tumblr_okgnnfdogh1sl8g3to1_1280

Fitrah penciptaan wanita adalah sebagai ummu warobbatul bait, yakni sebagai ibu dan pengatur rumah tangga. Tapi untuk bisa dan mampu menjalani profesi mulia itu, wanita butuh persiapan yang juga benar2 matang

Karena kelak ibu lah yang akan menjadi madrasah pertama bagi anak-anaknya. Ia yang akan mendidik dan membentuk karakter sang anak. Apakah ayah tak berperan sama sekali? Tentu saja berperan. Tapi peran ibu jauuuuh lebih besar dan lebih berpengaruh

Jika ingin membentuk generasi yang cerdas maka sang ibu pun harus cerdas, jika ingin membentuk anak dengan wawasan luas, maka sang ibu pun harus punya wawasan yang jauh lebih luas, jika ingin memiliki anak yang lingustik nya berkembang dengan baik dan pintar dalam hal komunikasi, maka demikian pula sang ibu, harus sedari kecil mendidik anak nya menjadi komunikator handal. Jika sang ibu abai terhadap pendidikan anak dan menyerahkan sepenuhnya pada sekolah dan lingkungan, maka jangan heran jika bukti nyata nya kita lihat sendiri di masa saat ini. Anak2 semacam awkarin bermunculan dimana-mana. Bukan hanya di kota2 besar tapi juga sampai ke pelosok2 desa

Tidak mudah mendidik anak. Sangat tidak mudah. Dan bisa kita tanyakan pada ibu kita sendiri, bagaimana upaya beliau untuk membentuk kita hingga jadi seperti sekarang, dan apa saja yang dengan ikhlas harus dia lepaskan dan korbankan untuk membuat kita bisa merasakan kasih sayang sepenuhnya dari seorang ibu. 🙂

tumblr_ol628kfcf21sl8g3to1_1280

Setiap orang pasti punya kriteria pasangan idaman nya masing-masing. Dan entah sejak kapan saya berpikir, laki-laki yang selalu menunaikan kewajiban sholat di saat tepat ketika adzan mulai berkumandang (bahkan mungkin dia lah yang mengawali langkah untuk mengumandangkan panggilan sholat kepada muslim lainnya), yang berusaha untuk tidak menunda-nunda meski sedang dihadapkan pada pekerjaan yang bertumpuk-tumpuk, dan selalu memaksa dirinya untuk menunaikan kewajiban itu secara berjama’ah di rumah Allah meskipun harus berjalan kaki atau naik kendaraan sedikit agak jauh, laki-laki jenis ini selalu punya nilai lebih, selalu ada rasa kagum yang terselip di dalam hati, selalu ada perasaan teduh yang menenangkan saat melihatnya, dan rasa aman karena menyadari bahwa laki-laki seperti ini in syaa allah akan mampu membimbing istri dan anak-anaknya ke jalan yang Allah ridhoi, jalan yang ditekuni oleh orang-orang yang senantiasa berusaha mengutamakan Allah diatas segala-galanya, yang mampu mengayomi, dan memberi harapan akan perkumpulan kembali kelak di surga Allah yang luasnya seluas langit dan bumi…

image

Secantik dan setampan apapun dirimu tak akan meningkatkan derajatmu dihadapan Allah jika hatimu tidak kau benahi, imanmu kau biarkan compang camping, akhlakmu tak kau jaga dengan baik, lisanmu tak kau gunakan dengan ma’ruf….
Karena wajah yang kau banggakan bisa jadi hilang dalam sekejap jika Allah berkehendak…
Sedangkan hati yang indah, akhlak yang baik, tutur kata yang lembut, serta keimanan dan ketakwaan yang terjaga tak akan pernah lekang oleh waktu….

image

Untuk yang sedang menunggu penuh harap, tapi tetap ingin menjaga kesucian dirinya, bersabarlah….karena Allah sedang mempersiapkan hadiah paling indah untukmu, hanya untukmu, yang juga sedang mempersiapkan diri untuk menyambut hadiah terindah itu. Jadi jangan pernah lelah menjaga diri ya… ^_^

alhamdulillah…

image

 

 

I never expect that in the first place..

Well…oke, honestly i did, a little bit 😀

Gimana nggak?

Seorang penulis amatir, yang iseng-iseng pertama kali ikutan lomba menulis, baru dapet novelnya pun beberapa hari menjelang deadline pengumpulan naskah, yang ditulis cuma dalam satu hari, ngelawan ratusan peserta dari seluruh indonesia. Duh rasa-rasanya nggak mungkin banget lah bisa menang. Apalagi dengan penulisan yang masih amburadul, EYD nggak jelas, banyak typo error disana-sini, dan yang paling bikin mupeng itu jumlah tulisannya yang nggak bisa saya kurangi lagi, mentok di 12 halaman kertas ukuran A4 (selain emang karena nggak ada waktu lagi buat ngurang-ngurangin). Ngumpulinnya pun satu jam menjelang batas akhir pengumpulan. Gile bener. Nekat? Iya mungkin, sedikit. Ya namanya nyoba-nyoba nasib. Siapa tahu bisa menang.

Siapa tahu? Emang bener nggak ada yang tahu, selain Allah. Ternyata dari pengumuman yang disampaikan tadi sore, saya dapet juara harapan I. Alhamdulillaaaah. Segala syukur saya panjatkan kehadirat Allah. Saya bener-bener nggak nyangka. Sambil nungguin cucian yang lagi muter-muter dalem mesin cuci, saya loncat-loncat sendiri pas ngeliat pengumuman lewat smartphone. Saya emang nggak pernah berharap banget bisa dapet juara I. It’s kinda impossible, mengingat pengerjaannya yang mendadak banget, bener-bener pake “the power of kepepet”. Tapi, juara harapan I??? Itu sudah lebih dari cukup buat saya. Itu sudah lebih dari cukup membuat saya begitu bahagia. Itu sudah lebih dari cukup untuk membuktikan bahwa tulisan saya lumayan bisa diterima. Itu sudah lebih dari cukup untuk jadi pelecut semangat saya, agar bisa terus menulis, agar terus menelurkan karya-karya yang bermanfaat untuk banyak orang, untuk terus menggugah hati banyak orang lewat tulisan, untuk terus ikut lomba-lomba lainnya. Doakan semoga saya bisa jadi juara I di lomba-lomba selanjutnya ya. ^_^