yang diberikan Allah, tanyakan padanya, “Lantas mengapa kau berani mencaci aturan Allah, mencaci syariat islam, mengatakan hukum Allah tidak atau belum pantas diterapkan di Indonesia atau di seluruh dunia saat ini, mencela orang-orang yang istiqomah memperjuangkan kebangkitan islam dengan membawa ide khilafah yang memang sudah jelas dijanjikan Allah dan RasulNya, dan yang paling parah, berani mengatakan bahwa Al Qur’an perlu direvisi dan semua itu kau lakukan atas dasar ‘kebebasan berbicara’?!”

coba tanyakan pada orang-orang itu, dan lihat bagaimana respon mereka. apakah mereka masih benar-benar berani menyucapkan “syukur” nya pada Allah…???

Testimoni Para Tokoh Intelektual dalam JICMI 2013

untuk para kaum intelektual, yg tua maupun muda, tidak ada kata terlambat untuk mengkaji ilmu islam. karena mengkaji ilmu agama hukumnya FARDU ‘AIN, sedangkan mempelajari ilmu dunia hanyalah fardu kifayah. jangan sampai di akhirat kelak kita menyesali mengapa waktu yg begitu banyak dalam hidup yang dikaruniakan Allah ini tidak kita gunakan semaksimal mungkin untuk mengkaji ilmu islam.

contoh lah tokoh2 dalam video ini, dari gelar yang tertempel di nama-nama mereka jelas mereka bukan orang sembarang. mereka habiskan waktu bertahun-tahun untuk mengejar ilmu dunia sampai mendapatkan gelar profesor dan gelar-gelar prestisius lainnya dari universitas dalam hingga luar negeri, namun pada akhirnya mereka sadar bahwa ilmu-ilmu dunia ini tak akan ada gunanya jika tidak dibarengi dengan ilmu agama.

buktikanlah pada orang2 yang selama ini merendahkan islam, memberikan cap buruk pada umat dan agama ini, menganggap islam itu teroris, mengatakan islam itu bodoh, miskin, dan mudah dipecah belah, bahwa kaum intelektual seperti kalian pun bisa memberikan andil dalam memperjuangkan islam, dalam memperjuangkan bangkitnya kembali umat dari keterpurukan, yakni dengan cara mengkaji ilmu islam dan berjuang bersama jama’ah yang senantiasa istiqomah memperjuangkan kebangkitan islam dan istiqomah memperjuangkan ditegakkannya kembali hukum-hukum ALLAH di muka bumi.

ambillah ibrah dari pengalaman dan testimoni yang mereka bagikan untuk kita melalui video ini. semoga bermanfaat, selamat menonton

#YukNgaji ^_^

 

Yang tak pernah disadari oleh pendukung capres nomor urut 1 atau 2…

yang tak pernah disadari oleh pendukung capres nomor urut 1 atau 2, bahwa mereka berdua tak akan memberi perubahan apa-apa pada kehidupan umat islam di Indonesia, apalagi di seluruh dunia. uang riba akan selalu berada di sekitar kita, dan sebagian besar masyarakat masih menganggap riba bukan sesuatu yang haram karena pemerintah tak pernah melarangnya, tak pernah mengharamkannya, dan membiarkannya tumbuh bebas dalam sistem perekonomian negara ini. Dalam tiap rupiah gaji yang kita terima, dalam tiap suap makanan yang kita makan, yakinkah semua itu tak pernah dihinggapi oleh debu-debu riba? mungkin tak heran jika iman kita masih sulit untuk tetap berada di atas, kita masih sulit untuk bisa istiqomah, karena kita tak bisa memastikan apakah semua makanan yang masuk ke dalam perut ini bersih dari hal yang HARAM…

yang tak pernah disadari oleh pendukung capres nomor urut 1 atau 2, bahwa mereka berdua tak pernah sekalipun menyebut-nyebut akan menerapkan syariat islam, akan menjunjung hukum2 Allah sang pencipta, dan masih memelihara bahkan membuat kembali hukum2 baru, hukum2 yang menyaingi hukum buatan Allah, menyaingi hukum buatan sang pembuat manusia. Siapalah kita ini, berani menyaingi Allah dalam membuat hukum. siapalah kita ini, berani memberikan toleransi kebablasan pada kemaksiatan, berani melegalkan penjualan minuman keras, berani melegalkan perzinahan, bahkan berani membuat aturan untuk melarang wanita muslimah yang ingin berhijab. Tidak ingatkah dari mana kita berasal? dari setetes air yang kotor, na’jis dan hina. tak ada hak untuk kita yang lemah ini berani menandingi hukum2 Allah sang pemilik tubuh ini, pemilik seluruh jagad raya dan seisinya.

yang tak pernah disadari oleh pendukung capres nomor urut 1 atau 2, bahwa mereka berdua adalah penganut paham sekulerisme. paham yang memisahkan agama dari kehidupan, agama hanya berlaku di masjid dan di rumah, tidak untuk diterapkan dalam pergaulan, dalam perekonomian, dalan dunia pekerjaan, apalagi dalam pemerintahan. Paham yang sangat mengagungkan kebebasan seperti kebebasan mengeluarkan pendapat, kebebasan berprilaku, kebebasan kepemilikan. Kebebasan-kebebasan inilah yang membuat tatanan kehidupan ummat islam menjadi hancur. SIapa saja akan merasa bebas bersuara, mengatakan apapun, bahkan menghina Allah dan Rasulullah. Siapa saja bebas bergaul seluas mungkin, tak memperhatikan kaidah pergaulan antar ikhwan dan akhwat, bercampur baur antara yang bukan muhrim menjadi hal yang sangat lazim, pacaran sudah jadi budaya yang susah sekali dihilangkan, seks bebas? jangan tanya! sudah banyak bukti hasil survei yang menunjukkan angka kejadian seks bebas di kalangan remaja semakin meningkat. kebebasan kepemilikan mengakibatkan semua sumber daya alam bangsa bebas di raup oleh pihak swasta dan asing, dan yang tersisa untuk rakyat hanyalah debunya saja.

yang tak pernah disadari oleh pendukung capres nomor urut 1 atau 2, bahwa mereka berdua akan tetap mengusung sistem perekonomian kapitalis. Sistem yang hanya akan menguntungkan para pemilik modal besar. sehingga tidak heran jika pemerintahan ini dikendalikan pula oleh para pemilik modal tersebut. kebijakan pemerintah ‘dijinakkan’ agar keberadaan perusahaan-perusahaan besar ini tidak mudah digoyahkan. ada simbiosis mutualisme antara para pengusaha besar dengan pemerintah, simbiosis yang tak pernah sekalipun menguntungkan pihak lain selain mereka (baca: rakyat kecil). yang miskin akan tetap miskin. mati pun tak akan dipedulikan. Kapitalisme, adalah paham yang sangat mengagung-agungkan UANG. jadi jangan heran jika korupsi bisa jadi sangat mengakar begini di dalam pemerintahan kita. jangan pernah heran! karena demi uang dan kekuasaan, apapun akan dilakukan, bahkan memakan rakyat nya sendiri.

yang tak pernah disadari oleh pendukung capres nomor urut 1 atau 2, bahwa meskipun ada salah satu capres yang dengan lantang dan berapi-api mengatakan “Saya akan menjaga kedaulatan bangsa ini dari tangan-tangan asing yang ingin menguasai dan mengeruk kekayaan kita…!!!!” kita lihat saja, apakah nantinya setelah mereka terpilih mereka bisa serta merta meruntuhkan kerajaan perusahaan asing yang sudah bertahun-tahun bercokol di Indonesia, bertahun-tahun mengeruk kekayaan alam kita seperti newmont, freeport, petronas, dan lain-lain?! padahal dalam sistem islam, kepemilikan individu tidak boleh menguasai kepemilikan umum. sedangkan dalam sistem yang diusung para capres ini (sistem demokrasi) jangankan kepemilikan umum, pulau saja bisa dibeli oleh siapa saja yang berduit.

Mungkin para pendukung capres ini merasa bahwa indonesia telah merdeka SEPENUHNYA. padahal kenyataannya tidak demikian. Mungkin benar bahwa kita telah merdeka secara fisik, tidak dijajah seperti dulu, tidak dijadikan buruh, tidak disuruh untuk kerja rodi, tapi tidak kah kalian sadar bahwa kita masih dijajah melalui budaya, melalui nilai-nilai agama yang dibuat menyimpang, melalui undang-undang yang kufur terhadap Allah???!!!! justru penjajahan seperti ini yang jauh lebih berbahaya! penjajahan fisik lebih bisa membuat rakyat mendekat pada Allah, mengingat Allah, meminta bantuan kepada Allah. sedangkan penjajahan mental? karena masyarakat tidak merasakan penjajahan itu secara langsung, maka mereka membiarkan diri mereka terlena, memasrahkan diri mereka untuk dijajah, Terlena oleh aturan yang tak menganggungkan Islam, karena merasa diri sudah hidup nyaman, karena merasa “yang penting kita bisa ibadah tenang”. padahal di luar sana, ada masih banyak saudara kita sesama muslim yang tak bisa beribadah dengan tenang, yang setiap detik hidupnya diwarnai oleh suara ledakan bom, yang anggota keluarganya dibunuh dan dibantai di depan matanya. Padahal di luar sana, saudari kita yang ingin berhijab malah terbentur oleh aturan negara, dianggap teroris, bahkan dilecehkan secara seksual. Apakah masyarakat indonesia ini harus diberikan penjajahan fisik (lagi) baru mau menyadari bahwa kembali pada jalan Allah adalah jalan yang paling benar? tidak kah mereka menyadari bahwa AS telah mengepung Indonesia dengan mendirikan pangkalan militer di berbagai titik yang mengelilingi negara ini? akan sangat mudah untuk kita secara fisik dijajah lagi oleh mereka. tinggal lemparkan saja bom nuklir ke Indonesia, kacaulah negara ini. na’udzubillahimindzalik. semoga tidak seperti itu kejadiannya, semoga Allah masih memaafkan kita dan memberikan kita kesempatan untuk bertaubat… 😥

saya benar-benar tak habis pikir. bagaimana bisa mereka begitu menggebu-gebu mempromosikan capres yang tak pernah sedikit pun memikirkan nasib ummat islam? sedangkan kemaksiatan di sekitar mereka dibiarkan begitu saja? bagaimana bisa mereka marah dan berang ketika pancasila dihina, NKRI diganggu kedaulatannya, sedangkan ketika Rasulullah di caci, dibuat karikaturnya, dihina, dan Al Qur’an dijadikan tissue toilet mereka tidak bersuara? malah mengatakan “kita orang islam harus sabar, bukankah dulu Rasulullah sabar saja ketika dilempari kotoran oleh kafir quraisy?” Astaghfirullaaah….dimanakah kita letakkan hati nurani kita??? 😥

mari pikirkan kembali pilihan kita, 1 atau 2 itu sama saja. pilih saja Allah dan Rasulullah agar hati lebih tenang. saling mencerca dan menghina hanya karena fanatik pada salah satu capres tak akan menambah timbangan amal baik kita di hari penghisaban nanti, malah akan memberikan kehinaan pada kita dihadapan ALLAH. selagi masih ada umur, selagi masih ada sisa waktu, selagi Allah masih menganugerahkan kita kesempatan untuk menghirup napas dalam-dalam, renungkanlah kembali semuanya, semua yang terjadi dalam hidup ini, semua realita ummat saat ini. kembalilah pada jalan yang diridhoi Allah. kembalilah pada jalan yang dicontohkan Rasulullah. bergabunglah bersama mereka yang istiqomah menyuarakan penegakan syariat islam tanpa harus masuk ke dalam sistem pemerintahan yang kufur ini. semoga Allah membuka pintu-pintu hati kita yang masih tertutup rapat. semoga Allah selalu menunjukkan kita jalan yang Ia Ridhoi… 🙂

Umat Islam – DULU dan KINI

Dulu saat masyarakat eropa masih percaya takhayul, semua barang yg menjadi hasil science dianggap memiliki kekuatan magis, masyarakatnya berada dalam kebodohan hingga masa itu dikatakan sebagai masa kegelapan di eropa (dark age).

Sedangkan di jazirah arab di mana masa kekhilafahan masih berjaya dengan daerah kekuasaan yg membentang sangat luas dan sistem pemerintahan islam masih di gunakan, ilmu pengetahuan sangat berkembang pesat dan bermunculan berbagai cendekiawan dari berbagai bidang ilmu, seperti ibnu sina dalam bidang kedokteran, az zahrawi dalam bidang ilmu bedah, al khawarizmi sebagai ahli matematika, jabir ibn hayyan dlm bidang kimia, al idrisi pakar geografi, nashrudin ath thusi pakar astronomi, imam empat mazhab (hanafi, maliki, syafii, hanbali) dalam bidang ilmu islam. mereka muncul dan memberikan kemajuan bagi peradaban Islam hingga nama daulah/negara islam sangat dihormati, disegani, dan ditakuti pada masa itu. 

Mereka bisa muncul karena sistem pemerintahan yg digunakan adalah sistem pemerintahan islam, yg memberikan keluasan dan keleluasaan bagi siapapun untuk mengembangkan diri, menambah ilmu sebanyak-banyaknya, tanpa memikirkan biaya pendidikan, tanpa harus susah dengan uang gaji yang habis karena biaya kesehatan. Pendidikan dan kesehatan di gratiskan, semua sumber daya alam yang menunjang hajat hidup orang banyak di kelola langsung oleh negara, tidak boleh ada pihak swasta dan asing yang mengelola dan melakukan privatisasi untuk keuntungan pribadi. Dan hasil dari sumber daya alam digunakan sepenuhnya untuk kesejahteraan ummat. Perpustakaan dan laboratorium berdiri di setiap sudut kota, semua orang boleh dengan bebas mengasah kemampuannya dan berlatih menjadi penemu.

Coba lihat apa yg terjadi pada umat islam saat ini. Jika disebut nama islam di tengah2 bangsa barat, mereka akan mengatakan ”islam itu bodoh, miskin, kotor, terbelakang, mudah di profokasi, mudah dikendalikan, mudah di pecah belah, teroris,” tak ada lagi yang tersisa dari umat islam saat ini. Tak ada lagi nama besar islam yang kuat dan dihormati. Tak ada lagi kedigdayaan daulah islam.

Umat islam saat ini meski jumlahnya banyak namun seperti buih di lautan. Mereka fokus mempertahankan kesukuannya, kenegaraannya, tak peduli pada saudaranya di negara lain yg sedang menderita dan disiksa. Mereka banting tulang mencari nafkah untuk makan dan menyekolahkan anaknya, sedangkan biaya pendidikan semakin melambung tinggi. Yang bisa bebas sekolah di mana saja sampai jadi profesor hanya orang2 berduit. Baru punya uang sedikit namun akhirnya jatuh sakit, mereka harus lagi merogoh kocek dalam-dalam guna membayar biaya kesehatan yg semakin tinggi membumbung dan sudah di komersialisasi oleh beberapa pihak.

Di Indonesia, minyak bumi, emas, perak, tembaga, batu bara, hasil hutan, hasil laut, mau cari apa lagi? Semuanya ada! Tersedia dan gratis diberikan oleh Allah? Tapi apa yg terjadi? Perusahaan2 besar bernama freeport, petronas, newmont dan lain2 lah yg menguasai, dan itu DILEGALKAN oleh pemerintahnya sendiri karena tak bisa membiayai anak bangsa untuk mengelola sumber daya alam nya sendiri. 

beginilah nasib umat tanpa seorang khalifah yang melindungi dan mengayominya. Sudah begini keadaan umat di seluruh dunia, masih saja ada yang mengatakan khilafah tidak dibutuhkan. Masih saja ada yg tidak percaya bisyarah Rasulullah bahwa di akhir zaman akan muncul kembali khilafah rasyidah. Masih saja ada yang percaya pada sistem pemerintahan yg memang digunakan musuh2 Allah untuk memecah belah ummat agar mementingkan kesukuan dan kenegaraannya saja. Masih saja ada yang mengatakan islam tak pernah mengajarkan berpolitik dan islam tak perlu dikejar dan dibangkitkan dengan politik. Masih saja ada yang mengatakan ‘hanya’ perbaikan individu yg dibutuhkan utk memperbaiki kerusakan dan kebobrokan yang ada di seluruh dunia ini dan tidak butuh koar2 menegakkan khilafah dan syariat islam. Masih saja ada yang mengatakan orang2 yang memperjuangkan tegaknya khilafah, memperjuangkan janji Allah dan kabar gembira Rasulullah, sebagai perusak ukhuwah, perusak NKRI, aliran sesat…ya Rabbi, maafkan kami, dan tunjukkanlah kami jalan yang lurus dan engkau ridhoi…

Partai Islam berkoalisi dengan Partai Sekuler? Ya Rabbiii….apa lagi ini? T__T

kita mungkin sudah tahu mengenai pemberitaan yang ramai dibicarakan di media saat ini, tentang bagaimana partai-partai islam (baca: yang tidak menang pemilu) mulai mendekati dan menggoda partai-partai nasionalis dan sekuler untuk diajak berkoalisi. “speechless” cuma itu respon yang bisa saya berikan ketika menonton ini. Saya ingat betul bagaimana teman saya yang berasal dari salah satu partai islam itu marah-marah pada saya karena tahu saya golput dan tidak memilih partai islamnya dan menyebabkan orang kafir (yang dia anggap orang kafir itu partai PDI, ini dia yang ngomong ya bukan saya =P ) malah memenangkan pemilu. Sekarang? Malah saya dengar ada partai islam yang ingin berkoalisi dengan si partai pemenang pemilu itu. Malah partai yang teman saya bangga-bangga kan itu akan berkoalisi dengan partai juara ke 2 dalam pemilu kemarin. Saya ingat betul bagaiman MUI sampai mengeluarkan fatwa haram golput! Sampai ada yang bilang “kalau golput nanti orang kafir dan sekuler yang menang!” Nyatanya? Ya Allah….nggak tahu lagi harus bilang apa. lindungilah kami semua. T_T

Hanya sebagai tambahan saja ya, saya berikan kutipan status Bang Tere Liye ke dalam tulisan ini. Saya sertakan juga link page nya. Jangan lupa baca komentar follower di status tersebut dan lihatlah bagaimana respon masyarakat mengenai ‘tema’ ini…

*Entah apa yang ada di kepala mereka

Ada 4 partai Islam, digabungkan ke-4 suara mereka, maka total jenderal 30% di tangan. Lantas, dengan angka sebesar itu, kenapa mereka tidak percaya diri mencalonkan dari kelompoknya sendiri? Kenapa elit politik partai Islam susah sekali untuk bicara satu sama lain, menyatukan kekuatan? Ada apa dengan mereka ini? Takut kalah? Takut salah perhitungan? Ada apa sih?

Sungguh, kami memberikan satu suara kepada kalian, bukan sekadar bersemangat menyelamatkan parpol Islam yang konon kata survei bisa tamat tahun 2014, kami menitipkan satu suara kepada kalian, agar kalian mengaum bagai harimau di tengah gelanggang politik, bukan sebaliknya meng-embekkk semua ikut gerbong lebih besar.

Buat apa kalian mengirimkan begitu banyak selebaran tentang jangan pilih ini, itu, “haram” hukumnya, tapi sekarang, setelah pileg selesai, kalian malah genit sekali bergabung dengan yang kalian “haramkan” sendiri?

Bersatulah. Apa susahnya sih? Mumpung masih ada waktu. Sungguh jangan khianati suara2 yang menginginkan kalian berdiri dengan kepala tegak. 30% itu modal bagus sekali, bukan hanya bisa menggagalkan capres partai lain, bahkan bisa membuat partai lain yang justeru memohon bergabung, ikut peraturan, ikut gerbong. Kalaupun akhirnya kalah, oh dear, itu lebih terhormat. Kalah setelah menyatukan semua kekuatan. Politik itu bicara tentang kehormatan, bukan kesempatan.

Bersatulah. Selagi masih ada waktu. Atau besok lusa, kalian akan semakin kehilangan jati diri. Semakin tidak nyambung antara ucapan dan kelakuan. Semakin tidak mengerti keinginan mendasar orang2 yang memberikan suara.

Bersatulah. Skip semua perbedaan demi sesuatu yang lebih penting

Lambat laun, masyarakat akan semakin sadar. lambat laun, mereka akan semakin mengerti.

Kenyataan yang sekarang tergambar jelas dalam pemberitaan di televisi sudah bisa membuat masyarakat kembali berpikir “Benarkah mereka bisa memperjuangkan islam? Lantas jika memang benar cita-citanya begitu, kenapa bukannya bersatu tapi malah mengekor pada partai yang mengusung sekulerisme?” 


hhh….sesak rasanya jika menyalakan TV dan menyaksikan semua ini. padahal begitu banyak umat islam yang menumpukan harapan pada mereka. tapi mereka malah bersikap begini. Dan nanti orang-orang yang masih pro terhadap mereka pasti akan mengatakan “Mereka pasti punya alasan sendiri. Yang penting niatnya kan tetap ingin memenangkan islam!” ya sudahlah, bicara saja lah sesuka kalian. kami, rakyat negeri ini, sudah terlalu lelah dengan semua alasan-alasan klasik itu. 

Biarlah masyarakat yang menilai sendiri. kadang diam lebih baik ketimbang harus berbicara banyak tapi tak didengar. Hanya satu pesan terakhir kami, kembalilah pada islam. jika tak percaya pada kelompok tertentu (baca: Hizbut Tahrir) yang mengatakan diri ingin memperjuangkan islam karena menganggap organisasi atau kelompok ini hanya bisa omong doang, maka buatlah pergerakan sendiri di luar sana, buatlah pergerakan yang bisa menyadarkan masyarakat bahwa kembali pada islam lah jalan keluar yang terbaik. bukankah itu cita-cita kita bersama? bukankah itu yang kita harapakan?

ini bukan lagi masalah siapa yang salah dan siapa yang benar. ini masalah siapa yang berani dan mau sungguh-sungguh memperjuangkan bangkitnya agama ini. janganlah rusak ukhuwah dengan fitnah-fitnah tak berdasar. bukalah mata lebar-lebar. cermati semua fakta yang terjadi. dan mintalah petunjuk pada Allah lantas usahakanlah apa yang menjadi cita-cita kita bersama ini tanpa harus menunggu siapa-siapa lagi, tanpa harus menggantungkan harapan pada orang-orang yang membudak pada kekuasaan dan lupa akan niat awalnya.

sungguh, Allah akan menilai seberapa jauh usaha kita. maka jangan sia-sia kan waktu walau hanya sedetik. islam menantimu kawan, Allah menyaksikanmu… T_T

semoga bukan dunia yang menjadi prioritas kita…

semua orang di dunia ini punya berbagai macam hal yang harus dipikirkan dalam hidupnya. termasuk saya. otak saya harus terbagi jadi berbagai macam tema yang harus di pikirkan. tapi dari semua tema itu harus ada prioritas yang diutamakan. apa prioritas paling utama saya saat ini? Perbaikan diri, dan keadaan umat.

manusia pasti wajar memiliki hal lain yang harus dipikirkan seperti dambaan hati, atau seseorang yang spesial, masa lalu, atau apalah yang memiliki kaitan dengan perasaan. tapi untuk saat ini, ah sungguh, rasanya saya benar-benar harus meletakkan masalah perasaan-perasaan ini di urutan paling bawah. daripada memusingkan hal yang belum jelas, ada hal lain yang lebih urgent. saya tidak tahu sampai kapan Allah memberikan batas usia, dan saya tidak tahu, apakah nanti ketika ALLAH tiba-tiba mengambil ruh ini, saya sudah cukup punya tabungan amal ibadah untuk dijadikan bekal ke akhirat. saya juga tidak tahu, ketika nanti ajal menjemput, sudah maksimal kah usaha saya untuk mendakwahkan agama Allah ditengah-tengah masyarakat yang sekarang sudah carut marut ini? sudah sampaikah ke dalam hati mereka keyakinan untuk ikut serta menyongsong tegaknya kekhilafahan? semoga saja usaha saya selama ini diridhoi Allah, agar kelak ketika saya mati, saya tidak mati dalam keadaan jahiliyah karena tidak mengusahakan khilafah untuk tegak di bumi Allah.

para pembaca sekalian, apa prioritasmu dalam hidup? jika kita punya prioritas yang sama, mari kita usahakan dengan semaksimal mungkin. mari kita tetap saling mengingatkan dalam kebaikan. jika rasanya kadar keimanan sudah mulai turun, semoga Allah cepat menegur kita untuk segera kembali ke jalan yang benar. semoga dunia tidak menjadikan kita lalai dan lupa pada prioritas kita, dan lupa akan tujuan Allah menciptakan kita ke dunia… T__T