tumblr_okgnnfdogh1sl8g3to1_1280

Fitrah penciptaan wanita adalah sebagai ummu warobbatul bait, yakni sebagai ibu dan pengatur rumah tangga. Tapi untuk bisa dan mampu menjalani profesi mulia itu, wanita butuh persiapan yang juga benar2 matang

Karena kelak ibu lah yang akan menjadi madrasah pertama bagi anak-anaknya. Ia yang akan mendidik dan membentuk karakter sang anak. Apakah ayah tak berperan sama sekali? Tentu saja berperan. Tapi peran ibu jauuuuh lebih besar dan lebih berpengaruh

Jika ingin membentuk generasi yang cerdas maka sang ibu pun harus cerdas, jika ingin membentuk anak dengan wawasan luas, maka sang ibu pun harus punya wawasan yang jauh lebih luas, jika ingin memiliki anak yang lingustik nya berkembang dengan baik dan pintar dalam hal komunikasi, maka demikian pula sang ibu, harus sedari kecil mendidik anak nya menjadi komunikator handal. Jika sang ibu abai terhadap pendidikan anak dan menyerahkan sepenuhnya pada sekolah dan lingkungan, maka jangan heran jika bukti nyata nya kita lihat sendiri di masa saat ini. Anak2 semacam awkarin bermunculan dimana-mana. Bukan hanya di kota2 besar tapi juga sampai ke pelosok2 desa

Tidak mudah mendidik anak. Sangat tidak mudah. Dan bisa kita tanyakan pada ibu kita sendiri, bagaimana upaya beliau untuk membentuk kita hingga jadi seperti sekarang, dan apa saja yang dengan ikhlas harus dia lepaskan dan korbankan untuk membuat kita bisa merasakan kasih sayang sepenuhnya dari seorang ibu. ๐Ÿ™‚

Tidak ada yang salah dari mencintai, sungguh tak ada yang salah….

Tapi bagi wanita, jika harus dihadapkan pada suatu kondisi yang memaksanya untuk menentukan pilihan, alangkah lebih baiknya jika dia memilih untuk dicintai, bukan mencintai…

Orang-orang yang pernah merasakan sakitnya mencintai pasti akan mengerti nasehat lama ini…. ๐Ÿ™‚

– mindeulle

si melankolis yang suka menulis :D

sejujurnya, saya punya dua modal utama dalam diri saya yang biasanya saya jadikan pelampiasan bila ada masalah, yaitu menangis dan menulis. hahaha, kedengarannya lucu ya. mungkin memang benar, orang-orang yang melankolis, yang sering menangis, yang sering merasa sendiri dan kesepian, yang sering merenung, akan mudah sekali menjadi penulis dan menelurkan karya-karya yang baik. saya mungkin belum sampai tahapan ‘menelurkan karya yang baik’, masih jauh sekali malah, tapi memang terasa, kalau sedang sedih, bahkan kalau sedang menangis, otak saya begitu lancar mengeluarkan berbagai macam kosa kata yang sebelumnya tak pernah saya gunakan dalam pergaulan sehari-hari, kata-kata yang saya sendiri sampai heran “ini saya kok bisa nulis begini ya? gimana ceritanya?” ๐Ÿ˜€

menulis, bagi saya adalah suatu kenikmatan, cara saya untuk ‘bicara’ dan mengeluarkan seluruh isi hati. jujur, saya bukan orang yang fasih dalam berkata-kata jika di dunia nyata, saya lebih sering terbata-bata kalau disuruh untuk ngomong pakai bahasa formal. tapi kalau disuruh nulis, ngaliiiiiir semua, nggak bisa ditahen kadang, semua ide rasanya berlomba-lomba, berebutan pengen dijadikan yang terdepan. meski sudah saya coba untuk sering-sering mengasah kemampuan berbicara saya, tetap saja begitu-begitu terus hasilnya. ๐Ÿ˜€

jadi inilah saya, seorang wanita melankolis (caeddaah… ๐Ÿ˜€ ) yang punya hobi menulis, duduk dibalik layar komputer, dan menggerakkan jari-jari kesana kemari, menulis sebanyak mungkin yang saya bisa, menghasilkan sebanyak mungkin karya. saya hanya berharap, apa yang saya tulis dalam blog ini dapat memberikan banyak manfaat untuk siapapun yang membacanya. in syaa Allah… ๐Ÿ™‚

Dalil-dalil mengenai wajibnya menggunakan Hijab Syar’i

10151409_552913894822075_6727944814844364910_n

Syariah telah mewajibkan pakaian tertentu kepada perempuan ketika keluar dari rumahnya dan beraktivitas dalam kehidupan umum. Pakaian perempuan yang disyariatkan terdiri dari dua potong. Potongan pertama adalah bagian baju yang diulurkan dari atas sampai ke bawah menutupi kedua kaki. Bagian kedua adalah kerudung, atau yang menyerupai atau menduduki posisinya berupa pakaian yang menutupi seluruh kepala, leher dan bukaan pakaian di dada. Jika ia memiliki kedua pakaian ini, ia boleh keluar dari rumahnya ke pasar atau berjalan di jalan umum, yakni keluar ke kehidupan umum. Sebaliknya, jika ia tidak memiliki kedua pakaian ini, ia tidak sah untuk keluar, apapun keadaannya. Sebab, perintah dengan kedua pakaian ini datang bersifat umum dan ia tetap berlaku umum dalam semua kondisi; tidak ada dalil yang mengkhususkannya sama sekali.

Dalil atas kewajiban ini adalah firman Allah SWT tentang pakaian bagian atas:

ูˆูŽู„ุง ูŠูุจู’ุฏููŠู†ูŽ ุฒููŠู†ูŽุชูŽู‡ูู†ู‘ูŽ ุฅูู„ุง ู…ูŽุง ุธูŽู‡ูŽุฑูŽ ู…ูู†ู’ู‡ูŽุง ูˆูŽู„ู’ูŠูŽุถู’ุฑูุจู’ู†ูŽ ุจูุฎูู…ูุฑูู‡ูู†ู‘ูŽ ุนูŽู„ูŽู‰ ุฌููŠููˆุจูู‡ูู†ู‘ูŽ

Janganlah mereka menampakkan perhiasan-nya, kecuali yang (biasa) tampak pada dirinya. Hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya (QS an-Nur [24]: 31).

Juga firman Allah SWT tentang pakaian bagian bawah:

ูŠูŽุง ุฃูŽูŠู‘ูู‡ูŽุง ุงู„ู†ู‘ูŽุจููŠู‘ู ู‚ูู„ู’ ู„ุฃุฒู’ูˆูŽุงุฌููƒูŽ ูˆูŽุจูŽู†ูŽุงุชููƒูŽ ูˆูŽู†ูุณูŽุงุกู ุงู„ู’ู…ูุคู’ู…ูู†ููŠู†ูŽ ูŠูุฏู’ู†ููŠู†ูŽ ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ูู†ู‘ูŽ ู…ูู†ู’ ุฌูŽู„ุงุจููŠุจูู‡ูู†ู‘ูŽ

Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang Mukmin, โ€œHendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.โ€ (QS al-Ahzab [33]: 59)

Dalil lain adalah hadis penuturan Ummu โ€˜Athiyah yang berkata:

ุฃูŽู…ูŽุฑูŽู†ูŽุง ุฑูŽุณููˆู’ู„ู ุงู„ู„ู‡ู ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ุฃูŽู†ู’ ู†ูุฎู’ุฑูุฌูŽู‡ูู†ู‘ูŽ ูููŠู’ ุงู„ู’ููุทู’ุฑู ูˆูŽุงู„ู’ุฃูŽุถู’ุญูŽู‰ุŒ ุงูŽู„ู’ุนูŽูˆูŽุงุชูู‚ูŽ ูˆูŽุงู„ู’ุญููŠู‘ูŽุถูŽ ูˆูŽุฐูŽูˆูŽุงุชู ุงู„ู’ุฎูุฏููˆู’ุฑูุŒ ููŽุฃูŽู…ูŽุง ุงู„ู’ุญูŽูŠู‘ุถู ููŽูŠูŽุนู’ุชูŽุฒู„ู’ู†ูŽ ุงู„ุตู‘ูŽู„ุงูŽุฉูŽ ูˆูŽูŠูŽุดู’ู‡ูŽุฏู’ู†ูŽ ุงู„ู’ุฎูŽูŠู’ุฑูŽุŒ ูˆูŽุฏูŽุนู’ูˆูŽุฉูŽ ุงู„ู’ู…ูุณู’ู„ูู…ููŠู’ู†ูŽ. ู‚ูู„ู’ุชู ูŠูŽุง ุฑูŽุณููˆู’ู„ูŽ ุงู„ู„ู‡ู ุฅูุญู’ุฏูŽุงู†ูŽุง ู„ุงูŽ ูŠูŽูƒููˆู’ู†ู ู„ูŽู‡ูŽุง ุฌูู„ู’ุจูŽุงุจูŒุŒ ู‚ูŽุงู„ูŽ: ู„ูุชูู„ู’ุจูุณู’ู‡ูŽุง ุฃูุฎู’ุชูู‡ูŽุง ู…ูู†ู’ ุฌูู„ู’ุจูŽุงุจูู‡ูŽุง

Rasulullah saw. memerintahkan kami untuk mengeluarkan para perempuan pada Hari Idul Fitri dan Idul Adha; para perempuan yang punya halangan, perempuan yang sedang haid dan gadis-gadis yang dipingit. Adapun perempuan yang sedang haid, mereka memisahkan diri dari shalat dan menyaksikan kebaikan dan seruan kepada kaum Muslim. Aku berkata, โ€œYa Rasulullah, salah seorang dari kami tidak memiliki jilbab.โ€ Rasul saw menjawab, โ€œHendaknya saudaranya memin-jami dia jilbab.โ€ (HR Muslim)

Dalil-dalil ini jelas dalam dalalah-nya atas pakaian perempuan dalam kehidupan umum. Jadi, dalam dua ayat ini, Allah SWT telah mendeskripsikan pakaian yang Allah wajibkan atas perempuan agar ia kenakan dalam kehidupan umum dengan deskripsi yang dalam, sempurna dan menyeluruh. Allah SWT juga berfirman terkait pakaian perempuan bagian bawah (yang artinya):

Allah SWT pun berfirman tentang tatacara umum yang berlaku atas pakaian ini (yang artinya): Janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) tampak pada dirinya (TQS an-Nur [24]: 31). Maknanya, hendaknya mereka tidak menampakkan anggota-anggota tubuh yang merupakan tempat perhiasan seperti kedua telinga, kedua lengan bawah, kedua betis dan selain itu kecuali apa yang bisa tampak dalam kehidupan umum ketika ayat ini turun, yakni pada masa Rasul saw., yaitu wajah dan kedua telapak tangan.

Dalam hal ini, diriwayatkan dari Ibn Umar bahwa Rasul saw. pernah bersabda:

ู…ูŽู†ู’ ุฌูŽุฑู‘ูŽ ุซูŽูˆู’ุจูŽู‡ู ุฎููŠูŽู„ุงูŽุกูŽ ู„ูŽู…ู’ ูŠูŽู†ู’ุธูุฑู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุฅูู„ูŽูŠู’ู‡ู ูŠูŽูˆู’ู…ูŽ ุงู„ู’ู‚ููŠูŽุงู…ูŽุฉู ููŽู‚ูŽุงู„ูŽุชู’ ุฃูู…ู‘ู ุณูŽู„ูŽู…ูŽุฉูŽ ููŽูƒูŽูŠู’ููŽ ูŠูŽุตู’ู†ูŽุนู’ู†ูŽ ุงู„ู†ู‘ูุณูŽุงุกู ุจูุฐููŠููˆู„ูู‡ูู†ู‘ูŽ ู‚ูŽุงู„ูŽ ูŠูุฑู’ุฎููŠู†ูŽ ุดูุจู’ุฑู‹ุง ููŽู‚ูŽุงู„ูŽุชู’ ุฅูุฐู‹ุง ุชูŽู†ู’ูƒูŽุดููู ุฃูŽู‚ู’ุฏูŽุงู…ูู‡ูู†ู‘ูŽ ู‚ูŽุงู„ูŽ ููŽูŠูุฑู’ุฎููŠู†ูŽู‡ู ุฐูุฑูŽุงุนู‹ุง ู„ุงูŽ ูŠูŽุฒูุฏู’ู†ูŽ ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู

โ€œSiapa yang menjulurkan pakaiannya karena sombong, Allah tidak memandang dirinya pada Hari Kiamat.โ€ Lalu Ummu Salamah berkata, โ€œLalu bagaimana perempuan memperlakukan ujung pakaiannya.โ€ Rasul menjawab, โ€œHendaknya mereka menjulurkan-nya sejengkal.โ€ Ummu Salamah berkata, โ€œKalau begitu tersingkap kedua kaki mereka.โ€ Rasulullah pun menjawab, โ€œHendaknya mereka menjulurkannya sehasta, jangan mereka lebihkan atasnya.โ€ (HR at-Tirmidzi; ia menyatakan hadis ini hasan-shahih).

Hadis ini gamblang menjelaskan bahwa jilbab yang dikenakan di atas pakaian itu wajib dijulurkan ke bawah sampai menutupi kedua kaki. Jika kedua kaki ditutupi dengan sepatu atau kaos kaki, itu belum cukup (jika jilbabnya tidak menjulur ke bawah, red.). Jilbab tetap harus menjulur ke bawah hingga kedua kaki dalam bentuk yang menunjukkan adanya irkhaโ€™ (dijulurkan) sehingga diketahui bahwa itu adalah pakaian kehidupan umum yang wajib dikenakan perempuan di kehidupan umum. Jilbab harus tampak irkhaโ€™ sebagai realisasi dari firman Allah: โ€œyudnรฎnaโ€ yakni yurkhรฎna (hendaknya mereka menjulurkan).

[Sumber: Nasyrah Soal-Jawab Amir HT/Athaโ€™ bin Khalil Abu ar-Rasytah, 1 Muharram 1435/4 November 2013] :ย http://hizbut-tahrir.or.id/2014/04/25/busana-muslimah-syari/

Semua yang kita punya ini akan dimintai pertanggung jawaban kan kelak di akhirat? Termasuk tubuh dan paras…jika kecantikan tubuh tidak dilindungi dengan hijab, dan kecantikan paras tidak dilindungi dengan menundukkan pandangan dan menghindari rasa sombong karena memiliki paras cantik, kelakย ketika kita ditanya Allah di akhirat, mau jawab apa?ย 

– the girl with the broken wings

Mencintai karena Allah itu maksudnya apa?

Dulu seorang teman pernah berkata pada saya, ”mencintai karena Allah itu maksudnya apa sih sebenarnya? Terlalu abstrak. Masak seseorang bisa mutusin orang yang disayang karena alasan dia pengen mencintai karena Allah? Bukannya malah nyakitin perasaan orang lain itu namanya? Nggak realistis sekali. Tuhan kok dijadiin alesan buat nyakitin orang.”

jujur, dulu saya sama sekali tak tahu harus merespon apa. saya cuma bisa mengangguk setuju karena berada dalam posisi yang sama. Sama2 tidak mengerti arti kalimat ”mencintai karena Allah”.

Sekarang, rasanya saya sudah menemukan jawaban yang tepat, bahwa ”mencintai/dicintai karena Allah itu adalah mencintai/dicintai karena ketaatannya”.

Jadi jangan pernah menyalahkan, mencemooh, dan memandang sebelah mata orang yang berusaha untuk memegang teguh kalimat ini sebagai prinsipnya. Mereka hanya ingin berusaha sekuat tenaga melawan nafsu dalam dirinya yang terus memaksa untuk mencintai gemerlapnya dunia, demi mendapatkan kecintaan Allah semata. Mereka bukan orang yg berusaha utk jadi sok alim atau sok suci dihadapan manusia, dan menjadikan Allah sebagai alasan untuk menyakiti orang lain. Mereka hanya manusia biasa, dengan iman yang mudah goyah dihempaskan zaman, tapi sangat ingin meraih kasih sayang dan ridho Allah. Jika tak bisa meraih tangan mereka dan berjuang di jalan yang sama, paling tidak hargai apa yang mereka percayai sebagai hal yang benar. Bukankah semua muslim itu bersaudara?

Mengapa WANITA rela menanggalkan gelar MULIA hanya demi kesetaraan gender ?

Mengingatkan sesama wanita akan kemuliaan yg diberikan Allah pada dirinya ๐Ÿ™‚

Kesetaraan gender? bukan itu yang kita cari. karena pada hakikatnya wanita dan pria diciptakan ALLAH dengan kodrat yang berbeda, maka kita tak bisa disetarakan dan di sama-sama kan. wanita punya tugas mulia nya sendiri, begitu pula pria, punya tugas mulia nya sendiri.

islam tak pernah melarangmu untuk berkembang, tapi justru Ia memberikanmu kemudahan dan jalan keluar untuk mendapatkan pahala yang sama dengan laki-laki.

mungkin dulu saya pernah kagum dengan wanita-wanita yang berhasil dengan kariernya, menjadi spesialis atau bahkan mendapat gelar yang lebih tinggi lagi di usia muda tapi tetap mampu mengurus anak. tapi ketika tahu ‘yang sebenarnya’ pemikiran saya berubah 180 derajat. saya jadi berpikir bahwa yang membuat wanita berada pada kedudukan paling mulia, adalah ketika ia berada di rumah, menjadi madrasah pertama untuk anak-anaknya, mempersiapkan segala sesuatunya untuk kebutuhan anak dan suaminya, menjadi ibu dan isteri yang baik.

Islam tak pernah melarang wanita untuk sekolah setinggi-tingginya, dan bekerja untuk membantu keuangan keluarga, tak pernah. Asalkan, jangan lupakan kewajibannya, untuk menjadi isteri yang sholehah dan menghormati suami, menjadi ibu yang baik dan mendidik anak-anaknya untuk menjadi generasi islam yang hebat. tapi jika kesibukan diluar rumah membuat wanita lupa akan kewajibannya, kira-kira bisakah ia menjalankah kewajiban-kewajibannya itu dengan maksimal?

jika nanti di akhirat, ketika catatan amal kita dibuka oleh Allah dan Allah bertanya “kau dulu ketika hidup, bekerja mengejar dunia dan lalai akan tugasmu menjadi isteri dan ibu yang baik. kau tinggalkan suamimu dan membiarkannya kesepian dan tak bahagia, di saat seharusnya kau jadi penyemangatnya setelah ia lelah mencari nafkah untukmu dan anakmu. kau biarkan anak-anakmu mengasuh dirinya sendiri, bermain sendiri, belajar sendiri, dan akhirnya tersesat dalam ketidak-tahuannya tentang agama dan kehidupan akhirat. bisakah kau mempertanggung-jawabkan ini semua?” ๐Ÿ˜ฆ

sungguh indahnya ajaran agama yang dihadiahkan Allah untuk kita. mari bersyukur kita terlahir sebagai wanita ๐Ÿ™‚

berikut adalah tulisan dari seorang teman yang membahas mengenai tema yang sama ๐Ÿ™‚

Mengapa WANITA rela menanggalkan gelar MULIA hanya demi kesetaraan gender ??

ketika laki-laki diwajibkan untuk sholat berjama’ah di Masjid,ย wanita justeru diberi penawaran untuk memilih ikut serta dalam sholat berjama’ah itu atau memilih sebuah KEMULIAAN dengan tetap sholat di rumah untuk menjaga anak2 dan harta suaminya..

ketika laki-laki diwajibkan untuk berjihad,ย wanita justeru diberi penawaran untuk memilih ikut serta dalam “jihad” itu atau memilih sebuah KEMULIAAN dengan tetap di rumah untuk menjaga anak2 dan harta suaminya..

ketika laki-laki diwajibkan untuk menafkahi ibu dan keluarganya,ย wanita justeru diberi penawaran untuk memilih ikut membantu suaminya atau memilih sebuah KEMULIAAN dengan tetap di rumah untuk menjaga anak2 dan harta suaminya serta berbakti pada (suami) nya..

Wanita tidak pernah dilarang untuk melakukan apa saja yg bisa dilakukan oleh laki-laki,ย namun wanita ditawarkan sebuah kemudahan yang sudah sangat disesuaikan dengan kondisinya, kemudahan itulah yang dapat membawa seorang wanita pada gelar MULIA..

Satu hal yang harus kita (wanita) ingat, jika ingin tau kedudukan wanita di mata ISLAM, maka pelajarilah seluruhnya secara utuh, jangan setengah2, lihat semua sisi, maka kita akan bersyukur dilahirkan sebagai seoran wanita,ย Laki-laki pun begitu,,

ISLAM selalu seimbang, jika ada ketimpangan, maka pertanyakanlah pengetahuan (tentang islam) kita masing2,,